Remember Us – Siapa Aku?

Udara yang kuhirup. Batang pohon yang kusentuh. Tanah yang kupijak. Langit penuh bintang yang kutatap. Semuanya mengisyaratkan kehidupan. Semuanya penuh dengan aroma kehidupan. Aku menghentikan langkahku, memandang ke depan. Atap-atap merah memenuhi pandanganku. Sejenak aku berhenti berpikir, memejamkan mataku. Mencoba merasakan sesuatu, dan satu-satunya hal yang bisa kurasakan adalah.. kekosongan.

***

Aku merasakan sesuatu menjalar ke dalam seluruh tubuhku. Ada kehangatan aneh yang mengusik tidurku yang lelap. Aku membuka mataku perlahan, merasakan bagaimana kelopak mataku bergerak dan aku suka sensasinya. Langit malam yang penuh bintang menjadi pemandangan pertama yang ditangkap oleh mataku.

Ujung bibirku tertarik ke atas. Merasakan udara dingin menyentuh tubuhku yang telanjang. Aku bergerak, bangun dan terduduk dengan punggung tegak. Aku mencium aroma yang demikian lezatnya. Kepalaku memutar perlahan dan aku melihat mereka. Dua manusia—laki-laki dewasa—yang berdiri dengan kaki gemetar. Masing-masing mereka memeluk sesuatu yang sepertinya alat-alat yang membantu mereka mengeluarkan petiku dari tempat rahasia itu.

Aku berdiri, membiarkan mereka melihat siluet tubuhku diantara remang-remang cahaya yang diciptakan malam. Aku masih tersenyum, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh cinta. Tapi tatapan ini sejatinya bukan untuk mereka, tapi aroma lezat yang tercium dari mereka. Aku melihatnya, sedikit bekas darah di tangan salah satu dari mereka. Mungkin tergores atau entah, aku tidak peduli. Mencium bekas aromanya saja aku sudah merasa seluruh tubuhku bergejolak.

Dengan anggun, aku melangkah keluar dari petiku. Mendekat ke dia yang beraroma demikian nikmatnya. Aku melihat betapa hebat tubuhnya gemetar. Aku berhenti tepat di depannya. Kuangkat tanganku dan menyentuh lehernya, dia semakin gemetar dan aku merasakan betapa hangatnya kulitnya. Ada detak di lehernya dan sial.. aku tidak bisa menahannya. Aku bisa merasakan darah yang mengalir di bawah kulit hangat ini.

Angin berhembus kencang. Menerbangkan helaian rambutku yang hitam panjang. Sudut bibirku sedikit tertarik ke atas. Aku bisa merasakan bahwa dia gemetar semakin hebat. Tidakkah dia suka melihatku?

“K-kau pe-penyihir.”

Aku tertawa, tawa pertamaku setelah diam yang lama. Dengan menggoda, aku memiringkan leherku, “Kakakku penyihir tapi aku—“ aku menatapnya, menikmati ketakutan di matanya, “Aku bukan penyihir.”

“Dia bohong.” Teriak yang satunya, “Sudah kubilang. Tidak ada emas di dalam sana. Kau lihat dia sebelumnya. Dia cuma tulang. Lalu ketika.. ketika tanpa sengaja darahmu menetes di tulang itu.” Dia menatapku penuh horor, “Dia.. penyihir wanita.”

Aku ingin sekali berdebat dengannya. Tapi aku sudah tidak bisa menahan ini lagi. Aku menatap satu yang di depanku, “Apakah cuma penyihir saja yang ada di kepala kalian?” tanganku kembali menjalar di lehernya, menikmati sensasi desiran darah manusia ini.

Aku mendekat, bibirku hanya berjarak satu jengkal darinya, “Tidakkah kalian berpikir ada makhluk lain di dunia selain penyihir?” aku tersenyum, menunjukkan taringku.

Di detik yang sama ketika dia menyadari hal itu, semua sudah terlambat. Aku menariknya cepat ke arahku dan dengan sama cepat menambatkan taringku ke lehernya. Satu yang lain menjerit dan berlari menjauh dari kami. Berlarilah, berlarilah sejauh kau bisa. Tapi kau akan tetap bernasib sama. Aku tidak bisa puas dengan hanya satu manusia setelah hari yang begitu lama berlalu tanpa asupan apapun.

Aku memejamkan mataku, menikmati darah pertamaku. Aku nyaris lupa bahwa ini begitu nikmat. Setiap tetes darah mengandung sesuatu yang perlahan-lahan membuatku semakin merasa aku memang nyata. Aku membuka mataku, mendorong tubuh yang sudah mati lemas itu dengan satu gerakan. Sisa-sisa darahnya masih menetes dari sudut bibirku.

Mataku mengedip, melihat tubuh manusia di depanku itu. Pelan, aku melepaskan jubah yang dikenakannya lalu kugunakan sendiri. Aku tidak bisa berjalan-jalan dengan tubuh telanjang seperti ini. Aku tersenyum. Tidak tahu untuk apa. Aku mengusap bibirku dengan punggung tanganku. Aku masih lapar. Aku memfokuskan diriku, mencari keberadaan manusia yang satunya lagi. Makanan penutupku untuk malam ini.

***

Udara yang kuhirup. Batang pohon yang kusentuh. Tanah yang kupijak. Langit penuh bintang yang kutatap. Semuanya mengisyaratkan kehidupan. Semuanya penuh dengan aroma kehidupan. Aku menghentikan langkahku, memandang ke depan. Atap-atap merah memenuhi pandanganku. Sejenak aku berhenti berpikir, memejamkan mataku. Mencoba merasakan sesuatu, dan satu-satunya hal yang bisa kurasakan adalah.. kekosongan. Aku merasa ada bagian dalam diriku yang tidak lengkap, tapi aku tidak tahu apa itu. Aku membuka mataku pelan, menarik nafas dalam.

Siapa aku?

Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Siapa sebenarnya aku? Aku.. bukankah manusia tidak saling membunuh manusia lainnya? Dan apa yang tadi kukatakan? Kakakku penyihir? Penyihir?

Aku menyentuh kepalaku. Merasa frustasi. Aku tidak tahu apa yang kukatakan dan apa yang kulakukan tadi. Setelah membunuh laki-laki kedua, aku terduduk menatap mayat di depanku itu dengan bingung. Aku menyeka mulutku yang berlumur darah dan berlari meninggalkan tempat ini dengan cepat. Aku ketakutan pada apa yang telah kulakukan, apa yang kukatakan dan terlebih, pada kepuasan aneh yang kurasakan.

Lalu aku berhenti di sini. Aku tidak tahu ini dimana. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berlari sedemikian cepatnya. Aku mengeratkan jubah yang kupakai ketika angin berhembus kencang. Anehnya, meskipun aku tidak memakai apapun di balik jubah tipis ini, aku tidak merasa kedinginan sedikitpun.

Aku kembali memandang atap-atap rumah di depanku. Aku melangkah pelan, mendekat ke desa kecil ini. Meskipun cuma siluetnya, aku bisa melihat buah apel bergelantungan di mana-mana. Jalan yang kulewati penuh dengan pohon apel di kanan dan kirinya. Aroma apel. Dan tidak tahu untuk apa, aku tersenyum dan terus melangkah. Sedikit demi sedikit, aku mulai merasa tenang. Meskipun tetap kuakui bahwa aku masih kebingungan.

Aku berhenti di depan sebuah rumah. Tidak tahu kenapa aku memilih berhenti di sini setelah aku melewati banyak rumah lainnya. Rumah ini kecil jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Terlihat sedikit tidak terurus dengan banyak barang bekas di halamannya dan rumput-rumput yang dibiarkan tumbuh liar dan tak terurus.

Pelan. Tanpa keraguan. Aku berjalan menapaki jalan kecil menuju pintu rumah ini. Aku sudah berada di undakan tangga terakhir di depan rumah ini sampai aku menyadari sesuatu.

Kenapa aku–apa yang kuinginkan di tempat ini?

“Siapa kau?”

Aku berbalik cepat, sebuah pedang terarah lurus ke arahku dan aku mundur dengan cepat merasakan sesuatu yang membuatku tubuhku refleks mengelak, ketika pedang perak itu berada begitu dekat denganku. Aku menatap, laki-laki yang mengarahkan pedangnya kepadaku. Meski cahaya bulan hanya menerangi sedikit tubuhnya, aku bisa melihatnya dengan jelas. Itu satu lagi keanehan yang kurasakan, meskipun minim cahaya, bahkan jika itupun kegelapan total, aku bisa melihat segalanya sejelas aslinya.

Mata biru secerah lautan menatapku dengan tegas. Aku mundur. Masih merasa sangat tidak nyaman dengan aura aneh yang kurasakan ketika pedang itu berada begitu dekat dengan kulitku. Dan aku tidak menyukai perasaan ini.

“Siapa kau?” dia mengulangi pertanyaannya. “Apa yang kau lakukan di depan rumahku?”

“Rumahmu?” aku menelengkan kepalaku. Dia mengerutkan kepalanya, mengamatiku dari ujung kakiku yang telanjang hingga ke pangkal rambutku, namun dia sama sekali tidak menurunkan pedangnya.

“Kau bukan berasal dari sini. Jika kau tinggal di sini. Aku pasti mengenalmu.”

Siapa aku?

Dan darimana asalku?

Aku merasakan seolah ribuan kejadian aneh menyerbu otakku dan itu membuat kepalaku serasa pecah. Hal terakhir yang kutahu adalah dia menjatuhkan pedang di tangannya dan berlari menangkap tubuhku yang ambruk. Dan kemudian aku tidak tahu apalagi yang terjadi.

***

Aku membuka mataku. Dia menatapku.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Aku jujur. Aku benar-benar tidak tahu.

Dia melemparkan tatapan aneh sebelum akhirnya bangkit dari sisi lain tempatku terbaring dan berjalan menjauh. Aku bergerak pelan dan beringsut bangun dari tidurku. Aku memandang ke arahnya yang tengah memandangku dari sisi lain tempat ini. Dia bersandar pada dinding batu rumahnya, menyilangkan kedua tangannya dan menatapku seolah-olah sedang mempertimbangkan sesuatu. Mengamatiku baik-baik.

Perapian di dekatku menyala, tapi aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Entah di dekat api, entah di luar bersama udara dingin, aku tidak bisa membedakannya. Aku menatap lidah api yang menjilat-jilat pantat kuali gosong yang tergantung mengenaskan di sana.

Aku mengalihkan pandanganku, kembali menatapnya, “Aku tidak ingat apapun.” ucapku pelan.

Dia tidak menanggapinya dan masih menatapku dengan tatapan yang sama.

“Aku tidak tahu siapa diriku sendiri dan aku bahkan juga tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini. Aku tidak tahu kenapa aku berjalan ke arah rumahmu. Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak memiliki maksud apapun. Aku.. aku tidak akan melukaimu.”

Ingatanku kembali pada dua laki-laki yang sebelumnya telah kubunuh dan–kuhisap darahnya. Aku menyentuh kepalaku. Seolah melihat beberapa kilasan ingatan, tapi bukan milikku. Aku tak tahu siapapun itu. Hanya saja, aku mengenali salah satunya sebagai laki-laki yang kubunuh.

“Aku tahu.”

Aku mengangkat kepalaku, menatap laki-laki yang masih saja mengamatiku dengan tatapan menilai yang jelas.

“Bagaimana kau bisa melukaiku jika kau bahkan tak punya sesuatu untuk kau pakai selain jubah jelek itu?” dia menggeleng, “Aku tidak punya pakaian untuk perempuan. Aku tinggal sendirian di sini. Tapi jika kau mau. Kau bisa memakai pakaianku. Kuberikan untukmu. Dan mungkin, jubah lain. Meskipun tidak baru, itu lebih baik daripada yang kau pakai sekarang. Udara menjadi sangat dingin akhir-akhir ini, aku tidak tahu bagaimana kau menghadapinya dengan–” dia mengamatiku makin tajam, “tubuh tanpa pakaian apapun.”

Aku menyentuh ujung tempat tidur. Bangkit perlahan dan memandang ke arahnya lagi, “Tidak perlu.” ucapku, “Aku tidak tahu apapun tentangmu. Aku juga tidak ingin melakukan sesuatu yang mengharuskanku membalas budi terhadapmu. Kurasa aku baik-baik saja. Aku akan pergi.”

Dia hanya diam dan masih dalam posisi yang sama. Aku berjalan melewatinya, nyaris membuka pintu ruangan ini ketika suaranya yang dalam kembali terdengar.

“Jika kau berkeliaran di luar di tengah malam seperti ini. Penjaga malam akan menangkapmu. Kau mungkin berpikiran aku akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu setelah kau menerima bantuanku. Tapi jujur saja, aku tak tertarik.” dia berhenti, kemudian menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, “Melihat keadaanmu, jika para penjaga malam menangkapmu, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih daripada buruk terhadapmu. Percayalah, mereka lebih kejam daripada apapun yang bisa kau bayangkan.” lanjutnya dengan mimik muka serius.

“Penjaga malam?” aku tidak mengerti.

Dia mengerutkan keningnya sebentar sebelum kembali menatapku dengan tatapan menilainya, “Kau juga tak ingat tentang para bangsat itu?”

Aku menggeleng pelan. Bukankah sudah kukatakan padanya bahwa aku tak ingat apapun. Dimana kata apapun memang bermakna apapun.

“Kau benar-benar membuatku curiga.”

Kedua alisku saling tertaut, “Jika tak ingin memberitahukupun, aku sama sekali tidak keberatan. Aku juga tidak terlalu peduli. Aku akan pergi sekarang.” ucapku tegas. Aku hampir berjalan melewatinya ketika aku kembali mendengar nada suaranya yang terdengar menyebalkan di telingaku.

“Jika terjadi sesuatu, jangan pernah menyalahkan aku. Aku sudah pernah memperingatkanmu. Mereka lebih biadap dari makhluk apapun di dunia ini.”

Mereka lebih biadap dari makhluk apapun di dunia ini.

Aku terdiam. Lebih dari makhluk apapun di dunia ini? Darah, taring, rasa puas, tatapan kosong korbanku. Aku membeku di tempatku. Tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Apa yang telah kulakukan rasanya jauh lebih mengerikan daripada bayangan apapun tentang sosok penjaga malam yang dikatakannya.

“Aku tidak peduli.” sahutku singkat dan aku kembali melangkah tepat ketika pintu keluar yang kusentuh digedor seseorang dengan sangat keras dari luar. Aku menatapnya ketika keningnya berkerut dalam menatap ke arah pintu. Dia berjalan cepat ke arahku. Nyaris menabrakku ketika dia memintaku sedikit menjauh dari daun pintu.

“EDRED RITTER! Buka pintunya atau kami ak–“

Suara terhenti tepat ketika dia membuka pintunya lebar-lebar, dan disana berdiri tiga laki-laki tinggi besar dengan wajah mereka yang terlihat tidak senang. Yang paling tinggi malah terlihat seolah dia bisa meruntuhkan pintu kayu ini jika pintu ini tidak segera terbuka.

“Oh berani juga rupanya kau membuka pintumu dan bukannya melarikan diri dari lubang lain di rumahmu ini, Ed.” ucap yang paling besar.

Dia–yang rupanya bernama Edred Ritter–nampak sangat santai menghadapi tiga tamu tak undang ini. Aku hanya mengamati dan tidak melakukan apapun. Mereka bertigapun sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena aku berdiri di sisi lain.

“Memangnya kenapa aku harus melarikan diri, Fudge?”

Fudge memiringkan bibirnya, terlihat senang. Seolah dia memang sudah menunggu Ed untuk menanyakan hal ini, “Karena kau telah melanggar jam malammu, Ed.” dia tertawa keras sekali setelahnya dan air ludahnya muncrat kemana-mana. Keningku sedikit berkerut. Sepertinya dia yang memimpin dari tiga orang ini karena sedari tadi yang dua lainnya hanya mengangguk-angguk dan nyengir tidak penting ketika si Fudge ini berbicara.

Bibir Ed menipis, lalu dia menggeleng, “Aku tidak keluar setelah matahari terbenam. Kau mungkin berhalusinasi melihatku saja, Tuan Fudge.” kata Ed dengan nada sopan yang dibuat-buat.

Tapi aku tahu dia berbohong. Aku bertemu dengannya di luar rumahnya ketika dia sepertinya baru kembali entah darimana. Dan itu belum lama.

Fudge mendengus, “Kau tak akan bisa berbohong kali ini, Ed. Robert melihatmu dengan mata kepalanya sendiri. Dia bahkan menemukan salah satu anak panahmu yang terjatuh. Kau tak akan bisa mengelak, Ed. Aku tahu dengan benar seperti apa anak panah buatan Ritter. Nah, Rob, berikan padaku bukti yang kau temukan itu.”

Dia menoleh ke sebelah kirinya dimana seorang yang paling gemuk dengan jenggot lebat langsung mengulurkan sesuatu kepadanya. Sebuah anak panah. Dan aku melihat ekspresi ganjil di wajah Ed. Kurasa Fudge benar, dia pasti mengenali anak panah itu sebagai miliknya. Namun dia segera menguasai ekspresinya dan kembali terlihat santai.

“Kau lihat.” Fudge mengulurkan anak panah itu ke arah Ed. “Ini jelas buatan Ritter. Dan cuma kau satu-satunya Ritter yang tersisa di kerajaan ini. Dan cuma kau yang masih membuat ini dan menggunakannya untuk dirimu sendiri. Kau sekarang tak akan bisa melarikan diri dari ini bukan, heh?”

Ed menatap Fudge dengan tenang, “Seseorang bisa saja mencurinya dariku.”

Kepala besar Fudge menggeleng, “Tidak, Ed. Kau tahu bahwa tak ada seorangpun yang bisa mencuri sesuatu darimu mengingat bahwa mencuri adalah keahlian seorang Ritter. Itu bukan yang membawa seluruh keluargamu dalam penjara busuk kerajaan.”

Kali ini dia tertawa dan menatap Ed dengan tatapan menghina yang jelas. Dan aku melihat bahwa kali ini, Ed tidak lagi bisa menguasai ekspresinya, dia maju selangkah. Dadanya naik turun dengan tidak teratur.

“Jangan sekali-kali kau berani mengatakan itu di depanku lagi, Fudge. Atau kau akan melihat sendiri apa akibatnya. Aku tak peduli bahwa kau penjaga malam atau bajingan lainnya. Aku tak akan peduli lagi dan akan langsung menghajar mulut besarmu itu.”

“Beraninya kau berkata seperti itu!” teriak seorang yang berada di sebelah kanan Fudge dengan sangat keras. Dia sudah akan maju untuk memukul Ed ketika tangan besar Fudge terangkat dan menghalanginya maju.

“Tidak sekarang. Dia akan menerima yang lebih buruk dari sebuah pukulan. Kau, secara resmi kutangkap sekarang, Edred Ritter. Atas tuduhan melanggar jam malam yang diberlakukan Raja Agung Pettied.” dia maju dan terlihat akan menangkap Ed.

Aku melihat sedikit gerakan Ed yang sepertinya akan melawan tindakan ini tepat ketika aku maju, dan akhirnya tiga orang tamu tak undang ini menyadari bahwa ada orang lain yang berdiri tak jauh dari mereka selain Ed.

“Maaf harus menganggu anda, tuan-tuan. Tapi sepertinya anda tidak bisa menangkap Ed.” ucapku dengan nada suara paling mempesona yang pernah mereka dengar.

Tiga pasang bola mata itu membesar menatapku, mengamati dari atas hingga ke bawah. Aku masih tersenyum, senyum paling menggoda yang kuyakin tak akan bisa mereka abaikan. Fudge, untuk pertama kalinya, tidak terlihat lagi peduli pada Ed dan hanya menatapku dengan tatapan penuh nafsu. Aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku menahan muak dan tetap tersenyum.

Aku berjalan pelan makin dekat, kali ini merapat pada tubuh Ed. Dia menatapku tidak mengerti tapi untungnya tidak mengatakan apapun, “Ed mengatakan yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak melanggar jam malam, tuanku. Aku adalah saksinya. Dia bersamaku bahkan sejak matahari masih berusaha tenggelam dengan malu-malu. Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia memang tidak bisa meninggalkanku barang sedetik saja.”

Kedua tanganku merangkul leher Ed dengan manja. Aku sengaja membuat gerakan yang membuat jubah tipisku melorot dan mereka bisa melihat bahuku yang putih mulus. Aku berpura-pura tidak menyadarinya, dan menaruh kepalaku ke dada Ed, “Kami bersama. Dan aku yakin Ed sama sekali tidak melanggar apapun seperti yang anda tuduhkan padanya.”

Mata Fudge memicing, aku mendengar dengusan kesalnya, “Aku tidak tahu darimana kau mendapat perempuan secantik itu, Ritter sialan.”

Ed tersenyum, merangkulkan satu tangannya padaku. Sepertinya dia memahami apa yang tengah kulakukan. Dengan disengaja, dia menarik jubahku yang melorot. Membenarkannya dan memberikan tanda pada tiga laki-laki di depan kami yang masih menatapku seperti seekor singa kelaparan yang melihat daging segar, bahwa aku adalah miliknya.

“Aku hanya beruntung.” sahut Ed, “Nah, Fudge, kurasa kau harus kembali ke pos penjagaanmu. Sebab aku punya pekerjaan lain yang harus kulakukan bersama nona cantikku ini.” satu tangan Ed menelusuri pinggangku dan aku melihat Fudge menelan ludahnya dengan tatapan marah.

Aku berusaha dengan keras untuk tidak tertawa dan malah merapat pada Ed, “Aku kedinginan, Ed.” rengekku manja.

Kedua alis Ed terangkat, “Bisa kalian pergi sekarang? Kalau aku bisa meninggalkan tempat tidurku besok. Aku akan menemui Fudge, dan kita akan mengurus semua kesalahpahaman ini. Dan kuharap aku bisa menemukan siapa orang yang mencuri panah itu dariku. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, jika aku bisa meninggalkan tempat tidurku dan membiarkan perempuanku ini tidur sendirian.”

Fudge meludah di depan pintu rumah Ed sebelum dia berbalik pergi dan memaki keras, “Kau memang brengsek yang beruntung. Tunggu sampai aku benar-benar bisa menangkapmu dan menyeretmu membusuk bersama semua keluargamu.”

Ekspresi Ed berubah dan tangannya mengepal, namun aku dengan cepat menarik tangan itu sebelum dia merusak semua usaha yang sudah kulakukan untuk melindunginya. Aku segera menjauh darinya begitu mereka bertiga sudah menjauh dari rumah ini dan Ed membanting pintu rumahnya tertutup.

Aku menatap punggungnya, tidak tahu harus mengatakan apa. Aku melihat aura Ed yang menggelap. Aku mengikat jubahku dengan benar, “Aku pergi.” ucapku dan aku berbalik.

“Kau masih ingin pergi setelah melihat mereka?” dia berteriak marah, “Apa kau tidak lihat bagaimana mata Fudge ketika dia melihatmu? Air liurnya bahkan sudah akan menetes mengotori rumahku jika saja dia tidak menahannya. Jika mereka menangkapmu ketika kau berada di luar, kau habis!”

Aku berbalik cepat, menatap Ed dengan tidak mengerti. Kenapa dia berteriak seperti itu kepadaku? Padahal aku baru saja menolongnya. Sepertinya dia punya gangguan parah di kepalanya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Dia mendengus, mengalihkan pandangannya, “Sudahlah, kau, siapapun namamu. Aku tidak mau berdebat denganmu. Tinggallah di rumahku selama yang kau inginkan. Aku masih punya satu ruangan kosong di sini. Tapi malam ini kau tidur saja di ruanganku, besok akan kurapikan ruangan untukmu. Anggap itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau menolongku.”

Keningku berkerut. Dia benar-benar gila. Sedetik sebelumnya dia berteriak marah kepadaku dan sekarang dia berkata lembut seperti ini? Aku membuang nafas kesal.

“Sudahlah. Aku tidak melakukannya untuk mendapatkan sesuatu. Anggap saja aku melakukannya karena kau memang punya nasib baik. Aku pergi.” aku kembali berbalik, tapi dia menjegalku dan menarik tanganku dengan kasar.

“Aku tidak suka mengatakan ini untuk kedua kalinya. Tapi kau sangat keras kepala. Kau tidak tahu seperti apa Fudge dan kelompoknya. Aku memperingatkanmu. Jadi turuti kata-kataku dan tinggal. Kalau kau memang mau pergi. Kau bisa pergi besok ketika matahari sudah terbit. Itu lebih baik karena mereka tidak akan punya alasan untuk menangkapmu.”

“Apa yang kau kat–“

“Kubilang aku tidak suka mengatakan ini berkali-kali. Itu pintu ruanganku.” dia menunjuk ke pintu yang berada tak jauh dari perapian, “Kau masuk ke sana dan tidurlah. Aku tidak akan menganggumu. Aku bahkan tak akan mendekat sesentipun dari pintu ruangan itu jika kau memang takut aku melakukan sesuatu padamu. Asal kau tahu, aku tidak tertarik padamu.”

Keningku berkerut makin dalam.

“Pergilah ke sana. Aku benar-benar tidak ingin berdebat lagi. Kumohon.”

Mata birunya memandangku dan aku bisa melihat mata yang lelah di sana. Entah kenapa aku tidak ingin lagi membantahnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, aku berjalan ke arah pintu yang ditunjuknya dan masuk ke dalamnya. Dan dia menepati apa yang dia katakan. Aku bisa mendengar setiap langkahnya di luar sana. Tapi dia sama sekali tak mendekat ke arah pintu ini. Aku bahkan bisa mendengar ketika akhirnya dia berhenti. Kurasa dia berbaring dan tidur.

Aku menghela nafas dalam dan menatap ruang tidur kecil ini. Aku berjalan ke arah tempat tidurnya yang kecil dan berbaring di sana. Tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak merasa mengantuk sama sekali seolah aku bisa berjaga hingga puluhan hari tanpa terpejam. Aku menatap langit-langit ruangan ini yang kotor dan dihiasi beberapa sarang laba-laba.

Mata birunya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak lagi mendebatnya dan pergi saja dari sini. Toh aku tahu benar, bahwa aku bisa menghadapi bahkan lima Fudge sekaligus tanpa kerepotan. Aku tahu itu. Hanya tahu dengan begitu saja bahwa aku bukan manusia biasa. Aku bukan..

Helaan nafas panjang, dan mata biru Ed kembali membayang di kepalaku. Ada sesuatu dalam mata Ed yang sebiru lautan yang membuatku merasa sedih. Tepat ketika aku memandangnya, dan dia juga memandangku, aku seolah sedang tidak memandang dia namun memandang seseorang lain yang tidak bisa kulihat dengan jelas ataupun kukenali dengan benar.

Lalu tiba-tiba seluruh perasaanku dipenuhi kesedihan yang begitu besar. Kurasa perasaan itulah yang membuatku tidak mengatakan apapun dan menurut begitu saja pada Ed. Aku sedang tidak ingin mengatakan apapun. Aku hanya ingin sendirian, kemudian memikirkan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala dan hatiku.

Aku mengerjap dan aku bisa merasakan sebulir airmataku jatuh. Aku tidak bergerak dan membiarkannya. Lalu sedetik kemudian aku sudah terisak-isak. Aku tidak tahu untuk apa aku menangis. Tapi hatiku seolah dipenuhi kesedihan yang tidak bisa kutanggung. Seolah-olah seseorang yang begitu kucintai pergi meninggalkanku, mengkhianatiku dan aku berakhir sebagai satu yang ditinggalkan.

“Aku mencintaimu.”

Aku melompat bangun. Tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Aku menyentuh dadaku, bisa merasakan sesuatu yang begitu sakit di sana. Aku menarik lututku, masih menangis dan kemudian menenggelamkan wajahku yang basah kesana.

Mau Baca Lainnya?

28 Comments

  1. gimana reaksi rena saat jumpa reven nantinya ya.. g sabar tunggu part part selanjutnya… semangat 🙂

  2. Lajutttt thorrr aku new reader nihh, baca pertama di watty terus sesuai apa kata author lanjut diblog. Senenggg bangettt nemu cerita ini ga sabar baca lanjutanyaaa. Semangattt authorrr

  3. Renaaaa is back !!!!
    yeeaaaaaaay
    waaaah rena pasti makin cantik ajeee dhh ne….
    gak sbaran liat mereka (reven n rena) bertemuuuu….
    apakah yg terjadi thor?????
    penasaraaaan binggo…hehehe # lebaydikit

  4. yeaayyyy alhamdulillah lappy kakak udah sembuh! semangat nulisnya!

    kak. kok victoria dulu pas hidup kembali, dia ingat sama kehidupan sebelumnya. nah ini kenapa rena ngga ingat apa2?
    dan ini udah berapa tahun setelah dia ditidurkan? udah ganti abad kah?

  5. Yeeaaay..dah update RU lg..mkn penasaran dgncerita serena raven..udah blik indo kah kak?

  6. Iyahh… alhamdulillah bangeeettttt.

    Nah begini, kalo Victoria dulu.. dia emang dibikin tidur aja. Jadi dia masih ingat semuanya setelah dia bangun. Proses dia dan Vlad sling melepaskan diri dari takdir masih2 (belahan jiwa) terjadi sebelum dia dibikin tidur sama Vlad. Kalo Rena, dia menjalaninza ampir barengan, dilepaskan dari takdirnya sama Reven sekaligus dibikin hibernasi, Hahaha hibernasi. 😛

    Hilang ingatan itu efek dari proses melepaskan diri dari takdir belahan jiwa,

    Berapa tahun setelah kejadian itu? Nanti di next chapter ada penjelasannya. 😀

  7. Finally thor hahaha
    Setelah sekian lama aku menunggu yak hihih

    Emm… masih ga connect sebenernya ama part ini. Apa yah susah dijelasinnya, pokoknya masih bingung aja akunya. Soalnya disini ga dijelasin udh berapa lama Rena tidur yak trus jg itu Rena ada dimana jg masih ga tau, trus trus maksudnya dari jam malam jg apa yak??
    Hahah pokoknya mah kalo mau tau lebih jelas nunggu chapter selanjutnya aja gt yahh, di chapter ini kayak mulai cerita lg dr awal gt hehehe

    Ditunggu lah thor chapter selanjutnya yak!! Semangat trus buat nyelesein cerita ini, semoga ga ada kendala2 lagi :))

  8. RU hadir yeee…..
    jadi Rena lagi blank gitu ya. Tapi masih bisa merasakan kesedihan bawah sadarnya. Harus belajar sabaran deh nunggu kelanjutannya

    semangat mbak R

  9. Baru part awal setelah kejadian itu rasanya daftar pertayaan saya sudah banyak …hahah

    Siapa ya Ed?

    Walaupun Rena nggak inget, kesedihan bisa dia rasakan, kalo udah ingat apa kebencian yg akan lebih mendominasi perasaannya ..jadi inget waktu dia bilang dia benci banget..hahhh

    Sepertinya banyak perubahan pada diri Rena, terutama fisiknya pasti …hahahha kalo dari yang aku baca kayanya dia jadi wanita yg sangat cantik dan mempesona sekali bukan? # ngebayangin

  10. Kok rena naked ya pas bangun? Sedangkan
    Vic enggak? Kok rena jadi amnesia ya? Sedangkan vic enggak? Bingung kak. Kok bisa ada perbedaan? Apa gr2 vic itu vampir kuno?

  11. Soal naked, gini.. Victoriakan yang ngebangunin Ar dan Morgan.. mereka tahu jelas apa yang akan terjadi. Nah mereka sama sekali ngga sentuh Victoria dan makam Victoria benar2 tersegel dengan baik karena Vlad, yang kemudian dibantuh ayah Ar, segelnya bisa kebuka. Dimana artinya keadaan Victoria sama sekali tak tersentuh. Jadi dia masih benar2 dalam keadaan seperti ketika dia belum ditidurkan. Nah kalo Rena, dia dibangunkan secara tidak sengaca oleh para pencari harta (sebut saja penjarah makam2 kuno), peti Rena tanpa perlindungan apapun karena Reven dan Victoria tidak bisa melakukan sihir. Mungkin waktu, mungkin ranggas, mungkin juga ulah para penjarah makam (bebaskan ekspresimu).. yang menyebabkan Rena kehilangan pakaian yang dia gunakan sebelum dia ditidurkan oleh Reven dan Victoria.

    Maslah ingatan : Nah begini, kalo Victoria dulu.. dia emang dibikin tidur aja. Jadi dia masih ingat semuanya setelah dia bangun. Proses dia dan Vlad sling melepaskan diri dari takdir masih2 (belahan jiwa) terjadi sebelum dia dibikin tidur sama Vlad. Kalo Rena, dia menjalaninya ampir barengan, dilepaskan dari takdirnya sama Reven sekaligus dibikin hibernasi, Hahaha hibernasi. 😛 Hilang ingatan itu efek dari proses melepaskan diri dari takdir belahan jiwa. Victoria dulu juga mengalami ini, tapi ketika itu dia tidak langsung kehilangan Vlad. Vlad masi ada di dekatnya, bahkan ketika dia akhirnya tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dia tidak merasakan apapun (bagian ini ada di chpter RU yang sebelum2nya kalo ga salah)

    Nah, segini dulu… kalo masih pengen tahu.. aku bisa jelasin lagi kok. Hahahahha.. berasa apa coba 😛 😛

  12. Part selanjutnya bakal menjelaskan siapa Ed.. Well iyah banget ya.. aku juga pikir kayaknya Rena bakal benci Reven tapi bukankah pada akhirnya dia sudah kehilangan semua perasaan ttg Reven jadi mungkin saja bisa berbeda.

    Rena secara fisik berubah.. sudah pasti.. dia makin sekseeehhh.. hahahhaha ala-ala perempuan zaman victoria gitu. 😛 😛

  13. Halooooo bird,
    Iya dia masih bingung dan ga paham.. kebayang ga sih, kalo kamu ga tahu apa2 ttg diri kamu sendiri.

    Bagian akhir sepakat banget. Harus belajar sabar ngadepin penulis ngga konsisten macam aku ini. Hahahha

    Semangat juga kamuuu!

  14. Masih ngga conect?? jangan khawatir, banyak temennya. Hohoho…

    Masih chapter awal juga sih, jadi belum kebaca semuanya sama sekali. Next chapter kayaknya bakal panjang banget. Kayaknya..
    😛 😛

    Amin aminn.. semoga lappynya juga ngga sakit lagi. Semua di sini lancar jadi bisa semangat nulis.

    Semangat jugaaaa buat Senjaaa! *duh namanya bagus* *ngiri*

  15. akhirnyaaa lappy kakak udaahh sembuuhhhh..

    dannn akhirnyaaaaaaaaaa RU updet lagiiii…

    uiuiui kemana si reven kokk kagakk nongol?? saya kannn kangeennn #plaaakkkkk…
    enggak sabar nungguin lanjutannya ihiiiiiy

  16. Ah akhirnya si rena balik lagi
    Thanks banget buat author nya
    Suka bgt sama cerita ini
    Cerita yg satu ini selalu jadi bahan promosi aku kalo ada yg nanya cerita indie romance fiction
    The best deh pokoknya buat author 🙂

  17. Kak setelah sekian lama akhirnya sembuh juga lappymu hihi kangen ceritamu.Rena makin oke aja setelah bangun,gak sabar nunggu Rena inget soal Reven dan gimana entar reaksinya.Penasaran sama sosok baru bernama Ed,dan semoga Rena tambah kuat,masih penasaran sama beberapa hal,

  18. wahhh sepertinya rena makin cantik dan kuat seperti vampire yg di film hehehhehe…tapi kalo mata biru itu? apa reven dlm keseharian yg beda ato yg lain..huwaaaa…semoga happy ending..gak sabara baca part berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.