Remember Us – Pertemuan Lain

Last update bulan Januari lalu?? Astaga.. astagaaaa.. Maafkan aku. Aku tahu itu keterlaluan. Tapi aku sungguh-sungguh dimakan kesibukkanku. Kupikir berada di Indonesia, aku akan segera punya berjubelan waktu luang. Ternyata malah.. Apalagi semester ini aku mulai menghadapi realita paling mengerikan dari kehidupan kampus : SKRIPSI. Ditambah aku juga kerja part time. Maka lengkaplah sudah, aku kehilangan kebebasan dan banyak waktu luangku. Sebagian besar waktu luangku yang kupunya hanya setelah aku pulang kerja, yang mana itu, tentunya aku sudah capek setengah mati dan hanya punya satu keinginan : tepar. Hahahha malah curcol. Ah ya sudahlah. Selamat membaca kalian semua.. Terima kasih sudah sabar menunggu Rena dkk.

Xoxo,

@amouraXexa

***

Aku terduduk di tepian tempat tidurku dengan kedua tangan menutup wajahku, menyangga kepalaku yang tertunduk lesu. Aku tidak tahu berapa lama aku sudah melakukan ini, sebab sejak pertama masuk ke ruangan sempit yang disebut mereka kamar tidur untuk anggota kelompok utama, aku sudah melakukan ini.

Ruangan ini juga tidak membantuku berpikir lebih baik karena tempat ini bahkan lebih buruk daripada gua tempat tinggal ayahku. Ruangan ini gelap dan suram, dengan hanya satu tempat tidur besar tanpa hiasan apapun dan satu meja besar. Tak ada kain-kain nyaman yang berjuntai memperindah tiang-tiang tempat tidur. Hanya ada sesuatu seperti kulit binatang berbulu lembut yang menjadi alas utama tempat tidur ini.

Maka lengkaplah sudah, semuanya terasa memperburuk suasana hatiku. Dan yang paling membuatku marah adalah ingatan terakhirku pada perbincanganku dengan Reven. Nada suaranya yang seolah tulus dan kata demi kata yang dikatakannya.

Aku akan menemukan jalan untuk kembali padamu, Rena..”

Sialan.

Bagaimana bisa makhluk gila itu mengucapkan kalimat itu padaku? Bagaimana bisa dia seberani itu mengatakan hal itu dengan mudah begitu? Aku tahu jika aku memang tidak bisa mengerti jalan pikirannya, tapi.. tapi bagaimana bisa dia mengatakan hal itu padaku seolah tidak ada yang terjadi pada kami sebelumnya? Seolah bukan dia yang memang mengkhianati janji kami untuk tetap bersama.

Aku menggangkat wajahku ketika aku merasakan kehadiran asing di ruangan ini. Dan sebuah wajah yang menyambutku membuatku terlonjak dan langsung bangkit dari dudukku. Luca berdiri di sana. Tegak dan memandang lurus ke arahku.

“Ap-apa yang k—“

“Suka dengan ruangan ini?” potongnya cepat.

Aku tak bisa mengatakan apa pun sebagai jawabannya karena pandangan Luca seolah mengunci seluruh sistem sarafku, dan aku tak sanggup berpikir jernih karena tatapannya yang luar biasa tegas. Tatapan yang sama seperti yang diberikannya padaku beberapa waktu lalu di depan kastil.

Dia mendekat dan aku sadar aku tak sanggup mengerakkan tubuhku karena gugupnya. Aku tidak tahu apa ini karena aku terpesona padanya atau karena aku terintimidasi oleh auranya yang kuat. Luca berhenti beberapa langkah tepat di depanku. Mengamatiku dalam diamnya yang menakutkan.

Aku bahkan sanggup mendengar suara dari detak jantungku sendiri karena sepi yang keterlaluan menyesakkan. Aku sudah nyaris lemas karena kesusahan bernafas dan kesakitan karena detak jantungku yang terlalu cepat dari batas normal tepat ketika sudut bibir Luca terangkat sedikit. Aku tidak yakin apakah dia sedang tersenyum atau menyeringai. Aku hanya sanggup menelan air ludahku dalam situasi ini.

“Kau jelas punya rahasiamu sendiri, Sherena Audreista. Kau jelas sepenuhnya vampir. Aku bisa mencium kegelapan milik Victoria dalam darahmu, tapi di saat yang bersamaan aku juga mencium aroma lain yang kubenci setengah mati—“ dia berhenti, memicingkan matanya seolah meneliti diriku dengan lebih dalam. Tidak cukupkah baginya menatapku dengan tatapannya yang sebelumnya sehingga dia membuat jenis tatapan lain yang bahkan sanggup membunuhku jika dia melakukannya lebih lama lagi.

“Penyihir”

Satu kata dan satu langkah mendekat. Jantungku berdegup makin kencang. Satu. Satu. Detik dimana dia mengucapkan kata itu, aku tahu aku akan tamat. Luca tahu. Dia jelas tahu bahwa aku adalah keturunan seorang penyihir. Aku menarik nafasku dalam, bersiap menghadapi kematianku.

Tapi sampai beberapa saat aku menunggu dalam gugup, menebak-nebak apa yang akan dilakukan Luca untuk membunuhku, tapi dia tak melakukan apapun. Lalu seringai itu muncul. Seringai yang bisa bermakna ribuan kali lebih menakutkan dari kalimat aku akan membunuhmu sekarang.

“Victoria, benar-benar membawa perisai pelindung yang berguna untukku”

***

Rambut hitam panjangnya terikat satu dengan rapat dan rapi. Sepasang matanya begitu fokus sementara satu tangannya menggenggam sebuah pedang dengan api biru berkobar di seluruh sisi pedang. Edna bahkan tak melambatkan gerakannya meskipun bulan sudah tinggi padahal dia memulai latihannya ketika matahari bergerak tenggelam.

Sosok perempuan lain yang berdiri di pinggir tanah lapang, hanya mengamatinya dalam diam. Mempelajari setiap gerakan sang putri api dengan ekor matanya. Meskipun dia kesulitan menangkap gerakan pedang Edna yang hanya nampak seperti kelebatan bayangan api biru, dia sama sekali tidak menyerah. Baginya, dizinkan melihat Edna berlatih adalah sebuah kehormatan dan dia tidak akan membiarkan satu detik saja sia-sia baginya.

Sebuah gerakan tak terduga dan Edna melepaskan pedangnya. Api biru lenyap dan asap keluar dari pedang yang menghantam tanah.

“Sialan,” desisnya dengan bulir-bulir keringat membasahi seluruh tubuhnya. Bahunya narik turun dengan cepat seiring dengan nafasnya yang memburu. Dia mengangkat tangan kanannya dan sebuah bola api biru berkobar di atasnya. Sebuah gerakan mengenggam yang kuat dan bola api biru itu meledak dan menebar hawa panas ke seluruh tanah lapang di sekitarnya.

Urat-urat tubuh Edna menegang. Tapi bukan karena hawa panas itu melainkan amarah yang ditahannya sedari tadi. Dia menarik nafas panjang, berusaha menetralkan semua amarah dan menggantinya dengan energi positif yang ada.

“Tuan putri,”

Edna menoleh dan si perempuan yang sedari tadi diam di pinggir tanah lapang sudah berdiri tak jauh darinya, nampak khawatir padanya.

“Dia berbohong,” potong Edna dengan suara rendah. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan yang jelas, “Aku seharusnya sudah tahu, Luca berbohong padaku. Sejak awal ketika kukatakan padanya bahwa Vlad sudah mati, kemarahannya nampak tak biasa. Seolah-olah dia sama sekali tidak terkejut. Seolah-olah dia memang sudah tahu sejak awal. Seluruh ekspresi dan apa yang dikatakan Luca padaku ketika itu adalah kebohongan.”

“Tapi kenapa Yang Mulia Luca harus berbohong pada anda, tuan Putri?”

Edna kembali memandang ke arah abdi setianya dengan tatapan bingung. Itu adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Kenapa Luca harus berbohong padanya.

Dia mengeleng, “Maka itulah yang harus kita cari tahu, Trisha.”

Perempuan berambut semerah api yang ada di depannya langsung menatapnya dengan fokus. Matanya berkilat-kilat penuh keyakinan, “Berilah saya perintah dan saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa, tuan Putri.“

Edna nampak berpikir keras. Sebentar kemudian sebuah seringai tipis muncul di wajahnya.

“Aku tahu apa yang harus kau lakukan untukku, Trisha.”

***

“Dimana Victoria?”

Damis menoleh ketika mendengarku masuk menerjang ke ruangannya. Butuh waktu lama untuk menemukan ruangan Damis dan aku tak akan menyia-siakan waktuku untuk hal lainnya. Victoria harus menjelaskan semuanya kepadaku. Bahkan lama setelah Luca meninggalkan ruanganku usai mengatakan satu kalimat terakhirnya yang membuatku kehilangan kemampuan berpikir normalku. Aku tak bisa menyimpulkan apapun.

“Victoria, benar-benar membawa perisai pelindung yang berguna untukku”

Aku? Victoria? Dan bagaimana bisa.. Luca.. ? Ini gila. Jika bukan, maka aku yang akan gila. Semua yang melibatkanku dalam semua kegilaan ini harus membayar segalanya. Dan aku tahu, Victoria Lynch adalah sosok pertama yang bisa kupersalahkan. Tidak. Bukan kupersalahkan, karena aku yakin ini memang salahnya.

Pertama, dia membuatku berpikir bahwa aku akan menjadi perisai pelindung untuk kaumku jika firasat buruk yang dirasakannya terjadi. Dan sekarang, apa yang dikatakan Luca padaku menjelaskan bahwa aku bukan perisai pelindung untuk kaumku saja. Luca akan menggunakanku. Aku adalah perisai pelindung untuk para makhluk kegelapan dalam perang ini. Dan Luca, Luca tahu benar siapa aku. Darah penyihir dalam tubuhku. Ini gila. Aku perlu penjelasan untuk semua ini.

“Dimana Victoria?” ulangku tak sabar karena Damis hanya memandangiku tak mengerti ketika dia menemukan wajah panikku.

“Dia pergi bersama Reven. Kurasa mereka melakukan pertemuan dengan Nerethir dan para petinggi lainnya.”

Aku langsung berbalik cepat sekali. Namun tangan Damis meraihku lebih cepat dari gerakanku dan dia membuatku berputar dan kembali menghadapnya. Aku menatap Damis dengan kesal dan marah.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.” teriakku ketika Damis malah mengeratkan pegangan tangannya pada lenganku.

“Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Tapi aku harus menahanmu, Rena. Kita bukan lagi di dunia kita. Kau harus menjaga sikapmu. Menerobos pertemuan penting para petinggi dengan kemungkinan kau akan memaki dan berteriak pada Victoria di sana bukanlah hal yang bisa kau lakukan sekarang.”

Kedua alisku saling tertaut dan mataku menatap Damis dengan tak percaya.

“Apa menurutmu aku akan melakukan itu? Menerobos pertemuan penting para petinggi di kastil mengerikan ini hanya untuk memaki dan meneriaki seorang Victoria Lynch?” sergahku kasar dan penuh emosi.

“Tentu saja.” jawab Damis cepat.

“Kau—“

“Aku mengenalmu bukan hanya setahun atau sepuluh tahun, Sherena Audreista.”

Aku menatap Damis tanpa kedip dan dia masih menatapku tegas. Sepasang iris biru itu menegaskan keyakinan atas setiap ucapannya. Aku menyerah. Dia benar. Aku jelas akan melakukan semua yang dia katakan. Damis memang benar-benar sudah mengenalku dengan baik

Mendesah, membuang nafas panjang dan aku mencoba melepaskan tangan Damis dari lenganku. Kali ini dia membiarkannya karena dia tahu aku tidak akan mencoba pergi lagi dari sini. Aku berjalan dengan masih setengah kesal ke arah tempat tidurnya. Dengan menahan sisa kemarahan yang ada, kuhempaskan tubuhku pada tempat tidur Damis, yang sialnya harus berakhir dengan umpatan kasar karena tempat tidurnya bahkan lebih keras dan lebih tidak nyaman dari pada milikku.

“Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana cara memperlakukan kaum mereka.” omelku sambil mengelus bagian belakang tubuhku.

Damis tertawa dan mengangguk. Pelan dia mengambil tempat duduk di sampingku.

“Ada apa kali ini?” tanyanya mengabaikan wajahku yang masih menahan sakit.

Aku menoleh, “Victoria?”

Dia mengangguk.

Aku menarik nafas panjang. Menatap Damis lekat-lekat sebelum akhirnya menyeritakan semua yang terjadi sebelumnya. Damis mendengarkanku dengan baik. Sangat baik malah karena dia sama sekali tidak menyela apa yang kukatakan meski mimik wajahnya menunjukkan betapa dia terkejut dan penasaran dengan apa yang kukatakan padanya.

“Jadi Luca datang ke ruanganmu hanya untuk mengatakan itu?”

“Dia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan semua itu. Bukankah Victoria maupun Nerethir mengatakan bahwa musuh utama kita sekarang adalah para penyihir. Dan Nerethir bahkan memperingatkan kita bahwa itu adalah kaum yang paling dibenci oleh Luca. Tapi Luca, laki-laki itu membiarkanku. Dia tahu siapa aku dan membiarkannya.”

“Karena kau adalah perisai pelindung?”

Aku mengangguk, “Kurasa Luca merencanakan sesuatu, Damis, dan itu melibatkanku. Bagaimana pun—“ aku menggeleng dengan tidak percaya. “Kenapa orang-orang senang sekali melibatkanku dalam rencana-rencana besar mereka tanpa membiarkanku tahu terlebih dahulu? Reven melakukannya sekali dan kau lihat apa yang terjadi, aku buta tuli dan penuh kebodohan karena kehilangan tiga ratus tahunku. Dan sekarang, kurasa aku tidak bisa membiarkan ini.”

Damis menatapku dengan penuh simpati. Dia menepuk bahuku pelan, “Setidaknya Reven melakukan itu untuk melindungimu—“

Mulut Damis langsung tertutup rapat ketika aku tanpa kasihan menatapnya dengan jengkel dan penuh kemarahan. Aku benar-benar butuh memakinya sekarang.

“Jika kau berniat melakukan hal yang sama seperti yang Reven lakukan padaku dengan alasan untuk melindungiku, lebih baik kau katakan padaku lebih awal. Jadi aku bisa memutuskan dengan cara apa aku membunuhmu.”

“Kau ingin membunuhku karena aku ingin melindungimu?”

“Tutup mulut, Damis. Aku lebih memilih berpikir tentang apa yang harus kulakukan ketika bertemu dengan Victoria esok hari daripada memikirkan hal seperti itu. Lagipula aku tahu kau tak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Reven. Kau jelas akan lebih memilih berjuang bersamaku daripada menguburku dalam peti selama ratusan tahun.”

Damis tergelak, “Kau benar-benar vampir pendendam, Rena. Seharusnya kau memberi Reven sedikit toleransi. Dia bahkan tak bisa mengingat apapun tentang semua itu sampai sekarang.”

“Dia mengingatnya.” sergahku cepat.

“Apa?”

Aku tertawa. Tawa yang terasa pahit. Mencemooh diriku sendiri, “Dia sudah mengingatnya. Kurasa itu terjadi sejak kita masuk ke Tierraz, atau entahlah aku tak tahu. Tapi yang jelas dia sudah mengingat semuanya.”

“Dan Reven tak mengatakan apapun tentang—“

Aku menggeleng dan beringsut mundur. Membawa seluruh tubuhku ke atas tempat tidur yang keras ini dan berbaring di sana.

“Kau bisa tidur di ruanganku, Damis. Aku tidak punya tenaga lagi untuk bergerak. Aku ingin tidur sebelum melihat hal-hal buruk esok hari.”

Aku berbaring menyamping dan memjamkan mataku. Tak menunggu apapun yang mungkin akan dikatakan Damis. Rasanya sakit sekali. Entah kenapa terasa sakit dan sekali saja, kali ini, aku tak ingin memikirkan apapun.

***

“Merasa baikan?”

Aku meraih gelas Trisha yang diulurkan Damis dengan cepat dan meneguk seluruh isinya dalam satu tegukan panjang.

“Merasa baikan?” Damis menggulangi lagi pertanyaannya ketika mendengar suara nafasku yang masih memburu. Aku hanya mengangguk, meski wajah pucatku jelas mengingkarinya.

“Mereka sudah gila,”gumamku sambil menyeka bulir-bulir keringat dari dahinya. Aku tidak bisa mengatakan kalimat lain selain itu karena seluruh pikiranku masih dipenuhi ingatan-ingatan mengerikan beberapa saat lalu ketika aku berada di tanah lapang tempat pelatihan para prajurit kegelapan.

Aku bahkan tidak tahu apakah tempat itu bisa dikatakan sebagai tempat pelatihan atau malah tempat penjagalan. Bagi makhluk sepertiku yang pernah menjadi heta, yang berada dalam pelatihan terstruktur dan terampil, semua yang kulihat di sana tadi adalah semua yang berlawanan.

Makhluk-makhluk buruk rupa yang ada di sana hanya saling bertarung satu sama lain. Ketika ada duel, langsung akan ada satu lingkaran arena yang terbuat dari deretan mereka yang berjubel menonton dan meneriaki. Yang kalah jelas akan mati tanpa meninggalkan apapun. Benar-benar tak meninggalkan apapun. Sebab kerumunan yang menonton akan langsung mengerubungi mayat yang kalah. Memotong tubuhnya dengan kapak tumpul mereka, dan membakarnya dalam api yang dibuat dengan tergesa-gesa. Dan setelahnya mereka akan memakannya dengan lahap seolah itu bukan daging dari kawan mereka sendiri.

Butuh waktu bagiku untuk mencerna apa yang tengah kulihat sampai akhirnya aku sadar dan langsung berbalik pergi dari tempat itu. Aku sudah memuntahkan semua yang ada dalam perutku sebelum akhirnya Damis terburu datang dengan segelas air di tangannya.

Aku bahkan yakin sekali bahwa apa yang sebenarnya aku lihat justru lebih buruk dari semua yang kuingat. Aku hanya tidak ingin membiarkan otakku mengisi pikiranku dengan gambar-gambar yang lebih mengerikan dari itu. Bahkan manusia serigala yang kelaparan dan akhirnya menemukan mangsa mereka pun tidak akan memakan mangsanya dengan sebrutal itu. Dan makhluk-makhluk tadi, astaga.. Yang mereka makan bahkan kawan mereka sendiri, bukan makhluk lainnya.

“Aku tidak tahu kenapa mereka membiarkan hal ini terjadi.”

“Membiarkan apa memang, nona vampir?”

Aku dan Damis langsung menoleh bersamaan ke asal suara. Aku dan Damis memang sedang berada di dapur umum kastil yang sebelumnya nampak sepi tanpa siapapun di dalamnya. Namun sekarang, selain kami berdua, berdiri orang lain yang nampak normal, maksudku tanpa tambahan tanduk, benjolan aneh, ataupun bisep-bisep berlebihan di tubuhnya. Dia bahkan nampak lebih muda dari kami dengan kulit kecoklatan dan wajah girang yang ramah.

“Jadi, kalian akan menjawab pertanyaanku atau hanya bengong memandangiku begitu?” ucapnya ringan sambil berjalan mendekat ke arah kami. Dengan santai dia menarik kursi dan duduk di depanku. Kedua sikunya jatuh ke atas meja dan dia menaikkan dagunya.

“Nah, jadi.. Bagaimana? Siapa yang membiarkan apa memang, nona vampir?” tanyanya lagi tanpa sekalipun meninggalkan tatapannya padaku.

Aku dan Damis saling pandang. Damis akhirnya hanya mengangkat kedua bahunya dan aku mengerutkan keningku dengan bingung.

“Oh astaga,” ucap si bocah laki-laki berkulit kecoklatan itu dengan cepat. Dia menepuk dahinya keras dan tertawa sesudahnya.

“Betapa tidak sopannya aku. Tentu saja tak akan ada jawaban sebelum perkenalan. Jadi kalian, nona dan tuan vampir, bisa memanggilku Memnus. Semua makhluk di Tierraz memanggilku dengan nama itu, ah kecuali Luca, karena yah.. Dia bahkan sama sekali tidak pernah memanggil semua abdinya dengan nama kami kecuali memang kami cukup penting. Eh, tapi tunggu, itu juga bukan berarti bahwa aku tidak penting. Hanya saja yah, Luca belum menyadari saja.”

Kurasa wajahku dan wajah Damis jelas menampilkan ekspresi yang sama karena kami sama-sama tidak tahu bagaimana menanggapi perkenalan diri yang panjang dan tidak penting ini.

Tapi Memnus malah tertawa lagi dan memandang kami dengan geli, “Aku Memnus, bagian dari makhluk angin. Berada di bawah kendali Nerethir.”

Kali ini aku mengangguk, mencoba nampak sopan karena kurasa Memnus baru saja mempermainkan kami dengan perkenalan panjangnya yang sebelumnya.

“Jadi,” ucapnya lagi, “Apa yang sedang kalian bicarakan tadi? Aku melihat kalian bergegas pergi setelah berada di tanah pelatihan utara dan berlari ke sini.”

Aku menatap Damis lagi, tidak tahu harus menjawab apa. Di Tierraz, aku dan Damis sepakat bahwa kami akan menjaga mulut kami terlebih ketika kami berbicara dengan seseorang lain yang tidak kami kenal.

“Tidak ada apa-apa. Dan kurasa kau juga tidak perlu tahu tentang apapun.” Damis menjawab dengan praktis.

Tapi Memnus malah menggelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat di atas dadanya, “Sebenarnya, yang membuatku penasaran justru karena melihat kalian pergi ke tanah pelatihan utara. Kenapa para vampir justru repot-repot ke sana di hari awal mereka ada di kawasan hutan Merrz?”

“Memangnya apa yang aneh dengan mendatangi tempat itu?”

“Memangnya tidak ada yang memberitahu kalian?”

Aku dan Damis sama-sama diam. Sejujurnya kami tadi tiba di sana karena tersesat. Aku sedang kesal sekali waktu itu karena ternyata Victoria sudah pergi bersama kelompok lain menuju ke suatu tempat. Kupikir menjelajahi area hutan Merrz bersama Damis akan lebih baik daripada berada dalam ruangan luas bersama semua vampir lainnya hanya untuk mendengarkan ceramah tidak penting dari Reven. Bayangan Reven mengatakan kalimat omong kosongnya hari kemarin masih membuatku sangat marah. Aku tidak akan tahan berada dalam satu ruangan yang dipenuhi suaranya dalam waktu yang lama. Tidak tanpa usahaku untuk terus memakinya dengan kata-kata paling kasar di dalam kepalaku.

Beruntungnya Damis tidak menolak ketika aku menariknya keluar dari kerumunan dan menghilang dari pandangan Reven. Kami berdua malah bertaruh bahwa Reven sebenarnya tahu jika kami kabur, hanya saja dia tidak bisa menghentikan kami karena dia juga tengah sibuk berbicara hal-hal yang dianggapnya penting di hadapan seluruh vampir. Kupikir bisa saja semua yang dikatakannya tadi adalah kopian dari yang dikatakan Luca dalam pertemuan mereka semalam.

“Memangnya ada yang salah jika kami datang ke tempat pelatihan itu?”

Suara Damis membawa pikiranku kembali ke tempat ini. Dan saat aku memandang Memnus, dia tengah mengangguk dengan wajah serius.

“Tentu saja. Tempat itu adalah tempat pelatihan kelas rendah. Bahkan pesuruh dapur saja tak akan sudi ke sana. Alzarox mengizinkan makhluk-makhluk rendah itu ada di sini hanya sebagai tumbal pertama saat perang. Berdiri di barisan depan untuk melindungi barisan di belakangnya. Bukankah itu menakjubkan?”

Memnus tersenyum dengan bangga sementara aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya aku menemukan alasan kenapa makhluk-makhluk tadi bertindak seperti tanpa punya akal pikiran, karena mereka memang tidak punya itu semua. Bagaimana bisa mereka memiliki akal pikiran jika mereka mau-mau saja dijadikan tumbal oleh Alzatox dalam perang yang akan datang nanti, tanpa diperlakukan dengan baik. Prajurit-prajurit lain pun juga memandang rendah pada mereka.

“Kalian tidak pernah peduli pada apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku pelan.

Entah kenapa aku masih tak menyukai hal-hal seperti ini. Mengorbankan individu atau kelompok lain untuk mencapai tujuan mereka. Aku tahu, bahkan Reven sendiri pernah melakukan hal yang sama ketika dia mengorbankan para vampir baru untuk bisa masuk wilayah kerajaan utama bangsa manusia. Tapi–aku mengerutkan kening dengan lelah–aku masih tidak menyukai ide ini. Apalagi dalam skala sebesar itu. Apa aku pernah menyebutkan seberapa banyak makhluk yang ada di tanah pelatihan utara tadi? Mereka.. Mungkin sampai belasan ribu. Berkumpul di tanah lapang yang sangat luas dalam kelompok-kelompok tak teratur. Berlatih atau mungkin bertarung dengan cara bar-bar dan bodoh tanpa satu orang pun peduli pada hidup mereka.

Sebab mereka adalah tumbal perang. Darah mereka adalah darah pertama yang akan membasahi tanah. Mereka adalah perisai pertama dalam sebuah medan pertempuran. Mereka.. Adalah perisai pertama. Perisai?

Victoria, benar-benar membawa perisai pelindung yang berguna untukku

Ucapan Luca semalam mendadak saja memenuhi pikiranku dan aku merasa semakin tidak nyaman dengan semua pemikiran lain yang muncul di kepalaku.

“Kenapa mendadak wajahmu berubah menjadi sekeruh itu, nona vampir?”

Aku mendongak, menarik nafas panjang dan berharap tak mengucapkan apapun pada makhluk angin di depanku itu. Tapi mulutku bakal bertindak lebih cepat dari otakku ketika aku sadar aku baru saja mendengar suaraku sendiri bertanya pada Memnus yang nampak sangat tertarik dengan aku dan Damis.

“Kenapa kau bersikap ramah kepada kami? Sejak awal ketika Edna datang kepada kami, tak satupun makhluk di Tierraz yang nampak menyambut kedatangan kembali kami ke dunia ini. Bahkan mereka menyeret kami ke sini hanya sebagai tambahan pasukan bagi Alzarox ketika perang nanti.”

Memnus mengangkat kedua bahunya dengan santai, “Tidak tahu. Anggap saja aku lain dari kebanyakkan makhluk Tierraz. Selain itu, aku punya firasat bagus tentangmu, non—“

“Sherena. Itu namaku. Dan ini Damis. Jadi berhenti memanggil kami berdua dengan nona atau tuan vampir. Itu terdengar menjengkelkan.” potongku cepat, setengah kesal pada semua ekspresi riang berlebihan di wajah Memnus.

“Baiklah, Sherena,” ucap Memnus dengan geli, “Boleh kulanjutkan?”

Aku mengangguk dan melirik ke arah Damis setelahnya begitu mendengar tawa pelannya yang tertahan. Dia mengangguk dan mengangkat satu tangannya dengan canggung setelah aku melotot sebal padanya.

“Sampai mana tadi? Ah ya, firasat. Kau mungkin tidak menyadarinya tapi aku juga salah satu prajurit yang datang di bawah pimpinan Nerethir. Aku melihatmu sejak awal dan menyadari hal yang sama seperti yang dikatakanNerethir padamu. Kau punya bau khas penyihir. Perlu kau tahu, nona, bagi makhluk angin seperti kami, setiap makhluk Tierraz punya bau khasnya masing-masing. Setiap bau yang tak akan bisa disamai oleh makhluk lainnya.”

Aku berusaha memandang Memnus dengan tatapan biasa meskipun jantungku berdebar keras dan cepat. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Memnus mengatakan semua itu padaku. Tidak seperti Nerethir yang masih terkesan menimbang dan ragu, Memnus terdengar yakin, malah seolah dia menggodaku. Mempermainkanku dengan kata-katanya sampai aku tak punya pilihan selain mengakuinya lebih dulu.

“Kau salah!” ucapku keras. Aku berharap itu tak terdengar seperti teriakan meskipun aku agak meragukannya.

Dia tersenyum, masih memandangku dengan seringainya yang seolah memperolokku. Aku tidak bisa seperti ini terus. Tidak di hari-hari pertamaku dan aku sudah harus ditendang selesai dari Tierraz.

“Kami punya urusan yang lain yang harus kami kerjakan.” aku langsung menarik tangan Damis dan menyeretnya pergi. Menjauh dari makhluk angin sialan itu sebelum mulutku sendiri mengkhianatiku dan melontarkan semua fakta padanya.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >> 

Mau Baca Lainnya?

24 Comments

  1. Jadi, Memnus dari jaman belum jadi budak Dave udah kayak gitu kelakuannya. :v Well, aku mikirnya Rena mungkin berhubungan sama peri penjaga Xexa ._. Entah kenapa mikirnya kayak gitu. :3 Masih rada ga mundeng sih sama maksud perisai pelindung, dan tambah bingung kenapa Luca bohongin Edna. :3

    Sukses ya,Kak, buat skripsinya. Moga cepet lulus dengan hasil memuaskan dan RU, Another Story plus Xexa bisa diupdate cepet. :v

  2. Bacanya berasa singkat banget,karena emng cerita ini aku tunggu tunggu banget..
    Kemana mana rena nyeret damis wkwk
    Bingung jg dg perkataan luca dan memnus

  3. Akhirnya apdate juga

    Jadi luca tau kalo si rena itu keturunan penyihir ? Tapi kok di part ini aeegan rena reven kurang kak
    Ayo dong adegan rena reven banyakin kak biar makin seru hehehehe

  4. Di tunggu" akhirnya muncul jg, ku do'ain smoga skripsinya cpt selesai,kak…
    Perisai pelindung? Macam Bella di twilight ataw Rena jd perisai(tumbal peperangan)… Jgn yg terakhir deh,kasian… Kak semangat… Di tunggu next partnya…

  5. Di tunggu" akhirnya muncul jg, ku do'ain smoga skripsinya cpt selesai,kak…
    Perisai pelindung? Macam Bella di twilight ataw Rena jd perisai(tumbal peperangan)… Jgn yg terakhir deh,kasian… Kak semangat… Di tunggu next partnya…

  6. Mungkinkah rana itu putri penjaga xexa…dan belahan jiwanya yang masih hidup yang di cari dave itu reven….tambah penasaran…

    Good luck mba buat skripsinya..semangat!! n keep writing!!

  7. Mungkinkah rana itu putri penjaga xexa…dan belahan jiwanya yang masih hidup yang di cari dave itu reven….tambah penasaran…

    Good luck mba buat skripsinya..semangat!! n keep writing!!

  8. Masih abu-abu sama apa maksud Luca dengan perisai pelindung itu.Belum bisa menebak ke arah mana tapi udah ada bayangan hehehe dan juga berasa kangen sama adegan Rena Reven,part ini Reven sama Rena gak bersinggungan sama sekali.Dan juga sukses buat skripsinya yah kak,semoga lancar,

    (Puput_Kiki)

  9. Woooooow…
    Sumpah kak aku gak bisa ngedeskripsiin kata kataku ini keren bangetttt jadi pengen ru juga di publish kenapa gak semua yang bersangkutan dengan hv ajh di publish semoga aminnnn. Dan sukses yah buat kakak ngerjain skripsinya.

    Amin…

  10. Hi kak, aku newbie nih hihi. Suka banget sama cerita ini sampai ngebaca ulang yg half vampire wkwk. Berharap banget kalo cerita kakak bisa diterbitin dan aku bakalan jadi orang yang kesekian yang bakalan teriak2 ga jelas dan buru2 beli novel kakak hihihi. Ohya semangat ya kak nulis nya.. Aku ngerti kok apa yang kakak rasain karna aku juga sibuk banget sama kuliah ku huhu tapi klo buat cerita kakak sih aku bakalan curi2 waktu buat baca wkwk. Ohya kak, aku orangnya suka lupaan jadi semoga kakak ngelanjutin ceritanya ga lama2 banget yaa hihihi..

  11. enggak sia-sia nunggu lama akhirnyaaaaaaa update jugaaa
    kak kangen reven.
    semoga ada waktu luang dan semoga skripsinya lancar jadi ada waktuluang buat nglanjutin hihihi
    semangat terus ya kak nulisnya 🙂

  12. Penasaran dgn penghujung ceritanya
    Masih selalu penuh dgn teka-teki
    Aku juga kangen sama rena-reven, kangen dgn keakraban mereka dan rasa saling peduli antar mereka berdua, tapi kayanya gak bakal kesampean deh nih, soalnyaa hati Rena sudah menjadi keras seperti batu . . T_T

    Sukses ya kak buat skripsinya semoga diberi kelancaran sampai akhir ♥★ 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.