Remember Us – Saying Goodbye Has Never Been Easy

Haloo semuanya. Akhirnya aku menulis Remember Us pertamaku. Well, mungkin ini akan sedikit menyedihkan. Tapi, inilah yang ada di dalam pikiranku. Ah satu lagi, alur cerita ini maju mundur *geje* ya. Oke.. see ya in next story. Happy reading.. <3

@amouraXexa

***

Aku menatap nisan batu  yang sudah nyaris hancur termakan usia. Perlahan, aku menunduk, mengusap nisan itu pelan. Mengamati nama yang diukir di atas nisan yang mulai sulit untuk dibaca. Namun aku bisa membacanya dengan jelas, aku bahkan masih bisa mengingat hari itu.

Pemakamannya.

Arshel.

Aku duduk bersimpuh, membenamkan wajahku di atas gundukan tanah makamnya yang berumput dan tak terurus. Aku merindukannya. Meski aku berusaha dengan keras untuk melupakan keberadaannya dan melanjutkan sisa hidupku yang tak terbatas, aku selalu gagal dan mendapati diriku sendiri berada di tempat ini.

Apa kau baik-baik saja di sana? Apakah kau bertemu dengan Noura di sana? Apa kau bahagia, Ar?

Setetes air mataku mengalir dari sudut mataku dan jatuh ke tanah. Membasahi tanah makamnya seperti hari dimana dia dikuburkan. Hujan dan air mataku ketika itu juga berlomba untuk membasahi tubuhnya yang terbaring beberapa meter di dalam tanah. Aku masih tidak bisa mengurangi rasa sakit yang kurasakan karena aku kehilangan Ar. Meskipun nyaris puluhan tahun lebih berlalu dan aku masih merasakan rasa sakit yang sama.

“Rena..”



Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.

Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”

Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.

***

“Sherena..” Lyra menarik tanganku dengan kasar. Membuatku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Wajah paniknya membuyarkan konsentrasiku pada gaun-gaun cantik yang sedang kupilih. “Kita harus pergi. Sekarang.”

Keningku berkerut dalam, “Ada apa? Apa pertemuan sudah dimulai? Tidak bisakah aku terlambat, aku belum bisa menentukan apa yang a—”

“Bukan. Kuceritakan nanti. Tapi kita harus pergi, bukan ke pertemuan tapi keluar dari kastil ini sekarang. Kumohon. Atau Reven akan membunuhku jika aku terlambat membawamu menjauh dari sini.”

Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, Lyra menarik tanganku dan membawaku berlari. Aku mendengar suara-suara gaduh di atas meski aku tidak bisa memastikan suara apa itu. Pelan, meski Lyra tidak mau mengalah dan membawaku terus menelusuri lorong rahasia di bawah tanah, aku memusatkan fokusku. Denting suara pedang, suara anak panah, raungan, makian, teriakan dan.. darah. Aku bisa mencium bau darah yang sangat kuat sekarang. Bukan darah manusia, bukan. Ini darah vampir, kaumku.

Aku menghentikan langkahku dengan tiba-tiba dan Lyra nyaris terjungkal karenanya. Dia memandangku memprotes, “Ada apa? Kita harus segera pergi dari sini.”

“Apa yang terjadi di atas?”

Lyra nampak ragu, kemudian ketika melihat aku membatu, tak mau beranjak sedikitpun, dia menghela nafas panjang, “Penyerangan. Ratusan slayer dan heta paling kuat ada di atas sana. Mereka menyerang kita.”

“Apa?”

“Kita seharusnya membunuh semua slayer yang ada ketika itu.”

“Tapi bagaimana bisa? Lalu Reven? Semua yang ada di atas?? Bukankah akan ada pertemuan besar di sana? Semua sudah datang sejak kemarin. Semua vampir, keluarga kita? Lyra! Sial, kita seharusnya tidak melarikan diri seperti ini.” aku berbalik, namun Lyra menarik tanganku dengan kuat.

“Kau tidak bisa kembali. Kumohon. Di atas sangat berbahaya sekarang. Aku yakin Reven dan semua kelompok yang ada di sana bisa mengatasi semuanya.”

Aku memandang Lyra dengan marah, “Jika mereka bisa mengatasi semuanya, kenapa Reven sampai memintamu membawaku pergi dari sini?? Aku bukan orang bodoh, Lyra.” Geramku kesal sebelum aku berbalik. Meninggalkan Lyra yang kudengar juga langsung mengejarku.

Kami berdua berlari dengan cepat, tak sampai lima belas detik, aku sudah berada di lorong aula utama. Aroma darah makin kuat tercium. Darah manusia, darah vampir. Mataku terbelalak ketika aku berada di aula utama yang dipenuhi pertarungan. Aku melihat banyak mayat para slayer, dan abu-abu bekas tubuh para vampir yang mati. Dan nyaris satu vampir harus menghadapi empat atau lebih slayer. Darahku mengelegak, kaumku. Tak akan kubiarkan.

Aku bergerak cepat, menghindari anak panah yang mendadak melesat ke arahku. Dan berdiri tegak di sana, dengan pakaian perang lengkap, Edge.

Matanya menyipit, memandangku dengan tatapan paling menjemukan. Aku menggerakkan buku-buku tanganku dan kuku-kukuku memanjang tajam. Aku berlari ke arahnya dan dia langsung mencabut pedang peraknya. Aku bisa merasakan aura perak dimana-mana. Namun itu tidak akan menghentikanku. Jika aku harus mati sekarang, maka aku akan mati dengan terhormat bersama semua kaumku yang tersisa.

Victoria benar ketika mengatakan kegelisahannya atas slayer-slayer yang kami biarkan hidup di hari kami membunuh Vlad. Namun aku mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kebanyakan mereka adalah sahabat Ar dan master sendiri adalah orang yang sangat menghargai Ar. Meski mereka tahu persis dimana letak kastil ini, mereka tidak akan melakukan apapun. Lagipula siapa manusia bodoh yang berani menyerang kastil utama bangsa vampir?

Tapi ternyata aku terlalu naif untuk menyadari kebenaran yang sesungguhnya. Aku dan semua vampir tak pernah tahu jika selama tahun-tahun tenang yang berlalu sejak saat itu, mereka—para slayer dan heta—mempelajari kami dan menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk menghancurkan kami di sarang kami sendiri. Mereka memperkuat diri mereka, persenjataan mereka. Dan meski nyaris dua puluh tahun berlalu, mereka tetap bersabar—hingga hari ini.

Punggungku membentur tembok dengan keras ketika Edge berhasil menendangku ketika aku lengah. Dia melarang anak buahnya membantunya membunuhku dan bertarung seorang diri denganku.

“Master!” teriak salah satu dari mereka ketika aku melukai lengannya dengan kukuku. Membuat luka cukup dalam di sana bersamaan dengan majunya beberapa slayer ke arahku. Aku mendesis marah. Meraih cepat busur dan beberapa anak panah yang tergeletak di lantai dan memanah mereka dengan cepat tepat di jantung mereka. Beberapa detik dan segera melepaskan busur itu dengan cepat ketika rasa panas aura perak membakar telapak tanganku.

Edge berteriak marah dan meraih anak panah di belakang punggungnya, membidikku dengan terlalu berambisi. “Pengkhianat!”

Aku tertawa, meski seluruh tubuhku terluka dan tanganku terbakar. Aku menikmatinya, “Master?” aku tertawa lagi, “Jadi itu dirimu yang sekarang?”

“Aku tidak butuh bicara dengan pengkhianat seperti dirimu.”

Dia mengarahkan anak panah lagi ke arahku dan aku menghindar dengan cepat. Meski aku bisa merasakan ujung panahnya memotong beberapa helai rambutku. Aku berhasil menendangnya dan membuat dia menjatuhkan busurnya. Kami bergulat dan aku tak pernah setengah hati untuk benar-benar membunuhnya.

Seluruh loyalitas dan kehormatanku adalah untuk kaumku sekarang. Meski aku pernah menjadi bagian dari kelompok heta. Itu hanyalah masa lalu manusiaku dan aku tidak lagi merasa itu penting. Duniaku berpusat pada Reven dan kaumku dan aku akan memberikan nyawaku demi mereka.

Aku menyesal mengabaikan peringatan Ar beberapa waktu lalu ketika aku mengunjunginya. Entah darimana Ar tahu, Ar memperingatkanku untuk mewaspadai gerak-gerik kelompok slayer dan heta. Aku hanya tertawa kecil dan menepuk bahunya pelan. Memintanya untuk jangan khawatir dan semuanya pasti baik-baik saja.

Lagipula apa memangnya yang bisa terjadi? Kaumku dan para slayer sudah lama tidak terlibat pertarungan sejak hari itu. Hari kematian Vlad. Kehidupan kami tenang. Para vampir hanya membunuh manusia untuk bertahan hidup dan itu tak pernah banyak. Kami membunuh seperlu kami. Dan manusia tidak pernah berhenti memiliki keturunan untuk menggantikan yang mati sementara kami tidak. Jadi kurasa tak akan ada masalah dalam hal ini.

Tapi kenyataannya? Di bawah master baru mereka, mereka menyerang wilayah paling sentral kaumku dan membunuhi nyaris sebagian besar kaumku ketika kami semua berkumpul di sini. Pertemuan besar. Ketika semua vampir berada di kastil ini. Pertemuan yang puluhan tahun sekali diadakan dan mereka bisa tahu.

Aku menyeka darah yang menetes dari sudut bibirku. Empat slayer ditambah Edge sendiri, aku mulai kelelahan. Mengapa slayer-slayer ini seperti tak ada habisnya? Apa benar jika Lucia katakan tentang jumlah para slayer yang nyaris ratusan?

Brakk!!

Tubuhku tersaruk dengan keras, menabrak pegangan tangga spiral aula utama hingga membuatnya hancur. Aku memekik kesakitan tapi berhasil berguling ke kanan dengan tepat sebelum beberapa anak panah menancap di dadaku. Aku mendongak dan beberapa slayer di lantai dua kembali menarik tali busur mereka dan mengarahkan padaku.

Sial!

Aku menutup wajahku dengan tanganku, terlambat menghindar dan aku bisa merasakan mata panah perak itu menancap di lengan dan pinggangku. Aku memekik dan terjatuh, terguling ke bawah. Aku menjerit merasakan anak panah itu menekan masuk semakin dalam ke tubuhku ketika aku terjatuh.

Pandanganku berkunang-kunang, namun aku bisa bisa melihat—samar-samar, sebuah pedang—Edge. Aku memejamkan mataku. Kurasa inilah akhirnya. Namun bukannya pedang yang menusuk ke jantungku, aku malah mendengar suara tubuh terjatuh tepat di sampingku. Aku membuka mataku dan bisa melihat Edge terbaring berlumur darah—mati—dengan sebuah pedang tertancap dalam di punggungnya.

Lalu tepat di depanku, dengan baju penduduk biasa dan rambut tak rapi—Ar. Aku tersenyum, dia membantuku berdiri. Aku bangkit, meraih pisau kecil di dekat pinggangnya dan melemparnya pada satu slayer yang sedang berusaha menarik panahnya dan membidik Ar.



“Ayo, Rena.” Ar menyeret tubuhku dan memapahku dengan cepat, melewati lorong yang sebelumnya kulalui dengan Lyra. Beberapa slayer mengejar kami dan Ar mendorongku masuk ke jalur bawah tanah sementara dia menarik busur dan anak panah di punggungnya, menghadap para slayer yang mengejar kami.

“Pergi Rena. Kau harus selamat. Kita bertemu di ujung jalan labirin rahasia. Tunggu aku di sana. Aku akan kembali. Aku janji.” Tegasnya tanpa memberi waktu bagiku untuk membantah. Aku mengangguk enggan dan segera berlari dengan kecepatan nyaris seperti manusia. Luka-lukaku mengurangi semua kekuatan dan kemampuanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Aku berusaha mengabaikan pikiran burukku tentang apa yang terjadi di aula utama dan tempat-tempat lain di dalam kastil. Wajahku basah dan aku jatuh terduduk setelah cukup jauh berlari. Mereka yang mengejar tak akan pernah bisa melalui labirin bawah tanah. Hanya para vampir dan Ar yang tahu jalan ini. Aku memberitahu Ar begitu banyak rahasia tentang tempat ini. Mengajaknya berkeliling tempat ini ketika dia mengunjungiku, aku mempercayainya dan tidak menyesal melakukannya. Dan sekarang, semua itu terbukti berguna.

Aku menyentuh anak panah yang sebagian masih tertancap di tubuhku dan menariknya satu persatu. Satu pekikan kesakitan untuk setiap anak panah. Ketika tersisa dua lagi, aku sudah tidak sanggup melakukannya, bersandar pada tembok batu yang dingin, aku sudah nyaris kehilangan kesadaranku. Darah mengalir dari luka-lukaku, “R-Reven..” aku membayangkan dia ada di sisiku, memelukku. Aku tersenyum. Dia baik-baik saja, aku bisa tahu itu. Aku merasakannya. Dia akan baik-baik saja. Aku tidak perlu mengkhawatirkan laki-lakiku itu. Dia vampir yang hebat. Aku masih tersenyum, tertawa kecil. Setidaknya, jika aku mati, ini mungkin lebih baik bagiku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku hidup di dunia ini tanpa Reven. Meskipun bagi Reven, ini akan menjadi sesuatu yang sangat tidak adil.

Perlahan, ketika aku menundukkan wajahku. Aku melihat jika kulitku memucat, lebih pucat dan semakin pucat. Seolah-olah sama sekali tidak ada darah mengalir di bawah kulitku. Aku sudah berhenti bernafas, kehilangan tenaga untuk membuatku nampak seperti manusia. Aku tertawa kecil, membayangkan apa yang terjadi ketika Reven merasakan bahwa aku sudah mati?

Akankah dia menangis untukku?

Aku menoleh pelan, mendengar suara derap langkah mendekat cepat ke arahku. Setengah terseret, namun tetap cepat. Aku menunggu, jika itu para slayer, maka selesai sudah. Ini adalah hari terakhir bagiku. Mataku menyipit, dan ketika aku mencium bau darah yang tidak tercium lezat, aku tersenyum.

“Ar..” bisikku.

Dia nyaris roboh ketika berlutut di depanku. Aku mencoba bangun, menolongnya, namun yang kulakukan tak lebih dari menggerakkan tanganku, menahan lengannya. Darah menetes dari luka dalam di pinggang kanannya.

“Kau ba—baik-baik saja?”

Ar mengangguk, nafasnya satu-satu, “Tidak pernah sebaik ini.” dia mencoba tersenyum, namun senyumnya menghilang ketika dia mengamati keadaanku. Aku tahu, Ar tahu jika aku sekarat. Sebenarnya lebih tepat jika kami berdua sekarat. Ar mengamati dua anak panah yang masih tertancap di lenggan dan pinggangku. Dia menyentuhnya, aku mengangguk pelan.

Jeritan kesakitanku bergaung di tempat ini ketika Ar berhasil menarik keduanya. Perak-perak sialan itu benar-benar menyakitiku. Aku tahu aku tidak akan bisa memulihkan keadaanku dengan bekas sentuhan perak itu di lukaku.

“Kau butuh darah.” Ar tersenggal-senggal, “Tapi kita harus keluar dulu dari sini.” Dia mencoba berdiri, lalu dengan tangan yang satunya, Ar membantuku bangkit. Nyaris menopang seluruh berat tubuhku, dia memapahku dengan tertatih-tatih. Aku berusaha terus menjaga kesadaranku, kami tidak jauh lagi. Tidak jauh lagi dari jalan keluar dari sini. Aku merindukan udara basah hutan di dekat kastil. Aku bersyukur ini berujung di sana. Memang bukan tempat yang indah untuk mati, tapi setidaknya, aku tidak mati dalam kegelapan labirin rahasia ini.

Kami berdua rubuh tepat di bawah pohon besar di dalam hutan setelah Ar berhasil mendorong pintu batu geser yang ada. Bau hutan dan sisa hujan kemarin memenuhi hidungku. Gaunku kotor oleh lumpur, tapi aku tak peduli. Ar bangkit, menolongku bangun dan membawaku duduk bersandar di batang pohon terdekat. Seringkali aku melihat dia mengernyit ketika dia bergerak. Ar pasti sama kesakitannya seperti aku.

Aku menyandarkan kepalaku, setengah terpejam, merasakan rasa sakit yang menekan seluruh tubuhku. Rasa panas membakar tubuhku di bagian yang terluka oleh panah. Meskipun mata panah perak sudah dicabut, tapi rasa sakitnya masih melekat seolah benda sialan itu masih di sana.

Mataku terbuka, Ar di depanku, menyentuh kedua pipiku dengan tangannya yang berlumur darah, “Kau tidak boleh mati, Rena.” Bisiknya, “Kau harus bertahan.”

Sudut bibirku tertarik ke atas, aku memahami kemauannya. Tapi dengan keadaan seperti ini, itu tidak memungkinkan bagiku. “K-kau ter..luka, A-Ar.”

“Apa darah penyihir begitu tidak enak?”

Kedua alisku saling tertaut. Mataku melebar ketika aku menyadari kemana arah tujuan pembicaraan ini. Aku menggeleng. Tapi sial, Ar malah tersenyum.

“Aku tidak akan hidup lama dengan luka ini, Rena. Ada racun di pedang mereka. Sebelum racunnya membunuhku, kurasa kau yang harus melakukannya. Setidaknya darahku akan membantumu bertahan sampai Reven datang ke sini.”

Aku menggeleng lagi, “T-t-tidak.” Tegasku.

Tangannya menekan pipiku, bau amis darahnya semakin kuat tercium di hidungku, “Kumohon. Aku berjanji pada ayah untuk melindungimu. Dan aku tidak mau di saat terakhirku, aku malah gagal. Lagipula, mati tidak semengerikan yang orang pikir, bukan?”

Air mataku menetes, satu persatu lalu makin banyak. Dengan lembut, Ar mengusapnya, “Master pernah bilang jika darah yang dihisap vampir akan memberi vampir itu semua kenangan korbannya. Ingatan mereka. Tidakkah kau ingin tahu semua ingatanku, Rena? Itu akan menjawab semua pertanyaanmu yang tak pernah bisa kujawab dengan jujur.”

Aku terisak ketika Ar memelukku erat. “Sekarang, Rena. Kumohon. Racun ini tidak akan mau menunggu.” Bisiknya di telingaku. Bibirku tepat di dekat lehernya, aku bisa mendengar denyut nadi darahnya.

“Rena.. kumohon.”

Kedua taringku mendekat, aku memejamkan mataku. Ar berjingkat pelan ketika kedua taringku menusuk lehernya, “Anak pintar.” Bisiknya, “Semuanya. Semuanya Rena.” Tangannya menekan punggungku, aku tahu rasanya pasti sakit. Namun aku sudah tidak bisa menghentikannya. Ketika darah Ar menyentuh bibirku, aku kehilangan kontrol pada tubuhku sendiri. Meskipun rasanya tidak selezat darah yang biasa kuminum, aku tetap tidak bisa mengabaikannya. Darah manusia. Darah penyihir. Darah Ar.

Air mataku menetes lagi tepat ketika aku mengangkat wajahku dan tubuh Ar ambruk dalam pelukanku. Aku memeluknya sangat erat dan menjerit sekuat yang aku bisa. Aku tidak akan melupakan semua yang terjadi. Tidak akan.

***

“Aku serius, Rena.”

Ar memukul lenganku ketika aku tidak mendengarkannya dengan benar dan malah bermain-main dengan entah kotak kecil apa yang ada di atas meja tidur Ar. Selalu banyak barang-barang aneh di rumah Ar. Sayangnya, hanya tidak pernah ada perempuan selain aku yang pernah ada di sini. Aku memaksanya melupakan Noura namun dia tidak bisa. Bertahun-tahun dan aku menyerah. Asalkan dia bahagia, hidup bersama kenangan tentang Noura.

Aku mengikutinya dan duduk di dekat perapian, atau lebih tepatnya duduk merapat pada Reven yang langsung merangkulku dengan lembut. “Ceritakan lagi.” kataku sambil menyandarkan kepalaku pada dada Reven.

Ar memutar bola matanya melihat tingkahku. Tapi aku tak peduli dan kurasa Ar bisa mengerti,. Dia menghela nafas panjang, “Aku khawatir pada apapun yang tengah dikerjakan oleh kelompok slayer.”

“Memangnya kenapa?” tanyaku tak peduli.

“Aku sudah mengatakan alasannya tadi, Rena.” Dia mengomel dan Reven menepuk lenganku ketika aku malah tertawa.

“Kau harus mendengarkannya.” Kata Reven dan aku mengangguk, menahan tawa melihat ekspresi Ar.

“Sudah beberapa tahun terakhir ini aku mencurigai mereka. Firasatku benar-benar buruk tentang hal ini. Setiap aku berkunjung ke sana, aku merasa ada yang mereka semua sembunyikan dariku. Dan Edge, entah kenapa aku tidak suka dia menjadi Master. Dia orang yang sangat ambisius dan aku tidak percaya jika dia tidak akan pernah menggunakan pengetahuannya tentang lokasi kastil kalian.”

Reven mengangguk, “Aku memahaminya.”

“Tapi sudah bertahun-tahun berlalu dan tidak terjadi apa-apa.” Protesku sambil menegakkan punggungku.

“Itu yang semakin membuatku khawatir. Semua ini. Seandainya kalian melihat sendiri bagaimana peralatan para slayer dan heta saat ini. Kalian akan khawatir tanpa perlu kuingatkan. Mereka memperbarui semuanya. Perak-perak terbaik. Serbuk perak. Semua yang bisa membunuh kaummu.”

Aku menghela nafas, “Kau terlalu paranoid, Ar.”

Ar menggeleng, “Aku yakin mereka merencanakan sesuatu.”

“Tapi sejauh ini bangsa vampir dan manusia sudah tidak punya masalah lagi.” Reven mencoba menenangkan Ar.

Tapi Ar tetap terlihat tak menyerah, “Bagaimana bisa disebut tidak ada masalah jika kalian bertahan hidup dengan membunuh manusia.”

“Kami hanya mengambil apa yang kami butuhkan.”

Ar menggeleng lagi, “Tetap saja.”



“Cepat atau lambat kita akan tahu. Hanya saja jangan membuat ini terlalu membebanimu.” Reven mencoba menengahi.

Ar mendesah, “Aku hanya takut jika kita terlambat menyadarinya.”

Aku bangkit, duduk di dekat Ar, memegang kedua tangannya, “Tidak akan ada sesuatu hal buruk yang bisa terjadi pada kami, Ar. Kau lihat, segalanya baik-baik saja. Lagipula apa yang mungkin dilakukan Edge, dia sahabatmu bukan?”

Ar memandangiku, “Waktu bisa saja mengubah segalanya. Kau tidak tahu betapa marahnya dia ketika aku memutuskan untuk berhenti sebagai seorang slayer. Dia bilang aku mengkhianati sumpahku.”

“Kau hanya tidak ingin menjadikan bangsaku musuhmu.” Aku meremas tangannya, “Percayalah pada kami. Segalanya benar-benar baik-baik saja.”

Kedua bola mata Ar menatapku—lama—sebelum akhirnya dia membuang nafas panjang, “Semoga memang begitu.”

Aku tersenyum, mengecup pipinya singkat, “Aku menyayangimu.”

Ar balas tersenyum, “Aku lebih menyayangimu.”

“Kalian mulai membuatku cemburu.”

Aku menoleh dan tertawa, Reven melipat kedua tangannya dan menatap kami.

“Aku akan sangat sedih jika kau tidak begitu.” Ucapku ringan sambil berjalan ke arahnya.

***

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

23 Comments

  1. Ah.. kangen sama reven. baca cerita ini agak terbayar tapi sedikkittt, revennya kurang banyak ka:( rena-reven momentnya juga padahal saya ngarapeinnya rena-reven moment ha ha tapi malah ada kabar duka ar mati.
    Lanjut ya ka?
    SEMANGAT!!

  2. kenapa ar meninggal???
    aku kira remember us ttng ar yg bisa move on dari noura trus diselipin kisah2 romantis reven n rena
    huhuhuhu sedih deh,,,

    ar miss u so much…

    aku setia nongkrong di lapakmu mnunggu karya2 dr mu slnjutnya

    CAIYO!!!

  3. Well, takdirnya Ar emang pahit. Cinta bertepuk sebelah tangan terus meninggalnya gara2 kelompoknya sendiri. 🙁

    Rena-Reven yang romantis di next Remember Us ya.

    Wiehiii, tengkyuuhh uda setia nongkrong di sini.
    Semangaattt!

  4. Ka Riaaaaaa… ini awalnyaa apa banget dehhhh >…<
    Jd langsung Galao kn jadinyaaaaa..

    Udh macem orng idiot.. melongo g percaya kalo Ar udh ga ada– HUUWAAAAA!!!!

    ok aku akuin bagian pertama ini emang Feelingnya DAPET BANGET!!!!

    SEDIH RASANYA TAU2 ARSHEL UDH PERGI– ya meski ga sampe keluar air mata…
    Tapi tetep aja bacanya Bikin NYESEK!!!

    KA RIAAA… PARAH MAH T.T

    ARSHEL ABANG YANG BAIK BNGT BUAT RENA…
    *kapaaaann aku punya Abang macem ARSHEL???* (OKcurcol) wkwkw

    Btw.. nntr berarti Rena bisa Taukan ya apa apa aja yg terjadi sama Ar dan Noura???
    Wah seru dongg!! Kalo di ceritain jugaaaa ^_^

    Ahya aku ga tau Ka Ria inget aku ato ga (aku yg sering comment panjang2) *tapi GJ* wkwkw

    Anyways pokoknyaaaa… part2 selanjutnya buat Remember Usjgn terlalubdibuat sedih gini yaaaaa… aku jd ikutan Galao kaya RENA bacanyaaa…

    Ka Riaa ga ada niatan gitu buat ngirim ini #HV ke penerbit???
    Yakin pasti kalo udh terbit.. aku lngsung ke gramed buat beli… 😀 wkwkw
    Pokoknya #HV ini bikin aku addict bnget buat trus baca kelanjutannyaaa ^_^

    Pokoknya jugaaa… seaku sehat buat KA RIAA biar bisa selau update cerita2 yg ga kalah bagus dari #HV ^_^

    GOOD LUCK!!!

  5. Ar dan Rena.. Ah entahlah, sayang juga sebenarnya, tapi entah kenapa aku merasa ini yang terbaik untuk Ar. Lagipula dia juga selalu sendirian dan kesepian di dunia ini, dengan semua cintanya yang dalam pada Noura dan yah.. Kurasa Ar lebih baik seperti ini. :'(

  6. Aku inget aku inget kok. Aku selalu seneng loh baca komenmu yang panjang. Rasanya menyenangkan. Hohhoho

    Ah iya, aku pikir ini yang terbaik buat Ar. Mungkin memang lebih baik seperti ini daripada Ar hanya hidup di dunia ini dengan kenangan dan kesendiriannya. Noura, cuma dia satu-satunya perempuan yang berharga di hati Ar dalam hal cinta kepada seorang perempuan.

    Arrrggghhh, aku mau aku mau aku mau… Tapi apa iya ada penerbit yang mau nerbitin HV. :'(

    Semangat juga dan terima kasih buat doanya yaa.. *peeluuuukkkk*

    Tunggu next Remember Us ya. 🙂

  7. Kangen banget sm HV udah 2 bln udah nggak buka blog kk lg nungguin remembr usny.

    Huhu huwaaaaaaaaa……. Oh tidak, kenapa nasib Arsel jd Gini? Knpa cpet banget ninggalin Rena???
    Sungguh kk yg palingbaik, kk yg penuh tanggung jwb akan amanat dr ayahny untuk menjg Rena.

    Oh ya kak Ree mau tanya, kenapa sih Edge kejem amat? Kenapa ia mau membunuh klen vampir kak Ree, apa karna klen vampir sering memburu pra manusia. Apa ada penyebab utama lainny???/

    Oh ya kak Ree boleh dong komen lg atau cerita" sedikit lg yach kak Ree?? Boleh ya kak, boleh dong, boleh yach kak. *hehehe.

    Dlu pertama kali bca cerita HV ini kak di wattpad, bingunggg banget dgn ceritanya,sebab alurny maju mundur, tp tp CERiTANYA KEReN+ SANGAT" MENARIK Banget u/ dibca. Dan setiap cerita" selanjutnya selalu bertanya" dimana sih inti dr cerita ini sebenarnya?? Siapa sih naoura it? Apa maksud &tujuanny melakukan semua ini? Mengapa hrs Rena yg mengalami ini semuanya? Knapa bnyk org yg menyukai noura ini? Ada ap sih sebnrny yg terjadi dimasa laluny?
    Dan setelah baca trus ketagihan bacanya dan sampai sekarg hingga mengerti dimana letak titik masalah ny dan penyelesaianny. Pokokny Puas banget dan swnenggg bgt dgn cerita HV ini.

    Kak Ree pandai bnget masukin permaslahan dan orgny disela" ceritany, pandai bwt para pembca bertany" dan sll pnasaran dgn ceritany. Selain ceritany panjang, pemainny bayk jg nggak bosenn dgn setiap cerita yg ditampilkan.sampài skrg pun cerita HV sll ditunggu" klnjutanyy. Dan rasany nggak mau pisah dgn cerita ini.

    *Ayo beri tpuk tangan bwt kak Ree tman".
    TOP TOP TOP TOp bwt HV ny kak Ree.
    thanks kak ree.

    *Hehehe kira" kebanyakan nggak yach koment ny, rasany ingin koment yg lbih pnjg lg nih. Tp nanti kak Ree ny marah. hihihi.
    * Ayo Kaburrrrrrr. 😀

  8. Hihihi ;))
    Makasih Author tercinta ini telah mengingat saya 🙂 *xoxo

    Hufff- ya, memang sih.. kadang kesendirian itu rasanya kaya bisa 'membunuh' gitu… aku juga ngerasain.. *tp aku ga jones*
    Tp sendirian itu ga seburuk yang sebenernya.. kadang dengan sendiri kita bisa nemuin suatu hal seperti introspeksi diri. 🙂
    Sendirian juga kadang bikin aku sering ngelamun flashback sama kenangan masa lalu.. yg kadang bikin senenh juga nyesek sendiri ngingetnya :))
    'Cinta' emang bikin sendiri itu menjadi menyedihkan–

    Ini yg kadang bikin aku sedih.. entah Ka Ria ini Author ke berapa yg tiap kali aku tanya "Ga ada niatan buat nerbitin kah?"
    Dan musti jawabannya "masa iya ada penerbit yang mau?" —-

    Kenapa musti pesimis duluan???
    Kan belum dicoba???
    Lagian ga mungkin juga "ga diterima"
    Kan udah kebukti di Wattpad sama di blog.. banyak yg suka kan??

    AKU MALAH SUKA BANGET!!! PAKE BANGET LAGI!!

    pokoknya harus dicoba!!! Jangan pesimis dulu~
    Aku sebagai para readers pasti ikut ngedo'ain… PASTI!! ><

    Iyaaa!! Pasti semangat!! Tapi tambah SEMANGAT kalo Next Remember Us nya.. update terus!!! Wkwkwkwk

    Sama sama Ka Ria :)) *xoxo*

    PASTI KUTUNGGU~~ XD

  9. penyerangan itu terjadi 20 tahun setelah vlad musnah kan? berarti saat itu ar sudah tua dong ya thor?
    eh tp dia kan penyihir ..

  10. He…aku sukses melongo,bc pas yg dimakam adlh Ar,ar ku?!!heleh…apa ini…?he…,knapa ga isa move on si Arshel…bikin jealous aja ini,

Leave a Reply

Your email address will not be published.