Remember Us – Pilihan

Haloo. Haloo… aku datang lagi. Maaf sekali jika postingan semua ceritaku sangat terlambat. Aku lagi malas sekali untuk menulis, soalnya ada setumpuk buku baru yang harus kubaca dan aku tidak bisa meninggalkan mereka. Muahahahha..

Well, karena yang uda ada banyak cuma RU, jadi ini yang bisa kuupload. Lainnya aku harus nulis atau ngedit dulu. Jadi untuk Xexa, Another atau yang lainnya sabar duluuuu yaa.. 😀 😀

Ah aku ada satu pertanyaan.. jika aku menerbitkan HALF VAMPIRE secara indie (self publishing), apakah ada diantara kalian yang tertarik membelinya? Sebab aku berencana melakukan itu. Sekarang HV juga sedang masuk dalam daftar edit.

Jawab pertanyaanku di kolom komentar ya, aku ingin tahu jawaban dari kalian.

Ah astaga, aku mengoceh banyak. Hehehe maaf.. Nah, selamat membaca… 😀

luv,

amouraxexa

***

“Kita akan kalah. Kau tahu dengan jelas apa yang akan terjadi jika kita tetap melakukan ini. Kita kehilangan semuanya, Rena mati dan kau.. akan menjadi vampir yang kosong karena kehilangan belahan jiwamu. Kau akan berakhir dengan mengenaskan. Aku merasakannya. Aku melihat samar-samar semuanya.” Suara keras Victoria memaksaku mengangkat wajahku dengan lelah. Entah ini sudah berapa kali dia mengatakan hal itu kepadaku.

“Aku tahu.” Ucapku pada akhirnya.

Victoria menatapku dengan matanya yang tajam, dia tahu aku belum benar-benar menyelesaikan kalimatku dan dia menunggu.

“Tapi aku punya rencana lain..” ucapku perlahan.

***

“Kumpulkan semua vampir baru esok hari dan katakan rencana pertama kita pada mereka. Dan malam nanti, semua vampir kuno dan kelompok lain di dalam daftar ini harus sudah ada di halaman kastil.”

Michael menerima perkamen lusuh yang kuberikan padanya dan dia mengangguk.

“Lakukan dengan hati-hati.”

“Pasti.” Ucapnya sebelum dia pergi meninggalkan gua ini.

Aku menghela nafas, lalu mengalihkan pandanganku pada James, “Kau sudah melakukannya?”

James mengangguk, “Ya. Dan mereka dengan bodoh menerima semua yang kukatakan dengan begitu saja. Seolah-olah semua ini memang mungkin terjadi bagi kita.”

“Kudengar Elsass Freesel bergabung dengan mereka?” suara Victoria yang duduk di dampingku membuat perhatian kami semua berpusat padanya.

James kembali mengangguk, “Seorang darah rendah akan dengan mudah melakukan kesepakatan seperti itu.”

“Tidak diragukan.” Victoria tersenyum penuh ejekan.

Aku mengabaikannya dan memandang ke arah Illys yang sedari tadi hanya mengamati kami. Dia menyadari pandanganku dan melemparkan senyum ke arahku. Aku tahu itu bukan senyum yang berarti segalanya akan baik-baik saja, “Apa yang kau tahu, Illys?”

Dia mendesah berat, “Semua ini, meski terlihat berjalan begitu normal, tetap membutuhkan harga pengorbanan yang mahal.” Ucapnya tegas, “Terlebih untuk kau dan Damis—“

“Aku?” potong Damis cepat dengan kening berkerut dalam.

Aku memberikan pertanda padanya agar diam dan membiarkan Illys melanjutkan ucapannya, “Akan ada jiwa yang kehilangan dan menjadi kosong.” Kemudian wajahnya penuh penyesalan. Dia hanya tahu sebatas itu, tanpa semua kejelasan yang bisa saja sangat membantu.

Victoria menatapku, dan aku mengerti makna tatapannya tapi aku diam.

“Kau tetap tidak ingin memberitahu Rena tentang ini?” kali ini suara Damis mengusikku. Aku tidak tahan lagi dan langsung bangkit dari kursiku.

“Lebih baik kalian menyiapkan semua yang telah menjadi tugas kalian dengan baik sekarang. Aku harus mematangkan segalanya untuk malam nanti.” Ucapku cepat dan langsung meninggalkan gua ini.

Aku sadar semua mata di dalam sana menatapku penuh tanda tanya namun aku sudah tidak peduli. Aku menaikkan tudung jubahku karena matahari sedang bersinar dengan terik di luar sana. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi, namun setidaknya, apa yang kubutuhkan sekarang adalah kesendirian. Aku butuh memikirkan semua ini dengan baik.

Atau aku.. akan berakhir dalam penyesalan seumur hidupku.

***

“Aku tidak mau melakukannya.” suara Victoria keras dan tegas, “Aku telah berjanji pada Noura bahwa aku akan membuat kalian bersama.”

“Aku mengerti. Dan kau sudah melakukan itu. Aku dan Rena memang telah bersama.”

Dia tertawa penuh kesinisan, “Bersama sejenak lalu kembali berpisah. Dan ini bahkan lebih buruk dari perpisahan. Kau akan kehilangan dia, Reven. Kau akan kehilangan dia dan semua perasaan yang kalian miliki.”

Tanpa Victoria mengatakan itu. Akupun telah tahu semua konsekuensi yang akan kuhadapi jika aku memilih jalan ini. Namun apalagi yang bisa kulakukan? Tidak ada. Aku lebih memilih melihatnya hidup dan baik-baik saja daripada melihatnya tersiksa menuju kematiannya.

“Reven, pikirkan kembali semua ini. Melepaskan ikatan kuno ini butuh harga mahal. Kau akan berubah seperti Vlad, dan Rena.. dia akan seperti diriku? Apakah menurutmu dia sanggup menjalani hidup seperti aku?”

Aku mendesah pasrah, “Aku tidak punya pilihan, Vic.”

“Kalian akan kehilangan semua kenangan yang kalian miliki bersama. Kalian tidak akan saling mengingat. Dan yang terburuk, bahkan jika pada akhirnya kalian tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tidak akan ada perasaan apapun yang tertinggal.”

Aku memandang Victoria, wajahnya terlihat begitu serius.

“Kekosongan, Reven. Seolah-olah semua perasaan di masa lalu hanya ilusi. Dan kau terbangun, hanya tahu bahwa semua itu maya. Kau sendirian dan memiliki perasaan apapun.”

Aku memejamkan mataku, “Cukup, Victoria.” Kataku keras.

“Tapi kau harus mendeng—“

“Tolong.” Ucapku putus asa. Ini pertama kalinya aku mengucapkan kata ini sepanjang kehidupanku. Victoria paham benar itu dan dia akhirnya menghentikan semua ucapannya.

 “Aku tidak bisa kehilangan Rena dan begitu pula sebaliknya. Dan kami tidak boleh mati bersama. Hanya ini satu-satunya jalan. Hanya tiga orang yang bisa melakukan ritual ini, Vlad, kau dan aku. Vlad sudah mati. Dan sekarang hanya tinggal kita berdua. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian karena aku tahu aku akan gagal. Jadi aku membutuhkanmu. Aku mohon, sekali ini.. dan jangan katakan apapun lagi. Aku sudah cukup tersiksa.”

Victoria masih memandangku. Bermenit-menit berlalu hingga akhirnya dia mengangguk pelan, “Jika ini memang keputusanmu.”

***

Hanya beberapa hari dan semuanya akan berakhir. Aku memandang tubuhnya dari kejauhan, menyamarkan auraku, dan tetap diam dalam posisi ini. Dia tidak pernah berhenti mengunjungi tempat ini. Dan di depan nisan batu itu, dia akan menangis. Menangis dalam waktu yang lama hingga apa yang membebani pikirannya menghilang.

Tapi aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa melihat Rena menangis lebih lama lagi. Dia sudah berjam-jam menangis seperti itu. Jika aku tidak menghentikannya, dia akan melakukan hal itu sampai berhari-hari.

Aku melangkah maju dan mengembalikan auraku agar dia bisa merasakan kehadiranku.

“Rena..” aku menyentuh lembut pundakknya dan dia menatapku. Wajahnya sudah basah dan kotor oleh tanah. Aku menunduk, menangkup wajahnya dan mengusapnya lembut. Menyingkirkan semua tanah yang menempel di sana.

“Ayo pulang.” Bisikku.

Dia menggeleg, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”

Aku merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakannya. Sherenaku tidak pernah bahagia sejak saat itu. Dia penuh dengan duka. Dia..

Dan aku hanya bisa mengangguk, “Pasti.” Jawabku seraya menariknya ke dalam pelukanku. Membiarkan dia terisak semakin dalam di dalam dekapanku.

Aku akan membuat mereka membayar semua penderitaanmu, Rena. Aku janji.

***

“Ada apa ini, Rev?” dia berteriak penuh kemarahan kepadaku. Tapi aku mengerti. Aku menyembunyikan banyak hal darinya, dan aku tidak akan pernah mengatakan semua itu kepadanya. Bahkan jika memang diperlukan, aku akan mengabarkan kebohongan kepadanya.

Aku menghela nafas, semua ini demi dirinya. Aku menggumamkan kalimat itu baik-baik di dalam kepalaku.

“Duduklah Rena.” Ucapku pelan sambil menyentuh kedua bahuku, membimbingnya duduk di sampingku.

“Bukankah kau selalu mengatakan bahwa kau ingin mereka membayar semua yang telah terjadi pada kaum kita dan pada Ar?” aku menatapnya tajam, meneliti. Dia balas menatapku degan tidak mengerti, “Kepada mereka, para slayer dan heta yang telah menghancurkan kehidupan kita. Aku bersumpah demi dirimu, Rena, dan demi kaumku. Aku akan membuat mereka membayar segalanya, seperti yang kau inginkan. Dan selama ini aku merencanakan semuanya. Mempertimbangkan setiap kemungkinan dan peluang yang ada. Bersama semua kaumku, kami semua menunggu sampai peluang terbesar bagi kami datang. Dan sekarang..”

Aku mengenggam tangannya, mengunci tatapannya dan berkata dengan penuh keyakinan, “Inilah saatnya.”

***

“Kau sudah lihat. Aku melakukan semua yang kau minta, Reven. Lalu apa lagi sekarang. Aku bahkan mengatakan sebagian kebohongan kepadanya. Kita berhasil dan dia sudah mengalah. Dia tidak akan terlibat dalam penyerangan bohongan ini. Lalu apa lagi yang akan kau minta sekarang?”

Aku menyentuh lengan Victoria, “Ini tidak cukup.”

Victoria menggeleng, melemparkan pandangannya ke arah sungai lebar di depan kami. Dia mendesah berat, “Kau benar-benar sudah bertekad bulat pada pilihanmu, hah?”

Aku mengangguk, “Ini satu-satunya yang bisa kulakukan untuk melindungi dia, Vic.”

“Terkadang aku berpikir kau dan Vlad memiliki sifat yang sama.”

“Kami berbeda.” Ucapku tegas.

“Aku tahu.” Sela Victoria, “Tapi tetap saja ini beresiko. Kau tidak akan tahu apa yang terjadi jika dia terbangun nanti. Dia akan membencimu. Dan jika dia tahu semua ini, dia tidak akan pernah memaafkanmu.”

Aku mengangguk lagi, “Aku mengerti konsekuensinya, Victoria.”

“Lalu kenapa kau tidak membiarkan dia terbunuh saja. Pada akhirnya kalian sudah tidak memiliki perasaan satu sama lain lagi. Jadi mengapa repot-repot membuatnya tertidur seperti itu?”

Aku membuang pandanganku dari tatapan mata Victoria yang menuntut semua jawaban dariku. Aku tidak bisa. Membiarkan seseorang yang sangat aku cintai terbunuh? Satu-satunya orang yang sampai matipun akan tetap menjadi pusat utama pikiranku? Kelemahanku? Tidak. Aku mungkin bisa saja membiarkan itu terjadi, sebab segalanya akan mudah baginya. Namun tidak. Aku tidak akan melakukannya.

Entah kenapa aku tahu bahwa Sherena akan menjadi seseorang yang bisa membuatku kembali terikat kepadanya nanti, meskipun ikatan kami sebagai belahan jiwa terputus. Dengan sedikit keyakinan itu, aku berpegang teguh pada pilihan bahwa dia harus hidup dan membawaku kembali padanya. Dia bisa melakukannya.

“Dia akan kembali padaku. Kami akan kembali bersama. Setelah semua masa kegelapan ini berakhir. Kami akan mengingat satu sama lain lagi.”

“Dan jika tidak?”

Aku menoleh cepat ke arah Victoria, “Ingat, Rev. Dia bisa saja menemukan laki-laki lain ketika dia terbangun nanti. Perempuan yang telah terbebas dari belahan jiwanya memiliki kesempatan lebih besar untuk berlari ke arah laki-laki manapun.”

“Sisa jiwa Noura dalam tubuhnyalah yang membuat dia dengan mudah bisa jatuh cinta kepadamu. Ada sisa perasaan Noura di dalamnya. Tapi nanti, dia hanya akan menjadi seutuhnya dia. Dan apakah kau pikir mudah membuatnya kembali kepadamu lagi, bahkan ketika kaupun sudah kehilangan itu?”

Aku diam. Aku tidak tahu.

Aku hanya percaya bahwa Rena akan kembali padaku. Aku tidak tahu bagaimana jika ternyata aku kalah dan kami berakhir dengan beanr-benar kehilangan satu sama lain.

Victoria memelukku dan berbisik, “Pikirkan ini baik-baik, Reven. Sekarang aku akan pergi memberitahu Rena firasat palsu kita. Tidak ada kata terlambat sampai kita benar-benar melakukan ritual itu.”

***

“Bagaimana jika kau kehilangan Lyra dalam penyerangan kali ini, Damis?”

Damis menatapku dan dia menggeleng, “Lyra akan bisa melakukan tugasnya.”

“Ini bukan tugas yang mudah. Tidak akan ada yang membantu dia di sana nanti. Tidak juga aku. Kita hanya akan bersama dengan para vampir lemah. Meskipun kau juga memiliki kesempatan yang sama untuk mati atau terluka, aku juga tidak akan melakukan apapun. Aku tidak akan menyia-siakan semua yang telah kita kerjakan hanya utuk menjaga kalian.” Ucapku dingin dengan mata menatap langsung kekedua bola mata Damis.

Aku bisa melihat keraguan di sana, tapi dia mengangguk, “Ini adalah tugas kita. Aku tidak akan mundur. Bahkan jika aku meminta Lyra untuk mundur demi keselamatannya. Dia tidak akan melakukannya.”

Aku mendesah, “Setidaknya aku telah memberimu dan Lyra kesempatan untuk terhindar dari petaka besar.”

Damis tersenyum tipis, “Aku dan Lyra telah sepakat akan menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.”

“Jika itu pilihanmu.” Ucapku datar sebelum meninggalkannya untuk mencari James.

***

Victoria sudah melakukannya. Aku bisa melihat itu dari tatapan penuh kemarahan yang dilontarkan Rena kepadaku sepanjang hari ini. Dia menolak berbicara denganku meski aku bisa mendengar beberapa kali dia memakiku dengan penuh kemarahan.

Tapi aku mengerti. Hanya saja aku tidak bisa membiarkan dia menyia-siakan sedikit waktu yang kami miliki hanya untuk saling berdiam. Aku begitu ingin memeluknya, menciumnya dan menyakinkan diriku sendiri bahwa kami akan baik-baik saja. Bahwa segala yang kulakukan memang demi kebaikannya.

Suara aliran angin yang beriak tenang di depan kami menjadi satu-satunya suara diantara kami. Rena hanya diam dan aku entah kenapa kehilangan keberanianku untuk bahkan sekedar memulai percakapan dengannya. Kami sudah lama saling diam begini sejak aku menyusulnya ke tempat ini.

Cahaya bulan menyinari kami semua dan seluruh tubuhku gemetar. Bagaimana bisa aku hanya berdiri diam seperti ini ketika aku memiliki Rena di sampingku? Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan memiliki kesempatan seperti ini lagi. Aku menoleh ke arahnya, namun dia begitu kaku dan bahkan tidak menyadari tatapanku.

Aku menghela nafas, menyentuh telapak tangannya yang dingin dan menyisipkan jari-jariku diantara celah jari-jarinya. Aku mengenggam tangannya erat sekali dan aku merasakan keberanian menelusuri darahku. Hanya dengan mengenggam tangannya saja, semua ketakutanku menghilang.

Dia adalah segalaku.

“Sherena..” Ucapku pelan sekali. Sherena, Sherena, Sherena.. aku ingin mengucapkan namanya ribuan kali agar aku ingat bahwa aku akan terus memncintai perempuan ini. Aku mencintainya. Begitu dalam sampai rasanya dadaku sesak.

Tidak ada kata terlambat sampai kita benar-benar melakukan ritual itu.

Aku tergoda. Aku benar-benar tidak ingin kami kehilangan perasaan masing-masing kami. Aku tidak menginginkannya. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Aku melihat dia menangis, dan semua pertahananku roboh.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Dia menangis karena dia berpikir akan kehilanganku dalam penyerangan ini. Tapi aku—aku bisa merasakan seluruh tubuhku menolak—akan kehilangannya karena aku yang memilih itu. Dia menangis makin keras dan aku mendekapnya semakin erat. Mencium semua aroma rambutnya dna mengingatnya kuat-kuat. Inilah aroma perempuan yang kucintai. Ini adalah aromanya. Aku harus mengingatnya. Aku harus bisa mengingatnya sampai nanti.

Tangannya melingkupinya, mengusap punggungku dengan lembut, “Ini hanya untuk sementara. Tenanglah dan percaya padaku, ini tidak akan apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.” Paparku pelan. Namun aku tahu, aku sendiri bahkan tidak percaya pada apa yang kukatakan.

“Tapi.. tapi bagaimana jika Victoria benar. Bagaimana jika aku harus kehilanganmu? Bagaimana aku bisa melewati kehidupanku jika tidak ada dirimu di dekatku? Bagaimana bisa aku terus bertahan hidup tanpa dirimu, Reven?”

Aku juga tidak bisa, Rena. Aku juga tidak akan bisa.

Aku melepas pelukanku dan menangkup wajahnya sehingga dia hanya akan melihat ke arahku. Aku melihat wajah basah itu lagi. mata coklat yang penuh air mata itu lagi. aku tidak tahan lagi. Aku mengecupnya, mengecup mata itu dan menghilangkan semua sisa air matanya.

Jangan menangis lagi. Jangan pernah menangis lagi karena aku.

“Bahkan jika Victoria benar, aku akan melakukan segala cara untuk bisa menemukan jalan kembali padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Tidak akan pernah.”

Dan berjanjilah kau juga akan melakukan hal yang sama Rena. Bawa aku juga kembali padamu. Buatlah aku mengingat semua tentang kita lagi nanti. Berjanjilah..

“Reven.. “ Rena kehilangan semua kata-kata dalam mulutnya dan berhambur ke dalam pelukanku. Aku mendekapnya kuat-kuat.

Kita akan mengingat satu sama lain nanti, iyakan Rena?

***

“Ingat janjimu kepadaku.” Dia menatapku.

“Aku akan selalu menemukan jalan kembali kepadamu.”

Dia tersenyum dan mengecup bibirku singkat. Terlalu singkat. Aku ingin menciumnya lebih lama. Tapi aku tahu aku tidak boleh melakukan itu, atau aku akan membuat dia semakin ragu untuk pergi. Jika dia tidak pergi, aku dalam masalah besar.

“Hati-hati.”

“Kau juga.”

Lalu dia melesat pergi dengan cepat. Aku memandang ke arah dia pergi dalam diam dan lama. Damis menepuk pundakku, “Sekarang, kita mulai semuanya.”

Aku mengangguk, “Ya, persiapkan segala yang kita butuhkan. Rencana ini tidak boleh gagal.”

***

Segalanya memburuk. Melenceng dari rencana tapi tetap dalam kontrol. Hanya saja aku tidak menyangka kalau ini benar-benar akan terjadi. Para manusia ini memang telah mempersiapkan segalanya. Semua senjata perak yang mereka gunakan berbeda, aku bisa merasakan bagaimana aura perak yang menguar sangat kuat dan menyakitkan.

Aku menatap Elsass dan Elior yang berdiri beberapa meter dariku. Mereka menatapku, ingin melihat apakah siksaan yang dilakukan para slayer itu berguna padaku. Namun aku tak akan memberikan mereka kepuasan itu. Siksaan ini bukan apa-apa bagiku meskipun ini tetap saja menyakitkan. Aku diam dan menatap mereka dengan sangat dingin. Kukunci tatapanku hanya pada mereka berdua.

Elsass jelas tahu itu tidak berguna kepadaku. Dia mengatakan itu kepada Elior. Dan aku muak melihat persekutuan mereka. Lihatlah nanti Elsass, lihatlah nanti bagaimana para manusia akan berbalik mengkhianatimu. Harusnya manusia serigala lebih tahu bahwa sejatinya manusia bukan makhluk yang akan benar-benar bisa memegang janji mereka.

Aku mendengarkan jeritan-jeritan dan permintaan tolong di belakangku. Tapi aku bergeming. Semua vampir di belakangku sedang disiksa. Tapi aku tidak peduli. Mereka memang ada di sini untuk dikorbankan. Para vampir lemah memang tidak pantas bertahan. Jika apa yang dikatakan Illys memang benar.

Kita hanya satuan kecil dari jutaan. Kita akan terlupakan. Dari sebuah kisah nyata menjadi mitos. Dari mitos menjadi legenda. Legenda yang kebenarannya tidak akan pernah dipertanyakan lagi. Karena kita hanya terasa seperti omong kosong. Kita hanya akan menjadi lelucon di masa depan.

Aku menatap Elsass dan Elios makin tajam. Jika Illys memang benar, maka hanya vampir yang kuat yang pantas bertahan. Dan semua vampir lemah di belakangku itu memang tak patut untuk menerima kesempatan untuk melihat masa depan kami.

“Rev—“

Suara Damis membuyarkan konsentrasiku. Aku bisa mendengarnya. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu apa yang dialaminya. Tapi aku sudah memperingatkannya. Aku telah memberitahu dia apa yang mungkin terjadi di sini. Dan dia sudah memberiku jawabannya.

“Lyra.. kumohon.. selamatkan dia. Kumohon..”

Aku tidak menoleh, tidak bereaksi apapun.

Kau sudah tahu apa yang akan kulakukan, Damis.

Tidak ada.

***

“Kau sudah melakukannya?”

James mengangguk, “Mereka membawanya ke dalam ruangan yang sama dengan Lyra Corbis. Dia baik-baik saja. Tapi aku tidak yakin dengan kondisi Lyra. Dia mungkin akan mati. Perak-perak itu—“

“Aku tahu.” Sergahku.

“Lakukan saja apa yang telah kuperintahkan kepadamu. Sekarang pergilah dan awasi semuanya. Kita tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan permainan ini.”

James kembali mengangguk, sebelum dia meninggalkan ruangan tempat aku ditahan dengan sangat cepat. Aku menarik nafas panjang begitu James pergi. Menatap semua rantai perak entah peralatan perak apalagi yang digunakan para manusia untuk menahanku di sini.

Mereka hanya tidak tahu bahwa aku memberikan mereka kesempatan melakukan itu kepadaku. Jika tidak, aku tidak akan pernah berada di sini. Hanya satu gerakan dan aku bisa membebaskan diriku. Aku menatap lingkaran menghitam di kulitku yang terjerat perak-perak itu. Aku harus bersabar. Aku harus menunggu. Ini tidak akan lama.

Tidak akan lama. Dan setelahnya, aku akan menghadapi tantanganku yang sebenarnya.

Rena..

Aku memejamkan mataku. Aku tidak tahu apa aku siap menghadapinya.

***

Aku mendengarnya, aku merasakannya. Mereka semua sudah di sini. Aku melepaskan diri dari semua perak yang merantai tubuhku kuat-kuat. Ketika aku selesai melakukan itu, aku bisa melihat pintu ruang tahananku terbuka.

“Kenapa kau lama sekali?”

Victoria menatapku, “Aku memberimu waktu untuk berpikir lagi. Ini kesempatan terakhirmu, Reven. Jika kali ini jawabanmu tidak berubah, maka sumpahku terhadap Noura selesai.”

“Sumpah?” keningku berkerut, aku melangkah maju ke arah Victoria.

“Bahwa aku akan membuat kalian tetap bersama sampai salah satu dari kalian yang memang benar-benar menginginkan pergi.”

Aku menghela nafas, “Kau bebas dari sumpahmu, Victoria.” Ucapku cepat seraya berjalan melewatinya.

***

Darah, pertarungan dan kekacauan. Aku tidak pernah benar-benar merasakan keadaan seperti ini lagi sejak penyerangan para slayer di kastil. Sekarang semua itu seperti terulang, namun kendali berada di dalam tanganku.

Semua slayer, heta atau manusia serigala yang berada di dalam kastil tidak akan pernah bisa mengalahkan kami. Tidak akan pertolongan dari luar. Semua akses masuk sudah tertutup dan mereka hanya bisa bertarung sampai salah satu dari mereka atau kami yang mati.

Aku melemparkan tubuh tak berbentuk yang ada di tanganku dengan marah. Semua kebencian dan kemarahanku berkumpul menjadi satu. Aku bisa mencium seluruh darah di atas kulitku, yang bukan darahku melainkan darah dari setiap lawan yang kubunuh. Amis darah menusuk hidungku dan aku bahkan tidak tergoda menghisap sedikitpun kecuali langsung membunuh mereka.

Semua semakin kacau. Pertarungan dimana-mana sementara aku harus segera melakukan sesuatu. Aku menarik lengan Victoria—menghentikannya membunuh seorang manusia serigal yang sudah diambang kematian—dan membawanya mendekat kepadaku.

“Sekarang, bawa Rena pergi dari sini. Aku akan menyusulmu ke sana setelah semua urusan di sini selesai.”

Victoria menatapku, kupikir dia akan membantah namun aku malah melihat senyumnya, “Dengan senang hati.” Ucapnya sebelum menyingkir dariku.

Aku memandang Victoria. Sebentar lagi, pertarunganku yang sebenarnya akan terjadi.

***

Aku menarik Damis dari kegilaannya membunuh semua makhluk—kecuali vampir—yang ada di depannya, dengan paksa, “Kita pergi.”

Damis memandangku dengan tatapan paling mengerikan yang pernah dia berikan kepadaku, “Tidak.” Desisnya, “Aku akan membalas kematian Lyra. Aku akan membunuh mereka semua.”

“Kau sudah melakukannya. Sekarang kita harus pergi sebelum semua bantuan dari segala penjuru datang ke sini. Kita kalah jumlah.”

Tapi Damis meraung marah dan aku melepaskannya, “Aku sudah membunuh Elior untukmu.” Aku berteriak, kehilangan kesabaran menghadapinya. Aku menunjuk ke arah potongan kepala tak jauh dari tempat kami berdebat.

Damis menatap ke sana dan aku melihat sudut matanya basah, “Lyra seharusnya melihat kepala sialan itu.”

Aku hanya bisa mengangguk, “Sekarang ikut denganku, yang lainnya sudah pergi.” Ucapku pelan dan untungnya Damis menurut. Mengikuti pergi dengan cepat sebelum bantuan dari pihak lain datang ke kastil ini.

Kami menang. Semuanya mati. Menyisakan hanya rasku, meskipun jumlahnya tak banyak. Tapi aku puas. Aku telah membalas untuk semuanya. Ar. Lyra. Bahkan untuk mereka yang lemah, para vampir baru.

Semua yang bertahan hidup berkumpul di depan gua, menatapku. Aku maju, mengangkat wajahku menatap mereka semua.

“Awal baru untuk kita akan segera dimulai.”

***

Langkahku penuh ketakutan. Aku ragu. Aku takut bahwa aku tidak bisa melakukan ini semua. Aku sudah menyamarkan auraku jauh sebelum aku mencapai tempat ini. Maka ketika kulangkahkan kakiku perlahan, menuruni undakan batu berlumut di depanku, aku tahu tak satupun dari mereka menyadari keberadaanku di sini.

“Tidak!” aku mendengar suara jeritan Rena, “Kau…”

Aku berhenti di ubeberapa undakan terakhir dan melihat semuanya.

Victoria tersenyum, menyentuh pipi Rena dengan jari-jarinya. Aku melihat bagaimana Rena menggeleng keras namun dengan tubuh kaku tak bergerak. Victoria melakukan itu lagi?

“Jangan.. jangan berani-berani kau melakukan itu kepadaku. Kau tidak bisa. Tidak boleh. Aku mencintai Reven dan dia juga mencintaiku, Victoria. Kau mendukung kami. Kau.. kau.. tidak boleh..”

Ya, Rena.. aku mencintaimu tapi kami harus melakukan ini.

“Aku tidak pernah menyarankan ini, Rena. Tidak pernah. Bukan aku yang menginginkan hal ini terjadi padamu. Sesungguhnya aku bahkan bisa menolerir dirimu sebagai pasangan Reven. Aku bisa saja diam.”

Dia menggeleng, sepenuhnya tidak mempercayai apa yang dikatakan Victoria. Tepat ketika itu aku merasakan rasa sakit yang dalam di dadaku. Apakah dia akan memaafkanku?

“Jangan membohongiku lagi. Kumohon Victoria. Lakukan apapun. Namun jangan pernah pisahkan aku dengan Reven. Jangan pernah.. aku tidak bisa. Aku tidak bisa jika tidak dengannya. Aku mohon..”

Victoria mendesah, “Tapi memang bukan aku yang menginginkan ini. Melainkan—“

Sudah cukup. Aku tidak akan membuat ini lebih lama lagi untuknya. Aku tidak bisa melihatnya dalam keadaan seperti itu. Aku melangkah pasti.

“Aku yang meminta Victoria melakukannya.”ucapku tanpa ada keraguan sedikitpun. Sekarang lihat betapa pembohongnya aku. Aku bahkan bisa merasakan bagaimana rasa gugup itu mengaliri seluruh tubuhku. Terlebih ketika sepasang mata coklat terang itu memandangku dengan tatapan tidak percaya.

Tatapan paling menyedihkan yang pernah dia berikan kepadaku.

“Reven.”

Aku bisa mendengar semua kerinduan dan cintanya kepadaku dari cara dia memanggil namaku. Dalam detik yang sama, aku berusaha dengan keras menahan diriku agar aku tidak berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

Tapi aku tidak bisa. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku harus menguatkan diriku. Dengan pelan aku melangkah ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan paling dingin dan asing yang bisa kuperlihatkan kepadanya.

“Reven..”  dia memanggil namaku lagi. Aku tidak menunjukkan reaksi apapun. Kuhentikan langkahku tepat di ujung undakan rendah menuju ke tempatku

“Apa maksudnya ini?”

Aku bisa melihat kilatan di matanya. Kekecewaan.  Lalu dengan perlahan, aku bisa melihat setitik bening jatuh dari sudut matanya. Dia menatapku tanpa berkedip dan aku balas menatapnya, tanpa perasaan. Kosong.

Rena, seandainya kau tahu. Betapa besarnya usaha yang kulakukan untuk bersikap seperti ini padamu.

“Aku yang memaksa Victoria memutuskan ikatan diantara kita.” Ucapku tajam.

Aku melihat dia hancur, dari matanya yang penuh keputusasaan, “Ke..napa?” tanyanya begitu pelan.

“Aku tidak ingin menjadi lemah ketika aku harus melindungi kelompokku.”

“Apa kau pikir aku membuatmu lemah?” teriakny tak terkontrol.

“Ya.”

Dia diam. Tak bereaksi dan hanya menatapku tak percaya.

“Aku tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang seharusnya kulakukan ketika aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku tidak bisa menggunakan seluruh kemampuan dan kekuatanku ketika aku tidak fokus. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku memiliki tanggung jawab besar.”

“Bodoh.” Ucapnya akhirnya setelah dia diam beberapa saat. Aku bisa merasakan betapa hancurnya dia, namun aku tahu bahwa aku tidak bisa berhenti, “Vampir bodoh. Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu. Kita sudah menyelesaikan masalah ini sebelumnya. Kita sudah selesai dengan semua omong kosong ini. Kau berjanji padaku.”

Aku kehilangan kata-kataku.

Aku tahu, Rena.. Aku hanya tidak bisa menjelaskan semua ini kepadamu.

“Reven..” ucapnya memohon, dan di sana aku masih bisa merasakan betapa dalamnya dia berharap bahwa semua yang kukatakan hanya candaan. Namun aku tidak bisa mengubah apapun. Aku hanya memandangnya, masih sedingin bongkahan es.

“Sudahlah.” Suara Victoria menyelamatkanku. Jika lebih lama lagi melihatnya seperti ini, aku tidak tahu, aku masih bisa bertahan atau tidak.

“Kita harus melakukannya dengan cepat. Kita masih punya banyak hal yang harus diselesaikan dengan para manusia dan sekutunya. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku dengan percuma di sini. Nah, Reven, katakan padaku, kau masih ingin melakukannya atau tidak?”

“Tentu saja.” Ucapku tegas seraya menaiki undakan tangga ke arahnya.

Dia menggeleng keras, “Tidak!”

Aku bisa melihat Victoria menyentuhnya dan dia langsung kehilangan kontrol untuk semua bagian tubuhnya. Dengan pelan, Victoria menmbaringkan tubuhnya. Aku memalingkan wajahku, menghindari menatapnya lagi. Cahaya di sekitar kami meredup dan aku menarik nafas dalam.

Aku bisa melakukan ini. Aku harus bisa.

“Kau siap? Kau sudah membawanya?”

Aku hanya mengangguk ketika mendengar Victoria mengucapkan itu dalam bahasa kuno kami. Dengan pelan aku menarik belati perak dari pinggangku dan berjalan memutari peti tempat Rena berbaring.

Belati ini adalah token. Benda suci dan kuno yang hanya ada dua di dunia ini.  Dibuat oleh seorang penyihir murni—yang dulu merupakan satu-satunya teman yang dimiliki oleh Vlad selain Victoria—pada masa jauh sebelum Vlad menyadari kemampuannya yang sesungguhnya. Satu untuk Vlad, dan satu untuk Victoria. Dan yang ada dalam genggamanku ini adalah milik Vlad.

“Reven.. jangan.”

Aku bisa mendengar suara pelan Rena. Meski aku berusaha dengan sangat kuat untuk tidak melihat ke arahnya, aku tetap saja memandang ke arahnya. Namun aku hanya diam, dan akhirnya mengalihkan pandangannku pada Victoria.

“Kau siap?”

Victoria mengangguk dan aku mulai mengucapkan semua mantra kuno yang diajarkan Vlad padku. Aku bisa merasakan perubahan tekanan udara di sekitarku. Victoria memejamkan matanya, mengucapkan mantra yang sama. Dengan pelan, dia mengangkat belati perak milikknya, mengiris telapak tangannya dan membiarkan darahnya menetes di wajah Rena

Seluruh tubuhku gemetar. Dan dengan sekuat tenaga aku mencoba fokus. Aku tidak bisa berhenti sekarang. Ini nyaris berakhir.

Semua ini demi, Rena. Ingatlah, Reven, ini semua demi dia.

Aku bisa melihat kemarahan di matanya yang biasanya selalu menatapku penuh cinta.

Tidak bisa. Aku tidak boleh berhenti. Aku harus melakukannya.

Aku memejamkan mataku seraya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Victoria.

“Kau akan menyesal melakukan ini.”

Mataku terbuka dan menatapnya. Aku bisa melihat langsung kebencian di sana. Dia membenciku? Aku langsung mengalihkan pandanganku.

“Aku siap.” Kataku pelan dalam bahasa kuno.

Victoria mengangguk. Aku menarik nafas dalam. Memandang ke arah Rena lagi, dengan pelan aku menundukkan wajahku. Balas menatapnya dengan sama dingin.

Aromanya..

Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Tapi aku harus melindunginya. Aku harus melakukan ini. Pertarungan di luar sana belum berakhir. Penyerangan di kastil para slayer hanya awal. Masih akan banyak yang lainnya dan aku tidak boleh menyeretnya dalam semua ini. Tidak ketika aku tahu dengan jelas bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik untuk ras kami.

Tanganku mencengkram belatiku begitu erat sampai aku menyadari detail di pegangan belati itu juga melukaiku. Tapi aku tidak apa-apa dan tidak peduli.

Aku harus melakukan ini.

Aku menahan nafasku, dengan satu gerakan, aku menusukkan belati itu tepat di jantungnya.

“Aku mencintaimu.”

Aku mundur dengan gugup. Ada rasa sakit yang luar biasa di dalam dadaku. Beberapa langkah cepat, aku menjauh dari peti itu. Aku menempelkan punggungku di dinding batu yang dingin. Menatap kosong ke arah Victoria dan peti di depannya. Tatapanku semakin tidak fokus. Ada sakit yang luar biasa hebat dan aku bahkan tidak tahu kenapa bisa seperti ini.

“Aku mencintaimu.”

Suara itu mendadak berputar di dalam kepalaku. Siapa perempuan di dalam peti itu? Kenapa dia mengucapkan itu kepadaku seolah-olah aku ini penting untuknya?

Aku menahan tubuhku untuk tetap tegak berdiri ketika aku merasakan seluruh tubuhku menegang dan gemetar dalam waktu bersamaan. Aku tidak bisa mendengar dan melihat dengan fokus dengan semua rasa sakit sialan ini. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali mengusir semua rasa sakit ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Dengan pelan kuangkat kepalaku, menatap tidak mengerti ke arah Victoria. Dia mendekatkan wajahnya ke leher perempuan itu.

“Selamat tidur, Sherena.”

Sherena?

Siapa dia?

***

Mau Baca Lainnya?

30 Comments

  1. Oh my god.. Aku mau dong beli.HV… Hahaha

    Part ini bikin galau dehhh.. Astagaaa secepat itu yah sherena terlupakan….. Aduhh aku ngga nyangka bakal.kaya gini…

  2. insya Allah lsg aku beli tapi hrz udh ad sekuelny juga, RU. jd aku beli 2, hbsny aku kbnykn nerka2 kelanjutanny krn author ga smpt2 update, :'(, pdhl aku dh gatel ney mw tw aksi balas dendam rena gmn,

  3. akhirnya cerita yang ditunggu-tunggu muncul jugaaaaaa…seneng banget ka'. .ditunggu next nya ya… salam

  4. Ah rena, malang nian nasibmu nak. Kupikir penderitaanmu udah selesai di hv, trus ru cuma side story doang.but, rasanya aku jadi kaya ngeliat sekuel. Aku gak sanggup lagi liat sad storymu sama reven, tapi aku penasaran. Gimana dongeng????

  5. aaaahhh tu kaaaan….
    ru ugha renax tdur dhh lupa gtu cpa serena…
    adooooo reveeeeeeen….
    bner kata vic to…
    tar kalo rena dhh kepincut laki" lain trus amu inget semuanya….
    nyeseeeelll tauuuuuu….
    iiihh sebel maksimal ma reveeen….
    tapi…tapi….
    kalo mang jodoh..
    gak akan kemana ya thor…
    meskipun terpisah ruang dan waktu…
    hahahahaha
    gak sbaaar nggu kelanjutannya…
    sni q peluk n cium thor biar semangat nulisnya….hehehe

  6. Omfg!! Reven? Speechless…

    Jd dia berfikiran begitu? BEGITU??? BEGITU??
    Tetep ga ngerti ama jalan pikirian Reven!! *emosi* udah tau sayang udah tau cinta malah milih dijalan itu..
    Berbanding terbalik ama kisahnya Lyra-Damis, kasian Damis huhuh tp lebih suka Damis lah, Lyra meninggal toh setidaknya masih inget dan cinta ama Damis kan, Damis pun begitu. Nah ini Reven-Rena, Revennya idup tp penuh kekosongan?? Bukannya sama aja dengan mati, mungkin lebih parah dari itu, perasaan kosong? Ga kebayang rasanya gimana… satu kata buat Reven Begoooo!

    Semoga kalo Rena bangun dia dapet cowok yg lebih segala-galanya dr Reven muehehe *ketawa setan* kau akan menyesal Reven!! Wkwkwk

    Tp semua kan tergantung author yak, aku cuma bisa nebak2 aja sama ngeluarin yg ada dipikiran aku hehe

    Ngomong2 masalah HV mau dibukuin yah? InsyaAllah aku beli thor *semoga ga mehong2* hihih teteup yak :p Tp ada proses editkah? Penambahan cerita? Atau adegan Reven-Rena yg banyak sebelum Reven berubah nyebelin di RU hahaha
    Maunya sih beli gt yah sekalian sama RU soalnya teka tekinya masih banyak huhuh

    To selalu semangat thor buat ngelanjutin dan jangan lama-lama updatenya hohoh

  7. Ya ampun..ternyata oh ternyata…kalau hv dbukuin q mau kak.sxan ma ru dunk..pengen bnget..

  8. oh my god … reven tah yang lupa duluan…ciaaaattt part iniii T_T….

    kalo reven lupa trus rena benci inii gimanaaaaaa?????
    how how how..

  9. Publish nya jgn lama2 dong kak…kyk hv dlu seminggu sx#ngarep bnget..hehe.pnsaran ama kelanjudan nya ni sumpah…kalau raven dah gk inget,trus suatu saat rena dbngunin..gmana mrka nanti??apa rena jg akan lupa???duh..

  10. Reven,cepet banget langsung lupa sama Rena.Aku bener-bener pengen kasih pelajaran sama Reven ya…Gemes banget.Udah di tanya Victoria berulang kali,terus hatinya sendiri juga agak ragu dan gak tega sama Sherena tapi tetep menyakinkan diri sendiri terus kalau semua akan baik-baik aja.Ini pan lebih parah,hidup dengan jiwa yang penuh kekosongan.Pengen banget aku nyadarin itu Reven,walaupun semua dia lakuin demi Rena tapi bukan begini juga pan caranya *emosi* pengen banget Rena cepetan bangun dan makin kuat biar balas dendam sama Reven tu dan bikin dia nyesel karena lakuin ini ke Rena.Walaupun mungkin juga ikutan lupa yah Rena nya?Pokoknya pengen banget Rena bisa jauh lebih kuat biar bisa kasih pelajaran ke Reven.Ditunggu next part,semoga gak lama-lama,udah penasaran banget hehe
    Buat HV yang mau dibukuin,insayaallah banyak yang beli,sekalian RU juga boleh nih hihi semangat…

  11. Terbitin aja kak, aku pasti beli.
    Aku nangis sejadi-jadinya baca part ini. Sampai2 di bilang mamah putus sama pacar. Ini mah atuh lebih sakit dari Itu. Aku kan novelholic jadi kaya ngerasa juga. Marah, kesel, kecewa, sakit hati. Ya ampun sesek napas jadinya. Tapi aku selalu berpikir buat nenangin diri sendiri ka, kalo dengan ini semuanya akan terjadi dari awal tentang cinta RevRen. Awal dari cerita cinta mereka tanpa perantara Noura. Ya ga kaa ???. Dan kaka harus nyatuin mereka, harussss *ehmaksa* hehe. Semoga Rev san Ren bisa nyari jalan pulang cinta mereka. Ohmaygat cinta harus menyakitkan gitu ya. Tetep aja kesel sama Rev lebih milih rencana yang menyakitkan begitu.

  12. HAaaaish, aq baru sempat buka blog qm. Daaaan menemukan cerita sequel disini. Sedikit bingung d awal. Tapi akhirnya ngerti. Sama kayak baca HV perasaan ku campur aduk gak menentu. Kalau mang d terbitin mau deh beli….

  13. bila update chapter seterus ny? kalau d buku kn tetap update cerita ny d blog ini lh TT. kalau d buku kn & nda d lanjutkn d blog susah baca. soal ny saya org brunei. mau beli buku ny nda tau mcm mnaTT tolong d lanjutkn lh d blog. harap update ny jua d post secepat ny:)

  14. cepet dilanjutin dong
    kalo lanjutannya harus baca di buku yg diterbitin ga papa juga kok, inshaa Allah aku beli
    yg pnting ceritanya lanjut ???
    and two thumbs up for u, how can u make such a great story like this ???

  15. lanjut.. lanjut… lanjut.. kakak… kalo jg harus jadi in buku insya allah aku beli. tapi berikan kami suatu respon darimu..
    semoga cepet lanjut.. Fighting!!

  16. menurutku akan ada balasan yg setimpal untuk semua pengorbann mereka…
    dan kurasa itu jauh lebih baik untuk keduanya …

    untuk buku aku mau banget pasti ku beli, kalo bisa yg RU sekalian hehhehe..

  17. huwaaaa, apa hv akan di cetak mauuuu…maaf baru komen, semangat 45 bacanya, kalo diinget2 nyesek dan batu kali ini berkaca2 pas dev dan yg lainnya harus mati dihadapan rena..kalo jadi rena aduhh gak sanggup pasti udh bilang dlm hati " apakah lbh baik aku yg terbunuh dr pada harus melihat org yg aku sayangi mati dihadapnku??" ohh yak ampunn…dan sequelnya wahhhh bikin esmosi dan penasaran ternyata itu semua dilakuin buat keslamatannya rena, karna mreka tau rena keras kepala..tapi tapiii rena pasti benci ituuu..huwaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published.