Xexa – Anilamarry

Ribi berjalan dengan kaki telanjang di sebuah lembah yang dingin. Dia tidak tahu dia ada dimana namun entah kenapa dia tidak merasa takut. Rumput-rumput terasa mengelitik kakinya ketika dia berjalan. Di kanannya, sebuah jurang kecil memperlihatkan sungai mengalir dengan airnya yang beriak bening. Dia masih saja melangkah meski dia tidak tahu kemana tujuannya. Pohon-pohon menjulang tinggi memagari sisi kirinya dan beberapa anak burung terdengar mencicit dari salah satu puncak pohon.

Ada suara deras air terjun di depan sana dan mendadak Ribi seolah tahu bahwa di situlah tujuannya. Dia melangkah, menghindari beberapa bunga liar, dan terus maju ke depan. Ujung gaunnya yang berwarna merah lembut menyaruk-yaruk tanah dan dia tak peduli. Seolah ada sesuatu lain yang lebih penting baginya.

Lalu ketika air terjun belasan meter tingginya itu menyeruak di depannya setelah dia menyibak sesemakan liar, Ribi bisa merasakan jika dia tengah tersenyum. Entah bagaimana bisa, ada sebuah kebahagiaan yang luar biasa besar ketika dia melihat air terjun itu. Setengah berlari, Ribi menuruni gundukan tanah berumput basah tanpa cemas jatuh sedikitpun.

Mendadak dia berhenti, salah satu kakinya yang berada di belakang masih dalam posisi setengah terangkat. Kebahagiaan itu mebuncah. Di sana, tepat beberapa meter di depan Ribi, satu sosok laki-laki bertelanjang dada membelakanginya, seolah sedang memandangi air terjun yang berada tiga langkah di depannya. Rambut hitam laki-laki itu basah oleh cipratan-cipratan air dari air terjun, dan tak hanya itu, sekarang bahkan Ribi baru menyadari jika seluruh tubuh laki-laki itu sudah basah.

“Luca..” panggil suaranya, yang anehnya tidak terdengar seperti suaranya.

Namun Ribi tidak ambil pusing. Meskipun dia juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu nama laki-laki itu. Sebab suara yang keluar dari bibirnya penuh sukacita. Seolah dia memuja nama itu dan begitu mencintai pemiliknya. Ribi tak bisa mengingkarinya, sebab itulah yang dia rasakan sekarang. Perasaan yang sama persis.

Mendengar namanya dipanggil, punggung itu bergerak pelan dan tubuh itu berbalik, menatapnya. Ribi tersenyum lebar sekali. Matanya berkaca-kaca tanpa alasan. Sebingkai wajah paling tampan dengan rahang tegas dan mata tajam menatapnya. Jika dia memiliki cermin, dia akan tahu jika sepasang mata beriris hitam gelap itu juga memancarkan perasaan yang sama seperti yang ditunjukkan matanya sendiri sekarang.

Ribi tak bisa menahan diri dari rindu yang begitu besar ketika iris hitam itu menatapnya lembut. Dia berlari dan menubruk dada bidang basah laki-laki itu. Menenggelamkan wajahnya di sana dan menangis tanpa isakan. Meluapkan semua rindu dan waktu yang berlalu tanpa bisa saling menyentuh. Seolah waktu selama ini memerangkap mereka dan terus mempermainkan mereka agar menjauh dari satu sama lain.

Dan ketika sepasang sayap berwarna hitam gelap terkembang dari balik punggung laki-laki yang memeluknya. Tidak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya. Ribi merasakannya, sayap itu terkembang perkasa dan dia tak merasa aneh.

Kau kembali, permaisuriku.”

Kepala Ribi mengangguk-angguk penuh semangat. Dia mendongak, dan wajah laki-laki itu buyar. Dia mengerjap kebingungan dan hal selanjutnya yang dia lihat adalah langit-langit yang seolah terbuat dari lilitan dahan pohon. Bahkan beberapa tunas daun mencuat dari dahan yang menyembul keluar dari formasi lilitan.

“Kau bangun.”

Kepala Ribi menoleh dan dia melihat Dave tengah memandanginya dari tempatnya duduk. Dengan terburu dia bangun dari tempat tidurnya. Untuk pertama kalinya dia merasakan bahwa semua rasa sakit yang sebelumnya dirasakannya sudah lenyap seolah memang tidak pernah ada.

“Para elf liar memberimu antropilla.” terang Dave seolah mengerti kebingungan yang dialami oleh Ribi, “Itu minuman obat khas bangsa elf. Sangat mujarab dan mereka biasanya tidak pernah membaginya pada bangsa lain.”

Ribi mengangguk, akhirnya paham. Sebenarnya separuh dari isi kepalanya masih dipenuhi oleh mimpinya. Laki-laki dengan sayap sehitam jelaga. Sayap yang lembut tapi kuat. Ribi bahkan bisa meyakini itu meskipun dalam mimpinya dia tidak menyentuh sayap itu. Dan wajah laki-laki itu, dia mengerutkan bibirnya tidak suka. Ribi lupa bagaimana wajah itu.

“Apa yang kau pikirkan?”

Suara Dave membuat Ribi mendongak. Jika saja dia tidak sibuk mengingat wajah laki-laki itu, dia mungkin akan menyadari bagaimana anehnya ekspresi Dave ketika memandangnya. Selain itu, suara Dave terdengar lelah dan putus asa ketika bicara.

“Tidak apa-apa.”

Dan kemudian semua ingatan lain penyebab dia terbaring di sini menyerangnya. Si harpy yang menyerang mereka—Ribi, Fred dan Ares, Memnus yang melindungi mereka, serangan biru dan api. Dia memandang Dave dengan mata membulat.

“Bagaimana yang lainnya? Dimana yang lainnya? Dave, kau harus menolong Ares, kepalanya berdarah dan Memnus, memnus.. dia. Memnus..” Ribi mengucapkan itu dalam satu tarikan nafas panik dan dia sadar nyaris berteriak di setiap suku kata yang dia ucapkan.

Dave berdiri, menyentuh kedua bahu Ribi dan menepuk-nepuk pelan, “Tenanglah, mereka baik-baik saja. Aku memang belum menemui mereka tapi Landis bilang mereka masih tertidur karena pengaruh antropilla.”

Bahu Ribi merosot lega meski nafasnya masih memburu tidak karuan. Dia menatap Dave yang berdiri di depannya namun terlihat tidak benar-benar fokus melihatnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa Dave terlihat aneh.

“Dan kau sendiri, apakah kau juga baik-baik saja?”

“Ya.”

Sejujurnya Dave ingin mengatakan tidak. Bagaimana dia bisa merasa baik-baik saja jika perempuan yang sedang menatapnya dengan ingin tahu ini adalah kelahiran kembali dari Edna, sang putri api. Dave sudah mencoba mengingat semua kisah tentang Edna yang pernah didengarnya di privat istimewa ataupun dari penuturan Mora. Tapi semua yang diberikan kepalanya sama sekali tidak terdengar cukup. Sejarah lama Tierraz, dia hanya tahu sedikit karena tidak pernah menganggap dia perlu tahu tentang masalah itu. Dan sekarang dia benar-benar ingin memukul wajahnya sendiri karena pemikiran itu.

Dave hanya tahu jika pada masa awal, Tierraz dikuasai dua kelompok besar, para makhluk kegelapan dan makhluk cahaya. Edna sendiri adalah seorang wanita yang dilahirkan dari api pertama Tierraz. Berada dalam kelompok makhluk kegelapan, bersekutu dengan Alzarox dan kaumnya yang terlahir dari tanah terdalam dan tergelap dari perut Tierraz. Sementara di seberang, para makluk cahaya didominasi para elf—peri hutan—yang terlahir dari bintang-bintang sulung langit Tierraz. Para mermaid juga termasuk dalam makhluk cahaya, bersama dengan para dwarf—kurcaci tambang—yang dilahirkan dari cahaya lentera di bawah lorong bawah tanah lama.

Semakin Dave mencoba menemukan kisah spesifik tentang Edna di dalam ingatannya. Dia semakin kesal karena isi kepalanya terasa semakin keruh. Terlalu banyak pikiran bercabang lain dan dia kesulitan menemukan fokus.

Tapi yang jelas tentang Edna adalah dia berbahaya. Pasangan Luca. Wanita yang bisa saja menjadi dalang dari semua kekejaman yang dilakukan Luca di masa lalu. Entahlah, Dave tidak tahu seperti apa yang pasti. Dia hanya menebak-nebak dan itu membuatnya semakin frustasi. Semua perkataan Lord Landis berputar-putar di dalam kepalanya dan dia merasa pusing.

“Kau yakin kau baik-baik saja Dave?”

Ribi melihat wajah Dave yang entah kenapa menjadi pucat. Dave menggeleng, menjauh dari Ribi.

“Kurasa kau juga perlu antropilla.” gumam Ribi sambil meremas-remas bagian tepi tempat tidurnya yang lembut.

Dave tidak menjawab. Dia memejamkan mata, memanggil Memnus. Dia tidak bisa mengatasi ini sendirian. Tapi tidak ada reaksi. Dave mencoba lagi dan pada percobaan keempat, dia bisa merasakan getar jawaban dan bunyi pop pelan membawa seekor kucing dengan bulu-bulu putih yang jarang-jarang, duduk melingkar di atas meja kecil di dekat Ribi, yang melompat terkejut dan berdiri menjauh.

Si kucing putih yang kurus membuka matanya. Iris bulat sayu berwarna kuning cerah tengah menatap garang ke arah Dave. Seolah seluruh tujuan hidupnya adalah mencakar-cakar Dave hingga tak bersisa. Ribi bergidik, kucing memang bukan salah satu jenis hewan peliharaan yang akan dipilihnya jika dulu ibu kepala panti mengizinkannya memiliki hewan peliharaan. Sekarang dia tidak menyesal pada pilihannya itu. Kucing di dekatnya itu lebih mirip seperti kucing jalanan yang hobi memalak kucing-kucing rumahan yang tersesat. Sangat jahat.

Anehnya, Dave tersenyum dan Ribi sangat yakin jika Dave memang tidak baik-baik saja. Siapa yang tahu apa yang terjadi pada Dave ketika dia, Fred dan Ares tengah dikejar-kejar anilamary gila. Anilamarry? Mendadak Ribi menemukan jawabannya dan semua rasa takutnya menghilang. Dia melompat mendekat dan meraup si kucing yang terkejut setengah mati pada tingkahnya.

Ribi tak peduli dan dia memeluk kucing itu dengan kelegaan luar biasa. Si kucing yang mencoba melarikan diri nampak mulai putus asa karena Ribi mendekapnya sangat erat. Dia bahkan tak peduli pada suara tawa Dave. Dia berhenti melakukannya ketika mendadak si kucing lenyap dan seorang pemuda setinggi Dave dengan kulit cokelat gelap mengantikan posisi si kucing. Ribi yang terkejut dengan perubahan mendadak itu terjungkal dan jatuh ke belakang. Namun dia masih tersenyum lebar sekali dan menatap si pemuda dengan mata berkaca-kaca.

“Memnus! Kau hidup!” jeritnya lega.

Memnus bersungut-sungut, “Jangan melakukan hal itu lagi, Gabrietta. Kau pikir ada kucing yang suka dibikin mati sesak nafas karena dihimpit dada perempuan?” dia menggeleng-geleng dan Ribi merona malu, mengumamkan maaf dan beringsut bangun.

“Dan kau,” Memnus berputar cepat sekali ke arah Dave, “Penyihir pemilik paling bodoh di seantero Tierraz. Bisa-bisanya kau memanggilku dengan paksa seperti itu padahal intisari tubuhku baru saja dijahit lagi dan sembuh selama sepersekian detik.”

Dave tersenyum, “Senang juga melihatmu, Memnus.”

Si pemuda berkulit cokelat mendengus keras sekali dan dia melempar pantatnya ke tempat tidur Ribi, duduk dengan wajah sebal. Ketika dia menoleh ke arah Ribi, mendadak keningnya berkerut, “Eh, Gabrietta,” katanya, “Kalau ingatanku sebelum aku sekarat tidak salah, kau menahan sihir Ramuthra itu dengan api bukan? Memangnya kau pegang tongkat sihir apa waktu itu? Aku tidak ingat.”

Wajah Dave memucat dan Ribi yang baru saja menepuk-nepuk bagian belakang kakinya langsung mendongak terkejut. Lalu ingatan tentang api besar yang seolah keluar dari tangannya ketika sihir si harpy akan membunuh mereka, mendatanginya. Dia sendiri bahkan juga tidak yakin apakah dia yang benar-benar mengeluarkan api itu dari tangannya atau bukan. Dia setengah sadar karena takut dan gugup waktu itu.

“Aku tidak tahu.” jawab Ribi, “Sepertinya memang begitu tapi—“ dia mencoba mengingat-ingat lagi dan tidak ada yang benar-benar bisa dia pastikan. Akhirnya Ribi menggeleng dan si anilamarry hanya mengangguk-angguk.

“Memnus, kau harus ikut denganku sekarang. Kita perlu membicarakan sesuatu.”

Memnus dan Ribi memandang ke arah Dave dan wajah si anilamarry masih terang dendam padanya, “Tidak mau.”

Dave sudah akan mengangkat tangan kirinya dan Ribi membentaknya marah, “Apa yang ada di kepalamu, Dave? Kau mau melukainya?”

“Jangan ikut campur dan tunggu kami di sini, Ribi.” ucap Dave tanpa ekspresi, lalu dia menatap tajam pada si pemuda berkulit cokelat, “Sekarang!” perintahnya dan dia berbalik keluar dari ruangan ini.

“Kau lihat dia, menyebalkan bukan? Sial sekali aku bisa punya penyihir pemilik seperti itu.” Memnus berdiri dan Ribi memandangnya kasihan dan tak tega.

Tangan si pemuda menepuk-nepuk kepala Ribi seperti menepuk kepala anjing kesayangannya, “Jangan memandangku seperti itu, Gabrietta. Dave tidak selalu begitu, mungkin sekarang sedang kambuh gila saja.” si anilamarry tertawa menggoda lalu berjalan meninggalkan Ribi yang menahan senyum.

***

Ares bersandar pada kepala tepat tidurnya dengan lelah. Meskipun sudah menengak antropilla, Ares masih bisa merasakan denyut samar di belakang kepalanya. Meskipun rasa sakitnya sudah hilang, dia ingat bagaimana kerasnya dia jatuh dan terbentur batuan tajam tepat di belakang kepalanya. Selain itu jelas dia sudah kehilangan banyak darah dan dia butuh lebih lama diam di atas tempat tidur sebelum bisa berjalan tanpa merasa akan jatuh. Tapi dia tahu jika dia tidak bisa bertahan diam lebih lama lagi.

“Apa yang kau lakukan di sana?” ucapnya ketika dia melirik pada sudut lain dimana Fred tengah sibuk mengutak atik sesuatu yang berhubungan dengan kayu. Belati dengan gagang sepuh perak bergerak penuh perhitungan di tangannya.

Ketika pertama kali Ares bangun, Fred ada di sampingnya, separuh tertidur dengan tangan menopang kepalanya yang doyong ke depan dan ke belakang. Dia mengamati Fred lama sekali sebelum akhirnya Fred terbangun sendiri.

“Membuat anak panah.” jawab Fred tanpa mengangkat kepalanya, dia benar-benar berkonsentrasi penuh pada apa yang tengah dilakukannya. Ares malah merasa seolah Fred sedang mencoba mengalihkan pikirannya dari sesuatu sehingga berusaha sangat keras dengan anak panah itu.

“Kau merasakannya?”

Sekarang Fred menoleh, mengikuti ke arah mana Ares menatap dan dia mengangguk, setelah menemukan dua orang elf penjaga yang berdiri dengan tombak mereka di depan lengkungan pintu ruangan ini. Kali ini mata Ares sudah sepenuhnya pada Fred, dan Fred mendekat. Duduk di atas kursi kayu tepat di samping tempat tidur Ares, menyadari keinginan Ares untuk membicarakan ini dalam suara sepelan mungkin.

“Mereka sedang mengawasi dan menjaga kita agar tidak kabur.”

Sebuah pernyataan dan Fred mengangguk lagi, “Dilakukan dengan sangat samar, sehingga mungkin, jika kita tak benar-benar memperhatikan, tidak ada yang terasa aneh.”

Ares sepakat. Ruangan ini memang tanpa daun pintu, tapi dua penjaga itu menjelaskan semuanya. Bahkan menurut Fred, ketika dia sadar dan ingin mencoba keluar, mereka memang mengizinkannya. Namun seorang elf penjaga berjalan mengikutinya dalam jarak pandang yang aman. Awalnya Fred tak menyadari jika dia diikuti, jika saja dia tidak tanpa sengaja menoleh ke belakang dan menemukan elf yang sama yang dia sapa di depan ruangan Ares.

“Kita tak tahu apa yang sebenarnya direncanakan para elf liar. Tapi kau tentunya tahu bukan Fred, kita tak bisa mempercayai mereka. Sama seperti kaum liar, mereka juga membenci para penyihir.”

“Aku tahu. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara kita keluar dari penjara manis ini.” Fred tersenyum pahit.

“Kau tahu dimana Gabrietta?”

Fred menggeleng, “Tidak menemukan dia dimanapun. Para prajurit penjaga juga tak menjawab pertanyaan apapun. Mereka membisu.”

Ares menghela nafas, bertanya-tanya apa gadis tolol itu selamat atau tidak. Tapi mengingat dia sendiri bahkan nyaris mati hanya karena sebuah batu, dia tidak yakin Gabrietta baik-baik saja. Dia tidak tahu apa nanti yang akan dikatakannya kepada Dave jika dia tahu gadis itu hilang atau yang terburuk—Ares menggeleng.

“Dimana kira-kira Dave sekarang? Apakah Memnus juga baik-baik saja?”

Kali ini wajah Fred semakin keruh, “Ini semua salahnya.”

Ares mendongak cepat sekali. Tidak menyangka kalimat itu akan meluncur dari bibir seorang Fredderick Colfer. Seorang anggota senior Interoir Zerozhia yang awalnya selalu berusaha menjaga setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Jika dia tidak gegabah. Mungkin kita tidak perlu mengalami ini semua.”

“Fred—“

“Kau sepakat denganku Ares. Jangan menyangkal. Dia yang membuat kita entah bagaimana dikejar-kejar anilamarry kuat dan nyaris mati. Kemudian lihat, kita terkurung di wilayah para elf liar yang jelas-jelas benci setengah mati pada kita, para penyihir. Dan Ribi.. kita bahkan tak tahu dia ada dimana.” Fred terdengar seolah mengungkapkan semua kekesalan yang sudah bertumpuk-tumpuk

Mulut Ares terkatup rapat. Dia ingin membantah. Namun semua yang dikatakan Fred adalah fakta. Jika saja Dave memang bisa menguasai keingintahuannya dan bertindak lebih hati-hati. Mereka tidak akan berakhir seperti ini. Seperti ketika Dave melarang mereka menggunakan sihir dan malah dia sendiri yang melanggarnya dengan alasan enteng karena praduga tak jelas. Tapi Ares mencoba bijaksana, meski dia benar-benar berharap bisa melempar kepala keras Dave dengan batu besar agar isi kepalanya bisa konsisten dan berguna baik.

“Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang kita harus berpikir bagaimana cara keluar dari sini.”

“Tanpa tongkat sihir. Apa yang bisa kita lakukan?” Fred terdengar putus asa.

“Apakah ada kemungkinan lain memanggil anilamarry kita tanpa bantuan tongkat sihir?” Ares bergumam. Sebuah retorik. Dia tahu jawabannya. Namun dia menolak menyerah. Dia bergerak pelan dan beringsut turun dari tempat tidur. Fred memperhatikan dalam diam. Membiarkan putri dari Azhena itu melakukan apa yang dia mau. Fred lelah, marah dan kecewa. Bayangan Ribi yang berlari ke depan dia dan Ares ketika si harpy gila melontarkan sihirnya ke arah mereka, benar-benar menganggunya.

Apa yang dipikirkan Ribi? Memangnya dia tameng sihir atau dia terlalu bodoh untuk tahu bahwa sihir itu bisa saja membunuhnya seketika. Menyisakan debu-debu bekas eksistensinya. Fred memalingkan wajahnya dan mencoba menghilangkan perasaan itu dari dirinya. Dia memandangi Ares yang tengah berjalan menuju para elf penjaga.

***

“Perempuan itu adalah putri api, ayah. Kau orang pertama yang tahu siapa dia sebenarnya dan kau membiarkan dia hidup?”

Landis menatap putranya yang bicara begitu lantang padanya. Dan dia seolah menatap dirinya sendiri di usia yang lebih muda. Aelden memiliki rambut peraknya dan mata abu-abu yang sama persis dengannya. Seluruh garis wajah mereka serupa.

“Aku tahu.” Landis menjawab dengan tenang.

“Kau seharusnya membunuh perempuan itu dan bukannya menyuruhku menyembuhkannya, ayah.” ekspresi Aelden mengeras. Dia jelas tidak puas dengan jawaban singkat tanpa informasi apapun dari Landis.

Landis menatap putranya dan dia melangkah menyebrangi jembatan kayu pendek yang melengkung dari sungai kecil yang membelah ruang pribadinya. Jubah putih jingganya menyentuh tanah sepanjang dia berjalan. Dia berhenti, memandang keluar dan tiga air terjun menjadi pemandangan yang memenuhi matanya setelah itu.

Aelden yang tidak sabar, berjalan menyusul Landis dan berhenti tepat di samping Landis yang tengah memejamkan mata dan menikmati gemuruh suara air terjun. Wajah Landis terlihat damai, sangat bertolak belakang dengan wajah gusar di sampingnya.

“Ayah,”

“Dia adalah wanita milik Luca, Aelden.”

Bibir Aelden mengatup rapat. Itulah kenapa aku bertanya padamu alasannya,dia mulai kehilangan kesabaran. Setelah Aelden tanpa sengaja mendengar perbincangan ayahnya dan sang pangeran Zerozhia, dia akhirnya mengerti kenapa dia merasa tidak asing dengan wajah perempuan yang disembuhkannya itu.

Demi Tierraz! Perempuan itu adalah kelahiran kembali dari Edna. Bahkan ketika dia mengucapkan nama itu di kepalanya, dia masih merasakan takut dan tubuhnya terasa panas. Ketakutan yang sama ketika melihat bagaimana dulu Edna murka sebelum Mevonia menghancurkannya seperti debu.

“Itulah sebabnya aku membiarkan dia hidup. Dialah harga yang harus dibayar oleh Dave Michail Miranda untuk anilamarry dan dua teman penyihirnya.”

Mata abu-abu Aelden memandang Landis dengan meneliti. Meskipun sudah ribuan tahun hidup bersama ayahnya. Aelden sama sekali buta dengan semua ekspresi di wajah yang selalu nampak dingin itu.

“Cukup satu kali aku menolak berjuang di samping Alzarox dan malah memihak para penyihir. Dan kau lihat apa yang Mevonia lakukan pada kita. Keturunan dan kerajaannya akan membayar semua ketidakadilan yang dia lakukan. Terutama ketidakadilan yang menimpa Mora, ibumu. Aku tidak akan mebiarkan putri api itu lepas dari genggamanku. Dia akan menjadi pion utama dalam masa ini.”

Aelden mundur selangkah. Suara Landis mebuatnya takut akan apa yang mungkin bisa dilakukan ayahnya. Dan pertama kalinya, sejak kutukan Mevonia menghancurkan bangsa mereka, ayahnya menyebut nama ibunya lagi. Dia berbalik, pergi. Tidak sanggup berdiri lebih lama lagi di dekat ayahnya. Semua ingatan masa lalu menyakiti rohnya.

Ibunya. Derap langkah Aelden yang terburu bahkan tidak bisa mengenyahkan bayangan wajah wanita itu di kepalanya. Wajahnya yang selalu terlihat lembut. Warna rambutnya yang putih. Benar-benar putih dan bukannya keperakan seperti miliknya dan milik Landis. Juga matanya yang berwarna hitam, yang seringkali mengerjap jenaka ketika mendengar Aelden menyumpahi sikap ayahnya yang kelewat keras.

Jika ada satu wanita di dunia ini yang dipujanya melebihi bintang, dia adalah Mora, ibunya. Satu-satunya wanita yang berhasil membengkokkan sikap keras dan angkuh Landis, yang bahkan oleh kaum dan keluarganya sendiri saja dianggap sudah sering kelewat kejam. Hanya di tangan Moralah, Landis sanggup menekan egonya.

Aelden berjalan sangat cepat sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan semua kenangan indah itu. Tidak, tidak, racaunya, mengingat itu semua hanya akan melemahkannya. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali dia melihat ibunya. Mungkin sejak Mevonia mengutuk ibunya. Berapa ribu tahun sudah berlalu sejak saat itu, dia tidak tahu benar. Namun yang jelas, dadanya langsung terasa semakin panas. Amarah membakarnya.

Ayahnya benar. Mevonia dan keturunannya juga kerajaannya harus membayar semua yang sudah mereka rebut darinya. Wajah pangeran Zerozhia itu terbayang menggantikan wajah ibunya. Dia berhenti mendadak dan menggenggam pegangan pedangnya yang terselip di pinggangnya. Meremasnya kuat-kuat untuk mengatasi perasaan bencinya.

Mau Baca Lainnya?

7 Comments

  1. Kompleks bgt yaa ini cerita.. dan banyak kata2 yg penting, yg susah aku ingat.. mungkin bisa di bikin kamus kak hehehe..

  2. Hahahah… kamu mau baca kamus XEXA??

    Aku aja yang nulis ini ngga bisa bikinnya. Hahahha

    Emang komplek bin njelimet. Tapi semoga masih bisa dinikmati ya. 🙂

  3. makin membingungkan makin membuat penasaran…. hehe, jangan2 dave malah titisannya luca…ato kakaknya dave ya yg titisan luca… semangat buat lanjutannya ya thor… (–anadya–)

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.