Xexa – Fred

“Aku ingin bicara denganmu.”

Azhena menoleh sejenak, “Bukankah sedari tadi kita sedang berbicara.”

Dave mengayunkan tangan kirinya dan sebuah kursi berlengan yang nyaman mengarah ke dekatnya. Duduk disana, dia menghadap ke arah meja utama Azhena, “Maksudku pembicaraan yang lebih serius, bibi.”

Mendengar bagaimana seriusanya nada suara Dave, Azhena memilih mengikuti apa yang dimau Dave dan dia melangkah kembali ke belakang mejanya, duduk disana dan menatap langsung ke wajah Dave yang bersinar tegas, “Jadi ini tentang apa?”

“Beberapa waktu yang lalu, aku memasuki dunia lain.” Dave bisa melihat bagaimana raut wajah Azhena berubah, tapi wanita itu mencoba untuk diam dan mendengarkan, “Aku mencari tahu tentang Xexa.”

“Lalu?”

Dave menghela nafas panjang, “Aku tidak menemukan apapun.” Katanya frustasi.

Mengabaikan Dave dan menarik sebuah buku di dekatnya, dia membolak-balik buku itu. Membiarkan Dave menunggu. Tapi ketika Dave melihat Azhena tidak akan mengatakan apapun, dia melanjutkan, “Aku bahkan sudah bertanya pada Argulus tapi dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai Xexa. Tapi aku percaya bahwa dia hanya tidak ingin memberitahuku dan bukannya tidak tahu apa-apa.”

Azhena masih saja membolak-balik buku itu. Tanpa menatap Dave, dia berkata dengan suara dingin, “Lalu kenapa kau tidak menyerah saja?”

“Tidak akan.” Jawab Dave keras, “Aku tidak akan menyerah, bibi. Kau tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tahu kenapa kakakku dikorbankan hanya untuk hal ini.”

Dengan marah Azhena mengangkat wajahnya, “Hanya untuk hal ini?”ulangnya tidak percaya, dia menegakkan tubuhnya dan menatap lurus-lurus pada Dave, “Orangtuamu mengorbankan banyak hal hanya untuk hal ini, kau harus tahu itu Dave.” Dave membuka mulutnya untuk menjawab tapi Azhena sudah bicara lagi, “Kau harus belajar menghargai hal itu. Kau bahkan tak perlu untuk kuingatkan bukan, bahwa ayahmu bahkan harus kehilangan nyawanya untuk itu.”

“Aku tidak akan pernah melupakan hal itu.” Ucap Dave tegas, “Hanya saja aku perlu tahu kenapa. Bukannya hanya omong kosong untuk menyelamatkan dunia ini atau apalah itu.”

“Dan ketika kau sudah tahu, apa yang akan kau lakukan Dave? Membawa Danesh kembali kesini dan membiarkan semua pengorbanan Mahha Michail dan Mahha Miranda sia-sia?”

Dave menggeleng, “Aku tidak tahu.” Dia menyandarkan punggungnya ke belakang dengan lelah, “Aku hanya ingin tahu dimana kakakku sekarang. Kenapa bisa dia menerima kutukan ini? Kenapa bukan aku?”

Mata Azhena memindai Dave dengan tajam, “Kenapa kau tidak mensyukuri saja hal ini dan berhenti bersikap bodoh lagi. Lebih baik kau gunakan banyak waktumu untuk lebih fokus mempersiapkan dirimu memimpin Zerozhia.”

Dengan malas, Dave memutar bola matanya, “Itu masih lama.” Jawabnya asal.

Diletakkannya buku yang dipegangnya ke meja dan Azhena kembali memenjara pandangan Dave, “Hanya beberapa hari lagi, Dave. Bagiku itu tidak bisa dikategorikan sebagai masih lama.”

“Bisakah kita tidak usah membicarakan masalah ini? Aku datang ke tempat ini bukan untuk membicarakan masalah ini.”

“Tapi aku berhak mengingatkan hal ini kepadamu. Kau tahu bahwa itu tanggung jawabmu dan kau tidak bisa mengabaikannya seolah itu hal yang tidak penting. Aku sudah cukup menolerir semua tindakan main-mainmu selama ini, Dave. Tapi ketika tiba waktunya kau harus mengambil tempat ini, aku tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan. Sedikitpun.”

Mata Dave memicing, dia menegakkan tubuhnya dengan jengkel, “Sudahlah, bi. Jangan bersikap seolah-olah kau adalah ibuku.” Mulut Dave menutup cepat, menyadari bahwa dia sudah mengatakan hal yang keterlaluan pada Azhena.

Azhena mengambil nafas panjang, menautkan kesepuluh jarinya di bawah dagunya, menggunakannya untuk menyangga kepalanya, “Aku memang bukan ibumu.” Katanya lembut seolah-olah Dave tadi tidak mengatakan sesuatu yang kasar, “Tapi aku punya janji pada ibumu untuk menjaga dan melindungimu. Jadi berhentilah bersikap seolah kau masih anak kecil, belajarlah menerima apa yang sudah menjadi takdirmu sebagai seorang keturunan Mahha.”

“Aku sudah menerimanya, bi.” Jawab Dave dengan lelah, “Aku sudah menerima semuanya. Hanya masalah Xexa yang membebaniku selama ini. Jika kau menjelaskan padaku tentang ini, aku janji padamu bi. Aku janji padamu bahwa aku akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku sebagai seorang calon Mahha.”

Mata Azhena menyipit, melihat dengan jelas kesungguhan dan janji yang diucapkan oleh Dave. Dia melihat bahwa anak laki-laki di depannya ini sangat mirip dengan ibunya, sikap keras kepalanya, kemauannya yang keras dan tak terbantah. Dia tersenyum tipis, menyadari bahwa Dave akan menjadi Mahha yang hebat jika dia mau. Lalu apakah tepat memberitahu Dave segala hal tentang Xexa? Apakah bijak mengatakannya di umur Dave yang masih dua puluh tahun? Bisakah dia menerima penjelasan yang dituturkannya dengan kepala dingin.

“Apakah Mora masih menolak untuk berbicara denganku?” tanyanya mengalihkan perhatian Dave yang hanya mengangkat bahunya menanggapi pertanyaannya, “Jika Mora sudah bisa memaafkan apa yang kulakukan dua puluh tahun lalu, minta dia datang ke kastil kediamanku dan aku akan mendiskusikan dengannya tentang permintaanmu ini.”

Dave melompat bangun dengan semangat, “Kau janji, bi?”

Azhena mengangguk, “Kau bisa pegang kata-kataku.”

***

“Apakah menurutmu ini penawaran yang akan menguntungkanmu?” Memnus melompat dari bahu Dave dan berubah menjadi seorang anak perempuan sangat cantik seusia Dave yang duduk dengan satu kaki berada di kaki lainnya dan membiarkan kakinya yang jenjang menjuntai indai ketika dia duduk di tepian jendela teratas di kastil kerajaan Zerozhia. Keramaian di beberapa lantai di bawahnya sama sekali tak terasa di bagian teratas kastil ini.

Dave berdiri memegang kaca jendela yang berwarna-warni, Memnus duduk dengan anggun di sampingnya. Dave menghela nafas panjang, “Aku tidak tahu. Tapi aku akan melakukan apapun agar aku bisa mendapat informasi tentang Xexa sebanyak mungkin.”

“Dan seperti yang ditanyakan Azhena, apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu tentang hal itu?”

“Aku juga tidak tahu. Dan jangan menanyakan apa yang sudah Azhena tanyakan padaku. Kau sudah mendengar apa jawabanku tadi dan jawabanku tidak akan berubah.”

Anak perempuan cantik itu mendengus, “Kau sama sekali bukan orang yang menyenangkan.”

“Bukan kau orang pertama yang mengatakan itu kepadaku.”

“Ah ya, dan aku juga tidak akan menjadi orang terakhir yang mengatakan hal tersebut kepadamu.”

“Berbincang-bincang dengan Anilamarry anda, pangeran?”

Dave dan Memnus menoleh bersamaan dan Memnus langsung mentransparankan wujudnya sehingga si penyihir yang menyapa mereka tidak lagi melihat si anak perempuan cantik yang sebelumnya terlihat begitu dekat dengan Dave.

“Ya, kurasa aku hanya punya Anilamarry-ku saja untuk berbincang di tempat ini.” Dave memaksakan senyumnya, dan si penyihir yang menggunakan jubah sutra membalasnya dengan senyum merekah. Dia berjalan mendekat ke arah Dave dan berhenti ketika jarak mereka hanya beberapa langkah. Wajahnya yang runcing dan tegas mengingatkan Dave pada makhluk-makhluk jelek menyebalkan yang sering ditemuinya ketika dia memilih melarikan diri dari tugas-tugas yang Azhena berikan padanya. Meskipun wajah yang berdiri di depannya tidak bisa dikatakan sejelek itu, Dave tetap tidak punya alasan untuk menyandingkan penyihir dewasa di depannya dengan sesuatu yang lebih baik. Lagipula Actur Gllarigh juga bukan sosok yang akan dia hargai di tempat ini. Penyihir kepala departemen urusan penyalahgunaan sihir ini juga bukan merupakan penyihir yang bertabiat baik, Dave jelas tahu obsesinya untuk mendapatkan posisi Azhena.

“Dan saya akan sangat tertarik jika saya bisa tahu apa yang tadi anda bicarakan pangeran. Andai kemampuan mendengar percakapan Anilamarry dengan para penyihir pemilik bukan hanya keistimewaan yang dimiliki oleh para keturunan Mahha.”

“Tuan Gllarigh, aku tidak punya banyak waktu untuk terlibat omongan basa basi denganmu.” Sela Dave dengan wajah bosan. Selalu seperti ini, jika dia masuk ke kastil pemerintahan utama Zerozhia, pasti ada banyak penyihir yang mencoba untuk bersikap sangat baik, ramah, peduli padanya, namun dengan satu alasan. Permintaan.

Actur tersenyum senang, “Sepertinya saya memang harus berhenti bersikap basa basi jika itu yang anda inginkan.” Dia melangkah mendekat dan berdiri di samping Dave, melihat keluar melalui jendela. Dave melirik sedikit dan dia benci melihat semua ini. Wajah sok misterius yang sekarang sedang ditunjukkan Actur, wajah yang seolah menyimpan rahasia yang ingin dia ungkap dengan Dave namun harus dibayar dengan sesuatu yang butuh Dave untuk melakukannya, atau bisa saja bukan Dave, tapi Cuma kekuatan keturunan Mahha yang dimilikinya.

“Saya menunggu begitu lama untuk melihat anda datang ke tempat ini pangeran.” Suara Actur terdengar sangat sopan tapi dibuat-buat, dan itu menyakiti telinga Dave. Seingatnya dia sudah mengatakan bahwa dia tidak menyukai basa-basi. Tapi dia memilih diam dan mendengarkan, Memnus sepertinya juga memilih begitu. Meski dia menggunakan wujud transparan yang tidak bisa dilihat oleh Actur, Dave bisa melihatnya, dia di sisi lain Actur, menyilangkan kedua tangannya, mengamati.

“Anda tidak bisa menghindar lagi pangeran. Sudah cukup lama anda mengulur-ulur waktu untuk melakukan penobatan resmi anda sebagai Mahha. Saya dan semua orang di pemerintahan ini tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kami membutuhkan pemimpin sah kami dan bukannya pemimpin pengganti yang terlihat lebih berkuasa dari anda.”

Mata Dave memicing, pemimpin pengganti? Apakah yang dia maksud adalah Azhena. Dave mendengus, mengerti bagaimana Actur dan entah berapa banyak lagi lainnya tidak menyukai Azhena. Dia sudah lama mengertahui hal ini, Azhena tidak berada di posisi yang cukup baik di mata orang-orang dalam pemerintahan meskipun dia merupakan pemimpin pengganti Mahha. Masa lalu dan garis keturunan Azhena tentu menjadi alasan utama mengapa ini terjadi.

“Jadi saya mohon pangeran. Segeralah mengambil posisi yang memang seharusnya menjadi milik anda. Anda tidak bisa membiarkan Azhena memiliki kekuasaan yang bukan menjadi haknya.”

Dave tertawa, melipat kedua tangannya dan berputar menghadap pada Actur, “Dengar,” katanya geli, “Aku sama sekali tidak tahu bagaimana jalan pikiran kalian semua. Azhena menduduki posisinya sekarang karena ibukulah yang menginginkannya. Aku percaya ibuku cukup punya alasan yang kuat untuk memilih Azhena dan bukannya kau, atau salah satu penyihir lain di Zerozhia.” Dave melihat bagaimana reaksi terkejut penyihir di depannya, matanya membulat dan menatap Dave dengan marah. Tapi dia tidak mengatakan apapun.

“Lagipula aku tidak merasa bahwa Azhena juga menggunakan posisinya untuk melakukan sesuatu yang di luar kuasanya. Dia cukup kompeten dibandingkan kau, tuan Gllarigh. Dan tentang penobatan resmiku, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Azhena sudah mengurus semuanya dan memaksaku melakukannya dalam waktu dekat ini.”

Mata Dave menatap tajam Actur yang membeku dalam kemarahan dan rasa tak terimanya, “Dan kau bisa katakan tentang hal ini pada semua orang yang ada di belakangmu. Aku akan segera menjadi Mahha dan… kupikir tidak akan ada perubahan yang signifikan dalam pemerintahan ini. Aku punya pemikiran yang tak jauh berbeda dari Azhena.”

Lalu tanpa menunggu, Dave berbalik dan meninggalkan Actur yang menatap punggungnya dengan berapi-api. Buku-buku jarinya mengepal dan rahangnya bergetar.

“K-kau salah dalam memilih musuhmu, anak muda.” Desisnya berang.

***

Memnus tertawa keras begitu mereka sudah meninggalkan kastil kerajaan Zerozhia. Dia terus tertawa dalam wujud anak perempuan yang juga sebelumnya juga digunakannya, mereka berdua sampai dalam beberapa detik yang singkat di depan Zeyzga menggunakan kekuatan Dave yang akhirnya kehilangan kesabarannya karena tawa Memnus-yang mirip kikikan anak perempuan manja- benar-benar sangat menganggunya.

“Tidak bisakah kau tutup mulut besarmu itu!” teriak Dave jengkel.

Memnus menggeleng, menahan tawanya, “Astaga, jangan terlalu serius. Aku hanya masih tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi Actur ketika kau mengatakan hal-hal semacam itu.”  Memnus melirik Dave yang memandangnya dengan ekspresi kesal yang tidak berubah, “Oh ayolah Dave, aku hanya menikmati pertunjukkan yang tadi kau lakukan. Kau tahu, caramu melukai harga dirinya begitu hebat. Kau harusnya tahu bagaimana tingginya  harga diri seorang Actur Gllarigh dan bum! Tadi kau membuatnya terlihat begitu memalukan dan konyol karena telah mengatakan hal itu padamu.”

Dave mendengus bosan, “Aku menemui banyak orang-orang seperti dia.”

“Ah ya, aku paham sekali itu. Penjilat-penjilat bodoh yang berobsesi tinggi.”

“Lagipula aku tidak suka caranya mengatakan sesuatu tentang Azhena. Kupikir Azhena tidak layak dibicarakan seperti itu.”

Memnus mencibir, “Jangan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin muntah. Aku tahu kau sebenarnya tidak peduli. Kau bukan jenis yang seperti itu.”

“Bodoh!” Dave memukul kepala si anak perempuan dengan keras dan jeritan melengking terdengar di depan gerbang Zeyzga, “Berhentilah mengatakan hal-hal seperti itu atau akan mengubahmu menjadi kutu secara permanen.” Ancam Dave sebelum dia melangkah meninggalkan Memnus yang mengusap-usap kepalanya.

“Kau benar-benar penyihir pemilik yang kasar, pangeran Dave Michail Miranda!” jerit Memnus kesal sambil berlari manja menyusul Dave yang sudah melewati gerbang Zeyzga yang langsung mengayun terbuka begitu Dave menyentuhkan tanda di tangan kirinya kesana.

***

Ribi memasukkan potongan-potongan sayuran ke dalam panci yang penuh dengan kuah sup mendidih dengan hati-hati. Dia selalu memasak setiap pagi dan malam semenjak dia tinggal di rumah Argulus. Laki-laki tua itu juga sangat menyukai masakannya karena selama ini Ribi tahu bahwa Argulus benar-benar tidak menjaga kesehatan dan pola makannya dengan benar. Setidaknya keberadaan Ribi di rumah ini sedikit berdampak bagus untuk Argulus yang sekarang terlihat lebih sehat.

Menunggu supnya matang, Ribi memandangi api kecil di tungku perapian dengan pikiran dipenuhi hafalan mantra. Dia terbiasa melakukan hal itu. Ribi benar-benar bertekad kuat untuk bisa mempelajari sihir dengan baik. Dia harus bisa membuat Argulus tidak terus marah-marah padanya ketika pelajaran praktek dimulai. Ribi mungkin saja memang sangat bagus dalam semua teorinya, namun kadangkala dia melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat Argulus jengkel ketika mereka mulai mempraktekkan mantra-mantra.

Sayangnya hari ini Ribi tidak akan mendapatkan pelajaran apapun karena Argulus sedang pergi ke pusat kota untuk membeli bahan-bahan ramuannya yang sudah habis. Menurut Ribi itu pemborosan, dia tahu harga bahan-bahan ramuan itu sangat mahal dan Argulus tidak cakap dalam pembuatan ramuan meksipun itu obsesinya. Dia begitu sering gagal dan bahan ramuan yang sudah dipakainya jelas sia-sia.

Bunyi mengelegak supnya yang sudah matang dan bau lezat yang tercium menyadarkan Ribi dari lamunannya. Dia buru-buru mengangkat panci masakannya dari atas tungku ketika dia mendengar suara seseorang yang memanggil nama Argulus. Panggilan itu terus terdengar beberapa kali.

“Ya, sebentar.” Teriak Ribi dari dapur sebelum akhirnya dia berlari menuju pintu rumah Argulus dan membuka pintunya dengan cepat. Sedetik kemudia dia membeku begitu melihat siapa yang ada di depan pintu. Seorang laki-laki muda yang sangat tampan berdiri sopan disana. Matanya yang coklat terang menatap Ribi dengan bingung, “Dimana Argulus?” suaranya yang tegas bahkan terdengar begitu lembut dan melodius di telinga Ribi. Dia terus memandangi laki-laki itu dengan terpesona, menahan nafasnya ketika melihat bagaimana angin menerbangkan beberapa helai rambut hitam laki-laki tersebut. Benar-benar tampan, desah Ribi begitu pelan.  

“Hey! Kau mendengarkanku?”

Ribi mengerjap dan segera menepuk pipinya berulang kali, “M-maaf.” Katanya gugup. Dan dia dengan tergesa-gesa menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya, “A-adakah yang bisa aku bantu?” tanyanya begitu dia sudah mengatasi kegugupannya.

Laki-laki itu tertawa, “Aku tadi sudah bertanya padamu, dimana Argulus? Dan siapa kau? Kenapa kau ada di dalam rumahnya?”

“A-a-ak..” Ribi kehilangan suaranya dan dia kembali gugup setengah mati karena melihat ekspresi wajah laki-laki tersebut ketika tertawa.

Laki-laki itu mengamati Ribi dan akhirnya mengerti, “Astaga baiklah. Tidak baik mengobrol di depan pintu seperti ini. Bagaimana jika kau mengizinkanku masuk dan kau bisa menjawab pertanyaanku dengan tenang.”

“Eh. I-iya.” Ribi mengangguk, membuka pintu lebih lebar dan membiarkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah Argulus. Ribi mengamati bagaimana laki-laki itu berjalan lalu duduk di satu kursi tempat biasanya Ribi belajar sihir dengan Argulus. Laki-laki itu melakukannya tanpa canggung. Seolah-olah dia sudah sering melakukannya. Ribi masih mengamati bagaimana laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri mengamati rumah Argulus.

“Tempat ini terlihat jauh lebih baik daripada ketika terakhir kali aku datang kesini.” Katanya begitu Ribi sudah menyusul duduk di depannya. “Kau yang melakukannya? Membersihkan dan menata rumah ini?” tanyanya lagi.

“Y-ya.” jawab Ribi pendek, masih terpesona pada ketampanan dan aura laki-laki yang duduk di depannya itu.

“Aku Fredderick Colfer. Kau bisa memanggilku Fred. Dan, siapa kau?”

“Gab-Gabrietta tapi panggil saja aku Ribi.” Ribi tersenyum dalam kegugupannya. Jantungnya berdetak cepat ketika dia memperkenalkannya dirinya. Sepertinya dia benar-benar sudah terpesona pada laki-laki ini. Dan siapa tadi namanya, Fred. Fredderick Colfer. Ribi akan mengingat nama itu selamanya.

“Ribi.” Fred mengangguk-angguk, “Jadi kenapa kau ada di rumah Argulus?”

“Aku sedang belajar sihir darinya.” Ribi tidak tahu apakah benar menjawab seperti itu kepada Fred yang bahkan baru beberapa menit lalu dikenalnya. Tapi jawaban itu sudah terlanjur meluncur dari bibirnya dan Ribi tidak bisa menariknya lagi.

“Aku bisa menebaknya. Dari suara larimu yang tergopoh untuk membuka pintu, aku bisa tahu kau tidak-atau belum bisa menggunakan sihir.”

“Ah itu, maaf.”

Fred tersenyum dan Ribi menahan nafas melihatnya, “Kenapa kau harus minta maaf? Aku hanya mengatakan apa yang tadi ada dalam otakku. Nah, Ribi, untuk dirimu, yang terlihat baru saja belajar sihir, apakah itu tidak aneh? Maksudku.. seharusnya penyihir di usiamu sudah cukup bisa menguasai sihir dengan baik.”

Ribi menelan ludahnya. Kenapa mendadak dia merasa seperti diinterogasi. Tapi jika memang seperti itu, Fred benar-benar melakukannya dengan baik. “Aku hanya terlambat belajar.” Jawab Ribi. Dia merasa kali ini dia tidak perlu menjelaskan detailnya. Lagipula bukankah dia harusnya merahasiakan alasannya kepada semua orang karena jika banyak orang tahu dia adalah manusia yang dibawa Dave dari dunia lain tanpa izin. Itu pasti akan menghasilkan masalah yang melibatkan Dave, Argulus dan tentunya, dirinya sendiri.

“Terlambat belajar?”

Ribi tahu Fred tidak percaya padaya, “Aku bukan dari Zerozhia. Aku-“

“Apa kau berasal dari Thussthra?“ potong Fred cepat.

“Eh.” Ribi tidak mengerti, kemudian dia buru-buru mengangguk, “Ya.” jawabnya cepat begitu dia akhirnya memahami pikiran Fred. Ribi sudah belajar banyak tentang dunia ini dalam buku-buku yang diberikan Argulus untuknya. Dia juga sudah tahu tentang empat kerajaan sihir yang ada di dunia ini selain Zerozhia. Ada Mozaro, Thussthra, Alkrez dan Sparzvia. Ribi sudah tahu banyak tentang itu. Dia membaca dan sudah hafal semua di luar kepala. Dia juga ingat bagaimana dulu, ketika pertama kali dia bertemu dengan Dave, Dave juga menebak dia berasal dari Thussthra.

Fred mengangguk-angguk, “Kau memang terlihat seperti perempuan dari Thussthra yang terkenal karena kecantikannya.”

“Ap-?” Ribi tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dan dia langsung menunduk. Pipinya bersemu kemerahan dan dia benar-benar malu. Sementara itu Fred malah tertawa, “Kau benar-benar lucu.” Katanya lagi.

“Tapi,” Ribi segera mendongak begitu mendengar perubahan nada suara Fred, “Kau tidak terlihat seperti keturunan keluarga kerajaan Thussthra, Ribi. Maksudku, Argulus tidak pernah menerima murid kecuali dia adalah keturunan keluarga kerajaan atau dia memiliki kemampuan dan potensi sihir yang luar biasa. Kau..” Fred mengamati Ribi dengan tajam, “..tidak berada dalam dua pilihan itu.”

“A-aku membayar!” kata Ribi keras dan Fred menatapnya dengan tidak mengerti. “Aku membayar lima puluh keping emas setiap bulannya untuk bisa belajar di bawah pengawasan Argulus.”

Ribi melihat kerutan dalam di dahi Fred dan ekspresi laki-laki itu benar-benar tidak bisa ditebak. Keringat dingin keluar dari dahi Ribi, apa dia sudah salah dengan bicara seperti itu. Astaga, apa dia benar-benar dalam masalah sekarang?

“Kau bukan dari keluarga kerajaan. Lagipula untuk orang biasa, lima puluh keping emas setiap bulannya adalah hal yang sangat tidak mungkin. Setahuku Thussthra juga bukan kerajaan yang cukup makmur. Dan satu lagi, Ribi. Argulus bukan tipe penyihir yang akan melakukan semua ini hanya demi uang. Aku mengenalnya dengan baik. Kecuali mungkin saja kau..”

“Tapi dia melakukannya. Dia menerima emas itu setiap bulannya. Kau mungkin saja sudah salah mengenalnya. Argulus mungkin sudah berubah.” Potong Ribi cepat dan dia benar-benar minta maaf karena telah mengatakan hal-hal seperti ini tentang Argulus.

Anehnya Fred malah tersenyum, “Tidak. Guruku tidak berubah.”

“Gu-guru?” Ribi menutup mulutnya dengan tidak percaya.

“Ya. Aku adalah mantan murid Argulus. Aku belajar cukup lama bersamanya. Jadi aku mengenalnya dengan sangat baik lebih dari kau, Ribi. Pasti ada alasan yang sangat kuat kenapa dia melakukan ini. Jadi katakan padaku Gabrietta, apa yang sedang kau sembunyikan dariku?” mata tajam Fred menangkap Ribi dan Ribi benar-benar merasa terintimidasi.

Fred mendadak tertawa, “Jangan takut, Ribi. Aku hanya bercanda. Kau melihatku seolah-olah aku adalah orang jahat saja. Jangan takut, aku ini adalah salah satu anggota senior Interoir Zerozhia, jadi kau bisa mempercayaiku.”

Interoir? Ribi mengulang satu kata itu dalam benaknya. Interoir adalah kelompok penyihir khusus yang bertugas melindungi kerajaan. Tidak semua penyihir bisa menjadi Interoir karena hanya penyihir-penyihir hebat saja yang bisa melewati semua tes masuk kelompok elite ini. Dan apa lagi tadi yang Fred bilang? Salah satu anggota senior? Bagi Ribi, Fred bahkan mungkin berusia tak lebih dari dua puluh lima tahun dan dia sudah menjadi anggota senior?

“Kau pasti tidak percaya?” suara Fred terdengar geli, “Semua selalu menatapku dengan tatapan tidak percaya seperti yang kau lakukan sekarang ketika aku mengatakan bahwa aku adalah anggota senoor Interoir Zerozhia. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itulah aku.” Dan satu senyum lebar tersuguh di bibirnya, dia membuat Ribi kembali menahan detak jantungnya yang kembali sangat cepat.

“Aku minta maaf.” Ribi buru-buru memalingkan wajahnya.

Fred mengibaskan tangannya, “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak masalah. Hanya saja, aku masih penasaran tentang kau.”

“Aku?”

Fred mengangguk, “Aku sangat mengerti sifat Argulus, bisa dikatakan aku menghabiskan masa remajaku belajar sihir dengannya. Dan seperti yang sudah kukatakan, Argulus tidak akan mau mengambilmu sebagai murid jika bukan karena alasan yang kuat. Emas yang kau katakan bisa saja mungkin, tapi disamping itu, pasti ada sesuatu yang akhirnya membuat dia menerimamu disini. Jadi sesuatu itu apa? Atau.. mungkin malah seseorang?”

Ribi terhenyak dan Fred menyadari gerakannya. Lagi-lagi dia tertawa kecil, “Aku tahu. Jadi itu seseorang ya.”

Wajah Ribi memucat, “Bu-bukan seperti itu.”

Fred bangkit dari duduknya, berjalan memutari meja dan menyeret satu kursi merepet pada kursi tempat Ribi duduk dengan sangat gelisah. Fred duduk disana, menyorongkan tubuhnya ke arah Ribi dan memandang tepat ke sisi wajah Ribi, “Jadi siapa dia, Gabrietta? Siapa dia yang bisa membuat Argulus mau menerimamu sebagai muridnya.”

Ribi memejamkan matanya karena takut dan gugup. Dia bisa merasakan nafas Fred di pipinya, dia benar-benar begitu dekat. Jantung Ribi tidak hanya berdetak kencang tapi sangat sangat dan sangat kencang. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

“Berhentilah mengoda dia, Freddie.”

Fred membalikkan badannya dan Ribi membuka matanya dengan lega menyadari suara siapa itu. Argulus berjalan masuk dan mendekat ke tempat mereka. Dua karung kecil melayang di belakangnya dan terus melayang masuk ke arah ruang bawah tanah sementara Argulus duduk di dekat Ribi.

“Duduklah menjauh, Freddie. Astaga-astaga, kau bisa membuat jantungnya melompat keluar jika kau merepet seperti itu pada Ribi.”

Fred tertawa dan dia langsung berdiri, berjalan kembali ke kursinya dan duduk disana.

“Jadi apa yang dilakukan seorang Interoir Senior di rumahku?” katanya sambil menepuk-nepuk jubahnya yang berdebu.

“Aku hanya ingin mengunjungimu, guruku. Kurasa sudah lama sekali tidak datang dan berbincang-bincang denganmu.” Jawab Fred dengan riang. Mereka berdua, Argulus dan Fred, berbincang dan mengabaikan Ribi yang sedang mengatur detak jantungnya dan bernafas lega.

“Kau tidak terlihat seperti seseorang yang ingin berkunjung dengan tulus.” Cerca Argulus, “Apa kau membawa perintah atau sesuatu dari Mastermu untukku?”

Fred mengerucutkan bibirnya, “Kau benar-benar sangat ahli menebak, Argulus.” Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya dan memberikannya pada Argulus. Ribi mengamati dan menyadari itu adalah sebuah amplop berwarna coklat tua yang pinggirannya dihiasi dengan ukiran berwarna emas yang sangat cantik. Dia melihat huruf Z dikelilingi lambang kerajaan Zerozhia yang berbentuk seperti kristal segienam menyegel amplop itu.

“Apa ini?” tanya Argulus sambil membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ribi tidak bisa membaca apa yang tertulis disana tapi dia bisa membaca ekspresi lega yang terukir di wajah tua Argulus ketika dia membaca surat itu, “Jadi akhirnya dia melakukannya ya.” Argulus tersenyum, meletakkan surat dan amplop itu ke atas meja.

Fred mengangguk, lalu mendadak dia kembali menatap Ribi, “Hey Ribi, jadi siapa dia? Yang membuat Argulus mau menerimamu sebagai muridnya?” tanyanya lagi dengan penasaran.

“Eh.”

“Tsk tsk tsk.” Argulus berdecak mengamati Fred, “Sudah kubilang jangan menganggunya.”

“Aku tidak menganggunya. Aku hanya bertanya.” Fred melemparkan punggungnya, bersandar ke belakang. Tangannya terlipat ke atas dadanya yang bidang.

Ribi menoleh ke Argulus dengan tatapan minta maaf. Sementara Argulus malah hanya mengelus-elus jenggotnya, “Apa kau begitu ingin tahu?”

“Tentu saja. Aku sangat ingin tahu. Lagipula menyenangkan ada topik yang bisa kubahas di tempat ini selain masalah-masalah Zerozhia. Aku jadi merasa santai.” Sahut Fred dengan mimik muka gembira.

“Dave yang membawanya kemari.”

Fred langsung melompat dari kursinya dan menatap Argulus dengan tidak percaya sementara mulut Ribi terbuka ketika memandang Argulus. Bagaimana bisa Argulus mengatakan hal serahasia ini kepada Fred. Meskipun dia adalah mantan muridnya, dia tidak boleh dengan begitu mudahnya membuat Dave berada dalam kesulitan karena masalah ini.

“Pangeran Dave?”

Argulus mengangguk dengan tidak peduli, “Dia yang memintaku secara pribadi untuk melakukan itu.”

“Argulus!” Ribi memprotes, tapi malah dibalas dengan tawa Argulus. Ribi mengerutkan alisnya, apanya yang lucu? Apanya yang bisa ditertawakan dari apa yang baru saja dikatakannya. Argulus memang sangat aneh.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Ribi. Kau tidak perlu memandangku dnegan galak begitu. Dave tidak akan keberatan tentang hal ini.” Paparnya di sela-sela tawanya yang serak.

“Kau yakin?”

Argulus mengangguk dengan pasti. “Jangan terlalu mengkhawatirkan anak muda itu dan dia.” Argulus menunjuk Fred, “Hanya sedang tidak punya pekerjaan penting sehingga mengorek masalah yang sama tidak pentingnya seperti ini.”

Fred kembali duduk ke kursinya, “Kau selalu saja menyebalkan Argulus.” Guraunya, “Aku hanya tidak menyangka pangeran Dave yang melakukannya. Dia tidak terlihat begitu peduli dengan perempuan. Kupikir hanya nona Ares yang dekat dengannya. Tapi Gabrietta, perempuan dari Thussthra ini. Astaga, pangeran Dave benar-benar sosok yang tidak terbaca.”

Ribi sadar bahwa Argulus meliriknya ketika Fred mengatakan perempuan dari Thussthra, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan malah tertawa keras menanggapi kata-kata Fred, “Kau tidak akan bisa menebak apa yang ada di kepalanya, Freddie.”

Fred mengangguk-angguk setuju. “Nah, Ribi.” Fred memandang Ribi lurus-lurus, “Apa kau perempuan milik pangeran Dave?”

“Pe-perempuan apa?” Ribi tidak percaya pada apa yang didengarnya.

“Sayang sekali padahal kupikir aku tertarik padamu. Kau sangat cantik dan lucu.” Fred tertawa, di sisi lain Ribi mengerjap, membuka separuh mulutnya dengan tidak percaya. A-apa yang baru saja dikatakan Fred.

“Aku bukan perempuan milik Dave atau milik siapapun!” kata Ribi keras sambil berdiri dengan cepat. Membuat tawa Argulus dan Fred berhenti, mereka menatap ke arah Ribi.

Apa yang kulakukan? Ribi mengutuk dirinya sendiri.

“M-maaf.” Ribi buru-buru kembali duduk dan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Dia benar-benar tidak sanggup menatap Fred ataupun Argulus. Benar-benar memalukan. Lagipula kenapa dia harus berteriak ddan mengatakan hal seperti itu.

“Astaga astaga. Kau membuatku merasa sangat tua disini.” Oceh Argulus, “Sepertinya kau harus bertanggung jawab padanya Freddie, dia terlihat sangat menyukaimu.”

Ribi membelalakkan matanya ketika menatap Argulus.

Fred tersenyum lebar, “Dia benar-benar menyenangkan, guru.”

“Astaga kau.. sudah berapa kali juga kukatakan kepadamu jangan panggil aku guru. Lagipula sekarang aku juga sudah bukan gurumu. Panggilan itu menyakiti telingaku.”

Fred tertawa kecil, “Kau tidak berubah.” Komentarnya.

Sementara itu Ribi hanya mampu membatu di duduknya. Dia benar-benar menyenangkan, guru. Kalimat singkat dan senyum Fred ketika mengatakan hal itu benar-benar melumpuhkan Ribi. Dia hanya diam dan terus mengamati Fred. Melihat bagaimana bibir laki-laki melengkungkan senyumnya, bergerak mengatakan sesuatu. Dunia Ribi berhenti, dia hanya mendengar suara Fred dan Argulus seolah lenyap sama sekali.

 Sebelumnya >>
<< Selanjutnya

Mau Baca Lainnya?

16 Comments

  1. huaaa…….. Mau lg, mb.. Ini keren.. Duh, Ribi brdebar2, eh.. Wkwkwk
    apa Fred lbh tmpan dr Dave, ya? Ribi smpe sgtu'y. Hihi..
    Jd iri.. Mau jg dong dgodain ma cwo cakep.. *emg eyke cwek apaan?* wkwkwk
    kpan dong Ribi bs pandai dlm praktek sihir'y? Meuni ngenes gtu.. Buku tebel2 bs dhafal dluar kpala, tp giliran praktek mlah melempem.. -_-
    Dave mau mgambil alih kerajaan? Yeay! Gak sbar nunggu sprti apa gaya Dave.. 😀
    *NisaAdjah*

  2. Mungkin bukannya lebih tampan sih, tapi Ribi dapet aja "chemistry"nya kalo sama Fred. Someday, kita ngga selalu jatuh cinta sama cowok yang tampan bgtkan. Tapi mungkin cowok yang punya "sesuatu" dan bikin kita meleleh di pertemuan pertama. #Halah 😛

    Ribi sedang berusaha keras belajar, jadi mari kita dukung dia, 😀

  3. Dipercepat update ny yah,jangan fokus ke half vampire ajah,di sini ad juga yanng suka ma Xexa,plissss

  4. Hahahha iyaaah. Maaf maaf. Akhir-akhir ini banyak kefokus sama HV dan melupakan beberapa tulisanku yg lain seperti Xexa.
    Ditunggu aja yah.. In progress 😛

  5. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.