Remember Us – Tujuan Ed

“Aku akan mengantarmu ke sana.”Perlu beberapa detik bagiku untuk benar-benar menyadari apa yang dikatakan laki-laki di depanku ini, “Tunggu sebentar. Aku akan berkemas. Ini tak akan lama. Dan kita butuh lebih berhati-hati. Ingat jam malam.”

Dia mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil lalu, meraih tas kulit yang tersampir di dekat perapian dan mengisinya cepat dengan begitu banyak benda. Selama dia melakukan itu, aku hanya mengamatinya. Separuh tidak percaya bahwa makhluk di depanku ini memiliki kepala yang berfungsi penuh. Menurutku kepala kerasnya itu kosong, itulah satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan kenapa dia begitu tidak konsisten dengan apa yang keluar dari mulutnya.

“Kita berangkat.” ucapnya setelah bermenit-menit yang lama.

Aku menghela nafas, mengangguk.

***

“Bisakah kau tunjukkan saja arahnya dan aku bisa membawamu sampai ke kastil kerajaan dengan lebih cepat?”

Ed mendengus, memandangku dengan tatapan mencela, “Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi dengan sihirmu itu.”

Aku memutar bola mataku. Jadi dia masih berpikir bahwa aku adalah penyihir? Jika bukan karena dia adalah sumber informasiku, aku sudah akan meninggalkannya di tengah kegelapan hutan ini dan pergi mencari semuanya sendirian. Tapi kupikir itu tidak bijaksana. Mungkin aku hanya perlu menebalkan telingaku dan bersikap lebih tidak peduli lagi menghadapi manusia bernama Edred Ritter ini.

Apalagi sejak peristiwa beberapa hari lalu yang nyaris membuatnya mengorok leherku dengan pedang peraknya. Aku tidak tahan dan sudah malas berjalan seperti siput-karena ini sepenuhnya sesuai dengan kecepatan Ed yang adalah manusia-aku menyarankan kepadanya untuk menggunakan kekuatanku agar kami bisa menghemat waktu dan segera sampai ke kastil kerajaan.

Kupikir dia mengiyakan ini karena dia penasaran, selebihnya mungkin sama sepertiku, malas. Dan tanpa pikir panjang, aku menariknya, berlari dalam gendongan punggungku dengan kecepatan vampir. Beberapa detik pertama mungkin dia dikuasai keterkejutannya, lalu beberapa detik kemudian dia sudah histeris. Aku bersumpah aku bahkan bisa tertawa sangat keras jika mengingat segala jenis teriakan dan sumpah serapah yang dia lontarkan kepadaku. Aku tidak tahan karena dia berteriak tepat di belakang telingaku, membuat telingaku berdenging keras, jadi aku berhenti.

Beberapa detik dia mengatur nafasnya, wajahnya memucat sempurna. Dia benar-benar terlihat seperti mayat hidup dan sinar bulan samar-samar tak membantu sama sekali. Setelah dia sadar, atau sepenuhnya sudah tidak mual, dia menarik pedangnya dengan kecepatan luar biasa, mengingat bahwa dia hampir saja mengeluarkan semua isi perutnya. Jika aku tidak sepersekian detik lebih cepat, ujung pedangnya sudah pasti mengores kulit leherku. Aku tidak menyangka jika laki-laki di depanku ini ternyata cukup punya kemampuan berpedang. Kupikir dia cuma ahli dalam mengubah-ubah isi kepala dan keputusannya.

“Jangan berani-berani melakukan itu lagi kepadaku. Atau aku akan membunuhmu detik itu juga.” suaranya dalam, penuh desisan dan aku hanya memandangnya lurus.

Aku menghela nafas, kurasa buang-buang waktu saja saja mengenang kejadian itu. Tidak ada gunanya bagiku. Pelan, kualihkan pandanganku ke cahaya siang hari yang nampak dari mulut gua. Kami sedang duduk beristirahat di dalam sebuah gua di tengah hutan. Sepakat bahwa kami hanya akan melakukan perjalanan ketika malam karena aku tidak bisa bersembunyi di balik cahaya matahari yang selalu begitu terik sementara pepohonan di sini tidak begitu lebat. Hutan ini kekurangan energi, pikirku bodoh.

Dalam diam yang lama, aku menyelami kepalaku sendiri. Mengingat kembali segala halnya. Entah kenapa ini jadi kebiasaan baruku. Aku tersenyum, aku menangis, kadang bahkan cuma tersenyum simpul mengingat semua kenangan di dalam kepalaku. Orang-orang di dalam kepalaku. Senyum-senyum mereka akan menjadi senyumanku dan ketika ingatan itu berhenti di saat kematian mereka, aku akan mengambil nafas sangat dalam. Memenuhi paru-paruku dengan udara, menahan agar tetesan airmata di sudut mataku tidak membanjir.

Arshel..

Dia favoritku, terbaik dari yang terbaik.. dan dia, kakakku.

“Kakakku penyihir tapi aku bukan.”

Aku tersenyum tipis. Bahkan ketika aku tidak tahu tentang diriku sendiri, alam bawah sadarku mengingatnya dengan baik.

“Berdialog dengan kepalamu lagi?”

Aku menoleh dan melihat Ed yang tengah bersandar malas ke dinding gua yang berlumut. Matanya terpejam dengan kedua tangannya di depan dada, memeluk pedang peraknya.

“Belum semuanya.”

Dia membuka matanya, satu alisnya terangkat, “Apa maksudmu?”

“Ingatanku. Sudah kubilang bukan, aku belum mengingat semuanya. Dan kurasa aku melupakan yang paling penting. Karena banyak bagian dalam kepalaku yang tidak berurutan. Semua seperti kepingan-kepingan tidak utuh dan berantakan. Aku hanya mencoba menyusunnya.”

“Sangat mencerminkan dirimu.” ejeknya dan aku membuang muka. Menyesal. Sudahkah kubilang jika kami tak pernah bisa berbicara baik-baik satu sama lain? Beberapa kali aku benar-benar berniat menendang kepalanya dan meninggalkannya. Mencari sendiri semua yang ingin kutemukan, serpihan ingatanku. Mozaik-mozaik yang hilang.

Dan setiap kali itu pula, aku merasa aku membutuhkan Ed. Tidak tahu kenapa. Sama seperti ketika aku mendadak berjalan ke rumahnya. Diantara puluhan rumah di desa kecil itu, aku memilih rumahnya. Penuh keyakinan meski tidak tahu alasannya. Dan perasaan itu sama. Seolah intuisiku berkata bahwa Edred Ritter akan berguna untukku. Atau dia mungkin punya hubungan dengan masa laluku. Setidaknya mungkin. Mungkin begitu.

“Kenapa kau ingin mengantarku bertemu dengan keluarga Cllarigh, jika kau begitu membenci mereka?” aku mendadak teringat ini dan menatap Ed. Reaksinya aneh. Dia nampak marah, enggan dan berusaha keras tidak berekspresi apapun. Tapi aku membaca semua di wajahnya bahkan ketika dia masih berusaha mengeser letak duduknya. Nampak tidak nyaman.

“Aku melihatnya di matamu, kebencian itu. Jadi tidak perlu membenarkan atau menyalahkan karena aku tahu itu fakta. Yang tidak kutahu, penyebabnya. Jadi bagaimana bisa penduduk biasa sepertimu berurusan dengan keluarga penting kerajaan?”

Dia mendengus, berusaha keras tidak mengatakan apapun.

“Sayang sekali aku bukan Dev. Jika iya, aku tak akan pernah repot-repot bicara dengan orang sepertimu. Aku hanya tinggal menatapmu, dan semua isi kepala kerasmu itu akan terbaca jelas.”

“Tutup mulutmu, penyihir.”

“Namaku Sherena, dan aku bukan penyihir.”

“Semaumu.”

“Jadi apa yang dilakukan para Cllarigh ini kepadamu, Edred Ritter?” aku mengejar. Aku bosan. Sejujurnya aku tidak peduli pada masalahnya. Hanya saja menganggunya bisa menjadi hiburan tersendiri sementara menunggu matahari terbenam.

“Berhenti menyebut nama keluarga busuk itu di depanku.” dia menggeram marah, sekarang sudah berdiri dan menatapku nyalang. Aku masih duduk, memandangnya dengan santai, menunggu kata-kata lain yang keluar dari mulutnya.

“Aku tidak akan pernah sudi membahas tentang mereka, para pengkhianat itu.”

“Oh jadi mereka melakukan pengkhianatan? Kepadamu? at–“

“Kepada keluargaku. Jika bukan ulah mereka, aku tidak akan berada di desa kecil itu, berkeliaran seperti gembel. Keluargaku tidak akan mendekam di dalam penjara kerajaan dan kami masih akan tetap menjadi bangsawan penting di dalam lingkungan kerajaan. Jika bukan karena mereka memfitnah keluargaku. Aku masih akan tetap menjadi pemimpin pasukan kerajaan yang dihormati dan ditakuti, bukannya diusir dan terasingkan di tempat menyedihkan ini.” dia berhenti, menyumpah dengan bahasa kotor di kepalanya. Dan berjalan keluar dengan penuh amarah, meninggalkanku yang terpana dengan semua kata-katanya.

Aku mengangguk-angguk.

Alasan yang cukup pantas.

***

Tujuh kali perputaran penuh matahari dan wajah Edred Ritter sama sekali tidak membaik. Dia masih seperti singa kelaparan yang akan menerkam apa saja yang ada di depannya. Sementara aku setengah mati menahan diri untuk tidak menganggunya lagi dengan kata-kataku karena aku ingin segera sampai ke kastil kerajaan. Ini sudah nyaris pekan kedua dan dia bilang besok kami akan sampai di gerbang utama menuju kota pusat pemerintahan. Jangan karena aku menganggu ketidakwarasan otaknya, dia menghancurkan ini semua. Aku masih mengarisbawahi dengan benar kenyataan betapa tidak konsistennya dia.

Kami berjalan di bawah bulan separuh yang bersinar malas di tepian hutan. Hutan. Hutan dan hutan. Karena kami bergerak ketika malam, hanya hutan satu-satunya jalan aman karena penjaga malam ada dimana-dimana. Meskipun sangat mudah membunuh mereka jika mereka menemukanku dan Ed berkeliaran di malam hari, aku memilih menyetujui ide Ed-mengambil jalur hutan-ini sejak awal untuk meminimalisir masalah tidak penting. Seluruh pusat tujuanku adalah Cllarigh dan bukan hal lainnya. Aku juga tidak sedang lapar, jadi ini bukan masalah bagiku.

Ed memberiku tanda untuk berhenti ketika kami sampai di perbatasan hutan. Bayang-bayang pepohonan menyamarkan wujud kami. Dia menunjuk ke depan, diantara titik-titik cahaya berkedip di kejauhan yang melintang horisontal dan berada dalam setiap jarak yang teratur. Tanpa bertanyapun aku tahu itu adalah obor-obor yang terpasang di benteng tinggi. Prairie-padang rumput yang luas sekali, tanpa pohon-yang menjadi jarak antara hutan dan benteng itu sama sekali tidak menyulitkanku untuk melihat dengan baik.

“Itu adalah gerbang batas kota. Kita harus bisa masuk ke sana dan melewati kota pusat pemerintahan agar kita bisa berada di kastil kerajaan yang berada di jantung kota ini. Tapi penjagaan di sini sangat ketat. Semua yang keluar dan masuk diperiksa sangat teliti. Tidak mungkin juga menyusup karena satu-satunya jalan masuk ke sana hanya gerbang itu. Kau tidak mungkin memanjat dinding benteng setinggi puluhan meter itu bukan?”

Aku menggeleng, “Aku tidak bisa memanjat dengan baik. Tapi mungkin berlari melewatinya bisa. Atau bagaimana jika menjebolnya saja. Itu terdengar gampang.”

Matanya melotot menatapku, “Sepertinya ingatanmu yang kembali benar-benar merusak otakmu.” desisnya, “Kau pikir kau ini ap-” dia berhenti lalu mendengus meremehkan, “Aku lupa kau penyihir.”

Sekian kalinya aku memutar bola mataku, menebalkan telingaku dan bersabar. Jika aku tidak punya perasaan bahwa dia akan berguna untukku kelak, aku akan membunuhnya. Meskipun aku tidak lapar dan tidak yakin mau menghisap darahnya.

“Aku vampir, Edred Ritter.”

Dia mengabaikanku, “Penjagaan di sana diperketat puluhan kali lipat sejak terbunuhnya sang Ratu. Dan penjagaan di gerbang kastil lebih ketat lagi. Mustahil kita bisa masuk tanpa diketahui.”

Aku menyilangkan tanganku di depan dada, kehabisan kesabaran, “Dengar, Ed.” suaraku tipis namun tajam, “Aku bukannya ingin menyusup ke dalam sana. Aku ingin menemukan Cllarigh yang katamu tahu tentang bangsaku. Kaumku. Dan kuberitahu padamu, bukan urusan sulit bagiku untuk bisa masuk ke sana tanpa satu manusiapun tahu. Aku bisa masuk ke sana dan sampai ke dalam kastil kerajaan hanya dalam beberapa kedipan mata. Masalahnya hanya, kau, aku justru merasa kau yang sangat bernafsu masuk ke sana. Apa yang kau rencanakan, Ed?”

Mata biru Ed menolak memandangku, aku masih menunggu. Jika dia tidak mengatakan appaun, aku akan meninggalkannya di sini dan melesat pergi ke kastil kerajaan tanpanya. Bukan masalah sulit menemukan keluarga Cllarigh jika mereka memang keluarga penting di dalam wilayah kerajaan. Masa bodoh dengan segala intuisi tentangnya.

“Baiklah. Putuskan saja apa maumu. Aku pergi.”

“Jangan!” dia berkata pelan, menghela nafas, akhirnya memandangku, “Aku ingin berduel dengan Finnegan Cllarigh. Membunuhnya jika bisa. Dan meskipun setelahnya, jika aku ketahuan, hukuman mati akan menungguku. Setidaknya aku sudah puas. Tapi aku tidak bisa begitu saja masuk ke wilayah utama kerajaan, Raja membuangku dan melarangku menginjakkan kakiku di sini. Seluruh gerbang kerajaan tertutup untuk keturunan Ritter.”

Aku menatapnya tajam, separuh terkejut mendengar apa yang dikatakan Ed. Apapun masalahnya dengan orang yang dia sebutkan tadi, aku tahu itu seperti hidup dan matinya. Aku menghela nafas, tidak ingin ikut campur.

“Maka kali ini mau tak mau kau harus mengikuti caraku, Ed.” ucapku pelan.

Dia menatapku lama sebelum akhirnya mengangguk dengan enggan. Dan butuh beberapa menit yang lama bagi kami untuk berdiskusi macam-macam. Ed sungguh berguna kali ini karena dia adalah mantan pemimpin pasukan kerajaan, jadi dia tahu semua sudut yang dijaga dan tidak. Beberapa point mungkin telah berubah sejak dia diusir, tapi aku bisa mengatasinya.

“Ketika fajar menyingsing, gerbang akan dibuka untuk membiarkan kereta-kereta kuda dari kota pusat pemerintahan keluar menuju kota-kota lain. Ada jeda beberapa menit ketika para petugas gerbang memeriksa kereta pertama. Dan kurasa saat itu paling tepat bagimu untuk berlari masuk. Itu lebih masuk akal daripada kau harus menjebol tembok benteng itu.”

Aku tertawa tak peduli mendengar kalimat terakhirnya yang diucapkan dengan sangat sinis. Aku tahu benar bahwa Ed tidak mempercayaiku, sebab sejujurnya aku juga tidak percaya aku bisa menjebol tembok itu.

“Setelahnya kita bisa berjalan di jalan-jalan kecil dan menghindari jalan-jalan utama. Sebisa mungkin kita tak boleh berpapasan dengan siapapun. Aku tidak bisa menjamin jika mereka mengenaliku atau tidak. Selain itu, jalan ini juga menguntungkanmu karena jalan-jalan ini biasanya agak gelap karena berada di celah bangunan. Kita tidak tahu benar apa jubahmu itu benar-benar bisa melindungimu dengan baik dari sinar matahari atau tidak, jadi kita jelas akan mengambil jalan ini.”

“Kau yang lebih tahu dengan baik tempat ini. Aku mengikutimu. Hanya saja jika terjadi kesalahan, jangan salahkan jika aku melakukan sesuatu.”

Keningnya berkerut, “Hanya jika aku sudah bertemu dengan Finnegan Cllarigh.”

Aku menyilangkan kedua tanganku, mengamatinya, “Lalu setelahnya, apa rencanamu Ed? Kembali ke desa kecilmu itu?”

Dia menghela nafas, “Aku belum memikirkannya.”

Sudah kuduga.

***

Semuanya berjalan sesuai rencana, ketika fajar merambat. Aku menggunakan tudung jubahku, dan Ed juga melakukan hal yang sama. Aku mendengar suara detak jantung Ed yang berdebar kencang dan dia menarik nafas cukup dalam.

“Kau siap?”

Dia mengangguk dan tanpa menunggu lama, dia melompat pelan ke punggungku dengan ragu-ragu begitu aku memberinya tanda. Aku tidak memberikannya waktu untuk protes atau bicara hal lain karena aku langsung berlari dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yang pernah kulakukan sebelumnya. Aku bisa merasakan dia mengalungkan lengannya di leherku dengan erat ketika aku semakin mempercepat gerakku.

Aku hanya butuh beberapa detik yang singkat bagiku untuk melewati prairie di depanku. Dan Ed benar, gerbang di depanku telah terbuka separuh dan itu sudah cukup bagiku untuk melewatinya. Beberapa penjaga yang berdiri tepat di dekatku mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengusap wajahnya ketika aku melewatinya. Mungkin dia melihat samar-samar bayangan tubuh kami. Tapi satu detik kemudian, aku sudah tidak di sana.

“Jika kau ingin muntah, jangan di dekatku.” peringatku setelah berhenti dan Ed melompat turun dari punggungku. Rambut kecoklatannya berantakan dan wajahnya sama seperti dulu, pucat dan beberapa kali dia menelan ludahnya

“Aku bersumpah ini yang terakhir kali aku menyetujui ide gilamu.”

Aku menunjuk kepalaku, “Benahi rambutmu dan pakai tudungmu.” kataku mengabaikan segala serapahnya setelah kalimat pertamanya itu.

Dia melakukannya meski dengan memasang wajah paling menyebalkan yang bisa kulihat. Tak lama kemudian, dia mengelilingi tempat dimana aku berhenti dengan matanya yang nampak tajam. Suasana begitu sepi dan langit masih dipenuhi semburat memerah. Aku melangkah ke dalam bayang-bayang bangunan di dekatku.

“Apa kau tahu kita dimana?”

Ed mengangguk, “Kau memilih berhenti di tempat yang tepat. Ini tidak jauh dari jalan kecil yang bisa kita lalui. Lewat sini, Sherena.”

Aku mengikutinya, berjalan diantara bayangan bangunan di kota yang separuhnya masih tertidur dalam diam. Jalan yang kami lalui begitu sempit. Hanya cukup dilalui satu tubuh dan baunya sungguh menyakiti indra penciumanku. Tapi aku tidak protes karena aku tahu aku tidak punya pilihan. Ed memimpin dalam hening yang sama. Sedikit saja kami mendengar suara, kami akan berhenti dan mengamati situasi.

Aku mulai mendengar suara keramaian tak lama kemudian. Kota sudah bangun. Matahari terus bergerak dan aku bisa melihat langit yang membiru ada di atas kami. Aku merasakan ada ketidaknyaman yang jelas merambat di kulitku meski sinar matahari sama sekali tidak menyentuhku. Ed menoleh, mungkin mendengar langkahku yang terseret-seret, “Ada apa? Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk, “Hanya tidak nyaman dengan jubah ini. Terlalu tipis. Aku bisa merasakan sengatan aneh di kulitku meski matahari tidak bisa menyentuhku.”

Dia melepaskan jubahnya, dan memberikannya padaku, “Pakai punyaku dan berikan punyamu. Lakukan dengan cepat. Beberapa langkah lagi dan kita akan sampai ke pasar kota. Kita bisa berbaur dengan penduduk di sana tanpa perlu dicurigai.”

Tanpa menunggu lama aku melepaskan jubahku dan meraih jubah Ed. Dia memakai jubah yang kuulurkan sama cepat denganku. Setelah semuanya terpakai dengan benar, Ed memandangku dan aku mengangguk di balik tudung jubah kami. Beberapa menit kemudian, dua sosok bertudung keluar dari celah sempit dua bangunan tinggi dan ikut bergabung dari keriuhan pasar kota yang menyambut kehidupan setelah mereka terkurung di dalam rumah sepanjang jam malam.

***

Perempuan dengan gaun indah berwarna merah marun itu berjalan anggun memasuki ruangan yang nampak remang-remang ini. Satu-satunya cahaya yang menyinari ruangan ini hanya api kecil dari perapian di sudut ruangan yang mulai padam, sementara jendela-jendela tinggi yang ada di sisi lain sama sekali tak membantu karena berasal dari kaca yang berwarna gelap mengabur.

Langkah perempuan itu terhenti dan dia menatap dua sosok di dekat perapian yang tengah saling memagut. Jika tidak diamati dengan benar, dia akan mengira itu hanya satu orang dan bukannya dua karena mereka menempel begitu lekat. Menyatu dalam desahan yang terdengar jelas.

Mata perempuan itu memicing, nampak kesal.

Mereka bahkan tidak berhenti meskipun tahu aku datang.

“Kau ingin terus menontoni kami, Vic?”

Dia mendengus sinis, “Jika bukan karena aku benar-benar ingin menemuimu. Aku tidak akan masuk ke sini, Reven.”

Reven tersenyum, melepaskan tangannya yang memeluk pinggang perempuan yang duduk  di atas pangkuannya. Perempuan di depannya nampak protes, namun tak mengatakan apapun kecuali turun dari pangkuan Reven dan bergerak duduk merapat di samping Reven.

Victoria bergerak malas dan duduk di satu kursi berlengan tepat di depan Reven, “Tidak bisakan kau tinggalkan Reven sedetik saja, Lucia?”

Terdengar tawa kecil dan sebuah gelengan menyusul, “Aku menunggu cukup lama untuk bisa bersama Reven, Victoria. Dan begitu hal itu terwujud, aku tidak akan menyia-siakan waktuku. Meski cuma sedetik.” suaranya begitu terdengar manja dan satu tangannya menelusup, melingkari tubuh Reven, yang sama sekali tidak bereaksi dan malah memandang Victoria.

“Ada apa?”

“Dia sudah bangun.”

Suaranya datar. Tapi efek yang ditimbulkan cukup terlihat jelas. Lucia melepaskan segala gerakan tangannya di tubuh Reven dan duduk dengan tegak. Wajahnya terlihat marah dan khawatir pada saat bersamaan sementara laki-laki di sampingnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi atau gerak apapun.

“Lalu?” dia bertanya pendek, terdengar tidak peduli.

Victoria menarik sudut bibirnya ke atas, “Hanya memberitahumu. Tapi sepertinya kau tidak peduli. Tidak bisa menyalahkanmu. Aku hanya ingin tahu reaksimu.”

“Apa maksudmu melakukan ini, Victoria Lynch?”

Mata Victoria memicing, terlihat tidak ramah, “Ini bukan urusanmu, Lucia.” desisnya.

Lucia baru akan membuka mulutnya ketika satu tangan Reven terangkat, memintanya diam, “Aku mendengar banyak hal dari mulutmu tentang perempuan ini. Kau mengatakan banyak hal tentang dia, siapa namanya-Ah Sherena. Namun aku tidak mengingat apapun dan aku tidak merasakan apapun seperti yang kau katakan padaku. Dia tidak penting bagiku, Victoria. Tapi jika dia berarti untukmu, kau bisa membawanya ke tempat ini jika kau menginginkannya.”

Wajah Lucia yang sudah pucat menjadi semakin pucat. Dia menoleh cepat ke arah Reven, “Kau tidak bisa membawa vampir asing tinggal di sini.”

Reven memandang Lucia untuk pertama kalinya sejak dia bicara dengan Victoria. Dia nampak tidak senang, “Sejak kapan kau ikut campur memutuskan urusanku, Lucia? Membawanya ke sini atau tidak, sepenuhnya berada dalam keputusanku. Kau tidak berhak mengatakan apapun.” suaranya tegas, dalam dan dingin.

Lucia jelas ingin membantah, namun melihat bagaimana sorot mata Reven dia menahannya. Egonya terluka, dan dia berdiri dengan angkuh. Meninggalkan ruangan ini tanpa mengucapkan apapun lagi kecuali pandangan penuh kemarahan. Victoria tersenyum tipis, terlihat senang dengan apa yang terjadi di depannya.

“Kau harusnya memberi perempuan jalang itu batasan, Reven.”

Reven menyandarkan punggungnya dan tersenyum, “Berhentilah terus mengganggunya, Vic.”

“Aku tidak pernah menyukainya.”

“Kau tidak pernah menyukai perempuan manapun yang berada di sekitarku. Jika bukan karena aku sangat mengenalmu dengan baik. Aku bisa berpikir bahwa kau menginginkanku untuk dirimu sendiri.”

Tawa Victoria terdengar terbahak. Dia menggeleng geli dan bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Reven dan membungkukkan tubuhnya di depan Reven sehingga wajahnya berada tepat di depan wajah Reven, “Jika bukan karena aku sudah berjanji pada Noura, aku juga akan berpikir seperti itu, Reven.” bisiknya lembut setelah mengecup pipi Reven lama.

Dia tersenyum penuh makna, menyadari tatapan datar Reven, “Kau akan mengerti jika saatnya tiba. Percayalah.” dia berjalan menuju pintu keluar dan berhenti sebelum membuka pintu tersebut, “Ah, aku akan pergi bersama James dan Damis. Jangan mencari kami. Namun ketika kami kembali, persiapkan dirimu, putraku. Kau tidak akan membutuhkan Lucia lagi untuk membasahi bibirmu.” dan begitu saja, dia kemudian keluar dan meninggalkan ruangan ini dalam senyap.

Reven masih duduk di tempatnya, tak bergerak sedikitpun. Bukan ucapan Victoria yang membuatnya terdiam seolah beku. Namun nama itu. Noura. Dia tidak tahu kenapa, meski dia tidak mengingat apapun tentang nama itu. Dia merasa nama itu begitu berarti baginya. Ada kerinduan yang dalam di setiap huruf nama itu ketika dia mengucapkannya pelan, tanpa suara.

“..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Suara itu menggema di kepalanya. Dia memejamkan matanya berusaha menyelami semua kerinduan yang ada di dalam hatinya kepada suara lembut dan sendu itu. Suara yang seolah dinantikannya sepanjang waktu. Dia tidak tahu siapa pemilik suara itu, tidak juga mengerti kenapa dia bisa begitu menyukai suara asing dalam kepalanya itu. Mungkin ini adalah suara perempuan itu, Noura. Nama yang begitu sering disebut oleh Victoria setelah Sherena Audreista.

Reven menggeleng. Mendesah lagi dan membuang pandangannya ke arah api di perapian yang mulai benar-benar paham. Dia tidak mengenal mereka, Noura dan Sherena. Namun entah kenapa Victoria selalu berusaha membuat nama itu ada di kepalanya. Victoria tidak pernah menyerah. Sejak pertama kali ketika mereka berada di dalam gua asing yang penuh dengan aroma sihir kuno miliknya dan milik Victoria. Ketika dia dengan kepala seperti pecah, dan tubuh yang gemetar, melihat wajah Victoria yang menatap ke arah peti batu di depannya, takzim.

“Selamat tidur, Sherena.”

Dia bisa mendengar Victoria mengatakan itu. Namun tak ada penjelasan apapun di kepalanya. Dia berdiri, mendekat ke arah Victoria dan melihat tulang belulang manusia yang terbentuk sempurna, terbalut gaun compang camping yang begitu kotor.

“Apa yang kita lakukan di sini?” dia bertanya pelan pada Victoria yang sepenuhnya mengabaikannya. Dia megikuti arah pandang Victoria, tapi tak mengerti. Tidak ada yang terlihat istimewa dari sampah belulang di depannya.

“Apa kau berubah menjadi manusia serigala yang tertarik pada tulang-tulang layaknya anjing kelaparan, Vic?”

Untuk pertama kalinya Victoria bereaksi. Dia tertawa sinis, menggeser batu penutup peti hingga peti itu sepenuhnya tertutup. Lalu dia menyentuh lengan Reven dan membimbingnya menjauh dari peti batu itu, “Kau adalah orang pertama yang akan membunuh siapapun yang menyentuh tulang-tulang itu, Reven. Kau hanya tidak tahu betapa kau memuja pemilik tulang-tulang itu bukan?”

“Apa maksudmu?”

Tapi dia hanya melihat tatapan misterius Victoria, dan tak lama kemudian suaranya yang bermelodi kembali terdengar, “Bukankah kita masih punya pertarungan dengan para manusia dan sekutunya, Reven? Kita harus bergegas dan menyiapkan segalanya.”

***

TAAARAAAA!!!!! Revennya muncul dan.. ahahahha. Aku ngga sanggup bayangin bagaimana dia melewati sepanjang waktu tanpa Sherena dan hanya ditemani Lucia. Well, well… laki-laki. Sebelum ada yang bertanya, aku akan menjelaskan beberapa bagian di sini. Pertama kenapa Reven CUMA melupakan Noura dan Sherena tapi tidak yang lainnya sementara Rena bahkan tak ingat apapun ketika awal dia terbangun? Jawabannya karena kekuatannya. Karena Reven vampir kuno.

Dan kenapa dia bahkan juga tak ingat tentang Noura, nah ini agak panjang. Pada awalnya, yang membawa Rena menjadi belahan jiwa Reven adalah separuh jiwa Noura yang ada padanya. Tanpa Noura, Rena tidak akan pernah masuk dalam kehidupan Reven. Jadi karena Noura mengambil peran penting dalam hubungan mereka, maka dia ikut terlupakan. Sama halnya dengan Rena yang sama sekali tidak ingat apapun dengan kelompok utama (Damis, Vlad, Rosse dkk), karena mereka erat kaitannya dengan Reven. 😀

<<Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

24 Comments

  1. Haaa,,,,
    akhirnya update juga.
    Ichh,,,benci deh lucia kiss kiss reven…
    Mudah2an victoria menemukan sherena trus ketemu sama reven,,,hm hm hm..
    Ditunggu next chap yaaa,,,hehehe

  2. taraa juga! alhmdllh, akhrny update lagi., please thor ksh bonus update lbh cpt, paling nggak smpe reven lyt sherena di dpn mata lgsg, truz renany cuek n galak krn inget reven dlu ngapain dy, tp revenny yg terpesona abis sma rena yg baru, aku suka crta2 yg lain d blog ini, tp RU yg plg aku suka, kl ga, mgkn bsa diterbitin bukuny biar keponya terpenuhi

  3. Alhamdulillah, lagi lancar banget idenya jaertinya next chapter akhir pekan ini deh. Doakan saja yah, paling lambat hari Senin atau Selasa.

    Reven ketemu Sherena? Wah bakal panjangggg banget dong entar next chapternya? Ah kita lihat aja entar berapa panjang dan sampao mana.

    Ihiiiyyy makasii makasii loh. Niatnya sih HV mau aku terbitin secara self publishing, entar beli yah. *eh promosi 😛 😛

  4. cihuuuui ada babang reven…. ditunggu next chapnya thor ..semangat terus nulisnya ya biar cepat update 🙂

  5. kyaaaaa,,,, duhhh reven ga banget sii kissingngan ama lucia,,, hiksss kau menghianati serena,,, T.T,,, victoriaaaaa aku mendukungmu,,,wkwkwkw bawa serena kembali pada reven,,,,next chapnya ga sabar niii,,,, semnagat terus ka mora buat nulisnya

  6. Aiissssh
    huussh…hussh… pergi sna si jalang lucia…
    jangan ganggu" reven..
    reven itu xuma milik rena…
    dasar…
    kiraen dhh tobat… ternyata masih z suka cri ksmpatan dlm kesempitan…
    tggu z mpe rena dtg….
    aiiissh gak sbar nggu mereka ktmu….

  7. Bisa dikatakan berkhianat ngga yah ketika Reven bahkan ngga inget sama sekali sama Rena, anyway aku juga setuju.. Lucia mah cari-cari kesempatan, merepet terus ke abang Reven 🙁

  8. Duh, jangan jahat-jahat sama Lucia, ntar dimarahi abang Russel eh tapi.. Russelnya uda ngga ada 🙁 🙁

    Lucia mah cuma berhenti sejenak pas ada Rena karena paham benar dia ngga ada kesempatan lagi. Tapi gitu Rena out, dia masuk dengan senang banget ke kehidupan Reven.. 🙁

  9. Apa banget sih Lucia….ichhhhh
    Kirain udah melepaskan dengan ikhlas ternyata kelakuannya emang dasar ckckck

    Ayo kak cepat pertemukan Reven dengan Rena…
    Tak sabar menantikannya ..hehhehe 😉

  10. Finally update juga si rena
    Bikin mood booster di wekkend ini jadi tambah happy
    Walaupun sempet bete ngeliat si lucia cium2 abang revan -_-
    Yg boleh cium cuma rena sama aku *salahfocus hahaha
    Btw good luck thor semoga tambah cepet update ya hehe

  11. haloo, halooo ini saya tnggu2 banget, ya Ampun takdir kayak apa yang bakal mereka hadapi, demi apapun itu reven ama rena kasian amat, otaknya pada kececeran semuanya,,,, good, keren thor,,, ditunggu kelanjutannya yaaa,,,

  12. Hihi gemes banget lihat gimana Ed sama Rena adu argumen mulu.Hadeuh pengen banget tu jauhin Lucia dari Reven,apa-apaan itu.Tapi Victoria kelihatannya bakal turun tangan deh,gak sabar nunggu next part,

  13. marathon bacanya karena baru tau ada sekuel HV hari ini, sakit hati sih tapi mana bisa benci reven kalau alasannya begitu. dan juga ga bisa benci Vic karena dia tulus, cuma sebel setengah amit sama lucia he he. oya Ed sama Rena bakalan terlibat "cilok" kah? kaya pas dia sama Morghan dulu?? penasaran bingit sama next part.

  14. baca sinopsis yg di wattpad kyknya nnt klo Sherena dah inget semua dia bakal benci sm Reven dan lebih milih sm Ed. tp terserah authornya aja dech yg buat. ditunggu next part.

Leave a Reply

Your email address will not be published.