Remember Us – Peringatan yang Terlambat

Aku berjalan cepat menyusuri lorong kastil yang dingin dan gelap. Kugunakan semua kemampuanku untuk memindai keberadaan siapapun di kastil ini. Namun entah kenapa, aku tidak bisa dengan leluasa mengunakan kelebihan pada indera-inderaku di sini. Ada sihir yang melindungi kastil ini. Itu sudah jelas.

Jadi aku tidak bisa banyak berharap dan hanya mengandalkan keberuntungan. Siapa tahu mendadak aku bertemu dengan Victoria. Tapi bermenit-menit menelusuri kastil ini, aku tidak bertemu Victoria atau siapapun lainnya. Kastil ini begitu sepi seolah sudah lama ditinggalkan.

Kemana mereka semua pergi, rutukku kesal. Kurasa aku tidak meninggalkan mereka lama dan mendadak semua orang sudah lenyap begitu saja. Aku berjalan dengan mulut menyumpah-sumpah jengkel. Aku butuh bertemu dengan Victoria sekarang.

Mendadak langkahku terhenti ketika aku menyadari ada seseorang yang berjalan tak jauh di depanku. Melangkah mendekat ke arahku. Wajahnya nampak cemas dan lelah. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku sampai dia hanya tinggal beberapa meter di depanku. Dan ketika pada akhirnya dia menemukanku yang tengah memandanginya, dahinya berkerut. Dia berhenti tepat selangkah di depanku.

“Sherena..”

Aku mengambil nafas panjang. Merasa aneh. Entah kemana semua perasaan gila dan bodoh yang kualami ketika melihatnya untuk pertama kalinya. Sekarang semuanya terasa biasa saja. Seolah aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencium laki-laki ini habis-habisan sebelumnya. Aku memandangi Reven yang masih menatapku.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Sekarang aku bahkan bisa menyadari betapa tidak ramahnya nada suara Reven. Aku berdehem, “Tersesat.” jawabku asal, “Dan apa kau tahu dimana aku bisa menemukan Victoria? Aku ingin bicara dengannya.”

Matanya menyipit tajam. Terlihat tidak suka dengan caraku bicara padanya.

“Kau tidak bisa bertemu dengan Vic sekarang. Pergilah kembali ke ruanganmu. Temui dia besok. Ini bukan waktu yang tepat.” ucap Reven dengan suara dingin.

Bibirku terkatup rapat. Aku tidak suka dengan cara Reven mengucapkan semua itu seolah dia sedang berusaha mengusirku. Aku tahu dia adalah pemimpin tertinggi ras vampir. Tapi aku merasa dia tidak punya hak untuk berkata seperti itu padaku.

“Siapa menurutmu kau ini sampai bisa mengatakan bahwa ini waktu yang tepat atau tidak tepat. Aku tidak peduli padamu dan aku akan tetap mencari Victoria Lynch.” aku menatapnya tajam dan langsung melewati Reven begitu saja setelah aku mengatakan itu. Aku tidak menunggu apa yang mungkin akan dia katakan atau apa reaksinya terhadap sikap yang kutunjukkan kepadanya. Seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak peduli. Dan aku entah kenapa bingung pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak semudah ini kesal pada seseorang. Bahkan Ed yang terang-terangan sering berteriak tidak jelas dan meremehkanku, aku tidak merasa seperti ini. Entahlah.

***

Dua jam kemudian, aku akhirnya berhasil menemukan Victoria Lynch. Jelas saja aku tidak menemukannya dimanapun di kastil ini karena perempuan itu ternyata sedang duduk di taman belakang kastil. Bersembunyi diantara rumpun tinggi bunga fuchsia. Aku melihatnya dari salah satu jendela melengkung di lantai tiga kastil dan langsung berlari turun. Butuh beberapa menit yang menyebalkan untuk menemukan pintu menuju belakang kastil tanpa harus mengitari kastil ini lewat pintu utama.

“Di sini kau rupanya.” ucapku setelah berada cukup dekat dengannya.

Victoria tidak menoleh dan aku mendaratkan tubuhku, duduk di sampingnya.

“Tidak bisakah kita menunda apapun itu yang akan kita bicarakan, Sherena?” ucap Victoria begitu aku sudah mulai membuka mulutku dan siap mencercanya dengan puluhan pertanyaan.

Keningku berkerut tidak suka. Aku sudah siap protes pada Victoria ketika akhirnya dia menoleh, memandangku. Dan untuk pertama kalinya aku merasa tergagap. Aku kehilangan semua kata yang sudah ada di ujung lidahku. Ekspresi Victoria menghentikan semua kemarahanku yang ada untuknya. Entah apa sebabnya, Victoria terlihat begitu sedih. Iris matanya yang berwarna merah nampak sayu dan aku berani bersumpah ada sisa air mata di sudut matanya.

Aku memindai semua ingatanku tentang Victoria. Tak ada satupun gambar yang menunjukkan padaku bahwa Victoria pernah menunjukkan ekspresi jenis ini sebelumnya. Aku menelan air ludahku. Sejujurnya tidak yakin apa aku sedang khawatir pada Victoria atau aku justru takut terkena imbas pada suasana hatinya yang jelas sedang buruk sekarang.

“Ada apa?” cuma pertanyaan itu yang melintas di otakku dan aku tidak bisa menelannya lagi karena aku sudah menyuarakannya.

Victoria mendesah. Dan aku bisa melihat jika dia sedang berusaha mengontrol emosinya sendiri. Dia memejamkan matanya, sedetik kemudian membukanya lagi dan dia menatapku. Sekarang sepasang iris merah itu kembali seperti biasanya.

“Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Nah Sherena, apa yang sebelumnya ingin kau bicarakan denganku?” suara itu penuh percaya diri. Dan matanya berkilat-kilat penuh semangat. Keningku berkerut lagi. Tidak yakin pada perubahan signifikan yang ada di depan mataku ini. Entah mengapa aku semakin yakin bahwa aku tak boleh meremehkan wanita di depanku ini.

“Apa kau ingin bertanya tentang kenapa aku membuatmu tertidur?”

Mataku melebar. Pertanyaan Victoria membuatku teringat kembali tentang tujuan utamaku ada di sini. Rahangku mengeras, “Tentu saja. Apa lagi memang.”

Anehnya Victoria justru tertawa, “Aku memberitahu Reven tentang apa yang seharusnya dia lakukan tapi dia tidak pernah mendengarkanku. Tapi jika aku meberitahumu, aku khawatir kau justru akan mendengarkan semuanya. Jadi kurasa Sherena, bersabarlah. Tak lama lagi. Sungguh. Semua yang hilang akan kembali.”

“Apa maksudmu? Dan kenapa memang dengan Reven? Aku tidak perlu mendengar apapun tentang laki-laki itu. Aku hanya butuh tahu kenapa kau membuatku tertidur. Dan jika perlu kuingatkan padamu, Victoria Lynch—“ aku menatapnya sangat marah, “Kau membuatku kehilangan tiga ratus abad waktu yang seharusnya bisa kunikmati dan kau juga membuat semua ingatakanku berantakan. Jadi jangan membuat semuanya semakin rumit dengan kata-kata tak penting. Jelaskan saja padaku.”

Kedua alis Victoria saling tertaut. Bibirnya menipis dan dia memandangku sangat tajam, “Dengar Sherena, kau tidak punya hak untuk bicara seperti itu kepadaku.” dia mengeram marah.

“Oh jadi aku tidak punya hak?” suaraku meninggi dan Victoria bangkit dari duduknya. Satu tangannya mencengkeram leherku dengan sangat erat dan aku yang tidak menyangka pada tindakannya langsung berusaha melepaskan diri. Tapi tangan Victoria mencekikku dengan kuat dan aku bisa merasakan kuku-kukunya yang tajam menusuk kulitku.

“Kuperingatkan padamu Sherena Audreista,” suaranya rendah dan mengancam, “Aku adalah yang terkuat setelah Vlad. Bahkan Reven sendiri tidak akan sanggup mengalahkanku. Dan kau, vampir tidak tahu terima kasih, belajarlah bersikap hormat padaku atau aku akan membunuhmu. Tidak peduli kau ini adalah belahan jiwa Reven atau aku punya sumpah pada Noura atau bahkan jika kau akan berguna bagiku kelak. Camkan itu.”

Dan dengan sekali gerak, dia melemparkan tubuhku ke samping dan aku bisa merasakan bahwa aku mendarat di semak-semak berduri. Aku bangkit. Terbatuk-batuk dan kesakitan. Tapi begitu aku mendongak, Victoria sudah tidak ada di dekat kursi kayu taman ini lagi. Dia sudah pergi meninggalkanku dengan tubuh tertusuk puluhan duri.

Aku memaki keras. Tersengal-sengal dan masih tidak percaya pada apa yang dilakukan Victoria padaku. Aku jadi ingat bagaimana ramahnya Victoria ketika pertama kali dia menyapaku di rumah keluarga Cllarigh. Dia bahkan juga tidak terlihat tersinggung ketika aku marah-marah padanya ketika itu. Tapi kenapa sekarang dia menjadi begitu sensitif begini. Ini bahkan belum sampai setengah hari, dan dia sudah mencekik lalu melemparkanku ke semak-semak sialan ini. Aku jadi memikirkan tentang ucapan Reven sebelumnya padaku tentang ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Victoria. Tapi sial, sudah. Aku tak mau lagi berpikir dengan lebih benar.

Sekali lagi aku mengumpat dan bergegas masuk ke dalam kastil. Aku merasa muak dan sangat marah. Aku harus mencari wanita vampir sialan itu. Jika dia menginginkan pertarungan, maka aku akan meladeninya. Dia yang menyeretku dalam semua kesusahan dan permasalahan ini, namun dia sama sekali tidak peduli dan malah marah hanya karena aku tidak sopan padanya.

Apa-apaan ini semua?

***

Aku sedang menaiki tangga melingkar tepat ketika aku teringat pada semua perkataan Victoria sebelum dia melemparku.

Aku adalah yang terkuat setelah Vlad. Bahkan Reven sendiri tidak akan sanggup mengalahkanku. Dan kau, vampir tidak tahu terima kasih, belajarlah bersikap hormat padaku atau aku akan membunuhmu. Tidak peduli kau ini adalah belahan jiwa Revenatau bahkan jika kau akan berguna bagiku kelak. Camkan itu.”

Langkahku langsung terhenti.

Tidak peduli kau ini adalah belahan jiwa Reven atau …

Aku dan Reven? Reven yang itu?

Dari Morgan aku tahu bahwa Sherinn sudah memiliki belahan jiwanya sendiri. Seorang vampir. Tentu saja. Tapi kadang aku masih khawatir apalagi ketika Morgan mengatakan jika mungkin saja Sherinn akan meninggalkan vampir itu dan tinggal bersama Arshel, yang ternyata adalah kakak Sherinn.

Isi catatan harian Rowena ketika itu..

Tanganku mencengkeram pegangan tangga dan aku merasa sesak. Ada sesuatu yang sangat menganggu dan aku bahkan tidak tahu apa itu. Kepalaku terasa begitu pening dan aku tidak tahu kenapa. Aku nyaris saja terjatuh di tangga jika sepasang tangan tidak menangkapku dengan cepat.

Aku mendongak, menemukan wjaah Ed di sana.

“Ada apa denganmu?” suaranya terdengar jengkel, “Kupikir menjadi vampir berarti kau tidak akan pingsan sembarangan. Tapi seingatku, ini bahkan sudah yang kedua atau ketiga kalinya aku menangkapmu ketika kau nyaris pingsan.”

Aku tidak punya kekuatan untuk menanggapi Ed karena seluruh pandanganku terasa mengabur. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku bersandar pada pegangan tangga. Ed berjongkok di depanku, sekali ini nampak tengah mengamatiku dengan benar-benar.

“Kau tidak apa-apa?”

Tanganku terangkat dan aku menggeleng lemah. Aku menarik nafas sangat panjang. Berusaha untuk mengenyahkan semua pusing di kepalaku. Meskipun tidak separah sebelumnya, aku akhirnya bisa berdiri dengan benar. Ed membantuku.

“Bagaimna bisa kau ada di sini?” tanyaku memandangnya, sejujurnya aku ingin mengucapkan terima kasih juga tapi kuurungkan. Kurasa itu hanya akan membuat Ed besar kepala.

“Aku terbangun di sebuah ruangan yang sangat luas. Lalu seperti kau lihat sekarang, aku keluar dari kamarku. Berusaha mencari jalan keluar atau setidaknya menemukan si penyihir Eve dan membunuhnya.”

Aku mendesah frustasi. Kenapa Ed berambisi sekali tentang membunuh seseorang. Sebelumnya Finn dan sekarang—tunggu.. siapa dia bilang tadi?

“Maksudmu Victoria Lynch?”

Ed terlihat kesal, “Apapun namanya yang sebenarnya.” dia menggeram, lalu menatapku lagi, “Dan dimana kita? Hal terakhir yang kuingat adalah aku masih berada di tempat tinggal keluarga Cllarigh.”

“Ah itu. Aku membawamu bersamaku.” aku berbohong. Sebab bukan aku yang membawa Ed. Tapi James. Namun kurasa itu bukan hal penting, “Sebab jika aku meninggalkanmu di tempat itu, para prajurit kerajaan akan menangkapmu. Dan sekarang kau ada di …” aku diam, mencoba menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan tempat ini.

“Kau ada di kastil utama bangsa vampir.”

Aku dan Ed menoleh bersamaan ke sumber suara. Dan di sana, di puncak tangga, aku bisa melihat Reven dengan ekspresi segelap malam. Dia menatap ke arah kami dengan marah. Itu sudah jelas. Aku merutuk dalam hati. Setelah Victoria, apa aku harus menerima ‘pelukan selamat datang’ dari dia juga. Seperti melemparku dari tangga ini sampai ke aula utama mungkin. Apalagi sebelumnya aku sudah mengatakan sesuatu yang tidak sopan pada pemimpin ras vampir itu. Jika Victoria saja, yang entah apa posisinya di ras ini, bisa sangat gila hormat. Apa yang bisa kuharapkan dari sang pemimpin?

“Siapa kau?” suara Ed terdengar menantang dan aku merasa bersalah pada Ed. Jika kukatakan bahwa laki-laki yang sedang mengamati kami beruda itu adalah pemimpin ras vampir, akankah dia percaya? Sebab jika tidak, tentu akan sangat merepotkan. Aku—sebagai vampir—tentu tidak terlalu apa-apa jika diperlakukan kasar seperti yang Victoria lakukan. Tapi Ed.. dia tetap adalah manusia. Manusia sangat rawan dnegan retak tulang atau patah tulang. Dan kemampuan tubuh mereka untuk menyembuhkan diri sangat lamban.

“Ed, tutup mulut.” bisikku seraya menarik tangan Ed mendekat padaku.

Entah hanya aku yang salah liat atau apa. Aku melihat tangan Reven terkepal kuat ketika melihatku menarik Ed mendekat padaku. Aku menatap Reven.

“Jangan hiraukan dia.” kataku pada Reven yang langsung disambut lirikan marah Ed.

“Apa maksudmu mengatakan itu?”

“Tutup mulut, Ed. Sekali ini. Turuti aku.” aku mendesis kesal. Sungguh aku sudah tidak punya tenaga tersisa untuk berdebat dengannya sementara tujuanku adalah menghindarkannya dari masalah. Kepalaku juga masih terasa masih pusing.

Aku kembali memandang Reven ketika akhirnya Ed nampak mengalah. Aku masih memegang lengan Ed. Untuk berjaga-jaga jika dia melakukan hal bodoh.

“Abaikan dia. Dia tidak tahu siapa dirimu.”

Reven mengamatiku. Tak terlihat akan menanggapi kata-kataku. Dia hanya terus saja mengamatiku. Dan juga Ed sepertinya. Aku bersyukur Ed sama sekali tidak mengatakan apapun lagi karena sorot mata Reven menjelaskan bahwa dia muak dengan Ed. Atau tidak tahu juga. Aku tidak bisa membaca pikirannya.

“Jadi,” suara Reven menajam, dia melangkah menuruni undakan tangga, “Apa aku harus mengenalkan siapa diriku pada manusia ini agar dia bisa lebih bersikap santun di tempatku?”

“Kau yang memiliki kastil ini?”

Aku langsung menyodok rusuk Ed dan dia langsung memelototiku. Aku tidak memedulikannya dan hanya memperhatikan Reven yang masih melangkah pelan.

Tidak peduli kau ini adalah belahan jiwa Reven atau …

Kata-kata Victoria berputar di kepalaku dan aku terdiam. Aku memandangi Reven lekat-lekat. Apakah memang benar laki-laki ini adalah belahan jiwaku? Jika ya, kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya. Dan sikapnya padaku juga tidak menunjukkan bahwa itu memang benar. Dia dingin dan selalu terlihat marah ketika melihatku. Dan itu bukanlah sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh belahan jiwa yang tidak melihat pasangannya setelah tiga ratus tahun bukan?

Reven berhenti tepat di depanku. Satu undakan tangga lebih tinggi dan aku harus mendongak untuk menatapnya. Ed juga jelas melakukan hal yang sama karena Ed berada satu undakan lebih rendah daripadaku. Aura di sekitar Reven menggelap. Entah Ed bisa merasakannya atau tidak. Namun jika iya, dia sama sekali tidak menunjukkan jika dia takut atau khawatir.

Mata Reven yang biru menatap pada Ed, “Aku adalah pemimpin ras vampir. Dan kau, berada di kastil utama milikku. Jadi kuharap kau belajar apa itu sopan santun atau aku akan melenyapkanmu dalam satu kedipan mata, manusia.”

Suara itu tegas. Diucapkan dengan penekanan di setiap suku katanya dan aku hanya bisa memandangi Reven. Aku tidak tahu ekspresi wajah Ed ketika mendengar Reven mengatakan ini. Mungkin dia bahkan masih berusaha memproses semuanya. Aku menunggu kalimat penolakan dari mulut Ed namun aku tidak mendengar apapun. Dan ketika aku menoleh pada Ed. Aku melihat mulutnya terbuka, ekspresi kesakitan terlihat di wajahnya. Seolah seseorang sedang mencekik lehernya dan dia tidak bisa menghentikan itu.

“Apa yang kau lakukan padanya?” teriakku pada Reven.

Tepat setelah aku berteriak, aku merasakan Ed jatuh terduduk dan pegangan tanganku padanya terlepas. Dadanya naik turun tidak beraturan. Aku melompat mendekat dan duduk di depan Ed.

“Kau tidak apa-apa?”

Ed belum bisa mengatakan apapun dan dia masih mencoba bernafas dengan normal. Aku mendongak, menatap Reven dengan penuh kebencian, “Apa yang kau lakukan padanya?” ulangku dengan desisan amarah.

Wajah Reven tenang dan tidak ada ekspresi apapun selain itu di wajahnya.

“Hanya memberinya sedikit pelajaran.” lalu begitu saja dan dia berbalik. Menaiki tangga satu persatu dengan pelan dan sama sekali tidak berbalik. Apa dia bar saja membalas apa yang sebelumnya kulakukan padanya?

Makhluk sialan, caciku sebelum aku kembali menatap Ed yang sekarang sudah terlihat lebih baik.

“A-apa yang baru saja dia lakukan padaku?” suara Ed terdengar panik.

“Sihir—“

“Sihir?” potong Ed cepat dan dia memandangku dengan penuh horor, “Dia bilang dia vampir. Jenis yang sama sepertimu. Dan kau menolak kusebut penyihir sebelumnya karena kau bilang vampir tidak sama dengan penyihir. Tapi apa kau lihat dia?” Ed memandangku dengan marah, “Dia melakukan sihir padaku dan dia vampir. Kurasa vampir dan penyihir adalah satu jenis yang sama.”

Aku menghela nafas panjang. Menjatuhkan pantatku di undakan tangga dan duduk dengan bahu merosot. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi pada Ed sekarang. Semua yang dikatakan Ed masuk akal. Dan aku tahu akan sulit sekarang membuat segalanya terlihat benar di mata Ed.

“Sejujurnya, tak banyak vampir yang bisa melakukan sihir, Ed.” kataku tanpa berharap dia akan percaya padaku, “Hanya mereka, para vampir kuno yang bisa melakukannya. Jumlah mereka juga tidak banyak. Mungkin saja hanya dua, Reven dan Victoria atau kau mungkin lebih mengenalnya dengan Eve. Selain mereka, aku tidak tahu. Dulu ada, satu lagi. Namanya Vlad tapi dia sudah mati. Di tangan Reven karena bantuan dariku dan—“ aku berhenti. Memandang Ed. Apa yang baru saja kukatakan? Vlad? Dan Reven membunuhnya? Dengan bantuan dariku?

“Ada apa? Kenapa kau nampak lebih pucat daripada biasanya?”

Dan detik itu juga. Aku mengingat semuanya.

Mau Baca Lainnya?

20 Comments

  1. asyiiiiiikkkkk
    rena dhh ingeet…
    yeee….yeeee….yeeee….
    siap" reveeen… rena akan segera beraksi…
    gak sbaar nggu kelanjutannya…
    mnaaa gantung gee….
    tmbah penasaraan binggo…. 😀

  2. Astaga Reven bertindak sama menyakiti eg,dulu dia juga melempar dev saat mencium rena.ha.ha.ha… Bersiap-siap lah reven rena mulai ingat…kak kapan rena mulai memiliki kekuatan jadi penasaran kekuatan nya apa?

  3. Gantungggggggg kakak! Oh My God! Penasaran sama reaksinya rena setelah ingat semuanya.. apa dia bakal berantem sama reven? Kaya victoria ke vlad

  4. Wah Reven bersiaplah….
    Akan sesangar apakah Rena …. dan akan sehebat apakah kekuatan Rena…masih harus sabar menunggu nih kayanya ….hahhahah
    Bener2 kompleks ceritanya…dan tentunya cerita yg sangat panjang…
    ( berharap suatu harii nanti cerita ini beneran bisa dibukuin …jadi nanti kalo sewaktu2 aku kangen , aku bisa baca kapan aja plus jadi koleksi dan kenangan kalo aku punya buku yg ceritanya nggak pernah bisa terlupakan dari ingatan… 🙂 😉 😀 aminnn. )

  5. Mungkin Reven ngga sadar kali ya kalo dia lagi jeles. Tapi sikap yang dia tunjukkin sama gitu. Nah sekarang mah Sherena uda ingat.. Bersiaplah menghadapi kenyataan Reven. Hahhaha

    Kekuatan Sherena yah?? Ga asyik kalau dikasi tahu sekarang. 😛

  6. Aaaakkk maap maap.. bikin ending chapter yang gantung gini. Tapi yaaahh.. mau gimana lagi. 😛 😛

    Reaksi Rena.. Well, next chapter bakal full sama reaksi Rena ke Reven. Ditunggu aja yaaahhh 😀

  7. Dan semuanya berkata… wahai Reven bersiap-siaplah. Pembalasan akan datang. Muahahahahah

    Iyaaahhhh… rencananya yah.. rencana nih ceritanya.. Oktober HV bakal aku bukuin secara indie publishing via nulisbuku.com
    Nanti beli yaaa.. *belum-belum uda promosi*

    Amin aminnnnnnn

  8. Astaga astaga.. ngalahin Victoria yang notabene samaan tuanya sama Vlad. Hahaha bisa bisa.

    Tapi aslinya sih Victoria ini ga jahat-jahat amat. Songong sih iya. 😛 😛

  9. Akhirnya Sherena juga yang ingat duluan.Berharap Rena bisa kasih pelajaran Reven sama Victoria.Berharap banget kekuatan Rena bisa tambah lebih kuat dan bisa nandingin Reven lah paling gak kalau ngalahin Victoria gak mungkin hehe agak sebel ih sama Victoria,

    (Puput_Kiki)

  10. oh my …..ga kebayang gimana marahnya rena nanti, tapi aku malah penasaran gimana sikapnya nanti, mengamuk atau membenci dengan sepenuh hati. tapi ga berharap hubungan mereka jadi seperti vlad-victoria

  11. Akhirrnyaaa rena ingattt. Ini saat yang paling aku tunggu tunggu…. Omg im so excited!!!! Pengennya rena murka terus hilang kendali dan melumpuhkan semuanya agar mera tau klo mereka ga bisa macem macem sama rena dan jga aku tau klo vic iyu baik cuman ga seharusnya dia sekasar itu atau munkin karna dia ada masalah ? Karna kan sebelumnya dia nangis. Aku jga masih ga suka cara pemikiran nya yg masih berfikir klo rena itu cuman pengganti nya noura. Pokoknya aku pro rena deh *kibarin bendera rena. Di tunggu lanjutannya thor dan plis jangan gantungin aku kek gini ya thor :""")

  12. awawawawa asyiiik rena nya udh inget semuanya.. siap2 reven dapat pembalasan dari rena.. gasabar nunggu chapter selanjutnya..
    ditunggu chapter selanjutnya dan semoga study author berjalan lancar…

Leave a Reply

Your email address will not be published.