Xexa – Kekuatan

“Kelahiran kembali dari Edna?” suara si pemuda tercekat, kulit wajahnya yang cokelat berubah menjadi pucat dan putih, nyaris transparan.
Dave mengangguk, mengerti benar reaksi anilamarrynya.
Setelah Memnus menelan semua kekagetannya, kulitnya kembali berubah menjadi cokelat dan matanya yang gelap mengamati sekeliling mereka. Sepi. Tak terlihat satupun makhluk lain selain dia dan penyihir pemiliknya. Cerita Dave tentang siapa Gabrietta sebenarnya masih bergaung di benaknya, mengalahkan suara deras sungai besar di bawah mereka. Mereka sekarang memang sedang berdiri di titian yang hanya terdiri dari susunan kayu-kayu yang dililit akar pohon. Namun jatuh ke sungai dalam dengan arus kuat sama sekali bukan hal yang akan dicemaskannya. Edna. Itulah yang patut dicemaskan sekarang. Danesh juga, jika Dave masih perlu diingatkan tentang masalah ini.
Tangan Dave menggenggam kuat pembatas titian yang berupa rantng-ranting lentur yang berjalin dan tumbuh menyamping. Dia melirik pada Memnus yang sekarang menggeleng-geleng.
“Ceritakan padaku apapun yang kau tahu tentang Edna, Memnus.”

Si pemuda menoleh dan untuk pertama kalinya, Dave melihat anilamarrynya itu gugup setengah mati. Tangan cokelatnya gemetar dan wajahnya tidak fokus.

“Apakah kau tahu, apa sebenarnya kami, Dave Michail Miranda?”
Dave menaikkan alisnya. Dia tahu kenapa suara Memnus terdengar begitu dingin dan dia memanggil nama lengkap Dave. Nama lengkapnya yang membawa identitas orangtuanya. Seperti yang dilakukan nyaris semua penyihir Tierraz.
“Kami?”
“Para anilamarry.”
“Kalian adalah makhluk sihir pesuru—pelindung para penyihir yang—“
Suara tawa kering si pemuda menghentikan Dave, Memnus sekarang memandang kosong ke arah arus deras sungai di bawahnya.
“Makhluk sihir? Itulah yang dikatakan para penyihir. Namun fitrahnya, kami merupakan salah satu bangsa sulung Tierraz. Putra dari angin. Tergolong dalam makhluk cahaya ketika masa awal. Namun karena perbuatan Mevonia, kami terkekang sumpah dan menjadi piaraan penyihir. Tak ada kebebasan kecuali sumpah dipatahkan.”
Mata Dave membelalak, dan tak menyadari jika dia mundur selangkah, “Sumpah? Kau adalah—“
“Salah satu dari kaumnya Nerethir. Semua anilamarry adalah bawahan dari Nerethir, sang putra angin pertama. Saudara dari Edna.”
Suara Memnus datar dan tenang. Namun Dave nyaris merosot jatuh ketika mendengarnya. Jika saja dia tak berpegangan pada ranting-ranting terjalin itu, dia yakin dia sudah tersungkur dengan kepala seperti pecah. Xexa, Danesh, Edna, Luca, Nerethir, dan para anilamarry. Mulut Dave mengatup rapat dan dia bahkan yakin jika wajahnya mebias memucat. Seperti mayat.
“Kau mengkhianatiku? Kau, sejak awal..” Dave kehilangan kata-katanya saking penuhnya kepalanya.
Kali ini Memnus menoleh dan Dave bisa melihat garis wajah si pemuda yang mengeras. Pemuda itu menggeleng, “Tidak. Tidak akan pernah, kecuali kita gagal menghentikan Danesh menemukan batu segel Xexa dan dia mematahkan sumpah Nerethir. Itu bisa saja. Tapi sejauh ini aku masih tetap bertekuk lutut padamu dan bahkan sanggup menyerahkan nyawaku untuk melindungimu, penyihir pemilikku. Meski kau sendiri sedang bertujuan untuk melenyapkan harapanku dan kaumku untuk bisa kembali bebas.”
Dave memandang Memnus tajam, tak tahu harus berkomentar apa.
“Itu inti dari sebagian sumpah Nerethir, Dave. Jadi jangan khawatir.” si pemuda tersenyum lebar sekali.
Tapi Dave bahkan sama sekali tak bisa percaya. Dan bagaimana bisa dia tidak khawatir setelah semua yang dikatakan oleh Memnus?
“Kenapa sama sekali tidak ada yang mengatakan ini padaku? Dan kau.. kau menyembunyikan ini dariku.”
Memnus menggeleng, “Tidak menyembunyikan apapun. Kau hanya tidak bertanya. Lagipula para penyihir banyak membelokkan fakta dan mengayalkan hal yang lebih bagus untuk didongengkan kepada keturunan mereka. Jadi yah, seperti kau ini hasilnya. Buta sejarah asli.”
Nada suara Memnus kembali seperti awal dan Dave masih memelototinya. Dia tak percaya jika selama ini dia berbagi semua hal dengan musuh. Musuh? Apakah Memnus musuh? Dave bahkan juga ragu. Tapi jika benar seperti yang dikatakannya, dia hanya perlu menyelesaikan tugas mereka menemukan Xexa, menjaganya dan berusaha sekuat mungkin agar Danesh tak berulah. Maka Memnus akan tetap menjadi Memnus, anilamarrynya, dan bukannya,salah satu dari prajurit Nerethir. Terdengar gampang, Dave meringis pesimis.
“Eh, Dave,” ucap Memnus dengan biasa sekali, seolah dia tidak pernah mengatakan jika dia sebenarnya adalah salah satu anak buah dari musuh para penyihir pada Dave, “Jika Gabrietta ini adalah kelahiran kembali dari Edna. Kurasa selain Danesh, kita harus mengkhawatirkan Luca.”
Sial, maki Dave. Gara-gara terlalu terkejut dengan fakta tentang apa sebenarnya anilamarry itu. Dave nyaris lupa tentang masalah Edna dan ekor-ekor masalah lain di belakang masalah Edna. Luca, tentu saja, si putra Alzarox yang kejamnya luar biasa. Seolah Mohave sendiri terasa seperti bayi penurut jika bersandingan dengannya, Dave semakin sarkastik.
“Apakah Luca juga terlahir kembali di masa ini? Apa sekarang selain mengkhawatirkan keberadaan Danesh yang bahkan tak jelas, lalu Edna,  aku juga harus memikirkan Luca, jiwa penasaran yang sibuk membuntuti jiwa kekasihnya?”
Memnus mencibir Dave, “Yah, kalau begitu bunuh saja Gabrietta sekarang sebelum dia menyadari kekuatannya dan jiwa Edna terbangun. Lagipula Luca juga belum menemukannya sampai sekarang. Jadi kita bisa fokus pada kakak gilamu dan Xexa, sehingga masalah tentang Edna dan Luca bisa jadi masalah buat para penyihir di masa mendatang. Itupun kalau kau tidak gagal dalam Xexa, sih.”
Dave memaki kasar dan keras sekali sampai si pemuda berjengkit, “Itu mulut pangeran ya?” komentarnya yang membuat wajah Dave semakin merah karena menahan marah.
“Kau menyarankan aku membunuh Ribi seperti menyarankanku untuk membunuh apa saja? Pergilah Memnus, pergilah.. kau semakin mengacaukan otakku.”
Tangan si pemuda terangkat menyerah, “Yah aslinya aku juga tidak suka saranku. Gadis itu manis sekali. Jarangkan bisa melihat Edna dengan warna mata hijau. Dulu iris mata Edna selalu berwarna merah kejinggaan, seperti sedang menatap api kalau bertatapan dengannya. Dan Edna tidak mungkin memelukku. Jadi yah—“
“Tutup mulut, Memnus.” bentak Dave, kesal setengah mati pada anilamarrynya ini. Dave pikir setelah Memnus hampir mati, setelah mengatakan siapa dia sebenarnya, anilamarrynya itu akan berubah. Tapi tidak, dia masih Memnusnya. Dave sepenuhnya yakin. Si pemuda di depannya itu masih punya tujuan membuatnya mati karena sebal pada anilamarrynya sendiri.
“Ya sudahlah, jangan tanya saran padaku kalau begitu. Mungkin selain membunuh Gabrietta, kau bisa juga mengurungnya di Razzermere. Mungkin pengaruh sihir di sana bisa mengekang jiwa Edna.”
Dan membuat Ribi menjadi gila seperti Mohave, pikirnya getir. Dave menggeleng. Tidak bisa. Dia tidak bisa melakukan itu pada Ribi. Perempuan itu tidak tahu apa-apa. Lagipula bagaimana mungkin seorang yang dia bawa dari dunia lain bisa menjadi kelahiran kembali dari Edna? Atau apakah Ribi sesungguhnya memang berasal dari Tierraz dan dia cuma terbuang di dunia itu karena ketidaksengajaan.
Cukup, teriak sebagian dirinya sendiri. Itu tidak penting karena dia harus menentukan fokus. Sekarang dia harus mengambil keputusan, manakan diantara semua masalah yang muncul sekarang yang merupakan priotasnya. Dia nyaris memaki lagi ketika teringat si pengkhianat Actur Gllarigh. Dia harus memperingatkan Azhena. Tepat ketika dia akan memberi pada Memnus untuk pergi ke Zerozhia. Suara ribut mendekat ke arahnya. Dave berbalik cepat. Melihat samar-samar apa yang membuat keributan seperti itu di wilayah para elf yang dikenal mencintai ketenangan.
“Oh. Oh. Lihat siapa yang datang.” Memnus terkekeh.
Dave menyipitkan pandangannya melihat Ares dan Fred berlari dengan sekuat tenaga mereka. Wajah Ares terlihat sepucat mayat, bahkan dari kejauhan sekalipun. Dia baru ingin meneriakan tentang kegilaan apa yang tengah mereka lakukan ketika puluhan anak panah berdesing di sekitar Ares dan Fred, sementara di belakang mereka para elf penjaga mengejar dengan senjata lengkap.
“Dave!! Tolong kami bodoh. Apa yang kau lakukan dengan cuma mematung seperti itu.”
Teriakan marah dan makian Ares yang menyadari keberadaan Dave yang tengah menontoninya membuat Dave tersentak dan dia mengayunkan tangan kirinya pelan, mulutnya merapal mantra. Puluhan anak panah yang siap melukai Ares dan Fred langsung jatuh ke tanah dan para elf penjaga membeku ngeri di tempat. Tak bergerak kecuali mata mereka yang mengerjap marah.
Ares dan Fred mencapai Dave dengan nafas memburu. Bertumpu di kedua lututnya, Ares membungkuk dan terbatuk-batuk sementara Fred yang sudah menguasai dirinya segera berbalik dan menatap para pengejar mereka yang seperti direkatkan pada tanah.
“Ares, apa yang ter—“
“Sialan kau, Dave Michail Miranda! Berani-beraninya kau..” Ares berteriak keras sekali dan dia nyaris saja menerjang Dave, melayangkan tinju telak ke wajah Dave yang terbengong dimaki-maki oleh orang yang baru saja ditolongnya. Untung saja Fred bertindak cepat dan dia menarik Ares mundur.
“Sekarat tapi masih mengerikan. Kau menawan sekali, nona Areschia.”
Mata Ares melotot pada anilamarry di belakang Dave.
“Tidak punya waktu meladenimu, anilamarry lemah.”
“Jika aku jadi kau, aku akan menjaga lidahku nona muda.” si pemuda berkulit cokelat nampak tersinggung.
“Sudah kalian berdua,” Fred menengahi, “Kita tak punya waktu banyak. Kita harus segera pergi dari sini. Para penjaga yang lain pasti sudah mendengar seua keributan ini, dan ketika mereka menemukan kawan-kawan mereka dalam keadaan tak bisa bergerak seperti itu, kita akan dicincang oleh Lord Landis dengan kekuatannya.”
“Apa yang kalian lakukan sampai merek—“
“Tak ada waktu, Dave. Fred benar. Bawa kami pergi dari sini. Segera.”
Dave nampak akan protes, namun melihat wajah pucat pasi dan tak sabar Ares. Dia tidak bisa membantah, “Kita pergi menjemput Ribi dulu dan langsung pergi setelahnya.”
“Dia selamat? Apa dia baik-baik saja?” Fred bertanya cepat.
Dave mengangguk, “Ikuti aku.” ucapnya setelahnya dan mereka berlari menyusuri titian yang terlihat rapuh. Ares merapalkan serapah pada pembuat tempat ini dan selebihnya mereka berlari dengan secepat yang mereka bisa—kecuali mungkin si pemuda yang langsung menghilang tepat ketika Dave membimbing Ares dan Fred menuju ruangan Ribi.
***
Ribi sedang memandangi keindahan alam yang ada di sekitarnya melalui jendela melengkuh megah di ruangannya. Di luar sana, dia melihat sungai berundak-undak yang mengalir jernih diapit rerumputan hijau dan bunga-bunga bermekaran yang indah. Dia melihat beberapa elf perempuan yang sedang bersenang-senang di sekitar sungai tersebut.
Para elf perempuan itu begitu cantik dan sempurna. Ribi yakin, para peserta kontes kecantikan yang ada di dunianya akan berubah menjadi itik buruk rupa jika bersandingan dengan mereka. Salah satu dari elf perempuan yang sedang membawa keranjang anyaman yang dipenuhi buah apel yang baru saja dipetiknya, menatap Ribi. Elf perempuan itu berambut sehitam kayu eboni. Dan telinga runcingnya mencuat diantara rambut indahnya yang tergerai sampai batas pinggang.
Ribi tersenyum, dan si elf perempuan menelengkan kepalanya seraya mengamati Ribi lekat-lekat. Lama sekali sampai Ribi merasa kikuk dipandangi seperti itu. Dia baru saja akan menghindar dan pergi menjauh dari jendelanya ketika si elf perempuan mendekat ke jendelanya.
“Kau mau?”
Suaranya begitu merdu. Lembut namun jelas. Dari dekat, Ribi bisa melihat jika iris mata si elf berwarna biru terang. Membuat Ribi seolah sedang memandangi langit yang cerah ketika menatapnya.
“Untukmu.” ucap si elf perempuan, meletakkan satu apel merah segar di tepian jendela Ribi. Sebelum Ribi bahkan sempat mengucapkan terima kasih, elf perempuan itu sudah berbalik dan pergi meninggalkan Ribi. Kakinya yang telanjang melangkah seolah dia sedang menari di atas rerumputan. Angin memainkan gaunnya yang jatuh melayang.
Pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa iri. Bagaimana bisa ada makhluk semenakjubkan itu di dunia ini? Bahkan yang satu ini lebih cantik dan bersinar daripada elf perempuan pertama yang dia lihat di danau Merivor. Ketika Lord Lagash dan para makhluk dalam persekutuan memperingatkan Dave tentang ramalan kegelapan tentang Danesh dan Tierraz.
Tangan Ribi menyentuh apel pelan dan nyaris saja menjatuhkannya ketika dia mendengar keributan di depan ruangannya. Dia menoleh cepat dan melihat empat elf penjaga yang sebelumnya ada di depan lengkungan pintu ruangannya bertarung melawan Ares dan Fred.
Ribi meraih apelnya dan berlari ke arah mereka, nyaris saja terkena sabetan tombak salah satu penjaga jika saja Fred tidak lebih sigap melompat ke arah si penjaga dan menendangnya kuat-kuat. Menunduk cepat, Fred mengambil pedang dari dua penjaga yang telah terkapar dan menyerahkan satu pada Ribi.
Ares juga sudah menjatuhkan dua penjaga dengan menusuk salah satu dengan mata panah yang dia rebut. Ribi memekik tanpa suara dan berpaling melihat darah elf yang sewarna perak merembes dari baju si elf penjaga.
“Ap—apa yang kalian lakukan?” pedang yang baru saja diterimanya dari Fred bergetar karena tangan Ribi juga sedang bergetar hebat. Ini pembunuhan, pikirnya. Dan dia melihat langsung di depan matanya. Dia menatap Ares dan Fred bergantian dengan ngeri. Bagaimana mereka bisa melakukan itu pada orang yang menolong mereka?
“Ribi ayo, kita harus cepat. Dave dan Memnus tidak akan bisa menahan lebih lama lagi. Terlalu banyak yang datang.” tangan Fred meraihnya dan dia melirik Ribi yang pucat. Tangan Ribi begitu dingin.
“Kalian membunuh mereka.” suara Ribi bergetar.
Fred yang kebingungan mengikuti arah pandang Ribi. Dan menemukan Ribi tengah memandangi tubuh-tubuh para elf penjaga.
“Jika tidak, maka mereka yang akan membunuh kita lebih dulu.” Ares menjawab lebih cepat, dan Ribi berpaling padanya. Tidak suka pada nada suara Ares, “Kita tidak punya waktu. Ayo Gabrietta.” perintahnya.
Meski masih berusaha membantah, Ribi mau tak mau akhirnya mengikuti Ares dan Fred. Mereka berlari begitu cepat sampai Ribi rasanya sulit bernafas. Ketika dia mulai memelankan langkahnya, Fred yang berlari di sampingnya akan mengenggam tangannya dan tersenyum Lalu sebuah anggukan dan Ribi merasa dia semakin sulit bernafas namun kecepatan larinya bertambah. Efek seorang Fredderick Colfer belum berubah sama sekali baginya.
Mereka berhenti tepat ketika serombongan elf menghadang mereka. Satu elf yang paling depan, dengan rambut keperakannnya yang jatuh indah sampai ke punggungnya, membuat Ribi harus melongo karena kagumnya. Mata abu-abu si Elf nampak tajam dan mengancam. Detik itu juga Ribi tahu bahwa si Elf tidak akan memberinya apel seperti yang dilakukan oleh elf perempuan sebelumnya. Yang satu ini—dilihat dari pedang di tangannya—seolah benar bersiap untuk menyincang mereka.
“Aeldren..”
Suara Ares yang tercekat membuat Aeldren tersenyum tipis, “Lama tidak bertemu, Ares.”
Ribi bahkan sadar jika genggaman tangan Fred sudah terlepas dan Fred nampak siap dengan pedangnya. Nampak aneh memang, sebab biasanya tangan itu selalu mencengkeram tongkat sihir dan bukannya bilah pedang.
“Kau mengenalnya?” Fred menoleh pada Ares.
“Tak begitu,” Ares nampak sebal ketika menjawabnya, “Jenis yang tidak akan pernah kau harapkan untuk bisa diajak berunding.”
Kedua alis Aeldren terangkat, “Hanya karena aku menolak permintaan dari ibumu untuk bergabung bersama para penyihir, bukan berarti aku tidak bisa diajak berunding, Ares. Tapi jika yang ingin kau rundingkan adalah apa yang terjadi sekarang. Mungkin pemikiranmu tepat. Setelah kau membunuh beberapa kaumku di rumah kami sendiri bahkan setelah kami memberikanmu pertolongan, tidak. Jelas berunding bukan hal yang tepat. Bukan begitu?”
Aeldren maju dan Ares juga melangkah mendekat, kedua pedang mereka sudah siap untuk saling melumpuhkan satu sama lain. Satu detik sebelum Ares melompat, menerjang pada Aeldren, sebuah cahaya biru gelap membuat mereka berdua terpental ke arah berlawanan. Ares menggerang kesakitan dan beberapa prajurit elf membantu Aeldren yang terjungkal untuk kembali berdiri tegak.
“Tidak akan ada pertarungan sekarang.”
Suara itu dingin dan tegas, dan semua prajurit elf menunduk hormat dan kerumunan mereka terbelah ketika seseorang berjalan ke arah Fred, Ares dan Ribi. Landis memandang tiga manusia di depannya dan dagunya terangkat angkuh.
“Sangat tidak sopan.” kecamnya.
Ribi yang memegang tangan Ares untuk membantunya berdiri bisa mendengar sumpah serapah Ares yang diucapkannya dengan pelan. Dia tidak tahu siapa laki-laki tinggi dengan aura intimidasi kuat, yang tengah berdiri di depannya ini. Namun dia jelas orang yang penting karena bahkan Aeldren, yang sebelumnya terlihat sebagai pimpinan para elf, juga nampak diam dan hanya mendengarkan.
“Kau, Lord Landis?”
Landis menatap pada Fred yang berbicara. Bibirnya mengerut tidak suka dan garis wajahnya yang tidak ramah semakin jelas. Entah kenapa, Ribi tidak merasa bahwa elf di depannya ini adalah jenis yang sama seperti Lord Lagash.
“Aku memerintahkan pada rakyatku untuk menyelamatkan kalian. Mengobati kalian dan mengizinkan kalian tinggal di wilayahku. Tapi ternyata, penyihir tetap tidak bisa menunjukkan sikap sopan dan hormat mereka pada siapa yang telah menolong mereka.”
Ares mendengus, “Kau tidak akan menolong kami tanpa mengharapkan sesuatu dari kami, bukan? Aku tahu jelas jenis seperti apa kalian.”
Jika Landis tersinggung mendengar apa yang dikatakan Ares. Maka dia menyembunyikannya dengan baik. Sudut bibirnya tertarik dan dia tersenyum penuh makna, “Kau jelas sangat cerdas, putra sang pembangkang.”
Detik ketika Landis mengatakan hal tersebut, Ribi bisa melihat tubuh Ares menegang dan sorot mata Ares menggelap. Bibirnya terkatup rapat dan buku-buku tangannya tergenggam erat. Ares sedang sangat marah. Fred yang sepertinya mengerti dengan alasan Ares marah langsung mendorong mundur Ribi dan Ares.
“Ah, seorang interoir senior yang bahkan tak mampu menghadapi satu anilamarry. Apa yang kau pikir bisa kau lakukan untuk melawanku?”
Fred menggenggam erat pedangnya dan matanya menatap tajam pada Landis, “Sebagai raja para peri liar, aku tahu kau punya sihir, Lord Landis. Tapi aku tidak takut. Meski tanpa tongkat sihir dan hanya berpegang pada pedang bekas milik penjagamu ini, aku bisa melawanmu.” suaranya tegas dan penuh keyakinan.
Ribi yang hanya melihat punggung Fred saja bisa merasakan bagaimana Fred bersungguh-sungguh dengan yang dikatakannya. Dia tersenyum. Entah kenapa, sejak awal Ribi selalu tahu bahwa dia bisa mengandalkan Fred. Pipinya bersemu merah pada saat yang tepat karena Ares sedang meliriknya dengan tidak paham.
Tawa dingin Landis menyelamatkan Ribi yang salah tingkah dan sang raja elf liar sedang mencabut pedangnya yang terselip di samping pinggangnya.
“Aku dengan sangat senang hati akan mengabulkan keinginanmu.”
“Tidak, Lord Landis.”
Ribi dan Ares menoleh ke belakang dan mereka melihat Dave berjalan ke arah mereka dengan wajah tenang. Ribi menahan diri untuk tidak bersorak senang namun Ares justru nampak berang.
“Kemana saja kau?” geramnya.
Dave mendengar gerutuan Ares namun dia tahu mengabaikan Ares saat ini adalah waktu yang terbaik. Dia berjalan terus sampai berada sejajar dengan Fred yang belum menurunkan pedangnya. Dengan sopan, dia menyentuh lengan Fred dan Fred yang mengerti langsung menurunkan pedangnya.
Mata biru safir Dave menatap mata Lord Landis yang sekarang terlihat tidak ragu menunjukkan ekspresi kemarahannya.
“Aku memberitahumu informasi yang sangat berharga, pengeran kedua. Dan aku juga membawa kembali anilamarry-mu yang malang dari jalannya menuju kematian. Kuberikan sambutan ramah pada dirimu dan—“
“Aku hanya bisa memohon maaf padamu, Lord Landis.” Dave memotong perkataan Landis. Dia sudah menguasai semuanya, ekspresinya, suaranya dan ketegasan yang dimilikinya. Dia bukan lagi berdiri sebagai Dave Michail Miranda yang tidak tahu apa-apa seperti yang sebelumnya. Informasi yang diberikan oleh Memnus sudah membuka jalan pikirannya. Setidaknya dia tahu, dia tidak butuh orang lain selain anilamarry-nya sendiri untuk membuatnya mengerti pada banyak hal yang selama ini terbutakan darinya.
“Maafmu bukanlah hal yang kubutuhkan, pengeran.” suara Landis terkontrol sekarang. Setelah sebelumnya dia membelalak marah melihat kelancangan Dave yang berani mengintrupsi perkataannya.
Dave menarik nafas panjang, “Izinkan kami pergi dari kerajaanmu ini dengan damai.”
Aeldren mendengus, “Setelah semua yang kau dan teman-temanmu lakukan? Permintaanmu lancang, pangeran.”
Mata Dave melirik pada Aeldren yang berada di belakang Landis. Dia tahu, laki-laki elf itu adalah putra dari sang raja elf liar hanya dengan melihat tampilan fisiknya. Dia tidak pernah bertemu atau berbicara dengan laki-laki elf itu sebelumnya. Namun dia tahu desas-desus tentang Aeldren yang beredar di seluruh penjuru Tierraz.
Bibir Dave tertarik tipis, membentuk senyum, “Terima kasih atas ucapanmu, pangeran Aeldren—“
“Laki-laki itu tidak pantas disebut pangeran.” Dave bisa mendengar suara gerutuan Ares di belakangnya dan dia kembali mengabaikannya.
“—tapi aku mengatakan itu untuk Lord Landis. Dan bukan untukmu.”
Rahang Aeldren mengeras dan dia bergerak maju. Namun tangan Landis terangkat dan Aeldren menghentikan langkahnya. Dia menatap pada ayahnya dengan marah, tapi iris abu-abu ayahnya justru sedang terfokus pada Dave.
“Maka jawabannya adalah ya. Kau boleh pergi dari wilayahku dengan damai—“
“Ayah!!”
Tangan Landis kembali terangkat dan Aeldren membisu meski dadanya naik turun menahan amarahnya. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya bisa berkata seperti itu. Membiarkan pangeran Zerozhia dan gerombolannya ini pergi? Terutama perempuan itu? Mata Aeldren menatap ke arah Ribi yang terlihat sedang sangat senang dan berkali-kali tersenyum lebar pada Ares setelah mendengar yang dikatakan oleh ayahnya.
“Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Dave ragu pada apa yang baru saja didengarnya.
Landis mengangguk, “Tapi perempuan itu tidak.”
Mata Dave melebar, dia tahu jelas siapa yang dimaksud oleh Landis. Ribi. Siapa lagi? Dan membiarkan seorang kelahiran kembali dari Edna berada dalam kekuasaan raja elf liar yang jelas menentang kekuasaan penyihir? Tentu saja tidak.
“Aku tidak akan membiarkan Ribi tetap tinggal di sini.” jawab Dave tanpa keraguan sedikitpun.
Ribi, Ares dan Fred yang awalnya tidak paham pada apa yang dimaksud oleh Landis langsung ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Dave. Ares menatap Ribi dengan seribu pertanyaan dari pancaran matanya. Ribi menggeleng tidak mengerti. Fred menoleh pada Dave yang ada di sampingnya dan sang pangeran sama sekali tidak terlihat ingin menjelaskan apapun pada mereka.
“Maka kau tidak memberiku pilihan, pangeran.” Landis menegakkan pedangnya dan tangan kiri Dave terangkat. Sebuah pedang perak keluar dari tangannya dan tergenggam erat menyatu dengan tangannya.
Sejak awal Dave salah menebak. Dia berpikir dia bisa menggunakan sihir teportasinya untuk keluar dari kerajaan ini. Namun ternyata dia salah. Dia telah mencobanya beberapa waktu lalu ketika Ares dan Fred berlari ke arah yang dia tunjuk untuk menjemput Ribi. Tapi sihirnya sama sekali tidak berfungsi. Ada kubah pelindung kuat di sini dan dia benar-benar frustasi dibuatnya. Apalagi semua penjelasan dari Ares tentang kemungkinan rencana buruk yang dimiliki oleh para elf liar.
Suara pedang beradu langsung terdengar memenuhi lorong itu. Dave berhadapan langsung dengan Landis. Fred dengan Aeldren, sementara Ares dan Ribi harus menghadapi para prajurit elf yang jumlahnya mencengangkan.
Ares menyodok lengan Ribi yang setengah gemetar, “Kau yang terbunuh atau mereka yang kau bunuh. Cuma ada dua pilihan itu, Gabrietta. Kau bukan lagi ada di dunia lemahmu yang dulu. Tierraz berbeda dengan tempat itu.” ucapnya sebelum dia melompat dan menahan pedang seorang elf yang nyaris mengenai Ribi.
Sementara itu, Ribi langsung tegang. Bukankah hanya dia, Dave dan Argulus yang tahu bahwa Ribi bukan berasal dari Tierraz? Namun ucapan Ares menunjukkan bahwa dia tahu dan perempuan itu memilih diam dan tidak mengatakan apapun padanya atau pada orang lain.
Kau yang terbunuh atau mereka yang kau bunuh. Cuma ada dua pilihan itu, Gabrietta. Kau bukan lagi ada di dunia lemahmu yang dulu. Tierraz berbeda dengan tempat itu
Ribi mengangkat pedangnya dan menjatuhkan apel pemberian si elf perempuan dan langsung membantu Ares. Ini pertama kalinya dia menggunakan pedang dan entah bagaimana, gerakannya terasa luwes seolah pedang di tangannya bukan hal baru baginya. Dia tidak memejamkan matanya ketika pertama kali dia menyabet dada seorang prajurit. Darah pertama di pedangnya dan dia bahkan tak punya cukup waktu untuk sekedar menenangkan detak jantungnya karena masih banyak lagi di sekitarnya.
Kau yang terbunuh atau mereka yang kau bunuh.
Kata-kata Ares terpatri kuat dalam benaknya dan dia bergerak dengan kombinasi teknik taekwondo yang dikuasainya. Aku tidak ingin mati, aku tidak boleh mati sekarang, bisiknya pada dirinya sendiri. Tapi sepertinya kemampuan pedangnya masih tidak cukup jika harus melawan para prajurit elf yang sudah terlatih.
“Aaargggh..” Ribi terjungkal dan pedangnya terlepas. Dia melihat ke depan. Sebuah pedang berkilat siap membunuhnya. Ribi menutup matanya tepat ketika dia mendengar suara pedang terlempar. Dia membuka matanya dan seorang pemuda dengan mata kecoklatan tersenyum riang padanya.
“Memnus,”
Memnus nyengir lebar, dan membantunya bangun, “Jangan sampai kau mati di tangan seorang prajurit elf, nona muda. Luca akan membunuhku jika dia mendengar tentang hal ini.” dia tertawa keras, sebelum berputar dan dua pedang tiba-tiba muncul di tangannya. Dengan sangat gampang, dia menebas banyak kepala dan Ribi terpaksa harus menelan ludahnya karena ngeri.
Dengan nafas tersengal-sengal, Ares melompat mendekat pada Ribi dan menatapnya, “Kau baik-baik saja?”
Ribi mengangguk, dia melihat ada guratan berdarah di pipi dan lengan Ares tapi nampaknya perempuan itu tidak peduli. Iris hitam Ares sedang memperhatikan Dave dan sang raja elf yang bertarung.
“Kenapa dia tidak menggunakan sihirnya?” gumam Ares.
Tapi perhatian Ribi tidak lama bertahan di sana karena dia mendengar suara berdebum keras dan dia melihat Fred terlempar menabrak dinding batu lorong ini. Pedangnya terjatuh dan Fred menggerang kesakitan sementara Aeldren mendekat dengan pedang terangkat. Siap menusuk Fred dan membuatnya mati.
Ribi meraih apapun yang ada di dekatnya dan berteriak keras, “Tidaaakkk!!!”
Dan sebuah apel yang berselimut api biru melayang menghantam pedang Aeldren yang langsung pecah berkeping-keping dan membuat laki-laki itu terlempar ke belakang smapai beberapa meter. Begitupula dengan para prajurit elf yang sedang bertarung melawan Memnus. Tak terkecuali Landis dan Dave. Semuanya. Semua terjatuh dan terlempar menghantam dinding atau rekan mereka lainnya.
Ares yang berdiri di dekat Ribi dan melihat semuanya langsung ternganga.
“Ka—kau.. bagaimana kau bisa melakukannya?”
 

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Thanks yaa..

    Next chapter mungkin Ribi belum tahu. Tapi kita lihat saja gimana reaksinya entar pas dia tahu. Well, soalnya Ares sama Fred kan juga belum tahu. 🙂

  2. Padahal belum apa2 ya …tapi dah mencekam banget perasaan …tegang mulu bawaannya bentar2 bertarung tapi seru sih yg bikin nggak nahan mah masih banyak misterinya yah walaupun sedikit demi sedikit terungkap pastinya ..tapi bikin nggak sabar nunggunya hahahahhaha…
    Tetap dinanti kelanjutan kisahnya dengan suka cita dan kesabaran tinggi tenang aja wkwkwkwk

  3. keren banget kak ceritax ! g sabar nunggu jiwa edna bangkit terus ketemu ma luca.

    lanjut……………….. jgn lama2, oh y RU ditunggu

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.