Remember Us – Sentuhan Lain

Aku mendengarkan semua yang diceritakan oleh Damis tanpa menyela sedikitpun. Tiga ratus tahunku terbayar dalam satu petang yang panjang bersamanya. Dipenuhi kisah dan segala hal yang sama sekali tak bisa kubayangkan akan menimpa para vampir. Sebagian mungkin telah kudengar dari cerita yang disampaikan oleh keluarga Cllarigh, namun melalui Damis, aku menerima semua detail lain.

Para vampir yang kuat bertahan dan berhasil selamat dari perang besar. Tak banyak memang tapi itu sudah cukup untuk membuat bangsa kami tetap bisa hidup dan tidak punah. Damis juga membenarkan pembantaian yang dilakukan oleh anak Elior, Jared Ritter terhadap kelompok manusia serigala yang tersisa. Tapi sama halnya seperti bangsa vampir, sesungguhnya bangsa manusia serigala juga tidak punah. Kedua bangsa besar itu tersingkir dan memilih bersembunyi. Menyembuhkan luka mereka dan kehilangan besar-besaran dalam jumlah anggota.

Aku terkadang masih tak bisa mengerti bagaimana manusia yang selalu berada di urutan terbawah dalam urutan kekuatan dan segalanya, sanggup memecah belah semua yang ada di dunia ini. Vampir dan manusia serigala ditendang dari lingkar kekuasaan yang diambil alih sendirian oleh mereka. Tiga ratus tahun berlalu dan bahkan jejak keberadaan kami dihapuskan.

Vampir dan manusia serigala berubah dari bangsa penguasa menjadi bangsa legenda. Sebentuk keberadaan yang dianggap cuma hidup dalam mitos. Aku tersenyum miris, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ini terasa salah dan tidak bisa diterima.

“Dan Reven membiarkannya begitu saja? Selama tiga ratus ini, kejayaan kaum kita dilenyapkan tanpa tanda oleh para manusia ini?”

Damis menghela nafas, meraih tanganku dan mengenggamnya, “Dia tak punya pilihan, Rena.” ungkapnya, “Tak ada yang membantah. Kami dalam keadaan sudah kalah perang. Terluka dan nyaris putus asa. Yang bisa kami lakukan selama beberapa waktu hanya mencoba bertahan hidup.”

“Ini konyol,” sergahku, “Kalian mempunyai Reven, Victoria dan entah berapa para vampir kuno lain yang tersisa. Tapi..” aku kehilangan kata-kata. Bangkit dengan cepat, berjalan mondar mandir dengan perasaan sesak karena marah.

“Menepi adalah pilihan bijak. Jika Reven berkeras pada egonya dan kami terus menyerang dan melawan, sudah jelas bangsa vampir akan lenyap tak bersisa.”

Aku berhenti, menatap nyalang pada Damis, “Tidak berkeras pada egonya?” aku mendengus, “Yang kutahu justru dia adalah orang yang paling menjunjung tinggi ego dan harga dirinya.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kau dan Rev—“

“Cukup, Damis.” potongku keras dan cepat, “Aku tidak ingin mendengar apapun lagi tentang makhluk tak berperasaan itu.”

Sepasang mata milik Damis menatapku ragu, namun akhirnya dia cuma mengangguk, “Lalu sekarang apa rencanamu? Apa kau akan memberitahu pada mereka jika kau sudah mengingat semuanya?”

“Untuk apa?” aku balas memandang Damis dengan tajam, “Apakah menurutmu mereka peduli?” aku menggeleng, “Reven dan Victoria sama sekali tidak peduli pada apapun yang terjadi padaku.”

“Mereka peduli.”

“Oh ya?”

“Jika tidak kenapa Victoria repot-repot mencarimu dan membawamu kemari. Dia nyaris menyeret aku dan James hanya untuk pergi bersamanya demi dirimu.”

Aku tertawa sinis, “Kutebak Victoria melakukan itu karena dia membutuhkan sesuatu dariku. Itu jelas. Sebab jika tidak, dia tidak akan mau melakukan itu semua. Aku tahu orsng seperti apa Victoria Lynch itu.”

Kali ini Damis menutup mulut, sama sekali tidak mengucapkan apapun lagi dan aku berbalik. Menatap ke arah awan mendung di balik rerantingan pohon di hutan ini.

“Yang harus kutahu adalah, apa yang Victoria butuhkan dariku.” gumamku pelan.

***

Aku mengambil gaun terbaik yang diberikan Damis padaku. Sebuah gaun khas kerajaan dengan warna merah dan emas. Gaun anggun yang akan menonjolkan semua bentuh sempurna dari tubuhku. Kuatur rambutku dengan kepangan rumit nan mewah. Malam ini—entah memang kebetulan atau aku yang bernasib baik—ada pertemuan rutin semua pemimpin kelompok kecil yang tersisa. Dan kupikir, aku harus menunjukkan keberadaanku dalam sentral kelompok utama dengan jelas.

Tersenyum, aku suka pada ide yang ada di dalam kepalaku. Sambil menunggu, kubiarkan diriku berdiri menatap langit malam yang tak berbintang dari jendela tinggi di koridor atas kastil sebelum akhirnya aku menoleh ketika mendengar langkah-langkah kaki mendekat ke arahku. Tubuhku bergerak pelan, menatap ke arah tubuh itu. Senyumku terukir dan aku bisa melihat betapa ekspresi di wajahnya menunjukkan jika perubahan yang kulakukan tidak sia-sia.

Damis menatapku dengan mata melebar. Dia memandangiku lama sebelum akhkirnya berjalan mendekat ke arahku. Dia menundukkan sedikit tubuhnya ketika memintaku meraih tangannya yang terarah padaku. Dengan gaya kerajaan yang anggun, aku menggenggamnya dan Damis tersenyum lembut padaku. Kami berjalan menyusuri koridor dan turun ke ruang utama dengan langkah pasti.

Dengan gaya khas bangsawan kerajaan, Damis membukakan pintu ruangan tersebut untukku sebelum akhirnya mengamit lenganku lagi. Aku tersenyum tipis, mataku terfokus pada semua tubuh yang mendadak mengejang kaku ketika melihat kami berdua masuk bersamaan ke dalam sini. Semua tubuh yang duduk mengitari meja panjang besar di aula ini menatapku dengan terkejut. Mungkin beberapa yang selama ini mengira aku mati atau apa, tak menyangka jika aku akan berdiri lagi di sini. Mengambil tempatku sebagai anggota kelompok utama.

Reven yang duduk di kursi paling ujung memandang aku dan Damis dengan mata menyipit tajam dan tidak suka. Tapi aku tak peduli. Bibirku masih membentuk satu senyum tipis dan kubiarkan mataku membalas tatapan Reven, tanpa rasa takut sedikitpun. Victoria yang duduk di dekat Reven menatapku terkejut selama beberapa detik. Mungkin dia tak menyangka aku akan datang dengan penampilan seperti ini, namun aku tak mengindahkannya. Bahkan Lucia yang nampak baik-baik saja setelah siang tadi nyaris mati di tanganku tak sanggup menyembunyikan wajah marahnya padaku. Dan aku tak mau repot-repot menatap vampir lain yang sudah hadir.

Damis membimbingku duduk di kursi tepat di depan Victoria dan berada di dekat Reven di sisi yang lain. Daguku terangkat, aku tersenyum lebar, “Selamat malam.” ucapku singkat sebelum duduk dan aku sama sekali tidak melepaskan tatapanku pada Reven.

“Jadi apa yang dikatakan Lucia benar? Kau sudah mengingat semuanya?” suara Victoria yang anehnya terdengar senang berhasil membuatku menoleh padanya.

Aku masih belum memaafkan Victoria atas apa yang dia lakukan padaku siang tadi. Meski luka akibat duri-duri tumbuhan itu sudah lenyap dengan cepat dari tubuhku, aku masih membenci sikapnya yang berubah-ubah padaku dan seenaknya sendiri.

“Dan apakah itu penting bagimu, Victoria?” aku balik bertanya dengan sinis.

Namun yang kudengar justru suara tawa kecilnya, “Dari perubahan sikapmu, kutebak jawabannya ya.” lalu dia melirik pada Reven yang masih tak berkedip memandang ke arahku, “Kurasa ini akan mulai menarik.” ucapnya.

“Aku tidak peduli dia punya ingatannya lagi atau tidak, yang jelas—“

“Tutup mulutmu, Lucia.” selaku tajam, “Apa yang tadi siang belum cukup?” aku memandangnya dengan tatapan meremehkan, “Kita bisa melanjutkannya lagi jika kau memang menginginkannya.”

Lucia berteriak marah dan sudah akan melompat ke arahku jika tangan Victoria tidak lebih cepat menahannya dan membuatnya terbanting duduk kembali di kursinya.

“Kau diam, Lucianna.” desisnya penuh ancaman.

Aku memiringkan kepalaku dan melempar senyuman tipis pada Lucia yang wajahnya sudah memerah marah.

“Diam di kursimu dan patuhi apa yang dikatakan Victoria, maka kau akan hidup lebih panjang.” kataku dengan santainya.

“Cukup.”

Aku menoleh pada Reven ketika mendengar suara geraman rendahnya. Mataku menyipit dan dia memandangku dengan ekspresi tidak suka. Sebelumnya tidak ada rona muka apapun di sana, datar dan mati. Tapi sekarang wajah Reven nampak marah. Aku menatapnya penuh tantangan.

Jadi kau akan membela perempuanmu ini, pikirku sinis.

“Aku tidak mengizinkan Victoria membawamu ke sini hanya untuk membuat keributan di kastil ini, Sherena Audreista.” ucapnya tajam.

Mataku membulat tak berkedip mendengar caranya berbicara padaku. Amarah itu berkumpul dan satu-satunya yang dipikirkan oleh kepalaku hanya mematahkan leher laki-laki ini. Belum lagi dengungan suara vampir-vampir lain yang mendengar Reven mengucapkan itu padaku. Mereka mungkin bahkan tidak tahu jika aku dan Reven bukan lagi seperti kami yang dulu.

Bibirku menipis dan rahangku mengeras. Aku sadar tanganku terkepal erat dan sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh, Damis meraih pergelangan tanganku dan mengenggamnya.

“Rena,” panggilnya memohon.

Aku tidak menoleh pada Damis yang duduk di sampingku, tapi aku mengerti apa yang ingin disampaikannya padaku. Aku diam selama beberapa detik, mencoba menguasai semua emosiku dan setelah mencoba beberapa lama, bisa kurasakan semua otot-otot tubuhku yang menegang menjadi lebih rileks.

“Maafkan kesalahanku.” ucapku ringan dan aku mengalihkan pandanganku dari Reven.

Reven tidak mengucapkan apapun dan aku melihat Victoria tersenyum lebar. Terlihat antusias padaku. Setelahnya aku tidak bisa fokus pada apapun yang dikatakan oleh Reven. Tatapan Victoria berbicara padaku dan aku bisa mendengar suara yang tak diucapkannya.

“Senang kau kembali, Sherena.”

Kedua alisku tertaut dan Victoria hanya tersenyum makin lebar. Kurasa dia menyadari bahwa aku mendengar apa yang dikatakannya padaku lewat suara batinnya.

“Apa tujuanmu sebenarnya, Victoria?”

“Kau akan tahu dengan segera.”

Bibirku mengatup rapat dan Victoria mengalihkan tatapannya dariku. Sekarang dia sepenuhnya terfokus pada Reven yang tengah membicarakan tentang rencana-rencana entah apa, aku tidak mendengarkan karena aku sibuk mencaci maki Victoria di dalam kepalaku. Kuharap dia mendengar apa yang kukatakan padanya, namun jikapun dia mendengar, aku tidak melihat tanda-tanda jika Victora memedulikan itu semua. Dia masih saja menatap ke arah Reven tanpa terganggu sama sekali.

Buku-buku jariku terkepal rapat, sialan benar perempuan vampir satu itu. Permainan apa lagi yang tengah dimainkannya sekarang. Tapi jika dia berpikir aku masih Sherena yang dulu, yang cuma bisa menjadi pemain pengikut. Maka dia salah. Aku tersenyum licik, akan kutunjukkan padanya siapa Sherena Audreista yang sekarang duduk di depannya.

***

Jika Damis menanyakan padaku apa yang dibicarakan di pertemuan tadi, maka itu akan jadi satu-satunya pertanyaan tersulit yang kuterima seharian ini. Sebab aku tidak tahu. Fokusku tak di sana dan aku hanya terlalu sibuk sepanjang pertemuan itu untuk memandangi wajah Victoria dan Lucia serta berusaha keras tidak menyerang mereka.

Aku sepenuhnya mengabaikan Reven dan tak peduli padanya. Bahkan ketika dia dan Damis saling melempar pendapat. Aku tak sedikitpun melirik padanya. Victoria mengambil sepenuhnya fokusku untuknya. Dan ini karena telepati sialan itu, aku bahkan tak tahu kami bisa melakukannya. Namun raut wajah Victoria sama sekali tak menunjukkan sedikitpun keterkejutan, maka aku berasumsi dia tahu tentang ini.

Tapi dulu aku tidak pernah melakukan ini. Pertanyaannya adalah, kenapa baru sekarang. Apa sesuatu dari ritual atau tidur panjangku itu mengakibatkan aku memiliki kemampuan-kemampuan yang sebelumnya tidak aku miliki. Di samping telepati itu, aku juga tahu bahwa kemampuan bertarung meningkat ratusan kali lipat. Aku bisa merasakannya dalam darahku. Semua kekuatan dalam diriku yang bergejolak hebat.

Pelan, aku memejamkan mataku dan berdiri tegak di tepian balkon dengan tangan kananku mengenggam piala berisi darah segar. Kubuka lagi mataku, merasakan dingin udara tengah malam menerpa wajahku. Aku sudah berada di balkon ini sejak pertemuan di aula utama berakhir. Dan entah sudah berapa lama sampai sekarang, aku masih belum merasakan sedikitpun ketenangan. Terlalu banyak yang ada di pikiranku sampai aku sendiri tidak mengerti mana yang benar-benar ingin kupikirkan.

Kuangkat pialaku dan menyesap isinya pelan. Menikmati sensasi darah yang mengalir turun ke tenggorokanku. Kujauhkan piala itu dari ujung bibirku dan kepalaku mengayun lembut, menoleh pada sosok tegap yang berdiri di sampingku sejak beberapa detik yang lalu. Aku tersenyum tipis, mataku memindainya dengan intens.

“Apa yang dimaksud Victoria dengan kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu?” suara itu tenang dan wajah itupun tak menyiratkan ekspresi apapun ketika memandangku.

Aku mendengus sinis mendengar apa yang diucapkannya. Aku berbalik hingga tubuhku sepenuhnya menghadap padanya.

“Apa yang sebenarnya ingin kau tahu, Reven? Apakah kau sendiri tidak mengingatnya? Sepertiku… dulu?” suaraku kulembutkan dan tatapanku mengunci pandangannya.

Reven menyipitkan matanya, “Victoria selalu berkeras mengatakan padaku bahwa kau adalah wanita yang berarti untukku. Bahwa kau adalah belahan jiwaku. Tapi aku sama sekali tidak tahu apapun tentang dirimu. Dan itu membuatku penasaran.”

Aku memandang Reven makin tajam. Mulutku terkunci dan aku sendiri berusaha keras untuk tidak melakukan sesuatu yang berada di luar kontrol emosiku. Sebab apa dia bilang tadi, penasaran? Sebatas itu?

Sejujurnya aku juga terkejut ketika tahu bahwa Reven juga sama tidak ingat sepertiku. Damis mengatakannya padaku sebelumnya, tapi tetap saja itu terasa aneh ketika aku mendengarnya sendiri dari mulut Reven. Namun memangnya kenapa, dia yang melakukan ritual itu atas kehendaknya sendiri. Dia yang ingin melenyapkanku dalam kehidupannya demi menghindarkan dirinya dari sebuah kelemahan.

Lalu sekarang dia penasaran kenapa dia tidak bisa mengingatku?

Aku meletakkan piala yang kupegang ke atas pembatas balkon dan berjalan mendekat ke Reven hingga tak ada jarak di antara tubuh kami. Aku mendekat rapat hingga wajah kami tak berjarak lebih dari sejengkal tangan.

Tanganku menyentuh pelipisnya dan turun dengan lembut ke tulang pipinya, “Kau sama sekali tidak mengingatku?” desahku dengan sengaja menghembuskan nafasku sedekat mungkin pada lehernya.

Wajah Reven tak melukiskan apapun dan aku semakin merapat padanya, “Apa aku perlu membuatmu mengingatnya, Reven?” lirihku menggoda.

Mata Reven menatapku tajam namun dia tak melakukan perlawanan atau bahkan menikmati apa yang kulakukan padanya. Mataku memindainya lembut dan aku tahu jika suatu saat dia mengingat semuanya, segalanya sudah terlambat. Detik ketika aku mendapatkan semua yang kulupakan, aku telah bersumpah bahwa aku tak akan pernah menjadi diriku yang dulu. Bahkan ketika menyentuh Reven dan berdiri sedekat ini dengannya, aku tidak bisa merasakan apapun di dalam diriku. Hanya perasaan marah, dendam dan rasa benci yang tersisa.

“Apa yang ingin kau lakukan?” suara Reven dingin dan tajam sementara aku hanya membalasnya dengan senyum.

Mari kita mulai semuanya Reven, seperti yang kau inginkan.

Dan dengan gerakan pasti, aku menariknya semakin mendekat padaku. Bibirku menemukan bibirnya dan aku menciumnya dalam. Ciuman yang akan mengingatkan dia bahwa sekarang aku tak akan pernah lagi menjadi miliknya. Aku merasakan Reven membalas ciumanku dan kami tenggelam dalam apapun itu yang ada di kepala kami masing-masing.

Ciuman itu intens dan lama, dan akhirnya aku tahu inilah saatnya. Aku menarik diriku dengan tiba-tiba dan menemukan Reven yang mengerjap. Sejenak aku melihat wajah itu nampak tidak senang karena aku mengakhiri ciuman kami. Aku memandangnya dengan dagu terangkat dan satu alis terangkat.

Pelan, aku berjalan menjauh darinya dan meraih pialaku. Berhenti untuk menyesap lagi isinya. Aku sadar Reven masih memandangiku. Aku berusaha keras untuk menahan tawaku. Setelah selesai dengan pialaku, aku berputar dan balas memandang Reven.

“Aku lebih hebat daripada Lucia, bukan?”

Dan tanpa menunggu, aku berbalik, meninggalkan Reven dan pergi dari balkon yang semakin dingin ini.

***

Aku mengetuk ruangan itu pelan dan masuk ke dalamnya ketika aku tidak mendengar balasan dari dalam. Aku melihat Damis berbaring di atas tempat tidurnya dengan mata terpejam. Pelan, kututup pintu ruangan ini dan memandang ke arahnya.

“Aku tahu kau sedang tidak mengistirahatkan benakmu, Damis.”

Sudut bibirnya tertarik dan dia membuka matanya, “Apa yang bisa kubantu, Rena.” dia bergerak, bangun dan duduk. Bersandar pada kepala tempat tidurnya, “Tidakkah kau lelah? Ini hari yang panjang bagimu.” ucapnya lagi.

Bergerak pelan mendekat, aku memasang wajah cemberut, “Tapi aku tidak bisa mengistirahatkan benakku sekarang. Dan jika aku sendirian di ruanganku, aku akan merasa takut dengan semua yang ada di dalam pikiranku.”

Damis menatapku, mencoba membaca apa yang sebenarnya sedang ada di kepalaku. Tapi dia tak bisa, aku tahu itu. Damis hanya tertawa kecil, menepuk tempat di sebelahnya, “Kemarilah,” katanya lembut seolah aku adalah anak kecil yang sedang meminta perlindungan pada orangtuanya. Aku tersenyum lebar menyadari apa yang ada baru saja kuumpamakan untuk situasi kami.

Aku beringsut mendekat dan duduk merapat pada Damis. Menyelonjorkan kakiku dan menyandarkan punggungku pada kepala tempat tidur. Damis merangkulku dan menepuk-nepuk pelan bahuku.

“Jangan terlalu banyak berpikir, Rena. Apa yag terjadi padamu tidak seburuk yang kau pikirkan.”

Aku diam. Menyandarkan kepalaku pada pundak Damis dan dia mengeratkan rangkulannya. Aku tidak tahu kenapa, berada di dekat Damis memberikan rasa aman dan nyaman padaku. Mungkin jauh di dala diriku, aku tahu bahwa dialah satu-satunya sosok yang tidak akan pernah mengkhianatiku dan melukaiku.

“Kenapa kau tidak mencariku dan membangunkanku selama tiga ratus tahun ini, Damis?” tanyaku pelan.

Dia mendesah, “Aku ingin. Percayalah.” katanya, “Tapi aku tidak tahu dimana kau berada. Dan Victoria berkeras bahwa aku hanya perlu menunggu dan kau akan mendapatkan waktumu sendiri untuk bisa kembali pada kami. Aku percaya pada Victoria dan lihat, kau ada di sini sekarang. Kembali di tengah-tengah kami dan mengingat semuanya.”

“Aku tidak suka bagian dimana kau mempercayai Victoria. Aku membenci wanita itu. Aku ingin menghancurkannya.” geramku.

Tapi yang kudengar justru tawa Damis. Aku bangkit dengan kesal dan menatapnya marah, “Apa yang lucu?”

“Memiliki Victoria di sampingmu jauh lebih baik daripada memiliki Rosse di sampingmu. Victoria tidak akan pernah menusukmu dari belakang seperti yang dilakukan oleh Rosse, pada kita, pada Noura. Hanya saja, kau perlu menjadi terbiasa dengan sikap terbukanya. Dia hanya terlalu jujur.”

Aku mendesah, bersandar lagi pada kepala tempat tidur, “Dia menipuku dulu. Agar aku tidak ikut dalam penyerangan yang pada akhirnya menewaskan Lyra dan banyak yang lainnya.”

Damis menatapku lelah, lalu menghela nafas panjang, “Dan aku bersyukur karenanya. Jika tidak aku juga akan kehilangan dirimu. Lyra sudah cukup, dan jika kau juga terbunuh. Apa jadinya kita semua? Apa jadinya Reven? Kita akan benar-benar selesai.”

“Dengar, Reven tidak akan pernah peduli pada apa yang—“

“Rena,” Damis menyela cepat, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan Reven. Dan aku tak tahu apa-apa tentang ritual pelepasan ikatan belahan jiwa seperti yang kau ceritakan di hutan. Tapi aku tahu, itu lebih baik daripada melihat kematian belahan jiwamu. Merasakan separuh dirimu disiksa dan mati, tapi kau tak bisa melakukan apapun.” dia tertawa pedih, “Aku akan memilih seperti apa yang Reven lakukan padamu jika aku punya pilihan itu. Sayangnya aku tidak punya.”

Mataku memindai Damis tajam. Dia tidak tahu. Dia tidak tahu seperti apa rasanya. Jika dia tahu, dia akan percaya bahwa kematian Lyra adalah keberuntungan. Apa memang bahagianya hidup dengan cuma diikat dendam dan rasa marah. Tapi aku tidak akan menekan Damis lebih jauh lagi. Sudah cukup untuk satu hari ini. Aku masih punya begitu banyak hari jika aku memang ingin beradu pendapat dengan Damis.

“Apa yang sekarang kau ingin lakukan?”

Aku tersenyum padanya, “Jika kukatakan aku ingin pergi dari sini, apakah kau akan ikut denganku?”

Damis tertawa, lalu merangkulku lagi, “Aku akan ikut kemanapun kau pergi, Rena. Hanya jika kau ceritakan rencana apa yang ada di dalam kepalamu itu.”

Aku juga tertawa dan menyandarkan kepalaku, jatuh pada lengan Damis yang merangkulku, “Mungkin, sementara waktu, aku ingin menjauh dari Reven, Victoria maupun Lucia. Jika tidak, kau mungkin akan melihatku bertarung dengan salah satu dari mereka. Aku masih sulit mengontrol diriku sendiri untuk berusaha tidak membunuh mereka.”

“Lucia, mungkin bisa. Kau punya alasan melakukannya meski itu tetap mengejutkanku. Tapi pada akhirnya, tidak akan berarti apa-apa jika kau membunuhnya. Lalu Victoria dan Reven, apa kau yakin bisa mengalahkan mereka?”

Aku mengangkat bahuku, “Tidak akan tahu sebelum aku mencoba.”

Tangan Damis menyentuh kepalaku lembut, “Jangan keras kepala,” nasehatnya, “Kau, Reven, dan Victoria Lynch adalah semua yang kumiliki sekarang. Aku tak akan suka melihat kalian saling membunuh satu sama lain. Selain itu, kupikir mungkin kita tidak akan bisa pergi dari tempat ini dalam waktu dekat ini.”

Suara Damis terdengar jauh dan aku menoleh, matanya menerawang aneh, “Ada apa?” tanyaku khawatir.

“Apakah kau tidak merasakannya?”

Pertanyaan Damis semakin membuatku tidak mengerti. Tangannya bergerak dan melepas rangkulannya, “Victoria  bilang sesuatu itu memanggil kita semua. Seolah mengatakan kepada kita bahwa waktu kita hampir selesai.”

“Aku tidak mengerti.”

Damis menoleh, mengangguk pelan, “Akupun begitu. Pada awalnya.” sahutnya, “Tapi semakin ke sini, aku semakin mengerti dengan apa yang dikatakan Victoria. Aku dan dia sama tidak tahu apa itu. Tapi percayalah, itu bukan hal yang akan bagus bagi kita. Bagi kaum kita.”

Aku menatap Damis dengan mata membulat, “Perang?”

Damis menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi jika Victoria mengatakan bahwa kau akan dibutuhkan. Berjanjilah untuk tetap di sini dan kita bisa berperang bersama. Dengan apapun itu. Kali ini aku tak akan membiarkan kita melarikan diri atau terikat tanpa bisa melawan.”

“Damis,” ucapku pelan, “Aku tidak tahu. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan datang. Dan jika memang itu terjadi, apakah mungkin manusia serigala? Atau manusia? Apakah mereka cuma berpura-pura melupakan keberadaan kita dan menyusun rencana menghabisi kita hingga ke akar.”

“Aku meragukan hal itu.”

“Kau membuatku bingung.” sahutku jengkel.

“Aku juga. Sungguh.” Damis tersenyum lebar, “Mungkin kita perlu membicarakan ini dengan Victoria. Kutebak dia juga sudah memberitahu Reven.”

Aku langsung melompat bangun tapi tangan Damis meraihku dan menahanku bergerak lebih jauh, “Tidak sekarang, Rena.” tegasnya, “Ini dini hari dan aku tahu kita memang tak butuh istirahat atau tidur seperti manusia. Tapi kuberitahu padamu, benak kita butuh berhenti berpikir sejenak.”

Mataku memicing tidak setuju. Tapi aku menurut ketika Damis menarikku kembali pada tempatku semula.

“Biarkan sejenak seperti ini.” ucapnya pelan dan Damis merangkulku lagi, memaksa kepalaku bersandar pada bahunya. Aku bisa merasakan dia memejamkan matanya. Aku menghembuskan nafas panjang, pertama kalinya menyadari bahwa Damis benar. Aku butuh berhenti berpikir, meski sejenak. Aku bahkan tidak sadar sudah terlalu banyak yang kuhadapi sejak pertama aku mengingat semuanya.

Mataku ikut terpejam dan kubiarkan Damis mengeratkan rangkulannya. Bisa kurasakan satu tangannya yang lain masih menggenggam tanganku. Aku diam, dan menikmati rasa aman yang jarang ini.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

28 Comments

  1. Wkwkwk Rena benar2 pembalasan yang manis buat reven biarkan reven mendekat lalu tendang dia….ah aq juga ingin liat bagaimana reaksi reven saat menemukan rena dan damis begitu mesra….saling menggegam tangan dan tertidur berdua…Tapi kenapa ya setiap kali membahas masalah yang akan mereka hadapi aq selalu cemas rasanya nya kayak kita yang mengalaminya wow kakak benar2 hebat dalam mempengaruhi perasaan si pembaca.Salut untuk kakak nya!

  2. Omg. . .secret. . .apa itu??pnsran. . .bgt. . .rena damis ohhh so cute. . .pov reven na mn ea??kok dr sudut pndg rena mulu.pnsrn apa yg di rasakan reven pas kissing ma rena??lnjut thor

  3. Ap itu?????
    Penasaran ma "hal" itu…
    Ku harap bukan sesuatu yg mengerikan…
    Mgkin perang besar gee ya???
    Atoo sesuatu yg lebih dahsyat gee?
    Adooooooo
    Makin ke sini makin penasaran..
    Andddd…
    Reven… tggu dirimu ingat dlu..
    Bru kamu tau ap arti rena bagi dirimu…hehehe
    Buat author… tetep cemungud yaaa….
    #kecupbasahmbakauthornya

  4. Rena mah jahat ya sekarang sama Reven. Dia sadis.
    Reven sendiri masih antara bingung dan shock mungkin, aku juga ga tahu. Mari berharap dia ngga hidup dalam penyesalan.

    Aaakkk makasiii pujiannya. Jangan banyak-banyak muji, bisa besar kepala aku nanti. LOL 😛 😛

  5. wah……… tumben thor baik banget, 2 hari berturut turut update cerita terus. jarang2 kan kyk gini

    (valterynez)

  6. mau lagiiiii wkwk, ga pernah bosen huhu malah tambah penasaran yang ada ('_' ) aku rada seneng liat rena buat reven sebel gitu haha, tapi juga kangen momen dimana mereka seperti dulu 🙁 aku makin degdegan nih sama masalah yang bakal mendekattt

    [alea]

  7. Asyikkkkk suka banget dengan kuatnya Rena sekarang serta main cantik buat kasih pelajaran Reven.Dukung banget buat kasih pelajaran pada Reven dan Lucia.Pengen banget itu Reven segera inget dan menyesal hehehe Rena Damis mesranya,momennya itu dapat banget.Penasaran sama perasaan Reven waktu kissing sama Rena haha dan lagi-lagi penasaran banget dengan "hal" yang di takutkan Victoria,kayaknya bakalan bahaya banget buat mereka,

    (Puput_Kiki)

  8. Hal buruk apa yg akan datang menimpa mereka? Deg2an deh…
    Damis sama Rena cute banget, yg aku rasakan mereka lebih kepada adik kakak yg saling menyayangi, Damis tipe orang yg sangat peduli dan menyayangi keluarganya..
    Damis bikin suasana menjadi lebih adem..
    Hahahha

  9. ehem…ehem…kasian damis…awalnya bs deket ama rena, ntar giliran abang pepen sdh ingat rena diambil alih lg dr damis…. makin seru n makin bikin penasaran nich thor…. amouraxexa is the best soal vampir2 bgini….g ada niat diterbitin nich, sayang lhooo 🙂 –anadya–

Leave a Reply

Your email address will not be published.