Xexa – Kaum Liar

Ribi melangkah dengan hati-hati. Hutan ini tidak berujung. Mereka sudah berjalan berjam-jam yang lalu dan seolah-olah tidak akan berakhir. Ribi benci ini. Sejak awal dia tidak suka hutan ini, dan sekarang, berjalan diantara batang-batang abu-abu dan tanah segelap langit malam. Belum lagi ketika dia mendongak, dedaunan berwarna sepekat darah menyambutnya. Tempat ini mengerikan dan terkutuklah para penyihir yang membuatnya.

“Kita sampai.” Bisik Fred, memegang tangan Ribi ketika dia terhuyung nyaris jatuh karena tersandung akar pohon. Ribi mengumamkan terima kasih dan memandang ke depan. “Hi—jau.” Dia bergumam, ada sesemakan di depannya, dan warnanya begitu hijau, begitu alami. Dave dan Ares melewati sesemakan itu dengan usaha cukup besar. Lengan-lengan terangkat melindungi wajah agar tidak tergores duri ataupun batang-batang kecil yang tajam. Dan ketika muncul celah-celah karena pergerakan mereka, Ribi bisa melihat kilauan fajar yang mulai menyingsing. Sudut bibirnya tertarik ke atas dengan cepat. Setengah berlari karena sudah muak dengan warna abu-abu, merah dan hitam, Ribi meyusul Dave dan Ares dengan langkah buru-buru yang tidak mau repot-repot disembunyikannya. Fred tertawa kecil, mengikuti di belakangnya.

***

Dave bisa melihat lingkaran hitam di bawah matanya dari kilauan air. Mereka berjalan semalaman, tanpa tidur, tanpa istirahat. Tapi tak ada yang protes dengan keputusannya, bahkan Gabrietta pun tidak. Mungkin memang tak ada satu pun dari mereka yang ingin bermalam di hutan itu. Meskipun tanpa sihir tambahan, hutan itu sudah mampu membawa suasana yang tidak menyenangkan bagi mereka. Dan segera keluar dari sana adalah motivasi mereka semua untuk terus bergerak.

Dan ini arah yang tepat. Mereka tidak perlu melewati gerbang kerajaan, tidak perlu bertemu penyihir penjaga. Mungkin memang memakan waktu lama sebab Dave memutuskan akan mengambil jalur setengah lingkaran, dan bukan garis lurus membelah kota utama di Mozaro hingga tepat berada di gerbang perbatasan Thussthra. Dia mendengar beberapa omongan tentang daerah liar di Mozaro. Tapi dia yakin segalanya akan bisa diatasi.

“Tidurlah, pangeran. Saya akan berjaga untuk anda.”

Dave menoleh dan melihat Fred berdiri tegak, beberapa meter dari tempatnya berjongkok di tepian sungai. Dia bangkit, berjalan ke arah Fred, “Kau bisa menggunakan pedang dan panah?”

Kening Fred mengerut, “Kita tidak mengunakan benda-benda seperti itu, pengeran. Hanya kaum li—“

“Maka kita akan menjadi kaum liar itu selama perjalanan ini.” potong Dave tegas, “Sudah kutegaskan tidak ada sihir yang akan kita gunakan. Sihir yang kau dan Ares miliki hanya akan dipakai ketika aku mengizinkannya. Selebihnya—“ Dave memandang pinggang Fred, tempat dimana tongkat sihirnya terselip dengan sempurna, “Kau tidak membutuhkan tongkat sihirmu. Simpan di dalam tempat lain. Dimana tak seorangpun yang akan melihatnya.”

Fred menunduk, “Saya mengerti.”

“Sekarang tidurlah, kita semua butuh tidur. Tidak akan ada yang mengancam keselamatan kita di sini. Setidaknya bukan di sini.” Lalu tanpa menunggu jawaban dari Fred, dia berjalan melewatinya. Mendekat ke arah Ares dan Ribi yang sudah bergelung tidak nyaman di bawah bayang-bayang pohon, tertidur.

***

Matahari sudah mulai condong ke barat ketika Ribi mulai terbangun. Dia bergerak tidak nyaman dan melihat samar punggung Fred, Ares dan wajah Dave dari balik bahu Ares. Mereka sedang apa? Lalu sedetik kemudian—ketika ingatan perjalanan mereka kembali ke otaknya—dia melompat bangun. Berjalan dengan terburu-buru ke arah Fred, duduk di sampingnya dan mengumamkan maaf pada semuanya.

“Tidak apa-apa, Ribi.” Fred tersenyum, sementara Dave dan Ares hanya memandangnya tanpa mengatakan apapun. Mereka sepertinya tengah merencanakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya dan Ribi tidak tahu sudah ketinggalan seberapa banyak.

Dave mengoreskan batang kayu yang dipegangnya ke tanah, membentuk jalur setengah lingkaran yang sudah dipikirkannya, “Kita akan mengambil jalur ini. Melewati beberapa desa kecil dan hutan-hutan liar Mozaro. Mungkin akan memakan waktu sekitar seminggu atau bisa lebih jika terjadi sesuatu di luar perkiraanku.”

Fred melingkari salah satu lokasi yang akan mereka melewati dan mendongak, memandang langsung ke arah Dave, “Saya tahu lokasi ini. Cukup berbahaya dengan beberapa isu tentang keberadaan kaum liar. Mereka, sebagian besar adalah perampok dan pembunuh.”

“Kenapa tidak ada yang melakukan sesuatu jika memang sudah tahu tempat itu berbahaya. Kemana para interoir selama ini? Apa saja yang mereka lakukan?” Ares jelas tidak senang dengan fakta ini.

“Sayangnya, Nona Ares, Interoir Zerozhia, jika itu yang anda maksud, terlalu sibuk dengan urusan yang lebih besar. Dan menangani kaum liar bukanlah salah satu tugas kami, seharusnya para penyihir Mozaro sanggup melakukannya sendiri tanpa bantuan kami.”

Ares sudah akan membuka mulutnya jika saja Dave tidak mengangkat tangannya, “Cukup.” Katanya tegas, “Kita tidak memperdebatkan hal lain selain tugas kita sekarang. Fred, apakah kau tahu wilayah ini dengan cukup baik?”

Fred mengangguk, “Saya berasal dari sana.” Ucapnya pelan.

Ribi yang sebagian besar tidak mengerti isi percakapan mereka, menatap Fred. Cukup terkejut mendengar nada suaranya yang nampak berat dan enggan.

“Sebelum Argulus menyelamatkan saya, saya tumbuh dan besar di sana. Menjadi pelayan salah satu dari pemimpin mereka, budak mereka. Tanpa saya tahu bahwa saya adalah keturunan penyihir. Entah apa yang mereka lakukan pada orangtua saya. Saya tidak tahu saya punya kemampuan sihir sampai saya bertemu dengan Argulus. Dia menjadi tawanan mereka. Kehilangan tongkat sihirnya dan diperlakukan tidak pantas.” Bibir Fred menipis ketika dia mengatakan hal itu, matanya berkilat-kilat penuh kemarahan.

“Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan ketika itu, namun saya menyelinap ke tempat tongkat sihir Argulus disembunyikan dan berhasil membawanya kembali kepadanya. Dengan tongkat sihir di tangannya, kaum liar bukanlah apa-apa. Mereka kabur dan meninggalkan saya seorang diri di sisa-sisa markas mereka. Setelah itu, Argulus membawa saya bersamanya. Tahu apa yang tersembunyi di dalam darah saya. Dia menjadikan saya muridnya. Hingga saya bisa menjadi seperti ini.”

“Aku belum pernah mendengar ini dari Argulus.”

“Saya memohon padanya untuk tidak menyeritakan kisah ini pada siapapun, pangeran.”

Ares tersenyum, “Pilihan yang bagus. Penyihir-penyihir di pemerintahan Zerozhia akan merendahkanmu jika tahu kau hidup bersama kaum liar sebelum menjadi penyihir. Mereka sangat sensitif perihal dengan siapa kau bertumbuh selama ini. Aku tahu itu dengan benar.”

Dan entah kenapa Ribi melihat ada perubahan yang jelas dalam air muka Ares, dan begitu Fred yang entah bagaimana terlihat merasa bersalah. Seolah-olah karena dialah perubahan itu terjadi. Untungnya Dave segera menengahi hal itu dan berkata dengan tegas, “Seberapa kuat mereka jika kita berhadapan dengan mereka tanpa menggunakan sihir.”

“Sangat kuat. Kita jelas akan kalah dari mereka tak sampai lima belas menit. Bahkan, meskipun ketika itu saya masih sangat muda, saya masih bisa mengingat dengan jelas jenis pelatihan apa yang diterima oleh mereka.”

Dave terlihat menimbang-nimbang sebelum dia akhirnya menatap keseluruhan dari mereka, “Seberapa hebat kalian tanpa tongkat sihir?” tanyanya mengambang.

“Aku tahu seni menggunakan pedang dan memanah. Tapi tidak yakin apa aku cukup mahir jika akan berhadapan dengan mereka yang menggunakannya sebagai pertahanan hidup dan bukannya untuk merenggangkan otot saja.”

Fred melirik Ares, “Saya nyaris sama dengan nona Ares, pangeran. Saya memiliki kemampuan menggunakan pedang, pisau ataupun tombak. Tapi sayangnya memanah bukan salah satu dari itu.”

Lalu tibalah akhirnya ketika mereka bertiga memandang ke arah Ribi—yang langsung menelan air ludahnya dengan gugup, “Seni panahan mungkin oke. Tapi.. Y-yah.. aku.. Maksudku, orang dewasa di tempatku berasal tidak memperbolehkan seorang remaja bermain-main dengan benda tajam. Mereka bilang itu berbahaya.”

Dave memutar bola matanya, “Kau jelas hanya akan jadi penghambat.” Omelnya.

Ribi mengerutkan alisnya dan berkata dengan keras, “Oh tapi aku bisa berkelahi. Aku pemegang sabuk hitam untuk taekwondo.”

Terang saja baik Dave, Ares maupun Fred langsung mengerutkan kening mereka dengan tidak mengerti. Ribi langsung menutup mulutnya ketika Dave memelototinya, “Itu sejenis seni bertarung yang.. yah sedikit elegan dengan tanpa menggunakan benda-benada tajam.”

Ares membuang nafas panjang, mengerti, “Setidaknya kau bisa menjaga dirimu sendiri.”

Dave bangkit, mengeluarkan sesuatu dari kantong kecilnya. Dan tak lama kemudian, empat pedang, empat busur panah lengkap dengan anak panah dan tempatnya, juga beberapa pisau kecil terserak di atas tanah, “Untuk masing-masing kita. Ambillah. Anak panahnya tidak akan habis selama sihir yang kuikatkan di sana masih cukup kuat.”

Satu demi satu dari mereka segera mengambil semua persenjataan ini dan meletakkan hati-hati benda-benda itu di tubuh mereka. Ribi butuh bantuan Fred untuk mengikatkan tempat anak panah ke punggungnya dan sedikit tidak nyaman dengan pedang panjang yang akan diselipkan Fred ke punggungnya.

“Kurasa dia tidak butuh ini.” Dave meraih pedang itu dari tangan Fred dan menyelipkannya ke pinggangnya. Fred mengangguk dan Ribi tersenyum penuh terima kasih.

“Sebaiknya kita segera berangkat, sudah hampir petang.” Lanjut Dave.

Mereka bertiga mengangguk dan langsung membenahi semua benda-benda yang sudah dikeluarkan dari tas dan bergegas mengikuti Dave.

***

“Bagaimana? Ada hasil?” Dave mengangkat tangannya ketika merasakan sentuhan angin yang sangat dingin di sekitar lehernya.

Dari udara kosong mendadak menjelma sesosok laki-laki seumuran Dave dengan kulit sawo matangnya, dia menyilangkan tangannya di atas dadanya, “Sulit menjangkau mereka. Aku tidak bisa masuk ke pemukiman mereka. Ada sesuatu yang aku tidak tahu apa, tapi itu sangat berguna untuk menghalau makhluk sihir apapun.”

Dave mengerutkan keningnya, berpikir, “Apa itu menurutmu?”

Memnus menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya tidak mungkin kaum liar sanggup melakukan itu tanpa bantuan sihir.”

“Menurutmu ada kelompok penyihir yang andil di sini?”

Memnus mengangguk, “Tidak salah lagi.”

“Sepertinya kita telah membiarkan mereka hidup tanpa terkait peraturan kita terlalu lama.”

“Tapi yah, kupikir mereka lebih baik daripada kalian para penyihir yang hanya bisa menghafal mantera-mantera dan mengoyangkan tongkat kalian. Apalah kalian ini tanpa tongkat sihir. Huh!”

Dave melirik Memnus yang berpura-pura tidak sadar. Meskipun terbiasa dengan ocehan Memnus, kerapkali Dave tetap butuh menghembuskan nafas panjang, mencari sisa kesabaran untuk menghadapi anilamarrynya ini.

“Tutup mulutmu, Memnus. Atau aku—“

Memnus mengeluarkan suara seperti kikikan yang membuat Dave menghentikan ucapannya dan memandangnya dengan mata menyipit tajam, “Oh ayolah, Dave. Kita sama-sama tahu bahwa kau tidak akan melakukannya. Menyenangkan sekali mengetahui bahwa aku tidak akan menerima hukuman apapun darimu selama pencarian ini.”

Dave melipat kedua tangannya, “Dan kau pikir aku tidak akan melakukannya kalau kau dan mulutmu itu sudah terlalu lancang?”

Kedua alis Memnus terangkat, “Kau mau membahayakan pencarian ini demi hasratmu melukaiku?”

Dengan kesal Dave membuang pandangan ke arah lain. Memnus tertawa penuh ejekan, merasa menang, “Tunggulah sampai kuceritakan tentang ini pada Barielle. Ngomong-ngomong dimana dia?”

“Aku menyuruhnya ke suatu tempat.”

Memnus membelalakkan matanya, “Oh jadi kau sekarang juga menyuruh-suruh anilamarry milik orang lain? Wow! Lainkali suruh yang lain saja jangan aku kalau begitu. Ini benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Ah, kau juga bisa menyuruh anilamarry si Interoir itu kalau kau mau.”

Dave pura-pura tak mendengar, tapi satu kalimat Memnus membuatnya terdiam. Anilamarry Fred? Dia hampir melupakan hal itu. Dave melirik ke arah Fred yang tengah mengajari Ribi cara memanah dengan cepat dan benar. Entah kenapa dia merasa banyak yang tidak diketahuinya tentang laki-laki itu. Seorang interoir senior yang menghabiskan masa kecilnya bersama kaum liar?

“Kau juga mulai menyadarinya ya?”

Dave menoleh cepat dan Memnus rupanya juga tengah memandang ke arah Fred, dengan tatapan meneliti yang kentara.

“Kalau kau mau tahu, dia itu lebih kuat daripada yang kau kira. Aura sihir yang menguar dari tubuhnya sangat kuat. Tak bisa dikatakan setara denganmu, tapi kau bisa saja menyembunyikan aura sihirmu. Jadi kita tidak tahu sekuat apa. Hanya saja yah, kalau sesuatu yang buruk terjadi. Aku yakin kau bisa mengandalkannya, daripada si perempuan aneh itu atau Ares.”

“Kau pikir begitu? Tapi Lord Lagash berpikir Gabrietta akan jauh lebih berguna.”

Memnus mengangkat kedua bahu, “Hanya menebak, pangeran.”

Dave tidak mengindahkannya dan berjalan menjauhi Memnus—mengarah ke Fred dan Ribi. Fred langsung menghentikan aktifitasnya dan menunduk sebentar sebelum melihat ke arah Dave.

“Pangeran..”

“Jangan terlalu formal.” Dave mengangkat tangannya, “Kurasa kau harus belajar untuk berkata biasa denganku. Seseorang yang mencuri dengar bisa saja menebak macam-macam jika melihat gaya bicaramu.”

“Maafkan saja.” Fred menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Lupakan.” Dave tak peduli, “Aku membutuhkan sesuatu darimu.” Katanya kemudian.

“Dengan segala hormat saya—mak-maksud sa- maksudku, apa yang kau butuhkan, pa—Dave?”

“Begitu lebih bagus.” Dave tersenyum pendek, “Nah, aku sama sekali belum pernah melihat anilamarrymu. Tentu kau memilikinya bukan?”

Fred nampak gugup, Ribi memandang mereka berdua dalam diam dan hanya mendengarkan.

“Ten—tentu saja.”

“Nah, tunjukkan padaku.”

Fred menggumamkan beberapa kalimat yang tidak dimengerti Ribi, dan beberapa detik kemudian—sesuatu muncul di dekatnya. Burung seperti elang hanya saja tingginya nyaris enam kaki. Begitu besar, gagah dan kuat. Sayapnya membentang dan dia menunduk, mengucapkan sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh Dave dan Fred—sebagai penyihir pemiliknya.

“Salam pangeran.” Suara itu dalam dan dingin.

Dave mengangguk, “Siapa namanya?”

 “Ahriman.” Jawab Fred singkat, “Apakah kau membutuhkan dia untukmu sekarang, Dave?”

“Tidak sekarang.” Dave tersenyum singkat, “Hanya ingin melihatnya.”

***

“Kau melihatnya?”

Memnus mengangguk—dalam bentuk Minotaur—terlihat berpikir.

“Kau juga merasakannya?”

“Ada sesuatu yang tidak bisa kukatakan dengan benar. Tapi dia kuat.”

Dave melihat anilamarrynya itu dan mengangguk. “Aura di sekitar anilamarry itu. Apakah dia berada di tingkat yang jauh di atasmu?”

Kepala si banteng memutar, menatap Dave dengan sadis, “Kau meragukan kekuatanku, pangeran?”

Dave tidak menjawab dan Memnus, anehnya kali ini tidak mencoba melontarkan kata-kata yang seringkali membuat Dave jengah. Mereka berdua diam dan berpikir. Sebelum akhirnya si Minotaur mengangguk-angguk, “Sebenarnya ya.” Ucapnya singkat.

“Jika si Ahriman ini berada dalam tingkat yang sama denganku atau Barielle. Kami akan bisa merasakan keberadaannya. Dan dengan sangat enggan kuakui, ya. Kurasa dia berada beberapa tingkat di atas kami. Aku tidak yakin berapa, tapi kalau nanti aku melihatnya bertarung, aku akan tahu. Tapi dia jenis yang tua kalau aku tidak salah. Aku heran bagaimana seorang anak muda yang dulunya hidup dengan kaum liar bisa begitu beruntung dengan anilamarry setingkat itu dalam kendalinya. Tapi bisa saja itu menyulitkannya, kita tidak tahu selincah apa lidahnya ketika bersama pemiliknya.”

Dave mendengus, mengabaikan ocehan lain dari Memnus yang mulai terdengar tidak penting. Di samping itu, dia memikirkannya juga. Meskipun anilamarry dan tingkat yang dimilikinya tidak bisa dipilih oleh penyihir, lebih ke arah takdir dan nasib si penyihir pemilik. Ini sedikit membuatnya heran. Harusnya ada sesuatu yang khusus pada Frederick Colfer sehingga dia memiliki anilamarry setingkat itu.

“Kau mempercayai si Interoir itu?”

“Tentu saja.” Jawab Dave pelan.

“Kupikir juga begitu. Hanya saja dia tidak telihat jujur padamu. Jika kau bisa membaca ekspresi dengan benar, sih. Tapi kurasa bukan jenis informasi yang merugikan jika tidak dikatakan. Lagipula apa yang kita harapkan, seorang Interoir yang berkhianat?” Si banteng tertawa keras, “Kastil Pelatihan Interoir tidak akan pernah menghasilkan pengkhianat. Tidak akan pernah jika melihat bagaimana sadis proses pelatihan mereka.”

Dave membenarkan dan dia menarik nafas panjang. Mungkin dia hanya sedikit cemas. Dia seharusnya mempercayai kelompoknya. Mereka bertiga—Ares, Fred dan Ribi—adalah satu-satunya yang bisa membantunya sekarang. Tidak boleh ada keraguan atau dia akan gagal. Seharusnya dia melihat dari sisi baiknya. Dengan anilamarry setingkat itu, perjalanan ini akan lebih mudah bagi mereka. Apalagi tanpa sihir yang melindungi mereka. Dia mengangguk, meninggalkan si Minotaur yang masih mengoceh panjang tanpa mengatakan apapun. Memnus meneriakinya tapi dia tidak berbalik dan kembali ke arah kelompoknya. Ares harusnya sudah kembali dari berburu makanan untuk mereka sekarang.

***

Mereka berjalan hampir dua hari melalui hutan rimba. Sama sekali tak menemukan kesulitan kecuali bertemu dengan beberapa makhluk liar yang dengan mudah dihalau oleh Memnus atau Barielle, selebihnya mungkin hanya medan yang kadang tak bersahabat.

Matahari tepat di atas mereka ketika Dave akhirnya memutuskan beristirahat. Ribi dengan senang hati melemparkan dirinya duduk di atas akar pohon besar di dekatnya dan mengusap keringatnya. Meski cahaya matahari tidak bisa benar-benar menyentuh mereka, dia merasakan panas dan haus. Mereka sudah kehabisan bekal minum mereka sejak beberapa jam lalu. Dan sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan sungai sejak sehari lalu.

“Barielle sedang mencari sungai terdekat di sekitar kita. Dia akan membawakan minum untuk kita.”

Ribi menoleh dan Ares terlihat membersihkan rambutnya yang kotor dengan ranting dan serpihan daun. Dia tidak menoleh ke arah Ribi ketika mengatakan itu meskipun Ribi tahu itu ditujukan kepadanya.

“Terima kasih.”

Ares mengangkat kepalanya, “Jangan sering-sering mengucapkan kalimat itu.” Ucapnya singkat.

Ribi baru saja akan mengucapkan sesuatu ketika Ares menjauh darinya dan mendekat ke Dave dan Fred yang terlibat pembicaraan serius. Dia mendengus, kenapa perempuan satu ini tidak bisa sedikit ramah? Bagaimana bisa dia selalu terlihat serius lebih dari Fred atau Dave sendiri? Harusnya dia menikmati dirinya sebagai perempuan, Ribi tak bisa membayangkan jika dia dan Ares terlibat obrolan santai seperti tentang baju pesta apa yang bagus atau sepatu apa yang cocok dengan baju ini.

Dia nyaris tertawa sendiri. Menahan imajinasinya, menekankan bahwa perempuan di Tierraz tidak pernah terlalu peduli pada fashion dan life style. Atau mungkin seperti itu, dia tidak tahu dengan benar. Hanya sedikit penyihir yang dikenalnya. Dan dia hanya sekali menghadiri pesta di sini, penobatan Dave sebagai Mahha. Jadi dia tak tahu benar bagaimana kehidupan para penyihir normalnya.

“Apa ada masalah?” dia mendekat ke arah Ares, Fred dan Dave, ketika mereka terlihat semakin serius.

Dave menoleh, tak mengatakan apapun. Fred menghela nafas, “Kita tersesat.”

Kedua bola mata Ribi melebar, “Tersesat? Dengan kalian di sini dan kita tidak tahu dimana kita sekarang?”

“Secara teori tidak seperti itu.” Kali suara Ares yang terdengar, “Jika kita bisa mengunakan sihir kita, kita tidak mungkin tersesat. Hanya saja tanpa sihir, ini sedikit berbeda. Kami bertiga sudah tidak mengunakan sihir sejak di Zeyzga. Dan membuat anilamarry kami melakukan segalanya akan membuat kami semakin kelelahan. Tanpa sihir kami, mereka juga lelah. Kurasa aku tidak akan bisa meminta Barielle melakukan apapun lagi setelah ini karena dia tidak memperoleh aura yang dibutuhkan intisarinya untuk bertahan di sini.”

Ribi mengangguk. Hubungan antar penyihir pemilik dan anilamarrynya memang sangst komplek, “Lalu bagaimana?”

“Memnus sedang mencoba membuatkan sesuatu untuk kita sebelum dia harus beristirahat untuk sementara dari kita.”

“Peta?”

Dave mengangguk, “Apa menurutmu kita sudah dekat, Fred?” dia beralih kepada Fred yang terlihat berpikir, menatap ke sekitarnya dan mengingat.

“Tidak bisa yakin dengan benar, tapi jika tempat itu tidak berubah, maka ya. Kita harus mulai berhati-hati. Akan banyak jebakan dan—“ dia diam, memberikan kode kepada yang lainnya untuk bergerak pelan ke arah lain. Di balik rotan-rotan dan sulur-sulur aneh, mereka berempat menunduk dan mengamati. Ribi bisa mendengar suara-suara itu. Derap-derap kaki kuda dan beberapa percakapan keras.

Sekitar tujuh kuda atau lebih dengan orang-orang tinggi besar di atasnya lewat beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi. Tubuh mereka berotor dan beberapa dengan bekas luka. Mereka tak memakai pakaian seperti jubah penyihir. Hanya beberapa kulit binatang yang melilit tubuh bawah mereka dan sesuatu lain yang disampirkan melintang dari bahu ke pinggang. Rambut panjang mereka hitam gelap dan diikat dengan rotan membentuk simpul aneh. Mata gelap yang terlihat fokus dan tanpa belas kasihan menghiasi wajah mereka yang garang.

Ribi menelan ludahnya, mencoba tidak bergerak atau menimbulkan suara apapun ketika mereka lewat.  Satu yang paling depan, dengan kuda hitam tingginya, terlihat yang paling kuat. Ada pedang—bukan pedang, lebih seperti golek menyisip di pinggangnya, memimpin mereka. Semua dari orang-orang ini membawa busur dan anak panah di punggung mereka. Dan ketika kuda yang paling bekal lewat, Ribi menahan diri untuk tidak berteriak ngeri.

Seekor singga—atau sesuatu yang seperti singa—nyaris dengan leher terpotong diikat sembarang ke punggung kuda itu masih dengan darah yang menetes-netes dari lehernya. Ribi menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak muntah melihat makhluk tidak beruntung lain yang dipanggul kuda di belakang yang satu itu. Dia memejamkan matanya, tak berani melihat dan Fred menggalungkan lengannya ke bahu Ribi dan menariknya mendekat kepadanya tanpa mengatakan apapun.

“Kaum liar.” Suara Ares yang pertama terdengar ketika akhirnya rombongan itu melewati mereka.

Dave mengangguk, “Aku tidak pernah melihat mereka secara nyata. Tidak pernah menyangka kalau mereka akan terlihat begitu bar-bar.”

“Kau baik-baik saja?” Fred menatap wajah Ribi yang memucat.

“I..itu.. mereka membunuh—“

“Mereka memakannya?” Dave memandang Fred.

Fred mengangguk, membantu Ribi berdiri tegak. Ares menggelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah melihat manusia berburu Glager. Bahkan penyihir sekalipun menghindarinya. Bagaimana mereka bisa membunuhnya tanpa bantuan sihir dan hanya dengan benda-benda seperti itu tadi?”

Mereka berempat terdiam. Glager, makhluk yang terlihat seperti perpaduan singa jantan dan anjing besar ini memiliki kecepatan mengerikan dan racun di cakarnya itu adalah salah satu makhluk mematikan. Sangat jarang bahkan penyihir sekalipun yang berani berdekatan dengan makhluk ini. Sebab Glager yang sebagian memiliki indera penciuman dan sensitifitas yang tinggi terhadap gerak. Mereka bisa-bisa menyerang dalam hitungan kurang dari satu detik bahkan sebelum satu mantera sempat diucapkan. Lalu melihat bagaimana para kaum liar memburu dan menjadikan mereka sebagai makanan jelas membuat mereka berpikir ulang jika berpikir bahwa kaum liar adalah kelompok remeh.

“Seberapa banyak mereka dulu?”

“Aku hanya tahu satu desa kecil. Tapi kurasa kelompok mereka menyebar. Jika dihitung dalam skala Tierraz, aku tidak yakin.” Fred memandang Dave yang terlihat khawatir.

“Apa kita harus berbalik arah dan memilih berjalan melalui kota?”

Dave menggeleng mendengar pertanyaan Ares. “Kita tidak punya banyak waktu dan tenanga untuk melakukan itu. Mau tidak mau kita harus melewati hutan ini/ jika kita punya keberuntungan maka kita tidak perlu berurusan dengan kaum liar tapi jika tidak..” dia diam, mengamati Fred, Ribi dan Ares sebelum akhirnya menghela nafas, “Kita harus mempersiapkan diri.”

“Kau masih berkeras kita tidak boleh menggunakan sihir?” Ares menatap Dave fokus.

Dave mengangguk, “Kita hanya tidak perlu mencari masalah dengan mereka. Dengan peta yang nanti diberikan Memnus, kita akan tahu jalur mana yang harus kita lewati dan mana yang harus kita hindari.”

“Tapi Dav—“

“Ares.” Suara Dave meninggi, “Kaum liar tidak akan membuatmu ingin berbalik dan kembali ke Zerozhia bukan? Maka kau harus mendengarkanku kali ini. Aku tidak mau membahayakan tujuan pencarian kita hanya demi kaum liar. Ingatlah, kita masih punya Danesh di belakang kita. Jika ramalan itu memang benar, kita hanya perlu mengkhawatirkan tentang dia, bukan yang lainnya.” Ucapnya tegas.

Ares, Ribi dan Fred terdiam. Dave benar. Kaum liar hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan Danesh dan ramalan itu. Mereka berempat sama sekali tidak mengatakan apapun setelah itu. Bahkan ketika Barielle muncul dengan minuman dan buah-buahan dalam dekapannya, mereka meminum dan memakannya dalam diam. Si anilamarry yang mengambil bentuk perempuan itu mengamati keempatnya, tidak mengatakan apapun hingga akhirnya menghilang kembali meninggalkan kesunyian dan suara hutan di belakangnya.

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. Jikalau Memnus dan Dave lebih penasaran sama kekuatan si Fred… Diriku lebih kepo maksimal sama kekuatannya si Ribi!! Pasti kekuatannya keren binggo!! Ya kan kak! 😀
    #DianArumPramesty

  2. #gubrak…… Kalo Ribi jago pencak silat, diriku jago mencuri hatimu kak *Eaaaaa :v wkwkwkwk

  3. Emmm kalo Xexa gado-gado sih. Percintaan ada, yang lain juga ada. Wihii.. Fred sama Ribi ya?? Hahahha bisa bisa.. bisa dipertimbangkan 😀

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.