Sebuah Kisah Lain Tentang Deverend Corbis

Halo semua pembaca blog-ku..

Aku membawa kabar gembira akhir pekan ini untuk kalian semua. Aku sedang menulis kisah tentang Dev untuk mengobati rasa sedih kalian semua yang kehilangan dia. Well, aku tidak tahu kalian akan suka cerita ini atau tidak, apa kalian kalian akan tertarik membacanya atau tidak? Jadi, berikan komentar kalian di postingan ini dan aku akan sangat senang melihat bagaimana pendapat kalian jika aku mempostingnya disini juga, makin banyak komentar, aku akan makin bersemangat untuk proyek “Another Story” ini.

Jadi.. aku tunggu pendapat, komentar atau apapun itu di postingan ini ya.

Terima kasih untuk tetap membaca cerita-ceritaku, sudah sering kukatakan bukan, kalian adalah semangat dan jiwaku untuk bisa terus menulis dan mengembangkan kemampuanku. I love you all…

Astaga, aku juga lupa.. aku berikan prolog ceritaku itu disini ya.

Selamat membaca dan… jangan lupa berikan komentar. 😀

amouraXexa

***
ANOTHER STORY – PROLOG

Suatu ketika, disaat cinta menyentuhmu sampai ke bagian tergelap hatimu dan menyelubungimu dengan kehangatan, kau akan tahu bahwa kau, detik itu juga telah memutuskan untuk melindungi cinta. Menjaganya dan membuatnya tetap seperti itu.

***

“DEV!!!”

Suara melengking Lyra menerobos masuk ke telingaku sampai membuat gendang telingaku terasa mau meledak. Aku melompat kesal dan memaki keras-keras, membuka pintu ruang pribadiku dan mendapati Lyra dengan wajah menyebalkan setengah mati, berdiri di depanku.

“Apa?” bentakku tak kalah keras.

Bukannya menjawab, dia malah menerobos masuk ruang pribadiku, berputar, berkacak pinggang sok berkuasa dan memelototiku.

Aku memutar tubuhku dengan malas, “Apa?” ulangku.

“Kau bilang apa pada Damis tentang aku dan Ronan?” dia mendesis dengan marah dan aku malah tertawa melihatnya. Jadi dia mengangguku dan berteriak-teriak di depanku hanya karena itu.

Kuayunkan langkahku dengan tak acuh dan melempar tubuhku dengan lembut di atas kursi berlengan di dekat jendela. “Apa lagi menurutmu??” aku mengodanya dengan suara tak peduli, “Damis datang ke rumah kita dan bertanya dimana dirimu ketika dia tidak menemukanmu di rumah ini, aku-yah sebagai orang yang baik tentu saja berkata jujur bahwa kau sedang pergi bersama Ronan. Berdua saja sejak dua hari lalu.” Kuangkat kedua tanganku dan melipatnya di depan dada, melanjutkan, “Ah satu lagi, kuberikan pendapat pribadiku tentang apa yang mungkin saja kau lakukan dengan Ronan di luar sana pada Damis. Kau tahu bagaimana reaksinya, Lyra?”

Aku menghindar tepat waktu ketika dia dengan sangat bersemangatnya melemparkan kursi berlengan lain ke arahku. Aku tertawa keras melihat kursi itu dengan tragisnya hanya menghancurkan kursi lain yang sebelumnya kududuki. Mata Lyra berpendar mengerikan dengan bola mata merah yang tentu saja menandakan bahwa kemarahannya sudah mencapai puncak.

“KAU MEMANG SANGAT MENYEBALKAN. DASAR OTAK UDANG. PERGI SAJA SANA KE NERAKA. AKU AKAN MENGANTARMU DENGAN SENANG HATI!!”

Dengan sangat cepat Lyra menerjangku dan kami bertarung di dalam ruang pribadiku-yang beberapa detik kemudian sudah seperti- astaga, aku bahkan tidak sanggup mengatakan bagaimana kondisi ruang pribadiku. Yang jelas, Lyra melempar apapun yang ada dalam jangkauan tangannya ke arahku. Mencoba bergulat seperti orang gila dan .. apakah aku masih perlu mengatakannya bahwa dia bisa sangat brutal saat marah?

Aku menangkap tiga buku langsung yang dia lempar bersamaan ke arahku. Ini bukan buku biasa karena tebalnya saja hanpir tujuh sentimeter. Lyra benar-benar punya kepribadian yang mengerikan. Aku heran bagaimana Damis bisa bertahan selama ratusan tahun bersamanya.

Ah iya, jangan heran jika kalian membaca ini. Aku vampir, Lyra juga dan banyak lagi jenis seperti kami yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Kami memiliki umur yang panjang karena sebuah mitos mengatakan bahwa kami abadi. Vampir hidup dalam kekekalan. Bagiku itu konyol. Kami tidak abadi. Tidak kekal.

Bagaimana bisa dikatakan abadi jika kami bisa mati, bagaimana bisa kekal jika kami hanya hidup dalam kumparan waktu yang tidak penuh. Lalu sebenarnya apa? Aku juga tidak tahu. Bagiku aku vampir. Dan itu sudah cukup. Aku tidak peduli dengan segala penjelasan di belakang kata vampir.

Aku, Deverend Corbis. Hidup dalam dunia ini dan menikmatinya. Meski ada kebosanan karena tidak seperti manusia, aku berhenti di wajah dan tubuh yang sama ketika aku diubah, selama-lamanya sampai mungkin aku membunuh kata abadi. Aku tetap menikmati semua ini. Bagiku, menjadi vampir, entah ini bisa disebut kutukan atau berkat adalah hal yang telah terjadi dan aku tidak akan menyesalinya. Aku tidak dendam pada Michail yang mengubahku menjadi makhluk yang dikatakan para kaum lain, iblis penghisap darah.  Sebab bagiku, menjadi vampir tidak buruk . lagipula kau beryukur Michail mengubahku menjadi seperti dia. Michail sudah seperti adalah penyelamatku. Penyelamat yang mengeluarkanku dari kehidupan manusiaku yang penuh kesengsaraan tak berujung. Aku selalu berterima kasih dan memuja Michail, meskipun aku tidak pernah menunjukkannya langsung di depannya.

Michail Corbis adalah ketua kelompok kecil kami, dengan tujuh orang lainnya termasuk aku dan Lyra. Kusebut ini kelompok kecil karena kami semua dan para vampir lain sebenarnya berada dalam naungan satu kelompok besar yang paling berkuasa dan berada dalam kendali Vlad. Vampir paling tua diantara semua vampir yang ada. Dia jahat, tentu saja. Tapi dia pelindung yang hebat untuk ras kami.

Ras kami, vampir, adalah salah satu dari banyak jenis yang hidup di dunia ini. Manusia mendominasi dengan jumlah mereka yang sangat banyak. Aku heran bagaimana mereka bisa terus menerus menambah populasi mereka sementara mereka adalah yang paling lemah. Lalu ada ras manusia serigala, ini menjijikan. Mereka adalah kumpulan paling menyedihkan dan mereka… bau. Mereka musuh kami. Aku tidak suka pada semua jenis mereka. Jadi aku tidak akan menjelaskan lebih banyak. Lalu ada lagi para penyihir, mereka kuat. Tapi yang paling merepotkan adalah para penyihir murni yang untungnya berjumlah terbatas dan tidak tertarik dengan semua yang terjadi di dunia ini. Sisanya adalah penyihir biasa yang menyebar dan berbaur bersama para manusia, kebanyakan penyihir biasa ini dipekerjakan di istana ras manusia untuk memberikan perlindungan pada wilayah manusia.

Para manusia itu benar-benar bodoh. Bagaimana bisa mereka mempercayakan perlindungan wilayah mereka pada para penyihir biasa yang hanya mementingkan pundi-pundi emas mereka daripada hasil pekerjaan mereka-yang bisa dikatakan menyedihkan. Aku tidak akan heran seandainya ada perang besar yang melibatkan semua ras, manusia yang akan menjadi yang pertama kalah dan berakhir menjadi budak-budak kami.

Namun aku tidak pernah berpikir akan terjadi perang seperti itu kecuali memang ada yang mencari gara-gara dengan kami. Yah, dalam hal ini aku berani bertaruh kalau para serigala busuk itu akan jadi pemicunya jika memang perang suatu saat nanti akan terjadi. Kembali ke berbagai ras yang kusebutkan tadi, masih banyak lagi jenis yang hidup di dunia ini, namun kebanyakan dari mereka tidak tertarik untuk bergabung dalam carut marut urusan dunia seperti kami.

Tidak bisa kukatakan kalau kami, para vampir memang ingin menunjukkan eksistensi kami, kami hanya ingin menikmati hidup kami yang sepertinya dalam wakyu tak terbatas dengan baik. Lagipula jika kami sudah sangat bosan, kami bisa memilih menidurkan tubuh dan benak kami dalam jangka waktu yang sangat lama sampai tiba akhirnya kami harus dibangunkan dan menikmati kembali dunia yang selalu tidak statis ini.

“AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU KALI INI!!!”

Suara jeritan Lyra yang selalu berpotensi meledakkan gendang telingaku membuatku terpaksa berhenti menjelaskan banyak hal kepada kalian semua sebab jika aku tidak fokus menghadapinya. Bisa-bisa dia akan merubuhkan rumah kami ini. Dia kuat, tentu saja. Dan tidak terkendali. Tapi tidak cukup hebat untuk bisa membunuhku.

Aku menangkap kedua tangan Lyra dan melemparkannya dengan keras ke dinding batu ruanganku satu detik sebelum dia berhasil menyobek kulit leherku dengan kuku-kukunya yang tajam. Dia bangkit dengan cepat, menepis darah dari sudut bibirnya. Matanya masih memandangku dengan arti yang sama, dia ingin membunuhku. Dia sudah akan menerjangku lagi ketika pintu ruanganku terbuka.

“Apa yang kal-“ Viona berhenti, menangkap pemandangan mengerikan ruanganku yang porak poranda dan beralih dengan masih terkejut ke arahku dan Lyra, “Kalian bertengkar lagi?” teriaknya tidak percaya.

Bertengkar? Aku ingin tertawa mendengar kata yang digunakan Viona pada kami, jika definisi bertengkar adalah seperti yang kami lakukan tadi-menghancurkan seluruh isi kamarku dan mencoba saling bunuh- maka aku kan sangat bersyukur tidak tahu definisi bertarung bagi Viona. Viona, melangkah masuk ke dalam kamarku, menyingkirkan potongan kayu besar –tadinya itu rak bukuku, yang menghalangi jalannya dan berkacak pinggang menatap kami berdua.

Dia terlihat seperti seorang ibu yang akan memarahi anak-anaknya. Aku makin geli dan ingin tertawa, tapi sebagai bentuk kesopanan dan penghormatanku pada Viona yang merupakan belahan jiwa Michail, aku menahannya.

“Sudah berapa kali dalam sebulan ini kalian terus bertengkar?? Tidak bisakah satu hari saja kalian akur??” jeritnya frustasi.

“Kalau bukan dia yang cari gara-gara, aku tidak akan bertindak seperti ini.” Lyra membela diri.

Viona berganti memandangku. Aku hanya mengangkat bahuku, “Dia yang memulai mencoba menyerangku.”

“KAU YANG MENCARI MASALAH DENGANKU.” Sembur Lyra.

Aku memicingkan mataku, “Aku hanya berkata jujur.”

“Dan berakibat pada kemarahan Damis padaku? Kau seharusnya tidak usah ikut campur dengan segala urusanku, bodoh.”

“Damis bertanya padaku dan aku menjawab. Dimana letak salahnya heh,??” aku tak mau kalah.

“Seharusnya kau diam saja.”

“Aku punya mulut, jadi kenapa aku harus diam?”

“KAU HARUS!”

“Astaga!! Hentikan!!” Viona membentak keras dan kami berdua terdiam, “Aku tidak peduli pada masalah apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Tapi jika kalian bertengkar sampai akan menghancurkan rumahku, aku akan melarang segala bentuk pertengkaran terjadi disini sampai radius satu kilometer dari rumah ini. Mengerti?”

Aku dan Lyra tak menjawab.

“Kuanggap itu artinya kalian mengerti dan Dev, Michail mencarimu. Pergi ke bawah dan temui dia. Berhentilah bertidak konyol dan jangan kekanak-kanakan. Kau sudah berusia lebih dari apa yang seharusnya membawamu menjadi lebih bijak.”

Nah, dimulai lagi. Viona suka bicara dan suka berceramah tentang hampir banyak hal. Aku tidak suka bagian ini. Jadi aku meninggalkan dua perempuan itu dan melesat turun ke ruangan Michail, mengabaikan teriakan-teriakan Lyra yang terdengar lagi memaki-makiku. Sepertinya aku hidup di kelompok yang tidak normal.

Aku menuruni undakan batu dan berbelok ke kanan, menyusuri koridor gelap menuju ruangan Michail. Begitu menemukan pintu kayu itu, aku membukanya dengan sopan. Tidak perlu ketukan pintu karena Michail jelas tahu ini aku, selain karena dia memang yang menyuruhku menemuinya, kami, para vampir punya banyak kelebihan dalam panca indera kami dan pendengaran kami luar biasa.

Michail sedang duduk di dekat perapian yang berpendar redup, aku tidak tahu kenapa banyak vampir menyukai ada perapian dalam ruangan mereka. Namun bagiku pribadi, perapian dan apinya yang berpendar memberi kami kehangatan lain, bukan kehangatan api namun sesuatu lain yang ada dalam dadaku. Lagipula api tidak terlalu membantu, kami berdarah dingin. Kami tidak bisa hidup di bawah sinar matahari secara langsung, jika matahari menyinari langsung ke tubuh kami, kami akan merasa terbakar dan akan mati tak lama kemudian. Ini juga salah satu alasan kenapa kukatakan sangat konyol menganggap vampir adalah makhluk keabadian.

Kehangatan api dan pendaran cahaya api yang terperangkap dalam perapian mungkin bisa mendiskripsikan keinginanku berlarian di bawah sinar matahari seperti yang dulu sering kulakukan ketika aku masih manusia. Namun jangan tanya detailnya, aku bahkan mulai lupa bagaimana kehidupan manusiaku dulu setelah beratus-ratus tahun aku hidup sebagai vampir. Aku hampir melupakan semuanya kecuali bagian-bagian lain yang bagiku penting, itupun tidak nampak sebagai ingatan jelas. Hanya seperti potongan-potongan buram yang kerap membuatku sakit kepala.

“Duduklah Dev.” suara Michail menyadarkanku kembali dan aku mengangguk. Melangkah pelan dan duduk kursi lain di depan Michail.

“Ada apa? Kenapa kau memanggilku datang kesini?”

Michail menghela nafas, “Sepertinya kita akan melakukan banyak hal setelah ini. Kita mendapat tugas.”

“Tugas?” keningku berkerut.

Michail mengangguk.

“Kita sudah lama tidak menerima tugas. Lalu kenapa sekarang..” aku berhenti, menatap lurus-lurus pada Michail, “Apa terjadi sesuatu dalam kelompok?”

“Tidak. Secara pasti aku tidak tahu. Aku juga menanyakan hal yang sama seperti yang terpikir olehmu pada Reven. Namun dia tidak mengatakan apapun dan meminta kita datang ke kastil.”

Keningku berkerut semakin dalam. Aku tahu Reven datang ke kediaman kami kemarin malam dan langsung pergi lagi setelah berbincang sebentar dengan Michail. Hanya saja aku tidak menyangka itu petanda bahwa kami harus melakukan tugas. Lagipula aku memang tidak terlalu peduli ketika Reven datang karena aku tidak menyukainya, dia anggota utama kelompok besar, berada langsung di bawah kepemimpinan Vlad. Sayangnya dia sangat menyebalkan dengan sikap angkuhnya. Dia jelas berbeda dengan Damis yang juga merupakan anggota utama kelompok besar. Damis bisa jauh lebih ramah dan baik. Bisa dikatakan Damis dan Reven sebelumnya adalah calon pengganti kepimpinan Vlad jika dia memilih melakukan tidur panjang. Namun sekarang, Damis tidak lagi menjadi calon pengganti dan penerus Vlad karena, Noura, yang merupakan calon ratu kami sudah memilih Reven sebagai pasangannya yang berarti menasbihkan Reven sebagai satu-satunya yang akan menggantikan Vlad.

Sistem ini dan tentang calon ratu adalah hal yang sangat pelik dan aku tidak akan menceritakannya sekarang. Lagipula kepalaku masih penuh dengan spekulasi tentang tugas yang mungkin diberikan kepada kami. Aku masih menebak-nebak apa itu ketika Michail kembali bicara.

“Reven juga mengatakan jika tugas ini bisa saja berlangsung sangat lama, khususnya untukmu Dev.”

“Aku?” kerutan di dahiku makin dalam.

Michail lagi-lagi mengangguk, “Aku sudah mencoba memintanya untuk menjelaskan lebih detail tugas apa itu, tapi dia hanya mengatakan akan menjelaskan segalanya ketika kita  sudah di kastil.”

“Dan kapan tepatnya dia meminta kita datang ke kastil?”

“Petang nanti.”

“Secepat itu?”

“Aku juga khawatir sama sepertimu, Dev.”

Aku menatap Michail, dia mengerti apa yang ada dalam pikiranku dengan hanya mengamati ekspresiku. Kami terbiasa berdiskusi seperti ini. Dan ketika situasi yang tidak mengenakkan seperti ini datang, kami akan membicarakan banyak hal untuk segala kemungkinan yang terjadi. Lagipula ini tentang tugas? Tugas dari kelompok besar selalu berarti sedang terjadi sesuatu yang buruk yang mengancam ras kami atau kami sedang menyiapkan sesuatu yang tidak terduga.

Aku tidak menyukai ini. Aku suka ketenangan selama dua ratus tahun terakhir ini yang tanpa tugas. Bebas melakukan apapun yang aku inginkan tanpa berada dalam kekangan. Namun jika tugas sudah dititahkan seperti ini, semua kelompok kecil tidak punya pilihan lain selain mengikuti atau Vlad akan menyingkirkan kami semua.

Sudah kukatakan Vlad itu kejam. Dan dia tidak segan-segan untuk membunuh kelompoknya sendiri ketika dia merasa kami membangkang dari perintahnya. Dia mengerikan. Untungnya dia tidak suka berbaur langsung dengan kami dan hanya menggunakan anggota utama kelompok besar untuk melakukan keinginannya. Sejauh inipun aku hanya dua kali bertemu dnegan Vlad, pertama ketika Michail memperkenalkanku kepada Vlad sebagai anggota ras yang baru. Kau harus tahu bahwa meskipun semua vampir mempunyai kemampuan untuk mengubah manusia menjadi bagian dari kami, kami harus mendapat persetujuan dari Vlad atau setidaknya mengatakan kepadanya bahwa ada anggota baru dalam kelompok.

Vlad tidak terlalu suka kami dengan mudahnya menambah anggota baru. Baginya itu membuang-buang waktu. Aku sedikit setuju di bagian ini, kebanyakan vampir baru sangat susah dikontrol dan akan bodoh. Itu bisa sangat menurunkan derajat kami.

Pertemuan keduaku dengan Vlad adalah ketika ada pesta penyambutan calon ratu bagi ras kami. Itu pun bisa dikatakan bukan pertemuan langsung. Aku hanya melihatnya berbincang dengan semua vampir penting. Aku menggunakan istilah ini karena itu memang vampir-vampir tua yang bahkan sudah berusia ribuan tahun, setidaknya paling tua berusia lima ribu tahun. Aku sering menebak, berpa usia Vlad jika vampir bawahannya saja berusia lima ribu tahu. Entah, yang jelas aku tidak tertarik berurusan dengan Vlad.

Lalu kali ini tugas yang memaksa kami datang ke kastil?

Aku tidak suka ini. Aku punya firasat buruk bahwa ini akan merepotkan.

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

28 Comments

  1. hore…
    Jingkrak jingkrak gaje….
    Devq datang kembali
    *peluk author …kamsiah kamsiah:)

    Pertama buka saia kira lanjutan Hv
    Tau taunya ada mass dev ….
    Yiiipiieee…
    Ini seperti povnya dev bukan..author??
    Ceritanya masih sama kan y???
    Bakal seru
    Tugas dev menyusup , bertemu rena, falling in love with ren…
    Huaaahhhh g sabar nunggunya
    Semangat author….

    Denantikan kelanjutan rena dan mas revennya

  2. *peluk Rika balik*

    Yup ini pov-nya Dev.
    Masih sama dong. Cuma di Another story kita mundur jauh sekali.. Dev belum bertemu Rena di prolog ini.
    Hihihi tebakannya bener, penyusupan, pertemuan dan jatuh cinta

    Kelanjutan Rena dan Reven?? Tunggu minggu depan ya.

  3. Gpp, Anna. Yang pertama, kedua, ketiga, keempat, terakhir.. itu tidak jadi masalah. Bagiku, kalian menyukai ini, itu sudah sangat membahagiakan. :))

  4. huaaa,,, akhirnya dihadirkan POV karakter DEv… hihihi

    "kiss,, kiss,, hug,, hug…*

    seru nih kayanya,,,kayanya mesti siapin tissue deh,bakal ada cerita sedih kayanya,,,
    ditunggu HV nya lagi yah thor… ahh… semangat 45 dehh

  5. "seperti" hidup kembali ya. Namun tentu saja tidak, cerita ini mundur jauh sekali dari Half Vampire. Hehehehe. mari menikmati kisah Deverend Corbis 😀

  6. Iya romance = PR besar buat aku yang engga terlalu bisa nulis romance. Huft huft. Yup tidak akan lama. dalam minggu ini Hv juga akan ada chapter baru 😀

  7. *peluk Bria balik*
    Iya, tidak akan lama kok. Minggu ini pasti sudah ada new chapter baik dari HV maupun Xexa. Another Story-nya antri dulu ya. 🙂

  8. *peluk balik*
    Jangan lupa cantumkan inisial atau nickname kalo komen pake akun anonim yaa 😀
    Makasii uda baca postingan ini. dan untuk HV tak akan lama pastinya, minggu ini sudah jelas akan ada chapter barunya

  9. *peluukkkkk Yohana balik*

    Sangat seru.. dan banyak cinta-cintaannya. Hahahha, dan kisah sedih, mungkin di akhir saja.
    HV pasti akan ada chapter barunya minggu ini. Semangatttt!!!!!!!!

  10. Seperti itukah kelihatannya. Menyenangkan ya melihat dunia dari sisi Dev. AKu sangat menikmati saat-saat menulis cerita ini. benar-benar membuatku bisa bernafas lega.

  11. Asyikkk,, ceritax flashback, jadi seperti tdk kehilangan dev_ku.. Hehehe… Miss yu dev
    (Artharia)

  12. Ehem.. berasa Devnya hidup lagi…
    Setidaknya di sini bisa nikmatin kehadiran Dev yg tiba2 mesti udahan di HV, ohhh… masih larut sama kepergiannya Dev!

    Aku mendukungmu Kakak, mari di tunggu come backnya Dev di cerita ini..

    Semangat…
    Keep Writing!

  13. Terima kasiiihhh Zizie.
    Iyaa, kadang kalau teringat Dev sudah ngga ada jadi sedih banget, tapi cerita ini memang dibuat untuk mengobati kerinduan kita akan Dev. :')

  14. Iyaa, mari kembali menghidupkan Dev. Cerita ini ada untuk mengobati kerinduan kita pada sosok Dev.

    Makasii makasii, kita peluk Dev. 🙂 🙂

    Semangaaatttt!!! 😀

  15. Seneng banget ada cerita ini jadi membayar kerinduan sama dev, masih gak terima nih dev mati huhuhu sampe gak bisa tidur mikirin malangnya nasib dev yg baik banget tapi mati nya gitu huhu jadi makin kangen dev kalo baca cerita ini

    -dey

Leave a Reply

Your email address will not be published.