Xexa – Foster

Fred nyaris saja melemparkan mantera siksaan ke anilamarrynya ketika Ahriman yang muncul mendadak ketika dia berjalan sendirian kembali ke tempat teman-temannya yang lain, membuatnya terlonjak kaget.

“Kau membuatku terkejut.” ucapnya dengan nafas tak teratur. Dengan dengusan setengah kesal, dia menyelipkan kembali tongkat sihirnya.

“Ada apa? Tak biasanya kau muncul tanpa ada panggilan dariku?” tanyanya sambil menatap Ahriman yang mengambil wujud laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam yang menutupi seluruh tubuhnya. Menyisakan seraut wajah yang nampak terlalu serius untuk usia setua itu.

“Anda sudah tahu siapa anda sebenarnya, bukan?”

Kening Fred berkerut dalam, matanya menyipit, “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Anda tahu jelas apa maksud saya.” Si laki-laki tua menatap ke arah pergelangan hingga punggung tangan kiri Fred yang masih terbebat kain kumal.

“Bagaimana bisa ka—“

“Saya selalu mengawasi anda, pangeran.”

Pangeran? Bahkan di telinga Fred, panggilan itu terasa asing baginya. Dia tahu jelas apa makna dari simbol di telapak tangan kirinya setelah pelarian mereka dari wilayah Landis. Dan selama itu pula dia tidak pernah tenang memikirkan bagaimana bisa itu dia. Dulu, Fred selalu penasaran tentang orangtuanya, namun rasa penasaran itu sudah lama mati ketika dia hidup bersama kaum liar. Perlakuan kejam mereka padanya tak memberinya waktu untuk memikirkan hal lain selain usahanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Fred tahu benar bahwa seseorang telah mengikat simbol itu dengan sihir yang sangat kuat sampai akhirnya entah bagaimana—mungkin karena pengaruh ledakan sihir api biru Ribi—ikatan itu terceraikan dan simbol itu kembali bertahta di tempatnya. Tapi sepanjang ingatannya, tak satupun yang berhubungan dengan penyihir. Yang bisa diingatnya hanya kaum liar. Penyihir pertama yang diketahuinya hanyalah Argulus. Dan laki-laki itu jelas tak tahu menahu tentang ini, Fred yakin sekali.

Dan sekarang, di depannya, anilamarrynya yang sebelumnya begitu dingin tak pernah terlalu mempedulikannya, mendadak membicarakan hal ini padanya. Memanggilnya pangeran dan mengatakan bahwa dia selalu mengawasi Fred selama ini.

“Kau mengawasiku? Sejak kapan?”

Mata sipit laki-laki tua di depannya menatapnya, “Sejak Mahha Miranda melahirkan anda. Sejak saya bisa mewujud lagi dan bukan hanya sebagai angin yang cuma mengelilingi tubuh Mahha Miranda. Saya mengawasi anda sejak awal kehidupan anda, pangeran.”

Mata Fred membulat, “K-kau..” dia kehilangan kata-katanya. Dia hanya tahu jika Ahriman menjadi anilamarrynya ketika dia akhirnya menjadi seorang Sage, penyihir level tertinggi. Tapi jika simbol ini memang benar, dan dia adalah.. Fred menekan kepalanya. Tak sanggup menerima kebenaran akan dirinya sendiri. Dan ucapan Ahriman menguatkan segalanya. Hanya keturunan Mahha dan keluarga kerajaan yang akan memiliki anilamarry secara langsung ketika mereka lahir di dunia ini.

“Saatnya membalas semua yang terjadi pada anda, pangeran.”

***

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tetap pada tujuan awal kita bukan?” Ares menatap Dave, menunggu. Mereka berempat sedang duduk membentuk lingkaran kecil, memutuskan apa yang selanjutnya akan mereka lakukan.

“Tentu saja,” jawab Dave cepat, “Xexa akan tetap menjadi tujuan kita, meskipun kita melenceng sebegini jauh.”

“Berarti kita harus mencari perbatasan Thussthra dan Mozaro dari sini.” tukas Fred, “Apakah kita bisa menggunakan anilamarry kita untuk mengetahui dimana tepatnya sekarang kita berada? Atau seberapa jauh yang kita butuhkan untuk mencapai perbatasan.”

Dave mengangguk, “Itu yang terbaik karena kita jelas tak bisa menggunakan sihir teleportasi karena tak satupun dari kita pernah mengunjungi Thussthra.”

“Aku tidak bisa memanggil Barielle. Kami terlibat pertengkaran kecil. Aku tidak mau membuang energi sihirku dengan sia-sia hanya untuk berdebat dan memaksanya melakukan ini.”

Ribi tersenyum kecil, sedikit iri sebenarnya. Dia tahu bahwa hubungan antara anilamarry dan penyihir pemilik memang rumit. Tapi tetap saja, dia berharap bisa memiliki anilamarrynya sendiri kelak ketika dia menjadi level enam atau tujuh. Yang bisa berarti masih lama sekali.

“Kurasa kau harus menyuruh anilaarrymu, Fred.” Dave mendesah, “Aku juga sedang tidak ingin berdebat dengan Memnus.”

“Tentu saja.” Fred tertawa. Sebentar kemudian merapalkan mantra pemanggilan dan anilamarrynya yang berwujud kumparan asap muncul tak lama kemudian. Begitu Fred mengucapkan perintahnya, asap itu lenyap. Baik Dave maupun Ares saling melempar pandang melihat kepatuhan anilmarry milik Fred. Tak ada bantahan, sanggahan, atau komentar-komentar tidak penting yang terdengar.

“Aku berharap Memnus bisa sedikit saja seperti anilamarrymu itu.”

***

Ini sudah hari kedua sejak Ahriman kembali dan memberitahu mereka bahwa perbatasan dengan Mozaro tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang. Tiga hari berjalan ke arah utara dan mereka akan sampai di hutan perbatasan antara Thussthra dan Mozaro. Yang mana artinya adalah besok mereka akan sampai di hutan itu.

Dave melemparkan ranting-ranting kering di dekatnya ke arah api unggun yang ada di depannya. Dia duduk sendirian, sementara Ares, Ribi dan Fred sedang tertidur. Ini adalah gilirannya berjaga dan dia menggunakannya waktunya itu untuk memikirkan banyak hal yang sudah menganggunya sejak dia meninggalkan kerajaan Lord Landis.

Edna..

Seberapa kuatpun dia berusaha menyingkirkan nama itu dari kepalanya dan mencari prioritas lain. Nama itu akan kembali dan memenuhi kepalanya. Dia seharusnya lebih fokus memikirkan bagaimana caranya mencari dan menemui seorang peri hutan bernama Foster, seperti yang dulu ibunya katakan. Tapi setiap kali melihat Ribi, semuanya mengabur. Ucapan Lord Landis dan Memnus tentang Edna menguat dan dia hanya akan mendesah lelah.

Dave mendongak, menatap taburan bintang yang memenuhi langit Tierraz, untuk pertama kalinya dia merasa lelah dan kebingungan, juga ragu. Apakah dia bisa menyelesaikan semua ini? Pencarian Xexa, kemungkinan bertarung dengan saudaranya sendiri dan juga mengendalikan kelahiran kembali dari Edna.

Mendadak dia teringat sesuatu, dia langsung mengumamkan mantra pemanggilan dan sedetik kemudian, mewujud dari kabut yang memadat, Memnus menatapnya dengan kesal dalam wujud kesenangannya; anak laki-laki berkulit cokelat gelap.

“Oh, pangeran..” desahnya panjang, “Tidak bisakah kau biarkan aku beristirahat lebih dari dua hari?”

Mengabaikan Memnus, Dave langsung bicara dengan cepat, “Kuperintahkan kau kembali ke Zerozhia, Memnus. Temui Azhena dan peringatkan dia tentang Actur Gllarigh. Tidak. Perintahkan Azhena langsung menangkap dan memenjarakan laki-laki itu di penjara utama Zerozhia. Suruh Azhena menginterogasi Actur dan menggunakan cara apa saja untuk mengetahui apa sebenarnya rencana Actur dan siapa saja yang terlibat bersamanya.” dia berhenti sebentar, “Aku mengikatmu dengan perintah ini dan jangan kembali sampai kau mendapatkan semua itu.” lalu tangan kirinya terangkat dan mantra lain terucap dari bibirnya dengan lancar dan cepat.

Si anak laki-laki yang tidak menyangka pada semua tindakan Dave hanya bisa menganga ketika sulur berwarna ungu pucat mengikatnya dalam ikatan tak kasat mata. Perintah formal penyihir pemilik. Ini adalah kali pertama Dave melakukan ini, yang berarti ini adalah masalah serius baginya. Karena Memnus tak akan pernah punya celah untuk mengelak atau sedikit bermain-main dengan tugasnya. Yang mana sering sekali dilakukannya.

Memnus bersedekap, “Kau yakin dengan apa yang kau lakukan?”

“Pergilah Memnus.” ucap Dave pendek.

“Sebentar saja, beri aku waktu.”

Dave menghela nafas, dia tahu jika dia menolak, Memnus tak akan bisa melawan dan anilamarrynya itu akan langsung pergi. Namun entah kenapa akhirnya dia mengangguk.

“Ada apa?”

“Aku tidak berpikir jika Actur Gllarigh cukup penting hingga kau melakukan ini semua padaku. Kau hanya perlu memberiku perintah biasa dan aku bisa langsung kembali padamu setelah aku bicara dengan Azhena. Tapi dengan semua mantra pengikat ini, aku tidak akan bisa kembali padamu sampai aku selesai dengan si pengkhianat. Artinya, meskipun kau dalam situasi berbahayapun, aku tidak bisa membantu.”

“Maka kau bisa melakukan perintahku dengan cepat jika kau sebegitu perhatiannya pada keselamatanku.” cibir Dave. Dia tahu jika Memnus benci pada sesuatu yang mengikat.

Tapi si anak laki-laki berkulit cokelat hanya mendengus, “Bagaimana jika si Gllarigh ini hanya umpan?”

“Maksudmu?”

Memnus mengangkat bahunya, “Hanya menebak. Ada begitu banyak siasat dalam perang ataupun pemberontakan, Dave. Aku hidup cukup lama untuk bisa memberitahumu bahwa banyak hal cerdas bisa dilakukan oleh musuhmu. Ingat bagaimana Alzarox yang sekuat itu saja bisa dijatuhkan dan dikurung oleh Mevonia. Atau ingat bagaimana Luca dihabisi setelah titik lemahnya ditemukan.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Memnus?”

“Mengingatkanmu agar tidak gegabah, pangeran muda. Kau masih harus mencemaskan keberadaan kakak laki-lakimu.”

Dave menghela nafas lelah, “Pergilah.”

Memnus tersenyum tipis, “Sesuai perintahmu.” Dan si anak laki-laki langsung lenyap, meninggalkan Dave dengan pikiran yang lebih keruh dari sebelumnya. Dia tidak salah bertindak, dia terus menanamkan pemikiran itu berulang-ulang. Bukankah memang hobi Memnus untuk membuatnya kebingungan? Dia tidak perlu mengkhawatirkan hal lain.

Dave memejamkan matanya beberapa detik, mengambil nafas panjang dan kembali sibuk dengan pikirannya lagi. Sementara itu, tak jauh darinya, Fred yang terbaring memunggungi posisi Dave, membuka matanya dalam diam. Percakapan Dave dan anilamarrynya itu terekam nyata di dalam pikirannya.

***

“Nah kita sudah di sini sekarang.” ucap Ares ketika mereka akhirnya berhenti, merasakan sihir perbatasan yang menyelubungi pepohonan di depan mereka.

“Apa kita tak bisa lewat begitu saja?” Ribi memandang mereka bergantian.

“Penyihir penjaga perbatasan akan tahu ada yang melewati perbatasan tanpa izin, Gabrietta.” terang Ares, “Bukan penyihir Thussthra yang perlu dicemaskan. Tapi penyihir penjaga perbatasan dari Mozaro. Tidak terlalu merepotkan jika memang harus melawan mereka. Hanya saja aku lebih memilih tidak membuang-buang waktu untuk berurusan dengan mereka. Urusan kita lebih penting.”

“Tapi kenapa tidak ada sihir perbatasan antara Zerozhia dan Mozaro? Kita bukannya lewat begitu saja ketika itu?” Ribi masih ingat dengan jelas bagaimana hutan buatan yang menjadi perbatasan antara Zerozhia dan Mozaro. Di sana jelas tidak ada sihir perbatasan seperti yang ada di depan mereka sekarang.

“Mereka terlalu takut pada Zerozhia. Apalagi memang.” Ares mencemooh.

“Tapi sebenarnya apa yang kita cari di hutan perbatasan ini, Dave?” tanya Fred mengabaikan percakapan Ares dan Ribi.

Pertanyaan itu langsung membuat Ares dan Ribi yang semula sibuk dengan pembicaraan mereka, langsung menoleh ke arah Dave.

“Fred benar, apa yang sebenarnya sedang kita cari, Dave? Kau hanya berkata bahwa kita harus menuju hutan perbatasan antara Mozaro dan Thussthra.” Ares mengerutkan keningnya, baru menyadari tentang hal ini.

“Kita harus mencari seorang elf bernama Foster yang tinggal di hutan perbatasan ini.”

Ares memaki pelan, “Oh tidak, jangan para elf lagi. Aku sudah muak dengan pengalaman kita bersama para elf liar.”

“Aku bahkan tidak tahu apa Foster yang kita cari ini adalah elf liar atau bukan.” sela Dave setelah menemukan wajah Ares yang tidak bersemangat.

“Apa kau tahu dimana tepatnya kita bisa menemukan Foster?” Fred menyela.

“Em, teman-teman.. kurasa kita tidak perlu mencari lagi.” Ribi mendadak mengeraskan suaranya dan tiga lainnya langsung menatap ke arah Ribi dengan tidak mengerti. Mereka mengikuti ke arah mana mata Ribi memandang. Dan segera saja, ucapan Ribi menjadi masuk akal.

Di sekeliling mereka—bahkan dari dahan-dahan tinggi pepohonan—sekumpulan peri hutan sudah mengepung mereka dengan anak panah yang siap dilesatkan jika ada sedikit saja gerakan dari mereka.

Ares mendesah, “Aku benci para elf.”

Tapi sepertinya Ares harus menelan apa yang sudah dikatakannya ketika seorang laki-laki dengan tubuh tegap berjalan mendekat ke arah mereka. Laki-laki itu juga elf, sudah jelas, dari telinga runcingnya dan pakaian khas para elf, siapapun tahu jelas siapa dia. Ares harus mengakui jika yang satu ini menarik. Dia sudah terbiasa melihat ketampanan para peri hutan laki-laki. Tapi yang berjalan ke arah mereka memiliki aura yang berbeda. Rambut kecoklatannya panjang dan iris biru safirnya jernih, menatap padanya dengan tatapan hangat, alih-alih mengancam. Usianya terlihat seperti manusia yang berada di awal tiga puluhan, tapi meskipun begitu, Ares tahu benar bahwa menilai usia seorang peri hutan dari wajah mereka sangat tidak bijak.

Sang elf mengangguk dan memberikan salam begitu dia berhenti di depan mereka, “Apakah kalian penyihir dari Zerozhia?”

Bahkan suara itu terdengar sangat ramah di telinga Ares.

Dave mengangguk, “Aku Dave Michail Miranda, pangeran Zerozhia. Jika kau adalah elf yang berada di pihak Lord Lagash, kurasa kau tahu kenapa aku ada di sini.”

Senyum tipis si elf tercipta, dan Ares bisa merasakan dirinya seolah meleleh. Dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dia mengerjapkan matanya berulang kali, menghilangkan pikiran-pikiran liar di kepalanya. Dia harusnya siaga, jika elf di depannya bukan salah satu dari rakyat Lord Lagash dan malah bawahan dari Lord Landis, dia harus bersiap dengan adanya pertarungan. Lagipula, bukankah dia selama ini menyukai Dave? Bagaimana dia bisa berpikir dan bersikap seperti ini kepada orang lain? Konyol sekali.

Si elf mengangkat tangannya dan semua busur dan anak panah yang siaga langsung diturunkan dalam satu gerakan serempak. Dia membungkuk lagi, sekali ini memberi salam dalam gerakan formal.

“Selamat datang, pangeran. Lord Lagash sudah memberikan perintah untuk selalu menyambut dan membantu kelompok anda jika anda datang dan bertemu dengan elf manapun yang berada dalam kontrol kekuasaannya. Dan kami, adalah salah satunya.”

Dave, Ares, Ribi dan Fred tak bisa menahan diri untuk tidak menghembuskan nafas lega. Ares tersenyum terlalu lebar dan Ribi meliriknya dengan tidak mengerti. Sementara Fred sibuk mengamati sepasukan prajurit elf yang langsung mundur dan menghilang pergi, hanya menyisakan beberapa saja di belakang si elf yang sebelumnya berbicara dengan mereka.

“Terima kasih,” ucap Dave, “Aku bersyukur bertemu dengan kalian dan bukannya elf liar.”

“Apakah kalian mendapat masalah dengan mereka sebelumnya?”

Dave mengangguk, “Sedikit.”

Si elf tersenyum tipis, “Mereka memang sedikit tidak ramah.”

Ares mendengus dan Ribi menahan diri agar tidak tertawa. Sulit membayangkan Aeldren dan Lord Landis bersama para elf liar lainnya disebut sedikit tidak ramah.

“Apakah kau membutuhkan bantuan, pangeran? Atau jika tidak, kau bisa melanjutkan apapun itu yang sebelumnya akan kalian lakukan. Kelompokku tidak akan menganggu kalian. Hanya kuperingatkan, jangan menembus sihir perbatasan itu begitu saja. Para interoir Mozaro benar-benar tidak bisa diandalkan untuk berkompromi.”

“Aku sudah mengatakan itu pada Dave.”

Mata si elf langsung mengarah ke Ares, dan Ares bisa merasakan panas menjalar di tubuhnya ketika mata mereka bertemu. Sepasang iris biru safir itu terasa membuatnya tenggelam sampai dia sulit menyesuaikan nafasnya.

“Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu sekarang.”

Ares bersyukur si elf segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Dave. Belum pernah Ares merasa segugup ini dan dia bisa merasakan jantungnya berdegup keras sekali. Ribi yang sedari tadi memperhatikan Ares, tersenyum kecil.

“Jika itu berada dalam kemampuanku, aku akan dengan senang hati membantumu, pangeran.”

“Aku harus bertemu dengan seorang peri hutan bernama Foster yang tinggal di hutan perbatasan ini.”

Si elf tersenyum misterius sebelum berkata pelan, “Kau sedang berbicara dengan dia sekarang, pangeran. Aku Foster.”

***

Dave tidak menyangka akan semudah ini untuk bisa bertemu dengan Foster, yang rupanya adalah si elf yang sedang bicara dengannya. Dia mengundang mereka menuju perkampungan kecil para elf kelompoknya. Jika Dave harus mencari sendiri tempat ini, dia yakin dia tak akan pernah bisa menemukannya.

Foster dan beberapa pengikutnya membimbing mereka menuruni lembah terjal hingga masuk ke gua sempit di balik air terjun yang ada di bawah sana. Mereka berempat harus benar-benar berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset karena batu-batuan yang menjadi pijakan mereka diselimuti lumut licin dan basah. Angin menetes-netes dari atas mereka. Dave hanya bisa menggeleng ketika melihat para elf yang malah melompat dengan cepat dan lincah seolah-olah mereka sedang memijak tanah datar.

Keempatnya bernafas lega ketika akhirnya mereka keluar dari celah ini dan menemukan lembah rimbun dengan pondok-pondok kayu yang serasa menyatu bersama alam di sekitarnya. Enam penjaga yang berada di mulut gua mengangguk hormat ketika Foster melewati mereka.

Foster membawa mereka duduk ke ruang duduk terbuka yang beratap rerantingan terjalin dengan anggur-anggur matang menggantung. Ketika Dave, Ares, Ribi dan Fred duduk di atas kursi batu yang terasa dingin, beberapa elf perempuan datang dan menyuguhkan beraneka macam buah-buahan dan minuman di depan mereka.

Dave mengumamkan terima kasih sebelum kembali menatap Foster yang duduk di kursi batu di sampingnya.

“Sebenarnya jika bisa, aku ingin bicara hanya berdua saja denganmu.”

Foster memiringkan kepalanya dan menatap Dave dengan mata menyipit, “Berdua?”

Dave hanya mengangguk meskipun dia jelas merasakan tatapan bingung ketiga rekannya yang lain. Ares bahkan jelas-jelas menunjukkan ekspresi bertanya dan wajah kesal padanya. Tapi Dave mengabaikannya sebab dia tidak bisa membagi informasi ini dengan sembarangan. Dia mempercayai teman-temannya, tapi pengalaman dengan Actur Gllarigh membuatnya belajar tentang kepercayaan yang baru.

“Baiklah kalau begitu. Kau bisa ikut denganku, pangeran.” Foster berdiri, mengangguk kepada Ares, Ribi dan Fred ketika dia membimbing Dave untuk mengikutinya.

Mereka berjalan cukup jauh menuruni tangga-tangga batu yang berakhir pada sebuah ruang duduk terbuka lain. Kesunyian menyelubungi tempat itu. Hanya suara-suara alam yang terdengar dan tidak ada kebisingan lainnya. Foster berbalik, tersenyum.

“Sekarang kau bisa mengatakan apa yang ingin kau bicarakan denganku, pangeran.” ucapnya sambil merentangkan tangannya, “Tak akan ada siapapun yang mencuri dengar di tempat ini. Ada sihir lama di sini jika kau bisa merasakan getar kubah sihirnya.”

Dave mengangguk, “Aku tahu.” jawabnya sambil berjalan memutari meja batu menuju tempat Foster berdiri. Dengan pelan, dia mengumamkan mantera sebelum mengulurkan tangannya yang tergenggam pada Foster. Ketika Dave membuka genggaman tangannya, dia bisa mendengar nafas Foster yang tercekat.

“I-itu..”

“Hanya tiruan. Ibuku memberikannya padaku. Dari caramu melihatnya, aku yakin kau sudah tahu bahwa ini adalah batu segel Xexa.”

Foster menarik nafas panjang, mengalihkan pandangannya dari batu kristal hitam di atas telapak tangan Dave, “Tentu saja itu. Kakekku menjaga batu itu sejak Mahha Mevonia menitipkannya padanya.”

“Menitipkannya? Bukankah Xexa—“

“Dicuri dan hilang dari Zeyzga?” Foster menggeleng, “Ingatkah kau bahwa tak ada seorangpun kecuali Mahha dan keturunannya yang bisa memasuki Zeyzga? Sihir kuno itu masih terjaga, pangeran. Mahha Mevonia sendiri yang membawanya keluar dari Zeyzga. Ketika itu dia tidak bisa membawanya langsung ke Merendef, dan akhirnya menitipkannya pada kakekku. Namun kisah selanjutnya memang benar, pengeran. Xexa pada akhirnya dicuri dari penjagaan kami.”

“Kalian membiarkan Xexa dicuri?” Dave tak bisa menahan dirinya untuk tidak berkata dengan marah.

Foster mengerutkan keningnya, “Pengkhianatan yang datang dari kaummu yang membuat kami kehilangan Xexa, pangeran. Seorang penyihir kepercayaan Mahha Mevonia yang datang bersamanya kemari, mengkhianatinya. Dan perlukah kuberitahukan padamu juga, jika penyihir itu dan anak buahnya yang menyerbu tempat ini berhasil membunuh kakek dan ayahku ketika dia mengambil Xexa dari kami.”

Dave memalingkan wajahnya dengan cepat. Berusaha menguasai dirinya dengan semua yang didengarnya dari Foster. Dia mengusap wajahnya dengan gusar.

Apalagi sekarang?

“Aku menyesal mendengar hal itu.” katanya pada akhirnya, “Aku tidak tahu apapun tentang hal itu. Yang kutahu hanya ibuku memberitahuku bahwa kau mungkin saja bisa memberitahuku dimana Xexa berada dengan membawaku menuju jalan ke tempat tinggal sang putri penjaga.”

“Apa yang dikatakan Mahha Miranda tidak sepenuhnya salah, pangeran.”

Dave memutar lehernya cepat sekali, sampai dia merasakan lehernya terasa sakit. Tapi dia khawatir jika mungkin saja dia hanya salah dengar. Namun mendapati wajah Foster yang menatapnya dengan serius, Dave yakin dia tidak salah dengar.

“Setelah peristiwa pencurian itu terjadi, Mahha Mevonia berusaha mendapatkan kembali Xexa. Banyak yang berkata Mahha Mevonia berhasil memperoleh kembali batu segel tersebut. Dan belajar dari apa yang terjadi, Mahha Mevonia menyembunyikan Xexa tanpa seorangpun yang tahu dimana. Kecuali satu orang, sang putri penjaga yang kau sebutkan tadi, pangeran.”

“Bantu aku menemuinya.”

Ekspresi Foster langsung berubah aneh, dia mendesah. Menggeleng pelan, “Sayangnya itu tidak mungkin, pangeran.”

“Apa maksudmu dengan tidak mungkin?”

“Sang putri penjaga sudah lama mati dan rahasia keberadaan Xexa terkubur bersama kematiannya.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

21 Comments

  1. Astaga . . Apa fred akan berkhianat ?
    Oh . . Tidak . . Ribi menyukai Fred, apa Ribi akan berada di sisi Fred .
    Siapa sbnar nya Putri penjaga ?
    Luca blom kluar . .

  2. Siapa?siapa putri penjaga? Penasaran tingkat tinggi!!!jangan bilang kalau dia itu???? Nah jadi kepo kan gara2 kemunculan edna di RU….

  3. Munkinkah Putri penjaga itu Edna?????
    Kan udah mati lama…….
    Terus siapa di balik semua ini??????

  4. Kenapa feelingnya ngga enak yah sama fred…
    Udh sempet curiga sih kl fred itu pangeran pertama, gara2 dia punya animalmarry nya lbh kuat…

    Edna kah si putri penjaganya? Ya ampun.. Baca punya kamu itu slalu berakhir dengan teka teki…

  5. Aku udah baca semua cerita kakak dr hv smpe yg ini bagusss bagus semua kakkk, ditunggu ya kak kelanjutannya, ku bakal jd penggemar setia kalo ini di buat buku hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.