Xexa – Kisah Tentang Masa Awal

Jubah Lagash yang ringan berayun-ayun ketika dia melangkah dengan resah. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali terlihat keruh dan jelas menyatakan segalanya tidak berjalan sesuai yang dia mau.

“Kau merasakannya?”

Suara lembut wanita itu membuatnya berhenti. Dia menoleh, kegelisahannya sedikit menguap ketika dia melihat keanggunan Mora. Rambut putih peraknya yang panjang terlihat berkilau dan gaunnya yang jatuh menyentuh tanah entah kenapa terasa semakin membuat dia terlihat luar biasa. Dan berbincang biasa dengan Mora tanpa melibatkan semua tata atur kerajaan membuatnya lega.

Lagash mendesah, ini bukan waktunya merindukan masa-masa lama.

Lalu dia mengangguk, “Aku tidak pernah merasa segelisah ini sejak—“ dia menimbang, “Kau mengerti bukan, Mora? Semua ini membuatku merasa resah. Bagaimanapun aku tidak suka kembali melihat Alzarox berkuasa.”

Mora menatapnya, penuh pengertian, “Semua makhluk cahaya tidak menyukai kemungkinan itu, Lagash. Meskipun para makhluk kegelapan bersorak. Tapi jelas, kembali di bawah kekuasaan Alzarox bukanlah hal yang menyenangkan. Bahkan dipimpin oleh manusia—penyihir-penyihir ini, makhluk cahayapun tidak protes. Bukan begitu?”

Mata Lagash yang sewarna kelopak daun musim gugur mengamati Mora lekat-lekat dan dia mendesah untuk kedua kalinya, “Kecerdikan dan kemampuan Mevonia menyelamatkan kita semua. Meskipun Alzarox tidak tertarik dengan para peri hutan, seringkali dia tetap membuat kami kesulitan.”

“Pada akhirnya, makhluk-makhluk seperti kita tetap membutuhkan manusia, bukan?”

Lagash bersumpah jika dia melihat senyum sinis Mora. Wanita ini belum sepenuhnya memaafkannya, pikirnya.

“Apa yang kau pikirkan ketika menyarankan untuk menyeret gadis dunia lain itu ke dalam pencarian Xexa?”

Dia memandang Mora tak percaya mendengar apa yang dikatakan peri kerajaan itu, “Kau bercanda bukan, Mora? Kau seharusnya menyadari jika dia tidak berasal dari dunia lain. Dia adalah putri Tierraz. Jika bukan, mengapa kau pikir gerbang Tierraz membuka kepadanya, mengizinkannya menginjakkan kakinya ke tanah Tierraz? Keturunan Mevonia hanya membukakan jalan untuknya kembali.”

Kulit dahi Mora yang mulus bergerut, dia menatap Lagash dengan tajam. Sebelum kemudian matanya membulat, “Tidak mungkin.” desisnya.

“Tierraz bukan bumi yang mengizinkan siapapun dan dari manapun menapakkan kakinya ke tanah mereka. Tierraz hanya menerima mereka yang pulang. Bukan yang datang. Apakah terlalu lama terkurung di Zeyzga membuatmu melupakan banyak aturan alam Tierraz?”

Wajah memucat Mora membuatnya semakin terlihat seolah transparan. Kulitnya yang sudah seputih salju sama sekali tidak membantu. Dia memandang Lagash Akkadia untuk pertama kalinya dengan tatapan penuh rasa takut. Sesuatu yang dulu serasa dikenalinya dari wajah gadis itu membuatnya takut.

“Apakah dia—“

Lagash menggeleng, senyumnya pudar sepenuhnya,  “Aku tidak tahu.”

“Demi Tierraz! Apa yang sedang terjadi sekarang?” bibir semerah ceri milik Mora mengatup gemetar dan Lagash membuang pandangannya ke arah lain. Otaknya disesali banyak hal lain.

Benarkah memang dia?

***

Ribi tidak yakin sudah seberapa jauh mereka semua berlari dengan panik. Menerjang apapun yang ada di depan mereka. Bahkan dalam perlindungan Memnus sekalipun, dia merasa tidak aman. Jika kematian begitu dekat, dia adalah yang pertama bersalaman dengannya. Ares jelas bisa bertahan. Dan Fred, jangan tanya lagi, dia adalah anggota Interoir senior. Tapi dia? Dia tidak yakin kemampuan taekwondonya akan berguna untuk pertempuran di dunia ini.

Mereka berhenti mendadak, bertabrakan seperti roti lapis dan terjungkal ke belakang dan semua pikiran Ribi buyar. Fred dan Ares bangkit dengan cepat menatap apa yang membuat si gargoyle berhenti tanpa petanda. Ribi masih dalam posisi terjungkal ketika dia melihat makhluk aneh lain tepat beberapa meter dari Memnus, si gargoyle.

Sosok itu anggun, tegas dan berbahaya. Jika hanya melihat kepalanya saja, dia bisa memastikan makhluk itu layak tampil di majalah-majalah fashion beken yang digemari gadis-gadis di dunianya. Namun leher ke bawah, Ribi menelan ludah. Makluk itu adalah harpy, hewan bersayap yang memiliki tubuh seperti burung elang dengan kepala wanita dalam mitologi Yunani. Benar-benar wanita dengan iris mata segelap langit malam.

“Kau milik si ketua berwajah jelek itu?” suara Memnus menyelesaikan pikiran Ribi dan dia segera bangun, berdiri limbung di samping Fred yang dalam posisi siap serang.

“Bukan urusanmu untuk tahu, makhluk malang. Seharusnya kita tak boleh saling membunuh. Tapi kutukan penyihir pemilik ini melarang kita menolak.”

Suara yang keluar dari mulut si harpy terdengar berat bahkan bagi telinga Ribi yang tidak sensitif. Dia sama sekali tidak memahami apapun yang dikatakan olehnya. Dan melihat raut wajah Ares dan Fred, dia menebak mereka sama tidak tahunya. Hanya kata-kata yang keluar dari mulut Memnus yang bisa dia mengerti. Itu mengartikan satu hal, harpy di depannya ini adalah anilamarry yang penyihir pemiliknya menolak untuk mengizinkan siapapun memahami perkataan anilamarrynya.

Tapi dia tahu bahwa Memnus tahu karena si gargoyle terus bicara dan mulut si harpy terus terbuka dan menutup lalu terbuka lagi, mengeluarkan suara yang bahasanya sama sekali tidak diketahui Ribi. Beberapa lama mereka bicara dan entah bagaimana, di detik selanjutnya, si gargoyle mengeluarkan trisula besar melebihi tinggi tubuhnya dan si harpy melompat maju menerjangnya.

Ribi, Fred dan Ares terpental jauh ke belakang oleh ledakan energi yang timbul ketika dua anilamarry ini saling bergelung mengerikan di udara.

“Ap—apa yang terjadi?” mulut Ribi ternganga.

Ares mengabaikan Ribi dan meraba sikunya yang berdarah, menyadari ujung batang tajam mengoresnya cukup parah sementara Fred sudah terseok bangun. Mengulurkan tangannya membantu Ares.

“Kita harus menyingkir.” perintahnya.

“Tapi Memnus—“

Ares menatap Ribi lekat-lekat, “Kau mau mati di sini?”

“Kita tidak bisa meninggalkan Memnus bertarung sendirian.”

Ares sepenuhnya mengabaikan Ribi dan dia memandang Fred, mengangguk, “Seret saja dia.”

Awalnya Ribi tak percaya pada apa yang dia dengar, dan dia juga tidak menyangka jika Fred benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan oleh perempuan gila ini. Ribi mulai tidak menyukai sang putri pemimpin pengganti.

Mereka berlari meninggalkan area pertarungan para anilamarry dan Fred dengan sekuat tenaga setengah menyeret dan memaksa Ribi mengikuti langkah kaki mereka yang  tergesa.

“Fred lepaskan aku, kita harus membantu Memnus.”

Fred menggeleng di depannya dan tanpa menoleh dia menjawab, “Anilamarry seorang keturunan Mahha akan dapat menyelesaikan masalahnya, Ribi. Sungguh, kau tidak perlu mengkhawatirkan Memnus. Dia akan baik-baik saja.”

Tapi dia tidak yakin, bahkan dalam suaranya sendiri. Fred mendapati keraguan itu muncul dan dia tidak tahu bagaimana raut wajah Ribi ketika mendengar jawabannya karena gadis itu berlari setengah terpaksa di belakangnya.

Dia setuju dengan usul Ares untuk melarikan diri karena dia merasakannya. Anilamarry yang sekarang bertarung dengan anilamarry sang pangeran adalah jenis kuno. Nyaris sama dengan miliknya dan artinya cuma satu : Masalah.

Fred memaki dirinya sendiri karena menuruti permintaan Dave untuk menyingkirkan tongkat sihirnya dan mengantikannya dengan segala benda tajam khas para kaum liar. Lihat hasilnya sekarang, pangeran itu bahkan sudah melanggar aturannya sendiri dan menyeret mereka dalam bahaya yang tidak bisa mereka lawan. Tongkat sihir mereka berada di dalam kantong sihir milik Ares yang hilang ketika kaum liar menangkap mereka. Tanpa tongkat sihir di tangannya, dia tidak akan bisa memanggil Ahriman.

Mereka merasa sudah lari cukup jauh ketika mendadak bunyi ledakan kecil di depan mereka membuat mereka bertiga terlempar ke belakang dengan keadaan mengenaskan. Ribi tidak tahu bagian mana lagi dari tubuhnya yang terasa remuk karena dia merasa seluruh tubuhnya sakit. Bagian punggungnya jelas yang terparah karena dia menghantam pohon besar di belakangnya dengan sangat keras.

Matanya masih sedikit berkunang-kunang ketika dia mencoba berdiri. Tak jauh darinya, mungkin beberapa meter darinya, dia bisa melihat Ares dan Fred yang sepertinya juga terlihat tak lebih baik darinya. Yang paling buruk dari kemungkinan lainnya adalah apa yang sekarang berdiri di depan mereka, di tempat sumber ledakan yang melemparkan mereka bertiga seperti serpihan itu. Sang harpy dengan kondisi yang tidak sebaik ketika pertama kali dia muncul, berdiri di sana. Hidup meski penuh luka.

Memnus, pikir Ribi pertama kali ketika dia melihat si harpy.

Tapi ketakutannya menghilang ketika sosok makhluk lain muncul tak lama kemudian dengan bunyi desisan keras. Lalu di sanalah dia, masih dalam sosok gargoyle paling compang camping yang pernah dilihat Ribi, tapi masih hidup. Dia benar-benar merasa ingin memeluk punggung si gargoyle saking leganya.

“Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku, Ramuthra?” suara serak si gargoyle terdengar. Dan rupanya dalam pertarungan sebelumnya, Memnus akhirnya mengetahui nama dari lawannya.

Si harpy mengusap darah yang menetes dari keningnya dan nampak tidak senang.

“Aku datang dengan dua perintah, Memnus. Satu untuk membunuhmu dan satu untuk menangkap mereka. Aku ingin menyelesaikannya dengan praktis, dalam satu tempat.”

Memnus mendengus meskipun itu membuat rasa nyeri dalam intisarinya yang terluka semakin terasa. Dia sejujurnya tidak yakin bisa menghadapi Ramuthra. Milik siapapun dia, Memnus tahu, Ramuthra lebih kuat darinya dan kenyataan itu membuatnya frustasi.

Ribi yang tidak bisa melihat wajah frustasi si gargoyle mengalihkan perhatiannya pada arah lain. Fred terlihat panik dan mengoyang-goyang tubuh Ares yang tak bergerak. Setengah berlari, Ribi terseok-seok mencapai tempat Fred dan laki-laki itu terlihat berantakan juga gugup.

“Ares. Ares. Kau tidak apa-apa?”

Tapi mata sang putri Azhena tetap tertutup dan Ribi melihat cairan merah di atas daun-daun kering di dekat kepala Ares. Dia segera berlulut di samping Ares dan meraih kepala Ares dengan sangat hati-hati. Dan ketika tangannya menyentuh belakang kepala Ares, dia merasakan cairan hangat menempel di telapak tangannya.

“Darah.”

Fred terlihat memucat dan dia meraih tubuh Ares dari Ribi dan memeluknya dengan cara yang membuat Ribi merasa iri.

“Ares, bangunlah.”

Tepat sebelum Ribi berusaha mengenyahkan perasaan itu, terdengar suara ledakan lebih hebat dan dia melihat si gargoyle terpelanting jauh, menabrak banyak batang besar pepohonan yang langsung ambruk dan rubuh di sekitarnya. Lalu tubuh si gargoyle terkapar dalam sisa-sisa sihir yang menghantamnya. Dia tidak bangun.

Saat si harpy melangkah pelan ke arah mereka. Ribi bisa merasakan kematiannya sudah dekat. Meskipun tahu itu sia-sia, dia berdiri di depan Fred yang masih memeluk tubuh Ares. Dia bisa merasakannya tubuhnya gemetar, seluruh hawa panas menyebar di tubuhnya. Dia tidak tahu apakah itu akibat ketakutan yang dirasakannya ataukah karena dia akan segera mati.

“Kau ti—tidak boleh membunuh kami.”

Bahkan suaranya terdengar lemah dan putus asa. Selesai sudah, pikirnya. Dia pergi dari dunianya, masuk ke dunia ini hanya untuk terbunuh di tangan makhluk sihir.

Si harpy mengatupkan bibirnya. Rambut panjangnya tergerai di belakang leher burungnya, berantakan tapi sama sekali tidak melunturkan aura berbahaya dari sepasang mata yang menatap Ribi lekat-lekat.

“Kau tidak punya kuasa untuk melarangku melakukan apapun, penyihir.”

Meskipun terkejut karena dia bisa memahami apa yang dikatakan oleh si harpy. Ribi tidak bisa memfokuskan pikirannya karena sedetik kemudian, dari sayap elang si harpy yang telah merapalkan sihirnya, muncul cahaya berwarna biru tua yang menyilaukan dan seluruh tubuhnya terasa terbakar bahkan sebelum cahaya itu menyentuhnya.

Dia berteriak keras, mengangkat kedua tangannya dan hal terakhir yang bisa diingatnya sebelum dia terlempar dengan menyeret Fred dan Ares bersamanya adalah api.

Api yang sangat besar, yang entah karena setengah sadar atau tidak, dilihatnya seolah keluar dari telapak tangannya. Tapi semua itu menghilang bersama jatuhnya dia dan teman-temannya ke dalam jurang di belakang mereka. Dia pingsan.

***

Ribi tidak pernah merasa sesakit ini seumur hidupnya. Dia bangun dengan tubuh serasa remuk redam dan kepala berdenyut-denyut menyakitkan. Dia mencoba beringsut bangun, namun bukan ranting, tanah atau dedaunan kering yang dirasakannya ketika dia mencoba bangun, melainkan kain lembut yang saking lembutnya bisa membuat tangannya tergelincir ketika menyentuhnya.

Satu sentuhan dari tangan yang terasa dingin menghentikan usaha Ribi untuk bangun, dan dalam kesadaran yang belum penuh, dia tidak bisa benar-benar melihat pemilik tangan itu.

“Minum ini dan tidurlah lagi.” suara itu jernih.

Dan Ribi anehnya menurut saja. Dengan masih dibantu tangan yang dingin itu, dia meminum apapun itu yang disodorkan kepadanya. Ketika cairan yang terasa seperti diet coke itu mengalir ke tenggorokannya, ada perasaan aneh bersamanya. Seolah-olah dengan meneguk cairan itu, semua rasa sakit di tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Sebagai gantinya, dia merasa benar-benar sangat mengantuk. Dia mengumamkan terima kasih yang tidak jelas dan jatuh tertidur di detik yang sama.

“Kapan dia akan terbangun dan sadar dari pengaruh Antropilla?”

Seraut wajah yang semula mengamati wajah tidur Ribi itu menoleh, tangannya meletakkan piala yang isinya baru saja diteguk habis Ribi ke atas meja kecil di dekat Ribi terbaring. Matanya yang hitam, serupa kegelapan hutan menatap laki-laki yang berdiri tegak di dekat pintu-pintu dari akar terjalin yang indah.

“Dia akan terbangun esok pagi, ayah.” jawabnya pelan seraya kembali menatap ke arah perempuan yang sudah terlelap itu. Ada perasaan asing ketika dia menatap wajah perempuan yang telah dia selamatkan itu. Perasaan yang menyatakan bahwa dia mengenal wajah itu dulu. Tapi seberapapun dia mencoba mengingat, dia tidak menemukan satu ingatan apapun tentang perempuan ini. Dia menghela nafas, lalu berdiri dan meninggalkan ruangan ini mengikuti langkah ayahnya yang sudah beranjak lebih dulu.

***

Dave berdiri di gerbang setinggi belasan meter yang dibangun dari kayu paling tebal dan paling kuat yang pernah dilihatnya. Sebagai ganti dinding dan benteng di sekitar gerbang mewujud dinding dari tumbuhan rambat yang begitu rapat sehingga burung kecil saja tidak akan bisa melewatinya. Dan Dave bisa merasakan betapa kuat sihir kuno khas para elf yang melindungi wilayah mereka.

Dia bisa saja langsung masuk ke dalam dengan merusak jalinan sihir pelindung ini, namun itu tidak bijak. Apalagi dengan para elf liar sebagai tuan rumahnya. Hanya akan ada masalah tanpa penyelesaian dengan cara baik yang menimpanya jika dia melakukan itu.

Tempat ini adalah satu-satunya pilihannya untuk mencari Ares, Ribi, Fred atau bahkan Memnus jika anilamarrynya itu masih hidup. Dave sudah menyisir semua daerah di sekeliling jurang tempat dia menemukan bekas pertarungan sihir anilamarry berada, dan hasilnya nol. Tak ada satupun dari mereka yang dia temukan. Dan itu membuatnya gusar.

Dia juga tidak suka menghadapi kenyataan bahwa dia sekarang berada di wilayah milik elf liar. Bagian dari bangsa elf yang menolak tunduk di bawah bendera kerajaan Zerozhia dan memilih mengasingkan diri di hutan liar ini. Menjadi bangsa yang keadaannya paling tidak diketahui bahkan oleh Lord Lagash sekalipun.

Mereka angkuh, tidak ramah dan tidak bisa ditebak. Selama hidupnya, Dave sama sekali tidak pernah bertemu satupun dari jenis mereka. Sebab dia tahu, para elf liar membenci keturunan penyihir lebih dari kaum liar. Entah apa yang terjadi di masa lalu, dan Dave menyesal tidak pernah memperhatikan ketika dulu Argulus menjelaskan kepadanya tentang sejarah Tierraz dan makhluk-makhluk di dalamnya.

Ketika Dave sedang bimbang antara berteriak atau mengetuk gerbang tinggi itu, mendadak gerbang itu terbuka perlahan. Seolah menyadari sosok asing sedang berdiri di depannya dan menunggu untuk masuk.

Berdiri diantara dua pintu gerbang yang mengayun terbuka, Dave bisa melihat sosok tinggi, ramping namun kuat di sana. Telinga runcing dan perawakannya yang kuat menunjukkan bahwa dia adalah elf penjaga. Sang penjaga membawa tombak panjang di tangan kanannya dan Dave bisa melihat belati perak terselip rapi di pinggangnya. Kepalanya dihiasi topi baja berwarna amber dan emas. Dia adalah satu di antara elf penjaga lain yang sosoknya nyaris serupa dan berdiri berjajar dengan wajah sama sekali tidak ramah, di sepanjang jalan di balik gerbang tersebut.

Si penjaga maju, berhenti tiga langkah di depan Dave, “Lord Landis menunggu anda di aula utama. Mari ikut saya.”

Selesai mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan dengan langkah gagah. Dave mengikuti si penjaga yang berwajah dingin masuk ke dalam. Begitu mereka masuk, gerbang mengayun pelan dan menutup di belakang Dave. Dia tahu dia harus bersikap baik jika ingin keluar dari sini tanpa menimbulkan pertarungan sihir jenis apapun.

Melewati para penjaga lain di kanan kiri yang tak bergerak sedikitpun, seolah dia tidak berjalan di depan mereka, membuat Dave semakin tidak menyukai tempat ini meskipun dia terkesan.

Ketika dia masuk, dia berharap melihat bangunan kastil atau hal lainnya, namun di dalam, lebih seperti ruangan bawah tanah yang begitu luas. Ruangan yang dibangun oleh alam karena atapnya merupakan jalinan rapat dari batang-batang pohon yang membentuk pola menakjubkan. Daun-daun dan tunasnya yang tumbuh di batang tersebut memberikan sentuhan menawan dan Dave yakin, jika hujan, tanah yang merupakan lantai istana ini tidak akan basah sama sekali. Penerangannya dari celah-celah berpola sehingga jika Dave menatap ke atas, cahaya matahari yang masuk nampak seperti jatuh begitu saja dari kegelapan. Seolah membentuh jalan bagi sesuatu yang baru turun dari langit.

Di dalam, segala hal tak lepas dari pohon. Undakan-undakan tangga terbuat dari akar-akar bengkok yang begitu besar dan dibentuk begitu indah menjadi sebuah pijakan menuju ke atas. Menuju ke aula utama yang berbentuk serupa tonjolan tanah yang luas dan ditopang puluhan pohon-pohon tanpa daun. Meskipun ganjil, seratus orang berdiri di atasnyapun, Dave yakin tempat itu tak akan roboh.

Lalu di sana, di ujung ruangan, duduk di atas singasana yang terbuat dari kayu-kayu paling cantik dan ukiran-ukiran menakjubkan, sosok paling berkuasa di tempat ini, Landis. Bahkan dalam posisi duduk, dia terlihat menjulang tinggi dan berkuasa. Garis-garis wajahnya sempurna, tegas dan kejam. Rambut panjangnya yang berwarna perak jatuh dengan sempurna sampai ke pinggangnya. Di atas kepalanya bertengger mahkota dari akar-akar kecil yang dijalin mewah dan dihiasi batu-batu alam paling menawan. Beberapa daun musim gugur berwarna merah juga ada di sana. Entah bagaimana, memberi kesan seolah dia adalah penguasa seluruh hutan di Tierraz.

Si penjaga memberi salam hormat kepadanya lalu mundur dan meninggalkan Dave sendirian bersama Landis. Dave sadar dia menelan air ludahnya ketika menatap sosok Landis. Lord Landis adalah gambaran sempurna untuk sosok raja penguasa dunia. Bahkan hanya dengan keberadaannya, dia bisa mengintimidasi siapapun yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali Dave yang juga merasakan aura penguasa milik sang raja elf liar.

Dia berusaha menatap lurus pada Landis dan merasa kesulitan karena mata abu-abu sang penguasa juga tengah memandangnya dengan tatapan asing. Seolah Landis sedang menimbang apakah dia mau bicara dengan Dave atau tidak.

Sial, pikir Dave. Lord Lagash yang merupakan raja para elf di Tierraz bahkan tak punya aura semengerikan Landis. Padahal dia tahu, jika pasukan elf yang berada di bawah pimpinan Lagash Akkadia jumlahnya berkali-kali lipat dari seluruh elf liar yang bernaung di bawah perlindungan Landis.

Dave menarik nafas panjang sebelum bicara, “Sebelumnya maafkan aku memasuki wilayahmu tanpa izin, Lord Landis tapi aku—“

“Aku tahu apa yang membawamu ke sini, pangeran.” suara yang memotong ucapanya itu terrdengar jernih, khas suara para elf. Namun juga tegas dan penuh kekuasaan.

“Apakah kau menyelamatkan mereka?”

Landis mengangguk samar dan Dave merasakan kelegaan luar biasa menerpanya, lalu dia teringat pada Memnus, “Apakah kau juga menemukan anilamarryku?”

“Seharusnya aku tidak mengizinkan ada makhluk lain selain para elf ke dalam tempat ini, tapi aku telah mengizinkan dua penyihir lain dibawa masuk. Maka satu anilamarry yang sekarat tidak akan mengubah keadaan.”

Dave mencelos mendengar penuturan Landis. Dia benar-benar ingin melihat keadaan Memnus sekarang. Karena dia tahu sihirnya akan menyembuhkan anilamarrynya itu. Dia sudah akan membuka mulutnya untuk meminta bertemu dengan Memnus ketika suara Landis menghentikannya.

“Bagaimana kau bisa menemukan putri api, Lord Daviraz?”

Dave terlalu tidak mengerti untuk bisa menjawab pertanyaan Landis. Apalagi ketika dia mendengar Landis memanggilnya dengan nama kerajaannya. Seperti kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Lord Lagash.

“Putri api?”

***

Landis memperhatikan keturunan Mevonia yang berdiri gugup di depannya. Dia seharusnya bisa menebak jika para penyihir itu tidak memberitahunya apapun. Bocah ini tidak tahu apa-apa. Jika Michail dan Miranda masih hidup, mungkin anak laki-lakinya ini tidak akan terlihat sebodoh dan selemah ini.

“Kau tidak tahu apa putri api itu?”

Kepala Dave mengangguk ragu dan Landis tidak tahan untuk tidak tertawa. Tawa penuh cemoohan. Lihat di tangan siapa kekuasaan tertinggi Tierraz sekarang berada. Di tangan anak laki-laki yang bahkan tak tahu pada sejarah dunianya sendiri. Landis tahu jika sejarah lama Tierraz telah banyak dibelokkan oleh para penyihir. Dikurangi dan ditambahi bahkan diubah sepenuhnya agar terdengar bagus di telinga keturunan mereka. Tapi tetap saja, menyembunyikan hal tersebut dari satu-satunya pewaris tahta kerajaan mereka jelas bukan hal yang patut diberikan pujian. Kebohongan dan ketidaktahuan hanya akan membuat bocah ini semakin lemah dan mudah disingkirkan.

Bukankah segalanya sedang dimulai sekarang? Landis mendengar jika pencarian Xexa telah dilakukan dan Lagash bahkan memberikan restunya pada kelompok si pangeran. Tapi apa sepupunya itu lupa memberitahu bocah ini tentang hal-hal penting lainnya? Dia menggeleng tidak percaya. Tidak menyesali keputusannya untuk tidak tunduk di bawah kekuasaan Mevonia ketika itu.

“Apakah kau tidak tahu apakah yang dilakukan oleh Mevonia untuk mengalahkan Alzarox di masa yang kaummu sebut sebagai masa kegelapan Tierraz, pangeran?”

Landis bisa melihat kening Dave mengerut, namun dia tidak mengatakan apapun. Cukup bagi Landis untuk tahu bahwa Dave juga tidak benar-benar mengerti sejarah leluhurnya sendiri.

“Tahukan kau Alzarox mempunyai seorang putra? Putra yang kekejamannya melebihi Alzarox sendiri.”

“Luca?”

“Setidaknya kau tahu tentang itu.”

“Apa hubungan Luca dengan ini semua?”

Sudut bibir Landis tertarik sedikit, “Menyingkirkan Luca adalah pencapaian terbesar yang dicapai oleh Mevonia dalam usahanya mengalahkan Alzarox. Tapi apakah penyihir lain juga memberitahumu tentang apa yang dilakukan oleh Mevonia untuk bisa membunuh Luca?”

Wajah di depan Landis terlihat tidak senang. Sang pangeran tidak tahu.

“Mevonia menikam tepat pada kelemahan Luca. Membunuh satu-satunya wanita yang dicintai oleh Luca, Edna, sang putri api. Kehilangan Edna membuat Luca marah, lemah dan mudah disingkirkan. Dan seperti yang kau tahu, kehilangan Luca membuat kekuatan Alzarox berkurang. Hingga akhirnya Mevonia berhasil mengurung Alzarox ke perut Tierraz, menyegelnya bersama semua makhluk kegelapan lainnya dengan sihir paling kuno. Sihir pertama yang tercipta di Tierraz yang entah bagaimana bisa diketahui olehnya.”

Landis berhenti, mengamati wajah Dave yang serius mendengarkannya. Dia menyukai ekspresi di wajah Dave yang pucat.

“Apakah kau tahu jika Luca tidak ikut tersegel bersama ayah dan rakyatnya? Mevonia menghancurkan wujud fisik Luca namun jiwa Luca masih hidup. Bersarang pada satu kehidupan dan kehidupan lainnya sampai dia menyelesaikan sumpahnya.”

Kedua alis Dave saling bertemu, “Sumpah?”

“Sumpah untuk menemukan Edna. Makhluk api juga tidak mati, pangeran. Apalagi putri api. Mevonia hanya membunuh bentuk pertama Edna. Tapi dia tidak tahu jika Edna akan terlahir lagi menjadi bentuk lainnya. Penyihir adalah bangsa bungsu di Tierraz, pangeran. Tak banyak yang mereka tahu tapi mereka terlalu pongah dan berbangga pada apa yang mereka miliki.”

“Dan apa hubungannya den—“

“Putri api itu bersamamu. Dan aneh melihatmu bersama sang putri api jika tujuanmu adalah mencegah terbukanya segel sumpah Nerethir. Jika Luca menemukan pasangannya itu, mengingat masa lalunya, dia akan terbangkit dan kekuatannya akan kembali. Kembalinya Luca adalah awal dari segala hal buruk yang tidak pernah kau bayangkan sanggup terjadi Tierraz.”

Dave semakin pucat, “Ares adalah putri dari Azhena. Dia jelas bukan kelahiran kembali dar—“

“Bukan putri Azhena yang kumaksud, pangeran.”

Gabrietta?

Dave yakin dia bisa terjatuh saking terkejutnya mendengar apa yang diteriakkan oleh kepalanya.

Tidak mungkin.

Mau Baca Lainnya?

10 Comments

  1. Iyakan.. iyakan.. aku juga mikir gitu soalnya. Seneng banget waktu nulis tentang sifat dan kemampuan Ribi. Gabrietta mah emang kece badai. Hahahha 😀

    EH, kok bisa mikir kalo Fred itu kakaknya Dave sih? Fred = Danesh? Seperti itu?

  2. Ribi itu sebenarnya siapa sih kak? Putri api atau Xexa atau apa gitu kak?
    kasih tau dong kak….penasaran banget ni….ya ya ya…
    tetap semangat ya kak ngelanjutin ceritanya….
    aku tetap setia menunggu…hehehe…..

  3. Ribi itu sebenarnya…. ah ngga kujawab aja deh. Nanti kalau aku jelasin di sini. Ceritanya malah ga seru. Putri api, yup.. itulah sederhananya siapa Ribi sebenarnya. Apa itu putri api? Nanti.. ada di next chapter ya. 😀

    Nah, apa Ribi Xexa? Jelas bukan dong. Xexa-kan bukan makhluk hidup. Xexa itu batu segel sumpah Nerethir. Dimana jika Xexa dihancurkan, maka sumpah Nerethir akan terbatalkan bersamanya dan yah.. Nerethir dan semua bangsanya bisa bebas.

    Semangat juga buat kamu.
    Hahahha.. jangan bosan-bosan menunggu ceita ini ya. Apalagi yang nulis orang ngga konsisten macam aku. 😛 😛

  4. wah………. seru banget. G sabar ribi ktemu sama luca, kykx bakal keren abis !!!!!!!!!!!!
    Kak lanjutin ceritax sampe akhir dong, kepo banget nih ! Pingin tahu pas ribi ktemu luca………….

    updatex jgn lama2 y…………………..please !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. Iyaaaahhh.. ga sabar juga nulis bagian pas akhirnya jiwa Edna ketemu jiwa Luca. Alhasil, Ribi gimana juga yah. Ribikan sama dengan Edna. 😛 😛

    Pasti dilanjut sampe selesai.

    PS. Xexa ini ceritanya bakal puwaaanjaaaanggggg.

Leave a Reply

Your email address will not be published.