Remember Us – Pertemuan dan Sumpah Pembalasan

Aku tidak tahu berapa lama dan berapa jauh kami sudah pergi. Namun satu yang kutahu adalah kastil kerajaan dan kota utama sudah sangat jauh di belakang kami. Begitu jauh sampai aku tahu pasti bahwa aku mungkin saja tidak akan ke sana lagi. Lagipula aku tidak punya alasan untuk ke sana. Aku sudah bertemu Victoria Lynch—dia berlari di depanku—dan bertemu dengan vampir lainnya, yang salah satunya adalah janjiku untuk Lyra. Aku akan menepatinya dan memberitahu Damis tentang ini setelah kami berhenti. Aku juga merasa sangat senang dan lega karena kaumku masih hidup. Para vampir tidak akan berakhir hanya karena satu perang besar.

Namun keinginan itu terlupakan ketika kami akhirnya berhenti dan sebuah kastil kecil yang terlihat menyeramkan dengan dinding-dinding batunya yang hitam dingin berdiri di depanku. Dekat sekali. Tapi ini bukan kastil seperti yang ada di lukisanku—yang dilukis oleh Rowena—namun beberapa bagian nampak mirip meskipun aku tetap yakin ini bukan kastil itu.

Victoria yang sekarang berdiri di sampingku menoleh ke arahku dan aku melihatnya tersenyum. Pertama kalinya yang membuatku melupakan keinginanku untuk bertarung dengannya. Genggaman Damis sudah terlepas dan dia entah kenapa terlihat menebak-nebak, berpikir, entah untuk masalah apa.

“Mari kita lihat sejauh mana kau mengingat, Sherena.” kata Victoria tepat ketika aku merasakan kehadiran sosok-sosok lain dan pintu utama kastil mengayun terbuka.

Satu laki-laki dan satu perempuan lain yang sudah jelas vampir berjalan ke arah kami dan entah kenapa untuk pertama kalinya aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku memandang wajah vampir laki-laki yang merupakan wajah paling tampan dan juga paling kejam yang pernah kulihat. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyimpulkan hal seperti itu, namun tatapan tajam matanya dan garis-garis wajahnya yang terlampau tegas menyiratkan betapa dia akan sangat keras pada apa yang dia inginkan.

Fokusku beralih pada si perempuan yang seolah ingin mengulitiku hidup-hidup dari caranya menatapku. Aku benci mengatakannya, namun aku juga tidak suka perempuan ini. Dan entah kenapa dadaku terasa panas dan ingin meledak melihat bagaimana lengannya bergelayut manja dan intim di lengan si laki-laki. Sepertinya aku sangat ingin mendorongnya hingga terjatuh bermeter-meter jauhnya agar dia tidak dekat-dekat dengan si vampir laki-laki dan—tunggu, kenapa ak—

“Kenapa kau membawa seorang manusia juga kemari, Victoria?” suara si vampir laki-laki seketika membuyarkan semua perdebatan di kepalaku dan aku—sialnya—seperti gila sebab aku suka sekali suara itu. Aku akan menyerahkan banyak waktuku untuk bisa mendengar suara itu lagi.

Mata birunya yang sedalam lautan menemukan mataku dan untuk sedetik yang terasa sangat panjang, aku seperti ingin berlari dan mencium bibirnya yang sedikit terbuka dan berwarna merah seolah dia baru saja selesai dengan makan malamnya—darah tentu saja.

Aku bergerak mundur, gugup pada pikiranku sendiri dan aku sadar bahwa semua mata sedang mengamatiku. Damis terlihat bertukar pandang dengan Victoria seolah sedang membicarakan sesuatu tanpa mengucapkannya dan itu jelas-jelas menyangkutku sebab Victoria kembali mengamatiku. Seolah-olah dia sedang menimbang-nimbang sesuatu di kepalanya.

“Apa itu buruanmu, Victoria?”

Awalnya kupikir si vampir laki-laki yang membuat rusak pikiran dan instingku itu membicarakanku, namun begitu aku melihatnya yang menatap James yang sedang memanggul Ed. Aku tahu aku salah dan benar-benar ingin menampar wajahku sendiri agar aku bisa mengenyahkan semua pikiran gila untuk langsung menubruk vampir laki-laki ini dan menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya.

Aku menggeleng dan langsung mendekat ke arah James, bicara sepertinya akan mengusir pikiran busukku tentang dia, “Tid—bu..bukan,” ucapku sedikit tergagap, “Manusia ini tidak akan menjadi santapan siapapun di sini. Jika kau atau siapapun di sini berniat menghisap darahnya, sedikit saja, kalian akan berhadapan denganku.”

Dahinya mengerut tidak suka dan aku bersyukur tidak ada pikiran gila lagi yang melintas di kepalaku ketika aku menatapnya. Dagu terangkat dan mata menatap lurus. Tidak ada suara lain. Hening yang lama dan akhirnya kuputuskan untuk menyentuh Ed dan mengendongnya turun tepat ketika sebuah teriakan marah menghentikanku.

“Berhenti.” geramnya dan aku tahu itu suara si vampir laki-laki. Dia mendadak terlihat bingung seolah tidak tahu kenapa dia berteriak marah. Vampir perempuan di sampingnya bergerak tidak nyaman dan matanya tak sedetikpun meninggalkanku. Kurasa jika dia punya kesempatan, vampir perempuan ini akan langsung mencekikku.

“James, bawa manusia itu ke salah satu ruangan kosong di kastil ini.” nada perintahnya jelas dan tajam. James mengangguk dan aku bahkan tidak mengerti kenapa aku tidak menghentikan James yang melangkah pergi dan masuk ke kastil. Kurasa mungkin sebagian diriku tahu bahwa Ed akan baik-baik saja—di sarang vampir? Semoga.

“Jadi, “ suara itu mengambang dan sepasang iris biru gelap mengamatiku. Aku menelan air ludahku, mengenyahkan hasrat gilaku lainnya, “Dia adalah Sherena, jika aku tidak salah. Bukan begitu Vic?”

Victoria mengangguk, sekelebat aku melihat dia nampak senang, tapi sebentar kemudian wajah itu kembali datar, dia mengalihkan pandangannya ke arahku, “Sherena Audreista, kuperkenalkan kepadamu, Reven, pemimpin tertinggi ras vampir.”

Ada jeda yang panjang. Kurasa mereka menunggu reaksiku tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jika menuruti keinginanku, aku mungkin ingin memeluk vampir laki-laki yang ternyata adalah pemimpin rasku ini. Sial, aku mengumpat tanpa suara dan benci menjadi pusat perhatian sementara kepalaku terus saja menyarankan ide-ide gila yang tidak tahu bagaimana bisa muncul di pikiranku. Aku melihat Damis, yang juga sangat tampan dan mempesona namun pikiran-pikiran gila itu tidak ada ketika aku menatapnya. Tapi dengan yang satu ini.. aku mendesah. Putus asa pada diriku sendiri.

“Eh-aku.. em—tidak tahu harus mengatakan apa.” ucapku belepotan dan aku bersumpah aku melihat seutas senyum tipis di bibir Reven. Jika vampir bisa merona, mungkin sekarang wajahku sudah semerah warna senja.

Damis meraih tanganku dan aku sangat berterima kasih kepadanya, “Abaikan semua tata krama kerajaan yang mungkin masih kau ingat. Jangan pedulikan mereka. Ayo masuk, Rena.”

Aku tidak menentang dan pasrah. Ketika aku melewati Reven, aku bersumpah seluruh tubuhku gemetar. Aroma tubuhnya dari dekat seperti membiusku dan aku berjuang sangat keras mengatasi tubuhku sendiri yang menuntut lebih dari sekedar cuma berjalan melewatinya. Aku bahkan tidak peduli jika tatapan si vampir perempuan yang tidak kutahu namanya menikamku, seolah kebencian luar biasa sedang menguasainya. Yang ada di dalam pikiranku adalah menjauh dari Reven sebelum aku kehilangan akal sehatku dan menerjangnya dan menenggelamkan wajahnya dalam ciumanku.

Sial, sial, sial,aku memaki dalam kepalaku dan mengenggam tangan Damis erat-erat. Aku takut kehilangan kontrol dan benar-benar melakukannya.

***

Reven menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat hingga buku jarinya memutih seperti tidak teraliri darah. Dia tidak pernah merasa semarah ini sepanjang ingatannya, namun teriakan Sherena ketika membela seorang manusia masih membias di kepalanya dan itulah yang membuat darahnya seperti mendidih.

Tapi bagaimana bisa, dia juga tidak tahu dan Victoria yang terkekeh melihat reaksinya sama sekali tidak membantu. Mereka duduk berhadap-hadapan di ruangannya. Tanpa siapapun lagi dan dia sudah akan meneriaki Victoria jika saja dia tidak menimbang-nimbang kemungkinan lain. Mungkin Victoria tahu penyebabnya.

“Hiburan yang sangat menyenangkan.”

Reven melemparkan tatapan tajam pada Victoria dan Victoria sama sekali tidak terlihat peduli.

“Jika aku tahu akan semenyenangkan ini, aku akan membangunkan Sherena jauh-jauh hari.”

“Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya, Vic?”

Tawa Victoria terhenti, dia memandang Reven lurus-lurus, “Mengembalikan apa yang hilang. Memperbaiki apa yang rusak.”

Reven menggeram, “Aku tidak suka teka-teki.”

“Aku sudah sering menjawabnya untukmu. Sekarang giliranmu mengingat. Tapi kurasa mungkin kau mengenalinya, secara tidak sadar. Begitu juga Sherena. Bahasa tubuh kalian mengungkap semuanya.”

Suara Reven terhenti, dia ingin membalas ucapan Victoria tapi dia tidak punya apapun untuk menjawab ucapan Victoria karena entah bagaimana dia tahu Victoria benar. Ketika pertama kali melihat wajah perempuan itu—wajah Sherena Audreista—perasaannya menjadi begitu tenang. Semua beban di kepalanya menghilang dan untuk sesaat yang ada di pikirannya cuma memeluk tubuh Sherena dan terus memeluknya sampai dia sesak. Jika bukan karena genggaman tangan Lucia yang semakin terasa seperti cengkeraman erat, dia bisa saja benar-benar melakukan itu dan tidak akan pernah bisa menjelaskan alasan apapun.

Lalu dia berasa bodoh ketika dia merasa tidak suka melihat Damis yang meraih tangan Sherena dan membawanya pergi darinya. Apalagi ketika perempuan itu melewatinya begitu saja seolah dia tidak penting, dia ingin menghentikannya dan menyuruh semua orang pergi sehingga dia bisa mencari tahu apakah aroma melenakan itu memang berasal dari tubuh Sherena.

Reven mendesah kalah dan Victoria tersenyum penuh kemenangan.

‘Aku tidak tahu.’ itulah satu-satunya yang bisa dia katakan pada Victoria dan dia tidak bohong. Reven tidak menemukan sekilaspun wajah Sherena di ingatannya dan suara Sherena jelas bukan suara yang sekali pernah dia dengar ketika dia mengistirahatkan benaknya dulu sekali. Tapi suara Sherena bahkan lebih menenangkan daripada suara yang terdengar lebih lembut itu.

..Maukah kau menerima siapapun yang akan menggantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Suara Sherena memang tidak menimbulkan kerinduan yang dalam seperti ketika dia selalu ingin mendengar suara asing itu lagi. Tapi bukan berarti jika suara Sherena juga tidak terasa menganggunya. Ada perasaan lain, ada sesuatu lain yang sepertinya berbeda namun juga menimbulkan efek yang sama padanya.

Victoria menatap Reven dan kali ini dia tidak tertawa.

“Itu wajar, Reven. Yang membuatku cemas justru ketika kau dan Sherena akhirnya menemukan bagian yang hilang itu. Aku membenci Vlad sampai rasanya darahku mendidih karenanya setelah aku berhasil mengingat semuanya. Aku membencinya, berusaha membalas, dan entah aku berhasil atau tidak membalas rasa sakitku. Jiwaku kosong dan yang yang tertinggal cuma ingatan yang seolah mengejekku setiap hari.”

Reven menaikkan satu alisnya, dan dia tidak suka dengan cara Victoria mengucapkan itu semua. Tapi Victoria mendadak menggeleng dan ekspresinya berubah tajam dan serius, bukan nelangsa seperti sebelumnya. Reven tahu dan masih mengingat dengan jelas semua kisah tentang Vlad dan Victoria. Dan jika semua yang dikatakan Victoria tentang dia dan Sherena benar, dia benar-benar akan marah pada dirinya sendiri.

Melepaskan ikatan belahan jiwa adalah hal yang mustahil dan berbahaya untuk dilakukan. Kali pertama itu terjadi, yang dilakukan oleh Vlad dan Victoria, semuanya berakhir dengan tidak menyenangkan. Dari sepasang tubuh yang saling mencinta dan mendamba, mereka menjadi dua jiwa yang berusaha untuk saling menghancurkan satu sama lain.

Tapi yang menyedihkan adalah akhirnya. Sebab seperti yang begitu sering dikatakan Victoria. Ikatan itu tidak pernah benar-benar lenyap. Hanya menjadi samar. Sesuatu yang tidak hitam atau putih. Ikatan yang kehilangan ruhnya. Menyisakan jiwa kosong yang tidak akan pernah merasa lengkap. Sampai kapanpun.

“Kalian harus bisa menguatkan ikatan itu. Kembali satu sama lain pada perasaan kalian. Aku dan Vlad tidak bisa melakukan itu. Dia menyingkirkanku, sebagai sisa kelemahan terakhirnya. Kekuasaan dan kekuatan jauh diatas segalanya bagi Vlad.”

Mata Reven memicing. Bagaimana dia bisa menguatkan ikatan belahan jiwanya dengan Sherena ketika dia sendiri bahkan tidak yakin akan itu? Mungkin saja perasaan anehnya ketika bertemu Sherena tadi hanya ketertarikan biasa. Dia sudah terlalu lama bersama Lucia. Mungkin saja dia menginginkan sesuatu yang baru. Seperti yang selalu dia lakukan jika dia bosan pada Lucia.

“Aku tidak suka ini.”

Victoria mengangkat alisnya, “Lakukan saja, turuti apa kata hatimu dan berharap saja bukan Sherena yang pertama mengingat atau segalanya akan semakin sulit untukmu.”

Reven diam. Mendadak menyesal mengizinkan Victoria membawa perempuan itu ke kastil mereka.

“Lupakan masalah ini dan aku punya sesuatu lain yang ingin kubicarakan denganmu, Rev.”

“Ada apa?”

Victoria menarik nafas panjang, punggungnya tegak dan pertama kali dalam sejarah kehidupannya Reven melihat pancaran ketakutan di iris merah Victoria.

“Apa kau juga merasakannya?” tanya Victoria dengan suara kelewat hati-hati seolah-olah takut udara akan mengabarkan perbincangan mereka pada dunia luar.

“Merasakan apa?” Reven mencoba bersikap tenang.

“Aku tidak tahu. Tapi sesuatu yang buruk. Akhir-akhir ini, aku mulai mengingat sesuatu—“ Victoria berhenti. Terlihat sekali berusaha mengontrol dirinya sendiri. “Mereka akan datang.” setelah mengatakan itu Victoria menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Dia gemetar.

“Vic—“

Tapi Victoria terlalu gemetar untuk bisa mengatakan satu katapun lagi. Dan Reven merasa ini akan berakhir buruk. Jika Victoria saja bisa menjadi seperti itu hanya karena mengingat, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika itu menjadi kenyataan. Tidak cukupkah mereka—para vampir—harus bersembunyi seperti ini selama berabad-abad?

***

Aku berjalan mondar mandir di ruangan ini. Ekor mata Damis mengikuti gerakanku dan dia berusaha menahan diri untuk tidak menyuruhku diam. Aku meremas-remas tanganku dan pada akhirnya membuang pandanganku pada Damis.

“Apa yang terjadi?” aku nyaris berteriak padanya dan dia menatapku bingung.

“Rena—“

Aku mengangkat tanganku, “Jadi sebenarnya siapa dia dan apa hubungannya denganku? Dan kau—“ aku menunjuk Damis dengan telunjukku dan membuatnya kaget, “Kenapa kau memanggilku Rena? Seolah-olah kau mengenalku dengan baik.”

Lebih dari segala kekagetannya sebelumnya, sekarang Damis menatapku seolah dia aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat konyol dan tidak bisa diterimanya.

“Kau mengingat Victoria dan melupakanku? Kau melukaiku, Rena.” suaranya penuh kekecewaan namun wajahnya datar. Beberapa saat aku tahu ada rasa bersalah menjalar di kulitku, namun hanya beberapa detik sebelum Damis tersenyum menenangkan dan menghapus rasa bersalahku.

“Aku mengerti, Rena.” wajahnya sekarang lebih seperti geli. Mungkinkah ekspresiku sebelumnya sebegitu jelek? Lalu mendadak aku teringat sesuatu dan semua kebingunganku akan siapa sebenarnya Reven menghilang. Aku duduk pelan tepat di samping Damis dan dengan mata birunya yang berpendar lembut—sangat berbeda dengan mata Reven—dia mengikutiku.

“Emm,” kataku bodoh, aku tidak tahu harus memulai darimana. Bayangan Lyra yang sekarat tidak mempermudah semuanya. Aku membasahi bibirku berulangkali dan Damis terlihat sabar menghadapiku seolah melihatku kehilangan kata-kata dan gugup adalah hal yang biasa baginya. Aku bertanya-tanya apakah aku memang benar-benar tidak mengenalnya ataukah dia bagian dari ingatanku yang hilang.

“Aku mengingat sesuatu. Dan aku punya janji,” Damis menunggu, “pada Lyra Corbis.” Aku bersumpah wajah Damis langsung berubah penuh duka dan seperti kesedihan semua makhluk di bumi ini ada di wajahnya. Namun dia membiarkanku melanjutkan, “Aku bersamanya di saat terakhirnya dan dia memintaku untuk mengatakan padamu bahwa dia sangat mencintaimu, Damis.” aku selesai. Aku berhenti.

Mata Damis menatapku tapi aku tahu tatapannya kosong. Ada berkas cahaya dari kilatan basah matanya yang seolah tak bernyawa. Mata itu jelas menyimpan sakit dan kepedihan begitu besar. Seolah tak ada apapun atau siapapun yang akan bisa mengenyahkannya dari kepedihan itu. Ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk menenangkannya. Aku menarik Damis dalam pelukanku dan dia menyerah pada lukanya. Tanpa air mata, tanpa isakan, aku tahu Damis menangis dalam diam di atas bahuku.

Butuh beberapa saat yang lama bagiku untuk memahami. Tapi aku tidak bisa, dan aku memilih diam dan memberikan pelukan paling lama dan paling tenang yang pernah kuberikan pada siapapun—seingatku. Seandainya aku bisa mendengar detak jantungnya, aku mungkin bisa saja mendeteksi apa dia sudah merasa baikan atau belum, tapi kurasa Damis memilih menghentikan detak jantungnya jadi aku sama sekali tidak tahu. Aku merasa tidak asing pada sentuhan kami. Seolah Damis dan aku sering saling memeluk seperti ini untuk saling menenangkan dan menyalurkan semangat satu sama lain.

Damis beringsut melepaskan diri, dan menolak menatapku. Dia berdiri, mengumamkan terima kasih dan pergi. Meninggalkanku di ruangan yang sama sekali asing bagiku. Aku berdiri, melangkah mendekat ke jendela melengkung yang ada beberapa langkah di depanku. Di depannya, aku melihat hamparan bunga-bunga ungu yang bergoyang di tiup angin musim gugur.

Ada perasaan hangat yang menyelimutiku begitu aku memandang bunga-bunga itu. Seolah aku dulu juga pernah melihat yang seperti ini. Aku mencoba mengingat, tapi tidak ada satupun yang bisa ditangkap ingatanku kecuali latar padang bunga ungu di lukisanku yang dilukis oleh Rowena. Mungkin aku memang mengingat lukisan itu dan merasa bernostalgia.

Tapi perasaan hangat itu menguar hilang dengan cepat ketika aku teringat ekspresi sedih Damis. Aku tidak tahu jika vampir bisa punya ekspresi terluka seperti itu. Aku ingin tahu apakah Lyra memang benar sebegitu berartinya bagi dia sehingga seolah seluruh ruam kebahagiaan dan kehidupannya tersedot lenyap bersama kematian Lyra.

Aku mendesah, bagaimana bisa sebuah perasaan yang seharusnya bisa membuat seseorang bahagia malah menjadikan seseorang sebegitu putus asanya? Apakah harga cinta sepadan dengan akibatnya, aku bergidik. Kurasa aku tidak benar-benar mencintai Dev dengan sangat besar karena aku tahu aku tidak sesedih Damis bahkan ketika aku ingat Dev sudah mati dan itu demi menyelamatkanku. Aku merasa bersalah pada Dev namun aku tidak bisa berbohong.

Namun pada saat yang bersamaan, kekosongan aneh di dalam diriku menjalari pori-poriku lagi dan mengelitik kesadaranku. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan ketika aku bangun dan aku tidak tahu apa-apa. Perasaan yang sama seperti yang dulu kurasakan ketika aku sadar ingatanku tidak lengkap.

Setidaknya aku punya peluang mencari tahu karena sekarang aku berada di satu tempat dengan Victoria dan kaumku. Victoria hidup dan ras vampir yang sudah dianggap tidak ada, tak bersisa dan bahkan legendanya dilenyapkan, ternyata masih ada dan bernyawa. Meski di tempat dingin, dan terpencil seperti ini. Aku tidak suka bagian ini, seolah aku tahu bahwa para vampir seharusnya mendapatkan lebih. Kehormatan, kastil besar, pasukan kuat dan musuh-musuh yang tunduk.

Aku berbalik dan meninggalkan pemandangan padang ungu di belakangku. Aku harus mendapatkan jawaban dari banyak pertanyaan dan perasaan aneh yang bertimbunan di kepalaku. Kurasa aku harus mencari Victoria dan bertanya padanya. Tidak ada kata terlalu awal untuk mendapatkan kembali hakku untuk tahu. Aku akan mendapatkan kembali semua yang seharusnya menjadi milikku. Semuanya.

***

Damis mengusap wajahnya dengan lelah dan berbaring di ruangannya. Menatap langit-langit di ruangannya dengan pandangan mengabur. Di sana hanya nampak wajah Lyra. Seringkali wajah itu tersenyum, lalu cemberut, seperti yang sering Lyra lakukan dulu, sampai akhirnya berhenti pada wajah kesakitan dan dipenuhi air mata yang berderai-derai. Meneriakkan permintaan tolong pada Damis.

Mata Damis terpejam erat dan dia mengalihkan pandangannya. Semua perkataan Rena yang saja didengarnya justru semakin mengekangnya pada rasa bersalah. Ketika kelopak matanya terbuka, ingatan akan masa lalu itu kembali menerjangnya. Seolah semuanya baru saja berlangsung. Bertahun-tahun bahkan tiga abad nyaris selesai sejak saat itu tapi tidak ada yang berubah. Omong kosong tentang waktu bisa menyembuhkan semua luka. Sebab lihatlah dia. Lihat Damis dan pepatah sialan itu hanya akan jadi kunyahan angin. Karena tak bisa dan tak pernah luka dan patah hati itu menghilang dari benaknya.

Ingatan itu menjadi seperti potongan kejadian yang menyiksanya setiap hari. Wajah Lyra yang penuh luka. Cacat di kulitnya, luka-luka bakar baru yang memerah dan melepuh. Teriakan Lyra yang menahan semua sakit saat para slayer dan manusia serigala itu menyiksanya. Menyiksanya tepat di depan mata Damis sendiri dan dia tak bisa membantu sama sekali.

Lyra menjerit dan Damis merasakan semua sakit yang ditanggung Lyra. Dalam balutan rantai perak murni, dia merangkak dan memohon-mohon pada Master para slayer dan heta, meminta mereka menghentikan semua itu. Namun Elior hanya menatapnya, tidak mengatakan apapun dan hanya mengoloknya dengan pandangan yang mencemooh.

Lihat makhluk apa yang menyembah dan memohon padanya sekarang, itulah mungkin yang bisa dilihat Damis dari mata gelap Elior. Lalu tawa Elsass di belakangnya dan dengungan tawa para pengikut mereka lainnya bergaung di telinga Damis. Seluruh kehormatan Damis sebagai anggota kelompok utama seolah tak berbayang sama sekali. Dia memicing, sudut matanya basah dan dia sudah bersumpah akan menghancurkan semua yang terlibat dalam tragedi mengerikan ini.

Dia berbalik, setengah beringsut mencoba mendekat ke arah Lyra Corbis yang mengerang kesakitan. Seorang slayer maju dan menarik rambut Lyra kuat ke belakang. Membuat perempuan itu menjerit bersamaan dengan segenggam rambutnya yang hitam kebiruan terjabut dari kulit kepalanya dan berakhir di genggaman tangan si slayer yang tertawa-tawa.

Bahkan para vampir, yang mereka sebut iblis penghisap darah saja tak pernah menyiksa korban-korbannya. Satu serangan, satu hisapan panjang dan korban mereka mati. Hanya sebuah kesakitan yang bahkan tak sebanding dengan sabetan pedang perak. Kematian cepat. Begitu Vlad menyebutnya. Lebih cepat, menghemat tenaga dan tidak perlu bersusah payah. Namun mereka, para manusia ini. Harusnya mereka sendiri bahkan malu menyebut diri mereka makhluk dengan kehormatan tinggi.

Damis menggenggam rantai peraknya begitu kuat. Kemarahan dan kesedihannya tak terperi. Bahkan ketika kulitnya melepuh merah basah dan mengeluarkan asap, dia masih mengenggam rantai perak itu, semakin erat.

Akan kubalas mereka semua. Akan kubalas semua perilaku keji mereka padamu, Lyra. Mereka semua akan membayar sampai tuntas. Benar-benar tuntas dari akar dan semuanya, dia bersumpah. Damis bersumpah bersama darah yang mengalir dari tangannya sendiri. Dia bersumpah dan akan selalu menepati sumpahnya.

***

Hei.. aku mau menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin muncul jika kalian baca RU. Aku mendapat beberapa pertanyaan lewat DM twitterku tentang ini. Dan mendadak aku berpikir mungkin bukan cuma dia yang bertanya-tanya tentang hal ini. Well, aku akan membaginya di sini kalau begitu.

Di awal diceritakan jika setelah ritual pelepasan belahan jiwa, Rena dan Reven akan kehilangan (melupakan) perasaan mereka masing-masing dan hanya kekosongan yang dirasa, tapi kenapa selama di cerita rasanya mereka hanya ‘hilang ingatan’ saja dan tidak merasakan kekosongan itu?

Mereka akan merasakan perasaan kosong itu. Tentu saja, saat waktunya sudah tiba. Saat mereka pada akhirnya mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa baru setelah mereka saling mengingat mereka justru tidak bisa kembali? Karena itu adalah harga yang harus dibayar oleh seseorang yang berusaha melepasan ikatan sesakral belahan jiwa. Well, aku banyak spoiler.

Kenapa Reven memilih melakukan ritual itu padahal dia benar-benar mencintai Rena?

Astaga.. astaga.. kalian harusnya sudah tahu jawabannya bukan? hahahha. Reven itu laki-laki dan pikiran mereka sederhana. Sangat sederhana sampai terkesan bodoh-sangat. Reven ingin melindungi Rena dari hal terburuk yang mungkin ada. Sementara itu Reven sendiri adalah pemimpin ras dan dia punya tanggung jawab yang sangat besar pada kelompoknya. Bagaimana bisa dia menjadi pemimpin yang baik dan patut mendapatkan respek rasnya jika dia tidak dapat melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan pemimpin yang benar hanya karena seluruh kepalanya dikuasai oleh satu pikiran, satu sosok, Sherena.

Kenapa pula Victoria berusaha keras mengembalikan hubungan Rena dan Reven?

Karena sumpahnya pada Noura. Bagaimanapun sumpah itu diucapkan Victoria untuk Noura, dan bukannya untuk Reven. Jadi meskipun Reven mengatakan bahwa sumpah Noura tidak berlaku lagi. Victoria sesungguhnya tidak peduli. Percayalah, makhluk-makhluk sperti vampir, manusia serigala, adalah makhluk-makhluk yang sangat menghargai sumpah mereka. Dan bagi Victoria sendiri, sosok Noura sangat berarti. Karena tanpa Noura, Victoria mungkin tidak akan pernah bangun. Ingat segel sihir Vlad yang menjaga kubur Vic? Akhtzan yang membebaskan segel sihir itu atas permintaan Noura. Dan ingat tentang Morgan yang membangunkan Victoria? Itu juga berkat Noura yang meminta Morgan melakukannya.

Kenapa waktu Victoria yang mengalaminya (tidur panjang), dia ngga hilang ingatan sementara Rena iya? (eh, kayaknya aku uda pernah jawab ttg ini bukan sih?)

Well, begini. Sederhananya, hilang ingatan itu adalah efek dari pelepasan ikatan belahan jiwa, bukan karena tidur panjang. Jadi Rena, yang mengalami kedua hal ini secara bersamaan, dia tentu hilang ingatan. Sementara Vic, tidak. Vic melakukan pelepasan ikatannya dengan Vlad, jauh sebelum dia mengalami tidur itu. Ketika masa itu, Vic juga hilang ingatan. Namun Vlad tidak menghilang, dia ada di sana. Dan ingatan mereka tentang hubungan mereka yang dulupun kembali (pada dasarnya ritual itu bukan melenyapkan ikatan, namun hanya menyamarkannya, sebab belahan jiwa bukan sesuatu yang bisa kau kendalikan. Itu adalah anugerah semesta.).

Tapi karena Vlad tidak peduli pada itu dan hanya mengejar kekuasaan dan kekuatan. Tidak ada sesuatu yang buruk baginya. Kehilangan Victoria sebagai pasangannya adalah pilihan Vlad. Sementara Vic, jelas berbeda. Untuk menyingkirkan perasaan ‘kurang’, perasaan tidak lengkap yang dimilikinya, dia mengunakan banyak waktunya untuk berkeliaran ke tempat-tempat lain. Dia bersahabat sangat erat dengan Antonio, alpha manusia serigala di masa itu. Dia juga menjalin hubungan sangat baik dengan para penyihir murni yang jumlahnya masih banyak ketika itu. Vlad yang melihat semua itu jelas merasa terancam. Vic, tanpa para manusia serigala dan penyihir murni, pun adalah sosok yang kuat dan tangguh. Dalam pikiran Vlad, Victoria mungkin bisa berbahaya untuk kedudukan dan kekuasaannya sekarang. Jadi dengan semua siasat dan kekuatannya, dia merancang sesuatu yang akhirnya membawa Victoria dan Antonio dalam masalah.

Vlad menjebak mereka hingga mereka berdua terlihat berkhianat di depan semua kelompok. Setelah menghukum Victoria dengan membuatnya tertidur, Vlad membunuh Antonio. Seluruh ras manusia serigala jelas murka dan melakukan pemberontakan setelah itu (mereka awalnya merupakan bawahan para vampir). Ini adalah awal dari hubungan buruk dua ras besar ini. Hingga akhirnya, di depan para vampir lain (yang tidak tahu kejadian sesungguhnya dan mempercayai pemimpin mereka sepenuhnya), manusia serigala hanya terlihat sebagai bangsa pengkhianat.

Well, tidak dapat dikatakan sepenuhnya salah para vampir, namun bangsa manusia serigala juga terlanjur merasa direndahkan dan Alpha mereka dihabisi dengan kejam, jadi mereka juga melakukan banyak hal kejam terhadap para vampir untuk balas dendam. Sementara itu, para penyihir murni memberikan kutukan kepada Vlad karena mereka tahu bahwa Victoria jelas tidak melakukan sesuatu yang buruk seperti yang dituduhkan oleh Vlad. Namun mereka tidak punya bukti. Kalian tentu tahu kutukan itu bukan? Kutukan calon ratu. Dimana Vlad, pada akhirnya harus melindungi seorang perempuan jika ingin seluruh kekuatannya utuh. Namun Vlad malah membunuh Noura karena dia menganggap kutukan calon ratu hanya omong kosong. Dan endingnya.. 

Nah, jika kalian punya pertanyaan lain selain beberapa itu. Tanyakan saja dan aku akan berusaha untuk menjawab (dan mengurangi takaran spoiler). Hahaha

Mau Baca Lainnya?

16 Comments

  1. Ga pa2 kok ngaret, msh mending di update jg.. sifat posesifny reven muncul lagi, moga aj yg inget duluan rena byr rena jd galak ky vic n reven yg nyesel bgt udh ngelakuin hal itu, oia thor kira2 rena bakal pny kekuatan super ga ya, secara vampir keturunan penyihir.. pgn bgt ngeliat rena bisa ngalahin vic n bkin dy tercengang

  2. Pengen banget lihat Sherena nyingkirin Lucia dari Reven,sebel banget mah.Pengen juga Rena inget dulu biar Reven tahu rasa.Masih penasaran kejadian besar apa yang di takutkan Victoria,

    (Puput_Kiki)

  3. Siapa yang di maksud vic dengan mereka sudah kembali jadi penasaran? Dan perasaan rena dan reven malah jadi kosong ketika mereka saling mengingat masa lalu mereka ya ampun….lalu harus bagaimana jadi nyesek kan.Eh bener juga kan apa rena bener2 ngak mendapatkan kekuatan lebih setelah sekian lama jadi vampir misal nya bisa mengendalikan 4 elemen mungkin (Dikiranya avatar apa rena kan vampire,oke abaikan ngak penting) He.he.he…

  4. Hahahah.. kamu pengertian banget.

    Well, iya.. di awal doang Reven gitu setelahnya.. (sensor spoiler) 😛 😛

    Kekuatan Rena yah? Emm lebih baik ngga diomongin sekarang. Biar surprise. Hahahha *kabooor*

  5. Hahaha.. iyah. Akhirnya duo RR ini ketemu.

    Well, Rena mah pengennya gitu. Tapi diakan lupa semuanya. Masa langsung maen tubruk aja. Hahahha

    Sabar sbar sabar.. semua pada sensi sama Lucia. Hahah

  6. Mereka yang ada di masa lalu Victoria dan Vlad.

    Elemennya Avatar?? wohh dia vampir penguasa kalo begitu?? hahahha. Engga engga.. Rena hebat sih. Tapi ga segitu-gitunya juga. Hahahha

  7. AAAAAAA KAKAK AKHIRNYA UPDATE.. kak, Half Vampire jadiin novel dong :3 aku amat sangat senang sama cerita ini 🙂 keren kak ceritanya heheh.. kakak Jerman-nya dimana ? Rena jangan bunuh Reven ya u.u

  8. Ya ampunnn ketinggalan jauh banget ini…..

    Makin rame.. Makin greget… Suer dehh biar sequel ngga bikin bosen atau eneg. Malah nagihhh… Hahaha

    Gemes bgt sama reven dan rena pas mereka ketemu malah kaya abege labil… Wkwkwkw..

    Ditunggu nextnya yah non…

Leave a Reply

Your email address will not be published.