Tentang Kesetiaan dan Pilihan


Malam kemarin, saya menemukan teman berbicara yang menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikir akan saya ceritakan pada orang lain. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya merasa nyaman untuk menceritakan banyak hal yang pada orang lain tak pernah saya kisahkan. Dari sekian banyak hal yang kami bicarakan, topik menjadi setia menjadi hal yang menarik perhatian saya. Ada nyeri yang menyapa setiap kali saya membicarakan hal ini. Dia mendengarkan saya, tidak menyela dan hanya bertanya ketika waktunya tepat. Lalu ketika saya selesai dengan semua cerita saya, dia tidak menyalahkan sosok yang berada dalam cerita saya. Malah dengan lantang dan tegas, dia bilang bahwa itu normal. Bahwa memang seperti itulah prosesnya.

Menjadi setia dan bertahan dengan satu orang selama bertahun-tahun adalah hal yang sulit. Jangankan hanya pacaran, yang sudah menikah pun demikian. Beberapa pasangan menikah, mungkin terlihat bahagia, tapi apa mereka memang benar-benar bahagia? Mereka hanya “officially” bahagia, katanya. Kita tidak pernah tahu tentang apa yang ada di dalam kepala, pun hati mereka. Monogami adalah hal yang lumrah untuk dikhianati.

Ketika dia mengucapkan semua itu. Saya banyak terdiam dan hanya mendengarkan. Bukan karena saya sependapat dengannya, tapi lebih karena saya ingin tahu seperti apa pikiran orang lain tentang hal-hal yang selama ini hanya saya debatkan sendiri di dalam kepala. Dia masih berbicara, mengungkapkan banyak contoh dan penjabaran-penjabaran yang semakin membuat kening saya berkerut dalam.

Laki-laki (seseorang) mungkin hanya bisa bertahan selama empat sampai lima tahun untuk bisa berada dalam sebuah hubungan dengan seseorang. Setelahnya mereka akan bosan, dan mereka akan mencari pasangan lain—secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan dengan meminta berpisah, paparnya dengan wajah serius. Konsep ini yang membuat saya mengernyit. Selingkuh ya? Tanya saya waktu itu dengan suara getir. Bisa jadi, jawabnya.

Lalu di dalam hati, saya merasa ingin menangis. Saya tahu benar, sebosan-bosannya saya pada hubungan apa pun itu yang saya jalani, saya tidak akan pernah melakukan itu. Setidaknya saya yang sekarang, tidak akan pernah melakukan itu. Bagi saya, mendiskusikan hal ini dengan pasangan adalah cara yang lebih baik, daripada mencari solusi masalah dengan berselingkuh. Ketika seseorang sepakat untuk menjalin hubungan dengan orang lainnya, bukankah ketika itu mereka secara tidak langsung menyetujui sebuah komitmen bersama? Jadi ketika entah komitmen itu memudar atau perasaannya yang memudar, seharusnya mereka mengatakannya, dan bukannya bersembunyi dan memperbanyak masalah.

Saya lebih memilih pasangan saya mengatakan kepada saya jika dia bosan pada saya, jika dia merasa hubungan kami tidak terasa sama lagi, atau jika-jika lainnya, daripada menemukan fakta bahwa dia berselingkuh. Tidak apa-apa bagi saya jika pasangan saya berkata dia bosan dan ingin menemukan wanita lain. Sungguh, saya merasa itu jauh lebih baik. Perselingkuhan bukanlah sebuah solusi, itu hanya jalan sempit yang diambil oleh seorang pengecut.

Bagi saya, ketika saya mengambil komitmen untuk berada dalam sebuah hubungan dengan pasangan saya. Maka saya akan memberikan seratus persen kesetiaan saya padanya. Bahkan, jika saya berada dalam fase ketika saya merasa bosan padanya, saya akan mengatakannya padanya. Mungkin kami bisa mencari solusinya, jika tidak, maka kami bisa berpisah baik-baik. Seperti itu saja. Sesederhana itu.

Perselingkuhan. Pengkhianatan. Saya pernah merasakan itu dan rasa sakitnya masih sama seolah itu terjadi kemarin padahal rasanya sudah hampir lebih dari tiga tahun berlalu. Saya tidak pernah tahu secara benar apakah memang benar pasangan saya dulu berselingkuh, tapi setidaknya itu yang saya lihat dan saya percaya sampai sekarang. Dia tidak pernah menjelaskan apa pun dan saya sudah terlalu lelah untuk mencari tahu dan menunggu, sebab semakin saya tahu, semakin banyak saya merasa sakit dan menangis karena dia.

Dan teman saya kemarin membuat saya melihat dari sudut pandang lain tentang hal ini. Sudut pandang yang selama ini sama sekali tidak saya kira ada. Ada denyur tidak setuju, tapi ada juga sebagian isi kepala saya yang membenarkan. Mungkin benar, mungkin pasangan saya dulu tidak merasa cukup dengan hanya memiliki saya setelah kami berada dalam jangka waktu yang cukup lama bersama. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun setelah saya patah hati, saya merasa baik-baik saja.

Terima kasih, Alex.

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

  1. Mengerti apa yang dirasain ka amour. Berarti dia bukan pilihan yang tepat untuk ka amour, lebih beruntung ka amour disadarkannya dari sekarang bukan nanti setelah terikat jauh, kalau sadarnya ketika terikat jauh itu lebih membahayakan dan sakitnyalebih dari sekarang. Dan aku percaya pasti akan ada seseorang yang lebih baik dari sebelumnya untuk ka amour :). Aku percaya itu. Semangaattt ka… ganbatte..:))

Leave a Reply

Your email address will not be published.