Xexa – Ares

Dave melangkah cepat melalui patung-patung gargoyle yang berderet memanjang di sepanjang jalan masuk kastil. Dia berhenti di pintu utama kastil, mengumamkan mantra dan pintu itu mengayun terbuka. Dave kembali melangkah masuk, berjalan dengan pasti melewati koridor-koridor yang semula gelap, sebab ketika dia melangkah, patung-patung kecil pemegang obor batu itu meniupkan api dari dalam mulutnya dan api menyala konsisten dari obor-obor batu yang menempel di sepanjang dinding.

“Ares.” Panggilnya begitu dia sampai di aula besar yang dihiasi ornamen-ornamen cantik bernuansa megah. Namun tak ada siapapun di ruangan ini sampai dia melihat seekor cicak menempel di salah satu kelambu berwarna emas yang menutupi jendela tinggi besar yang terpasang mewah.

Berdecak kesal, Dave melangkah mendekat ke cicak itu, “Barielle.” Tegur Dave. Namun tidak ada yang terjadi selama bermenit-menit kemudian. Dengan kesal, Dave mengayunkan telunjuk tangan kirinya dengan malas dan sepercik kilat menyambar tubuh si cicak, bersamaan dengan itu terdengar suara mengaduh yang keras dan muncul sesosok anak perempuan dengan rambut kemerahan, si cicak lenyap dan anak perempuan itu memberengut kesal.

“ADA APA SIH??”

Mengabaikan wajah protes si anak perempuan, Dave bertanya dengan nada memerintah yang memang secara alami dimilikinya, “Dimana Ares?”

“Di ruangannya. Pergi saja kesana, dia sedang mandi. Kau bisa mengintipnya jika kau mau.”

“Apa yang kau bicarakan? Pergi sana! Panggil dia untukku.” Perintah Dave dengan setengah membentak.

“Aku ini bukan Anilamarrymu. Menyebalkan sekali. Mentang-mentang kau ini keturunan Mahha dan bisa bicara dengan Anilamarry yang bukan milikmu. Kau ti- OH baiklah-baiklah. Aku akan memanggilkan Ares untukmu.” Tukasnya ketika melihat gerakan tangan kiri Dave. Si anak perempuan melompat dan berubah menjadi burung pipit yang terbang dengan malas meninggalkan aula ini.

Dave menghela nafas panjang, dia tidak terlalu suka berbicara dengan Anilamarry yang bukan miliknya karena mereka akan sangat menyebalkan. Setengah menyesal karena tidak mengajak Memnus, Dave duduk di salah satu kursi yang berjajar rapi mengitari meja panjang besar di tengah aula.

Jari kanannya bermain-main mengetuk-etuk pinggiran meja, tidak sabar. Dia seharusnya sudah bertemu dengan Ares berjam-jam yang lalu. Namun urusan tak terduga dengan perempuan bernama Gabrietta itu membuatnya terlambat selama ini. Dave tahu, alasan apapun tidak akan diterima Ares yang selalu disiplin waktu. Dan benar saja, setelah bermenit-menit berlalu dengan membosankan, Dave melihat Ares berjalan mendekat ke arahnya, dengan jubah berwarna kecoklatan yang terlihat cocok di tubuhnya, wajahnya datar. Tidak menyiratkan ekspresi apapun dan itu cukup bagi Dave untuk mengetahui bahwa Ares marah padanya.

Dave berusaha tersenyum lebar, bangkit dari kursinya. Namun dia buru-buru duduk lagi ketika Ares terlihat dingin, tidak bereaksi apa-apa dan langsung duduk di kursi di sebrang Dave.

“Ada apa?” tanyanya tanpa basa basi.

“Kita pelu bicara.”

“Kita sedang bicara.”

Dave menghela nafas, bersabar. “Baiklah, maafkan aku.”

Salah satu alis Ares naik ke atas, “Untuk apa?”

“Oh ayolah, Ares. Aku benar-benar tidak pandai menyusun kata-kata.” Kata Dave dengan frustasi. “Aku minta maaf tidak menepati janjiku untuk bertemu denganmu, padahal aku sendiri yang menginginkan pertemuan itu dan memintamu datang ke Zeyzga. Oke, aku minta maaf.”

Ares tertawa, dingin. “Bukan seperti itu cara meminta maaf yang baik, pangeran.” Kedua tangannya terlipat di depan dada, “Jadi jelaskan padaku, kenapa bisa kau melupakan janjimu untuk bertemu denganku?”

“Aku tidak lupa.” Dave setengah berteriak, “Dan jangan memanggilku dengan sebutan pangeran lagi, aku tidak suka. Aku tahu kau marah, tapi.. astaga, Ares. Haruskah kujelaskan semua alasanku mengingkari janji pertemuan kita?”

“Ya, harus.”

Singkat. Padat. Sangat jelas. Dave tahu dia harus menjelaskan dulu alasannya baru Ares akan mau menanggapinya dengan seperti biasa. Ya seperti itulah Ares. Dan percuma bagi Dave jika dia berkeras menyembunyikan tentang banyak hal dari Ares. Perempuan itu akan mendengar semua rahasianya, dan tidak perlu repot-repot bertanya apa rahasia itu benar atau tidak, karena mulut Dave sendirilah yang bercerita. Dave tidak bisa menolak Ares, dia menyayangi perempuan tidak ramah itu.

Selanjutnya, bermenit-menit kemudian, inilah yang terjadi, Dave bercerita tentang Gabrietta, dunia lain, Argulus dan segala hal yang menyebabkan dia tidak menepati janji bertemunya dengan Ares. Kening Ares mengerut berberapa kali, matanya memicing dan dia jelas menunggu Dave selesai bercerita sebelum membuka mulutnya untuk bertanya atau berkomentar. Itu kebiasaannya, dia tidak akan memotong perkataan atau cerita orang lain ketika orang itu berbicara dengannya.

“Jadi seperti itulah.” Dave mengakhiri ceritanya dan Ares mengerucutkan bibirnya.

“Kau ke dunia itu? Lagi??”

Dave menyandarkan punggungnya dengan lelah, dia tahu, setiap dia bercerita tentang kepergiannya ke dunia itu, semua akan protes. Bahkan dalam kasus Argulus, akan sangat marah. “Hanya mencari. Aku tidak kesana untuk berplesir.”

“Kau temukan yang kau cari?”

“Tidak.”

“Dan kau malah membawa kabur anak manusia biasa dari sana?”

“Aku tidak membawa Ribi kabur. Dia memaksa ikut. Dia bilang dia tidak punya teman.”

“Dan kau percaya begitu saja?”

Mata Dave menyipit, “Sudahlah, Ares.” Desahnya. Dia benar-benar lelah dan menghadapi rentetan pertanyaan Ares membuatnya seperti orang bersalah yang sedang diinterogasi.

“Jadi gadis itu tinggal di rumah Argulus sekarang?”

“Ya.” Jawab Dave pelan. Rupanya percuma meminta Ares berhenti bertanya. Dia sangat keras kepala, jauh lebih keras kepala daripada Dave sendiri.

“Argulus menerimanya begitu saja?”

“Aku membayarnya. Lima puluh keping emas setiap bulannya.”

“Kau pasti tidak keberatan kehilangan sebanyak itu setiap bulannya. Zeyzga penuh dengan emas bukan? Kau penimbun keping emas.” Cibir Ares.

Dave memandang Ares, tidak membantah. Dia sudah mengenal Ares sejak kecil dan dia tahu betul tabiat perempuan yang duduk di depannya itu. Dia sangat arogan dan kaku jika menyangkut dengan apa yang menjadi pendapatnya. Sulit ditebak, pemarah dan kadang menyebalkan. Namun bagi Dave, Ares satu-satunya orang yang akan dengan sangat mudah diberinya kepercayaan penuh, bahkan jika itu menyangkut nyawanya.

“Semua orang di Zerozhia berpikir Mahha dan keturunannya bisa menyihir keping emas dari tangan mereka. Benar-benar keping emas asli. Murni. Bukan seperti tipuan murahan yang banyak ditemukan di toko-toko.  Bagiku mereka bodoh, apa mereka tidak belajar tentang mekanisme sihir dasar dan membaca bab tentang apa-apa saja yang tidak mungkin kita buat dari sihir. Makanan, nyawa, banyak lainnya. Dan emas murni salah satunya. Harusnya mereka berpikir lebih cerdas. Zeyzga itu penuh emas dan Mahha atau kau sebagai keturunan Mahha hanya sebagai perantara, memindahkan emas. Dari Zeyzga untuk digunakan. Dan bukannya menciptakan. Konyol.”

Dave tertawa, dia sudah mendengar tentang rumor itu sejak lama. Dia juga tidak dapat memungkiri karena apa yang dikatakan Ares adalah kebenaran. Dia hanya mengambil keping-keping emas yang dimilikinya di Zeyzga dan mengeluarkannya dengan kemampuan sihirnya. Bukannya menciptakannya. Ares benar. Selalu benar dan Dave suka sekali mengamati mimik muka Ares yang ekspresif ketika dia mengomel seperti itu.

“Apa?” bentak Ares yang melihat Dave tertawa.

“Tidak.” Jawab Dave menghentikan tawanya. “Jadi kita bisa membicarakan masalah kita sekarang?” dia menegakkan punggungnya.

Ares tidak berkata apa-apa, hanya mengayunkan tongkat sihirnya dan kubah sihir dari sesuatu yang transparan melindungi mereka. “Agar tidak dicuri dengar. Tempat ini tidak seaman Zeyzga.”

Dave setuju, dan keduanya tenggelam dalam obrolan serius sementara di sudut, seekor cicak sedang menggerung tubuhnya, tidur. Cara tidur yang aneh jika mengingat dia adalah cicak, bukannya anjing atau kucing.

***

Ribi menepuk-nepuk kedua tangannya, membersihkan debu yang mungkin saja masih menempel sambil melihat hasil kerjanya dan merasa puas. Rumah Argulus sudah sangat bersih sekarang. Setelah dua hari penuh Ribi mencicil untuk membersihkan rumah ini dan hasilnya tidak mengecewakan. Lantai kayunya bersih, atap tanpa sarang laba-laba dan tidak ada sesenti debu pun di atas kursi, meja dan perabotan-perabotan lain di rumah Argulus.

“Ini lebih terlihat seperti rumah.” Girang Ribi.

Dengan bersemangat Ribi melangkahkan kakinya keluar, pintu kayu berderit memekikkan, dan dia akan bilang Argulus untuk membetulkannya dengan sihir nanti jika Argulus sudah keluar dari ruang bawah tanah. Sejak Dave meninggalkannya tiga hari lalu, Argulus langsung turun ke ruang bawah tanah, melarang Ribi masuk atau menganggunya dan Ribi mematuhinya. Ribi menghabiskan waktunya dengan bersih-bersih dan tanpa terasa dua hari sudah berlalu.

Ini sudah hari ketiga, rumah sudah bersih dan Argulus yang berjanji akan keluar setelah dua hari tidak juga nampak akan naik ke atas. Jadi hari ini dia hanya menyapu, melap sisa-sisa debu yang mungkin saja masih ada.

Ribi merenggangkan tangannya, menatap ke luar dan pohon-pohon pinus memerangkap penglihatannya. Ribi semakin ceria, dia suka bau hutan ini. Mendadak dahinya berkerut, halaman di depannya masih sangat berantakan. Dia menoleh ke belakang, tidak ada tanda-tanda Argulus akan keluar, dan Ribi hanya akan bosan setengah mati jika diam saja di dalam rumah. Disini tidak ada televisi, tidak ada jaringan internet atau apapun yang mungkin bisa mengusir bosannya. Mendadak sepertinya Ribi tahu dia harus apa.

“Yah, mari bersih-bersih halaman.” Katanya dengan sedikit tidak bersemangat.

Sekali lompat Ribi menuruni tiga undakan kecil di depan rumah dan berjalan mengelilingi rumah, mencari sesuatu yang bisa diggunakannya untuk menyapu halaman rumah Argulus. Setengah mengomel karena tidak berhasil menemukan benda itu, Ribi memilih mengambil barang-barang bekas dan tak terpakai yang teronggok berserakan di halaman. Mengumpulkannya menjadi satu di samping rumah. Dengan susah payah dan sampai terbungkuk-bungkuk, Ribi mengangkat tembikar pecah yang rupanya masih sangat berat.

“Hup.”

Ribi berhasil mengangkat satu dan masih tersisa satu lagi yang lainnya. Menepuk tangannya, Ribi membungkuk, mencoba mengangkatnya. Tidak terangkat. Dia memeriksa di dalam tembikar yang sudah pecah sedikit di tepiannya. Tidak ada apa-apa.

“Kenapa berat sekali?”

Dia mencoba lagi. Sekali ini terangkat namun Ribi jelas kepayahan karena entah bagaimana, tembikar pecah yang satu ini beratnya tidak wajar. Ribi berjalan terhuyung dnegan memeluk tembikar itu. Sempoyongan seperti orang mabuk. Tinggal beberapa langkah lagi dia mencapai samping rumah.

“A a a aa..” dia kehilangan keseimbangannya.

Sedetik sebelum jatuh, mendadak tembikar itu melayang sendiri dan menjatuhkan tubuhnya dengan pelan di dekat tumpukan barang bekas lain di samping rumah. Ribi yang setengah hampir jatuh ternganga. Memandang tembikar yang sebelumnya diangkatnya dnegan susah payah sudah teronggok rapi di samping rumah Argulus.

“Sepertinya aku harus benar-benar mengajarimu sihir, nak.”

Ribi menoleh cepat ke arah depan rumah ketika mendengar suara yang serak dan dalam itu. Argulus, dengan jubah yang sama seperti yang terakhir kalinya dia lihat berdiri di depan rumah dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambutnya dan janggutnya awut-awutan parah, beberapa bagian di wajahnya menghitam seperti terkena jelaga.

Dengan tergesa Ribi berjalan mendekat dan dia langsung mencium aroma aneh yang menguar kuat dari tubuh Argulus. Dia langsung mengernyitkan hidungnya, dan Argulus malah terkekeh. Dia menepuk-nepuk kepala Ribi dengan lembut dan mengisyaratkannya untuk masuk. Ribi berjalan di depan Argulus yang berjalan menyeret sebelah kakinya di belakang Ribi.

Mereka berdua duduk di kursi yang sama, tempat Dave dan Argulus memperdebatkan tentang boleh atau tidaknya Ribi tinggal disini beberapa hari yang lalu, saling berhadapan. dan ketika Ribi dengan serius mengamati wajah Argulus, dia melihat lingkaran hitam di sekitar mata Argulus yang kecil dan berair. Pupil matanya juga berwarna sedikit kemerahan. Sepertinya Argulus tidak tidur selama dua hari ini.

“Wah, wah. Kau benar-benar melakukannya, eh?”

“Heh?” Ribi tidak paham.

Kepala Argulus menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati rumahnya, “Kau membersihkan rumahku. Iya bukan?”

Ribi mengangguk, “Saya hanya ingin membantu anda membersihkan rumah ini. Karena sepertinya anda sibuk sekali, guru.” Kata Ribi hati-hati.

Kening Argulus terlihat berkerut, wajahnya masam dan dia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak.” Katanya dengan nada tidak suka yang membuat Ribi sedikit gugup. Apa dia salah bicara, pikirnya dengan gusar ketika Argulus masih nampak tidak ramah. “Tidak.” Katanya lagi. “Tidak boleh. Anda. Guru. Tidak-tidak. Terdengar aneh di kupingku. Kau, Ribi bukan namamu?”

Ribi langsung mengangguk dengan cepat.

“Panggil saja aku Argulus, mengerti?”

“Tap-tapi, an-“

“Argulus.” Potong Argulus tegas. Tak terbantah. “Argulus, dan bukannya anda atau guru. Kupingku jadi gatal mendengarnya. Nah, bagaimana, nak?”

“Y-ya, Ar-argulus.”

Argulus terkekeh lagi dan Ribi pelan-pelan mengulaskan seutas senyum. Argulus tertawa makin lebar. “Kau manis sekali, nak.” Katanya di sela-sela tawanya dan dia bangkit dari duduknya setelah tawanya berhenti. “Aku akan mandi dan setelah itu kita akan ke kota untuk membeli tongkat sihir, buku dan beberapa potong baju untukmu, jadi bersiaplah. Aku tidak suka menunggu. Setuju?”

Mulut Ribi terbuka, dia langsung melompat bangkit dari duduknya. “Se-setuju.”

“Dan berhenti bicara gagap seperti itu, Ribi. Bersikaplah biasa.” Argulus tersenyum lebar, menepuk kepala Ribi pelan sebelum melangkah ke dalam.

Kedua bola mata Ribi bersinar-sinar senang. Nyaris berlari masuk ke kamarnya. Bersiap-siap. Dia mendengar dengar jelas apa yang tadi dikatakan Argulus padanya. Aku akan mandi dan setelah itu kita akan ke kota untuk membeli tongkat sihir, buku dan beberapa potong baju untukmu. Tongkat sihir? Buku? Apa itu artinya dia akan segera diajari tentang sihir?

Ribi tersenyum senang sekali. Dia tidak sabar. Dia sering menonton film-film tentang hal-hal seperti itu dan menganggapnya hanya fantasi. Namun sekarang, tongkar sihir.. dia akan memakai tongkat sihir. Mengayun-ayunkannya dengan riang dan melontarkan mantra-mantra. Bunga jadi kodok. Kodok jadi tupai. Ribi tertawa lebar. Dia suka sihir.

***

Dia tidak suka sihir.

Argulus membentaknya beberapa kali ketika dia salah mengayunkan tongkat sihirnya dan salah merapal mantra. Membuat kursi kayu terbakar dan mengubah hidungnya sendiri jadi merah seperti jambu air. Argulus mengomel sepanjang hari dan membuat telinganya sakit.

Dan acara belanja yang dipikirnya akan menyenangkan ternyata berubah menjadi menyebalkan. Ada penjagaan di pinggir kota. Argulus melarang Ribi ikut masuk dan memintanya hanya duduk menunggu di dekat sungai. Dia sebal sekali namun berusaha sekuat tenaga menahannya.

Sepulangnya dari sana juga, Argulus mengomel terus tentang harga-harga yang melambung tinggi. Menyebut-sebut tentang beberapa hal yang sangat tidak dimengerti Ribi. Begitu di rumah Argulus mengangsurkan banyak barang pada Ribi dan dia kecewa melihat tongkat sihirnya. Benda itu panjangnya tak sampai tujuh belas senti, terlihat rapuh dan berwarna hitam aneh.

“Kau akan masuk ke kota setelah Dave membantumu membuat identitas. Sulit masuk ke kota dengan gadis tanpa kemampuan sihir. Interoir Zerozhia itu paling teliti dan paling cerewet tentang aturan masuk dan keluar kota. Kadang mereka menjadi menyebalkan.” Dia bersungut-sungut, dan ketika melihat Ribi yang mengamati tongkat sihirnya dengan tidak senang. Argulus menyatukan kedua alisnya.

“Beli lagi nanti. Itu buat sementara. Minta antar Dave kalau dia berkunjung. Tongkat sihir itu penting, dan tongkat sihir yang pas akan membantumu dengan lebih baik saat kau menghasilkan sihir. Kau tahu?”

Ribi mengangguk pelan. Meletakkan tongkat sihir itu. Sedikit kecewa. Dia berharap akan menemukan tongkat sihir yang terlihat kuat alih-alih tongkat sihir jelek dan rapuh seperti ini. Mendadak dia ingin anak laki-laki arogan yang mengantarnya ke tempat ini, datang mengunjunginya. Seperti yang dikatakan Argulus, hanya Dave yang bisa mengantarnya masuk ke kota agar dia bisa membeli tongkat sihir yang jauh lebih baik. Namun dia tidak tahu kapan anak laki-laki itu akan datang kesini. Dan selama itu, Ribi harus sabar dan menunggu.

“Kau baca saja dulu semua buku itu sebelum kita mempraktekkan sihir lagi.” Omel Argulus setelah dia melemparkan tubuhnya, duduk di atas kursi. Ribi mengangguk, menatap ke buku-buku yang dimaksud oleh Argulus. Itu adalah buku-buku bekas yang sangat banyak dan tebal.

Ribi mendesah, dia tidak terlalu suka membaca, dan penampilan buku-buku bekas itu sama sekali tidak mendukung. Dia semakin tidak bersemangat ketika membawa buku-buku itu masuk ke dalam kamarnya. Argulus menyuruhnya membaca semua buku ini? Dia menyumpah pelan. Buku-buku kumal dengan warna kertasnya yang sudah memudar, Ribi pikir seharusnya Argulus mampu untuk membelikannya buku baru. Dave memberinya keping emas yang sepertinya cukup banyak. Laki-laki tua itu pelit sekali.

Namun mau tak mau, Ribi harus membaca ini semua atau dia sama sekali tidak akan mengalami kemajuan yang bagus dalam mempelajari sihir. Ini sama saja dengan sekolah kalau di dunianya dulu, hanya saja untuk tujuan dan ilmu yang berbeda. Apa yang mungkin dibaca Ribi tentu sama sekali bukan tentang rumus-rumus Aljabar atau hapalan matematis lainnya, mungkin lebih seperti menerbangkan benda-benda, menghilang, berubah bentuk menjadi hewan. Ribi tersenyum kecil, mendadak sangat bersemangat membaca.

Disambarnya salah satu buku yang paling dekat dengannya dan mulai membaca. Sampul depan buku ini dari kulit yang sangat tebal, halamannya dari kulit binatang yang dibuat dengan tipis. Makhluk – Makhluk Gaib, Ribi membaca judulnya dan dia mulai tertarik. Satu halaman selesai dibacanya dan dia semakin tertarik. Dibenarkannya letak duduknya dan dia mulai fokus, tenggelam dalam ilmu yang diserapnya dari buku itu.

Mata Ribi mengerjap-erjap lelah, namun dia terus membaca sampai larut malam dan belum menyelesaikan buku pertamanya. Dia masih sampai bab tiga, agak keterlaluan memang, tapi Ribi mengerti dengan baik semua yang dibacanya. Karena jika ada yang tidak dia mengerti, Ribi akan mengulangnya berkali-kali sampai dia mengerti maksud dari kalimat yang dibacanya. Dia mulai tahu beberapa jenis makhluk-makhluk gaib yang ada, paham kekuatan dan kelemahan mereka dan ilustrasi-ilustrasi yang ada di buku itu kadang membuat bulu kuduknya merinding. Seringkali Ribi yakin sekali kalau ilustrasi yang ada dalam buku itu hidup dan meliriknya diam-diam, atau bahkan mengerakkan salah satu bagian tubuh mereka. Kalau itu terjadi, Ribi akan mengucek matanya berkali-kali dan berharap itu hanya halusinasi yang muncul karena dia mulai mengantuk. Dan ketika dia kembali memandang ilustrasi itu lagi, yang ada semua terlihatb baik-baik saja, tak bergerak.

Hampir saja Ribi menyerah pada rasa ngantuknya, ketika dia sampai pada awalan bab empat yang membahas satu makhluk gaib bernama Anilamarry. Kening Ribi mengerut, sepertinya dia pernah mendengarnya. Dia mencoba mengingat. Dia hampir tersenyum lebar ketika berhasil mengingatnya, itu adalah nama yang disebut oleh Dave dan Argulus dalam perbincangan mereka. Ribi kembali memusatkan perhatiannya pada buku itu, kembali membaca.

Anilamarry adalah salah satu makhluk gaib yang sangat kuat. Mereka memiliki kekuatan sihir sendiri dan bisa sangat berbahaya bagi penyihir yang bukan penyihir pemiliknya. Mereka dapat berubah bentuk sesuai dengan apa yang mereka mau. Entah berwujud binatang, manusia atau bahkan yang bukan keduanya. Meskipun cukup kuat, mereka terikat dengan penyihir pemilik mereka dan harus mengabdi pada penyihir pemilik mereka sampai sang penyihir pemilik mati. Tapi tidak semua penyihir dapat memiliki Anilamarry, karena selain keturunan Mahha, Anilamarry hanya dapat dimiliki oleh para keturunan keluarga kerajaan dan para penyihir level ke-enam dan ke-tujuh. Anilamarry selain sebagai pelindung juga dapat menjadi sahabat yang sangat setia bagi penyihir pemilik. Sebab Anilamarry hanya dapat berkomunikasi dengan penyihir pemiliknya. Penyihir lain tidak akan dapat mendengar dan memahami komunikasi yang terjalin antara Anilamarry dan penyihir pemilik, kecuali seolah-olah penyihir pemilik bicara dengan dirinya sendiri.

Apakah mungkin singa yang dilihat Ribi ketika pertama kali bertemu dengan Dave itu adalah wujud dari Anilamarry milik Dave? Sepertinya itu kemungkinan terbesarnya. Dia melihat Dave sangat aneh ketika itu, dia berbicara sendiri sebelum meminta makhluk itu mengambil wujud dan memperlihatkan dirinya di depan Ribi. Sepertinya dia ingat Dave menyebut nama singa itu, Mem-Memnus. Ribi tergelak, ingatannya sangat bagus.

Ditutupnya buku itu, menyandarkan punggungnya ke kursi. Apakah dia bisa memiliki Anilamarry? Sepertinya itu akan sangat menyenangkan. Berbicara dan bersahabat dengan makhluk yang bisa menghasilkan sihir tanpa bantuan tongkat sihir sebagai pengantar bentuk sihir. Sepertinya itu terlihat lebih mudah dan tidak rumit daripada dia harus sibuk merapalkan mantra dan mengayun-ayunkan tongkat sihir. Ribi melirik tongkat sihirnya yang terlempar begitu saja di atas tempat tidurnya. Tongkat sihir menyedihkan, pikirnya. Dan pikirannya kembali mengembara dalam bayangan betapa kan mudahnya mempelajari sihir dengan Anilamarry disisinya. Dia bisa ini, bisa itu dan … Ribi menguap, dia membayangkan punya Anilamarry. Sa-sangat mudah, dia menguap lagi dan dalam beberapa menit kemudian tertidur dengan bersandar tidak nyaman di kursinya.

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Mau dilanjutin lagi, dong.. Suka sama semua ceritamu, sista.. 😀
    Hari ini, yah? Please.. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published.