Remember Us – Lukisan Rowena

Reven menarik nafas panjang, membiarkan udara dingin memasuki paru-parunya. Menebarkan sensasi nyaman yang didapatnya ketika dia bernafas. Dia berdiri di depan balkon bangunan tempat tinggalnya. Menikmati udara malam menampar-nampar wajahnya. Dalam bayangan kegelapan malam, dia mengamati sekitarnya, pepohonan tinggi serupa raksasa gelap mengelilingi mereka, lalu di kejauhan, sebuah tanah lapang luas nampak seolah bergoyang, bunga-bunga ungu setinggi lututnya jelas penyebabnya. Angin sedang bertiup tidak ramah malam ini.

Dia tidak mengerti kenapa Victoria berkeras menyebar benih bunga-bunga ungu itu di dekat kastil kecil mereka ketika sebagian besar anggota kelompok lain menolaknya. Itu hanya akan menarik perhatian dari para manusia. Manusia akan menemukan tempat ini dan pada akhirnya mereka yang akan pergi. Mencari tempat lain dan membangun segalanya dari awal lagi.

Tapi ketika Victoria memaksa, tak ada siapapun bahkan dirinya yang bisa menolak. Victoria memiliki aura itu. Kekuasaan, kekuatan dan pengaruh besar. Tiga hal yang seharusnya bisa digunakannya untuk membawanya pada posisi tertinggi di ras mereka. Namun Victoria menolak dan menyerahkannya padanya, satu hal yang alasannya tidak pernah dia tahu.

“Aku berhutang banyak padamu.”

Itu adalah satu-satunya jawaban yang dikatakan oleh Victoria padanya ketika dia menanyakan hal itu. Tapi itu sama sekali tidak membantu dan semakin membuat banyak pertanyaan lain berlarian di kepalanya. Victoria memang selalu membuatnya tidak mengerti dan bingung.

Lalu sekarang? Victoria akan membawa seorang perempuan vampir lain yang dibilangnya akan mengubah segala kehidupannya. Sherena, bukankah itu namanya? Entahlah, dia tidak yakin. Seringnya, Reven merasa bahwa Victoria terlalu menyampuri urusannya, tapi ada bagian lain dari dirinya yang juga penasaran.

Jika dia saja tidak mengingat dan tidak tahu apa pun tentang perempuan ini, bagaimana Victoria begitu yakin bahwa perempuan itu penting untuknya? Bagi Reven, Lucia adalah satu-satunya perempuan yang saat ini penting baginya. Yang lain, mungkin dia bisa bermain-main dengan mereka, tapi tidak seperti dia menganggap kehadiran Lucia.

Dia tersenyum tipis, memikirkan Victoria, kemungkinan lain, lalu entah kenapa kembali pada Lucia. Dia berbalik dan menghilang di balik pintu, mencari Lucia.

***

Aku terduduk di tepian tempat tidur Finn dengan tubuh lemas. Aku masih tidak mempercayai semua yang kudengar dari mulut Finnegan Cllarigh. Perang besar, kekalahan bangsa vampir, pengkhianatan yang dilakukan oleh manusia, kematian Morgan.. aku mengeleng, serasa putus asa.

Ed berdiri bersandar di dinding, menatapku namun tidak mengatakan apapun. Aku tahu raut wajahnya menunjukkan bahwa dia ingin bicara. Namun karena sama tidak tahu dan bingung sepertiku, dia memilih diam. Dan aku bersyukur karenanya, sebab jika dia bicara, apapun dan itu terasa salah bagiku, aku tidak yakin jika aku tidak akan menyerangnya dan membunuhnya.

Ada kemarahan yang terasa begitu nyata di dadaku ketika aku menatap wajahnya. Sebab sekarang, ketika aku melihatnya, aku seolah melihat duplikat si tua Elior. Dan aku benar-benar ingin mencabik-cabik wajah tua Elior dengan tanganku sendiri. Itu jelas buruk karena Ed adalah anak turunnya. Aku menyesal jika firasatku yang mengatakan bahwa Ed mungkin berguna untukku adalah salah. Atau kukoreksi, mungkin dia memang berguna, berguna untuk dibunuh agar aku bisa sedikit saja melampiaskan kemarahanku pada Elior Ritter, kakek buyutnya yang hidup tiga abad lalu.

Tiga abad? Aku juga masih sulit percaya pada hal itu. Bagaimana mungkin bisa?

T-i-g-a a-b-a-d?

Aku mengejanya dalam harapan kosong dan kecewa. Mungkin Finn benar dan aku harus menerima kenyataan bahwa sudah sebanyak itu waktuku terbuang. Pantas saja aku merasa asing pada tata kota di sini. Aku merasa kagum pada bangunan di luar kastil, interaksi para manusia dan segala tetek bengek lainnya. Tiga ratus ratus, dan ribuan hal jelas sudah berubah.

“Kau baik-baik saja, Sherinn?”

Aku tidak memandang Finn yang menanyakan pertanyaan retorik itu. Dia sudah tahu jawabannya. Dia hanya bertanya untuk memecah keheningan tidak menyenangkan d ruang pribadinya ini. Kepalaku mendongak bahkan sebelum pintu ruangan Finn benar-benar terbuka, merasakan kehadiran makhluk lain.

Lalu di sana, kepala kecilnya menjulur ke dalam, “Finn, kau sudah pulang? Aku mimpi buruk lagi.” suara itu serak dan kecil.

Finn dan Ed melonjak bersamaan karena terkejut. Dan si pemilik tubuh bergerak masuk ketika menyadari kakaknya tidak sendirian. Aku tahu itu Celia, adik Finn, hanya dengan menebak kemiripan wajah mereka. Lagipula Ed sudah memberitahuku tentang keberadaan bocah perempuan sepuluh tahun ini.

“ED!!” dia berteriak dan berlari ke arah Ed begitu mengenali siapa orang lain yang bersama kakaknya. Ed yang semula canggung langsung merentangkan tangannya dan memeluk bocah kecil itu. Mengangkat tubuh mungil yang dibalut gaun tidur putih polos yang panjangnya sampai ke mata kakinya.

“Oh Ed, aku merindukanmu.” suara itu kini penuh semangat dan dia membenamkan wajahnya ke leher Ed seolah-olah menghirup semua aroma Ed.

Aku memandang Finn yang tengah memandang kejadian itu dengan tatapan ganjil. Dia jelas tidak menyukai ini, namun entah kenapa pada saat bersamaan juga terlihat lega.

“Aku juga merindukanmu, Celly.” Ed menurunkan si bocah dan mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.

“Finn bilang aku tidak akan bertemu denganmu lagi.” Celia menunjukkan wajah sedih, “Kenapa kau mendadak tidak pernah datang mengunjungiku?” kali ini dia merengut dan baru kusadari ada bekas luka mengerikan di pipi kanannya. Dalam cahaya remang-remang, aku seolah melihat makhluk kecil menakutkan.

“Aku—“

Tangan Finn menarik adiknya menjauh, dia berlutut di depan si kecil yang sepertinya belum menyadari keberadaanku di sini, “Celly, kembalilah ke ruanganmu. Aku harus membicarakan masalah penting dengan Ed.”

Celia menggeleng kuat-kuat dan dia menunjuk ke arah Ed, mendadak matanya menyipit. Dia melihatku, awalnya tidak mengatakan apa-apa. Lalu dia menatap Finn, “Bagaimana bisa wanita di lukisan itu bisa ada di sini, Finn?” tanyanya polos.

Keningku berkerut, apa yang dikatakan bocah ini?

Seakan melupakan kerinduannya pada Ed dan usaha kakaknya untuk menjauhkannya dengan Ed, Celia mundur dari depan Finn dan berjalan ke arahku. Kaki-kaki kecilnya melangkah hati-hati. Aku tidak bergerak. Aku tidak suka bekas luka itu. Seolah mematrikan jika bocah kecil ini bukan bocah biasa.

Celia berhenti tepat di depanku dan aku bisa merasakan kain dari gaun tidurnya menyentuh tempurung lututku. Kami semua menunggu, aku penasaran. Celia mengulurkan tangannya, menyentuh tanganku yang terkulai di atas pahaku.

“Kau.. Sherinn bukan?”

Aku menatap Finn.

Dia tidak mengatakan apapun.

“Ayah selalu bercerita tentangmu. Dan kami punya banyak lukisan dirimu. Sama persis. Hanya saja di lukisan-lukisan itu, gaunmu lebih indah. Aku suka gaun-gaun itu. Bahkan Putri Arra dan mendiang Ratu Edith tidak punya gaun seindah yang ada di lukisan itu.” dia mengoceh khas anak kecil. Cepat dan menatapku dengan matanya yang bulat bening.

Dia anak biasa. Aku sudah mengamatinya. Matanya. Tubuhnya. Suaranya. Aura yang ada di sekelilingnya. Celia hanya bocah biasa dengan wajah yang tidak biasa. Aku penasaran dengan bekas luka yang mengotori wajahnya yang seharusnya cantik itu. Dia terus mengoceh tentang banyak hal yang tidak kutahu sampai akhirnya Finn menyentuh tangan adiknya yang tanpa kusadari telah mengenggam tanganku.

“Celly sayang, kembalilah ke ruanganmu.”

Celia mendongak, menatap wajah kakaknya, “Tapi kau harus berjanji padaku, kau tidak akan mengusir Ed lagi. Seperti yang dulu.”

Finn jelas terlihat ingin menolak, namun wajah penuh harap gadis itu membuatnya mengalah. Dia mengangguk, “Tidurlah lagi.” katanya kemudian setelah mengecup puncak dahi Celia.

Celia kecil berjalan ke arah Ed dan memeluk kaki Ed. Tubuhnya hanya sampai ke pinggul Ed, “Selamat malam, Ed.” dia tersenyum dan jelas terlihat mengantuk.

Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan ini, dia menoleh. Kali ini memandangku. Entah kenapa aku merasa dia memperhatikanku. Aku menunggu, menebak gadis kecil ini mungkin akan mengatakan sesuatu. Tapi ternyata tidak karena tangan mungilnya bergerak menutup pintu ruangan Finn dan aku bisa mendengar langkahnya menjauh.

“Baiklah,” kataku, “Jadi kau juga punya lukisan wajahku?”

Finn yang menyadari bahwa aku tengah bicara dengannya, mengangguk, “Ada banyak. Itu lukisan turun temurun. Ada di ruang rahasia keluarga ini.”

“Kau bisa mengantarku ke sana?”

Dia melirik ke arah Ed, namun sejurus kemudian mengangguk, “Ayo,” katanya.

Aku bangkit dan mengikuti Finn yang meraih kandelir lilinnya. Ed berjalan di belakangku. Kami berjalan dalam diam. Bahkan ketika Finn berhenti di sebuah ruangan baca yang begitu luas dengan dipenuhi rak-rak buku luar biasa besar dan tinggi. Rak-rak itu bukan apa-apa jika dibandingkan buku-buku tebal yang tersusun rapi di dalamnya.

Finn meletakkan kandelir lilin di tangannya ke arah meja kecil di depan perapian yang mati. Dia berjalan ke arah perapian, meraih patung makhluk bersayap kecil yang ada di atas perapian. Dengan pelan, dia menarik sayap si patung dan memutar patung tersebut. Kemudian dia mundur dan kami menunggu.

Beberapa detik yang terasa lama, aku melihat perapian itu bergeser sangat pelan sampai memunculkan lubang yang cukup untuk dimasuki oleh manusia di belakangnya. Finn kembali meraih kandelir lilinnya dan tanpa mengatakan apapun, memberiku tanda agar aku mengikutinya. Ed yang jelas tidak bisa menutupi wajah terkesannya memilih diam dan tetap berjalan tanpa protes di belakangku.

Ketika kami semua masuk, Finn menekan sesuatu di dinding dan aku bisa mendengar buny perapian batu yang bergeser di belakang kami. Kegelapan total menyergap dan cahaya dari tiga lilin dari kandelir di tangan Finn sama sekali tidak membantu. Itu sebenarnya bukan masalah bagiku karena aku bisa melihat segala yang ada di sini sejalas jika sinar matahari membanjiri tempat ini.

Finn mengayunkan tangannya, meminta kami kembali berjalan. Aku mengangguk dan kami berjalan lagi. Menyusuri lorong batu yang berakhir pada pintu kayu tanpa kunci. Finn mendorong pintu itu dan ruangan lain yang tak kalah besar dari ruang baca sebelumnya menyergap kami. Finn mengitari ruangan ini dan menyalakan obor-obor yang terpasang di dinding batu sehingga sekarang ruangan ini dipenuhi cahaya yang cukup.

Aku mengamati. Ruangan ini nyaris berbentuk lingkaran sempurna dengan rak-rak buku yang mengisi separuh dinding dan lukisan-lukisan besar lain menempel seperti pemilik ruangan, mengelilingi ruangan ini. Aku tidak bisa menyalahkan mataku yang membulat ketika aku mengenali nyaris sebagian besar wajah yang ada di ruangan itu. Berada tepat di atas rak buku yang menjadi pusat ruangan, tergantung lukisan paling besar, lukisanku. Lukisan diriku dengan gaun indah—seperti yang dikatakan Celia—berdiri diantara padang bunga ungu dan sebuah kastil besar di kejauhan yang menjadi latarnya. Lukisan itu benar-benar sempurna, tak ada cacat dan aku tak lagi bertanya bagaimana bisa Finn langsung mengenaliku ketika itu karena lukisan inilah jawabannya.

“Rowena Reeser yang melukis semua lukisan ini.”

Aku diam, aku tidak tahu jika Rowena punya bakat semenakjubkan ini. Aku kagum dan entah kenapa sangat menyukai lukisan diriku itu. Dan latar di belakangnya, aku tidak tahu kenapa, tapi terasa sangat familiar. Seolah aku biasa berjalan di antara bunga-bunga ungu di padang itu. Lalu kastilnya sendiri, meskipun tergambar kecil, dan terlihat tua, menakutkan dan penuh aura gelap. Aku menyukainya. Aku sangat menyukai kastil tua itu.

Pandanganku beralih ke lukisan lain di samping kanan lukisan diriku. Aku tidak butuh Finn untuk mengatakan apapun karena aku tahu siapa itu. Wajahku memanas dan aku benar-benar merindukannya. Arshel. Aku tahu, jika aku lebih lama lagi menatap lukisan itu, aku bisa menangis. Maka aku beralih ke lukisan lain. Ada Morgan di samping kiri lukisanku dan itu sama sekali tidak membantuku untuk tidak menangis.

Ada lukisan wajah Rowena sendiri, di samping lukisan Morgan. Aku penasaran bagaimana Rowena bisa melukis dirinya sendiri. Lalu ada lukisan yang bisa kukenali sebagai Abisca Freesel, Katarina Freesel dan Rebbet Freesel dalam umur yang lebih tua daripada ketika terakhir kali aku mengingat mereka. Lalu tepat di samping Abisca, ada lukisan yang wajahnya persis sama seperti yang ada di ruangan Finn, Alan.

Lukisan-lukisan lain yang tidak bisa kukenali kuduga meruapakan keluarga Morgan atau keluarga Rowena sendiri yang tidak terlalu kuingat. Tapi aku benar-benar memuji keseluruhan detail dan kondisi lukisan yang ada di sini. Tiga abad dan seolah lukisan ini baru dilukis kemarin. Seandainya saja kehidupanku juga sama seperti lukisan ini. Aku mengalihkan tatapanku dari lukisan-lukisan itu, menyadari bahwa aku baru saja mengemakan harapan bodoh di kepalaku.

“Keluargamu menjaga semua ini?”

Finn mengangguk, “Semua yang ada di ruangan ini adalah harta keluarga kami. Diwariskan turun temurun dan akan terus dijaga sampai nanti.”

Dari sudut lain, aku bisa melihat raut wajah Ed berubah. Dia membuang pandangannya dan aku seolah bisa mengerti. Dia, bertolak belakang dari Finnegan Cllarigh yang tahu segala hal tentang sejarah dan masa lalu keluarganya, sangat tidak tahu apa-apa. Aku penasaran tentang apa yang sekarang direnungkannya.

***

Aku menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di ruangan ini membaca begtu banyak buku dan catatan-catatan masa lalu yang disimpan oleh keluarga Cllarigh. Catatan tentang perang besar yang terjadi tiga ratus tahun yang lalu atau hal-hal remeh yang ditulis oleh Rowena. Kurasa Rowena menulis banyak hal yang kemudian disimpan putrinya Abisca untuk dibaca oleh anak-anak dan keturunannya selanjutnya.

Ed juga melakukan hal yang sama, membaca buku-buku tua di ruangan ini dan aku bersyukur Finn tidak melarangnya sehingga menghindari kemungkinan perkelahian mereka lagi. Aku ingin membaca dengan tenang tanpa harus melerai dua manusia ini.

Finn sendiri sekarang sudah tertidur di kursi berlengannya setelah mengamatiku yang membaca nyaris dalam diam. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya namun aku tidak peduli. Mungkin dia masih takjub melihat sosok yang selama ini hanya ada di lukisan mendadak muncul di hadapannya bersama dengan musuhnya. Selebihnya mungkin hal lain yang tidak bisa kusimpulkan.

Dari catatan-catatan Rowena dari banyak perkamen tua, aku mendapat banyak nama yang anehnya sama sekali tidak bisa kuingat merupakan bagian dari kehidupanku yang dulu. Keningku berkerut dalam aku membaca sebuah catatan Rowena.

Aku bersyukur mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Sherinn hanyalah sahabat bagi Morgan. Sama halnya seperti Arshel, laki-laki slayer kerajaan yang mendadak dikenalkannya kepadaku sebagai sahabatnya sejak dia kembali dari mencari Sherinn. Aku sejak dulu selalu takut jika Sherinn akan menjadi seperti Noura yang merebut Morgan dariku dan membuat Morgan menyingkirkanku. Tapi ternyata dia tidak. Dari Morgan aku tahu bahwa Sherinn sudah memiliki belahan jiwanya sendiri. Seorang vampir. Tentu saja. Tapi kadang aku masih khawatir apalagi ketika Morgan mengatakan jika mungkin saja Sherinn akan meninggalkan vampir itu dan tinggal bersama Arshel, yang ternyata adalah kakak Sherinn.

Bagaimana jika Sherinn benar-benar meninggalkan vampir itu lalu memilih Morgan? Aku bisa hancur jika Morgan meninggalkanku lagi.

Aku selalu bertanya kepada Morgan kenapa Sherinn ingin meninggalkan belahan jiwanya itu, tapi Morgan selalu nampak enggan. Seolah dia tidak ingin membagi cerita itu untukku. Apakah aku masih orang asing baginya? Padahal aku adalah wanita yang dulu pernah menjadi calon isterinya dan dia tinggalkan karena dia harus mengejar Sherinn yang menyebakan kekacauan di desa kami. Itu cerita lama dan aku tidak mau mengingatnya.

Namun suatu ketika, Morgan menjawabnya. Dia bilang takdir Sherinn dan belahan jiwanya itu sangat rumit. Dan Morgan menyebut nama itu lagi. Noura. Aku membenci nama itu dan pemiliknya. Aku bersumpah demi langit bahwa Morgan masih memiliki cinta pada perempuan vampir itu. Tapi apa pula hubungannya Sherinn dengan Noura?

Tapi Morgan bilang mungkin saja dia salah. Mungkin Sherinn tidak akan benar-benar meninggalkan belahan jiwanya itu. Dan aku berharap hal yang sama. Sebab jika Sherinn tetap bersama vampir lain dan hidup bahagia. Aku juga akan tenang dan bisa terus berusaha untuk memenangkan hati Morgan lagi.

Aku terdiam cukup lama, mengamati perkamen lusuh itu. Itu seperti catatan harian yang ditulis oleh Rowena. Namun aku tidak mengerti sebagian besar isinya yang padahal lebih banyak bercerita tentangku. Aku berusaha mencari kelanjutan catatan ini namun tidak menemukannya. Begitu banyak perkamen tua di dalam sebuah kotak kayu yang kutemukan di sisi lain rak buku. Namun keadaan perkamen-perkamen itu mengenaskan. Hanya sebagian kecil yang masih utuh dan benar-benar bisa dibaca, salah satunya yang sekarang ada di tanganku ini.

Aku mencoba mengingat apa saja yang mungkin bisa membawaku pada kenangan yang berkaitan dengan tulisan Rowena ini. Belahan jiwaku? Noura?

“Noura?” aku mengumamkan nama itu, dan seperti mantra asing, nama itu menguap begitu saja.

Aku tidak ingat apapun.

Tapi aku menyadari satu hal. Aku memiliki belahan jiwa ketika itu. Laki-laki yang mungkin sangat kucintai dan mencintaiku. Tapi tunggu, jika aku benar-benar memiliki belahan jiwa ketika itu, bagaimana mungkin sekarang aku sama sekali tidak mengingatnya? Ini konyol.

Aku menebak-nebak. Siapa yang mungkin menjadi belahan jiwaku? Karena dalam catatannya Rowena mengatakan bahwa dia juga vampir, sama sepertiku, maka aku tidak khawatir pada tampangnya. Vampir jelas memiliki wujud fisik yang tak akan mengecewakan siapapun. Tawaku nyaris pecah ketika pikiran itu terlintas di kepalaku.

Aku menebak-nebak lagi. Dev? Jelas tidak mungkin karena catatan ini ditulis jauh setelah kejadian yang membuat Morgan membunuh Dev. Aku bisa menyimpulkan itu. Lalu siapa? Apakah sebegitu mudahnya aku melupakan Dev dan jatuh cinta pada vampir lain? Aku mengerutkan keningku, tidak suka pada pemikiran ini.

Lalu apakah belahan jiwaku itu juga mati dalam perang besar? Tapi entah kenapa aku meragukan itu. Aku tidak merasa bahwa dia sudah mati. Tapi jika dia belum mati, kenapa dia tidak mencariku? Apakah dia tidak merasa aneh jika tahu belahan jiwanya menghilang selama tiga ratus tahun?

Aku mengumpat, aku benar-benar akan menyincang Victoria jika aku bertemu dengannya.

Aku mengangkat wajahku, baru akan menanyakan sesuatu pada Ed ketika kulihat dia juga sudah tertidur dengan memangku sebuah buku tebal yang terbuka. Dia lelah, manusia dan semua kelemahannya. Aku mendengus, mengingat cerita Finn tentang leluhur Ed. Bagaimana mungkin bisa dia adalah keturunan dari Elior?

Pelan sekali, aku bangkit. Berjalan menuju Ed dan menunduk, mengamati wajahnya yang tertidur lekat-lekat. Aku masih tidak yakin. Dan perasaan itu masih ada, aku seolah tahu bahwa aku mungkin akan membutuhkan laki-laki ini. Aku menggeleng, berjalan ke arah rak buku dan memilih buku-buku lain untuk kubaca. Tahu bahwa aku tidak mungkin bisa tidur seperti dua manusia yang sekarang sudah mendengkur halus ini. Vampir tidak tidur. Bukankah begitu?

***

“Selamat pagi.” ucapku ketika Finn mengeliat dan mengerjap-erjapkan matanya. Kemudian iris matanya yang coklat melebar, menatapku bulat-bulat. Seolah-olah meyakinkan tentang apa yang dia lihat.

“Aku pikir aku bermimpi.” dia menoleh, lalu menemukan Ed yang masih tertidur di kursi lain. Dia diam seolah berpikir untuk menusuk Ed dengan pedang atau mengiris lehernya. Aku masih tidak mengerti permusuhan seperti apa yang sebenarnya jika melihat mereka berdua. Mungkin memang benar jika Finn memiliki alasan untuk membenci Ed karena dia adalah keturunan dari Jared yang sudah memusnahkan ras leluhurnya. Tapi aku merasa, bahwa ada masalah lain yang lebih daripada masalah tentang masa lalu itu.

“Jadi,” ucapku membuatnya menoleh, “Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Ed?”

Dia terlihat terkejut.

“Ini bukan hanya tentang dia adalah keturunan dari Jared Ritter bukan?”

Finn membuang pandangannya, dia berdiri. Aku tahu dia tidak ingin menjawab pertanyaanku.

“Aku akan mengambil makanan untuk kalian. Ada baiknya kalian tetap di sini. Aku tidak ingin pelayan bertanya-tanya bagaimana bisa Ed di sini ketika dia dihukum pengasingan oleh Raja. Mulut mereka tidak bisa dipegang, aku tidak bisa mengambil resiko orang lain tahu dan menganggap aku berkhianat pada Raja.”

Sudut bibirku tertarik, membentuk satu senyum tipis. Tidakkah dia tahu dia tengah mengkhianati rajanya itu sekarang? Sebab dia masih mengizinkan Ed ada di sini, bahkan membaca rahasia masa lalu keluarganya di ruang tersembunyi milik mereka. Aku bertaruh ruangan ini hanya dimasuki oleh keluarga mereka. Benar-benar keluarga maksudku. Dan bukannya bekas teman baik yang keluarganya kau seret ke penjara.

“Aku tidak makan makanan manusia jika kau perlu kuingatkan, Finn.”

Tubuh Finn yang sudah nyaris mencapai pintu ruangan berbalik, dia terlihat tidak mengerti. Kemudian ekspresinya berubah, “Tapi—“

“Aku juga tidak memintamu membawakan darah manusia untukmu. Tenang saja. Aku hanya ingin mengatakan jika aku tidak lapar. Setidaknya sampai satu bulan ke depan.”

Finn nampak bingung untuk menanggapi perkataanku, namun ketka aku mengabaikannya dan kembali menekuni buku tebal di tanganku. Dia berbalik dan menghilang di balik pintu kayu tersebut.

Hampir satu jam berlalu sampai akhirnya aku bisa mendengar langkah-langkah lain berjalan mendekat ke ruangan ini. Ada langkah Finn yang mulai bisa kukenali dan langkah-langkah kecil yang tergesa. Aku tersenyum. Dia membawa Celia bersamanya. Aku tidak bisa menebak waktu di sini. Sebab tak ada jendela atau apapun yang bisa menunjukkan posisi matahari, tapi mungkin saja ini sudah nyaris tengah hari.

Pintu mengayun terbuka dan aku melihat Finn dengan nampan kayu yang berisi banyak roti dan buah-buahan di atasnya. Si kecil Celia melompat-lompat kecil dengan memeluk benda berbentuk tabung dari bambu yang dilapisi kulit. Suara air berkecipak dari sana.

Dia tersenyum kecil ke arahku dan aku menyesal harus melihat luka itu lagi. Tapi Celia terihat tidak terganggu karena wajahnya masih riang dan dia berlari ke arah Ed yang masih tertidur.

“Ed.. Ed.. Bangun bangun.” suaranya merajuk dan melengking. Membuat Ed terbangun dengan mata tidak fokus karena diterjang tubuh mungil Celia yang sekarang sudah bersarang di atasnya. Duduk di pangkuannya.

Finn meletakkan apa yang dia bawa di atas meja dan duduk di kursi berlengan lain. Sekarang dia terlihat lebih santai dan tenang menghadapi sikap Celia pada Ed. Aku seharusnya bertanya bagaimana bisa Celia terlihat lebih mencintai Ed daripada Finn yang jelas adalah kakaknya sendiri, tapi aku menahannya. Aku tahu mereka sendiri yang akan mengatakan itu kepadaku. Aku hanya perlu menunggu.

Lagipula kepalaku masih dipenuhi hal lain yang lebih penting. Sebab semakin aku tenggelam dalam buku-buku di ruangan ini. Semakin aku tahu tentang apa saja yang telah terjadi selama aku tertidur. Mungkin tidak akan selengkap jika aku melaluinya sendiri, tapi aku senang. Namun aku tahu, akibat lainnya akan kurasakan.

Ribuan pertanyaan menyesaki kepalaku dan aku tahu, bahkan Finn atau orangtuanya sekalipun mungkin tidak akan bisa menjawabnya. Mereka hanya mendengar dan tahu dari apa yang dikisahkan turun temurun kepada mereka. Kisah yang berakar pada keluarga Morgan. Namun sebagian besar pertanyaanku justru tidak ada hubungannya sama sekali dengan Morgan dan karena itulah aku sangat yakin Finn pun tidak akan bisa membantu.

Lalu sekarang bagaimana? Tidak ada satu petunjukpun yang bisa kugunakan untuk menentukan langkahku selanjutnya. Jika seperti yang dikatakan oleh Finn bahwa tak satupun vampir pernah terlihat lagi sejak perang besar itu, apakah aku bisa menemukan satu saja? Bagaimana jika mereka semua memang sudah mati dalam perang tersebut dan aku adalah satu-satunya ras vampir yang tersisa? Dan bahwa mungkin saja Victoria membuatku tertidur untuk membiarkan seorang vampir melanjutkan garis ras kami agar tidak habis.

Aku tidak tahu.

“Kau tahu Ed, kadang kala Putri Arra dan para pelayannya berkunjung ke rumah ini dan kami berdua bicara tentang dirimu. Kurasa Putri Arra juga merindukanmu sama sepertiku. Apakah kita tidak boleh mengajak Putri Arra kemari?” suara Celia membuyarkan pikiranku, sekarang wajahnya menoleh ke arah Finn yang entah kenapa terlihat memucat.

“Finn.. Finn.. apakah aku boleh mengajak Putri Arra kemari?” rengeknya.

Aku memandang kejadian ini dengan tidak mengerti. Mengabaikan wajah memohon Celia. Aku melihat jika Ed dan Finn nyaris menunjukkan ekspresi yang tidak jauh berbeda. Jika Finn terlihat memucat karena marah atau mungkin kecewa, Ed terlihat seperti ingin melenyapkan diri dari ruangan ini.

Tiba-tiba aku ingin tergelak, aku menyadarinya.

Bagaimana mungkin kedua laki-laki dewasa ini saling bermusuhan karena perempuan dan menjadikan kakek-kakek buyut mereka sebagai alasan?

Putri Arra. Jelas sosok itu masalahnya.

Aku bersimpati pada Celia yang tidak tahu apa-apa.

***

Damis memandang Victoria dengan tatapan tidak percaya. Dia baru saja mendengar sebuah permintaan gila yang baru saja diutarakan oleh Victoria kepadanya. Sejujurnya dia senang mendengar kabar itu, tapi dia tidak suka pada banyak akibat lain yang akan muncul jika dia menyetujui rencana Victoria.

“Kau tahu, Vic. Jika memang kau ingin membawa Rena kembali ke kehidupan kami, kau seharusnya melakukannya sejak dulu. Bukannya menunggu sampai sekarang.” suaranya terdengar jengkel dan seharusnya Victoria mengerti alasannya.

Damis sudah meminta kepada Victoria untuk memberitahunya dimana letak peti Rena berada sejak mereka menyingkir dan berpindah-pindah tempat setelah kekalahan melawan para manusia dan manusia serigala. Tapi Victoria menutup mulut dan bertanya pada Reven jelas percuma karena semenjak menghilang bersama Victoria sebelum perang berlangsung, Reven seperti menjadi sosok yang berbeda.

Reven sama sekali tidak mengingat tentang Noura maupun tentang Rena. Dan Damis tahu bahwa itu sangat tidak masuk akal. Namun penjelasan dan ancaman dari Victoria menghentikan siapapun yang ingin mengingatkan hal itu kepada Reven. Tapi entah kenapa, sejak satu abad yang lalu, Victoria sendirilah yang menyebut kedua nama sakral bagi Reven itu di depan Reven sendiri. Menyeritakan kepada Reven tentang mereka meski Damis tahu, dari ekspresinya, Reven sama sekali tidak ingat dan tidak tertarik.

Lalu usaha Victoria semakin keras, dan padang kecil bunga ungu di dekat kastil kecil mereka sekarang adalah bukti lainnya. Vampir manapun yang melihat padang itu akan langsung teringat pada padang bunga ungu kami yang ada di kastil kelompok utama dulu yang sekarang mungkin tinggal puing-puing kecil. Dimana semua itu selalu terikat pada sosok Noura. Tapi tetap, Reven tak mengingat apapun dan Victoria tidak menyerah.

‘Dia sudah bangun.’ adalah satu kalimat pertama yang diucapkan Victoria sebelum dia bercerita tentang  permintaan gilanya pada Damis, mencari dimana Rena karena tempat dimana Rena seharusnya masih terbaring lelap sudah kosong dan dia tidak bisa menemukan Rena dimanapun.

“Apakah kau pikir Rena akan senang berjumpa dengan kita semua setelah kau dan Reven memaksanya tidur nyaris tiga ratus tahun yang lalu?” Damis menaikkan alisnya dan Victoria terlihat menimbang.

“Dan apakah kau juga berpikir tentang bagaimana reaksinya jika dia tahu bahwa posisinya telah digantikan oleh Lucia?”

Victoria terdiam, raut wajahnya tak bisa ditebak bahkan oleh Damis sekalipun, “Aku yakin kita bisa mengatasi masalah itu nanti, Damis.” ucap Victoria, “Ada masalah lain yang mendesak sehingga aku harus segera membawa Sherena kembali ke sini dan menyatukannya kembali dengan Reven.”

Damis nyaris saja memaki Victoria jika saja dia tidak menahan dirinya.

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal ini sementara kau sendiri adalah orang yang memisahkan mereka? Kupikir memang ada baiknya Rena tidak kembali dan Reven tetap bersama dengan Lucia. Suasana hati Reven lebih terkontrol ketika Lucia di dekatnya, kemarahan-kemarahan tidak perlu jelas tidak dibutuhkan sekarang. Kita sedang dalam masa sulit.”

“Apakah kau tidak merasakannya?”

Pertanyaan Victoria itu membuyarkan semua sangkalan Damis.

“Sesuatu itu memanggil kita semua. Seolah mengatakan kepada kita bahwa waktu kita hampir selesai.”

Untuk pertama kalinya, Damis membaca ketakutan di wajah Victoria yang biasanya selalu nampak misterius. Dan dia tahu ini tidak bagus.

“Ada apa Vic?” tanyanya khawatir.

“Aku merasa—“ dia berhenti, “Aku akan memberitahumu nanti. Tapi sekarang, kita harus menemukan Sherena dan membawanya kembali. Hanya dia yang dapat membantuku sekarang.”

“Membantumu?”

Namun Victoria mengabaikan pertanyaan Damis dan dia bangkit, “Aku menunggumu di bawah. James akan bersama dengan kita nanti.”

Lalu dia melesat meninggalkan ruangan Damis dan Damis, dengan kening mengerut tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang. Apapun itu, jika sampai membuat Victoria terlihat takut maka bukan berita baik. Dia bangkit dari duduknya, menghela nafas. Menyingkirkan wajah Lyra Corbis dari pikirannya sebelum dia berjalan keluar. Menyusul Victoria.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

35 Comments

  1. Alhmdulillah update jg, tapi……….
    Mw chapter yg ad adegan rena ktmu reven, please (puppy eyes) maafkan reader yg bnyk nuntut ini y, tapi kepo bgt dah, sueerr.. mw lyt mrka ktmuan -__-
    Noura aj ga diinget, tapi kl smpe nanti reven inget sma rena berarti cinta reven lbh besar ke rena dibanding noura, smoga next chapter ga lama2 yah, setidaknya 3 x 24 jam (maksa.com) oia lupa, selamat menjalankan ibadah puasa di negeri org, pasti berat bgt y, tetap semangat @@/

  2. Pertama mau bilang sama Author kesayangan ku satu ini makasih banget ufah update,kedua pengen pinjak palunya Thor buat mukulin kepalanya Reven,ketiga jadi penasan ada masalah apa yang membuat Vivtoria jadi ketakutan,Penasaran banget lanjut ya Kak jangan lama2 kalau bisa 3 hari pasang wajah memelas sama kakak!

  3. What? Lucia yg gantiin posisi Rena? Ishh… Kenapa Lucia nggk mati aja sih wktu itu?? Luciaa..!!!!! Benci bgt denger nama Lucia.. Pengen aku cabik", aku sobek" muka tuh orng.. Ya ampun Reven.. Mau"nya sih sama si Lucia? Reven semoga sakitnya cpet sembuh ya.. Rena juga.. Victoria, Damis.
    Cepet temuin Rena, nnti keburu Renanya ngilang jauh… Kak Ria, Rena kapan ketemu sama Revennya? Masih lama ya? Kita udh nggk kuat, pngen liat Reven sama Rena Bahagia.. ❤

  4. OMG. . .finally2 update jg. . .!urrrrrght pnsrn knp si vic ktkutan. . .and mbutuhin rena btw reven kok gancen bngt ma cewex2 apalagi ke lucia si BITCH itu hem. . .emosi saya but sabar2 xan lagi puasa hehe next chapter na di tunggu xax

  5. Hikz hikz hikz T_T kenapa slalu gini. . .??knp ending na sllu gntung. . .knp sllu bkin pnsran. . .!!demi neptunus reven ingin ku bunuh kau lihat j klw ketemu tak cium sampe kapok kamu #hadech salah fokus. buat kak ria jaga kesehatan z,cepet nulis RU na lg.

  6. seneng RU update lagi tapi pingin cepet2 rena ketemu sm reven … pingin tauu apa reaksi mereka berdua nanti kalo ketemuu *kepo akut* berharap sih kalo mereka ketemu itu mereka duel trus rena yang menang hahahah *ketawasetan*

  7. Akhirnyaaaaa yaaa RU update lagiiii. Setelah bukain ini blog tiap hariiiii cuma buat nungguin cerita ini??
    Duh buru deh ketemuin rena aama reven. Penasaran sama reaksinya reven. Buru biar lucia jauh2 dari reven!
    Mangat ye thoooorrr???

  8. Lucia lagi…lucia lagi… Thor RU ini update brapa minggu sekali sich…biar g ktinggalan n kepo ngintipin blog ini tiap hari… 🙂 –anadya–

  9. Haiii kalian berdua.. makasih komentarnya.. btw soal kapan Reven sama Rena bakal ketemu.. emm bentar aku liat di lappy..

    Kalo ngga 2 chapter lagi atau pas di chapter ke-3 setelah ini mereka baru ketemu.
    Semogaa juga, kalo emang Reven cintanya bener2 besar. Mereka bakal ingat pas uda ngeliat satu sama lain yaa..

    Oh iya, selamat berpuasa juga! 😀

  10. Pertama… akkkk sama-sama. Makasii komentarnya juga.. dan.. jangan getok pala Reven pake palunya Thor, kasian. Hahahha sapa tahu nanti bukannya ingat Rena, di malah ingetnya cuma Noura. balik deh jadi duta anti move on. Kasian. 😛 😛

    Well, tentang apa yang bikin Victoria ketakutan itu bakal dipaparin di chapter setelah ini.

    Aku usahain ngga lama. Serius deh. 😀

  11. Semua ngga rela ya kalo Lucia ngegantiin posisi Rena di samping Reven. Sementara Lucianya sendiri pasti sampai joget2 geje begitu ngedapetin hati Reven, secara setelah semua yang dia lakuin demi Reven. Sampai ngelukai calonnya, si Russel.

    Kapan Rena sama Reven ketemu? ngga lama kok, paling 2 atau 3 chapter lagi uda ketemu. Apalagi kalo yang nyari Victoria, James sama Damis. Merekakan bukan vampir remeh, jadi mungkin bakal cepet ngelacak keberadaan Rena. 🙂

  12. Sama-sama 😀

    Apa yang bikin Victoria takut dan membutuhkan Rena? Jawabannya entar ada di chapter selanjutnya. Victoria, meskipun engga sehebat Noura dalam membaca masa depan, dia masih bisa ngerasa2 dikit kalo ada bahaya. Sama kaya Illys.

    Semangat juga 😀

  13. Victoria merasakan ada 'sesuatu' yang akan datang dan itu berakaitan dengan rasnya dan karena 'sesuatu' itu, dia tahu dia membutuhkan Rena untuk %&§%§($%$ *sensor*

    Hahahha..

    EH, jangan sampai puasanya batal gara2 aku yah 🙁

  14. Sengantung itukah potongan part ini?? *pukpuk kamu*

    Heii heiii.. Reven milikku. Jangan dicium sembarangan. Hahahha.

    Terima kasih ya.. Insya Allah, RU nonggol minggu ini juga kok 😛

  15. Rena sam Reven duel, gitu? Hahahha iya menarik. Apalagi kalo sampe Rena yang menang, bisa berasap kepala Reven saking jengkel sama sebel paling ya. Hahahha.

    *ikut ketawa setan*

  16. Semanggaaaattt juga buat kamu…

    Btw, mereka ketemu ngga akan lama lagi kok. Sabr aja. Dan kita bakal liat gimana reaksi masing-masing mereka pas ketemu. Pada saling inget ngga, atau malah langsung pelukan kya Telletubbies. Hahaha

  17. Ada apa dengan Lucia? Ada apa ada apa?? *purapurabego*

    ;P ;P

    Sebenarnya ngga ada jadwal pasti kapan aku posting RU. Soalnya aku juga punya banyak kesibukan lain di sini yang musti diurusin. Niatnya sih, dari awal seminggu satu kali, tapi banyak melencengnya karena satu atau banyak hal. Jadi yah gitu, sebisanya aku aja. Hehehe

    😀

  18. Yatuhan keren banget kak wkwkwk
    Akhirnya rena bangun akhirnya rena ingett tp masih ga inget reven huf. Reven apalagi moveon cpt bgt ama lucia-,-
    Btw ka maaf nih baru bisa komen skrg:( dan MAKASIHHH BGT UDH MAU UPDET HEHEHEHE senangnya wkwkw biar pun kaka sibuk. Masih dijermankah ka?
    Last word deh ka,

    TETEP SEMANGATTTTT KAK!(9^O^)9

  19. sebel sm reven yg ndak inget rena malah asyik pacaran sm lucia slama 3 abad. pengen tau reaksi rena jika ketemu sama victoria jadi dicincang apa ndak??? hehehe…
    SEMANGAT YA KAK BUAT NGETIK RU. ditunggu lanjutannya.

  20. Mau nangis… Aku nangis aja deh, boleh nangis thor ? Seneng banget akhirnya update sebenarnya udh baca beberapa hari lalu cuman tiba" mbah google aku eror jdi ga bisa jdi first comment deh :"") pertama aku mau berterimakasih sama author kesayangan aku ini udh update pada saat yg tepat bngt kemaren, aku kan lagi ada probelm eh liat author update langsung meledak kebahagian haha lebay yah? Biarin deh emang kenyataan kok. Kedua victora knp ketakutan bngt ya akuh semakin ga sabar baca chptr selanjutnya. Ketiga PLISSSS THORR, AUTHOR SYNG KAN SAMA AKU JANGAN LAMA LAMA YA UPDATENYAAA IM BEGGING YOU THOR LOVE YOU FROM THE BOTTOM TO THE TOP?????????????????

  21. Reven ngapain sih cari Lucia mulu,aku kesel sama Reven.Sebenarnya apa yang terjadi sampai Victoria bisa ketakutan gitu.Pasti hal besar.Berharap Victoria,Damis,James bia cepet temuin Rena dan bawa ketemu sama Reven.Gak sabar nunggu momen itu hehe
    (PuputM_Kiki)

  22. Reven ngapain sih cari Lucia mulu,kesel sama Reven.Penasaran apa yang sebenernya terjadi sampai Victoria ketakutan gitu,kelihatannya hal besar bakalan terjadi.Berharap mereka bisa cepetan temuin Rena dan di bawa ke Reven.Gak sabar nunggu momen itu,hehe (PuputM_Kiki)

  23. Reven ngapain sih cari Lucia mulu,kesel sama Reven.Penasaran apa yang sebenernya terjadi sampai Victoria ketakutan gitu,kelihatannya hal besar bakalan terjadi.Berharap mereka bisa cepetan temuin Rena dan di bawa ke Reven.Gak sabar nunggu momen itu,hehe (PuputM_Kiki)

  24. Ya ampun aku salah aq kira hari sabtu maklum liburan sekolah jadi ngak ingat tanggal dan hari wkwkwkwk maaf kan kekhilafanku.Habis nya pingen Ru cepat di upload……..

  25. ini knapa lucia sama revenn mana lucianya genit bangt, apa reven yg terlalu asik huwaaa gak rela, tpi victoria dan damis msh ingt, berarti cuman reven yg gk ingt, hemm.udh 3 abad, victoria terlalu sekali sampk buat rena tidur 3 abad..ahh penasaran ama kelanjutannya gimana reaksi mreka pas ketemu..ditunggu kelanjutannua bangt, semangattt!!!!…dan ketawa2 sendiri bayangin kelakuan Ed hahhahhaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published.