Remember Us – Tatriana

“Kau sudah mengatasinya?”

Edna tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil sembari berjalan lurus menuju perapian di ruangan Luca. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya, menyentuh kayu-kayu yang bertumpuk di perapian. Sebentar kemudian api biru membakar kayu-kayu itu hingga hangat menyebar ke seluruh ruangan yang semula dingin. Edna menarik tangannya perlahan sebelum dia berbalik dan memandang Luca yang sedari tadi mengamatinya.

“Kenapa kau merasa penting membunuh perempuan itu? Apa masalahnya jika Reven tahu rencanamu, jika pun dia menolak dan membangkang, kita bisa langsung menyingkirkan dia. Reven mungkin memang punya kemampuan bertarung yang cukup baik, tapi dia bukan apa-apa jika melawan kita.” Ucap Edna cepat dengan tangan terlipat di depan dadanya.

“Aku tahu,” sambut Luca, “Tapi kita membutuhkan dia. Aku tidak ingin kehilangan pilar penting dalam perang kita dengan sia-sia.”

Edna menatap Luca dengan alis saling tertaut, dia tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya, “Pilar penting?”

“Dia satu dari sedikit yang punya otak bagus dalam kelompok kita.”

Tawa kering Edna memenuhi ruangan, dia mengangkat tangannya dan bertepuk tangan pelan, berjalan ke arah Luca, “Kau benar-benar mengenali benar seperti apa kelompok yang kau miliki. Makhluk kegelapan mungkin memang cenderung lebih kuat dan beringas dari para makhluk cahaya, tapi sayangnya isi kepala mereka kosong.”

Luca tersenyum tipis, “Kau juga bagian dari ‘mereka’, Edna.”

“Oh, aku tahu,” sahut Edna sambil menghentikan langkahnya tepat di depan Luca, “Sebab jika aku cukup punya otak, aku tidak akan pernah berani untuk memilih membangkitkanmu dan menyeret kita berdua pada masalah lain yang disisakan ibumu yang kejam itu.”

“Apa kau pernah menyesal memilihku dan mengkhianati Tatriana?”

Edna menggeleng pelan, sebelum dia membawa kepalanya ke sisi Luca dan berbisik pelan, “Kau adalah satu-satunya hal yang tak pernah kusesali dalam hidupku yang teramat panjang ini. Kau, Luca, kekasihku.” Edna menurunkan wajahnya dan mengecup lekukan leher Luca yang memejamkan matanya menikmati sentuhan darinya.

“Kau adalah kehidupanku.” Ucap Edna lagi, setengah mendesah, menuntut lebih pada Luca. Dia tahu bahwa mendekat pada Luca tanpa melakukan sesuatu yang ekstra tidak akan pernah bisa dilakukannya. Dia mencandu pada laki-laki yang kini menangkup kedua pipinya dan membawanya merapat. Edna bisa merasakan sentuhan bibir Luca pada bibirnya dan dia tenggelam dalam kenikmatan yang selalu ingin dia rasakan sepanjang hari. Dia mendesah pelan pada setiap gerakan dan sentuhan Luca pada tubuhnya. Demi Tierraz, dia menginginkan Luca lebih dari apa pun dan dia tidak pernah lebih berterima kasih lagi karena Luca juga merasakan hal yang sama untuknya.

Edna masih ingat dengan jelas bagaimana dulu dia bisa berakhir mendengarkan dan menemukan keberadaan Luca yang berada dalam keadaan antara tidak hidup dan juga tidak mati. Awalnya dia tidak yakin pada suara yang didengarnya, tapi suara itu terus menerus memanggilnya sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya ke dekat air terjun rahasia di dalam hutan Merz. Edna yang sudah tak terhitung berapa kali keluar masuk hutan Merz, bahkan sama sekali tak pernah melihat air terjun ini. Dia sempat berpikir jika dia mungkin sedang tersesat, atau mungkin juga dia sedang berada dalam kawasan hutan Merz yang sama sekali belum tersentuh makhluk lain.



Dia berdiri diam, mengamati dengan benar-benar sekitarnya. Air terjun ini dikelilingi belantara hutan Merz yang kala itu masih penuh dan sesak oleh sihir asing. Tidak ada tanda-tanda keberadaan siapa pun, tapi Edna masih mendengar suara itu. Suara yang terdengar kesakitan, dan putus asa. Bahkan dengan hanya mendengarnya saja, Edna seolah bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang sama. Dia juga sudah melupakan alasannya masuk ke hutan Merz untuk mencari tumbuhan langka demi menyembuhkan luka di lengannya yang tersayat dalam akibat perkelahian kecilnya dengan Tatriana, ketika dia akhirnya melangkah maju, mendekat ke pusat air terjun.

Jika saja dia bisa, ketika itu sesungguhnya Edna berharap dia bisa berbalik dan segera pergi dari air terjun itu. Edna membenci air, dan tidak suka berlama-lama di tempat yang penuh dengan air tapi suara yang terus menerus terdengar seolah memanggilnya, membuatnya mendekat ke air terjun. Ada bagian jiwanya yang seolah ikut menderita dengan hanya mendengar suara yang terus menerus berusaha memanggilnya dengan putus asa. Dia penasaran setengah mati.

Mengabaikan perasaan tidak nyaman ketika cipratan air terjun membasahi kulitnya, dia terus berjalan mendekat ke pusat air terjun. Edna baru berhenti ketika dia menyadari tubuhnya sudah nyaris basah kuyup oleh cipratan air. Dia bahkan belum benar-benar mencapai pusat air terjun ketika dia menyadari bahwa suara itu telah menghilang. Keningnya berkerut dalam, memaki dirinya sendiri karena dia tahu bahwa dia terlihat sangat bodoh sekarang. Seorang makhluk api yang basah kuyup bukan jenis pemandangan yang bagus baginya. Dia juga seharusnya tahu bahwa mengikuti sesuatu yang hanya terdengar dan tak terlihat, tak pernah bisa dikatakan ide yang baik. Dia berputar berjalan menjauh dari air terjun, tapi mendadak dia berhenti lagi. Kali ini dia mendengar suara itu memanggilnya lagi.

“Sialan,” Edna memaki keras ketika akhirnya dia berbalik kembali dan melangkah dengan marah dan kesal ke pusat air terjun, membelah aliran sungai dari air terjun dengan langkah tidak sabar. Dia sudah basah kuyup, memangnya apa lagi yang dia harapkan. Dia hanya harus menyelesaikan rasa penasarannya atau dia akan pulang dengan gelisah sepanjang waktu hanya karena belum tahu dengan pasti suara siapa atau apa yang sedari tadi menganggunya.

Kakinya terus melangkah tanpa ragu meskipun sekarang air sudah hampir menenggelamkan kakinya sampai ke betis. Dia terus melangkah dengan susah payah untuk bisa mencapai pusat air terjun. Dia yakin dengan benar suara itu berasal dari balik air terjun. Kalau ternyata itu hanya makhluk asing yang senang mempermainkannya, dia bersumpah akan membakar makhluk itu dan seluruh tempat tinggalnya sampai jadi abu.

Selangkah lagi. Edna menghitung dalam hati, dia hanya perlu menembus air terjun dan dia akan tahu suara milik siapa yang terdengar semenyedihkan itu. Dia baru saja akan melangkah menembus air terjun ketika dia merasakan satu kakinya terasa sangat berat seolah ada sesuatu atau seseorang yang memegangnya sangat erat. Dia berhenti lalu menunduk dengan hati-hati.

Lalu di sanalah dia, diantara gelap dan permukaan air yang bergelombang, Edna menemukan wajah terlelap milik Luca di dalam air. Hanya wajahnya dan rambut hitamnya—yang seolah menari-nari karena gelombang air yang bergolak oleh air terjun—yang bisa dilihat Edna. Mulut Luca terkatup rapat, begitu juga matanya, tapi entah bagaimana, Edna—yang ketika itu tak tahu apa pun tentang Luca—hanya bisa terpaku, seolah tersihir. Dia tak pernah melihat wajah setenang itu. Edna menunduk, tangannya terjulur, berusaha mengapai pipi Luca untuk memastikan bahwa dia memang melihat seseorang dalam air. Telapak tangannya sudah masuk ke dalam air, tinggal sejengkal lagi dan dia bisa memastikan apa yang tengah dilihatnya ketika dia mendengar suara lain menginterupsinya.

“Apa makhluk api sekarang juga tertarik dengan air?”

Edna menegakkan tubuhnya dengan terkejut dan berbalik ke belakang dengan cepat.

Tatriana berdiri di tepian sungai, menatapnya lurus-lurus. Wajah itu terlihat tidak senang, juga marah.

“Aku hanya—” Edna menoleh ke belakang untuk memastikan wajah di dalam air itu masih di sana untuk ditunjukkan pada Tatriana, tapi tidak ada apa-apa lagi di sana. Hanya gelap air dan gelombang tak beraturan dari air terjun. Mata Edna membulat lebar seolah dia baru saja kehilangan sesuatu yang benar-benar berharga baginya. Dia menunduk dan mengapai-gapai ke dalam air, tapi tak menemukan apa pun kecuali bebatuan dan ranting-ranting kecil yang terhanyut.

“Dimana—”

“Apa yang kau cari, Edna?”

Edna menoleh dan menatap Tatriana dengan panik, “Aku melihat wajah seseorang di dalam air.”

Ekspresi wajah Tatriana langsung mengeras lebih dari biasanya, menyadarkan Edna bahwa dia memang benar melihat sesuatu. Wajah dalam air itu bukan khayalannya, dan sayangnya entah kenapa mungkin ini berhubungan dengan makhluk kegelapan yang kini melangkah dengan gusar ke arah Edna.

“Keluar dari sini.” Gertak Tatriana, seraya mencengkram lengan Edna sebelum dia mendorongnya dengan kuat ke arah tepian, “Aku tidak tahu kenapa kau bisa menemukan tempat ini, tapi kupastikan kau tidak akan pernah menemukan tempat ini lagi.” Suara Tatriana meninggi dan wajahnya memerah marah.

Edna melangkah keluar dari air, mengamati reaksi Tatriana yang aneh. Dia mengenal Tatriana dengan baik karena mereka memang tidak pernah akur. Diantara para putra sulung Tierraz, Tatriana adalah satu-satunya musuhnya yang sesungguhnya. Jika Edna adalah perempuan yang terlahir dari api pertama di Tierraz, Tatriana adalah perempuan yang terlahir dari kegelapan air di kedalaman perairan Tierraz. Sifat mereka berbanding terbalik, dan keduanya tak pernah menemukan satu titik untuk bisa berdiri di sisi yang sama. Harus selalu ada seseorang untuk menghentikan pertarungan mereka jika tidak ingin kerusakan besar menimpa Tierraz.

Sepasang iris gelap milik Tatriana menatap lurus pada Edna, “Apa yang kau cari di sini?”

“Aku tidak mencari. Aku menemukan.”

“Kau-tidak-menemukan-apa-pun.”

Kedua tangan Tatriana mengepal kuat dan Edna bisa melihat asap gelap berpusar di sekitar genggaman Tartriana, Edna menegakkan tangannya dan menarik pedang api birunya dari udara kosong. Dia tahu jelas apa alasan Tatriana begitu marah, tapi Edna akan selalu siap jika tatriana ingin bertarung dengannya. Tatriana baru saja mengangkat tangannya, membentuk tombak dari pusaran kegelapan, ketika Edna melihat bayangan gelap di belakang tubuh Tatriana. Bayangan gelap itu membentuk wujud lain dan Edna menjatuhkan tangannya dan pedangnya lenyap ketika dia melihat seluruh tubuh utuh milik Luca di belakang Tatriana. Dia terpaku, tersedot oleh pesona Luca.

“Pergi.”

Mulut milik Luca mengucapkan kata tak bersuara, dan ketika tatapannya jatuh tepat pada mata Edna, Edna tahu untuk pertama kalinya tubuhnya bergetar karena gugup dan jantungnya berdetak luar biasa cepat dan tak beraturan. Tubuh Luca yang berdiri telanjang dan tegak di balik Tatriana—yang mungkin tak menyadari keberadaannya—mengacaukan seluruh konsentrasi dan pikiran Edna. Dia terlalu gugup dan bingung hingga tak tahu bagaimana menggunakan kekuatannya.

Tatriana melangkah maju, mengarahkan tombaknya pada Edna. Edna tahu saat itu juga bisa jadi terakhir kalinya dia menghirup udara sihir Tierraz jika saja tubuh Luca yang masih serupa bayangan tidak melompat ke depan dan menerima tombakan Tatriana. Edna menjerit keras ketika tombak itu menghancurkan bayangan Luca dan menyisakan asap-asap samar di sekitar Tatriana dan dirinya.

“Pergi.”

Suara yang sama berhempus bersama dingin angin dari air terjun ke telinga Edna. Dia tidak tahu kekuatan apa yang membantunya berdiri dan berlari cepat menjauh dari tempat itu sebelum Tatriana menyadarinya. Tapi satu yang dia tahu pasti, ada hangat yang nyata ketika asap gelap tadi menyelubunginya dan melindunginya dari serangan tak terkendali dari Tatriana.

Dan begitulah bagaimana Edna mengingat saat pertama kalinya dia bertemu dengan Luca. Butuh waktu yang lama baginya untuk bisa menemukan kembali air terjun itu setelahnya. Dia juga menghindari pertemuan dengan Tatriana karena dia mendengar perempuan itu mencarinya kemana-mana setelah peristiwa di air terjun itu. Nerethir membantunya menghindar dari Tatriana dan dia juga bersyukur karena makhluk lain tak pernah ikut campur urusannya dengan Tatriana, sebab jika Alzarox—pasangan Tatriana di masa itu—misalnya saja ikut memburunya, ceritanya mungkin berakhir lain. Edna mungkin kuat, tapi dia jelas akan kalah jika Tatriana dan Alzarox sepakat untuk bersatu dan membunuhnya. Beruntungnya, Alzarox punya ego yang cukup tinggi untuk mau benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pasangan Tatriana yang mungkin saja lebih kuat dan berkuasa darinya. Jika sekarang nyaris seluruh penghuni Tierraz berpendapat jika Edna adalah perempuan yang cukup gila dan berbahaya, maka mereka patutnya bersyukur karena tidak pernah mengenal Tatriana yang ribuan kali lebih gila dan berbahaya dari Edna.

Edna menyentuh punggung Luca dan mengecup pelipisnya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luca. Banyak hal lain yang harus dilaluinya untuk bisa berada di tempat ini sekarang bersama Luca. Dan dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun atau apa pun menghancurkan semua yang sudah dia lakukan demi membangkitkan Luca dan hidup bersamanya.

Pandangan Edna berkabut ketika Luca membawa wajahnya padanya dan menciumnya dalam-dalam. Edna kehabisan nafas untuk mengambarkan betapa dia memuja Luca sejak pertama dia melihatnya. Tatriana. Para penyihir. Para makhluk cahaya. Siapa pun itu. Edna akan menyingkirkan apa pun itu yang membahayakan Luca dan dirinya. Dia telah menyingkirkan Tatriana dan menenggelamkannya ke dalam dasar perairan Tierraz. Maka baginya, perang yang akan datang ini bukan apa-apa baginya. Dia bisa membakar semua jika dia memang harus melakukannya.

Dan dia memang bisa melakukannya.

Aku menghela nafas panjang sambil mengamati barisan tak beraturan para makhluk kegelapan yang juga berwujud tak beraturan jauh di bawah sana. Aku sedang duduk di tebing tinggi, mengayunkan kakiku pada udara kosong sambil mengucapkan salam perpisahan pada Damis yang berkuda jauh di depan barisan utama yang sekarang sudah terlihat seperti titik kecil diantara lembah gersang yang masih bagian dari hutan Merz di sisi lain belantara utama.

Entah kapan lagi aku bisa bertemu Damis. Aku tidak tahu. Mungkin saja masing-masing dari kami akan kehilangan nyawa di perang nanti, jadi aku tidak ingin meratapi apa pun sekarang. Aku sudah memberikan Damis pelukan rapat dan sebuah kecupan singkat di bibir yang membuatnya berjingkat terkejut. Jujur saja itu sedikit melukai perasaanku, bukannya aku ingin Damis juga membalas kecupanku, aku hanya ingin membagi perasaanku padanya. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak tahu kapan kami akan bertemu lagi. Aku tidak tahu apakah aku akan bertarung di dekat Damis atau terpisah diantara ribuan prajurit lainnya. Tapi Damis malah terlihat salah tingkah begitu. Aku mendadak jadi sebal padanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menoleh dan melihat Reven berdiri tak jauh dari tebing tempatku duduk. Herannya, aku sama sekali tidak ingin menanggapinya. Aku hanya menghela nafas panjang sebelum kembali menatap barisan para makhluk kegelapan lain di kejauhan sana.

“Keberatan jika aku bergabung?”

Reven sudah berdiri di dekatku, dan ketika aku sama sekali tidak mengucapkan apa pun, dia duduk di sampingku. Tidak benar-benar di sampingku karena aku melihat dia memberi jarak yang cukup aman di antara kami jika tiba-tiba aku merasa ingin menyerangnya. Sial, bukan begitu, aku hanya sedang benar-benar tidak punya semangat untuk marah dan berdebat padanya.

“Merasa kehilangan Damis?”

Dia jelas tahu itu, kenapa dia masih bertanya padaku? Dasar bodoh.

“Mereka semua mungkin sedang berjalan menuju kematian mereka.”

Kali ini aku menoleh, hanya untuk mendengus padanya sebelum melemparkan kembali pandanganku ke arah lain, “Bukan hanya mereka, tapi juga kita.” Ucapku ketus.

Aku melihat Reven mengangguk, dia nampak tenang. Satu hal yang terasa aneh bagiku. Tapi aku memilih mengabaikannya. Sebab sejak kapan memang aku peduli padanya?

“Kudengar Luca memberi perintah kita untuk kembali menjadi satu kelompok, apakah benar begitu? Kuharap itu bukan siasatmu untuk mencoba mendekatiku. Kau tahu kau tak punya kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari kehidupanku seperti dulu, kau mengerti?”

Reven diam, tapi bisa kulihat sekali lagi dia mengangguk. Masih sangat tenang dan itu mulai membuatku kesal. Aku sudah merasa kesal karena Damis sebelumnya, lalu jika makhluk di sebelahku ini juga membuatku semakin kesal, aku mungkin saja akan mendorongnya jatuh ke lembah di bawah kami. Dia tidak mungkin mati karena jatuh dari tebing ini, dan aku jelas akan mendapat amukan entah dari Reven sendiri atau mungkin bahkan dari Luca jika membuat salah satu pimpinan kelompok besar cedera, tapi siapa yang peduli di situasi sekarang. Karena aku tidak.

Aku menunggu Reven mengatakan sesuatu tapi dia tak membuka mulutnya sama sekali. aku melirik sebentar ke arahnya dan dia hanya diam, menatap lurus ke depan. Wajahnya datar, dan tenang. Aku tidak tahu apa yang ada di balik wajahnya, aku juga tidak ingin menebaknya.

“Aku selalu benci perang.” Ucapku setelah hening yang lama diantara kami. Aku memutuskan untuk mengungkapkan sesuatu padanya. Aku mungkin memang tidak akan pernah memaafkan makhluk menyebalkan yang duduk tenang di sampingku ini atas semua yang telah dia lakukan padaku di masa lalu, tapi aku juga tidak ingin mati dengan banyak banyak beban suara yang tak terucapkan di kepalaku. Jadi aku memilih menekan egoku dan bersuara.

“Tak seorang pun menyukai perang, Rena.”

“Aku tahu,” sergahku cepat, “Hanya saja perang mengingatkanku pada Ar. Perang mengingatkanku pada waktu yang kau ambil paksa dariku. Perang yang kau rampas dariku. Kau tahu bahwa aku punya banyak janji dan dendam yang harus kubalas. Kematian Ar, kematian Lyra, bahkan kematian Dev, tapi kau mengambil satu-satunya kesempatan itu dariku.”

Dadaku terasa sesak. Aku tidak tahu jika membicarakan masalah ini dengan Reven bisa berakibat seperti ini denganku. Aku tidak menyangka jika amarah dan kecewaku padanya masih sekental ini. Aku benar-benar berusaha menahan tanganku untuk tidak mendorongnya jatuh ke bawah hanya supaya aku bisa sedikit merasa senang.

“Aku benar-benar minta maaf, Rena.”

Aku menoleh terkejut. Reven tidak memandangku, tapi entah mengapa aku merasakan sesuatu lain yang tak bisa kuungkapkan dengan benar. Suara yang baru Reven keluarkan bukan jenis suara yang biasa aku dengar. Aku menunggu untuk berdebat dengannya. Aku menunggu untuk bisa memakinya. Tapi ketika dia mengeluarkan jenis suara seperti itu, aku tidak bisa mengatakan apa pun. Sama sekali tak ada.



“Aku sama sekali tidak berpikir jika semua akan berakibat seperti ini. Aku berusaha melindungimu dengan caraku, tanpa membicarakannya denganmu. Aku hanya berpikir bahwa aku harus melindungimu. Bahwa entah apa pun caranya, kau harus selamat dan hidup. Aku pikir, aku akan baik-baik saja karena aku hanya akan kehilangan dirimu sementara, dan bukannya selamanya. Yang kupikirkan hanya aku tidak bisa kehilangan lagi. Aku mungkin bisa menghadapi kehilangan Noura, tapi jika ítu dirimu..” Reven berhenti, dan aku melihat bagaimana ekspresi wajahnya yang dalam, “Aku tidak bisa. Aku terlalu pengecut untuk sekadar memikirkan bagaimana aku hidup jika tidak ada dirimu di dunia ini.”

“Sialan kau, Rev.” Aku bangkit, berjalan meninggalkannya. Aku benar-benar membencinya. Bagaimana bisa dia mengucapkan semua itu setelah selama ini? Dan bagaimana bisa dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh seolah-olah dia benar menyesalinya?

Ataukah kau benar-benar menyesalinya, Rev?

“Rena..”

Aku berhenti. Tidak berbalik, karena aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapinya sekarang. Pikiran, hati dan tubuhku masing-masing memakinya dengan berbagai macam jenis makian yang aku bahkan tak sanggup memuntahkannya.

“Aku akan berhenti menyusahkanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanmu. Hanya saja biarkan aku melindungimu. Kurasa sekarang, melihatmu tetap hidup adalah satu-satunya cara agar aku juga bisa hidup.”

Tanganku mengepal kuat. Aku tidak bisa.

Aku berbalik cepat. Berhenti tepat di depan Reven dan melayangkan tinjuku padanya. Reven—yang mungkin tidak menyangka jika aku akan memukulnya—terhuyung mundur beberapa langkah. Dia mengangkat wajahnya, dan aku melihat sudut bibirnya berdarah.

Tapi aku tidak peduli dan malah menatapnya tajam, “Itu untuk keegoisanmu.”

“Ini sedikit menyedihkan.” Edna duduk, menekuk wajahnya dengan kesal. Sementara itu, Trisha yang berdiri di depannya, menunduk, menunggu dengan gusar.

“Bagaimana kau bisa melakukan hal seteledor ini?”

Trisha semakin dalam menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani memandang Edna. Hanya dengan mendengar suara Edna, Trisha tahu bahwa suasana hati si putri api itu sedang benar-benar tidak baik. Dan lebih sial lagi, semua itu gara-gara dia.

“Kau bukan makhluk angin yang senang menebar kabar ke seantero Tierraz, bukan?”

“Bukan, tuan putri. Saya bersalah dan saya benar-benar pantas menerima hukuman.” Trisha langsung duduk bertumpu dengan lututnya. Sama sekali tak berani memandang Edna yang menatapnya tajam.

“Kau benar-benar membuatku kecewa.”

“Saya bersumpah tak akan pernah melakukannya lagi.”

Edna diam, mengamati pelayannya yang selama ini setia bersamanya. Pagi ini dia benar-benar luar biasa murka setelah tahu tentang bagaimana perempuan vampir yang beberapa hari dibunuhnya bisa tahu tentang rahasia Luca. Dia tak pernah menyangka jika Trisha cukup sembrono untuk bicara bodoh seperti itu. Sekarang Luca sendiri mungkin sedang sibuk dengan Victoria Lynch. Entah kenapa Luca merasa jika Victoria tidak hanya bermulut lebar pada Lucia. Mungkin saja masih ada orang lain dan Edna jelas harus mengurus masalah ini.

“Aku bisa saja membunuhmu sekarang, Trisha.” Ucap Edna pelan.

Dan Trisha semakin membenamkan wajahnya, siap menerima kemungkinan terburuknya. Dia benar-benar mengutuk mulutnya yang lancang. Dia tidak seharusnya ikut campur dalam urusan apa pun itu yang mungkin bisa saja mempersulit Edna. Dia tidak tahu alasan apa yang mendorongnya memperingatkan perempuan vampir yang sekarang dia tahu sudah mati di tangan Edna.

“Tapi aku akan memaafkanmu kali ini.”

Trisha langsung mengangkat kepalanya. Satu tangannya menggenggam tangannya yang lain. Dia bersumpah jika Edna benar memberinya kesempatan lain, dia tidak akan pernyah menyia-siakan kesempatan itu. Dia akan lebih berhati-hati pada semua tindak tanduk dan ucapannya.

“Kau terlihat senang bisa hidup lebih lama.” Sergah Edna masih dengan wajah kesalnya. Sementara Trisha hanya sanggup mengangguk tanpa mengucapkan satu patah kata pun.



“Apa kau ingin menebus kesalahanmu dengan melakukan sesuatu untukku?”

“Ya, tuan putri.” Jawab Trisha cepat tanpa keraguan sedikit pun, “Saya akan melakukan apa pun. Apa pun demi menebus kesalahan saya.”

Edna tersenyum, “Awasi Sherena Audreista.”

<< sebelumnya

A/N

Halo semuanya,

Rasanya senang akhirnya bisa posting RU lagi.  Semoga kalian semua masih suka baca cerita ini ya. Aku tahu chapter ini agak pendek, tapi ya mau bagaimana lagi, pengennya upload segini aja. Hahahaa. Btw, aku tahu banyak dari kalian menunggu banyak scene (ceiyeleh scene, macam sinetron aje) antara bang Reven sama Rena. Jangan khawatir, setelah chapter ini, bakal banyak kok. Aku gak tahu mau nulis apa lagi, jadi ya sudah.. terima kasih sudah membaca ceritaku ini. Terima kasih sudah setia dengan bang Reven dkk.

PS. Jangan lupa klik iklan yang muncul ya. Buat nambah duit jajan saya ke Marienplatz.

Salam,

Mau Baca Lainnya?

12 Comments

  1. Akhirnya ya ampun hampir setiap hari ngeliat blog ini cuman mau liat apdete apa gak wkwkwk

    Tapi sudah.pah ya kak keren banget akhirnya Nanang reven ngungkapin perasaannya juga wkwkwk semangat ya reven 😘😘

    Semangat juga buat kakak tua yg nulis. Mudah mudahan ceper apdete lagi wkwkwk

  2. Reven bener2 ga mau kehilangan kesempatan buat di samping Rena lagi…bagus separtinya Rena sudah mulai luluh nih…

Leave a Reply

Your email address will not be published.