Xexa – Kisah

Dave menghela nafas panjang dengan wajah tidak tenang, dia duduk di tepian tempat tidurnya yang merapat dinding. Menempelkan sebagian wajahnya ke jendela besar yang berembun. Matanya memandang kosong ke arah hutan Zhitam yang hanya nampak seperti siluet kegelapan yang menguarkan hawa menakutkan bagi kebanyakan orang, tapi tidak padanya. Dia sudah terbiasa dengan aura hutan Zhitam dan tidak pernah merasa terganggu dengan hutan itu. Hanya saja dia memang tidak nyaman jika berada terlalu lama disana.

“Kau mau memandangi hutan itu sampai pagi, Dave.”

Hanya helaan nafas Dave yang terdengar sebelum dia berbalik dan melihat seorang anak laki-laki seusianya sedang duduk dengan kaki tersilang di atas salah satu kursi empuk yang ada di ruang tidurnya yang sangat luas, “Pergilah, Memnus. Aku tidak ingin diganggu.” Tepisnya, kembali menempelkan sebagian wajahnya ke jendela.

“Aku tidak bisa pergi kalau penyihir pemilikku sepertinya sedang kalut seperti ini. Aku tahu kau mengkhawatirkan banyak hal, hanya saja kau tidak harus memendamnya sendirian. Kau bisa berbagi masalahmu denganku.”

Dave menoleh dengan wajah tidak senang.

“Jika kau mau sih,” Memnus buru-buru menambahkan.

“Sudahlah, jangan banyak omong. Aku sedang malas berdebat denganmu, Memnus. Kembali saja ke wujud kutu atau apapun yang tidak bisa kulihat. Aku sedang ingin sendirian.” Gerutu Dave.

“Astaga-astaga.” Memnus melompat dari kursinya dan melangkah mendekati Dave, “Kau menyuruhku berubah menjadi kutu? Kenapa tidak debu sekalian atau lebih baik malah partikel.”

Dave mengibaskan tangannya, “Semaumu saja.”

Memnus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sepertinya kau perlu berlatih mengendalikan emosimu. Kau bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan kalau sudah seperti ini.”

Ketika sepertinya Dave tak mau menanggapinya. Memnus kembali berbicara, “Kau tahu, marah-marah tak akan menyelesaikan masalah. Seharusnya kau bertindak saja daripada memilih jadi arca di tempat tidur.”

Dave memutar tubuhnya, “Aku tidak sedang jadi arca.”

“Astaga Dave! Dari sekian banyak yang kukatakan, kau malah memusingkan yang itu.” Memnus berdecak, menatap Dave yang melihatnya dengan kening berkerut, “Temui saja Ares. Sepertinya cuma perempuan itu yang bisa menenangkanmu.”

Mata Dave memicing dengan tidak senang.

“Oh ayolah Dave, kau tahu apa maksudku. Kau sudah membagi semua yang kau tahu dengan Ares beberapa hari yang lalu. Namun wajahmu masih nampak saja seperti ini. Aku berani bertaruh kau belum mengatakan tentang yang itu.”

Penekanan pada dua kata “yang itu” membuat Dave semakin terlihat gelisah, dia menegakkan punggungnya, menggeleng, “Aku tidak siap.” Akunya kemudian.

“Sudah kuduga.”

“Lalu menurutmu apa aku harus mengatakannya kepada Ares?”

“Tidak harus. Hanya jika kau mau, itu juga tidak apa-apa. Mungkin itu bisa sedikit membuatmu tenang.”

Dave terlihat berpikir keras, sebelum dia mendesah dengan kasar, “Tidak. Aku tidak akan mengatakan kepada Ares apapun tentang hal ini. Aku tidak ingin membuatnya berpikir banyak. sudah cukup banyak masalah yang sekarang memenuhi pikirannya.”

Memnus mengangguk-angguk, “Ya. jika itu pilihanmu, kupikir tidak terlalu buruk. Tapi yang jelas, kau harus menemui Azhena besok. Kau sudah terlalu banyak mengulur-ulur waktumu untuk menemuinya.”

Dave tak terlihat akan membantah sehingga Memnus melanjutkan, “Jadi sekarang lebih baik kau tidur sehinga aku bisa mengistirahatkan benakku dengan nyaman sampai besok. Aku yakin kau akan sangat merepotkanku besok. Pergi ke kastil kerajaan dan menjumpai beberapa penyihir tua yang menyebalkan, itu terdengar tidak menyenangkan.”

“Yah.” Dave mendesah panjang, “Kurasa kau benar.” Katanya lagi sambil membaringkan tubuhnya, “Besok akan menjadi hari yang panjang.” Dia menguap dan beberpa meit kemudian sudah terlelap. Memnus mengangguk pelan melihat penyihir pemiliknya tertidur. Dia tersenyum sebelum sebuah asap tipis menyelubunginya dan dia lenyap.

***

Ribi mengubah posisi tidurnya dengan gelisah. Ini sudah hampir dini hari dan dia sama sekali belum bisa memejamkan matanya barang sedikitpun. Ini sudah berhari-hari sejak dia berharap dengan besar bahwa anak laki-laki pemarah itu akan datang ke rumah ini. Namun Dave sama sekali tak terlihat akan datang. Apa dia sudah melupakan Ribi? Pikiran itu terus menerus menghantuinya. Jika Dave tidak datang, maka dia tidak akan bisa membeli tongkat sihir yang layak untuk dipakainya belajar bersama Argulus. Sama saja dia masih harus berlatih dengan tongkat sihir tua brengsek yang menyusahkan itu.

Ini benar-benar tidak bagus. Ribi sangat suka mempelajari sihir. Meskipun Argulus termasuk jenis yang sangat temperamental, dia jelas guru yang cakap. Ribi sudah sangat sering menerima kemarahan dari Argulus hanya karena dia salah merapal mantra atau hanya karena dia tidak bisa membentuk sihirnya dengan bagus. Tongkat sihir jelek itu jelas-jelas penyebab utamanya. Ribi tahu itu.

Jadi satu-satunya cara agar dia bisa berlatih sihir dengan lebih maksimal adalah segera menganti tongkat sihirnya, yang mana berarti bahwa dia harus menunggu Dave. Menyebalkan, gerutunya. Menunggu adalah salah satu hal yang tidak disukainya dan sekarang dia bahkan harus menunggu untuk sesuatu yang tidak tahu pastinya. Dia mengerjap lagi dan kembali teringat bagaimana pelajaran sihirnya dengan Argulus sore tadi.

 Laki-laki tua itu menatapnya dengan mata lelah sebelum bertanya padanya, “Kau sudah membaca semua buku yang kuberi untukmu bukan?”

Ribi mengangguk, “Aku bahkan mengulang membaca beberapa buku yang isinya kusukai.”

Argulus mengangguk-angguk senang. Anak didiknya ini jenis yang rajin dan itu akan memudahkannya untuk mengajari Ribi. “Nah, nak, karena kau sudah membaca semua buku yang kuberi untukmu, aku akan menanyakan beberapa hal padamu hanya supaya aku tahu kau benar-benar membacanya dengan baik.”

Dengan tangannya yang keriput, dia mengelus janggutnya sebelum melanjutkan, “Apa yang kau ketahui tentang pemberontakan Mohave, Ribi?”

Kedua alis Ribi tertaut dan keningnya berkerut dalam, “Pemberontakan apa?” tanyanya tidak paham.

“Pemberontakan Mohave.” Ulang Argulus dengan tidak sabar sementara Ribi berusaha dengan keras mengingat isi buku sejarah sihir yang sudah sangat dikuasainya dengan baik. Pemberontakan Mohave. Pemberontakan Mohave. Dia mengulang dengan frustasi kata kunci itu dan semakin frustasi ketika dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang pemberontakan Mohave yang ditanyakan oleh Argulus.

Dia menggeleng lemah. Merasa sangat bodoh. Dia sama sekali tidak ingat membaca bagian itu di buku sejarah sihir tua jelek yang diberikan oleh Argulus. Astaga, di bab berapa sih memangnya dibahas tentang pemberontakan Mohave. Dia menggigit bibir bawahnya. Matanya menyipit dan dia belum menyerah. Mohave-mohave-mohave. Itu tidak ada di halaman manapun yang artinya-

“Tapi tidak ada catatan atau pembahasan tentang pemberontakan Mohave di buku sejarah sihir yang kubaca.”

Argulus menatap Ribi lekat-lekat, Kau yakin, nak?”

Ribi mengangguk pasti, “Ya. tidak ada bab itu dalam buku yang kubaca. Kau bisa mengeceknya jika kau mau.” Ribi buru-buru memilah buku sejarah sihir yang ada di tumpukan buku-buku yang ada di atas kursi kosong di sampingnya. Dengan cepat ditariknya sebuah buku tebal yang kusam dari tumpukan itu dan menyerahkannya pada Argulus.

Mata Argulus meneliti buku ini sekilas dan membolak balik beberapa halamannya sementara Ribi menanti dengan was-was. Dia takut jika dia salah dan Argulus menemukan bab tentang pemberontakan Mohave di dalam sana. Dia menunggu dengan cemas ketika Argulus meletakkan buku itu ke atas meja yang menghalangi mereka berdua.

“Ah memang salahku. Buku ini cuma berisi sejarah sihir kuno, nak. Sepertinya aku harus membelikanmu buku sejarah sihir yang lebih baru agar kau bisa mengertahui banyak hal yang pernah terjadi di Zerozhia di masa lalu yang tidak terlalu jauh. Nah, kalau begitu aku akan menjelaskan tentang pemberontakan Mohave padamu dan kuharap kau dnegarkan ini baik-baik karena aku tidak akan senang mengulanginya untukmu.”

Ribi mengangguk, mengatur letak duduknya dan siap mendengarkan apapun yang dikatakan oleh gurunya itu.

Argulus berdehem, kemudian bicara dengan suaranya yang serak, “Dua puluh tahun lalu, seorang penyihir hitam paling kuat yang pernah ada di dunia ini memutuskan untuk menyerang semua kerajaan sihir yang ada. Kami sama sekali tidak tahu sejak kapan penyihir itu menggalang kekuatan hitamnya bersama semua penyihir kegelapan yang ada. Yang jelas, serangan pemberontakan itu datang begitu saja seperti badai tak terramalkan.”

“Pertama-tama dia menyerang kerajaan sihir Alkrez dan dengan menakjubkan berhasil menguasai kerajaan itu hanya dalam waktu lima hari, setelah itu Sparzvia menyusul kekalahan yang dialami Alkrez dalam hitungan hari yang juga sama cepat. Dunia sihir mendadak menjadi tempat yang sangat tidak aman. Namun penyihir hitam terkuat itu, atau kau bisa menyebut namanya, Mohave, tidak merasa puas hanya dengan memiliki dua kerajaan sihir di bawah bendera kegelapan mereka.”

“Kau tahu bukan, nak? Kegelapan selalu serakah dan menginginkan begitu banyak ruang yang harusnya dimiliki oleh cahaya. Maka seperti itu jugalah Mohave. Maka dengan semua kekuatan kelompoknya yang semakin bertambah, dia menyerang tiga kerajaan sihir lainnya. Namun tentu saja Zerozhia berada dalam daftar terakhir yang akan mereka serang.” Disini Ribi bisa melihat bagaimana ekspresi senang Argulus terlihat jelas.

“Mereka mana bisa mengalahkan Zerozhia sementara Mahha Miranda masih tegak melindungi Zerozhia. Lagipula mereka tidak akan bisa menembus kekuatan Interoir Zerozhia. Interoir Zerozhia itu yang terhebat.” Argulus tersenyum lebar. Dan Ribi mengingat setiap kata penting dan nama-nama yang disebutkan oleh Argulus, menyimpannya rapi di dalam kepalanya.

“Tapi entah bagaimana, aku tidak tahu apa yang terjadi ketika mendadak, pada suatu malam yang dingin di bulan September, Mohave dan semua kelompoknya memusatkan serangannya pada Zerozhia. Meninggalkan Mozaro dan Thussthra yang sebelumnya dengan sangat gigih berusaha mereka kuasai. Sepertinya mereka tahu bahwa hanya dengan mengalahkan Zerozhia, mereka baru bisa menguasai semua kerajaan sihir yang ada. Itu malam paling mengerikan yang bisa kuingat.” Mata Argulus menerawang, wajahnya terlihat sedih. Entah kenapa Ribi juga tertulari perasaan sedih yang mendalam, padahal dia tidak tahu peristiwa itu dan baru kali ini mendengar cerita ini dari Argulus.

“Pusat kota Zerozhia dipenuhi kutukan-kutukan mengerikan, jampi-jampi lawas, dan langit malam semerbak penuh dengan mantra-mantra terlontar tak tepat sasaran. Itu benar-benar malam penuh tekanan. Aku bahkan kehilangan anilamarryku, Kendr. Dia melindungiku dari serangan Mohave. Serangan langsung dan Kendr mati menyelamatkanku.” Argulus menyusut matanya yang berkaca-kaca.

 “Astaga baiklah-baiklah. Kembali fokus Ribi dan dengarkan aku lagi. Malam itu, Mohave melancarkan serangan terkuatnya. Begitu terencana dan Zerozhia merasakan kesulitan yang sangat jelas. Mahha Miranda bahkan harus turun tangan sendiri untuk menyelamatkan kerajaan ini. Padahal itu baru beberapa hari sejak dia melahirkan putra keduanya dan beberapa bulan sejak kematian Mahha Michail.” Argulus kembali menyusut airmatanya ketika sampai pada cerita ini. Ribi diam dan mencerna semua kata-kata Argulus dan tidak berminat untuk mengintrupsi cerita gurunya meski ada ribuan pertanyaan bercokol di kepalanya.

“Namun dengan usaha dan perlawanan keras pemberontakan bisa diatasi. Para penyihir pemberontak ditangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Bahkan Mohave sendiri harus dikurung di Razzermere sebagai tahanan seumur hidupnya.”

Ribi mengangguk, mengerti bagian ini. Razzermere, dia pernah membaca tentang tempat itu di sebuah buku yang juga diberikan oleh Argulus. Razzermere adalah penjara sihir terburuk yang pernah ada di dunia ini. Bertempat di sebuah teluk terpencil dan dikelilingi sihir kuno paling mematikan bagi para penyusup dan mereka yang mencoba melarikan diri. Meski terlihat tanpa perlindungan, sesungguhnya kubah-kubah gaib berpendar sangat kuat tapi tak terlihat, dibuat dari mantra dan jampi-jampi paling kuno yang pernah ada. Dan jangan coba-coba mendekat ke Razzermere jika kau bukan Mahha dan keturunannya atau kau akan musnah. Menjadi butiran debu paling halus bahkan sebelum kau bisa mengatakan huruf A.

“Tapi Ribi..” suara Argulus kembali terdengar penuh kesedihan, “Segala kemenangan tidak pernah ditebus gratis. Maka seperti itulah yang terjadi, Ribi. Mohave, penyihir yang sangat kuat. Sangat kuat dan tidak mau menyerah sampai akhir. Meski pada akhirnya dia dikalahkan, tapi kami, masyarakat dunia sihir harus membayarnya dengan kematian Mahha Miranda.” Argulus menarik nafas panjang, “Meski aku tidak terlalu menyukai Mahha Miranda, aku tetap merasa bahwa kematian terlalu cepat menyapanya. dia melakukan banyak hal terbaik selama dia menggantikan Mahha Michail. Dan kematiannya juga berarti satu masalah besar bagi dunia ini. Tidak ada yang menggantikan posisinya untuk melindungi Zerozhia dan dunia sihir karena satu-satunya putranya bahkan masih bayi pada waktu itu.”

“Tapi bukankah kau bilang dia melahirkan putra keduanya, guru? Jadi bayi itu masih punya kakak bukan?”

Argulus menggeleng-geleng keras, “Tidak. Tidak, sudah sering kukatakan jangan panggil aku guru, Ribi.” Ribi langsung mengangguk sedikit gugup sebelum akhirnya Argulus melanjutkan omongannya, “Putra pertama, Pangeran Danesh sudah disingkirkan dari dunia sihir ini karena suatu hal yang tidak bisa kukatakan padamu, Ribi. Dia dibuang ke dunia lain, yang berarti dunia dimana kau sebelumnya berada, bahkan sebelum dia genap berusia satu tahun.”

Ribi membelalakan matanya dnegan terkejut, “Dibuang? Tapi orangtua mana yang tega membuang anaknya meski itu karena alasan khusus bodoh atau apalah itu, apalagi anak itu masih bayi.” Protesnya berang. Kenyataan bahwa pangeran Danesh mengalami hal yang sama dengannya, dibuang oleh orangtua kandungnya, diserahkan ke panti asuhan, tidak punya teman dan kesepian, membuat Ribi benar-benar merasa tidak senang.

“Kau tidak harus memahami masalah ini, Ribi. Belum saatnya, namun ketika pada akhirnya kau tahu, kau akan mengerti kenapa pangeran Danesh dibuang oleh orangtuanya sendiri, Mahha Michail dan Mahha Miranda. Ada saat-saat tertentu dimana kau harus mengorbankan-bahkan keluargamu sendiri-untuk kebahagiaan rakyatmu dan semesta.”

Bagi Ribi itu omong kosong. Dia tidak akan pernah mau mengerti hal itu. Mendadak dia teringat sesuatu tentang pangeran-pangeran atau putra yang disebutkan oleh Argulus. “Argulus..” panggilnya ragu-ragu.

“Ya.” Argulus mengelus jenggotnya yang panjang. Nampak memikirkan sesuatu.

“Ketika kau marah, kau pernah memanggil Dave dengan sebutan pangeran, apakah mungkin kalau-“

“Ya.” potong Argulus, “Ya ya ya benar, bayi kecil Mahha Miranda itu adalah Dave. Pangeran kerajaan Zerozhia yang agung.” Dia tersenyum lebar sebelum terkekeh dengan senang, seakan lupa bahwa sebelumnya dia sampai menyusutkan airmatanya dua kali ketika menyeritakan kisah ini pada Ribi.

“Kau juga sudah bertemu dengan Mora bukan? Peri kerajaan Zeyzga? Seingatku Dave pernah mengatakan tentang hal itu sebelum membawamu kesini.”

Ribi mengangguk, dia ingat kastil menakjubkan itu dan Mora, perempuan rupawan yang sayangnya angkuh dan dikiranya menyukai Dave itu, astaga, bagaimana bisa dia melupakan saat-saat pertamanya mengenal dunia sihir ini. Tidak. Dia tak akan lupa.

Argulus menatap ke luar dan melihat langit sudah gelap ketika dia melompat bangkit, mengagetkan Ribi, “Oh astaga-astaga.” Jeritnya panik, “Aku harus ke ruang bawah tanahku. Astaga astaga, ramuanku.” Dia berlari sangat cepat seakan melayang tanpa menoleh lagi pada Ribi yang masih bertampang terkejut. Dihapuskannya raut muka itu segera, menghembuskan nafas panjang dan mendesah. Argulus dan obsesinya pada ramuan, sekarang Ribi sudah paham benar tentang hal itu.

Dia mendesah lagi, kembali merubah posisi tidurnya. Sekarang dia memandang langit-langit kamarnya dan berpikir lagi. Ternyata begitu banyak yang tidak dia tahu tentang dunia ini. Sejarahnya, sihirnya, misterinya, orang-orangnya..

Dave..

Ribi mendesah lagi. Bagaimana bisa bocah itu adalah pangeran Zerozhia? Bagaimana bisa dia jadi anak dari Mahha Miranda? Padahal sebelumnya Ribi mengira bahwa Dave adalah anak bandel dari dunia ini yang suka bermain-main dengan portal dimensi dan menyusup ke dalam dunianya. Segalanya memang tidak terduga dan sekarang dia harus terus menunggu sampai Dave bisa menyempatkan diri dan menemuinya disini. Sekedar untuk membuatnya bisa mendapatkan tongkat sihir baru dan buku-buku sihir baru yang lebih lengkap dan bagus. Dia mendesah dan melanjutkannya dengan uapan lebar. Sepertinya Ribi sudah terlalu lelah dan sudah banyak memikirkan hal-hal yang menganggu benaknya. Dia bergerak lagi dan merubah posisi tidurnya. Beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halusnya diantara kesunyian rumah kediaman Argulus.

***
Dave berjalan tegak melewati koridor-koridor besar penuh penyihir yang begitu melihatnya langsung menganggukkan kepalanya dan memandangnya hormat. Dave hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh. Tidak pernah ada respon lebih dari itu dan dia juga tidak ingin memberikannya. Anilamarrynya-Memnus-melayang di sampingnya dalam bentuk kumparan asap tak terlihat.
“Aku tidak suka reaksi orang-orang disini melihatmu.” Komentar Memnus.
“Aku juga.”
“Mereka tidak terlihat benar-benar menghormatimu. Cuma kamuflase agar mereka tidak terdepak dari tempat ini karena sikap lancang mereka.” Memnus mengerutu tidak jelas, sementara Dave berhenti menanggapi dan kembali memfokuskan jalannya. Dia berbelok di salah satu koridor kecil dan menyusuri lorong sepi itu. Berhenti tepat di depan patung Minotaur aneh, dia berdehem.
“Apakah Azhena di dalam?”
Minotaur itu mengerjap, tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengeser tubuhnya. Memberikan sebuah pintu besar di baliknya. Dave menyentuh pintu itu, yang langsung mengayun dengan lembut, membukan diri. Di dalam sana dia dapat melihat dengan jelas ruang kerja Azhena yang luas dan dipenuhi benda-benda aneh di samping tumpukan buku-buku yang jumlahnya hampir memenuhi sepertiga ruangan ini.
Seorang laki-laki muda, tinggi dengan wajah tampan menoleh ketika Dave masuk, dia menunduk hormat, “Pangeran.” Katanya sopan. Dave hanya mengangguk kecil, dia kembali mendengar suara laki-laki itu, “Sepertinya saya harus pergi segera. Pangeran tentu datang untuk membicarakan sesuatu dengan anda.” Katanya pada seorang wanita yang sebelumnya tak tampak terlihat karena terhalang oleh tubuh laki-laki itu
Wanita itu hanya mengangguk, dan membalas ucapan laki-laki itu sekenanya. Ketika dia melewati Dave, laki-laki itu kembali berhenti sejenak untuk menundukkan kepalanya, sekilas Dave dapat melihat mata coklatnya yang tajam sebelum laki-laki itu kembali berjalan dan menghilang di balik pintu yang mengayun terbuka.
“Siapa dia?” tanya Dave ketika pintu sudah mengayun tertutup.
“Salah satu anggota senior Interoir kita, Fredderick Colfer.”
Dave hanya bergumam tidak jelas, tidak menyadari ketika wanita itu bangkit. Jubah sutranya berkibar pelan ketika dia melangkah.
“Anggota senior? Kupikir usianya tak lebih dari dua puluh lima.”
“Tepat dua puluh lima.” Azhena tersenyum, “Dia jenis yang sangat cerdas, Dave.”
Dave tersenyum sinis, “Aku bisa melihatnya.” Matanya menyiratkan itu.
Azhena menelusuri rak-rak di seberang ruangan yang penuh dengan botol-botol berisi ramuan-ramuan. Dia nampak sibuk mengamati sesuatu, meski kemudian, suaranya yang lembut kembali terdengar, “Lalu apa yang membawamu kesini?”
“Aku ingin bicara denganmu.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

17 Comments

  1. Masih teka teki..
    Hayu atuh, yg rajin updatenya.. Hihi *ngarep*
    mkasih ya mba, udh mau diupdate n menyenangkan hati pembaca sperti saya ini. Hehe..
    #NisaAdjah : Watty n Twitter#

  2. Udh lama ya Xexa baru ϑί update lagi. Yg rutin dong say ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ ツ ☺ ayo §ǝ̍̍̍мα̍̍̊nğα̍̍̊τ (´▽`)/ . REE

  3. Iya dong, kan masih awal jadi masih penuh teka-teki.
    kembali kasihhh Nisa, menyenangkan hati pembaca adalah kepuasan tersendiri. Semangat semangat!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.