Xexa – Dunia Baru

“Kita berhenti disini.” Kata Dave pada Ribi yang langsung menghentikan langkahnya dengan tergesa. Ribi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya pepohonan yang mengitari mereka, tidak ada sesuatu yang kelihatannya berbeda atau istimewa. Mereka sudah berjalan masuk ke hutan cukup jauh dan sekarang Dave meminta berhenti disini, tepat di depan sebuah pohon yang kelihatan sudah cukup tua. Ribi memperhatikan pohon itu, meneliti. Itu pohon paling cantik yang pernah dia lihat. Daun-daunnya begitu rimbun, hijau. Penuh dan entah kenapa, ketika semakin diperhatikan, pohon itu mulai terlihat berbeda dari pohon-pohon lainnya. Ada semacam energi yang Ribi tidak tahu apa, namun menguar kuat dari situ.
Dave menyentuh batang pohon itu dengan tangan kirinya, memejamkan mata dan menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang tidak Ribi pahami. Sementara Dave melakukan itu, Ribi melirik si singa di sampingnya yang nampak bosan, menguap dan mengaruk-garuk kepalanya seperti yang biasa dilakukan manusia. Ribi mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu pasti makhluk apa itu sebenarnya. Dan ketika dia menatap lagi ke arah Dave, anak laki-laki itu sudah membuka matanya. Dia mundur, menjajari Ribi.

Ribi memicingkan matanya, ada sesuatu yang bergerak di pohon itu, tepat dimana sebelumnya telapak tangan kiri Dave berada. Mula-mula hanya lingkaran asap kecil. Lalu detik demi detik lingkaran itu membesar. Berpusar membentuk portal gelap yang seperti berasal dari kumparan asap berwarna abu-abu gelap pekat. “A-apa itu?” Jeritnya tergagap.

“Gerbang masuk.” Jawab Dave singkat.

Ribi menoleh, memandang tak percaya pada Dave. Apapun itu yang disebut gerbang masuk oleh Dave lebih mirip dengan gerbang kematian baginya. Hawa dingin berhembus dan angin bertiup keras ketika kumparan awan gelap itu terbentuk, membuatnya cukup yakin untuk meragukan jawaban Dave. Namun Dave malah terlihat berjalan mendekat ke portal itu. “Kau dulu, Memnus.” Katanya.

Si singa melangkah dengan malas, dia masih sempat menguap lebar sebelum hilang tanpa bekas begitu dia melangkah masuk ke dalam portal. Ribi menelan air ludahnya. Singa aneh itu lenyap.

“Kau sekarang.” Kata Dave beralih menatapnya.

“Aku?”

“Pejamkan saja matamu kalau kau takut.” Saran Dave ketika dilihatnya Ribi sedikit ragu.

Ribi mengangguk, dia maju dengan enggan. Dia menoleh ke belakang, Dave menganggukkan kepalanya dan terlihat tidak sabar. Ribi menarik nafas panjang. Dia sudah memilih untuk ikut bersama Dave, dan apapun yang terjadi ketika dia masuk ke portal ini adalah konsekuensi dari pilihannya itu. Sekali lagi Ribi menarik nafas panjang. Dia memejamkan matanya ketika kakinya melangkah masuk ke dalam portal.

Hawa dingin yang asing memeluk erat tubuh Ribi. Tubuhnya seperti tertarik ke segala arah dan mengerut secara bersamaan. Ribi merasa matanya perih dan tubuhnya seperti terbakar. Meski kesakitan, Ribi berusaha semakin kuat memejamkan matanya. Sedetik kemudian, ketika Ribi hampir memutuskan untuk berteriak-teriak karena rasa sakit yang menjalar ke tubuhnya mulai terasa sangat parah, dia mendadak merasakan kakinya menjejak tanah. Ribi membuka matanya dan tidak mendapatkan keseimbangan tubuhnya. Akibatnya dia berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan masih merasa sedikit pusing dan mual ketika akhirnya dia dapat berdiri dengan benar.

Anehnya Dave malah terlihat santai ketika keluar dari portal yang sebelumnya juga dilalui Ribi dan melihat gadis itu sedang mengaduh dan memegangi kepalanya.

“Pertama-tama mungkin sedikit menyakitkan, tapi jika kau sudah sering melewati gerbang ini, kau akan mulai terbiasa.”

Ribi mengangkat kepalanya, memandang Dave dengan tidak percaya.

Tidak. Cukup sekali saja, aku tidak akan mau masuk ke portal sialan itu lagi.

Ribi mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengusir sisa pusing di kepalanya ketika dia menyadari portal itu telah menghilang. Dia menegakkan tubuhnya. Menyadari bahwa hutan tempat dia berada sekarang sangat jauh berbeda dengan hutan yang ada di belakang kebun panti asuhannya. Pohon-pohon disini begitu besar, tua dan terlihat mengerikan. Dan tempat dimana portal itu menghilang berada tepat di sebuah pohon yang terlihat paling besar dan paling tua disini. Batang pohonnya saja mungkin sembilan kali besar lingkar tubuhnya, ranting-rantingnya banyak dan keropos, tapi anehnya justru terlihat kokoh. Dan pohon ini tidak punya daun. Hanya batang dengan ranting-rantingnya yang seperti mengering. Tidak ada lumut atau jamur tumbuh di akarnya. Padahal lumut-lumut tebal dan jamur berjaya diantara akar-akar pohon lainnya.

“Ayo kita pergi.”

Ribi terlonjak, kaget. Dia menatap Dave dan menyadari sekarang mereka hanya berdua. “Singamu?” Ribi mencari-cari, matanya menelusuri ke sekeliling mereka dengan lebih cepat.

“Memnus sudah kembali ke Zeyzga. Dan aku memang sedang tidak membutuhkannya.” Jawab Dave membuat Ribi berhenti mencari.

“Zeyzga?”

“Ya.”

“Apakah aku juga akan kesana?”

“Tidak. Kau tidak bisa. Dan ayo jalan sebelum matahari tenggelam. Aku tidak suka berada di hutan Zhitam ketika malam tiba. Tempat ini membuatku kurang nyaman.” Kata Dave sambil berjalan pergi.

Ribi sepakat dengan Dave dan berjalan tergesa mengikutinya. Tempat ini memang menakutkan. Pohon-pohon disini, entah bagaimana terasa seperti sedang memperhatikan mereka. Ribi mempercepat langkahnya mengikuti Dave. Dia tidak mau sampai tersesat di tempat mengerikan ini.

“Em, Dave..”

“Ya.”

“Apakah ini dunia sihir?” Tanya Ribi sambil terus melangkah dan berusaha menjajari langkah Dave yang panjang.

“Mungkin seperti itu. Tapi kami lebih sering menyebutnya Tierraz.” Jawab Dave singkat.

“Tierraz? Lalu apakah kita berada di dimensi berbeda dengan duniaku? Maksudku, jika ada dunia seperti ini, kenapa tidak ada satu manusia pun yang tahu tempat ini, aku tidak pernah mendengar tentang dunia sihir, Zerozhia atau apapun yang sebelumnya kau sebutkan ada di koran atau televisi di duniaku. Dan ap-” Ribi berhenti bicara ketika sesuatu mendadak memenuhi penglihatannya, begitu mereka keluar dari hutan ini. Mulut dan mata Ribi terbuka lebar menyaksikan itu. Sebuah kastil yang sangat besar dengan enam menaranya yang menjulang kokoh tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dikelilingi gerbang tinggi dan beberapa pohon besar di dalam halaman kastil nampak mengintip dari atas gerbang. Aura sihir menguar kuat dari tempat itu dan Ribi merasa merinding dengan sendirinya. Tempat keramat yang mengagumkan, pikirnya.

Dave menoleh memandang Ribi, “Selamat datang di Zeyzga.” Katanya datar.

“Ini..”

“Kastil kerajaan Zerozhia. Tempat kediaman Mahha dan keturunannya.” Sahut Dave.

“Mahha?” Ribi menatap Dave. Apa lagi itu? Di benar-benar tidak paham dengan semua istilah yang diucapkan Dave.

“Ratu Zerozhia sekaligus pimpinan tertinggi dari kelima kerajaan yang ada.”

“Seperti Ratu Inggris?”

Kali ini Dave yang mengerutkan keningnya. “Siapa itu Ratu Inggris?”

“Kau tidak tahu?” Tanya Ribi heran.

Dave menggeleng, “Dan jika itu sesuatu dari duniamu, maka itu tidak penting bagiku.”

Ribi memandang jengkel ke Dave, “Kau seharusnya juga belajar mengetahui ten-“

Dave mengibaskan tangannya, “Diamlah. Kau sudah sangat cerewet dari tadi. Apa kau tidak lelah terus bicara.”

Berkacak pinggang, Ribi melotot pada Dave, “Meskipun kau yang membawaku kesini, kau tidak boleh..” Ribi berhenti, dia melihat Dave menyentuh tato yang ada di punggung telapak tangan kirinya. Dave mengusapnya beberapa kali.

“Mora..” Panggilnya.

“Tidak. Kau tidak perlu mengeluarkan makhluk mengerikan seperti singa itu lagi. Aku akan diam. Aku akan diam, aku janji.”

“Mora..” Panggil Dave lagi, mengabaikan Ribi. “Keluarlah ke gerbang depan Zeyzga. Aku membutuhkanmu.” Lanjutnya kemudian.

Ribi menelan ludahnya. “Aku sudah mengatakan aku akan diam, kau tidak perlu-“

“Bukan.” Potong Dave cepat. Dia memandang Ribi dengan jengkel. Gadis ini cerewet sekali.

Ribi menoleh ke depan ketika gerbang besar kastil itu mengayun terbuka dan sesosok perempuan berjalan tergesa keluar dari sana. Awalnya Ribi tak bisa melihat dengan jelas, namun ketika perempuan itu semakin dekat ke arah mereka, Ribi terpesona. Perempuan itu sangat cantik. Tubuhnya tinggi langsing dibalut gaun indah berwarna lembut yang begitu melekat pas ditubuhnya. Rambutnya, yang anehnya berwarna putih, tergerai panjang sampai batas pinggang. Matanya berwarna hitam pekat dihiasi bulu mata panjang dan lentik. Dan wajahnya yang putih bersih, bibirnya yang merah tipis, dengan pipi yang merona merah jambu alami membuat Ribi, yang juga perempuan pun berdecak kagum melihatnya. Perempuan yang terlihat berumur di awal tiga puluhan itu berjalan cepat, seperti melayang begitu saja dan mendadak sudah ada di depan mereka.

“Pangeran..” Panggil suara yang lembut dan bermelodi milik perempuan itu. Ribi tersenyum. Tapi tunggu. Pangeran? Ribi menoleh cepat, menatap Dave dengan tatapan menyelidik.

“Mora, aku butuh sedikit bantuanmu.” Kata Dave, tidak menghiraukan tatapan Ribi.

“Bantuan seperti apa yang anda butuhkan, pangeran? Dan jika boleh sayantahu, siapakah perempuan ini?” Perempuan yang bernama Mora itu menatap Ribi yang langsung tersenyum lebar.

“Halo. Aku Gab-“

“Energinya.. Perempuan ini sepertinya tidak punya kekuatan sihir besar. Dia tidak mungkin anggota kerajaan.” Kata Mora sambil memandang Ribi dari ujung kaki dan ujung rambutnya.

“Aku memang buk-“

“Anda tahu anda tidak bisa membawa sembarang orang ke tempat ini, pangeran.” Kata Mora tegas, sama sekali tidak mengacuhkan Ribi yang mengeretakkan giginya dengan kesal karena sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.

“Sejujurnya aku juga tidak bermaksud membawanya kemari. Hanya saja.. Ah nanti saja kuberitahukan padamu. Apakah Ares sudah datang?”

Mora mengangguk, “Dia sudah datang beberapa saat yang lalu, namun ketika dia tahu anda tidak ada di Zeyzga. Dia kembali ke kediamannya.”

Dave menghela nafas, “Aku sudah bisa menebaknya. Dia tidak akan mau menungguku. Aku harus menyusulnya ke kastil Azhena sekarang. Tapi dia..” Dave melirik Ribi yang masih terlihat kesal karena sama sekali tidak dihiraukan. “Tidak bisakah dia masuk ke Zeyzga untuk sehari saja?”

Mora mengikuti arah pandang Dave. Dia menggeleng tegas, “Zeyzga hanya untuk Mahha dan keturunannya. Anda tahu dengan jelas aturan itu, pangeran.”

Dave mengangguk, terlihat berpikir keras, “Aku tidak bisa meninggalkan gadis itu di sembarang tempat, Mora. Dia belum bisa menggunakan sihir sama sekali.”

Mora terlihat terkejut, “Bagaimana bisa? Darimana asalnya? Kenapa dia belum bisa menggunakan sihir? Sepertinya dia sudah cukup dewasa untuk melakukannya.”

“Aku masih belum bisa dikatakan dewasa. Aku baru tuj-“

“Apakah dia berasal dari Sparzvia?” Tanya Mora pada Dave yang menggeleng. Sementara Ribi, menghentakkan kakinya dengan kesal dan melipat wajahnya. Dia menarik semua ucapannya tentang kecantikan, atau pesona apalah yang dimiliki Mora. Perempuan itu, jelas angkuh dan menyebalkan.

“Dia dari dunia lain, dunia dimana manusianya tidak bisa menggunakan sihir.”

Mora membelalak, lebih terlihat marah daripada terkejut, “Anda mengunjungi tempat itu lagi? Anda tahu anda ti-“

“Aku tahu, Mora. Aku hanya sedang mencari sesuatu tentang Xexa. Aku pikir mungkin disana ada sedikit informasi yang bisa menolongku.” Potong Dave, terlihat lelah.

“Lalu apa yang akan anda lakukan pada perempuan ini, pangeran?” Suara Mora melembut.

Dave menggeleng, “Entahlah. Aku tidak punya rencana.”

Mora beralih mengamati Ribi yang langsung jadi kikuk. Sesaat kemudian Mora kembali memandang Dave, “Anda bisa membawanya pada Argulus. Dia akan bisa mengajari perempuan ini sihir. Dan sementara itu, perempuan ini juga bisa tinggal disana.”

“Argulus? Apakah mungkin dia bersedia melakukannya?”

Mora tersenyum, “Anda tahu cara terbaik merayu Argulus, pangeran.”

Dave tertawa kecil. “Ya. Ya. Kau benar, Mora.”

Ribi memandangi keduanya, entah kenapa dia melihat Mora terlihat lebih bahagia melihat Dave yang sedang tertawa. Dia memandang Dave dengan penuh sayang dan mendadak Ribi merasa geli menyadari pikiran apa yang melintas di benaknya. Secantik apapun dia, menurut Ribi, Mora jauh lebih cocok jadi ibu atau setidaknya kakak perempuan tertua Dave daripada pacarnya. Ini keterlaluan, pikir Ribi sambil menahan tawa.

“Kau bisa kembali ke dalam. Aku akan ke rumah Argulus sekarang.”

“Saya akan melihat anda pergi lebih dulu, pangeran.”

Ribi membungkuk sedikit, menyembunyikan tawanya yang tertahan mendengan ucapan Mora. Yang benar saja, pikirnya.

Dave mengangguk, tidak membantah, “Nah, Ribi.” Katanya kali ini pada Ribi yang langsung tegak dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tawa. “Kau bisa memegang tanganku, kita akan melakukan sedikit perjalanan jauh dalam sekejap.”

“Apa kita akan menghilang?” Potong Ribi cepat dan mendadak dia merasa tegang.

Dave mengerutkan kedua alisnya. “Bukan menghilang. Mungkin usaha untuk mempersingkat waktu jauh lebih tepat. Nah tanganmu, Ribi.” Dave mengulurkan tangan kanannya yang disambut Ribi dengan cepat. Ribi mengenggamnya erat. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya melewati portal masuk ke dunia ini, dan itu sangat tidak menyenangkan. Jika apapun itu yang nantinya akan dilakukan Dave dengan sihirnya, dia tidak yakin dia akan menyukai itu.

“Kau boleh memejamkan matamu seperti seperti ketika kau melewati gerbang masuk dunia ini jika itu bisa membuatmu lebih nyaman. Tapi jangan meremas tanganku sekeras ini.”

Ribi buru-buru mengendorkan pegangan tangannya, “Ma-maaf.”

Dave mengabaikannya, dan Ribi melihat tangan kiri Dave mengepal. Dengan jarak sedekat ini, dia kini bisa melihat dengan jelas tato seperti apa yang ada di punggung telapak tangan Dave. Bentuknya seperti kristal segienam. Tapi lebih indah. Jelas orang yang handal yang telah melakukannya. Detailnya sangat cantik.

Ketika mendadak Ribi merasa diselimuti kabut tipis, dia buru-buru memejamkan matanya dan kembali mengenggam tangan Dave dengan sangat erat. Ini tidak terlalu menyakitkan, pikir Ribi kemudian. Hanya seperti ada seseorang yang mengulur tubuhmu dengan lembut. Seperti sedang dipijat. Membuatmu melayang nyaman dan menyenangkan. Dan Ribi membuka matanya dengan kesal ketika sensasi menyenangkan itu ditarik pergi darinya.

Pohon-pohon cemara yang menjulang tinggilah yang pertama dilihat Ribi ketika dia membuka mata. Dia melepaskan pegangannya dari tangan Dave, dan langsung menikmati udara senja yang dingin, menyegarkan. Ribi suka tempat ini. Dia selalu suka pegunungan seperti ini. Dulu, ketika di panti asuhan, dia akan sangat menantikan saat-saat liburan bersama. Dia akan menjadi yang paling keras bersorak jika ibu kepala panti mengatakan mereka akan berlibur ke gunung, dan menjadi yang paling tidak bersemangat jika ibu kepala panti mengatakan mereka akan berlibur ke pantai. Ribi tidak terlalu suka pantai.

“Kita berjalan sebentar.” Suara Dave memecah diam milik Ribi.

Ribi menoleh, mengangguk riang. “Ya.” Sahutnya antusias.

Dan mereka berjalan beriringan. Lebih pelan. Dave sepertinya juga menikmati hawa menyenangkan pegunungan ini. Wajahnya terlihat jauh lebih ramah daripada sebelumnya.

“Em, Dave..” Ribi mencoba kembali bercakap melihat aura Dave yang terasa baik. “Apa perempuan tadi pacarmu? Kupikir dia lebih cocok jadi kakak perempuan tertuamu.”

Dave menoleh, langkahnya berhenti. Ribi jadi serba salah, seharusnya dia tidak menanyakan hal itu. Ribi mengutuk dirinya sendiri, untuk kelancangan dan kecerewetannya. Dia hanya merasa sangat senang bisa terus berbincang dengan seseorang, dan itu membuatnya tidak bisa berhenti.

Pacar?” Suara Dave terdengar kebingungan.

“Seperti kekasih.” Terang Ribi dan mendadak tawa Dave pecah.

“Kekasih? Aku dan Mora?? Apa kau sudah gila?”

Alis Ribi saling bertautan, “Memangnya kenapa? Akukan hanya menebak.”

Dave mengusai dirinya dan dia berhenti tertawa, menatap Ribi dengan jenaka, “Mora itu peri kerajaan, bodoh.”

Kali ini Ribi terlihat bingung. Seketika wajah Dave menjadi datar dan bosan, “Ah ya, kau tak tahu.” Katanya kemudian sambil meneruskan langkahnya.

“Apa itu peri kerajaan?” Kejar Ribi sambil menjajari Dave.

“Makhluk sihir. Dan jangan tanya-tanya lagi” tambah Dave buru-buru begitu melihat mulut Ribi sudah terbuka lagi.

“Akukan hanya ingin tahu.” Cetus Ribi cemberut. “Ngomong-ngomong mau kemana kita?”

“Aku bilang jangan-tanya lagi.”

“Akukan-“

“Aku tidak akan menjawab apapun.”

Ribi mengeretakkan giginya kesal, “Kau menyebalkan.” Gerutunya. Mendadak dia teringat sesuatu. “Dave, perempuan itu, yang di depan kastil itu memanggilmu pangeran. Apakah kau.. kau pangeran di dunia ini? Atau hanya pangeran di salah satu nama kerajaan yang sering kau sebut itu, Zelosia bukan sih namanya?” Tanyanya cepat dan bersemangat.

Dave menoleh, terlihat jengkel. “Zerozhia!” Koreksinya, “Dan tidak bisakah kau diam. Tidak usah bertanya apapun lagi. Kalau aku tahu kau secerewet ini aku tidak akan mau membawamu. Apa lebih baik kalau aku membawamu kembali ke duniamu saja?”

“Tidak.” Jawab Ribi cepat dan keras. “Aku akan diam dan tidak bertanya apapun lagi. Aku janji.” Katanya sungguh-sungguh.

“Itu bagus.” Komentar Dave.

Selanjutnya mereka hanya berjalan dalam diam. Ribi juga sibuk memperhatikan semua yang ada di tempat ini. Hutan cemara ini berbeda. Tumbuhan lain dan hewan-hewan kecil yang dilihatnya ketika mereka berjalan terlihat jauh berbeda dengan apa yang sering dia lihat di dunianya. Semua disini terlihat lebih aneh tapi indah. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepala Ribi untuk Dave setiap kali dia melihat ada sesuatu yang baru. Namun Ribi menahan hasratnya itu karena dia tidak ingin dipulangkan ke dunianya. Dia menyukai dunia ini, entah kenapa Ribi merasa dunia ini lebih terasa nyaman dari pada dunianya sebelumnya.

Dave berhenti, menunjuk sebuah pondok besar dan tua yang ada di tepi hutan. “Kita akan berkunjung ke rumah Argulus, bersikaplah sopan selama disana. Jangan terlalu banyak bicara atau bertanya apapun. Dengarkan saja dan bicaralah ketika dia baru bicara denganmu.”

Ribi mengangguk. “Baiklah. Tapi, Argulus itu siapa?”

“Aku bilang jangan banyak tanya.”

Ribi cemberut tapi mengangguk dengan patuh.

“Ayo.” Kata Dave kemudian, berjalan membawa mereka semakin mendekat ke tempat yang tadi ditunjuk Dave.

Pondok ini jelek, tua dan kotor. Itulah yang ada di kepala Ribi ketika mereka sudah memasuki halaman pondok yang hanya dipagari kayu-kayu yang dipotong dan ditancapkan dengan berantakan ini. Ilalang tumbuh tinggi di beberapa tempat. Dan Ribi melihat beberapa tembikar pecah teronggok begitu saja di pojok halaman. Tempat ini mengerikan, pikirnya. Siapapun yang tinggal disini pasti tidak terlalu sanggup merawatnya atau memang malas melakukannya.

Dave mengetuk pintu kayu tua pondok itu beberapa kali, “Argulus.” Panggilnya.

Tak terdengar jawaban apa-apa dari dalam. Dave memanggil lagi. Lebih keras. Dan setelah beberapa saat Ribi mendengar bunyi berkelontangan keras dari dalam disusul dengan derap kaki tergesa yang terdengar mendekat.

Pintu terayun terbuka sendiri dan satu engselnya terlihat longgar, lalu pintunya jadi miring. “Masuklah. Masuklah.” Kata suara serak dan berat dari dalam.

Dave melangkah masuk disusul dengan Ribi di belakangnya yang masih sibuk mengamati betapa berantakan dan tak terurusnya pondok ini.

“Ah ah aku melihat kau datang sejak masih di hutan. Tapi aku masih sibuk sekali di bawah. Ada ramuan baru. Kau tahu, ini bagus untuk membuatmu cukup kuat untuk melawan naga hitam dari Mozaro sekalipun.”

Ribi menemukan seorang laki-laki tua dengan jubah coklat kusam yang sedang bicara dengan cepat kepada Dave. Rambutnya putih panjang berantakan tak terurus dan kerutan-kerutan jelas memenuhi wajahnya yang berkedut-kedut ketika bicara.

Laki-laki itu tanpa sengaja memandang Ribi yang terlihat dengan sangat jelas sedang mengamatinya. “Siapa yang kau bawa ini? Aku pikir kau kemari bersama Ares.”

“Tidakkah kau ingin mempersilakan tamumu duduk dulu sebelum menanyai mereka?” Tanya Dave sopan.

“Ah-ah iya.” Dia mengelus-elus janggutnya yang juga putih panjang. Terbungkuk-bungkuk ketika mengayunkan tongkat sihir yang dicabutnya dari dalam jubahnya, “Comordio.” katanya pada kursi-kursi tua yang langsung menata dan membersihkan dirinya sendiri. Seketika, empat kursi-kursi tua yang ada di salah satu sudut rumah ini langsung tertata rapi dan terlihat bersih. Dave melangkah ke sudut itu, duduk di salah satu kursi, mengetukkan jari tangan kirinya ke meja yang debunya hampir setebal jari kelilingking, dan sekejap debunya hilang dan meja itu nampak seperti baru dibeli kemarin.

Argulus terkekeh, dia berjalan tertatih-tatih ke kursi lainnya di depan Dave. Dan ketika menyadari Ribi tak bergerak karena masih terlihat begitu takjub pada apa yang baru dilihatnya, Argulus terbatuk dengan pura-pura, “Kau, siapa namamu?” Tanyanya menunjuk Ribi.

“Gab-Gabrietta. Tapi anda bisa memanggil saya Ribi jika anda mau.” Ribi menjawab cepat.

Argulus kembali mengangguk-angguk, “Ya-ya, Ribi. Kemarilah. Kau sebaiknya juga duduk dan bukannya berdiri seperti gargoyle begitu. Kemarilah. Kemarilah.” Ajaknya ramah.

Ribi mengangguk cepat, “Terima kasih.” Katanya sambil bergerak cepat, mengambil tempat duduk di dekat Dave.

“Nah begitu lebih baik.” Sahut Argulus yang juga sudah duduk di depan keduanya. Dia mengayunkan tongkat sihirnya dan sesuatu seperti teko dan senampan cangkir melayang dari dapur di ujung ruang menuju ke arah mereka dan meletakkan dirinya tepat di atas meja. Cangkir-cangkir itu mengisi diri mereka sendiri dengan air yang tertuang dari teko kusam itu dan menyorongkan tubuh mereka masing-masing ke depan Ribi, Dave dan Argulus.

Ribi ternganga, dia memelototi cangkir yang kini sudah diam dengan manis di depannya. Dia menyentuhnya, memutar-mutar cangkir itu beberapa kali dan cangkir itu tetap tak melakukan sesuatu. Benar-benar seperti cangkir biasa.

“Apa yang sedang kau lakukan, nak?”

Ribi terlonjak dan mengangkat wajahnya dengan cepat ketika mendengar suara Argulus. Dia buru-buru menatap Dave dengan tatapan minta maaf yang sungguh-sungguh. Dave menyatukan alisnya. Bibirnya mengerut dan dia terlihat kesal.

“Argulus.” Dave memanggil, “Aku datang kemari untuk meminta bantuanmu.” Lanjutnya, membuat Argulus yang semula sedang mengamati Ribi, beralih memandangnya.

“Ah ya. Aku tahu kau kemari pasti untuk meminta sesuatu. Jika ini tentang Xexa. Aku benar-benar minta maaf, Dave. Aku sungguh tidak tahu tentang itu.”

Dave menggeleng, “Bukan, ini tentang Ribi.”

“Gadis ini?”

“Ya.” Dave mengangguk. “Bisakah kau membiarkan dia tinggal disini dan mengajarinya sihir.”

“APA??” Argulus dan Ribi berteriak bersamaan. Mereka berpandangan dan Ribi langsung menunduk. Dia hanya refleks, dia tidak menyangka jika Dave berniat meninggalkannya disini. Di pondok ini? Yang benar saja. Di pondok jelek, tua dan kotor ini. Sementara Ribi memaki-maki di dalam hati tentang keputusan Dave, Argulus justru bergantian memandangi Dave dan Ribi.

“Seharusnya di usianya yang kurasa tidak jauh berbeda darimu, dia harusnya sudah cakap menggunakan sihir. Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia terkena kutukan atau mantra yang mungkin melenyapkan kemampuannya untuk melakukan sihir? Kau memintaku melakukan kontra-kutukan pada gadis ini?”

Dave menghela nafas, “Bukan begitu. Dia memang sama sekali belum mempelajari sihir sejak awal.”

Kerutan di wajah Argulus terlihat semakin jelas. Kini dia mengamati Ribi dengan seksama. Membuat Ribi makin menunduk. Dia tidak suka diamati dengan cara pandang seperti itu. Seperti menilai, menimbang-nimbang apakah Ribi pantas atau tidak. “Lalu, kau berasal darimana, nak?” Tanyanya.

Namun ketika Ribi baru akan membuka mulutnya untuk menjawab, Dave sudah bersuara. “Aku membawanya dari dunia lain. Kau tahu benar dimana itu, Argulus.”

Ribi mengamati raut wajah Dave yang terlihat menyesal. Dan Argulus terlihat marah, dia bangkit dari duduknya dengan cepat. “Ka-kau. Tidak. Boleh.” Suaranya tak jelas. Dia mondar mandir dengan cepat. Risau dan jelas sekali menahan marah.

“Aku minta maaf, Argulus. Aku-“

“ANDA TAHU ITU TIDAK BOLEH DILAKUKAN, PANGERAN!!” Argulus berteriak keras. Raut wajah Dave berubah, dia tahu Argulus benar-benar sedang marah padanya. Karena dia memanggil Dave dengan sebutan anda dan pangeran.

Argulus membuang nafas, kesal. Namun ketika mendapati wajah Dave yang terlihat sedih karena ucapannya. Dia melunak, masih mondar mandir dan berkata cepat. “Tidak. Tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau tahu. Kau tahu bukan, itu berbahaya. Kita tidak boleh. Dunia itu-” Dia berhenti. Seperti kehabisan kata-kata.

“Aku tahu, Argulus. Aku minta maaf. Aku hanya perlu memeriksa sesuatu disana. Aku kesana bukan untuk main-main.”

Argulus menghela nafas. Berhenti mondar-mandir. Memandangi Dave dengan gusar, “Lalu dia” tangannya menunjuk Ribi. “Kau menculiknya.”

“Ti-“

Dave menyentuh bahu Ribi, dan suara Ribi terhenti. Dia memandang Dave yang cuma mengangguk. “Tidakkah kau merasakannya. Ribi tidak seharusnya berada di dunia itu. Dia seperti kita, Argulus. Bahkan Memnus juga menyadarinya. Kau tidak akan meragukan kemampuan Anilamarry dalam mendeteksi sihir bukan?”

Argulus mendengus. “Meskipun begitu, kenapa kau membawanya kesini?”

Dave bangkit, mendekat ke arah Argulus, “Aku ingin kau membiarkan dia tinggal disini dan mengajarinya sihir dari nol. Argulus, aku mohon padamu.”

Mata Argulus yang kecil menatap Dave tajam, “Tidak.” Desisnya. “Kau merendahkanku, Dave”

Dave memicing, “Merendahkanmu?”

“Kau tahu aku hanya mau mengajari para keturunan Mahha. Atau setidaknya keturunan kerajaan. Lalu sekarang, kau membawa manusia dari dunia tanpa sihir dan memintaku mengajarinya sihir. Kau sebut apa permintaan itu kalau bukan merendahkanku.” Wajahnya keras. Masih terlihat marah.

“Tidak.” Sergah Dave cepat. “Bukan seperti itu maksudku. Aku memintamu melakukan ini karena aku mempercayaimu. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu. Seperti ayahku mengandalkanmu, Argulus.”

Ketika Dave menyebut tentang ayahnya, Argulus terlihat melembut. Dia duduk kembali di kursinya, memandang Dave dengan ragu.

“Aku mohon, Argulus. Aku hanya bisa meminta pertolonganmu dalam hal ini. Kau tahu Azhena pasti akan menentangku dengan keras jika kukisahkan semua tentang Ribi kepadanya. Dia tidak pernah setuju aku melakukan sesuatu di luar kehendaknya. Jadi aku hanya punya kau dan Mora untuk bisa kuandalkan.”

“Ah si Azhena itu. Tukang bual menyebalkan. Aku sudah tidak suka padanya sejak dulu. Tapi Miranda.. Bodoh. Tindakan bodoh mempercayai perempuan bermuka dua itu.”

Sekilas Ribi melihat kilatan tidak senang di wajah Dave sebelum dia membuang nafas panjang, memandang lurus ke Argulus. “Aku tidak ingin membahas itu, Argulus. Ibuku mempercayai Azhena. Kurasa itu sudah cukup bagiku untuk juga mempercayainya. Dan jangan mendebatnya lagi.” Kata Dave cepat ketika dia melihat Argulus seperti ingin membantah.

Argulus mendengus. “Jadi.. Inti dari semua perbincangan ini adalah kau ingin aku mengajari gadis ini sihir?”

Dave mengangguk, “Dan menyembunyikan kenyataan bahwa dia kubawa dari dunia lain dari semua orang.” Tambahnya.

Mata kecil Argulus menyipit. Dia terlihat menimbang-nimbang. “Lalu apa yang kudapat dengan membiarkan dia tinggal disini dan mengajarinya sihir? Oh-oh jangan melihatku seperti itu Dave. Kau tahu kehidupan semakin sulit bukan? Aku sudah tua dan tidak bisa lagi mencari sendiri semua bahan-bahan yang kubutuhkan untuk membuat ramuan. Jalan satu-satunya adalah membelinya. Dan kadang harga satu batang Wingerstelle bisa mencapai tiga keping emas. Ah mahal. Semuanya mahal.”

“Jadi apa yang sebenarnya kau minta, Argulus?” Tanya Dave malas. Dia sebenarnya sudah tahu kemana arah ucapan Argulus bermuara. Tapi dia terlalu malas berbasa-basi.

“Tujuh puluh lima keping emas setiap bulannya.”

Mata Dave menyipit.

“Ah-ah baiklah. Lima puluh saja atau kau bisa bawa gadis itu pergi dari sini.”

“Baiklah.” Dave menngangkat tangan kirinya, merapalkan sesuatu yang terdengar sangat rumit di telinga Ribi. Ketika Dave sudah selesai, dia menarik tangannya dan kepingan-kepingan emas mendadak berjatuhan dari udara kosong. Jatuh menumpuk di atas meja di depan mereka.

Mata Ribi terbelalak melihat tumpukan keping emas yang berkilauan di depannya. Jika Ribi membawa semua kepingan emas itu ke dunianya, dia pasti sudah jadi orang kaya raya. Sementara Ribi memandangi tumpukan kepingan emas itu sambil membayangkan dia sedang menghambur-hamburkan hasil penjualan emasnya dengan membeli rumah dan mobil mewah, Argulus malah terkekeh dan meraup tumpukan kepingan emas itu dengan kedua tangannya, memasukkannya ke kantung uang berukuran cukup besar untuk menampung semua kepingan emas itu dengan cepat.

“Jumlahnya seratus lima puluh keping. Itu untuk tiga bulan kedepan. Setelahnya Mora yang akan mengantarkan bayaranmu kesini.”

Argulus mengangguk-angguk. “Ya-ya-ya. Siapa saja. Asal jumlahnya tepat.”

“Aku heran melihatmu, Argulus. Kukira emas-emas yang kau dapat dari kerajaan lebih dari cukup untuk membuatmu hidup bermewah-mewah di usiamu yang sudah tua ini. Tapi kenapa kau malah hidup dengan..” Dave mengamati rumah ini, lalu kembali memandang Argulus, “..sedikit tidak nyaman.”

Anehnya Argulus malah tertawa-tawa bahagia. “Aku hidup dengan nyaman. Kau tahu, Dave. Di ruang bawah tanah sana dengan kuali-kuali panas yang berisi ramuan-ramuan yang mengelegak hampir jadi.” Katanya disela-sela tawanya yang keras.

Dave tersenyum kecil, bekas gurunya ini tidak pernah berubah sejak dahulu. Meskipun dia merupakan penyihir hebat, dia sama sekali tidak tertarik untuk memanfaatkan kehebatannya untuk kehidupan berlebih dan bermewah-mewah yang kini marak dilakukan penyihir-penyihir cakap di dunia ini. Argulus malah memilih tinggal menyendiri di tempat seperti ini dan sibuk berkutat untuk memenuhi minatnya yang berlebihan pada ramuan.

Ribi menyodok siku Dave pelan, Dave menoleh.

“Apa kau yakin akan meninggalkanku di tempat ini?” Bisiknya.

Dave mengangguk pasti. “Ini adalah tempat yang paling tepat.” Jawabnya lalu memandang lagi ke arah Argulus. Ribi mengerucutkan bibirnya, “Tempat yang paling tepat?” Ulangnya sepelan mungkin dengan dongkol. “Yang benar saja.” Ribi makin sebal.

“Nah, nak” kali ini Argulus memandang ke arah Ribi. “Kau akan tinggal di tempat ini mulai sekarang. Kau bisa tinggal di salah satu kamar yang ada disini. Terserah-terserah. Pilih salah satu dan tata sendiri sesukamu. Kau juga boleh membersihkan tempat ini. Semuanya. Terserah. Sesukamu.” Dia terkekeh. “Tapi jangan masuk ke ruang bawah tanah.” Mendadak Argulus terlihat galak.

Ribi buru-buru mengangguk. “Ya.”

Dave bangkit, “Aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus menemui Ares di kastilnya. Kuharap kau bisa mengajari dia banyak hal, Argulus. Memnus mengatakan padaku bahwa dia juga bisa menjadi penyihir yang lumayan cakap.”

Argulus mengangguk, “Memnus ya? Anilamarry itu. Oh aku jadi merindukan Kendr milikku.”

“Kudengar anilamarrymu tewas saat perang itu ya?”

Argulus bergumam tidak jelas dalam anggukannya. Dave mengabaikannya dan memandang Ribi yang masih cemberut. “Kau harus bersikap baik selama disini.” Pesannya pada Ribi.

“Ya.” Jawab Ribi singkat.

“Jangan membuat Argulus marah. Menurutlah pada semua perintahnya dan-“

“Ya. Ya. Ya. Ya.”

Dave memandangnya lurus-lurus. Menyentuh kepala Ribi dengan tangan kirinya. Dan dia menunduk. Sehingga kepalanya hanya berjarak sekitar lima sentimeter dari kepala Ribi. “Dan berhentilah bersikap tidak sopan seperti itu ketika aku berbicara. Aku bisa mengubahmu menjadi tikus kecil yang kuhadiahkan pada anjing-anjing Britani kelaparan di tepi hutan Zhitam bagian utara. Meskipun sekarang kau tidak tahu seperti apa anjing Britani itu, kau akan memohon-mohon maaf padaku ketika Argulus sudah memberimu pelajaran mengenai makhluk-makhluk buas di dunia ini. Dan Gabrietta, kau juga harus mulai bersikap hormat padaku. Lakukan juga hal yang sama selama kau disini. Jangan cerewet. Jangan membantah dan bersikaplah baik. Jangan merepotkan Argulus. Patuhlah padanya.”

Ribi menelan ludah. Mata Dave yang berkilat-kilat ketika dia berbicara dengan dingin dan tegas kepadanya membuatnya tahu bahwa Dave benar-benar serius dengan ucapannya. Ribi benar ketika dia merasa bahwa Dave punya aura intimidasi yang kuat di awal pertemuan mereka.

“Y-ya. Ak-aku minta maaf.” Ribi tergagap menjawab.

Dave menyeringai. “Bagus.” Katanya sambil menepuk-nepuk kepala Ribi beberapa kali sebelum melepaskannya. Terus terang Ribi kesal diperlakukan seperti itu. Tapi dia tidak akan melawan. Sudah cukup untuk hari ini. Ribi pikir tidak baik membuat seorang anak laki-laki, yang bisa memanggil singa aneh, dan perempuan cantik menyebalkan serta mengeluarkan emas dari udara kosong, marah padanya.

Mereka menoleh ketika mendengar kekeh Argulus. “Kau harus mendengarkan dia, nak. Dave mahir sekali melakukan transfigurasi. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membuat dia marah padaku.”

Ribi kembali menelan ludahnya dan merasa bersyukur sudah mengambil keputusan yang tepat dengan meminta maaf pada Dave.

“Baiklah aku harus pergi sekarang.” Dave berjalan ke arah pintu. Argulus dan Ribi mengikutinya sampai di luar pintu. Dave terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Ketika Dave sudah melewati batas pagar rumah Argulus, dia sudah tidak tampak dimanapun lagi ketika Ribi mengedipkan matanya tak kurang dari sedetik. Ribi mencari-cari, mengedarkan pandangannya ke seluruh tampat ini.

“Nah.” Argulus menepuk pundak Ribi. “Sekarang, kau bisa mulai dengan membersihkan rumah dan kamar yang kau pilih. Kuharap dua hari lagi setelah aku keluar dari ruang bawah tanah, keadaan rumah ini sudah jauh lebih baik.”

“Dua hari lagi?”

“Ya-ya. Tentu saja. Dua hari lagi. Aku masih punya pekerjaan yang harus kuselesaikan di ruang bawah tanah. Dan jangan ganggu aku selama aku disana. Kau mengerti?”

Argulus berbalik masuk ke rumah ketika Ribi mengangguk dengan enggan. “Yang benar saja. Dua hari ini aku cuma akan bersih-bersih rumah jelek ini. Menyebalkan.” Omelnya pelan.

“Oh aku mendengar gerutuanmu, nak.” Argulus terkekeh.

“Maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Ribi buru-buru mengejar Argulus. Masuk ke dalam rumah.

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Thanks Bielz..
    Hemm, umur Dave ya?? Kalo Ribi bilang Dave mungkin seumurannya, dan sementara Ribi sendiei 17 tahun, mungkin Dave juga sekitar itu. Bisa lebih atau kurang. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published.