Remember Us – Rencana Luca

Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong kastil. Suara tapak kaki yang keras dan tegas itu menggambarkan betapa si pemilik sedang terburu pergi. Langkah itu perlahan menghilang digantikan suara pintu yang dibuka paksa dengan keras.

“Kau jelaskan padaku sekarang, Luca!”

Tiga sosok yang tengah bicara dengan serius itu menoleh bersama ke arah pintu tempat Edna berdiri menjulang dengan wajah memerah marah. Luca menghela nafas, beralih ke arah Nerethir dan Victoria, “Tinggalkan kami.” Ucapnya pelan, namun tegas.

Keduanya mengangguk dan bangkit dengan cepat, bersyukur dalam hati. Tak ada satupun yang mau berada satu ruangan dengan seorang putri api yang sedang terlihat marah besar. Edna hanya menatap sinis saat Nerethir dan Victoria melewatinya setelah mereka berdua mengangguk hormat pelan padanya. Dia melangkah maju dan membanting pintu di belakangnya saat dia benar-benar telah sendirian dengan Luca.

“Tidak bisakah kau menunggu?”

Edna menggeram, sepenuhnya mengabaikan suara lembut penuh kesabaran milik Luca, “Kau sudah melewati batasmu, Luca “

“Batas mana yang tengah kita bicarakan?”

“Apa kau baru akan mendengarkanku dengan benar setelah aku membakar seluruh barak di luar sana?” tantang Edna.

Dia mengamati ekspresi Luca sebelum akhirnya membuka mulutnya kembali, “Kau beruntung karena aku bisa menguasai diriku tadi, jika tidak, aku sudah membakar hidup-hidup semua prajuritmu di luar sana ketika tak satu pun dari mereka mau mengatakan padaku kemana ribuan dari mereka akan pergi. Kau membungkam mulut busuk mereka. Bagaimana bisa kau tidak  memberitahuku rencana perang yang sesungguhnya?”

Luca berdiri dari duduknya, berjalan pelan menghampiri Edna yang memandangnya dengan tatapan seolah dia bisa menelannya hidup-hidup, “Aku berusaha melindungimu.”

Edna tertawa sarkastik, “Kau melindungiku?” Ulangnya masih diantara derai tawanya, “Simpan alasan sampah itu. Sejak kapan aku membutuhkan seseorang untuk melindungiku? Jika kau perlu kuingatkan, akulah yang telah membantumu lahir secara sempurna dari kegelapan lautan. Aku cukup kuat untuk membunuh Tatriana, ibumu, untuk memberimu kehidupan. Aku, Edna, dan bukan orang lain. Dan sekarang kau berusaha menyingkirkanku dari semua urusan ini dengan alasan kau ingin melindungiku?” Dia menggeleng, “Kau salah pada langkahmu.”

“Edna–“

“Aku tahu kau berbohong padaku tentang kaum vampir,” sergah Edna, “Aku tahu kau membiarkan Vlad dan Victoria hidup dan melempar mereka ke dunia lain karena kau membutuhkan imbalan dari mereka. Kau bahkan mengawasi mereka sejak awal. Tidakkah aku benar, Luca?”

Mata gelap Luca melucuti seluruh tubuh Edna. Tapi tak sedikitpun dari ekspresi di wajahnya yang menunjukkan bagaimana isi kepalanya sekarang. Dia sekali lagi menghela nafas, “Aku tahu kau tahu semua itu, jika tidak apa kau pikir aku akan mengizinkan Trisha ikut campur dalam urusan yang kuperintahkan pada Reven?”

Edna diam, menunggu.

“Aku melarang mereka semua memberitahumu apa rencana perangku sesungguhnya karena itu hanya urusan remeh. Aku ingin melindungimu agar kau tidak perlu berhadapan langsung dengan keturunan si penyihir Rhaegar. Kau tahu betapa licik mereka. Selain itu, apa kau benar-benar ingin terlibat langsung dengan para penyihir rendahan itu?” Luca menggeleng, “Aku ingin memberimu kehormatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Harusnya aku memberitahu lebih awal. Kau jelas bukan seseorang yang bisa diminta menunggu dan bersabar, meski hanya sebentar.”



“Sesuatu yang lebih besar?” Suara Edna melembut.

Luca mengangguk, lalu maju dan memeluk Edna erat, “Sherena Audreista, perempuan keturunan penyihir itu akan menjadi bidak utama yang menyenangkan untuk bisa kau mainkan.” Bisiknya di lekukan leher Edna.

***

Berhenti menyalahkannya atas apapun yang terjadi pada dirimu. Noura menyelamatkanmu. Begitu juga aku.

Suara itu terus terngiang di kepalaku sampai esok hari. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku barang sekejap karena wajah sial milik Reven dan kata-katanya yang kemarin tumpah ruah dengan senang hati dari mulutnya terus menerus menggerus batas sabarku.

Sial.

“Reven meminta kita untuk bersiap kembali ke hutan Merrz.”

Aku mengubur sisa-sisa makianku ketika Trisha masuk ke ruangan kami dengan wajah gusar. Seluruh kelompok kami yang tersisa mengangkat wajah dengan mata menyipit.

“Para elf utara itu menolak permintaan Luca?” Sahut Higraj langsung dengan wajah marah.

“Aku tahu ini hanya ide konyol ketika Luca meminta kita datang berbaik-baik. Harusnya kita langsung menghanguskan tanah ini tanpa repot-repot.” Brigoth bangkit dengan wajah tak kalah menyeramkan dari wajah aslinya.

Trisha terlihat tak bernafsu menjawab atau menjelaskan apapun dan hanya bergegas mengumpulkan barang-barangnya dalam kantong kulit miliknya.

“Apa mereka memang menolak apa yang telah Reven tawarkan dengan baik-baik?” Tanyaku seraya berjalan mendekat ke arah Trisha.

“Entahlah,” jawab Trisha tanpa memandangku, “Reven terlihat marah dan dia berdebat sengit dengan Foster dan Lord Landis.”

Aku menoleh ke arah Ritta ketika mendengar dengusan kerasnya, “Wajah dan suasana hati pemimpin bangsa vampir itu sudah buruk sekali sejak kemarin malam. Kurasa tidak butuh waktu lama sampai dia akan menyerang salah satu dari mereka.” Ucap Ritta dengan wajah kesal setengah mati.

Aku langsung memalingkan muka dan bergegas mengikuti Trisha ketika dia memberi tanda kami untuk pergi sekarang. Aku yakin kami semua menebak-nebak apa yang akan kami temui setelah kami sampai di tempat Reven berada. Dan ketika akhirnya kami sampai di aula utama, baik Lord Landis, Reven maupun Elegyar Foster, berdiri di tengah aula dan wajah mereka bertiga jelas menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan jelas sedang terjadi. Banyak elf penjaga berdiri di tepian aula, baik para elf liar maupun para elf dari Merendef.

“Kau akan menyesali pilihanmu ini, Lord Landis.” Suara Reven dalam dan sarat akan kemarahan yang ditahannya. Aku tidak yakin jenis pembicaraan seperti apa yang berlangsung sebelumnya, tapi itu jelas sudah menghilangkan keinginan Reven untuk bermanis dengan kata-kata seperti yang sebelumnya dia lakukan.

“Kau yang akan menyesali hal-hal lain, Reven.” Kali ini suara Foster terdengar. Lebih angkuh dan pongah.

Lord Landis terlihat menghela nafas, seorang elf perempuan yang kuduga adalah pasangan lord Landis memandangi ketiganya dengan wajah khawatir. Aku menghitung dalam hati berapa lama waktu yang diperlukan untuk melihat jawabanku menerjang tidak sabar pada mereka.

Tapi aku terpaksa harus menghentikan apa yang sedang kulakukan tanpa suara, ketika Reven beralih memandang kami dan berjalan dengan wajah mengerikan ke arah kami, “Kita pergi.”

Begitu saja? Aku menoleh ke lainnya, tapi mereka mengikuti Reven dengan wajah sama bingungnya seperti aku. Bahkan Higraj dan Brigoth mengekor saja karena tidak tahunya apa yang seharusnya dilakukan. Kurasa sebagian dari kami ingin protes, tapi wajah Reven terlalu mengerikan untuk dibantah.

Aku menoleh ke belakang sebelum mengikuti Reven, dan wajah angkuh Foster menatapku. Oh yang benar saja, aku benar-benar menantikan untuk bisa menggantikan wajah angkuh itu dengan ekspresi menyedihkan. Tunggu saja, Elegyar Foster.

***

Luca berjalan pelan masuk ke ruangan luas yang hanya diterangi cahaya remang-remang beberapa obor yang terlihat kekurangan minyak. Dia melangkah masuk dan mengangguk hormat pelan.  Alzarox mengangkat tangannya dan Luca maju semakin dekat ke arah Alzarox yang duduk di antara kegelapan di sekitarnya.

“Landis menolak bergabung dengan kita, sesuai dengan yang kuperkirakan.” Ucap Luca pelan.



Alzarox mengangguk dan tidak terlihat tertarik, “Lalu bagaimana dengan rencanamu pada vampir perempuan itu?”

“Waktunya sudah semakin dekat. Kita hanya perlu mendengar hasil dari Victoria Lynch dan setelahnya kita sudah siap.”

“Kau percaya pada Victoria?”

Luca tersenyum tipis, “Dia tidak akan  berani mengkhianati kita lagi.”

“Aku mempercayakan semuanya padamu, Luca. Aku sungguh tidak sabar melihat wajah Mevonia dan kaumnya setelah semua ini berakhir. Kuharap kau benar pada semuanya, jangan sampai tergelincir sedikit pun.”

“Pasti, Alzarox.” Luca menatap penuh keyakinan pada Alzarox yang menyambutnya dengan senyum penuh makna.

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.