Remember Us (TEASER)

Halooo, astaga astaga. Rasanya lama sekali sejak aku memposting ceritaku yang terakhir kali. *tengok arsip* OMG!!!! >.< Dua bulan tanpa postingan apapun. Aku merasa berdosa. *pandangin kaca*
Tapiii… aku akan membayar segalanya dengan kejutan ini. Ini juga sekaligus akan menjadi ucapan bahagiaku sebagai seorang Virgo yang telah berulang tahun tanggal dua kemarin. Hahahayy.. tambah tuaaa… *benerin poni*.
Well, tidak perlu berlama-lama. Akan aku katakan apa itu..
Astagaa… aku bersemangat sekali. Emm begini-begini, aku tahu banyak dari kalian yang merindukan HV, dan aku tidak bisa munafik kalau aku juga merindukan mereka semua, terutama REVEN. Astaga.. astaga.. aku kangen nulis tentang dia dan apa yang terjadi diantara dia dan Sherena. Menulis Remember Us yang tidak pasti jadwalnya membuatku frustasi. Jadi aku memutuskan akan menulis RU secara konsisten seperti ketika aku menulis HV, entah untuk satu minggu atau dua minggu sekali. Seperti yang kalian katakan, ini akan lebih seperti HV bagian kedua. Hahahhaha, rasanya seperti menjilat ludah sendiri ketika dulu kukatakan aku tidak tahu akan menulis itu lagi atau tidak. Tapi aku.. aku tidak bisa menghindari pesona Reven. Huhuhuhu.
Tapi.. meskipun RU menjadi proyek tetap, Xexa, Another Story dan Malaikat Hujan akan tetap jalan juga. Jadi kuharap aku punya banyak cadangan imajinasi di kepalaku. Dan sekarang…. selamat membaca.. FYI, ini hanya teaser. LOL 😛
Versi lengkapnya ditunggu saja yaaa…
*kecuuuupp*

***
“Rena..”
Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.
Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”
Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.
Butuh waktu yang lama bagi Reven untuk menungguku mau beranjak dari tempat ini. Ketika akhirnya aku sanggup membiarkan diriku meninggalkan tempat ini, Reven mengenggam tanganku erat dan membiarkanku memimpin langkah kami, pulang. Pulang. Sebuah kata yang kerapkali membuatku marah dengan bangsa manusia. Mereka menghancurkan rumah kami, kastil utama bangsa vampir. Merusaknya hingga tidak mungkin lagi bagi kami untuk tinggal di sana. Entah berapa banyak serbuk perak yang mereka tebarkan di sana dan membuat kami, bahkan untuk sekedar mendekat saja tidak bisa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat tatapan nanar Reven ketika kami memandang kastil itu dari kejauhan. Belum lagi cahaya kekecewaan yang kental ketika tatapannya beralih ke padang bunga ungu yang kini telah menjadi padang rerumputan liar. Seandainya kami bisa kembali, aku akan mengubah tempat itu menjadi seperti semula. Indah dan penuh kenangan. Tapi kembali bukan lagi kata yang bisa kami semua gunakan untuk tempat itu sekarang.
Sebab, kata pulang sekarang berarti sebuah gua gelap yang dulunya tempat ayahku tinggal. Melalui ingatan Ar, aku bisa menemukan tempat ini dan menggunakannya bersama kelompok kami yang tersisa untuk berkumpul. Dan tempat ini pula yang akhirnya menjadi tempat tinggal kelompok utama. Kami masih lengkap, itu adalah kebahagiaan yang terbesar yang bisa kurasakan ketika aku telah kehilangan Ar.
Setidaknya aku masih memiliki mereka, Reven, Damis, Victoria, dan Lyra. Sebab tak banyak yang tersisa dari kaumku. Beberapa yang selamat itu kembali ke rumah kelompok mereka, yang kehilangan seluruh anggota kelompoknya dipersilakan untuk tinggal bersama kami. Victoria yang mencintai keindahan dan kemewahan menyulap gua yang awalnya penuh dengan kuali-kuali dan botol-botol ramuan sihir menjadi tempat yang layak bagi kelompok utama bangsa vampir. Aku dan Lyra tak pernah mengeluh tentang tempat ini meskipun kuakui, kemudahan, kemewahan dan tempat yang lebih dari layak yang biasanya mengelilingi kami membuat kami tidak nyaman di sini pada awalnya, namun dengan berbagai pertimbangan, Reven meminta kami untuk bertahan di sini.
Aku mengernyitkan dahiku ketika merasakan kehadiran begitu banyak vampir di sekitar gua kami. Aku tidak mendengar akan ada pertemuan besar. Lalu kenapa nyaris semua vampir hadir di sini? Aku memandang Reven, namun dia sama sekali tidak menatapku. Victoria keluar dari kerumunan dan menyongsong kami—atau hanya Reven lebih tepatnya.
“Illys bilang inilah saatnya.”
Reven menatap Victoria tajam, melepas genggamannya pada tanganku dan berjalan penuh keyakinan ke arah Illys. “Kau yakin sekaranglah saatnya?”
Illys mengangguk mantap, “Tidak salah lagi. Ini waktu terbaik yang kita miliki selama hampir lima belas tahun menunggu.”
Reven mengangguk, “Aku percaya pada penglihatanmu.” Ucapnya singkat sebelum dia mengalihkan tatapannya pada Michail dan Damis yang berdiri berjejer, “Persiapkan semuanya.” Perintahnya tegas.
Keduanya mengangguk mantap dan berjalan ke arah kerumunan, mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan baik karena aku terburu mengikuti Reven yang melangkah cepat masuk ke dalam gua. Keheningan menyambut kami ketika kami masuk semakin ke dalam. Ujung gua ini adalah ruangan kami, dan di sanalah kami sekarang.
Aku tidak mengatakan apapun, hanya mengamati apa yang Reven lakukan. Dia terlihat begitu sibuk. Mencari-cari sesuatu, tanpa mengindahkan aku sama sekali. Keningku berkerut semakin dalam. Kesabaranku terkikis dan aku meraih tangannya dengan kasar, “Ada apa ini, Rev?” tanyaku setengah berteriak.
Tatapan mata Reven berhenti di kedua mataku yang menuntut penjelasan darinya. Aku bisa melihat keraguan di sana. Bersama Reven selama ini membuatku sedikit demi sedikit bisa membaca bahasa ekspresinya. Helaan nafasnya terdengar berat.
“Duduklah Rena.” Ucapnya pelan sambil menyentuh kedua bahuku, membimbingku duduk.
Aku merasa bahwa ini bukan sesuatu yang baik. Reven tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku sejauh ini. Kami berdiskusi dan membicarakan tentang apapun berdua. Lalu sekarang, mendadak aku tak tahu sama sekali apa yang tengah terjadi. Mendadak aku merasa marah.
“Bukankah kau selalu mengatakan bahwa kau ingin mereka membayar semua yang telah terjadi pada kaum kita dan pada Ar?”
Matanya memerangkapku tajam. Aku tak menjawab maupun menunjukkan reaksi atas ucapannya. Aku menunggu.
“Kepada mereka, para slayer dan heta yang telah menghancurkan kehidupan kita. Aku bersumpah demi dirimu, Rena, dan demi kaumku. Aku akan membuat mereka membayar segalanya, seperti yang kau inginkan. Dan selama ini aku merencanakan semuanya. Mempertimbangkan setiap kemungkinan dan peluang yang ada. Bersama semua kaumku, kami semua menunggu sampai peluang terbesar bagi kami datang. Dan sekarang..”
Dia mengenggam tanganku, tak melepaskan tatapannya padaku, “Inilah saatnya.”
Otakku memproses semua yang dikatakannya, dan ketika semua itu bisa kupahami dengan benar. Aku menarik tanganku dengan kasar dari genggamannya, “Dan kau sama sekali tidak mengatakan apapun padaku?” nada suaraku meninggi.
“Karena aku tidak ingin kau terlibat di sini, Rena.”
Mataku melebar dan aku bangkit, berdiri dengan sangat cepat. Berani-beraninya reven mengatakan hal ini kepadaku. Dia merencanakan penyerangan, merencanakannya jauh-jauh hari bersama semua kaumku dan aku sama sekali tidak tahu. Lalu omong kosong apa yang tadi dikatakannya? Dia menginginkan aku tidak terlibat dalam penyerangan ini.
Vampir bodoh!
“Aku menunggu, Reven. Nyaris belasan tahun. Menunggu saat yang tepat bagiku untuk membalas pengkhinatan Edge. Pengkhianatannya pada Ar. Kau tidak pernah tahu bagaimana sakitnya aku, tersiksanya aku melihat ingatan Ar akan kehidupannya. Edge, sahabat-sahabatnya. Kau tidak tahu itu Rev! Dan berani-beraninya kau bilang bahwa kau tidak akan melibatkanku dalam penyerangan ini. Berani-beraninya kau!”
Reven memandangku. Tatapannya melembut. Dia berdiri, menyentuh lenganku namun aku melepaskan diriku. Mundur beberapa langkah dari hadapannya, “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini padaku.” Desisku kehilangan emosi.
“Aku tidak ingin kau terluka.”
Aku diam, mata Reven mengatakan semuanya. Seandainya ini bukan tentang para slayer dan heta, aku akan meluruh mendengarnya mengucapkan itu. Wajahnya, suaranya, helaan nafasnya, aku bisa merasakan semua cintanya untukku dalam kalimatnya itu. Ketulusannya menyentuhku, namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa meloloskan keinginannya.
“Aku tidak akan bisa menjadi pemimpin kelompok yang baik jika yang kupikirkan dalam pertempuran hanya kau. Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Apa perak-perak sialan itu merusak kecantikkanmu? Bagian tubuh mana saja yang terasa sakit untukmu. Apa kau.. akan tetap hidup sampai akhir pertempuran.”
Mulutku mengatup, “Rev—“
“Aku tidak bisa bertarung dengan baik jika aku tahu kau juga berada di sana, Rena.”
“Kau adalah kelemahannya, Sherena.”
Aku menoleh, dan Victoria berdiri di sana, hanya beberapa meter dariku., “Kau adalah kelemahan Reven, Sherena.” Ulangnya, “Aku tahu aku tidak seharusnya ikut campur dalam pembicaraan kalian. Tapi aku merasa bahwa aku juga harus membantu Reven untuk membuatmu mengerti. Reven punya tanggung jawab besar. Dia adalah pemimpin kaum kita. Pada dialah banyak dari kita mengantungkan harapan terakhir kita. Kehormatan kita dan harga diri kita.”
“Dan bagaimana bisa seorang pemimpin bisa bertanggung jawab pada kaumnya jika yang ada dalam kepalanya hanya kekhawatiran tentang pasangannya? Kami butuh fokusnya, Sherena.”
Reven menyentuh lenganku, “Kumohon sekali ini, mengalahlah dan biarkan aku melakukan tugasku dengan benar.”
Aku beralih pada Reven, menggeleng pelan. “Ak—“
Tapi Reven sudah bergerak cepat dan menciumku dengan dalam. Membiarkanku merasakan semua perasaannya sebelum dia menarik tubuhku dalam pelukannya, “Aku tidak bisa kehilangan orang yang aku cintai lagi, Rena. Aku tidak bisa.”

Mau Baca Lainnya?

19 Comments

  1. First of all… Happy birthday, yes kak!! Moga apa aja. 🙂 aku kok… Nggg aku… Baca bagian ini agak-agak gimana yaaa… Panjangin lagiii dong kak… Jangan suka buat orang geregetan. Haram hukumnya. Hahahaha just kidding, yes! Rena harus bisa mengerti Revan disisi lain Rena juga pengen ikut perang buat balas dendam. If aku jadi Rena. Aku pasti kena gejala confusedsyndrom. ! *kasih tepuk tangan dulu yes! Buat rencana update seminggu or dua menggu sekali 🙂

  2. Aaaa akhirnyaaa update lg thor:''
    Happy birthday buat author yg unyu2 inii moga2 sehat slaluu yaa thor
    SETUJU BANGETT sama rencana author yg diatasss
    jangan ngilang2 lg ya thorr:"
    gregett banget bacanyaaa aah penasaaran thorr
    moga2 cadangan imajinasinya masihh banyaak biar cepet update hehehe

  3. Happy Birthday m'Ria. Semoga sehat selalu n makin kreatif n imajinasi bejibun n update ne lancar. Semua karyamu selalu ditgu dg sabar biarpun lama. Semangat

  4. Wuaaahhhh akhirnyaaaa!!! Duh Reven so sweet banget sih :") semoga meeka langgeng amin.. jangan lama lama updatenya ya kakak! Oh iya Happy Birthday kakak.. maki banyak karyanya yesh muach:*

  5. AHHHHH KAKAK AKHIRNYA MUNCUL JUGA KANGEN BINGIT<3
    udh sering bolak-balik sini nih kak, tp ga pernah apdet:(
    sekarang YEAAAYYYY ada lagi, kangen deh sama reven sama kakak juga deh:)
    btw, Happy Birthday kak! wishnya ga muluk2 kak semoga tambah makin makin deh:) sama reven jg mudah2an berpaling lagi dari rena ke aku(?) hehe
    SEMANGAT KAK!xx

  6. Yippiii!! Thanks ya ucapannya. Iyaaa.. ngga ngilang2 lagi deh kecuali emang lagi ketimbun sama kesibukan. 😛

    Geregetan?? Duh apalagi aku yg nulis?? Hehehe ditunggu aja ya versi lengkap RU yang ini.

    Aminn aminn.. semoga cadangan imajinasiku unlimited.

  7. Terimaaa kasiiiihh terimaa kasiiiihhh, Bird.
    Amin amin aminnn..

    Ditunggu aja dulu ya. Yang sabar kalo penulis ini lagi lemoot upload naskah. Hhoho

    SEMANGATTT!!!!!!

  8. Hihihihih!!! Simisimiii 😛

    Iya nihh, aku ketimbun kesibukan yang mencekik. *deileehhh

    Akhirnya ini bisa nyempetin nulis dan update ini.
    Yuhuuu, makasiii ucapannya ya. Amin amin..
    Makin plus-plus yang positif ya akunya. 😀

    Dihh.. jangan. Reven mah uda sah milik akuuuu.
    Hahahha

    SEMAAANGAAAATTTT JUGAAA!!! :)))))

  9. Yuuhuuuu,, happy bday (sorry telat bingittzz) *ditimpuk kapas* hahaha doa yg terbaik buatmu saiii.. ??
    Baru baca postingan ini, waduhhhhh penasarann rek, gimana kelanjutanx, ngegantung baget yakk, apa nanti yg bakal terjadi? Apa reven baik" saja? Apa, apa, apa????? Arrrggghhh #frustasi ?? ayo ayo lanjutanx dongg,, miss rena-reven ????

  10. Finally ketemu mas Reven yg ketje badai ulalaaa~
    Aduh teasernya udah banyak skinship, syenangssss. Jadi penasaran nih kan cerita lengkapnya Reven-Rena
    Ngga kebayang mereka yg dulunya suka judes2an ehh skg sayang-sayangan

  11. Halooo kak,gak bisa komen banyak.Aku reader baru kak,,salam kenal,baca Half Vampir dua hari baru kelar,Ceritanya keren banget kak,detailnya itu jelas banget,tiap baca part nya itu deg-deg an,sampai aku sempet hampir nangis gegara Dev pergi…Pokoknya keren banget kak…Dan ditunggu bnget Remember Us nya,penasaran baru baca teasernya hihi

  12. seperti biasa tidak pernah mengecewakan:) anw,happy birthday:):) waiting for updates

Leave a Reply

Your email address will not be published.