Remember Us – Rahasia Mevonia

Malam menjelang dalam kepanikan di kastil Zeyzga. Kabar kegagalan itu sudah tersiar. Para penyihir yang dikirim Mahha Mevonia untuk menangkap si penyihir dalam ramalan Dieter tidak akan pernah pulang. Kematian awal, tumbal pertama dalam perang yang baunya semakin pekat. Di dalam kastil semua penyihir sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. Semua mondar mandir lengkap dengan pakaian perang mereka, mengatur strategi bersama beberapa petinggi makhluk cahaya yang telah lama datang.

Tapi diantara mereka semua, tak terlihat sang sosok pemimpin, Mahha Mevonia. Dia tidak ada di sana. Setidaknya di tengah kerumunan. Dia masih di dalam kastil Zeyzga, berjalan di tangga spiral rahasia yang letaknya hanya dia yang tahu. Bau pengap dan basah sama sekali tidak menganggunya ketika dia turun makin jauh. Obor-obor kecil menyala lembut ketika sosoknya mendekat dan langsung mati ketika sosoknya sudah menjauh.

Siapa pun bisa melihat bagaimana kegusaran menguasai ekspresinya. Tidak. Tidak, gumamnya cepat dan berulang. Dia sudah sangat tidak sabar dan berusaha sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak mengunakan kekuatannya untuk sampai di ujung tangga. Tidak boleh ada sihir di sana. Dia tahu benar aturannya, dan tidak akan mau mengambil resiko apa pun di saat ini. Tidak ketika dia sudah tahu resiko yang tengah dihadapinya karena kegagalannya.

Dia melompati anak tangga terakhir dan puluhan api kehijauan melayang kelam mengelilingi tempat dia mendadat, sebuah gua bawah tanah dengan danau berukuran lumayan di tengah. Bau apak di tempat ini menganggunya, tapi dia mengabaikannya dan berjalan cepat menuju pinggir danau. Dia berlutut, menyentuh air danau yang dingin dengan tangan kanannya, sementara mulutnya merapal mantra panggilan kuno tanpa suara. Matanya terpejam rapat, dan ketika dia selesai, dia membukanya pelan dan memandang ke danau yang airnya mulai beriak perlahan. Pelan, dan pelan, hingga lama kelamaan beriak hebat, membentuk pusaran air di tengah.

Mahha Mevonia menurunkan kepalanya ketika pusaran air itu terangkat ke atas, membentuk sosok perempuan tinggi dengan rambut panjang dari air yang seolah menari di udara, “Tatriana.” ucap Mahha Mevonia penuh hormat.

“Apakah kau sudah menemukan perempuan itu?” Wujud air Tatriana menjawab, dengan suara yang mirip suara air yang bergolak.

“Kami tidak bisa membawanya. Luca menyadari keberadaan para penyihir. Aku tidak tahu apakah dia tahu kenapa kita membutuhkan perempuan itu atau tidak. Ak–”

“Dia tidak akan tahu.” potongnya cepat.

Mahha Mevonia menatap Tatriana tanpa berkedip. Kadang dia berpikir bagaimana bisa makhluk di depannya masih hidup ketika lebih dari tahun-tahun yang sangat lama menghilang, dikabarkan mati dan tak tahu kapan dilahirkan kembali ke Tierraz. Sampai banyak bahkan dari bangsa bungsu yang bahkan tak tahu siapa Tatriana. Tak tahu bahwa makhluk di depannya ini adalah salah satu dari para putra sulung yang terkuat.

“Dia tak akan menyadarinya. Luca dan Edna masih hidup dalam mimpi mereka tentang melenyapkanku.”

“Tapi apa yang harus kulakukan. Jika kami berperang dan Edna mengeluarkan kekuatannya di sana. Kami jelas kalah.”

“Bawa perempuan itu padaku, dia adalah satu-satunya harapanmu. Darah kehidupan di dalam tubuhnya bisa membantuku mendapatkan bentuk lamaku kembali. Aku adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan Edna dalam pertempuran apa pun. Bawa dia padaku. Dan aku akan menyelesaikan sisanya untukmu.”

Mahha Mevonia mengangguk, merasa bahwa dia masih memliki harapan, “Aku bersumpah, bahkan jika kematianku syaratnya, aku akan membuatnya berada di sini, bersamamu.”

***

Kami berjalan berhari-hari melewati hutan dan lembah-lembah hijau berbau tanah basah. Hujan turun kadang-kadang dan kami semua bahkan tidak mau repot-repot menoleh ke langit dan tetap berjalan. Arak-arakan ini hanya akan berhenti jika pasukan terdepan, tempat para pemimpin berada, meniupkan terompet besar petanda bahwa waktu istirahat tiba. Tenda-tenda besar didirikan, sebagian besar bahkan hanya duduk berkelompok tanpa perlu atap apa pun, dan aku satu di antara mereka.

Duduk, mengelilingi api unggun, dengan menyantap makanan seadanya yang dibagikan dengan tidak sabar kepada semua. Aku tidak menyukai makanan di tanganku, yang penampakannya bahkan lebih mirip sampah daripada sesuatu yang bisa diproses peruku. Tapi aku tetap menelannya. Aku tidak pernah tahu kapan semuanya benar-benar akan dimulai, dan aku membutuhkan cadangan energi apa pun yang bisa kudapatkan.

“Seberapa jauh menurutku kita harus berjalan?”

Aku menoleh menatap, lalu menggeleng, “Aku tidak tahu. Seharusnya tidak akan jauh lagi. Kudengar pasukan pertama sudah menunggu di sana.”

James nampak berpikir, lalu memandang ke sekeliling, “Aku tidak pernah menyangka bahwa aku harus masuk kembali ke medan peperangan. Bahkan kali ini jauh lebih besar dan berbahaya dari perang kita sebelumnya melawan para manusia dan sekutu perangnya.”

“Kalian semua bersekongkol untuk tidak melibatkanku di perang itu. Jadi aku tidak tahu seberapa parah yang kalian hadapi ketika itu.”

Dia tertawa, “Aku tidak bisa menentang Reven. Meskipun aku tahu bahwa aku juga tidak ingin menentangnya. Pilihannya benar ketika itu. Kau adalah kelemahan terbesarnya. Kami semua tahu itu. Dan tentu saja menganggapmu sebagai sesuatu yang bisa membuat fokusnya lenyap.”

Aku mendengus. Tidak ingin melanjutkan.

“Tapi bukankah itu seharusnya tak penting lagi. Kau masih hidup dan kita semua sekarang ada di dunia asal kaum kita. Kita tak pernah tahu apakah kita bisa sampai sejauh itu jika Reven tak memutuskan menyingkirkanmu ketika itu. Mau bagaimana pun, seharusnya masalah lama itu tidak menjadi masalah sekarang.”

“Aku tidak mau memikirkannya.” kataku pelan. Sebab entah kenapa sebagian besar dari diriku setuju dengan apa yang dikatakan oleh James. Aku juga tidak tahu, sama sepertinya. Ada banyak sekali kemungkinan yang ketika itu bisa muncul jika Reven tidak membuatku tertidur dan melenyapkan ratusan tahunku. Bisa saja aku tidak akan bisa berada di sini. Dan itu jelas akan menjadi penyesalan terbesarku. Sebab berada di Tierraz, tak pernah sebanding dengan berada dengan tempat mana pun.

“Mungkin kau harus pelan-pelan menyerah untuk membenci Reven.”

Aku menoleh cepat, tidak tahu bagaimana tiba-tiba James mengeluarkan kalimat itu. Dia tersenyum menatapku, “Aku tahu. Kami semua tahu, Rena.” dia berucap lagi, “Jangan pernah menyesal ketika segalanya telah terlambat. Aku merasa perang kali ini akan panjang dan kelam.”

***

Luca duduk di dalam tenda miliknya. Diam, memejamkan mata dan hanya mencoba menemukan titik yang menganggunya. Ada yang salah, satu-satunya kalimat yang memenuhi pikirannya beberapa waktu terakhir. Sesuatu membuatnya tak fokus dan sialnya dia tak tahu apa itu.

Apa?

Dia masih mencoba menemukannya. Satu titik itu menganggunya. Satu titik lemah dalam dirinya, dia bisa merasakannya tapi dia tidak tahu apa sebabnya. Dia sudah melakukan semuanya sesuai rencana. Kemunculan para penyihir sialan itu jelas tidak ada di dalamnya, tapi dia masih bisa mengatasinya. Tapi titik itu, tidak bisa. Bagaimana dia merasa bahwa titik itu terasa begitu penting untuk tidak diabaikannya.

Tirai tendanya terbuka. Dia bisa mendengar siapa langkah yang masuk bahkan jika dia tidak membuka mata. Edna adalah satu-satunya sosok yang diizinkan sihirnya untuk bisa memasuki tendanya. Bahkan Alzarox butuh membutuhkan persetujuannya untuk masuk ke sini. Dan di sanalah Edna, berdiri menatapnya dengan bingung.

“Ada apa?” tanyanya, “Aku tahu ada yang salah padamu sejak awal kita berangkat. Katakan padaku apa yang menganggumu, Luca?”

“Apa kau tidak merasakannya, Edna?”

Edna mengangkat satu alisnya, tidak menjawab. Luca mengambil jeda sebelum akhirnya dia menjawab, “Sesuatu mengangguku. Ada yang salah. Tapi aku tidak tahu apa.”

Dia kembali diam, sampai Edna mendekat, menyentuh kedua tangannya, mengenggamnya erat ketika Edna menekuk lututnya, “Aku bersamamu.”

“Aku bersamamu, dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika memang sesuatu yang kau rasa salah itu memang benar ada dan membawa sesuatu yang berdampak besar pada kita, jangan lupakan bahwa tidak ada satu pun yang bisa memisahkan dan menghancurkan kita berdua.”

Luca tersenyum, “Aku tahu.”

“Jadi bebaskan dirimu, kekasihku.” bisik Edna pelan dan mengecup tangan Luca. Lalu perlahan memeluknya. Dia tidak pernah suka melihat wajah risau Luca. Dia tidak tahu, apa yang membuat Luca nampak seperti ini. Tapi dia akan melindunginya. Apa pun harganya.

Sementara Luca membiarkan kehangatan Edna menyelimutinya, titik itu masih mengelitik. menganggunya. Ada satu-satunya kemungkina yang mungkin bisa diterka Luca. Tapi dia menolaknya. Tidak. Perempuan yang dulu pernah menggurungnya itu jelas belum kembali.

<< Sebelumnya

*******************

Hallo semuanya,

Aku akhirnya menulis lagi dan sekarang akan berusaha untuk membuatnya teratur. Mungkin bisa seminggu sekali menulis chapter terbaru RU. Mungkin bisa dua minggu sekali. Aku targetkan tahun ini RU tamat jadi aku bisa upload cerita terbaruku dan mengedit cerita lama : XEXA. Rasanya lega sekali sudah bisa upload dua chapter baru setelah sekian lama hiatus. Terima kasih untuk kalian semua yang masih support aku dan tetap ada ketika aku benar-benar menghilang dari laman ini.

Ah ya, satu lagi. Aku punya channel Youtube loh. Mungkin sudah ada yang tahu, mungkin belum. Di channel Youtubeku aku bakal bahas banyak hal berkaitan tentang kehidupan aku di Jerman, mulai dari bagaimana aku bisa bekerja di sana, sampai hal-hal remeh seperti liburan di sana atau DIY video. Selain itu aku juga coba membuat semacam audio book dari ceritaku sendiri. Aku kepikiran untuk membuat audio book dari Half Vampire sampai Remember Us, menurut kalian bagaimana? Coba beri aku ide. Enak engga sih didongengin? Kalian terbiasa engga sih mendengarkan cerita?

Nah, sampai di sini dulu.

XOXO, 

Mau Baca Lainnya?

14 Comments

  1. Aku malah nunggu bukunya rilis loh mbak 🤭😁 saking excited banget sama tulisannya jadi pengen tertuang dalam buku biar jadi koleksi di perpustakaan mini ku 😂😁

  2. Yes akhirnya bisa bertemu dengan pasangan re re lagi🤣🤣🤣(gk keren banget deh singktanku) mkasih kak dah di dm kalau kakak udah mulai lanjut kisah ini… Semngat dan semoga sehat sllu.

  3. Kereennnnnn, Kak. Ku sukaaaa
    Sejak pertama baca Half Vampire dari tahun 2015 lalu berlanjud baca RU. Aku nggak pernah bosan nunggu kelanjutannya. Cuma cerita ini yg bener2 buat aku rela nunggu lama dan nggak pernah aku tinggalin 😂😂 semangat terus nulisnyaaaaa…

  4. Ooh senang sekali, aku setuju saja, walaupun itu memberikan beberapa kelemahan dari cerita. Tetapi mungkin akan menyenangkan mendengarkan tanpa membuat mata lelah. Aku menunggu.

  5. Aku sudah baca Xexa, sedikit membingungkan tentang nama-nama nya. Mungkin karena belum membaca RU sampai selesai. Dan sedikit sedih karena Rena harus mati. Aku berharap pasangan itu bisa bangkit kembali. Karena yang aku ingat, mereka sedikit sekali adegang manisnya. Terlepas sebelum mereka menjadi pasangan.

  6. Aku sudah baca Xexa, sedikit membingungkan tentang nama-nama nya. Mungkin karena belum membaca RU sampai selesai. Dan sedikit sedih karena Rena harus mati. Aku berharap pasangan itu bisa bangkit kembali. Karena yang aku ingat, mereka sedikit sekali adegang manisnya. Terlepas sebelum mereka menjadi pasangan.

  7. Ahh senengnyaaaaa
    Tak bisa berkata-kata😁

    Aku suka didongengin kak heheh
    Apalagi kalau ada bukunya, aku juga mau banget

    Terima kasih kak! Ceritanya bener-bener bagus. Sesuka Harry potter 👍

  8. Setelah sekian lama, akhirnya comeback.
    Terimakasih sudah kembali dan melanjutkan cerita ini.
    Cerita yang tidak pernah bosan-bosannya kutunggu kelanjutannya.
    Akhirnya penantian yang begitu panjang, berakhir …hahaha.

  9. Terima kasih kak sudah update kembali. Sebenarnya daripada RU, aku lebih nunggu Xexa tapi apapun yang diupdate bagus. Ditunggu update selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.