Remember Us – Tindakan Awal

“Jangan melakukan apa pun. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menunggu dan Sherena Audreista akan lenyap tanpa kau perlu mengotori tanganmu dan mengambil risiko tak perlu.”

Lucia memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan kalimat-kalimat itu dalam kepalanya, tapi semakin dia memokuskan dirinya, semakin suara perempuan api itu memenuhi kepalanya. Dia akhirnya membuka matanya ketika mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lucia?”

Suara itu terdengar tidak senang, tapi wajah Lucia terlihat lebih tidak senang dan dia memandang sinis perempuan itu.

“Hentikan, Victoria.”

Alis Victoria terangkat, tapi dia tidak mengatakan apa pun karena gerakan Lucia yang bangkit dari duduknya dan menghampirinya dengan langkah yang dapat Victoria pastikan tidak akan berakhir menyenangkan. Dia lelah dan benci harus menyelesaikan apa pun itu masalah yang sedang dibawa Lucia.

“Aku tahu kau merencanakan sesuatu yang buruk pada Sherena. Tapi aku tidak menyangka jika kau bahkan berkomplot dengan kelompok lain untuk menyingkirkannya.”



“Apa maksudmu?” ucap Victoria tak bertenaga. Dari sekian banyak topik masalah yang mungkin bisa dibawa Lucia, kenapa dia harus mengambil yang satu ini? Sherena Audreista? Di dalam kepalanya diam-diam Victoria mengutuk Noura. Jika saja perempuan satu itu berani untuk menghadapi nasibnya dan bukannya memilih mati lalu membawa keturunan seorang penyihir murni sebagai gantinya, banyak hal merepotkan yang harusnya tak perlu dilakukan Victoria. Banyak hal yang mungkin akan berubah, dan dia mungkin juga tidak perlu menghadapi kekesalan Luca.

“Kau hentikan apa pun itu atau aku akan mengatakan pada Reven jika Sherena sedang dalam bahaya. Entah Edna, entah Luca atau siapa pun itu sedang menunggu untuk menyingkirkan Sherena untuk selamanya. Bukankah begitu?”

Victoria melangkahkan kakinya maju dan berhenti tepat di depan Lucia, matanya lurus pada sorot tegas Lucia yang juga tak kalah seriusnya, “Jangan berani-berani kau menyeret Reven dalam masalah ini.” Suara Lucia dalam dan penuh ancaman. Tak sedikit pun matanya meninggalkan Lucia yang tak bergeming sama sekali. Lalu senyum tipisnya tersungging, “Dan bukankah kau harusnya bersyukur jika Sherena lenyap? Kau akan dapat dengan mudah menguasai Reven untuk dirimu sendiri. Tidak akan ada lagi yang perlu kau risaukan.”

Tapi bukannya menyepakati apa yang dikatakan oleh Victoria, ekspresi Lucia justru mengeras, “Berapa lama kau sudah menggenalku, Vic?” ucapnya singkat, “Kurasa jawabannya adalah tidak lama. Sebab jika kau telah lama mengenalku, kau tidak akan repot-repot bertanya seperti itu.”

Suara dengusan pelan Victoria terdengar, “Kurasa kau yang tidak mengenal dirimu sendiri. Apa kau sudah lupa bagaimana kau memohon pada Damis untuk mengambil Sherena sebagai miliknya seutuhnya?”

“Aku meminta dia untuk bertindak dan menyadari keinginannya sendiri, Vic.”

“Kau hanya membodohi dirimu sendiri dengan jawaban itu. Tujuan kita sama, menyingkirkan Sherena dari sisi Reven.”

Lucia tertawa sarkastik, “Mungkin tujuan kita memang sama. Tapi aku tidak pernah melakukan hal serendah itu hanya untuk mendapatkan apa yang kumau. Jika saja aku berpikiran sama sepertimu, mungkin kau tidak akan pernah bertemu dan mengenalnya, sebab aku yang akan menyingkirkannya sejak pertama Damis membawa perempuan itu ke kastil kami.” Dia berhenti, memperhatikan wajah Victoria yang mulai terlihat marah, “Tapi nyatanya dia masih hidup sampai saat ini. Masih utuh.”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Lucia?”

“Batalkan apa pun itu rencanamu untuk menyingkirkan Sherena.”

“Kau tidak tahu apa-apa.”

“Aku tidak ingin tahu apa-apa, Victoria Lynch. Aku hanya tidak ingin siapa pun ikut campur dalam urusanku untuk memenangkan Reven. Aku punya caraku sendiri. Aku sudah mengorbankan banyak hal. Aku sudah menyerahkan belahan jiwaku sendiri dan memilih Reven. Aku tak akan membiarkanmu menghancurkan semua itu.”

Victoria menggelengkan kepalanya, “Masalah ini tidak seserhana itu. Masalah Sherena bukan hanya sekedar untuk memenangkan Reven.”

“Aku tidak peduli, Vic.” Sergah Lucia cepat, “Aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini. Jika kau tidak ingin Reven terlibat, maka segera hentikan semua itu.” Ucapnya sebelum dia melangkah ke samping dan meninggalkan Victoria sendirian di ruangannya.

Victoria mengigit bibir bawahnya. Dia tidak punya pilihan lain.

Luca harus tahu.

***

“Aku tidak tahu apa maksudmu, Rev?” Damis menatap Reven dengan kening berkerut, tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Reven memintanya memimpin kelompok besar yang akan segera diberangkatkan oleh Luca sebagai pasukan kedua setelah yang pertama sudah pergi dengan dipimpin oleh Nerethir.

“Aku sudah mengatakan dengan jelas apa yang harus kau lakukan.” Suara Reven tegas dan dingin. Dia bahkan tak melihat Damis ketika mengatakannya dan justru membelakanginya, menatap ke lurus ke hutan belantara jauh di depannya.

Damis menghela nafas panjang, “Aku tahu. Hanya saja aku tidak mengerti. Kenapa mendadak seperti ini? Yang kutahu, pasukan kedua bukan menjadi tanggung jawab kita. Gjorg yang harus memimpin pasukan kedua dan menyusul Nerethir.”

“Gjorg akan berangkat bersama pasukan utama.” Jawab Reven pendek.

“Aku tidak mendengar ada perubahan apa pun di pertemuan besar kemarin.”

Reven berbalik, memandang lurus ke Damis, “Aku yang akan mengurus itu dan membahasnya dengan Luca.”

Mata Damis melebar, tak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut Reven, “Kau tidak bisa memutuskan hal sebesar ini semaumu, Reven.”

Reven menggeleng, “Aku bisa melakukannya, Damis. Kau lebih punya kemampuan strategi yang lebih baik dari Gjorg. Nerethir dan kau adalah kombinasi sempurna untuk menyimpulkan kekuatan musuh kita dari dekat.”

Damis diam, berpikir. Alasan yang dikatakan Reven memang benar. Daripada Gjorg, salah satu pemimpin dari makhluk-makhluk berbentuk aneh mengerikan tak berotak, dia jelas pilihan yang lebih baik untuk mengatur strategi perang mereka. Tapi dia tak bisa meninggalkan Rena begitu saja setelah apa yang dikatakan Victoria padanya.

“Bersiaplah karena pasukan kedua kedua akan berangkat esok hari.”

“Baiklah,” Damis mengangguk pelan, “Tapi aku akan membawa Rena bersamaku. Dia akan sangat membantu un—”

“Tidak,” potong Reven cepat, “Rena tinggal di sini. Luca punya tugas sendiri untuknya.”

“Luca?” Damis tidak menyadari jika suaranya meninggi ketika dia mengucapkan nama itu, “Tidak. Aku tidak akan mengizinkannya.”

Mata Reven menyipit, “Luca tak butuh izinmu untuk meminta Rena melakukan sesuatu.”

“Apa kau tahu apa yang akan Luca perintahkan pada Rena?” tantang Damis, “Tidak, bukan? Bagaimana bisa kau yakin jika Rena akan baik-baik saja? Aku ti—”

“Dia pergi bersamaku.” Jawaban singkat Reven membungkam Damis. Wajahnya kebingungan dan dia mencoba meneliti kemungkinan adanya kebohongan di wajah Reven. Tapi dia tak menemukan apa pun kecuali keseriusan dan ketegasan di wajah Reven.

“Dia pergi bersamamu?” ulang Damis, masih tak percaya.

Reven mengangguk, “Aku tidak tahu kenapa kau sepanik itu ketika kukatakan Luca membutuhkan Rena untuk melakukan sesuatu, terlebih ketika kau tahu dia bersamaku. Hanya saja kau harus lebih tahu tempatmu, Damis. Kau tidak punya hak untuk meminta Rena untuk selalu ada bersamamu. Dia bukan milik siapa pun. Tapi sayangnya, dia dan kita semua, di bawah kekuasaan Alzarox dan Luca. Mereka berdualah yang berhak meminta kita melakukan apa dan pergi kemana, juga dengan siapa dan kapan.”

Damis tidak percaya pada apa yang didengarnya. Dia tahu jika sikap keras kepala dan ego Reven yang kerap tidak pada tempatnya bisa membuat Reven menjadi sosok yang sangat menyebalkan. Namun sekarang? Jika saja dia tahu apa yang sedang direncanakan Luca, apa dia masih akan sesantai ini membiarkan Rena berada dalam lingkaran Luca? Damis menarik nafas panjang. Mencoba membesarkan hatinya.

“Pastikan kau menjaganya ketika kau berada bersamanya atau kau akan menyesal.”

“Apa maksudmu, Damis?” suara Reven dalam, dia menatap Damis tajam.



“Jika sesuatu terjadi, jangan pernah salahkan siapa pun kecuali dirimu sendiri. Aku sudah memperingatkanmu.” Lalu begitu saja dan Damis meninggalkan Reven. Dia tak bisa berada lebih lama lagi di dekat Reven jika dia tidak mau mulutnya mengatakan semua yang dia tahu tanpa dia bisa menyadarinya. Damis tahu bahwa dia egois dan mungkin saja pilihannya untuk tidak memberitahu Reven adalah salah, namun dia, entah kenapa merasa tidak rela jika Reven—yang selalu menyia-siakan kesempatan yang dia punya—bisa kembali bersama dengan Rena.

Namun, belum juga dia jauh melangkah jauh, Reven sudah menghentikannya dan mencengkram erat lehernya, “Apa maksudmu, Damis?” dia menggeram, kehilangan kesabaran.

Damis menatap lurus pada Reven, tak terlihat ingin bicara.

“Apa kau tahu sesuatu tentang Rena yang aku tidak tahu?”

“Akan butuh bertahun-tahun untuk memberitahumu semua tentang Rena yang kutahu tapi kau tidak tahu, Reven.”

“Damis..”

Damis kembali terdiam, dan dia bisa merasakan cengkraman tangan Reven yang perlahan mengendur hingga akhirnya terlepas, “Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Damis.”

Wajah Damis terangkat, menataap lurus pada Reven yang sekarang justru membuang pandangannya ke arah lain. Ada yang tidak bisa dipahami Damis dari bagaimana suara Reven terdengar putus asa. Tapi dia masih diam dan menunggu, Karena dia tahu masih banyak kata-kata lain di mulut Reven yang belum diucapkannya.

“Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa membuat Rena kembali memandangku tanpa dia punya keinginan untuk mematahkan leherku. Aku berharap aku bisa memperbaiki hubunganku dengannya. Jujur saja, terus menerus dimusuhi olehnya sangat melelahkan. Lebih melelahkan daripada mengurusi perang sialan ini.”

“Apa kau masih mencintai Rena, Rev?”

Reven menoleh, memandang Damis sebelum dia tersenyum tipis, “Apa perasaanmu pada Lyra Corbis masa sama besar dan utuh seperti ketika dia masih hidup?”

Damis tertawa sedih, Reven tahu apa jawabannya. Ikatan belahan jiwa bukan sesuatu yang dapat semudah itu dihilangkan atau dilupakan. Damis tahu bahwa seperti apa pun dia menyayangi dan mendambakan seorang Sherena Audreista, sosok Lyra Corbis akan tetap menjadi satu-satunya yang mendominasi hati dan jiwanya. Lalu jika seperti itu, apakah adil bagi Rena jika Damis memutuskan untuk menarik Rena dalam lingkaran milik Lyra? Reven tahu, dan dia hanya butuh satu pertanyaan untuk meyakinkan Damis pada apa yang selama ini terus menerus membingungkannya.

“Aku yakin kau akan menemukan jalan untuk bisa membuat Rena bisa memaafkanmu, Reven. Masih banyak tersisa tempat bagimu di dalam dirinya. Kau hanya perlu berusaha, dengan caramu sendiri.” Ucap Damis pelan.

Reven memejamkan matanya pelan, “Dan kuharap ketika saat itu tiba sebelum semuanya terlambat.”

“Apa kau sudah tahu?” ucap Damis cepat.

Kening Reven berkerut, “Tahu apa?”

Damis menarik nafasnya dalam-dalam, “Jauhkan Rena dari Victoria, Luca maupun Edna.”

***

Lucia tidak tahu kenapa dia masih tidak bisa menemukan Reven sepanjang hari ini. Dia tidak sabar, marah dan entah kenapa sedikit khawatir. Setelah apa yang didengarnya dari perempuan api tangan kanan Edna itu, dan juga dari Victoria, dia tahu sesuatu yang benar-benar buruk sedang mengancam Sherena.

Dia mungkin saja membenci perempuan itu setengah mati. Tapi dia tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada Sherena tanpa dia tahu apa dan kenapa. Dan jika mendengar semua ini melibatkan Luca, dia lebih tidak rela lagi. Sebab dia tahu pasti, jika kali ini Rena mati karena Luca, tidak aka nada lagi kesempatan baginya untuk mendapatkan Reven. Reven jelas akan meratapi kematian perempuan itu seumur hidupnya dan mengabaikannya sepenuhnya. Sudah buruk baginya ketika Reven dulu kehilangan Noura, dia tidak ingin Reven mengalami itu lagi. Dia harus memberitahu Reven. Tapi dimana laki-laki itu ketika dia harus memberitahukannya sesuatu yang penting seperti ini? Lucia mengerang frustasi.

“Kenapa terburu-buru sekali?”

Lucia nyaris terlonjak ketika dia mendengar suara itu. Dia berhenti, menatap lurus ke arah dua pilar besar di depannya. Seseorang melangkah keluar dari sana dengan anggun.

“Edna..” ucap Lucia tanpa suara.

Edna tersenyum, lalu menyandarkan tubuhnya pada pilar yang paling dekat dengannya. Matanya menatap ke jari-jarinya yang panjang dan lentik, setengah memain-mainkan kuku-kukunya, dia berucap santai, “Kenapa masih berkeliaran di larut malam seperti ini, nona muda?”

Lucia tak menjawab. Dia tahu ada yang tidak beres dengan kemunculan Edna. Putri api yang sekarang sedang berdiri tak jauh darinya itu bukan jenis makhluk yang akan repot-repot menyapanya dan menanyakan pertanyaan tidak penting seperti itu. Dia bahkan tidak suka datang dalam pertemuan besar untuk membahas strategi atau rencana perang mereka.

“Kau.. Lucia, bukan?”

Entah kenapa Lucia menelan ludahnya gugup, dia tidak suka dengan percakapan tidak jelas ini.

“Kau tahu, sangat tidak sopan jika kau sama sekali tidak mengatakan apa pun ketika aku bertanya padamu.” Edna menoleh pada Lucia, tatapan matanya berubah aneh, “Aku tidak suka diabaikan.”

“Apa yang kau mau?”

“Ah, apa yang kumau?” suara Edna berubah riang. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Lucia dengan benar, “Aku ingin kau menutup mulutmu… selamanya.“

Sepasang mata Lucia membulat, dia mundur beberapa langkah ketika Edna melangkah ke arahnya.

“Aku dengar kau tahu sesuatu yang tidak seharusnya kau tahu, apa benar begitu?“

Sialan, kau, Victoria Lynch.

“Itu bukan urusanmu, Edna.”



Edna menggeleng pelan, “Sayangnya kau salah besar.” Ucapnya ringan, “Kau membuat Luca tidak senang. Dan aku benci itu.”

“Apa kalian benar-benar akan membunuh Sherena?”

“Tsk tsk tsk,” Edna berdecak tak nyaman, “Dan pertanyaanmu itu membuatku tidak nyaman. Membunuh? Ah, itu terdengar kejam, kau tahu?”

“Kau tidak boleh melakukan itu.”

“Apa kau akan memberitahu Reven tentang hal ini?”

Lucia mundur lagi, jarak Edna kini tidak sampai lima langkah darinya.

“Aku.. tidak tahu.”

Edna tersenyum, terus melangkah maju hingga tak ada jarak diantara dia dan Lucia yang kini semakin gugup, “Bukan jawaban itu yang ingin kudengar darimu.” Dia berucap pelan, lalu menyorongkan tubuhkan, mendekatkan bibirnya pada telinga Lucia, “Aku tidak suka kau ikut campur dalam urusan yang dipilihkan oleh Luca untukku.”

Lucia baru saja akan mendorong tubuh Edna menjauh ketika dia merasakan panas di punggungnya, namun Edna memeluk Lucia rapat seraya membentuk pedang api dari udara kosong. Tak ada jeritan apa pun dari mulut Lucia ketika pedang itu menusuk punggungnya hingga tembus ke jantungnya dan menarik kehidupan miliknya.

Edna melepaskan pelukannya, tersenyum melihat tubuh Lucia yang merosot jatuh di depannya, “Indahnya.” Ucapnya pelan ketika dia melihat pedang dari api biru yang sebelumnya menancap di punggung Lucia perlahan menyusut ke dalam dan membakar tubuh Lucia yang sudah tak bernyawa. Tak butuh waktu lama hingga seluruh api biru itu membakar Lucia sepenuhnya.

“Kenapa cepat sekali?” Gerutu Edna ketika api biru di depannya lenyap, menyisakan abu gelap yang membentuk tubuh Lucia. Dia menghembuskan nafas panjang, terlihat kesal, “Lain kali aku harus membuatnya tahan lebih lama.” Ucapnya singkat sebelum berbalik dengan santai, meninggalkan lorong itu dan berjalan ke arah ruangan Luca berada. Dia sudah merindukan laki-lakinya itu.

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

***

A/N
Halo semuanya, apa kabar? Maaf ya baru bisa upload. Harusnya chapter ini memang kuupload minggu kemarin, tapi karena ternyata aku sibuk ngerapiin semua barang buat pindahan, aku baru bisa nulis dan upload sekarang.

Btw, kalian suka ngga sih karakter Edna? Aku kok seneng ya sama si putri api ini. Hehhehe. Ah ya, satu lagi.. kurasa aku akan melanjutkan Xexa, soalnya RU sudah tidak lama lagi.

PS. Kalau bisa klik iklan di blog ini ya. Biar aku bisa dapat tambahan duit jajan dan makin semangat nulis. Hahahha

Love,

Mau Baca Lainnya?

15 Comments

    1. Masih ada mungkin sepuluh chapter. Hahaha. Cuma karena setelah ini aku bakal rajin update, yah jadinya agak cepet. Hehhehe.
      Tapi jangan khawatir. Aku uda ada cerita yang nanti bakal gantiin RU. Dannnn… jangan lupa baca XEXA juga, siapa tahu ketemu keturunannya bang Reven. 😛

  1. Yah udah mau tamat. ?
    Padahal baca kisah RenaReven tu ga ada bosen-bosennya lho kak.
    Entah dari kapan aku mulai baca ini, yang jelas udah lama sih hehehe, tapi masih greget banget nungguin updatetannya. Ada di Reading list paling atas ?

  2. Edna Sadis dan kejam…meskipun dari awal lucia itu menyebalkan tapi kasian juga ma lucia mati ditangan edna demi menolong rena..
    Makasih y mba dah update.. Keep writing..

  3. Arghhhhh kakak sekarang rajin update kereeeen semoga ajah banyak pembaca yang berminat dengan cerita kakak supaya cepet dibukukan ceritanya?????

  4. Meskipun saya nggak suka sama Lucia. Tapi entah kenapa kematiannya bikin saya beraimpati.

    ?? oh Edna I like you. Maklun saya pecinta karakter wanita jahat ??

    oh ya Kak, ?????? denger kata mau ‘tamat’ kok kayak ada nangis-nangisnya gitu. Cerita ini tuh udah sekitar 4 kali saya baca tapi nggak pernah bosan.

    Kak, ?? saya nggak rela kalau harus tamat ?? *nangis bombai*

    oh ya Kak, sekedar masukan. Chapter ini tuh typonya agak banyak.

    heheh ?? maaf..

  5. Kalau buat cerita baru lagi ka mau nya laki laki yg dingin dan bangsawan entah kenapa suka banget karakter laki laki gitu?

  6. Lucia ternyata ga terlalu menyebalkan ya…Dia masih punya hati…Walau kelakuannya begitu ternyata dia baik…

Leave a Reply

Your email address will not be published.