Remember Us – Niat Awal

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Aku berkata dengan frustasi sambil menjambak bagian depan rambutku dengan kesal. Kenapa aku membiarkan kata-kata makhluk angin sialan itu mengacaukanku? Kenapa aku tidak bisa sedikit saja berusaha mengontrol diriku sendiri? Dengan meneriakinya begitu dan tergopoh pergi dari hadapannya sama saja mengisyaratkan bahwa semua yang dikatakannya adalah kebenaran.

“Aku mencurigai makhluk angin bernama Memnus itu,” suara Damis semakin kepalaku. Aku mendesah dan mengusap wajahku dengan lelah.

Tidak bisakah aku punya hidup yang biasa-biasa saja?

“Apa menurutmu Luca mengirimnya untuk memata-mataiku?”

Damis menggeleng, “Entahlah. Bisa jadi seperti itu tapi bisa jadi orang lain yang melakukannya. Kita belum tahu ada berapa banyak pihak yang ada di tempat ini. Kurasa kita perlu meneliti semua ini dengan lebih baik, Rena.”

Aku mendesah lagi. Tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Damis masuk akal.

“Kuharap kalian juga punya waktu dan pikiran sefokus dan seserius sekarang ketika aku sedang menyampaikan informasi penting seperti tadi pagi.”

Bersamaan, aku dan Damis menoleh ke asal suara dan Reven berjalan masuk ke ruang pribadiku dengan tangan terlipat di depan dadanya. Dia jelas sekali nampak kesal. Aku menggerang pelan.

Hidup yang biasa-biasa saja, bisakah kau jadi milikku sekarang?

“Maaf, Rev—“

“Bisakah kau tinggalkan aku dan Rena berdua saja, Damis? Aku punya hal yang penting yang ingin kubicarakan dengannya.”

Damis melirik ke arahku seolah meminta persetujuan dariku dan aku akhirnya hanya bisa mengangguk pelan. Aku tidak punya tenaga lebih lagi untuk berdebat dengan Reven. Jika dia memang ingin berbicara denganku berdua saja, maka akan kulakukan sebagai sikap sopan seorang vampir kepada pemimpin mereka.

Aku mengangkat wajahku, menatap langsung ke arah Reven begitu suara pintu ruangannya yang tertutup terdengar, “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyaku langsung.

Reven terlihat menghela nafas pelan sebelum dia menarik kursi lain yang tak jauh darinya sehingga dia bisa duduk menghadap ke arahku yang sedari tadi duduk di tepian tempat tidurku.

“Rena,” nada suaranya melembut dan entah kenapa aku merasa muak. Apakah aku harus mendengar omong kosong lain darinya lagi? Kenapa ketika ingatannya kembali, dia harus bersikap seperti ini padaku? Kupikir seharusnya dia seperti aku, jadi kami bisa saling membenci dan segalanya akan terasa baik dan normal.

“Berhentilah membuatku mencemaskanmu. Tierraz bukan tempat yang aman seperti dunia kita dulunya. Di sana kita hanya perlu mengkhawatirkan tentang para manusia dan manusia serigala. Tapi di sini..” dia menghela nafas berat, “Kumohon, setidaknya jauhkan dirimu dari segala hal yang bisa membahayakanmu.”

Keningku berkerut dalam dan aku bahkan seperti kehilangan kata-kata untuk bisa membalas ucapannya. Tapi bukan kehilangan kata-kata karena aku tersentuh atau terharu dengan ucapannya. Aku justru kehilangan kata-kata karena tidak habis pikir, bagaimana bisa dia mengeluarkan kalimat-kalimat memuakkan seperti itu.

“Apa kau akan menciumku setelah ini?” sahutku pelan dan jelas Reven nampak terkejut dengan tanggapanku.

“Apa kau akan menciumku setelah mengucapkan semua kalimat menjijikan itu?” ulangku lagi dengan nada tajam.

Reven menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Matanya tak meninggalkanku dan jelas sekali dia terlihat mencoba bersabar menghadapiku.

“Rena..” suaranya melemah, “Kumohon. Aku tahu kau membenciku, tapi tidak bisakah ka—“

“Tidak,” sahutku cepat, tanpa keraguan sedikitpun, “Jangan mengharapkan aku akan memenuhi apapun kecuali perintahmu yang memang berhubungan dengan kaum kita. Aku akan sangat menghormatimu sebagai pemimpinku jika kau tahu benar mana batasmu. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi jika kau memang mau membahas tentang masa lalu kita.”

Kedua bola mata sebiru laut itu memandangku lurus-lurus. Tak ada kata apapun terucapkan darinya meski aku tahu jenis tatapan apa yang diberikannya padaku. Dia terluka pada apa yang sudah kukatakan padanya, tapi aku tak peduli.

Aku mengangkat wajahku tinggi-tinggi, “Dan kuharap kau tahu dimana letak pintu keluarnya, Reven, sebab aku benar-benar tidak ingin membicarakan apapun lagi denganmu.”

Dia berdiri, mungkin terlalu marah untuk mengatakan apapun. Aku membiarkannya berjalan melewatiku begitu saja. Aku sedang mengusap wajahku dengan lelah ketika kudengar suaranya yang terpaksa membuatku menengadah, menatap ke arahnya.

“Besok lepas matahari terbit, kau harus datang ke aula utama. Luca punya tugas pertama untuk kelompok utama. Tidak ada menyelinap. Tidak ada keterlambatan. Kau dan Damis harus ada di sana atau aku akan memperlalukanmu sama seperti mereka yang membangkang.”

Dan suara pintu yang tertutup mengakhiri semuanya. Reven mengatakan semua itu dengan wajah datar dan suara tenang. Tapi aku tahu semua ekspresinya menunjukkan betapa dia menahan luapan emosinya karena sikap tak acuhku padanya.

Aku menarik nafas panjang. Aku benar-benar butuh cadangan nyawa untuk hidup panjang di dunia ini.

***

Dia tak tahu. Dia tak tahu seberapa besar aku merindukannya. Yang dia tahu hanya kebenciannya yang besar terhadapku. Kebencian yang membutakannya pada betapa aku mengharapkan dia setidaknya tersenyum sedikit ketika aku di sekitarnya. Tapi apa yang bisa kuharapkan? Senyum? Jangan bodoh.

Victoria benar, seluruh yang tersisa darinya untukku hanya kebencian. Aku tidak bisa melakukan apa pun lagi. Tidak ada.

Tapi, kenapa ketika dia mendapatkan kebencian, aku justru tenggelam dalam perasaan yang sama seperti yang dulu kumiliki kepadanya? Jika dia tidak lagi mencintaiku, kenapa aku masih diikat dengan perasaan ini? Tersiksa setiap kali sepasang mata cokelat itu menatapku tajam dan sarat amarah.

Tidakkah dia mau berbaik hati padaku? Tidakkah dia mau tahu kenapa kulakukan semua itu padanya? Tidakkah dia mau mempertimbangankan semua keadaan sulit yang dulu memaksaku memilih untuk membuatnya terlelap lama?

Aku hanya tidak ingin melihatnya mati. Aku hanya ingin menjadi laki-laki yang bisa melindungi wanitanya. Aku sudah kehilangan Noura. Dan aku tidak ingin hal yang sama terulang padanya. Aku tidak bisa.

Mungkin aku bisa kehilangan semua kewarasanku jika sampai aku melihatnya terluka dan mati di depanku. Mungkin aku akan kehilangan semua logikaku jika aku kembali gagal melindungi wanita yang sepenuh hati kupuja.

Tidakkah dia juga ingin tahu bagaimana dulu aku selalu bermimpi dan berharap agar aku bisa tetap hidup hanya agar aku bisa menjadi orang pertama membangunkannya dengan kecupan selamat datang kembali?

Tidakkah dia tahu bahwa aku juga tidak tahu jika setelah ritual itu aku juga akan kehilangan ingatanku? Tidakkah dia mau peduli?

“Bulan merah seperti itu, apanya yang bagus?”

Reven menoleh dan melihat Edna berjalan ke arahnya. Rambut hitam panjangnya terurai dan terayun pelan dipermainkan angin malam yang liar. Gaun merah yang dipakainya jatuh hingga ke tanah, berpotongan sederhana namun begitu apik dipakainya.

Edna hanya tersenyum datar ketika Reven mengangguk sebagai tanda hormat padanya. Mereka berdua berdiri di salah satu taman tak jauh dari kastil utama. Reven bahkan baru tahu ada taman ini ketika dia tak sengaja berjalan dengan perasaan tak menentu begitu dia keluar dari ruang pribadi Rena. Dan begitu menemukan tempat ini, dia berdiri di sini. Menikmati hening dan keramaian dalam kepalanya, entah sudah berapa lama hingga dia sendiri bahkan tak tahu bahwa yang matanya tatap sedari tadi adalah bulan setengah yang kemerahan

“Memiliki masalah dengan perempuan?”

Reven tak bereaksi. Dia bahkan tak tahu bagaimana harus menanggapi makhluk yang dulu pernah berharap untuk memusnahkan seluruh kaumnya. Edna–secantik apapun yang terlihat–bagi Reven tetap tidak ada gunanya. Karena dia tahu benar bahwa perempuan ini bahkan lebih berbahaya dari perempuan mana pun yang dikenalnya.

“Kutebak kau dan perempuan bernama Sherena itu punya masa lalu yang menarik?”

Tak lama, suara tawa Edna terdengar memenuhi seluruh taman kecil ini setelah melihat reaksi cepat Reven yang menoleh padanya dengan ekspresi khawatir.

“Tenanglah, aku tidak akan melakukan sesuatu padanya.”

“Kau membaca pikiranku?”

Edna menggeleng, “Aku membaca wajahmu. Lagipula, kekuatan ajaib apa yang bisa membuat orang lain bisa membaca pikiran orang lainnya. Bahkan para penyihir terhebat pun tak akan bisa melakukannya.”

“Beberapa dari kaumku bisa melakukannya ketika kami berada di dunia kami dulu.”

Kedua alis Edna terangkat, “Kau yakin?”

“Ya.”

“Menarik. Dan apakah dia masih bisa melakukannya ketika ada di sini, di Tierraz?”

“Aku tidak tahu. Satu-satunya yang terakhir kutahu memiliki berkat ini adalah Deverend Corbis dan dia sudah mati.”

“Sayang sekali,” Edna mengucapkan itu dengan wajah sangat biasa yang meyakinkan Reven bahwa Edna sama sekali tidak bersimpati selayaknya yang dikatakan mulutnya.

Reven mengamati wajah Edna yang tengah mengamati bulan di atas mereka, dengan hati-hati, mencoba menebak apa yang kira-kita ada di dalam pikiran putri api ini.

“Kutebak kau telah tahu bahwa Alzarox akan memulai perang ini lebih cepat, bukan?”

“Ya,” jawab Edna pelan dan mengambang.

Edna memang tidak ada dalam pertemuan besar yang dilakukan semua petinggi utama tadi pagi. Dia tidak yakin kenapa perempuan di sampingnya ini memilih mangkir ketika semua orang yang diyakininya punya peran dan kekuatan besar dalam kelompok mereka hadir dengan semua pemikiran yang ingin mereka sampaikan pada Alzarox dan Luca.

“Aku tidak pernah suka perang,” mendadak Edna mengucapkan kalimat yang membuat Reven semakin bertanya-tanya kemana arah pembicaraan mereka ini akan bermuara, “Ketika ada banyak darah di tanganku, semakin besar pula api dalam diriku yang terbakar. Aku akan menjadi alat pembunuh yang menakjubkan. Mungkin Alzarox akan menyukai hal ini, tapi aku tidak, sebab ketika semua api biru dalam tubuhku terbakar, aku tidak akan bisa lagi mengontrol siapa saja yang harus kubunuh. Aku tidak akan tahu mana musuhku dan mana kawanku.”

Reven menoleh dengan cepat, mencari celah ekspresi Edna yang menunjukkan bahwa perempuan ini mungkin saja baru saja mengeluarkan kelakar yang sama sekali tidak lucu. Namun tak ada, semua garis wajah itu menunjukkan betapa seriusnya Edna sekarang.

“Ini masalah serius, bukan?” Edna menoleh dan menemukan Reven yang memandanginya dengan bingung.

“Bagaimana jika kau membunuh kawananmu sendiri? Dengan kekuatanmu, kau bisa saja menghancurkan kami.”

Edna tertawa, kali ini semakin membuat Reven harus mengerutkan keningnya semakin dalam.

“Itulah yang kucemaskan. Jika aku tidak bisa mengontrol kesadaranku sendiri ketika kekuatanku mencapai batas tertingginya, apa gunanya kekuatan itu?”

“Alzarox membiarkanmu berada di tengah-tengah perang dengan kegilaanmu itu?”

Satu alis Edna terangkat, “Tentu saja tidak. Dia tidak tahu tentang hal ini.”

“Dan kau memberitahuku?”

Sebuah senyuman tipis yang sama sekali tidak bisa di baca maknanya oleh Reven menyelinap di wajah Edna. Dia mengangkat wajahnya dan memandang lurus ke bulan separuh di langit gelap.

“Apa yang kau rencanakan, putri api?”

Edna menoleh pelan, “Apa yang kau pikir sedang kurencanakan?” dia tertawa pelan, “Kau mau tahu kenapa aku tidak memberitahu Alzarox atau makhluk lainnya tentang masalahku ini?” tangannya menyentuh bahu Reven pelan dan mengusapnya seolah ada bekas kotor di atas jubahnya.

“Karena aku punya Luca. Selama aku berperang di sampingnya, aku tidak akan pernah kehilangan kontrol atas kekuatanku.”

Lalu begitu saja, dan Edna berbalik dengan gemulai meninggalkan Reven yang menatap punggung terbuka si putri api yang berjalan menjauh. Dia tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti tentang apa tujuan sebenarnya Edna memberitahunya hal itu. Dia masih mengamati Edna yang sosoknya mulai menghilang di kegelapan malam, tanpa dia sendiri pernah menyadari bahwa ada sepasang iris mata segelap langit yang tengah mengamatinya. Bahkan pemiliknya sudah menatap ke arah Reven sejak dia dan Edna mulai bercakap. Tapi sayangnya Reven tak pernah tahu tentang hal itu.

***

“Apa yang sedang kau rencanakan?”

Edna baru saja memasuki ruang pribadi milik Luca ketika suara tajam itu langsung menyambutnya. Dan pemiliknya, Luca, berdiri di ujung ruangan, menatap lurus ke arah Edna yang terdiam di tempatnya.

“Apa maksudmu, Luca?” tanyanya dengan suara lembut, lalu perlahan berjalan mendekat ke arah Luca. Jendela tinggi di belakang tubuh Luca memberikan pemandangan gelapnya bayangan hutan Merrz dan langit malam yang kelam tanpa bintang, dengan hanya bulan separuh yang mengantung kesepian.

“Kau tahu jelas apa yang sedang kubicarakan. Apa yang tadi kau bicarakan dengan pemimpin vampir itu di bawah sana?”

 “Kau melihat kami?”

“Jawab pertanyaanku, Edna.” Suara Luca meninggi dan itu justru mengundang geli bagi Edna.

“Kau tidak suka aku mendatangi laki-laki lain?”

Kedua alis Luca saling bertaut, “Itu bukan pertanyaan.” Geramnya.

Edna tersenyum puas. Dia tahu. Dia akan menerima reaksi ini dari Luca, seperti yang sudah diprediksinya. Jika ada satu-satunya hal yang bisa membuat seorang Luca kehilangan kendali, maka itu adalah dirinya. Alzarox sekali pun tak akan pernah bisa membuat Luca menampilkan ekspresi yang tadi ditunjukkannya padanya.

“Aku hanya berbasi-basi dengannya, pangeranku,” jawab Edna pelan dan dia menghentikan langkahnya tepat di depan Luca, “Kau tahu benar bahwa aku tak akan pernah melakukan sesuatu lain yang bisa membuatmu kesal, bukan?”

“Aku tidak suka dengan caramu berbicara dengannya.”

Edna tertawa pelan, “Kau melihat kami dari sini, pangeranku. Bagaimana kau bisa tahu bagaimana caraku berbicara dengan vampir itu?”

“Aku tahu.” Tegas Luca dan Edna hanya mengangguk pelan berulang.

“Aku mengerti,” ucapnya seraya menempelkan separuh wajahnya pada dada Luca, “Aku tidak akan melakukannya lagi jika itu membuatmu sekesal ini. Rasanya sudah berabad-abad lamanya sejak aku melihatmu semarah ini. Masa dengan Rhegaer, kalau aku tidak salah.”

Luca mendorong Edna menjauh, “Kau menggoda penyihir itu.”

“Kau bilang kau sudah memaafkanku dulu?”

Luca berbalik, memunggungi Edna dan iris gelap matanya menatap menerobos jendela di depannya. Menampilkan ekspresi kosong yang hanya dia sendiri mengerti maknanya. Dia bahkan tak bereaksi apa-apa ketika Edna mengalungkan tangannya pada pinggangnya. Menempelkan tubuhnya pada punggungnya yang menghangat menerima dekapan wanitanya.

“Apa yang bisa kulakukan agar kau bisa melupakan kejadian itu, pujaan hatiku? Kau tahu ketertarikanku pada Rhegaer dulu hanyalah sesuatu yang semu. Kubuktikan itu dengan membunuh penyihir itu dengan tanganku sendiri meskipun aku harus merelakan ada bekas luka sihir melintang di dada hingga perutku. Tidakkah itu semua cukup?”

Luca memutar tubuhnya cepat dan sepasang mata berwarna serupa nyala api itu memandangnya sendu. Dan detik itu pula dia merasakan desiran di seluruh tubuhnya. Edna menatapnya dengan ketulusan yang dengan nyata bisa tersampaikan padanya.

Tangan Edna dengan pelan menarik tali gaun yang ada di belakang lehernya. Membuat simpul itu terlepas bersamaan dengan merosotnya seluruh gaun yang dikenakannya ke lantai. Membentuk tumpukan di antara kakinya yang tak beralas dan meninggakan tubuh Edna tanpa berbalut sehelai benang pun.

“Tidakkah ini cukup?” Edna masih menatap lurus ke arah Luca yang tengah memandangi tubuh polosnya.

Jemari Edna yang lentik dengan kuku-kukunya yang panjang terbentuk sempurna menyentuh dada kirinya pelan, merambat turun sampai ke kanan pusarnya. Membelai bekas luka berwarna merah gelap yang menodai kulit seputih salju miliknya. Bekas luka yang mencelai kesempurnaan tubuhnya.

“Tidakkah luka ini cukup, kekasihku?” suaranya pelan dan sakral.

Maka Luca telak langsung kehilangan seluruh kontrolnya. Tubuh Edna membiusnya. Suara Edna mematikan otaknya. Edna adalah kegilaannya dan segalanya selesai begitu dia mendapatkan semua ini di depannya. Dia bergerak cepat, meraup tubuh Edna ke dalam rengkuhannya dan dengan rakus mencium bibir penuh Edna. Luca menyukai setiap sentuhan jemarinya menyisir rambut Edna hanya untuk mendapati lenguhan wanitanya itu.

Dan bagi Edna sendiri, Luca adalah keseluruhan hidupnya. Apa pun yang direncanakannya adalah karena dia tidak pernah ingin membuat lelakinya ini menderita. Seluruh dirinya adalah milik Luca. Dan dia membenci setengah mati jika ada sesuatu tentang Luca yang tidak diketahuinya. Dia akan melakukan segalanya agar dia tahu semua tentang kekasihnya itu. Tentang laki-lakinya itu. Semuanya. Apa pun itu. Tanpa terkecuali.

Suara desahan mereka berbaur bersama desiran angin malam yang berhembus kencang menerpa jendela ruangan pribadi Luca. Menjadi saksi dari setiap peraduan mereka. Dan Luca tidak peduli semuanya. Dia tenggelam semakin dalam, dan segalanya menggelap, kecuali tubuh Edna. Aroma lain menghilang selain aroma tubuh yang tengah rapat-rapat didekapnya ini. Seluruh dunia meninggalkan mereka dan Luca tidak peduli. Seorang Edna, dan sebenarnya dia selalu merasa cukup untuk itu. Mereka menyatu dan keseluruhan Tierraz selalu menggemakan puja bagi setiap kesetiaan dan kebahagiaan pasangan di tanah itu. Seluruhnya.

***

Aku menggetuk-ketukkan jariku ke atas pahaku dengan tidak sabar. Mengamati semua sosok asing yang duduk pada tiap-tiap kursi yang melingkari meja luar biasa panjang dan besar ini. Sejujurnya aku tidak tahu jika pertemuan yang dimaksudkan Reven di aula utama adalah pertemuan sebesar ini. Dia bilang jika ini hanya tentang Luca yang akan memberikan tugas pada kelompok utama. Yang kupikirkan tentang kelompok utama hanyalah kelompok utama bangsa vampir dan bukannya kelompok utama dari makhluk kegelapan.

Tanganku masih bergerak, membantuku menghilangkan pikiran bodohku pada banyak hal. Masalahnya, aku tidak tahu apa-apa. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dan sialnya, ketika aku melirik Damis—yang berarti membuatku terpaksa melirik Lucia juga yang duduk di dekat Damis—dia dan juga Lucia yang nampak bisa menangkap apa yang sedang dibicarakan kelompok ini.

Mata Damis begitu fokus pada seorang makhluk kegelapan—aku tak tahu namanya dan aku jelas tak akan bisa fokus jika dihadapkan pada makhluk ini karena satu tanduk yang menyembul di tengah-tengah dahinya adalah bentuk paling normal dari seluruh bentuk aneh di tubuhnya—yang tengah membicarakan strategi perang pada semua orang di aula ini. Di dekat si makhluk, ditegakkan kulit domba yang dijenjang dan diatasnya tertoreh gambar-gambar yang kuduga adalah peta Tierraz. Aku mencoba untuk mengikuti penjelasan si makhluk namun aku tak bisa membuat diriku terfokus.

Mataku bergerak pelan, meneliti dari semua sosok yang ada di sini. Sebagian besar tak kukenali. Rupa mereka bermacam-macam dengan tinggi dan besar tubuh yang juga bervariasi. Mungkin, jika dulu di duniaku, aku akan dengan mudah menikmati rupa-rupa menawan baik dari para vampir, manusia maupun manusia serigala, maka di sini aku belajar menerima bahwa setiap hal pasti punya dua sisi.

Aku menarik nafas panjang dan menyadari bahwa sepasang mata Reven menatapku. Namun ketika aku balas menatapnya, dia mengalihkan pandangannya kepada si makhluk yang masih bebicara tentang strategi perang. Keningku berkerut tajam dan bertanya-tanya apakah dia menyerah untuk bermanis-manis denganku setelah pembicaraan kami semalam. Seandainya jawabannya ya, maka aku akan bersyukur sekali.

Kembali, aku berpura-pura mengikuti pertemuan ini dengan seksama sementara sebenarnya pikiranku berkeliaran kemana-mana. Aku menatap ke arah ujung dimana sang pemimpin, Alzaroz duduk dengan khidmatnya. Dia mengenakan pakaian serba hitam dengan jubah berwarna sama. Mahkota batu hitam miliknya masih tersemat rapi di atas kepalanya dan aku juga masih berpendapat bahwa aku tidak akan bermain-main jika berhadapan dengan Alzarox. Makhluk satu itu tidak punya pancaran belas kasihan sedikit pun. Sama halnya dengan sosok tenang yang duduk di samping kanan sang pemimpin.

Luca.

Glek.

Kali ini aku diam-diam mengalihkan fokusku sepenuhnya pada pangeran kami ini. Dari semua cerita Victoria, juga dari semua aura kegelapan yang memancar dari dirinya, jelas aku tahu jika dialah yang sebenarnya pantas mendapatkan gelar yang paling tak berbelas kasih. Tapi..

Glek.

Mataku menelusuri sosok Luca dari tempatku duduk dan jujur saja, dia sangat tampan. Kuakui kalau dulu, bagiku Reven adalah yang paling tampan. Lalu menyusul Dev, Damis, Morgan dan Ar. Tapi begitu bertemu dengan Luca, kurasa mereka semua harus menyerah. Luca adalah yang paling tampan. Dia sempurna dari semua sudut pandang.

Aku mendesah pelan. Kurasa pertemuan ini benar-benar membuatku mati kutu karena bagaimana mungkin aku malah memikirkan betapa gantengnya pangeran kegelapan nan bengis itu ketika semua orang sedang mendiskusikan tentang perang. Aku memang tidak cocok dengan semua urusan ini.

Menarik nafas lagi, aku mencoba kembali pada apa yang tengah dibicarakan si makhluk ahli strategi ini. Namun sekali lagi, kurasa aku gagal. Karena begitu aku kembali memandang ke arahnya, sebuah kesadaran lain membuyarkan fokusku pada suaranya. Aku baru menyadari bahwa tak ada Edna di sini. Bukankan si putri api itu adalah orang penting di Tierraz? Kenapa dia bisa melewatkan pertemuan sepenting ini?

Ataukah, mungkin seperti halnya Victoria, dia sudah terlebih dahulu menjalankan tugas rahasia untuk kemenangan kami? Aku menebak-nebak liar. Dan kembalilah pikiranku menghilang dari semua pembicaraan yang ada di ruangan ini.

Sementara itu, di sebuah ruangan pribadi jauh ke ruangan atas kastil ini, satu tubuh bergerak pelan. Merenggangkan tubuhnya dengan nyaman sampai tangannya menyentuh tempat kosong di sampingnya. Dia berbalik, dan tubuh yang semalamnya memeluknya penuh cinta sudah tidak ada di situ. Meninggalkan tempat kosong berantakan sisa peraduan mereka.

Edna mengerjap pelan, memandang ke arah sinar matahari yang berusaha menerobos masuk lewat jendela tinggi di seberang ruangan. Sebuah helaan nafas dan dia menyibak kain lembut tebal yang menyelimuti tubuh telanjangnya. Dia bangkit dan berjalan pelan ke arah jendela, membungkuk mengambil gaunnya dan memakainya dalam diam.

Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya meskipun kepalanya dipenuhi banyak makian. Dia tidak suka bangun sendirian. Luca harusnya tahu hal itu. Membuatnya merasa ditinggalkan dan tidak diinginkan.

Bukankah tadi malam dia sudah memerankan semuanya dengan baik? Lalu kenapa Luca tidak bisa mengalahkan sedikit saja segala kepentingan gila tentang perang ini untuk menyenangkannya? Luca juga tak mengatakan apa pun tentang rahasianya dengan Victoria Lynch atau Vlad padanya? Sepertinya semua tak berjalan sesuai yang diharapkannya. Seolah dia benar-benar harus menjalankan rencana itu. Maka kali ini dia butuh Trisha untuk mulai mengambil perannya di sini.

Pelan, dia merapikan rambutnya yang tergerai berantakan dengan jari-jari tangannya sebelum kakinya melangkah keluar dari ruangan ini. Tapi sebelum dia bertemu dengan Trisha, Edna jelas butuh satu bak kayu besar air panas beraroma bunga-bunga liar untuk menghilangkan semua penatnya, jika tidak, dia khawatir jika dia bisa menghanguskan siapa saja sosok pertama yang berpapasan dengannya nanti. Edna tak pernah punya kemampuan baik dalam mengontrol emosinya.

***

Source : www.instagram.com/mahafsoun

Hai, kenalin, yang di sebelah itu neng Edna lagi ya. Duh, senang euy sama visualisasinya.

See ya soon in next chap!

Love,

Mau Baca Lainnya?

17 Comments

  1. Kasian reven.. Ini kaya kutukan gitu kali yaa buat reven yg udh melelapkan si sherena. Si sherenanya benci tp si reven masih cinta.
    Kalo punya kekuatan sebesar itu si edna, knp dia bisa mati yak

  2. pas baca bagian pov nya revan..sedih sekali kenapa rena tetap keras kepala dan ga mau tau alasan revan yang sebenarnya sih…
    tambah penasaran dengan kelanjutan ceritanya..dan ga bisa nebak bagaimana akhirnya..terimakasih Mba..ceritanya keren, berasa baca novel terjemahan..

  3. Jadi sebenernya Reven juga gak tau kalau dia bakalan hilang ingatan ? Oh ya ampun sekarang kok jadi si Rena yang terkasan jahat ya gara" gak mau dengerin penjelasan Reven padalah Reven udah coba buat perbaikin hubungan mereka.

    Atau jangan" Rena udah mulai suka lagi sama luca ya ? #gakmauuuuuu…..

    Pokonya Rena harus sama Reven titik !!!!!

  4. Kok ak jadi berharap si sherena bisa move on sama luca ya. Hmmm. Ya klaik akhirnya rena bisa bahagia.

    Btw moga lancar skripsinya kak. Sktipsi mah intinya niat aja. Pasti cpet kelar. Kl udah nyerah mah, yaudah bakalan molor. Good luck ya.

  5. Makin lama makin kasihan sama Reven.Nyesek dan sedih banget lihat ungkapan perasaan Reven ke Sherena.Tetep berharap Reven akan berjuang terus untuk meluluhkan hati Sherena.Dan berharap Rena gak berpaling ke Luca.Terus sama Reven pokoknya hehehehe
    (Puput_Kiki)

  6. haaiii kak ria slam knl ya… aku bru kali ini coment tp aku selalu nyimak n nunggu updatean nya loo..
    ayo donk update pleaseee…

    #pasang muka melas

  7. Nah, ayo mba Rena lanjutin aksinya. Biar si Reven tau rasa dikitlah kalo perlu sikat sekalian bang Luca nya heheee..
    Kak penulisnya kemana nih lapaknya ditinggal lama sampe debuan. Ayok kak semangat skripsiannya! Udah kangen RU dan anak anakmu yang lain ini 🙁 bahkan sampe lupa alurnya, jadi nghlang baca dari awal 🙁
    Wuvya author!!

  8. dalam bayanganku kalo lagi baca RU itu Reven itu kaya V BTS, Damis kaya jungkook BTS, tapi kalo Rena itu nggak tahu kayak gimana, dalam benak aku rena itu kaya seseorang yang manis, cantik, dan menarik. kenapa aku bayangin Reven sama Damis begitu? karena aku kebanyakan baca ff BTS. semoga Rena nggak kembali lagi ke Reven. amiiinn. aku lebih suka Rena sama damis. tapi aku juga kepengin nanti Luca suka sama Rena. cepet dilanjut ya kak soalnya sudah penasaran tingkat akut nih.
    salken olivia

  9. Ceritaa yg slalu gw tunggu. Cerita nya makin T. O. P dah, suka sukaa. Speachless deh.
    Hmmm kenapa gw berharap Luca suka ma Sherena. Pengen banget Sherena move on ke Luca 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published.