Remember Us – Penawaran Nerethir

Butuh beberapa saat yang lama bagiku untuk mencerna semua yang dikatakan oleh Victoria. Kami semua sudah berada di ruang pertemuan di dalam kastil dan mendengarkan cerita Victoria tentang siapa sebenarnya Edna dan apa hubungannya dengan kami, bangsa vampir.

Aku melihat Reven membulatkan matanya sementara Damis kehabisan kata-kata dan menampilkan wajah pias. Aku sendiri menatap Victoria dengan mulut terbuka, tak bersuara. Jelas tak satupun dari kami bisa mengerti.

“Setelah Luca membunuh Midelle dan Valerie. Anak buah Luca lainnya menyeret kami menuju lapangan besar dan di sana semua kaum kami, vampir asli Tierraz, diikat dan dikumpulkan dala satu kelompok besar. Di depan mereka, anak laki-lakiku, Rilley, diikat dengan cara yang sama dengan dua makhluk angin menjaga di kiri kanannya.”

Victoria terdiam sejenak, aku bisa melihat satu butir bening airmata mengalir dari sudut mata kirinya, “Luca tak pernah menarik apa yang dikatakannya. Dan dia memaksa aku dan Vlad melihat pembantaian besar-besaran. Darah kaumku, seluruh dari mereka dihabisi di depan mata kami. Semua pedang makhluk kegelapan hari itu berlumur darah para vampir. Dan sebagai penutupnya, Luca sendiri yang membunuh Rilley. Menghancurkan kepala putera kebanggaanku di depanku. Aku hanya bisa melihat ketakutan di mata Rilley sebelum pedang Luca menghujam puncak kepalanya. Aku.. tidak bisa melakukan apapun. Ketika anak-anakku dan kaumku dibantai di depan mataku. Aku tidak bisa melakukan apapun.”

Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Aku berjalan ke arah Victoria yang terduduk dengan bahu bergetar, dan memeluknya. Aku tidak bisa membiarkan Victoria menanggung luka masa lalunya sendirian. Aku menepuk punggungnya dan mengusapnya, berharap ada sedikit rasa tenang tersalurkan padanya.

“Lalu bagaimana bisa kau dan Vlad terlepas dari hukuman mati dan malah berada di dunia ini?”

Dengan enggan, aku melepaskan pelukannku pada Victoria dan berbalik menatap Reven dengan pandangan protes. Bagaimana bisa dia malah melontarkan pertanyaan semacam itu dan tidak memberikan waktu bagi Victoria untuk menenangkan dirinya dulu? Makhluk satu ini mungkin cocok disandingkan dengan sosok Luca yang diceritakan oleh Victoria. Mereka terlihat sama-sama tidak punya perasaan.

 “Alzarox menghalangi Luca yang sudah siap membunuh kami. Mereka berdebat dan akhirnya Luca mengalah. Membiarkan ayahnya itu kembali memegang kendali. Alzarox adalah sosok yang suka bermain-main dengan berbagai maca pilihan. Alih-alih membunuh kami, dia berpikir akan lebih menyenangkan jika kami dibuang ke dunia ini. Dia ingin tahu apakah kami bisa bertahan atau tidak. Dunia ini masih sangat liar ketika itu. Dan seperti yang dikatakan Edna, perputaran waktu antara Tierraz dan dunia ini tak pernah bisa terprediksi dan akurat.”

Reven menekuk kedua tangannya. Ekspresinya sulit ditebak dan fakta jika dia sepenuhnya mengabaikan tatapan kesalku, membuatku benar-benar ingin mencekik lehernya sekarang juga.

“Dan sekarang masa hukumanmu di dunia ini sudah selesai?”

Victoria beralih memandang Damis, menghela nafas panjang dan dia menggangguk, “Kehadiran Edna di sini adalah petandanya.”

“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku tidak bisa menahan diri.

“Mungkin mereka akan membantai kita semua seperti yang mereka lakukan dulu.”

Ada hening yang mencekam setelah Victoria mengucapkan hal itu. Reven mendengus tak lama kemudian. Dengan pongah dia berkata tegas, “Kita akan menghadapi mereka. Kita kumpulkan semua vampir dan bersiap melawan mereka.”

Victoria tertawa sarkastis, dia menggeleng, “Kau tak tahu siapa yang akan kau lawan, Rev. Luca, seorang dia saja akan sanggup membunuh semua dari kita tanpa meneteskan satu keringatpun. Jika ditambah Edna. Habis sudah kita semua. Mereka bahkan tak membutuhkan bantuan dari pasukan kegelapan.”

“Bagaimana kau tahu jika kita tak mencobanya?” Reven berkata keras dan nampak tersinggung dengan ucapan Victoria. Makhluk satu ini memang punya ego mengerikan.

“Percayalah, Reven. Aku mengenal mereka. Kau pikir kenapa tak satupun dari bangsa kita tak pernah melakukan pengkhianatan. Itu karena rasa takut Vlad dan rasa takutku atas akibat yang kami terima atas pengkhianatan yang dulu kami lakukan, mengalir dalam darah kami. Rasa takut kami atas kekejaman Luca.”

Reven sudah akan membuka mulut lagi ketika Damis berdiri dan menyentuh bahunya, memintanya diam.

“Lalu menurutmu, apa yang akan kita lakukan?” tanyanya sabar. Jauh sekali berbeda dengan cara Reven bicara.

“Tidak ada. Kita hanya bisa menunggu apa yang memang diinginkan mereka. Tiga hari, bukan?”

Damis mengerutkan keningnya, “Tapi wanita itu mengatakan kau akan menentukan siapa yang tersisa dan siapa yang harus  dia bantai habis. Artinya kau—“

“Tidak,” sela Victoria, “Jangan dengarkan apa yang dikatakan Edna. Bukan dia yang menentukan. Hanya Alzarox dan Luca yang berhak mengambil keputusan.”

Dan selesai begitu saja. Damis membuang nafas bingung. Reven terlihat menahan amarahnya. Dia hanya mengangguk dan segera pergi untuk melakukan panggilan utama. Dimana dia akan meminta seluruh bangsa vampir yang ada di dunia ini untuk berkumpul di kastil. Tiga hari, hanya tiga hari dan kami harus mengumpulkan semua dari bangsa kami. Victoria benar-benar berkeras agar Reven melakukan panggilan utama dengan benar dan penuh tekad agar semua datang. Dia jelas terlihat takut jika Edna melakukan sesuatu karena tak semua bangsa vampir ada ketika Edna datang nanti.

Damis berjalan keluar dari ruangan ini untuk menyusul Reven, meninggalkan aku berdua saja dengan Victoria. Aku mengamati Victoria yang masih terlihat khawatir. Wajah putih pucatnya terlihat semakin pucat. Seolah aku memang sedang benar-benar menatap mayat.

Aku menyeret kursi di dekatku, duduk mendekat pada Victoria.

“Jadi..” suaraku mengambang, ragu ingin meneruskan ucapanku. Tapi begitu Victoria mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku menguatkan diriku untuk bicara, “..sebenarnya kita berasal dari Tierraz?”

Dia menghembuskan nafas panjang, mengangguk, “Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan padaku, Sherena? Jangan terlihat berbelas kasihan seperti itu padaku.”

Aku hampir saja melemparkan tawa ejekanku pada Victoria. Siapa memang yang tidak akan berbelas kasihan padanya jika mereka melihat ekspresi Victoria ketika dia menceritakan semua masa lalunya?

“Aku penasaran dengan dunia bernama Tierraz itu.” kataku terus terang, tak akan lagi ragu tau apa. Sepertinya tindakan Reven untuk bertanda tanpa memperhatikan perasaan Victoria memang benar. Lagipula mungkin saja Victoria memang tidak butuh rasa kasihan dari orang lain. Dia masih tetap seorang Victoria Lynch, apapun juga keadaannya.

“Tierraz..” pandang mata Victoria terlihat menerawang ketika dia mengucapkan nama itu, “Tierraz adalah rumah sejatiku. Seluruh Tierraz menghembuskan aura sihir. Aura magis yang akan memperkuat penghuninya. Matahari, bulan, bintang, pohon, air.. semua yang ada di Tierraz punya saripati magis yang tidak akan pernah bisa kau tinggalkan.”

“Di Tierraz, vampir hanya hidup dari darah hewan-hewan sihir. Sedikit saja dan beberapa minggu tanpa kebutuhan makan akan kau dapat. Tidak ada perak yang akan sanggup menyakitimu. Tidak ada matahari yang akan membakarmu sampai mati. Jantung dan semua organ kita berfungsi selayaknya makhluk hidup. Tierraz adalah sebenar-benarnya dunia bagi kita, Sherena.”

Mataku tak sanggup meninggalkan Victoria barang sedetik saja. Cara Victoria berbicara, cara Victoria mengungkap itu semua membuatku membayangkan seperti apa rasanya hidup di Tierraz. Berlari diantara rerumputan di siang hari. Membiarkan matahari memandikan kita dengan cahayanya. Dan kembali berlatih dengan pedang perak tanpa merasa takut. Aku paham perasaan Victoria.

“Lalu siapakah pemimpin yang ada di Tierraz? Apakah dia Alzarox yang kau ceritakan itu?”

Victoria menggeleng, “Tidak ada yang benar-benar menjadi satu-satunya pemimpin atas seluruh Tierraz. Sedikit rumit sebenarnya.”

“Ceritakan padaku,” desakku, seluruh gambaran menyenangkan Tierraz dan kemungkinan lain membuatku habis oleh rasa penasaran yang luar biasa.

“Pada masa awal Tierraz hanya memiliki satu kelompok tua yang disebut sebagai para putra sulung, mereka yang pertama berada di Tierraz sejak awal kehidupan berhembus di Tierraz. Alzarox, Luca, Edna, Nerethir, Landis, Lagash dan beberapa lagi yang aku lupa namanya. Perpecahan terjadi ketika Alzarox mulai bersikap arogan dan menginginkan dirinya menguasai seluruh Tierraz.”

“Sejak itu para putra sulung berdiri di dua sudut yang saling berlawanan satu sama lain. Makhluk kegelapan dan makhluk cahaya, itu adalah kategori besarnya. Alzarox membawahi semua makhluk kegelapan dan juga kaum milik Nerethir, jenis makhluk cahaya yang memilih berada di pihak Alzarox.”

“Apakah para vampir juga bagian dari para putra sulung?”

“Tidak. Vampir merupakan bangsa bungsu, sama seperti para penyihir Tierraz.”

Aku melemparkan punggungku menempel pada punggung kursiku. Mengerutkan kening dengan kedu tangan tertekuk di depan dada, “Kenapa rumit sekali semua yang kudengar darimu? Kurasa aku hanya suka bagian dimana kau ceritakan efek tinggal di Tierraz bagi para vampir.”

Victoria tertawa, “Yang terjadi sesungguhnya jauh lebih rumit dari apa yang kau dengar, Sherena.”

“Lalu pengkhianatan apa yang kau dan Vlad lakukan sebenarnya?”

“Lebih tepat jika Vlad yang melakukannya. Aku bersalah karena aku tahu tapi mendiamkannya. Harusnya aku sudah menduga apa yang akan menimpa kami karena bermain-main di belakang Alzarox dan Luca.”

“Jadi?”

“Vlad membantu para penyihir untuk mencuri sesuatu dari Alzarox. Sesuatu yang rupanya bisa membuat para penyihir memiliki kekuatan luar biasa sehingga mereka bahkan sanggup bersaing dengan Alzarox dan kawanannya.”

***

Kami berdiri jauh di depan kastil dan ratusan vampir lain di belakang kami. Ini adalah hari yang dijanjikan oleh Edna. Dan kami semua sudah menunggu dengan gelisah. Victoria sudah bicara di depan semua vampir, dan jelas keterkejutan atas apa yang mereka semua dengar, tak dapat dihindarkan. Butuh sehari penuh bagi aku, Victoria, Damis, Reven, James dan Lucia untuk meyakinkan mereka semua.

Ada beberapa kelompok yang langsung melarikan diri karen takut dan Reven sangat murka karena hal itu. Tidak menyangka akan ada bagian dari kaumnya yang sedemikian pengecut. Dia maju, mengatakan pujiannya pada mereka yang bertahan dan gema pujian dan semangat memenuhi seluruh tempat ini.

Aku tidak dapat menghindar untuk juga memuji Reven. Dia punya aura pemimpin dan jelas sangat menginspirasi jika dia memang mau. Aku bahkan sejenak bisa melupakan kenyataan bahwa aku membencinya setengah mati ketika mendengarnya bicara di depan semua vampir.

Dan kemudian inilah hasilnya, kami menunggu kehadiran Edna yang akan menentukan apa yang sebenarnya diinginkan Alzarox pada para vampir. Sebagian dari kami terlihat bersiap untuk mati. Aku tidak bisa menyalahkan mereka atas ekspresi ini. Cerita Victoria tentang pembantaian kau vampir di Tierraz yang dilakukan oleh Luca jelas menjadi sebab utamanya.

Lalu ketika gelombang aura asing nampak mendekat ke arah kami dan keluar dari hutan, aku menahan nafasku. Tapi sosok pertama yang terlihat berjalan ke arah kami jelas bukan siluet milik Edna. Itu adalah sosok laki-laki.

Dia berjalan semakin dekat dan angin berhembus tidak normal di sekitar kami. Aku mulai bisa melihat sosok itu dengan lebih baik. Seorang laki-laki dengan rambut hitam panjang yang diikat acak-acakkan. Jubah merah yang dipakainya terlihat sempurna di tubuhnya yang gagah. Mata itu tajam dengan iris hitam gelap. Bibirnya yang tipis tersenyum menatap ke arah kami.

Sosok itu berhenti dan sepasukan kecil di belakangnya langsung berhenti. Aku melihat pasukan di belakangnya dengan kening berkerut. Sosok-sosok di belakang si laki-laki terlihat tak seragam dalam wujud dan bentuk mereka. Aku tak pernah melihat makhluk dengan wujud tidak beraturan seperti itu. Ada beberapa yang terlihat memiliki tanduk satu atau dua. Beberapa lain memiliki kepala binatang dengan tubuh manusia yang berotot besar dan kuat. Tapi semua dari mereka mengunakan jubah dengan warna merah yang lebih pudar dari milik laki-laki yang di depan.

Aku bisa mendengar seruan ketakutan dan bisik-bisik mengerut dari para vampir di belakangku. Sejujurnya, akupun bisa merasakan ujung-ujung jariku gemetar. Meskipun jumlah pasukan di depan kami hanya sepersepuluh dari kami, tapi wujud mereka membuat kami tahu, apa yang dikatakan Victoria tentang makhluk-makhluk yang hidup di Tierraz, jelas benar adanya.

“Kau..” aku bisa mendengar suara tercekat Victoria.

Si laki-laki yang memimpin pasukan itu masih tersenyum, dia mengamati kami semua dan senyumnya tak meninggalkan wajahnya, “Aku Nerethir, putra angin pertama dan saudara dari Edna, datang kemari menggantikan adikku yang sayangnya tidak bisa datang langsung ke tempat ini.”

Aku ingat Victoria menyebut tentang Nerethir sebelumnya. Jadi laki-laki ini adalah salah satu dari para putra sulung.

“Jadi kau yang akan menggantikan Edna untuk membantai kami?”

Suara kaki yang terseret mundur terdengar di belakangku ketika kata membantai muncul dari bibir Victoria. Aku berharap tak satupun dari mereka ada yang berusaha berlari pergi. Sebab aku yakin itu sudah terlambat. Melarikan diri di waktu ini hanya akan mendatangkan pembunuhan yang terjadi lebih cepat.

Terdengar decakan Nerethir, “Kau masih saja sinis seperti itu, Victoria. Tidak bisakah kau pikirkan kemungkinan lain yang ditawarkan Alzarox untukmu dan—“ dia berhenti menatap semua dari kami sekali lagi, “—kelompok kecilmu ini. Ah ya, kudengar Vlad sudah mati. Sayang sekali. Seharusnya kau bisa melihat kemarahan Luca mendengar hal ini. Dia berharap dia sendiri yang membunuh Vlad dan laki-laki itu malah sudah mati lebih dulu di dunia ini.”

“Aku tidak percaya jika Alzarox akan mengampuni.”

Suara tawa Nerethir menjadi satu-satunya suara yang ada, dia menggeleng, “Tentu saja tidak. Tapi dia menawarkan hal lain”

“Penawaran yang tetap akan merugikan kami.” Aku tak tahan untuk tidak bicara. Cara Nerethir yang memandang kami dengan remeh membuatku tidak bisa diam. Aku tahu mungkin saja karena satu kalimat ini, aku bisa mati. Tapi aku terlalu kesal untuk bisa berpikir dengan normal.

Dan langsung saja sepasang mata gelap itu beralih menatapku. Angin sekali lagi terasa berhembus aneh dan aku bisa merasakan desingnya di telingaku. Nerethir memang menyebut dirinya putra angin, aku tak tahu apa itu adalah makna kiasan atau memang yang sebenarnya yang dia katakan. Tapi kenyataan bahwa Edna yang berkata bahwa dia putri api dan bisa mengontrol api biru yang dulu menggurung kami, membuatku tahu bahwa Nerethir jelas bisa menggunakan angin sebagai kekuatannya. Makhluk-makhluk penghuni Tierraz ini memang mengerikan.

Lalu aku melihat Nerethir mengerutkan keningnya, “Ada hubungan apa kau dengan penyihir, nona bermulut lancang? Baumu tercium aneh.”

“Ap—“

Victoria menarik tanganku cepat, membuatku melotot marah padanya. Tapi dia menatapku dengan pandangan yang sama, memperingatkanku. Dan mendadak aku tahu, jika kukatakan pada Nerethir, aku adalah keturunan penyihir. Sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.

Reven yang sepertinya juga membaca arti tatapan Victoria, maju selangkah. Menatap Nerethir dengan ketegasan seorang pemimpin, “Sebagai pemimpin dari bangsa vampr, kukatakan padamu bahwa kau tak perlu mementingkan perempuan ini. Lebih baik kita membahas hal lain, jadi.. penawaran seperti apa yang Alzarox berikan pada kami?”

Selama sesaat, Nerethir mengamati Reven. Dia terlihat menimbang-nimbang apakah Reven memang seorang pemimpin atau tidak. Tapi Reven terus menatap Nerethir dengan percaya diri yang kuat dan siapapun yang melihat jenis tatapan Reven tak akan pernah meragukan jika dia memang pemimpinnya. Dan sepertinya Nerethir pun berpikiran sama.

Dia mengangkat tangannya, bertepuk tangan sebentar. Tersenyum tipis lagi dan mengangguk-angguk, “Kurasa bangsa vampir akhirnya memiliki pemimpin yang cukup bagus. Kuharap kau tidak berakhir dengan jejak yang sama seperti Vlad. Bangsa kalian jelas sudah belajar tentang harga mahal pengkhianatan, bukan?”

“Aku tidak akan pernah berkhianat pada bangsaku. Pada kepercayaan yang diberikan padaku. Bahkan jika kau ingin tahu, Vlad mati di tanganku.”

Dengan bantuan dariku, sahutku dalam hati. Meskipun jelas Reven adalah pemimpin kami, bagiku bagian menyombongkan diri tentang dia yang membunuh Vlad sangat tidak penting.

Tapi yang kulihat justru mata berbinar Nerethir. Dia tertawa keras sekali hingga ikatan rambutnya bergoyang-goyang aneh. Keningku berkerut tajam, tidak suka cara Nerethir tertawa. Seolah dia senang namun juga merasa kasihan pada saat bersamaan. Jika bukan karena tangan Victoria yang masih mencengkeram lenganku dan sentuhan lembut Damis di bahuku, aku mungkin sudah melemparkan komentar yang bisa membuatku terbunuh.

Damis menatapku, memperingatkanku agar tidak ikut campur. Aku harus diam. Sebab ini adalah waktu bagi masing-masing pemimpin untuk bicara dan aku tidak seharusnya membawa diriku dalam pembicaraan mereka. Meskipun ingin menolak, aku akhirnya diam dan memilih hanya menonton dengan kesal.

“Baiklah, aku mengerti. Aku mengerti.” suara Nerethir terdengar menahan geli, dan aku bisa melihat Reven berusaha keras mengontrol emosinya.

“Jika jadi kau, aku tidak akan sebangga itu karena sudah membunuh Vlad. Apa kau tidak tahu bahwa Luca sudah bersumpah bahwa dia sendiri yang akan membunuh Vlad? Luca sudah sangat marah mendengar tentang kematian Vlad. Entah apalagi yang akan dia lakukan jika mendengar pembunuh Vlad adalah pemimpin bangsa vampir sekarang ini. Kurasa kau tidak akan berumur panjang, nak.”

Nak?

Aku langsung mengamati raut wajah Reven dari samping. Aku berani bersumpah jika Reven benar-benar punya pengendalian yang hebat sekarang. Aku jelas melihat bagaimana tangannya mengepal kuat-kuat. Jika dia tidak membawa nasib kami semua di tangannya, dia jelas sudah menerjang Nerethir dan bertarung dengannya. Meskipun kematian adalah akhir yang akan dia dapat. Tapi sekarang, aku melihat dadanya membusung, menarik nafas panjang. Dan ekspresi wajahnya datar.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang sumpah Luca. Yang kutahu, aku hanya harus membunuh Vlad atau dia akan membawa kami semua dalam kehancuran. Jika aku harus mati menghadapi Luca hanya karena dia tidak terima aku membunuh Vlad. Kurasa itu hanya akan menjadi pembunuhan paling konyol yang dilakukan Luca.”

Ekspresi Nerethir berubah serius, dia menunjuk Reven dengan ujung telunjuk kirinya, “Kalau aku jadi kau, aku akan hati-hati dengan ucapanku. Ku yakin kau tidak akan pernah berani mengucapkan hal seperti itu tentang Luca jika kau tahu seperti apa dia. Kuberitahu padamu, membunuh sudah seperti bernafas bagi Luca. Ada atau tanpa alasan, itu tidak pernah penting baginya. Jika dia ingin membunuh, maka dia akan melakukannya. Dan kematian adalah takdir mutlak bagi mereka yang terlalu sial untuk menghadapi Luca.”

Aku mengeram rendah. Terlalu marah mendengar serentetan kalimat dari Nerethir. Kurasa aku akan menyingkirkan Reven dari nomer pertama dari daftar orang terbiadap yang kubuat. Lalu menaruh Luca di tempat pertama. Bahkan hanya dengan mendengar dari orang lain tentangnya, aku sudah bisa membenci orang itu dengan sebegini besar.

Dengan santainya, Nerethir kemudian mengibaskan tangannya dengan malas, “Aku tidak suka membicarakan Luca terlalu banyak. Lebih baik kembali pada tujuan awal kenapa aku ada di sini. Nah, kau.. pengganti Vlad, seharusnya, jika sesuai dengan peraturannya, aku harus membunuh kau dan seluruh bangsamu. Tapi Alzarox berbaik hati memberikan kesempatan lain dan menawarkan penebusan kesalahan pemimpinmu yang lalu.”

“Kau dan seluruh bangsamu bisa kembali ke Tierraz, dengan syarat bahwa kalian akan bergabung dalam perang yang akan terjadi antara para makhluk kegelapan dan makhluk cahaya. Alzarox membutuhkan sebanyak mungkin prajurit yang bisa dia dapat dan dia pikir, bangsa vampir akan sangat berguna.”

“Bukankah itu sama saja, jika kami memilih bergabung, maka kamipun akan tetap mati di medan perang?”

Nerethir mengangguk, “Bisa jadi. Tapi kematian kalian akan berguna dan kalian bisa memulihkan nama baik kalian di Tierraz. Lagipula mati di tanah asli kalian akan lebih membanggakan, daripada mati di dunia ini. Apakah kalian tidak merindukan aroma Tierraz? Meskipun tak satupun dari kalian, kecuali Victoria, pernah menginjakkan kaki di Tierraz, tapi kujamin, penyesalan bukan salah satu hal yang akan kalian dapat setelahnya.”

Mata gelapnya memindai ke kelompok kami dengan persuasif, “Pilihannya hanya mati di sini, sekarang juga, atau bergabung bersama kami?”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

47 Comments

  1. Kebalik malah, seharusnya pembaca Xexa baca RU biar tahu kejadian2 di balik Xexa. Soalnya Xexa mah terjadi jauuuuuh setelah masa kejadian ini.

  2. Apakah mereka akan kembali ke Tierraz oh ya ampun! Nah semua malah jadi teka- teki karna baik xexa maupun Ru masih belum ada kejelasan tentang vampire di Tierraz????

  3. Wah deg-degan dan ikutan tegang bacanya.Penasaran sama pilihan apa yang bakal di ambil Reven dan Victoria.Berharap banget Sherena bisa membantu banyak dengan kekuatan sihirnya juga yang sekarang masih terpendam,

    (Puput_Kiki)

  4. Wah, ceritanya makin seru aj, authorny keren bisa pny ide2 yg ky gini, beneran deh, kl di lappy nya udah tamat mending di publish jd buku aj, pasti best seller, krn aku suka baca novel terjemahan, HV sama RU ga kalah keren dr jalan cerita dan gaya penulisannya, siapa tw bisa diterbitkan dalam bhs inggris, truz produser di luar ad yg tertarik buat jd film, aamin (smw berawal dr mimpi kn?)

  5. Jangan-jangan… Jangan-jangan bener. Muahahhahahhha… Ga tahu sih 😛

    Ah.. Itu sih iya, bukannya semua makhluk hidup akan mati? Sherena jelas iya.

  6. Semoga Rena bener punya kekuatan sihir ya. Biar dugaan dan rencana Victoria ga sia2.

    Tapi klo ingat2 HV sih.. Ar dan Akhtzan jelas blg klo Rena cuma darahnya aja keturunan penyihir. Tapi ga ada kemampuan sihir. :'(

  7. Sabar banget ya.. Soalnya minggu ini jelas ngaret. Hari sabtu aku ke Belanda, minggunya pulang ke Indonesia. Jd aku jelas jetlag dan ga bisa posting RU di weekend.

  8. Endingnya Luca, Edna, Alzarox dkk uda kebaca lewat Xexa. Yang belum tinggal nasib vampir2 kesayangan kita. 🙁 🙁

    Sad ending??? Prinsip probabilitas masih berfungsi :''(

  9. ddduuuuuh bingung tapi degdegan baca nya hahaha… masih penasaran maksudnya perisai apaan

  10. Oh.maigat!!!

    Ngga salah deh kemarin buru-buru baca xexa biar ngerti dikit2…
    Tapi ternyata di Sini malah dijelasin lebih rinci.. Asal usul dllnya..

    Ganbatte!!! Ceritnya keren…

  11. Aku setuju sama kak kurnia wati bener tuh kak aku masih berharap banget cerita ini bisa dibukuin syukur2 suatu saat bisa dijadiin film..
    Kakak hebat tau kak, bisa bikin cerita yg ide nya bisa sangat meluas banget seiring berjalannya cerita…gak disangka2 dan tak terbayangkan kalo menurut aku, pembaca pasti gak bisa menerka jalan ceritanya kalo bakalan begini ceritanya…hahaha
    Pokoknya bagus deh, selalu bikin terperangah akan kejutan2an didalam cerita..
    Semangat terus ya kak… 😀

  12. Huaaa~
    makin seru . .ap yg akn d plih Reven ?
    Huaa . . Astaga . . Mkin penasaran saya . . Apa nanti Sherena akn kembli bersatu dngan Reven ?
    Apa Mereka akan ke Tierraz ?
    Kakak . . Aku udh bsa coment . . ^^

  13. Ya ampun kak, dapat inspirasi nulis ini dari mana sih kak?
    Susunan kata-kata nya enak banget kak, deskripsi suasana nya juga nyampe banget, cerita nya beda dari yang lain deh, bahkan pembaca aja ga bisa tebak alur selanjutnya, bikin penasaran banget sih kak-_-
    Tiap baca karya kakak, sy selalu bayangin, ini kalo dibuatin jadi film, pasti bakal keren banget ??
    Sukses terus kak ?

  14. Kaaaaakkkk keren banget jujur aku suka banget di part ini tapi berarti bangsa vampire bakalan dibawa ke tempat Tierraz? Terus kapan rena jadi prisai pelindungnnya pokoknya udah gak sabar buat tunggu apdatetannya semangat ya kak !! ^_^

  15. Baru ikutan baca nich thor… Dr wetped ke blog.. Jempol bgt buat thor ngga kalah ceritanya dr vampire diaries/true blood/twiligth…sampai anak2ku protes krn aku keasyikan baca… Ditunggu lanjutannya yaa..

  16. Kakak kapan lanjuuuuut kangen banget tau sama ru trus gmna nasib bku'a aku kan mau tau ayolah kak update atau kasih pemberitahuaan apa gtu udah sebulan kakak gak update kangen kelanjutan reven sma rena plissssss

    *pemaksaan*
    hehehehehehe…

  17. Huhuhuhu… kaaaaaaaaaaakkk… mana ni lanjutan kisah nya ??? Sampe sakit aku saking lamanya menunggu kelanjutan crta Rena dkk… *lebay*
    Hikzz…

Leave a Reply

Your email address will not be published.