Remember Us – Sang Perisai Pelindung

Ketika aku berjalan masuk ke ruangan yang ditunjukkan Damis, aku tahu bahwa Victoria menyadari kehadiranku. Namun dia sama sekali tidak menoleh padaku dan terus menatap pada buku yang ada di tangannya.

“Victoria,” suaraku tegas dan aku sudah berdiri tegak tepat di depannya.

Aku melihat gerakan pelan, dan akhirnya Victoria menutup bukunya. Irisnya yang merah sekarang sepenuhnya memandangku.

“Ya.” jawabnya singkat. Senyum tipis terpasang di wajahnya yang terukir sempurna. Senyum yang menyimpan sejuta misteri. Senyum yang membuatku ingn menyekiknya karena membuatku penasaran setengah mati.

Aku duduk di depannya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapanku darinya.

“Apa kita akan membahas tentang kau dan Reven?”

Suara Victoria terdengar lagi dan mataku menyipit sebagai respon dari ucapannya.

“Tidak,” jawabku singkat, “Aku jauh lebih tertarik dengan hal lain daripada membicarakan vampir laki-laki membosankan itu.

Victoria tertawa, “Membosankan? Kuharap Reven bisa mendengar ini. Menarik sekali melihat perkembangan yang terjadi diantara kalian.” dia mengangguk-angguk, “Nah, jadi.. apa yang ingin kau bicarakan denganku? Tentunya bukan pertanyaan bodoh tentang kenapa aku melakukan ritual pelepasan belahan jiwa itu padamu, bukan? Ingatanmu sudah kembali, jadi seharusnya kau sudah mengingat percakapan kita dulu.”

Aku tersenyum tipis, “Aku sudah tidak tertarik dengan masalah itu. Yang ingin kubahas denganmu adalah apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang? Alasan kenapa kau repot-repot mencari dan membawaku kembali ke sini. Alasan yang juga kau katakan pada Damis agar dia mau menemanimu membawaku kembali.”

“Ah, itu..” Victoria mendesah, meletakkan buku di pangkuannya ke atas meja kecil di sampingnya dan menyerahkan fokusnya sepenuhnya padaku.

“Jadi ada apa sebenarnya?”

“Apa kau tidak merasakan sesuatu yang lain, Sherena?”

Keningku berkerut, tidak mengerti kenapa dia justru menjawab pertanyaanku dengan melontarkan pertanyaan lain. Pertanyaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan apa yang kutanyakan padanya.

“Aku tidak mengerti.”

Anehnya, Victoria justru mengangguk, “Aku tahu. Vampir baru sepertimu jelas tidak akan merasakannya. Aku sudah menyimpulkan jika hanya vampir kuno saja yang bisa merasakan perubahan ini.”

“Perubahan apa?”

“Sesuatu memanggilmu.. memintamu pulang.”

 “Pulang?”

Dia mengangguk, “Jika kau adalah vampir kuno.. maka kau akan merasakannya. Sesuatu dalam dirimu memanggil-memanggilmu. Sesuatu yang merupakan inti dirimu meminta kau kembali.”

Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Victoria. Namun raut wajah Victoria membuatku takut. Aku tidak tahu kenapa, namun dengan caranya berbicara, aku seolah merasakan apa yang dikatakannya. Dan itu terasa tidak baik.

Victoria yang sepertinya memahami bahwa aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakannya, menatapku dengan tajam. Dia berhenti bicara dan hanya mengamatiku. Lalu helaan nafasnya terdengar sebelum dia menyandarkan punggungnya ke belakang dan kali ini menatapku dengan lebih santai.

“Jika aku harus menyeritakan kepadamu apa yang sebenarnya terjadi, aku juga tidak bisa. Ini lebih seperti firasat. Yang begitu kuat.”

Aku langsung mendengus, “Firasat? Aku belajar untuk tidak percaya padamu jika berhubungan dengan segala hal tentang firasat.” sahutku tidak ramah. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dulu Victoria membohongi dengan segala hal busuk terkait firasatnya. Perkataan tentang firasat Victoria yang dulu menjadi awal bagaimana aku akhirnya harus kehilangan masa tiga ratus tahunku.

Victoria tertawa, “Bukan salahmu. Aku juga tidak minta kau percaya.”

Tapi sialnya, entah kenapa aku mempercayai Victoria. Jadi aku hanya diam, menelaah ekspresi wajah Victoria yang sekarang nampak tenang. Banyak pertimbangan muncul di kepalaku. Pembicaraan dengan Damis juga menghantuiku. Segala yang dikatakan Damis, ekspresi Damis, semuanya semakin mendukung intuisiku untuk mempercayai wanita ini.

“Tidakkah pernah kau bertanya, Sherena.. kenapa para vampir bisa terbakar sampai mati di bawah sinar matahari? Atau kenapa kita memiliki usia yang tak terbatas? Tidakkah kau pernah bertanya-tanya kenapa hal itu terjadi?”

Mataku menyipit, mengamati Victoria lekat-lekat. Senyum tipis Victoria kembali menghantuiku. Tapi aku diam. Aku tidak akan menjawab apapun. Tidak akan menanggapi apapun. Sejak Victoria mengucapkan itu, akupun mulai berpikir. Mungkin benar juga jika mempertanyakan hal-hal itu.

Kenapa kami, para vampir, tidak bisa bersentuhan langsung dengan matahari? Kenapa pula, jika tak ada pertarungan, pembunuhan atau apapun yang mengancam nyawa kami, kami bisa hidup selama mungkin. Selama yang kami mau? Dan itu memang hanya terjadi pada para vampir. Manusia serigala, manusia, penyihir.. tidak. Mereka bisa dengan bebas berlarian di bawah sinar matahari paling terik sekalipun. Dan meskipun manusia serigala dan penyihir memiliki umur yang sangat panjang, mereka tetap terikat pada waktu dunia ini. Mereka menua perlahan hingga akhirnya mati.

“Tidakkah kau berpikir, Sherena.. bahwa mungkin semua itu adalah pertanda bahwa dunia ini menolak kita, para vampir. Menolak kita, karena kita bukan berasal dari dunia ini. Matahari adalah pelindung dan pemberi kehidupan bagi makhluk di seluruh dunia ini. Tapi dia menolak kita, satu sentuhan dan kita akan terbakar.”

Ada jeda yang panjang sejak Victoria menuturkan semua itu.  Benakku berpikir, otakku menelaah semuanya. Tapi aku masih tetap tidak bisa menyentuh tujuan dari Victoria mengatakan semua ini. Aku masih tidak bisa menemukan dimana akar-akar yang mengaitkan semua ucapannya yang sama sekali terdengar aneh  di telingaku.

“Jadi menurutmu kita tidak berasal dari dunia ini, begitu?” aku menarik kesimpulan paling tidak masuk akal yang terbersit di kepalaku. Tebakanku adalah aku mungkin saja akan mendengar tawa ejekan Victoria atau komentar kasar darinya. Namun yang ada, dia justru tersenyum dan aku merasa kepalaku semakin berat. Aku menggeleng. Merasa menyesal mendengarkan semua omongan Victoria.

“Kau dan Vlad adalah yang paling tua diantara semua jenis kita. Darah Vlad  dan darahmu  mengalir di semua pembuluh darah vampir di dunia ini. Karena Vlad sudah mati, maka hanya kaulah yang seharusnya tahu darimana kita sesungguhnya berasal. Dan bukannya kau yang malah mempertanyakannya pertanyaan sejenis itu. Konyol.”

“Masalahnya adalah aku tidak tahu, Sherena.” kali ini Victoria nampak frustasi. Membuatku mengubah kembali ekspresiku yang sebelumnya merendahkannya.

“Tidak tahu?”

Dia mengangguk, “Sejak awal yang kutahu hanya ada aku dan Vlad. Sudah seperti itu. Kami berdua, tidak mengingat apapun selain bahwa kami hanya memiliki satu sama lain.  Seolah-olah kami muncul begitu saja di dunia ini.”

“Tidak mungkin,” protesku keras, “Mana mungkin bisa seperti itu. Kau tidak bisa mendadak saja muncul dengan kekuatan dan  fisik seperti ini sejak awal.”

“Itulah sebabnya, aku sering memikirkan hal ini. Namun Vlad bilang itu tidak penting. Dan aku melupakannya, hingga firasat ini muncul menghantuiku. Aku merasa ada bagian penting yang hilang dan itu bisa menjadi sesuatu yang menentukan kehidupan seluruh vampir di dunia ini.”

Suara Victoria bergetar dan aku bisa merasakan emosinya yang sarat akan ketakutan. Emosi yang selama ini jelas  sangat tidak mungkin untuk bisa dimiliki seorang Victoria Lynch.

“Lalu kenapa kau menyeritakan ini padaku? Apakah ada kemungkinan bahwa  aku mungkin berguna jika sesuatu yang kau takutkan, apapun itu, terjadi?” aku langsung menohoknya dengan pertanyaan itu. Terus terang saja, aku sudah malas berbasa basi dan menghadapi percakapan berbelit-belit dengannya.

Kali ini aku melihat Victoria menatapku tak berkedip. Dua iris merah darah itu seolah menilai apakah memang seharusnya dia bicara atau tidak. Namun pada akhrnya aku melihat anggukan pelan darinya.

“Apapun itu yang memanggil kita. Meminta kita kembali dan pulang. Aku merasa bahwa aku akan membutuhkanmu. Bukan karena kau adalah pendamping Reven, tapi karena kau adalah keturunan langsung dari seorang penyihir murni.”

Sejujurnya aku ingin lebih dahulu protes padanya ketika dia mengucapkan bahwa aku adalah pendamping Reven, namun rentetan kata setelahnya membuatku mengesampingkan bagian itu. Kedua alisku saling tertaut, tidak suka.

“Apa urusannya bahwa aku adalah keturunan langsung dari seorang penyihir murni?”

“Ini masih tentang firasat, Sherena. Kebenarannya tak jelas kuketahui. Hanya saja, aku merasa darah penyihir murni yang mengalir pada tubuhmu akan berguna. Kau adalah satu-satunya di dunia ini. Tak ada vampir lain yang sepertimu. Dan melihat dari yang Noura dulu pernah katakan padaku, Akhtzan bukan penyihir murni gampangan.”

Rahangku mengeras dan aku menatapnya marah, “Kau menginginkan darahku? Kau ingin membunuhku? Sebagai pengorbanan ketika sesuatu itu datang?”

“Tidak,” Victoria menjawab cepat, “Kau adalah perisai pelindung. Begitulah yang intuisiku katakan padaku.”

“Aku tidak—“

“Mengerti?” Victoria meneruskan ucapanku dan aku terpaksa hanya mengangguk. Mendadak dia bangkit dari duduknya, berjalan ke arahku dan berdiri tepat di depanku. Aku mendongak agar bisa melihat wajahnya yang menunduk ke arahku.

“Aku juga tidak.” ucapnya lembut sebelum dia mendadak berjalan pergi begitu saja. Suara pintu yang mengayun tertutup mendadak menyadarkanku bahwa Victoria sudah meninggalkanku sendirian di tempat ini bersama  kepalaku dan isinya yang semakin tidak karuan.

***

“Perisai  pelindung?”

Suara Damis mengelegar marah dan  aku hanya bisa menghela nafas  panjang. Bahkan pemandangan hutan berkabut di kejauhan sana, sama sekali tidak bisa mendinginkan amarah Damis.

“Victoria  mencarimu untuk menjadikanmu tameng bagi para vampir?” dia menggeleng, “Kau tahu apa artinya, bukan? Dia ingin mengorbankanmu. Menjadi perisai berarti bahwa kau yang  menampik semua serangan.  Itu sama saja menjadikanmu sebagai korban pertama. Ini gila.”

“Masalahnya adalah kita bahkan tidak tahu apakah itu? Apakah sesuatu yang akan datang itu, Damis.” aku mencoba menenangkannya. Namun Damis justru berbalik, menatapku lurus-lurus.

“Apakah kau melihat ketakutan di mata Victoria ketika dia menyeritakan ini semua padamu? Jika kau tidak melihatnya, aku melihatnya. Satu-satunya alasan yang membuatku ikut bersamanya. Sekalipun aku tidak pernah melihat Victoria dengan ekspresi seperti itu. Dan ketika aku melihatnya, aku tahu bahwa itu bukan petanda baik.  Aku mencarimu, karena kupikir Victoria mungkin saja ingin melindungimu. Aku selalu mendengar dia berdebat dengan Reven dalam usahanya untuk membuat Reven mengingatmu. Kupikir Victoria mungkin saja peduli padamu, mungkin sumpahnya pada Noura yang menjadikannya seperti itu.”

Mendadak kedua tangan Damis mencengkeram bahuku, “Aku menolongnya karena aku ingin melindungimu dan bukannya untuk membiarkan Victoria menjadikanmu perisai pelindung bagi kelompok kita.” kali ini suaranya nampak lelah dan wajah Lyra Corbis terbayang di mataku. Aku memeluk Damis lembut. Masih merasakan bagaimana menderitanya dia akibat perang lama itu.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Damis.”  ucapku pelan,  “Kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Mungkin saja Reven bisa menyelesaikan masalah ini. Atau mungkin, jika kita semua bersatu, kita akan bisa menghadapi itu. Kau, aku, Victoria, Reven, bahkan Lucia dan James. Kita bukan  makhluk-makhluk yang bisa dipandang remeh bangsa lain.”

Damis tertawa dan melepaskan pelukan kami. Udara dingin di balkon ini sama sekali tidak menganggu kami. Aku tersenyum, meskipun aku tahu ada keraguan nyata disela-sea tawa Damis. Meski tak saling mengucapkannya, masing-masing kami tahu, apapun itu yang membuat Victoria ketakutan, jelas merupakan horor terbesar. Victoria adalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang kami semua.

***

Reven langsung memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh dari tempat itu ketika dia tanpa sengaja melihat Sherena dan Damis saling berpelukan. Dalam diam, dia memaki dirinya sendiri karena tidak mengunakan kemampuan vampirnya untuk medeteksi keberadaan makhluk lain. Selama di kastil dia memang tidak pernah menggunakan kemampuannya itu. Dia jelas tidak membutuhkan ketajaman inderanya dalam hal-hal yang tidak penting, atau dia sendiri yang akan merasa terganggu. Namun yang satu tadi jelas  salah satu akibat yang tidak akan pernah disukainya.

Langkahnya cepat dan mendadak dia sudah berada di depan ruangannya. Suara keras bantingan pintu, menjadi petanda ketika dia akhirnya masuk ke ruangan gelap itu. Reven duduk dengan setengah membanting tubuhnya, dia berusaha mengatur emosinya yang meledak-ledak. Buku-buku jarinya saling tergengam erat. Yang sangat membuatnya frustasi justru karena dia tidak paham benar kenapa dia merasa seperti ini.

Bukankah seharusnya dia merasa bahagia untuk Damis? Ketika akhirnya  untuk pertama kalinya dia melihat Damis dengan dengan seorang perempuan sejak Lyra Corbis mati. Namun entah kenapa, dia justru tidak suka dengan cara Damis memperlakukan Sherena. Dia tidak suka dengan cara Damis memeluk perempuan itu. Seolah ada perasaan aneh yang langsung membakar seluruh amarahnya hingga titik tertinggi ketika melihat interaksi dua orang itu.

Perasaan yang sama yang dirasakannya ketika untuk pertama kalinya dia melihat Sherena dan mendengar perempuan itu membela seorang manusia. Perasaan yang juga dirasakannya ketika Damis membawa perempuan itu masuk ke kastil ini, juga dirasakannya ketika lengan mereka berdua saling mengamit rapat begitu mereka masuk untuk bergabungd alam pertemuan rutin yang diadakannya kemarin.

Apakah benar memang perempuan itu adalah belahan jiwanya? Seperti yang selalu dikatakan Victoria kepadanya?

Rahang bawah Reven bergetar pelan, menunjukkan betapa buruknya suasana hatinya sekarang. Dia dengan sekuat tenaga berusaha menekan kemarahannya. Apalagi jika mengingat apa yang terjadi kemarin. Ciuman liar perempuan itu yang dibalasnya tak kalah panas. Satu sentuhan itu dan semua waktunya dikacaukan. Pikirannya tak fokus dan semua gerak Sherena yang mengodanya menghantuinya. Lalu jika yang muncul di kepalanya adalah wajah angkuh dan penuh kebencian Sherena, dia akan langsung menghela nafas panjang dan semakin kebingungan.

Dan sekarang..

Reven menekan kuat-kuat perasaan asing di dalam dadanya yang akhirnya berakbat dengan sebuah pukulan keras ke meja di depannya yang langsung hancur tak karuan. Dia langsung bangkit dan berjalan mondar mandir di dalam ruangannya. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya dan itu semakin membuatnya frustasi.

Apa yang harus dilakukannya?

Pertanyaan itu berulang-ulang diucapkannya di dalam kepalanya. Dia akhirnya berhenti dan diam memandang ke arah jendela besar di depannya. Tak ada satupun jawaban yang ditemukan otaknya dan itu semakin membuatnya merasa marah.

Jika memang perempuan itu adalah belahan jiwaku, kenapa aku sama sekali tak bisa mengingatnya, geramnya dalam diam.

***

Setelah pembicaraan yang tidak menyenagkan bersama Victoria, hari-hariku berjalan dengan lebih muram. Aku, Damis dan Victoria seringkali mendiskusikan hal ini bersama. Namun karena tak satupun dari kami yang benar-benar paham apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang, tak ada hasil yang berguna. Lebih sering malah berisi perdebatan antara aku dan Damis melawan Victoria. Biasanya berakhir dengan kami berdua yang kalah. Victoria selalu saja menang dengan kata-katanya.

Sementara itu, aku sama sekali tak melihat Reven sejak aku menciumnya di balkon. Aku juga tak ingin menanyakannya pada siapapun karena jujur saja aku sama sekali tidak peduli dan tidak ingin mendengar apapun tentangnya. Fokusku sekarang sepenuhnya ada pada dua kata yang seolah jadi canduku akhir-akhir ini; perisai pelindung.

Aku mendesah lelah, melangkahkan kakiku dengan pelan memasuki area hutan di depan kastil. Berjalan-jalan di dalam rerindangan hutan mungkin baik bagiku. Siapa tahu aku juga bisa melupakan dua kata sakral itu. Aku terus melangkahkan kakiku semakin masuk dalam ke hutan. Dan dingin kabut yang turun sampai ke sini, menyelebungiku dalam senyap yang asing. Ini pertama kalinya bagiku berjalan sendirian di hutan ini.

Langkahku terhenti dan aku mengerutkan keningku, dengan sangat jelas aku bisa melihat ada bayangan api di kejauhan. Padahal kabut sedang pekat-pekatnya dan kelembaban udara demikian kental. Tapi bayangan api jauh di depan sana terasa benar nyata. Aku menajamkan seluruh indera di tubuhku tapi tak satupun mengirimkan jawaban padaku. Mataku hanya menangkap sebatas bayangan api itu, hidungku hanya mencium bau basah hutan yang demikian kental, dan intuisiku tumpul.

Tak mau semakin penasaran, aku akhirnya melangkah dengan kecepatan vampirku untuk menjangkau bayangan api itu. Dalam beberapa detik yang singkat, aku sudah di tempat dimana api itu seharusnya berada, namun jejaknya saja bahkan sudah lenyap. Tak ada sisa-sisa apapun yang menunjukkan ada api di sini. Tapi aku yakin bahwa apa yang kulihat sebelumnya bukanlah halusinasiku.

Perasaan diintai mendadak menyelimutiku dan aku langsung berputar pelan mengamati sekelilingku. Kabut turun semakin tebal dan aku, meskipun dengan semua kemampuan vampirku, aku masih tetap kesulitan memindai seluruh area di sekitarku. Tapi perasaan itu terasa semakin kuat. Ada orang lain di sini.

Tepat ketika aku berbalik ke arah lain, kabut di depanku menipis membentuk sebuah jalan lurus dan aku melihat siluet tubuh berjalan mendekat ke arahku. Aku menahan nafasku dan menyadari aroma asing yang menyelimuti tubuh itu, aroma api.

Aku sadar bahwa aku, entah kenapa merasa gugup. Bisa kurasakan bahwa tanganku gemetar. Siluet itu semakin dekat dan jantungku berhenti berdetak. Aku tak sanggup lagi merasakan detak satu-satunya yang menyakitkan.

Rambut itu hitam legam dan terurai jatuh dengan indah, dengan wajah yang mengukir senyum tipis di bibirnya yang semerah darah, aku sadar wanita di depanku bahkan memiliki aura yang lebih kuat dari siapapun yang pernah kutemui. Langkahnya lembut dan ujung gaunnya yang jatuh ke tanah bahkan sama sekali tak mengurangi gerakan magisnya. Aku masih terpaku di tempatku dan menatap tak berkedip pada perempuan itu.

Jika iris Victoria berwarna merah dan menyiratkan perasaan jahat dan licik pemiliknya, maka sepasang iris yang tengah menatapku ini adalah kebalikannya. Aku tidak bisa menerjemahkan dengan jelas warnanya. Namun pancarannya, pantulannya di sana—aku nyaris menganggap diriku gila—tapi aku benar-benar seolah melihat bayangan lidah api di sana. Dan tatapannya yang tak bisa kumaknai artinya, menebarkan segala hangat api.

Jemariku bergerak pelan, menyadari kalimat terakhir di kepalaku. Segala hangat api.. sejak kapan aku bisa benar-benar merasakan hangatnya api. Ini pertama kalinya bagiku bisa benar-benar merasakan hangat api sejak aku menjadi seorang vampir. Perasaan asing yang terasa dekat. Sama sekali tidak ada hawa dingin yang membentengiku.

“Si.. siapa kau?” suaraku bergetar dan aku sadar bahwa aku mungkin sedang menanyai mautku.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

28 Comments

  1. Alhmdllh update jg, smoga next chapter ga lama2, anggap aja traktiran buat greedy reader. Kl ga, lsg publish bukuny deh biar bisa baca bnyk chapter, berasa di php in sama authorny, tiap hari cek blog ini kaya stalker aj. T_T

  2. akhirnya muncul nih cerita , tiap hari slalu ngecek nih blog Hhhhhh Pas udah baca eh mlah Ceritanya Gantung :'( Itu siapa yg d tmui sherena? Who???? Noura kah … aishh Penasaran abies !!

  3. Haahahah
    Amin amin. Semoga ide di kepala lancar terus, ga ngadat macam mtor butut. Jadi aku bisa update sering2.

    Ga pa-pa tau.. Dari pada stalking ke masa lalu. Mending stalking ke blogku. *modus*

  4. wew makin kesini makian penasaran. siapa ya yang dihadepin ama sherena?
    ditunggu kelanjutannya ya kak ria…
    and Happy Birthday to You kak ria 🙂

  5. Siapa itu yang di part ahkir?Penasaran sama sosok itu.Mungkinkah bagian dari suatu hal yang di takutkan Victoria?Nah Reven mulai bereaksi dengan kedekatan Sherena Damis,

    (Puput_Kiki)

  6. yaampun setelah hampir satu bulan akhirnya yang di tunggu dateng juga …
    huhu dan ini gantung loh kakak ..haha tuhkan minta nambah wkwkk

    uhh reven kelaut aja sanah ,wkwk gw masih dalam bencireven modeon
    kak tambahin yang romantisnya dunk buat obat kangen hahahah

    wah ada tokoh baru lagi ,tambah penasaran ,siapa ya ??

  7. Sebenernya sih nggak pengen baca, tapi nunggu bukunya, berhubung cerita belum selesai dan penasaran, jadi kepo deh cerita lanjutannya.

    Rintangan apalagi ya yang bakal dihadapi oleh sherena dkk ?

Leave a Reply

Your email address will not be published.