Remember Us – Mendekat

Hai kalian semua pengunjung setia blogku dan kalian yang mencintai cerita ini. Aku benar-benar meminta maaf karena mengupload lanjutan cerita ini lama sekali. Aku tahu.. aku tahu. Aku seharusnya mengupload cerita ini pada hari minggu tanggal dua puluh delapan seperti janjiku sebelumnya. Dan aku benar-benar sudah akan melakukannya jika saja charger netbookku yang memiliki sambungan internet, tidak rusak. Aku tidak tahu kenapa, sepertinya aku punya bakat untuk merusak barang-barang yang kugunakan jadi.. yah selama beberapa hari netbook dengan satu-satunya aksesku ke dunia maya itu cuma tergolek tak berdaya karena jiwanya habis. Pendek kata, ngga bisa dicharge soalnya kabel chargernya error. Atau mungkin—entahlah, aku gak ahli di bidang perkabelan.

Well, tapi akhirnya, aku bisa mendapatkan akses internet lagi. Kurasa aku beli charger baru, lumayan nguras isi dompet sih, tapi gimana lagi. Aku juga butuh internet untuk mengurus semua urusanku dengan kampusku agar aku bisa langsung jadi anak kuliahan yang ga lulus-lulus lagi begitu balik ke Indonesia. Anyway, doakan aku ya. Semoga aku bisa lulus setelah dua semester dan segera wisuda (dan mungkin bisa ke Jepang). Aku ngga kepengen jadi mahasiswa Sastra Jepang bangkotan dan menuh-menuhin kantin FIB-nya UNAIR. Kata ibukku, doa yang diamini banyak orang itu manjur. Dan aku percaya—selalu percaya—sama apa yang dibilang ibukku.

Eh, kok aku jadi curhat melantur begini ya. Ah sudahlah, selamat membaca, kalian. Jangan lupa doakan aku dan komen atau share cerita ini ya.

Aku sayang kalian. Sungguh.

Ketjup,

@amouraXexa

P.S New Chapterbesok loh. Sebagai tebusan rasa bersalahku karena selalu ngaret upload RU. Hehehe.

***

“Kau yakin dia ada di sana?”

Victoria mengangguk. Dia tahu jelas tentang hal itu. Mungkin karena perempuan itu dulunya memiliki jiwa Noura, Victoria bisa merasakan dimana keberadaannya. Meski terasa sangat lemah dan jika tidak berkonsentrasi penuh, dia akan kehilangan sisa-sisa ikatan itu, dia bisa sangat yakin bahwa dia tidak salah.

Noura,Victoria membatin, bahkan ketika kau sudah lama matipun, kau masih berguna untukku.

Dulu dia memiliki ikatan empati dengan Noura. Ikatan yang mengikat mereka erat tanpa mereka berdua bisa sadari lebih awal. Sebab Noura adalah calon ratu yang muncul karena penyihir kuno ingin menuntut keadilan atas perilaku Vlad pada Victoria. Dan butuh waktu yang lama bagi Victoria menyadari hal tersebut dan melakukan komunikasi batin dengan Noura. Sebab dia sendiri bahkan tidak punya wujud ketika itu. Dia berbicara pada Noura setiap perempuan itu mengistirahatkan benaknya. Victoria masih ingat dengan jelas bagaimana ketika itu Noura menghindarinya dan tidak mempercayainya. Tapi pada akhirnya dia berhasil dan Noura sepenuhnya menaruh kepercayaan padanya.

Masih sulit bagi Victoria untuk percaya jika perempuan cerdik dan kuat itu pada akhirnya memilih mati. Dia sudah menyarankan berulang kali pada Noura jika lebih baik dia mengambil alih saja jiwa Sherena, namun Noura berkeras menolak.

Aku sudah berjanji pada ayahnya untuk melindungi perempuan itu.”

Jawaban Noura bahkan masih bisa dia dengar jika dia memejamkan mata dan mengingat. Victoria dulu menaruh begitu banyak harapan pada perempuan naif yang memilih mati dan melarikan diri dari kewajiban yang lebih besar. Satu penyesalannya akan kehidupan Noura yang begitu singkat.

Lagipula, jika bukan demi Noura dan rasa pedulinya yang begitu besar pada Reven, dia tidak akan pernah mengizinkan perempuan selemah Sherena Audreista mengantikan posisi Noura. Dia tidak bisa berbohong jika dia sangat tergoda untuk membunuh Sherena ketika dia berada dalam tahanan bersama Lyra Corbis. Tapi sumpahnya pada Noura menghalanginya. Lalu sekarang, dia harus menahan diri lebih banyak lagi dan memberi kesempatan pada Sherena untuk membuktikan diri bahwa dia memang pantas menempati posisi Noura.

Tapi lebih dari semua itu, Victoria takut sesuatu yang buruk akan terjadi bahkan sebelum Sherena sanggup membuktikan dirinya. Dia melihat, dia merasakan dan dia mulai membaui semua horor terburuk yang pernah ada dalam sejarah kehidupannya. Dan Victoria menolak percaya pada awalnya. Namun semakin kuat dia menolak, maka godaan untuk percaya bahkan semakin kuat. Setiap dia menolak, bayang-bayang itu menjadi begitu kuat. Victoria takut jika semua yang semakin kuat dia ingat adalah kebenaran mutlak. Semua pertanyaan tentang mengapa yang selama ini memenuhi benak para vampir akan terjawab jika semua itu benar. Tapi, kebenaran itu bahkan terasa mengerikan bagi Victoria. Bisakah semua menerima jika dia saja menolaknya? Menolak percaya.

Tapi jika kebenaran pada akhirnya menuntut jawaban, Victoria akan butuh Sherena berada di samping Reven, menemani Reven menghadapi takdir mengerikan yang mungkin akan menimpanya. Takdir yang menghampiri Reven karena seseorang yang seharusnya mengambil tanggung jawab itu sudah dia bunuh, Vlad. Mengingat nama Vlad membuat Victoria merasakan rasa sakit itu lagi.

“Aku tidak suka tempat ini.”

Suara Damis membuyarkan semua pikiran kacau Victoria. Dia menarik tudung jubahnya hingga bayangan matahari benar-benar tidak menyentuhnya dan menyembunyikan senyumnya.

“Aku juga tidak.” jawabnya.

Damis mendengus dan James menahan komentar apapun. Suara gesekan ranting karena ulah angin menjadi satu-satunya suara sekarang ketika mereka semua terdiam. Ketiga pasang mata tengah menatap benteng batu tinggi yang menjulang terpisahkan prairie dari tempat mereka berlindung sekarang.

“Bukankah ini wilayah kerajaan yang kau ganggu itu?”

Victoria menahan diri untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan Damis dan hanya mengangguk. Damis mengerucutkan mulutnya sebentar dan menimbang-nimbang.

“Kau yakin Rena ada di sana?” ulangnya lagi.

Dengan sabar Victoria mengangguk lagi.

“Jika bukan demi Rena, aku tidak suka masuk ke sana. Apalagi ke dalam kastil kerajaannya. Aku tahu bagaimana mereka memperkuat penjagaan mereka dengan semua perak setelah kau membunuh ratu mereka.”

Kali ini Victoria tidak bisa menahan diri dan dia tertawa. Damis mengerutkan keningnya tidak suka, “Lagipula bagaimana bisa mereka tahu bahwa perak melemahkanmu?”

“Pettied bodoh itu melihat bagaimana aku tergores pedang perak tanpa sengaja dan kulitku, yah.. seperti yang kau tahu Damis. Dan sejak saat itu dia berpikir itu unsur lemah penyihir.” Victoria terkekeh.

James menggeleng, tidak percaya pada tindakan gila yang dilakukan Victoria. Dia mendengar tentang hal itu juga dari semua pertengkaran, gerutuan dan omelan di kastil utama tentang kesulitan berburu manusia di malam hari di seluruh wilayah kerajaan ini, yang diakibatkan oleh Victoria. Tapi melihat bagaimana Victoria mengakuinya sendiri membuat dia tetap kesulitan percaya.

“Apa kau memang membunuh ratu itu karena kau cemburu?” James akhirnya menanyakan hal yang selama ini dibisikkan semua vampir lain di belakang Victoria.

“Apa?” Victoria menoleh dengan cepat dan James sedikit menyesal menanyakan itu karena meskipun dalam bayangan gelap tudung jubahnya, dia masih bisa merasakan jika Victoria menatapnya dengan tidak suka dan itu meresahkan. Iris merah itu jelas sedang memolotinya tajam dan James mundur sedikit. Membuat seorang Victoria Lynch marah padanya bukanlah salah satu dalam rencana kehidupannya.

“Aku han—“

Victoria mengabaikan tangannya dan dia melirik kesal pada Damis yang sekarang terlihat senang.

“Bagaimana mungkin kau bisa menanyakan hal bodoh itu James? Cemburu pada seorang raja manusia yang bahkan tidak bisa membedakan vampir dengan penyihir? Tidak, tentu saja tidak. Aku menyusup ke kerajaan ini hanya karena bosan. Lagipula Pettied yang tergila-gila padaku dan bukan aku. Pahami kalimat terakhirku dengan benar.”

James mengangguk gugup dan Damis tersenyum makin lebar.

“Lalu alasan apa yang membuatmu membunuh ratunya?” tanya Damis hanya untuk mengalihkan perhatian Victoria dari James. Dia tidak tahan melihat wajah panik James ketika Victoria menatapnya sedemikian rupa. Menyenangkan mungkin, tapi dia juga setengah kasihan pada James. Mereka sedang tidak butuh vampir sekarat karena perbuatan Victoria sekarang.

“Wanita itu sangat menganggu dan banyak sekali bicara. Dia pikir dia bisa mengertakku hanya karena dia tahu suaminya jatuh cinta padaku? Manusia bodoh, dia beruntung aku tidak meremukkan semua tubuhnya dan hanya membiarkan dia mati begitu saja. Darahnya bahkan tidak membuatku lapar sama sekali.”

“Tentu saja.” sahut Damis.

Tipikal Victora, simpulnya.

“Nah, membahas Edith hanya membuatku jengkel. Lebih baik kita segera ke sana dan menemukan Sherena.”

Kali ini tak ada ucapan apapun dan mereka bergerak begitu cepat hingga hanya nampak seperti sekelebatan bayangan samar.

***

“Jadi siapa putri Arra yang membuat dua sahabat menjadi ingin saling tikam satu sama lain ini?” tanyaku setelah Celia—dengan banyak paksaan dan bujukan dari Ed dan Finn—meninggalkan ruangan ini.

Aku melihat gerakan tidak perlu yang dilakukan Ed karena dia terlihat gugup dan mendadak menghindar untuk menatapku. Sementara itu Finn memalingkan wajahnya dan aku bisa melihat rahangnya menegang. Seolah dia menahan diri untuk melakukan sesuatu.

“Jika kalian tidak ingin bicara padakupun aku ti—“

“Dia adalah calon isteriku.”

Mataku memicing menatap Finn. Dia mengatakan itu seolah dia membenci fakta tentang apa yang baru saja dia semburkan padaku. Seharusnya seorang laki-laki akan mengatakan dengan bangga dan bahagia alih-alih frustasi dan kecewa ketika menyebut seorang perempuan sebagai calon isterinya.

“Lalu masalahnya? Oh sebentar, kutebak Putri Arra ini adalah putri kerajaan ini bukan?” entah kenapa aku suka bahasan ini, seraya menikmati semua ekspresi dan tingkah laku Ed dan Finn yang terlihat konyol. Ini tontonan menarik bagiku. Sedikit menghiburku.

Finn mengangguk setengah hati, “Tapi ikatan kami sudah berakhir ketika dia berkata padaku bahwa dia tidak lagi bisa menikah denganku.”

Sekarang Ed terlihat semakin gelisah di atas tempat duduknya. Dia bergerak tidak nyaman seolah sedang menduduki tumpukan ranting tajam. Aku ingin tertawa. Tapi aku harus menjaga ekspresi tenangku.

“Tapi kenapa?”

Ada tarikan nafas yang sangat panjang dan hembusan nafas patah hati sebelum Finn menjawab, “Arra jatuh cinta pada laki-laki lain dan laki-laki itu—“

“Dengar Finn,” sela Ed cepat, “Kita perlu meluruskan masalah ini. Aku—maksudku kami tidak bermaksud melakukan ini di belakangmu. Tapi aku dan Arra tidak bisa—“

Finn mengangkat satu tangannya, “Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi, Ed. Arra sudah menjelaskan dan memberitahuku semuanya. Dan kurasa itu cukup jelas bagiku. Kalian berdua mempermainkan dan mengkhianati kepercayaanku.”

Aku menunggu pedang dimainkan dan darah sebagai akhir. Tapi tidak ada yang terjadi. Suara Finn terdengar marah, juga kecewa. Tapi lebih dari itu, kurasa dia menahan diri untuk tidak melakukan apapun—yang membuatku cukup heran. Ed sendiri sudah seperti cacing kepanasan yang sibuk untuk menemukan posisi nyaman untuk duduknya. Aku menahan diri untuk tidak terkekeh.

Jadi ini dia masalahnya. Cinta. Entah kenapa satu kata itu terasa omong kosong dan tidak bermakna apa-apa bagiku. Mengherankan sebab aku bahkan ingat bagaimana dulu aku begitu merasa hidup dan bahagia ketika aku jatuh cinta pada Dev. Aku ingat bagaimana darahku berdesir dan jantungku seperti akan melompat keluar dari dadaku—ketika itu aku masih manusia—setiap kali jemari Dev yang dingin menyentuhku. Namun sekarang, semua itu terasa rancu. Cinta? Itu alasan konyol.

Kami semua menoleh ketika mendadak pintu ruangan menjeblak terbuka. Seorang laki-laki dan wanita paruh baya yang terlihat nyaris kehabisan nafas berdiri di sana. Anehnya, aku tidak terlonjak terkejut seperti yang dilakukan Ed dan Finn. Aku masih duduk, mengamati dua tamu kami.

“Celia mengatakan, bahwa kau menemu—“ laki-laki dalam balutan pakaian khas kerajaan dan jubah perjalanan ini lalu menemukanku, suaranya hilang. Matanya membulat. Sementara wanita di sampingnya terpekik. Matanya berulang kali naik turun mengamatiku dan lukisanku bergantian.

“Senang bertemu anda, tuan dan nyonya Cllarigh.” aku sudah berdiri, mengangguk sedikit dengan anggun. Aku hanya menebak dan kurasa itu tidak salah. Siapa lagi yang bisa masuk ke ruangan ini selain mereka?

Richard Cllarigh dan Isabel Cllarigh berusaha menemukan suara mereka. Sementara mata keduanya masih menatapku seolah aku adalah makhluk ganjil. Melihat dari reaksi Finn dulu ketika pertama kali melihatku. Aku merasa dia memiliki penguasaan diri yang lebih baik dibanding kedua orangtuanya.

“Apakah.. apakah dia memang benar-benar Sherinn? Yang dulu menyelamatkan leluhur kita?” ucap Richard pada akhirnya. Suaranya masih terdengar sedikit tercekat.

Dari sudut mataku aku tahu Finn mengangguk. Setelahnya baik Richard maupun Isabel berjalan maju, mendekat ke arahku dan berhenti beberapa langkah dariku.

“Itu benar-benar kau?” ulang Richard

“Jika yang kau maksud adalah perempuan vampir yang membawa pergi Rowena Reeser dan anak-anaknya serta Alan dari desa mereka, maka jawabannya adalah ya. Itu aku. Tanpa sedikit keraguanpun.”

Isabel berdiri di samping suaminya dan meremas tangannya gugup. Mungkin dia tidak benar-benar percaya pada semua masalah keturunan dan masa lalu jauh dari suaminya sampai dia benar-benar melihatku. Dari kedua iris mata hijau terang Isabel, aku melihat kengerian itu. Aku tidak menyalahkannya. Melihat dari bagaimana Ed masih berkeras tidak mempercayai semua hal tentang vampir yang kuceritakan padanya, aku mengerti jika Isabel menatapku seperti itu. Wanita yang dilukis pada lukisan yang berumur nyaris tiga abad, dan tergantung di ruang rahasia keluarganya mendadak muncul dan berdiri di depannya dalam keadaan sama persis tanpa sedikitpun perubahan. Tentu jika jadi dia, aku juga akan memiliki reaksi yang sama.

Aku tidak tahu bagaimana konsep kehidupan vampir pada akhirnya dapat para manusia yang hidup pada zaman ini cerna. Tapi aku juga sedang tidak berminat meyakinkan ibu dari Finn ini. Aku sudah melakukannya pada Ed dan hasilnya buruk. Aku tidak ingin mencoba lagi. Jika dia mencoba menemukan pemecahan lain selain bahwa aku adalah vampir, aku bisa menerimanya. Asal dia tidak menyebutku penyihir saja. Entah kenapa aku tidak suka. Padahal aku tahu Ar adalah penyihir.

Butuh beberapa menit yang panjang untuk kembali menceritakan pada Richard dan Isabel kenapa aku bisa berada di sini. Untungnya—bahkan Isabel—mendengarkanku dengan penuh perhatian dan mereka sama sekali tidak bertanya apapun meski kerutan samar seringkali muncul di dahi mereka ketika aku sampai pada beberapa bagian cerita.

Richard menyandarkan tubuhnya ke punggung bangku berlengannya sambil menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Dan aku sekali ini benar-benar sangat ingin memiliki kemampuan seperti yang dimiliki oleh Dev. Bisa membaca pikiran manusia mungkin bisa sangat berguna pada beberapa situasi, seperti saat ini misalnya.

“Tapi aku tidak tahu apa-apa lagi tentang dirimu, Sherinn. Aku sangat menyesal.” kata Richard setelah aku mengatakan kepadanya bahwa aku butuh banyak hal yang bisa membantuku untuk memperoleh seluruh ingatanku yang seperti tercerai berai.

“Semua yang telah dikatakan Finn adalah semua yang kami tahu. Tapi seperti yang kau lihat, ada banyak sisa-sisa tulisan dan buku-buku milik Rowena di sini. Kau bisa membacanya dan mungkin ada beberapa informasi yang berguna untukmu.”

Aku mengangguk, “Ya, aku sudah membaca banyak dan beberapa memang berguna untukku.”

Lalu, entah mereka pada akhirnya sadar bahwa Ed ada di sini atau bagaimana, Richard mendadak beralih memandangnya. Aku bertanya-tanya apakah dia sama seperti Finn yang menyimpan kemarahan kepada Ed, dan berusaha untuk membunuhnya. Tapi selama beberapa waktu, Richard hanya memandangi Ed, seakan sedang memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya terkait dengan Edred Ritter.

Isabel sepertinya menyadari hal itu juga, namun dia diam dan menunggu. Kurasa dia tipe isteri yang akan menyetujui apapun yang diucapkan suaminya. Jenis penurut yang seringkali bodoh. Tapi aku hanya menebak, sebab wanita itu tidak bicara apapun sejak dia masuk ke sini bersama Richard. Aku hanya mebaca semua itu dari ekspresi dan bahasa tubuhnya.

“Aku tahu pada akhirnya kau akan melanggar apa yang sudah ditentukan Raja Pettied untukmu, Ritter.”

Anehnya, Ed mengangguk dan tidak terlihat terancam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun dan aku sulit menebak apa yang sekarang ada di dalam kepalanya.

“Aku hanya ingin mencari keadilan bagi keluargaku.” suaranya dingin dan tenang, seolah dia mencoba untuk menyembunyikan apa yang dirasakannya sekarang.

“Sayangnya semua keadilan itu sudah diberikan oleh Raja Pettied. Menyerahlah. Kau tahu bahwa keluargamu memang bersalah.”

Serta merta Ed bangkit dan memandang lurus-lurus pada Richard, dagunya terangkat dan wajah itu akhirnya menunjukkan bagaimana perasaannya. Rahangnya mengeras dan matanya setajam ketika dia berkata padaku bahwa tujuannya membantuku sampai ke kastil kerajaan adalah untuk membunuh Finn.

“Keluargaku tidak akan melakukan hal serendah itu. Finn bahkan sudah mengakui bahwa dia memang berhasrat untuk menghancurkan keluargaku karena semua omong kosong bodoh tentang Jared Ritter daan pengkhianatan yang dilakukannya di perang besar yang bahkan tidak ada di catatan kerajaan kita.” suaranya tajam dan terdengar marah.

Aku menunggu apa yang akan terjadi sebagai penonton yang baik. Agak aneh memang jika melihat bahwa beberapa menit lalu aku adalah pusat dari semua percakapan di ruangan ini. Finn tersenyum sinis, tipis dan terkesan tidak peduli pada apa yang dikatakan oleh Ed. Sepertinya dia sepenuhnya menyerahkan masalah ini pada Richard, yang masih duduk dengan tenang di tempatnya. Mengawasi Ed dengan setengah hati.

“Seharusnya kau berterima kasih pada Finn karena dialah yang membongkar semua kejahatan keluargamu dan bukannya orang lain. Jika orang lain yang melakukannya, apa kau pikir Raja Pettied hanya akan mengusirmu dari sini seperti yang telah dia lakukan?” Richard menggeleng, “Dia akan melemparkanmu pada ruang penjara bawah tanah dan orangtuamu dihukum penggal.”

Aku jadi penasaaran sebenarnya kejahatan apa yang dilakukan oleh keluarga Ed. Aku teringat bagaimana dulu Fudge mengatakan bahwa mencuri adalah keahlian dari seorang Ritter. Dan itupula yang membawa seluruh keluarga Ritter terkurung dalam penjara. Jadi sekarang masalahnya, apa yang dicuri oleh keluarga Ritter dan masih disangkal Ed sampai sekarang.

“Dan kau harap aku mempercayaimu?” sergah Ed.

“Kau hanya tidak tahu. Dan jika kau memang benar-benar siap untuk dikecewakan oleh keluargamu. Caritahulah apa saja itu yang tidak kau tahu. Aku tidak akan ikut campur karena urusanku bukan padamu. Sangat disayangkan kau berasal dari keluarga Ritter.”

Ed mencabut pedangnya dan Finn melompat ke depannya, pedangnya sudah teracung ke depan. Siap bertarung jika Ed masih berkeras untuk melakukan sesuatu kepada ayahnya. Kebiasaan buruk yang belum hilang,keluhku. Dan kulihat baik Richard dan Isabel nampak tak peduli pada apa yang baru saja dilakukan Ed.

“Turunkan pedangmu, Edred Ritter!” bentak Finn.

Sebelum Ed sempat mengatakan sesuatu, aku bangkit dengan cepat. Membuyarkan pertarungan mereka yang belum dimulai.

“Mereka disini.” ucapku keras.

Semua wajah di ruangan ini menatapku. Dan aku tahu mereka menunggu penjelasanku. Tapi aku terlalu bingung, kalut dan senang pada saat yang bersamaan. Intuisi jelas tidak salah. Aku bisa, entah bagaimana merasakannya dengan sangat jelas. Perasaan yang hanya akan muncul ketika kau merasa bahwa kelompokmu ada di sekitarmu. Aku seharusnya bisa merasakan ini lebih awal, namun karena hanya berkonsentrasi pada Finn dan Ed, aku baru menyadarinya setelah mereka benar-benar dekat. Aku tidak tahu kenapa aku menyebut mereka, tapi semua di kepalaku terasa membenarkannya tanpa memerlukan alasan dan aku sepakat pada isi kepalaku kali ini.

Aku berlari membuka pintu ruang rahasia ini dengan cepat dan berlari ke arah sumbernya. Indera dan instingku membimbingku. Sehingga aku sampai di sana dengan sangat cepat. Meninggalkan Alan dan keluarganya serta Ed jauh di belakangku.

Tubuhku beku. Ruang utama keluarga Cllarigh terasa penuh. Tubuh-tubuh para prajurit penjaga dan pelayan rumah ini tergeletak tak beraturan di atas lantai. Mereka tidak mati karena aku masih bisa merasakan suara detak jantung mereka dan desiran darah mereka. Namun bukan itu fokusku. Mataku menatap tak berkedip pada tiga sosok menjulang di seberang ruangan.

“Lama tak berjumpa, Sherena.”

Suara itu masih sama, wajah itupun masih sama, namun yang membuatku ingin mencekik dan melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatku ke wajahnya yang rupawan adalah ekspresi geli di wajahnya. Aku tidak suka itu.

“Kau,” desisku.

“Senang melihatmu.”

Kau!”aku membentak, mungkin juga menjerit jengkel saking sebalnya melihat raut wajah Victoria Lynch yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Dia justru nampak sangat riang. Aku mengabaikan dua laki-laki yang berdiri di kanan dan kirinya. Aku tidak tahu siapa mereka meskipun amarahku sedikit menurun ketika melihat laki-laki yang berada di sebelah kiri Victoria. Mata birunya yang cerah berpendar dan seolah mengabarkan betapa dia terkejut dan juga senang melihatku, meski aku tidak tahu alasannya.

“Kenapa kau ada di sini, Sherena? Merepotkan sekali harus mencarimu jauh-jauh sampai ke sini.” Victoria bergumam dan ekspresinya berubah kesal. Aku mengerutkan keningku dalam dan tidak bisa lagi menahan semua amarahku. Aku berlari ke arahnya dan menerjangnya. Namun sial, hanya dengan satu tangan dan gerakan santai. Dia menampikku dan menghindar. Untungnya aku bisa menguasai keseimbanganku dengan cepat sehingga tidak jatuh dengan memalukan di depan mereka.

“Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu, makhluk tak berhati! Setelah kau membuatku tertidur selama berabad-abad dan terbangun dengan ingatan berantakan. Sialan kau, Victoria!” sumpah serapahku masih berlanjut.

Laki-laki yang sebelumnya ada di sebelah kanan Victoria nampak tidak suka mendengar semua kata-kata yang meluncur bebas dari mulutku. Sejujurnya aku tidak peduli. Sementara laki-laki yang bermata biru menyodok lengan Victoria dengan cukup keras dan berbisik—cukup jelas untuk bisa kudengar, “Apakah tidur lama bisa membuat perempuan menjadi lebih galak? Kau dulu juga seperti itu, Vic?”

Victoria melambaikan tangannya dengan malas, “Tutup mulutmu, Damis.” ucapnya tak peduli dan dia mengalihkan tatapannya padaku, mengamatiku dengan iris matanya yang berwarna merah. Aku benci jenis tatapannya yang terkesan sedang menilaiku. Dan dia bilang siapa tadi? Damis? Sesuatu menyentuh bagian ingatanku dan wajah Lyra Corbis yang terbentuk dalam bayang pikiranku, menyentakku.

“Apa saja yang masih kau ingat, Sherena?”

Suara Victoria mengalihkan keterkejutanku dan aku baru saja akan membuka mulutku untuk memakinya lagi ketika suara langkah kaki yang bergerak cepat ke arah ruangan ini menghentikanku. Tak lama kemudian, sosok Richard, Isabel, Finn dan Ed berjejalan di pintu yang ada di seberang ruangan, arah darimana aku datang sebelumnya.

Suara memekik Isabel membuatku mengerutkan kening, dia menunjuk Victoria dan nampak tak peduli pada tubuh pingsan para prajurit dan pelayannya.

“Eve.”

Victoria menelengkan kepalanya. Terlihat tidak suka. Dia maju mendekat ke arah mereka dan untuk pertama kalinya aku melihat Richard Cllarigh menarik pedang yang tersarung dari pinggangya. Finn dan Ed mengikuti langkahnya dan Isabel mundur menjauh dengan tatapan ngeri.

Ada apa ini?

“Kalian mengenal Victoria?”

Victoria berhenti, dia menoleh ke arahku. Seperti ingin mengulang pertanyaanku dengan kalimat, ‘kau mengenal manusia-manusia ini?’. Sementara itu Richard memberi kode padaku agar menjauh dari Victoria. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini sekarang.

“Dia adalah penyihir yang membutuh ratu Edith, Sherinn.” Finn menjawab pertanyaanku dan aku tak bisa untuk tidak membuka mulutku karena terkejut, tidak percaya, sisanya benar-benar ingin memukul wajah cantik Victoria. Bukan karena dia membunuh ratu di kerajaan ini—aku tidak peduli pada masalah itu—tapi masih karena aku benci sekali pada sikapnya yang mengabaikanku dan malah terlihat ingin meladeni Richard dan yang lainnya. Victoria dan aku punya masalah yang lebih penting dan aku menuntut perhatian atas itu.

“Bukan.” kataku berkeras, “Dia adalah Victoria Lynch. Dan dia bukan penyihir, dia vampir.”

Aku mengabaikan wajah-wajah terkejut itu dan berpaling lagi ke arah Victoria yang sekarang sedang mengamatiku, “Nah,” katanya.

“Tidak.” sergahku lebih cepat, “Kau berhutang penjelasan kepadaku.”

Tapi baik Victoria, aku, Damis dan satu vampir yang masih tidak kukenali menoleh ke arah di belakang kami. Bau belasan manusia mendekat dan pintu utama yang mengarah ke arah luar menjeblak terbuka.

“Celia, dimana semua prajurit penjaga yang ada di dep—“

Tubuh tinggi semampai itu menegang dan seluruh perempuan pelayan menjerit sementara prajurit penjaganya langsung melompat ke depannya. Pedang, tombak dan apapun senjata mereka sekarang terarah kepada kami.

“Oh, kau, Arra. Kukira Pettied yang datang.” kata Victoria dengan santai dan nampak tidak terganggu dengan semua senjata yang cuma berjarak tak sampai dua meter darinya.

“Kau—Eve, kau..” dia kehilangan suaranya dan matanya nampak takut tapi juga dendam. Aku tidak tahu mana yang lebih mendominasi namun jelas dia tahu bahwa Victoria sama sekali tidak peduli pada tatapannya.

Ah jadi ini Putri Arra, aku mengamatinya. Dia cantik meski wajahnya sedikit pucat. Balutan gaun kerajaan di tubuhnya membuatnya semakin terlihat mempesona dan anggun pada saat bersamaan. Mau tak mau aku tidak bertanya lagi bagaimana bisa Ed dan Finn jatuh cinta padanya. Sebab Arra jelas-jelas merupakan jenis perempuan yang memang pantas diperebutkan banyak laki-laki.

“Menyingkir dari sang putri, penyihir busuk.”

Itu suara Ed, yang sekarang menyerang ke arah kami. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku tidak bisa mengatakan siapa yang membuat kericuhan ini makin tidak terkendali. Richard, Finn dan Ed jelas memfokuskan serangan mereka pada Victoria sementara prajurit-prajurit penjaga yang bernasib sial ini harus menghadapi tiga vampir—termasuk aku—yang jelas sama sekali bukan tandingan mereka. Pelayan-pelayan berteriak dan berlari berhamburan ke arah luar, dalam, kemanapun dan berusaha menghindari arena pertarungan. Aku tidak akan kaget jika ratusan prajurit akan datang ke sini setelah mendengar semua keributan ini. Lagipula, kami ada di sarang mereka.

Tangan Damis menarikku menjauh, dan dia berteriak kepada Victoria dengan jengkel. Prajurit-prajurit yang kami lawan sudah tergeletak tak berdaya, bertumpukan dengan para pelayan keluarga Cllarigh yang sebelumnya sudah terbaring di lantai.

“Kita pergi, Victoria. Bantuan mereka akan segera datang dan kita ada di kastil mereka, jika kau perlu kuingatkan tentang itu. Aku tidak mau bertarung dan mengambil resiko sesuatu melukai Rena.” ucap Damis yang membuatku tercengang. Aku tidak mengingat apapun tentangnya kecuali bahwa Lyra menginginkanku mengatakan kepada vampir laki-laki ini betapa dia mencintai laki-laki ini. Namun semua kata-kata Damis barusan justru menyiratkan betapa dia menganggap aku berharga dan itu membingungkanku. Dia juga memanggilku dengan Rena. Panggilan yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah lama mengenalku.

Victoria mengangkat bahunya, Richard, Ed dan Finn sudah pingsan dan dikalahkannya selama dia menonton kami melumpuhkan para prajurit pelindung Putri Arra. “Kita pergi.” dia setuju.

Mereka sudah akan berlari pergi ketika aku melihat tubuh Ed dan menghentikan langkah kami. Damis mengerutkan keningnya, “Ada apa, Rena?”

“Kita tidak bisa meninggalkan dia.” Aku menunjuk tubuh Ed. Putri Arra yang berdiri ketakutan dan merepet ke dinding batu melotot ke arah kami.

“Tidak!” jeritnya sangat keras untuk ukuran seorang perempuan yang sedang diliputi kengerian melihat cara kami bertarung, “Kau..kau tidak boleh membawa Ed.”

Damis mengabaikannya dan dia menoleh ke arah Victoria. Seperti meminta persetujuan. Victoria nampak menimbang.

“Terserah dia.” kata Victoria akhirnya.

“Apa kau ingin memakannya?” pertanyaan Damis membuat putri Arra berjengit dan menatap kami seperti kami adalah manusia kanibal mengerikan. Aku benar-benar ingin memukul kepada Damis karena itu namun jelas tidak bisa karena ekspresi di wajahnya membuatku mengurungkannya.

“Bawa saja dia.” jawabku akhirnya dan untungnya Damis tidak mengatakan apapun lagi padaku dan menoleh pada vampir yang satunya.

“James, bawa manusia ini.” perintahnya dan si vampir laki-laki—yang rupanya bernama James—mengangguk patuh. Dia mengendong tubuh lemas Ed di punggungnya. Teriakan putri Arra adalah hal terakhir yang kudengar ketika aku berlari dengan sangat cepat, mencoba menyelerasankan kecepatanku dengan Damis.

Mau Baca Lainnya?

12 Comments

  1. Belum baca, lsg comment,.. alhmdllh, akhrny d upload jg stlh bolak balik d blog ini sehari dua kali, bnr ya,, jgn lupa bsk upload lagi, aggp aj thr bwt reader2 kamu ini

  2. Tabok dulu ach si cntk vic. . .habiz ktmu tena kyk g da rasa bersalah huft. . .btw reven mana ea??pasty lg mesra2an ma bitch lucia.udah lach lucia pergi sono aa reven tu cm pny amelia,ups ralat mksd ane pny rena.huahuahua T_T mkn pnsran msalah apa yg mmbuat si vic klang kabut kyk bekicot di beri garem??next chapter na kak

  3. Victoria yaaa ampunnn kenapa dia misterius bgt sih. Gak sabar Rena ketemu revan. Gimana yaa reaksinya, chapter berikutnya itu Rena udh ketemu revan kan ya?

  4. Aq ketinggalan gara2 capet banget hunting baju lebaran jadi malas nyentuh gaget aq.Dan untuk kakak nya aq mendoakan semoga apa yang kakak cita-cita kan terpenuhi Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published.