Remember Us – Langkah Penyihir

Aku berjalan setengah menghentak-hentak menerobos hutan, kesal setengah mati sampai rasanya aku ingin menangis. Aku benar-benar berada dalam tingkat frustasi terparah. Oh, andai saja aku bisa membunuhnya. Aku tak yakin jika aku akan melewatkan kesempatan itu.

Reven.

Reven dan semua keegoisannya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana bisa dia berkata seperti tadi. Dia bilang dia ingin melindungiku? Dia ingin menjagaku tetap hidup? Dan alasannya hanya supaya dia juga bisa tetap hidup? Astaga, aku tidak tahu apa yang ada di dalam darah Vlad dan Victoria hingga mereka bisa menciptakan makhluk dengan kombinasi menyebalkan dan bodoh yang paling sempurna di dunia ini. Aku harus memenuhi kepalaku dengan imajinasi tentang bagaimana aku bisa membunuhnya, mungkin aku bisa mengajaknya bertarung sampai mati, atau mungkin aku bisa mencari tumbuhan paling beracun di Tierraz dan menyumpalkannya ke mulut Reven, atau aku juga bis—

BRUK.

Aku terjerembab jatuh dengan wajah langsung mencium tumpukan dedauan kuning. Terbatuk-batuk, aku beringsut bangun setelah memaki keras. Aku melihat lilitan sulur liar di kakiku yang sebelumnya kuyakin tidak ada di sekitar sini. Entah kenapa, setelah lama tinggal di Tierraz, menyadari ada beberapa tanaman yang sanggup bergerak sendiri bukanlah hal yang mustahil. Aku baru saja mencoba melepaskan sulur-sulur liar ini dari kakiku ketika aku mendengar suara terkekeh tak jauh dari tempatku duduk d engan tampilan berantakan.
Keningku berkerut dalam, aku mengenali anak laki-laki berkulit kecoklatan yang tengah tertawa sambil berjalan ke arahku. Dia adalah makhluk angin yang ketika itu juga sempat bicara denganku dan Damis. Aku tidak ingat siapa namanya, tapi aku tidak suka cara dia menertawakanku.

“Ini sama sekali tidak lucu.” Gerutuku tidak suka.

“Oh, kau harusnya melihat sendiri baru kau tahu betapa lucu dan bodohnya dirimu.”

Aku menghela nafas, “Terserah.”

Dia berhenti tertawa, dan duduk berjongkok di sampingku, mengamatiku, “Kau tahu bahwa berbahaya berkeliaran di hutan Merz sendirian. Apalagi di tengah suasana perang yang semakin memanas.”

“Aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan jangan katakan kau memperingatiku karena kau peduli. Aku bahkan tak mengenalmu.”

“Memnus. Itu namaku. Kuharap kau tak melupakannya lagi kalau mungkin kita bertemu lain kali. Dan, yah kau benar, aku memperingatkanmu bukan karena aku peduli. Lebih tepatnya karena aku penasaran saja. Kadang kala, bermain-main dengan rasa penasaran bisa sangat menyenangkan. Apalagi jika permainan ini menyangkut para putra sulung Tierraz.”

Entah karena aku tidak berkosentrasi atau hanya ilusiku saja, sulur-sulur sialan di kakiku ini justru membelit makin kuat. Belum lagi dengan tambahan ocehan dari makhluk angin di dekatku, aku semakin tidak sabar dan menanggapinya dengan ketus, “Apa maksudmu?”

Memnus tersenyum, lalu menyorongkan tubuhnya padaku dan berbisik, “Aku tidak tahu kenapa Edna menganggap kau penting. Tapi melihat bagaimana Trisha mengamatimu selama beberapa waktu terakhir ini, aku tahu sesuatu yang menarik sedang terjadi sekarang.”

Awalnya aku melihat Memnus menyeringai mengejekku, tapi hanya sebentar sebelum senyumnya memudar dan matanya menyipit memandang ke arah kakiku, “Sialan,” dia menggeram dan aku melihat belati tajam muncul di tangannya. Dia mengiris cepat sulur-sulur yang membelit kakiku dengan menggumamkan kalimat-kalimat asing yang tidak kumengerti.

Aku baru saja berteriak protes ketika Memnus dengan cepat menarik tangannku untuk membuatku berdiri sementara dia sendiri berdiri tegak dengan mata mengawasi sekeliling kami. Memnus bergerak dengan pelan memunggungiku, “Penyihir,” bisiknya entah bagaimana terdengar khawatir.

Meski pun tidak sepenuhnya mengerti bagaimana mungkin ada penyihir di hutan Merz, aku langsung bersiap pada kemungkinan yang muncul. Dengan cepat aku berbalik, kini aku dan Memnus saling memungggungi, menunggu dan waspada. Dalam hening yang asing, aku bisa merasakan ada sesuatu lain di sekeliling kami.

“Aku tidak suka ini,” ucap Memnus ketika dia akhirnya melihat sosok-sosok berjubah hitam melangkah keluar dari balik bayang-bayang pohon di sekeliling kami.

“Aku benci ini,” timpalku menyadari bahwa para penyihir itu nampak mengepung kami. Aku selalu tidak suka fakta bahwa aku akan berperang dengan pihak yang bersebrangan dengan para penyihir karena entah kenapa, rasanya seolah aku sedang melawan ayahku atau bahkan Ar. Aneh memang karena sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ingat jika ayah dan kakak kandungku adalah seorang penyihir. Lagipula mereka bahkan tidak pernah hidup di Tierraz, mereka hidup di dunia lain yang jelas jauh berbeda dengan Tierraz, dan oh hentikan Rena, aku harus fokus pada apa yang tengah kuhadapi sekarang. Kurasa aku jelas punya masalah untuk fokus akhir-akhir ini.

Salah satu dari para penyihir melangkah maju lebih dekat dan berhenti ketika Memnus bergerak untuk melakukan sesuatu, “Kami tidak ada urusan denganmu, makhluk angin.” Katanya dengan suara serak yang dalam.

Memnus mendengus, “Apa kau pikir aku akan mendengar kata-katamu?” sergahnya, dia tertawa setelahnya dengan nada sangat menyebalkan. Aku bahkan sempat menoleh ke arah Memnus untuk memastikan apakah dia memang tidak gila. Ini mengerikan, aku diantara kepungan musuh dan hanya punya satu rekan bertarung yang sepertinya tidak waras.

“Aku tidak tahu apa yang akan Mevonia katakan ketika dia tahu jika orang-orangnya justru sedang bermain-main di wilayah yang seharusnya terlarang kalian masuki. Belum lagi kenyataan bahwa kalian terlalu sembrono dalam bertindak. Tidakkah kalian takut apa yang akan Luca lakukan jika dia tahu kalian ada di sini?”

Tapi si penyihir laki-laki yang sebelumnya berbicara justru menanggapi ucapan Memnus dengan dingin, “Kami di sini atas perintah resmi, Mahha Mevonia.”

Tepat setelah mendengar apa yang dikatakan si penyihir, aku bisa merasakan bahwa punggung Memnus merapat ke arahku, “Bersiaplah, Nona Vampir.”

Aku tidak tahu apa yang ada di kepala Memnus atau kemungkinan apa yang dipikirkan makhluk angin itu ketika dia perlahan merubah bentuknya menjadi golem setinggi sepuluh kaki. Jujur saja aku nyaris terjungkal jika saja aku tidak menyadari dia melakukan perubahan bentuk dan buru-buru sedikit menjauh. Lain kali dia harus lebih spesifik ketika mengatakan padaku untuk bersiap. Siapa yang tahu? Dan tentang perubahan bentuknya, jujur saja aku tidak terkejut. Selama tinggal di hutan Merz, aku mempelajari banyak hal, dari melihat, membaca dan mengamati semua hal asing yang ada di sekitarku. Aku tahu bahwa makhluk angin adalah jenis makhluk yang bisa menggunakan sihir untuk merubah bentuk mereka.

Meski pun begitu, sihir perubahan bentuk adalah sihir tingkat tinggi yang menguras energi dan sihir pemakainya. Aku menebak jika Memnus tentunya berpikir jika situasi yang tengah kami hadapi sekarang adalah situasi genting, karena dengan berubah menjadi golem yang notabene adalah jenis makhluk magis yang kebal terhadap mantra, dia akan butuh berhari-hari untuk mengembalikan energi dan sihir dalam tubuhnya untuk kembali ke normal. Setidaknya jika dia memang punya berhari-hari setelah ini.

Aku bisa mendengar Memnus menggeram, dan rapalan mantra, kutukan—atau entah jenis sihir apa lagi—bersahut-sahutan di sekitarku. Tapi tunggu dulu, apa yang harus kulakukan? Vampir selalu berada di urutan belakang bersama makhluk tanpa kekuatan sihir lainnya, kami adalah lingkaran kedua, bagian yang maju menyerang ketika mereka yang berkuatan sihir sudah tidak bisa lagi mengeluarkan sihir mereka. Tierraz adalah tanah sihir, tapi jangan pikir kau akan bisa menggunakan sihir terus menerus tanpa berhenti. Semua punya pola sama, sihir dalam diri mereka punya batas penggunaan. Lalu ketika batas itu sudah dicapai, maka kami akan maju, menjadi makhluk yang mengandalkan pedang, kemampuan bertarung, panah atau jenis senjata apa pun yang biasa digunakan.

Tapi sekarang, di sinilah aku, berada dalam pertempuran sihir sialan yang jelas tidak bisa kuimbangi. Aku tidak bisa mengeluarkan sihir dari tanganku seperti para penyihir atau berubah bentuk menjadi makhluk magis apa pun dan mendapatkan jenis kekuatan mereka seperti para makhluk angin. Jadi ketika lebih dari lima penyihir di depanku yang memilih untuk tidak menyibukkan diri mereka dengan Memnus yang sudah bertarung dengan banyak bunyi berdebum dan tanah yang bergetar karena bobot tubuhnya, aku menatap mereka, setengah menyeringai, tak punya ide bertarung lain di kepalaku.

“Katakan pada kami jika kau memang adalah Sherena Audreista.” Seorang penyihir perempuan dengan mata menyipit tajam, berbicara padaku.

Aku suka ini, sedikit basa basi sebelum saling membunuh kadang bisa diperlukan untuk mengembangkan ide bertahan hidup dalam kepalaku, “Aku tidak tahu kenapa kalian perlu tahu itu.”

Seorang penyihir lainnya menunjuk kakiku dan bekas memerah di pergelangan kakiku yang terlilit sulur sebelumnya, “Kau memang dia. Sulur itu menangkapmu.”

Keningku berkerut, aku benci ini. Jadi mereka mengunakan sihir penangkap dalam tumbuhan liar itu untuk menemukanku. Biasanya itu jenis sihir rendah, sihir main-main. Karena seperti yang sudah terjadi, hanya butuh sekali sentakan untuk melepaskan sulur-sulur itu, seperti yang tadi Memnus lakukan dan aku yakin dia menyadari jenis sihir itu tadi.

“Tangkap dia.” Sebuah suara mengomando dan mereka serempak mengangkat tangan dengan mulut berucap tanpa suara.

Pada detik cahaya-cahaya asing keluar dari telapak tangan mereka, aku bergerak melompat dengan gesit. Berharap pada keberuntungan bahwa entah mantra apa pun itu yang mereka lemparkan padaku tidak akan mengenaiku. Tapi secepat apa pun aku menghindar, dan membalas mereka dengan melemparkan apa pun itu di sekitarku—aku serius dalam hal ini, batu-batu besar, kadang pepohonan kecil. Sulit mencabut atau merobohkan pohon besar jika waktu yang kupunya bahkan tak sampai satu kedipan mata.

Aku menjerit kesakitan dan terlempar beberapa kaki ke belakang saat satu mantra telak menghantam bahuku. Aku merasakan panas membakar bahu kiriku dan rasa sakit yang luar biasa berdenyut menjalar ke seluruh tubuhku, melumpuhkanku. Menyeret tubuhku menjauh, aku melihat mereka mendekat dan sudah siap merapalkan mantra lain ketika aku melihat bola-bola api terlempar secara berurutan ke arah mereka dengan meledak dengan sangat cepat. Membuat beberapa dari mereka terlempar jauh ke belakang dengan jubah-jubah terbakar.

“Serius, Sherena? Hanya sejauh ini yang bisa kau lakukan untuk bertahan hidup?”

Kepalaku terangkat dan aku melihat Trisha berjalan dari belakangku hingga akhirnya dia berdiri tepat di sampingku. Tangannya menarik dua pedang yang tersampir di pinggangnya, sebuah gerakan asing dan rapalan mantra lalu aku melihat api merah menyelebungi pedang itu, menjilat-menjilat membakar seluruh bagian pedang kecuali di tempat yang digenggam Trisha.

Tak ada ucapan apa pun ketika dia bergerak maju dan menyerang para penyihir yang tersisa. Trisha bergerak lincah, menghindari mantra-manta yang terarah sembarangan dan tak terkontrol ke arahnya. Aku bisa mendengar suara pedang-pedang setelahnya, dan para penyihir yang tersisa, telah mengeluarkan pedang hitam dan panjang mereka untuk menghadapi Trisha.

Aku tidak bisa melihat sisanya karena rasa sakit di bahuku mengaburkan penglihatanku dan seolah meledakkan kepalaku. Aku mendengar suara samar-samar Memnus sebelum aku menggerang kesakitan dan gelap menenggalamkanku dalam ketidaksadaran.


Luca berjalan dengan langkah sangat cepat dengan ekspresi gelap. Tangannya menggepal, menahan luapan emosi yang ada di dalam dirinya. Dia merasakannya, ada energi asing yang menerobos jaring-jaring perbatasan yang dibuatnya di hutan Merz. Tanpa perlu melihat sendiri, Luca bisa menebak makhluk jenis apa yang berani-beraninya melanggar perjanjian yang telah lama ada di Tierraz.

Penyihir.

Tangan Luca terkepal kuat dan dia bersumpah benar-benar akan memusnahkan jenis yang satu itu dalam perang besar nanti. Bahkan jika perlu, dia akan membiarkan Edna melakukan apa pun yang wanita itu mau di perang nanti jika memang itu bisa membawa kemenangan total di pihaknya. Sebesar apa pun harga yang harus ditebusnya nanti, Luca tidak peduli. Dia sudah terlalu lama menahan dirinya untuk tidak langsung terbawa emosi dan merusak semua rencana yang telah dipersiapkannya dari waktu yang lama.

Dia memicingkan matanya ketika melihat sosok lain berjalan ke arahnya dari arah yang berlawanan. Langkahnya terhenti ketika tahu bahwa sosok itu bahkan mungkin tidak tahu jika dirinya ada di sana. Tapi hanya sebentar, karena ketika sosok itu menyadari keberadaan Luca, dia mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di depan Luca, memberi salm hormat.

“Victoria Lynch,” panggilnya pelan, “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya berada di kelompok pertama?”

“Ya,” Victoria mengangguk cepat dan nampak cemas, “Kami sudah berkemah selama beberapa minggu di sana dan Nerethir menyadari ada yang salah. Sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana kita.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada pergerakan sihir apa pun terdeteksi di sana.”

Luca terdiam, mencerna sesuatu, dan ketika apa yang dicarinya sudah muncul di kepalanya, dia menggeram marah, “Apa kau sudah bertemu dengan kelompok kedua dalam perjalananmu kembali ke sini?”

Victoria menggeleng, “Aku mengambil jalur lain yang bisa kutempuh dengan lebih cepat.”

Luca mengangguk, terdiam cukup lama sebelum dia berbicara lagi, “Kembalilah ke kelompok pertama secepat kau bisa. Ambil jalur yang juga dilalui oleh kelompok kedua dan peringati mereka tentang apa pun itu yang kau dan Nerethir tahu.”

“Baiklah,” ucap Victoria cepat sebelum akhirnya dia mengangguk hormat dan berbalik pergi dengan kecepatan vampir yang dimilikinya.

Mata gelap Luca menyipit, ada kerutan samar di dahinya. Dia memejamkan matanya selama beberapa saat untuk menenangkan dirinya, sebab hanya jika dia cukup tenang untuk berpikir dia bisa mendeteksi letak pasti keberadaan asing yang sudah menerebos sihir perlindungnya. Awalnya Luca tidak berpikir jika dia perlu untuk mencari mereka, tapi apa yang didengarnya dari Victoria mengubah semua keputusan awalnya.

Dia membuka matanya setelah tahu dimana dia bisa menemukan para penyusup ini. Dengan beberapa langkah memotong lorong kastil, dia bergerak ke arah halaman kastil dan sebelum seseorang sempat menyadari keberadaannya, dua sayap segelap iris matanya muncul dari punggungnya dan Luca terbang lalu menghilang cepat dalam kecepatan terbang yang tak bisa dideteksi oleh mata biasa.


Aku merasakan panas yang luar biasa membangunkanku, dan ketika aku melihat api membakar tangan Trisha yang menyentuh bahuku, aku nyaris berteriak dan melonjak menjauh darinya jika saja seseorang lain tidak mememegangi bagian tubuhku.

“Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?” aku menjerit histeris dan mencoba meloloskan diri dari cengkraman tangan yang rupanya milik Memnus di bahu dan pinggangku.

“Tenanglah, nona vampir. Trisha sedang berusaha menyembuhkanmu.” Ucapnya dengan wajah kesal. Sekarang dia sudah berwujud seperti makhluk normal dan bukannya golem setinggi sepuluh kaki.

Mataku melirik Trisha yang sama sekali tidak terlihat terganggu dengan reaksiku. Matanya terpejam dan aku baru menyadari bahwa panas yang sebelumnya menjalar kuat dari luka di bahuku tidak lagi terasa. Ketika api dari kedua telapak tangan Trisha perlahan mengecil hingga akhirnya menghilang sama sekali, dia membuka matanya dan menatapku dengan tatapan aneh.

“Kau beruntung,” katanya kemudian, “Mereka melukaimu dengan mantra kutukan api yang tak seberapa. Tapi jika mereka melakukannya dengan satu tingkat saja lebih tinggi, aku khawatir hanya Putri Edna yang sanggup menolongmu agar tetap hidup.”

Membayangkan kehidupanku hanya bergantung pada pertolongan seseorang seperti Edna membuatku bergidik. Aku tidak pernah benar-benar mengenal atau berbicara dengan Edna, namun entah kenapa aku selalu tidak nyaman jika harus berada satu tempat bersamanya. Cara Edna menatapku tidak pernah memberiku satu indikasi bahwa sesuatu yang baik akan terjadi.

“Terima kasih.” kataku.

“Simpan saja untuk nanti, kau akan sering mengucapkan itu nanti.” sahut Trisha dengan datar, seraya mengulurkan sebuah jubah ke arahku, “Pakai ini jika kau merasa sudah bisa bergerak.”

Aku menerima jubah dari Trisha dan bergerak pelan, mencoba bangun dari posisi setengah dudukku. Tapi karena bahuku masih terasa seperti mau lepas, aku hanya menyampirkan jubah itu asal-asalan. Pakaianku sudah compang camping karena api—entah karena mantra api atau api sihir milik Trisha—dan jubah yang sekarang melindungiku adalah salah satu jubah yang kuyakin diambil Trisha dari salah satu mayat penyihir yang tergeletak tak jauh dari kami.

Memnus memandangi mayat-mayat itu, nampak berpikir dan terlihat tidak senang. Aku tidak ingin bertanya apa pun padanya dan beralih memandang ke arah Trisha yang berjalan maju. Aku merasakan gerakannya yang mendadak nampak aneh sebelum dia dengan cepat memandang ke arah langit. Aku mengikuti pandangan Trisha dan melihat satu titik gelap mendekat dan membesar jelas. Tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung beringsut bangun meski seluruh tubuhku seolah menjerit kesakitan, karena gerakan mendadak. Hanya butuh beberapa kedip mata dan sekelebat bayangan hitam itu seolah jatuh dari langit. Angin yang berhembus kencang dan seolah berpusar bersama bayangan itu membuatku tidak bisa melihat dengan jelas apa sebenarnya itu.

Dan ketika akhirnya aku bisa melihat dengan jelas, mataku seolah menolak percaya dengan apa yang ada di depanku. Berdiri beberapa langkah kaki di depan kami bertiga, Luca dengan dua sayap hitam gelap mengembang dari punggungnya. Aura di sekitarnya seolah menggelap karena ekspresi wajahnya yang terlihat penuh emosi marah. Ketika dia bergerak maju, sayap di punggungnya turun perlahan hingga akhirnya di langkahnya yang keempat, sayap itu seolah menghilang, tertelan masuk ke dalam punggungnya.

“Yang Mulia Luca–“

Luca mengangkat satu tangannya dan Trisha langsung menutup mulutnya. Aku menelan ludahku dengan gugup karena entah bagaimana dan kenapa, aku merasa bahwa Luca sedang berjalan lurus ke arahku. Aku menoleh ke arah Memnus dan dia hanya tersenyum tipis menikmati kepanikan yang melandaku.

Lalu benar saja, Luca berjalan melewati Trisha dan Memnus, sebelum akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Matanya mengamatimu, sementara aku hanya bisa menjadi semakin panik dan gugup. Luca ditambah dengan wajah dan ekspresi gelapnya sekarang adalah mimpi buruk yang tidak ingin dilihat siapa pun. Dia menunduk pelan, menjajari wajahku, dan berkata dengan suaranya yang dalam, “Apa yang mereka cari darimu, Sherena Audreista?”

<< Sebelumnya

A/N

Akhirnya… Aku posting juga kelanjutan RU. Astaga astaga, maafkan aku. Posting chapter terakhir bulan September dan baru bulan Desember bisa posting lanjutannya. Duh, maafkan aku. Bulan-bulan kemarin aku sibuk adaptasi kerjaan dan nyari sambungan hidup lain di München. Muehehehe selalu aja deh, aku ada alasan. Duh.

Ah iya, aku juga punya vlog loh, nah di vlog itu aku jelasin tentang apa yang aku jalani selama ini di Eropa (Austria dan Jerman), khususnya tentang program Au-Pair. Nah, buat kalian yang tertarik, bisa langsung mampir dan klik di sini.

Nah, selain itu, aku juga bakal sering posting tentang kehidupan aku tinggal di München di blog ini. Tapi jangan khawatir, aku tetep posting RU. Dan sesuai rencana, kalau RU uda kelar, aku bakal segera lanjutin Xexa dan posting cerita baru tentang dunia faerie (judulnya OCELFA). Aslinya, aku uda tulis banyak soal RU, Xexa dan Ocelfa, hanya saja, aku ga punya waktu buat edit dan posting. Sialnya waktu buat Instagram dan Facebook mah lancar. Astaga astaga. Maafkan aku.

PS. Sekali lagi, jangan lupa klik iklan yang muncul ya. Buat nambah duit jajanku, dan biar aku tambah semangat nulis. Muehehehe

Peluk Cium,

Mau Baca Lainnya?

19 Comments

  1. Yeayyy makasih kakak udah post RU lagi wkwkwkwk..sering sering update yah kak rindu xexa sama another story dan penasaran sama cerita barunya

  2. Akhinyaaaa, tapiii mau lebih sering ketemu sama bang reven kak, please reven dong sama renanya di banyakin. soalnya mau ketemu nih aku tuh sama mereka wkwk

    Oh iya nanti kalo bisa yg selanjutnya jngn lama” ya kak wkwk

  3. Kirain ga bakal update lagi dan dibiarkan terbengkalai seperti bbrp penulis yg lain 😑, ternyata 😃 makasih ya thor

  4. Walai luca dan edna kelihatan jahat … tpi aku sukaaaaaaaa ….
    Ap yng disembunyikan luca dri edna ??? Dan ap seh sebenar nya rencana luca …. ap jngn* suatu saat luca suka sma sherena ??? Ahhhhh bnyakkkj pertanyaan

  5. Aku liat notif wattpad kalo kakak update, cek ke sini ternyata update juga >.<

    Sebenernya, kenapa darah campuran kayak Rena diincer? .-.

  6. Terimakasih untuk updatetannya, udah nunggu-nunggu banget lanjutannya, …. heheh 🙂
    Aku akan selalu sabar menanti untuk next ceritanya …
    Yang penting dilanjut sampai end ya kak, gak pernah bosen aku mah … 😀

  7. Hello ,

    I saw your tweets and thought I will check your website. Have to say it looks very good!
    I’m also interested in this topic and have recently started my journey as young entrepreneur.

    I’m also looking for the ways on how to promote my website. I have tried AdSense and Facebok Ads, however it is getting very expensive. Was thinking about starting using analytics. Do you recommend it?
    Can you recommend something what works best for you?

    Would appreciate, if you can have a quick look at my website and give me an advice what I should improve: http://janzac.com/
    (Recently I have added a new page about FutureNet and the way how users can make money on this social networking portal.)

    I wanted to subscribe to your newsletter, but I couldn’t find it. Do you have it?

    Hope to hear from you soon.

    P.S.
    Maybe I will add link to your website on my website and you will add link to my website on your website? It will improve SEO of our websites, right? What do you think?

    Regards
    Jan Zac

  8. kak, makasi banget ya, aku menikmati sekali ceritanyaa hehehhee maaf tapi ini ada lanjutannya lagi nggak ya kak?
    makasiii kak

  9. Hej, szczerze polecam oferte biura projektowego Sztuka Ogrodowa z Warszawy. Bardzo podoba mi sie ich profesjonalizm.
    U mnie zrobili super robote i jestem bardzo zadowolony z rezultatu (moge podeslac kilka zdjec mojego ogrodu)
    link do ich strony: http://sztuka-ogrodowa.com.pl/

Leave a Reply

Your email address will not be published.