Xexa – Mohave

“Jadi kalian semua bersekongkol menyembunyikan ini dariku?” teriak Dave berang di depan Azhena, Argulus dan Mora. Sementara itu Ares dan Fred berdiri di sudut ruangan, hanya mendengarkan.

Azhena maju selangkah, kegusaran itu jelas tak bisa tersembunyi dari wajahnya. Dia melihat sekilas pada Mora yang hanya menunduk, “Kami punya alasan untuk melakukan ini.”

Dave mendengus, “Alasan? Alasan macam apa bibi? Karena ibuku?” dia berjalan menyeberangi ruangan, “Omong kosong.” Teriaknya seraya berbalik dan menatap mereka semua dengan kemarahan meluap, “Harusnya, dengan semua usia dan kebijaksanaan yang kalian miliki. Kalian bisa memilah apa yang penting dan tidak penting. Dan jika ramalan kuno, Xexa dan kakakku masuk dalam kategori tidak penting itu. Kalian melakukan kesalahan besar.”

“Dav-“

“Cukup, Argulus!” potong Dave berapi-api. Meskipun secara usia, Dave yang paling muda di sini. Namun semua yang ada di ruangan ini menyadari bahwa tidak akan mudah untuk menyurutkan kemarahannya. Dave adalah pemimpinnya.

“Aku bertanya padamu tentang Xexa ketika Azhena menutup mulutnya. Dan kau berbohong padaku. Aku tahu itu.” Dengan kedua mata biru safirnya dia mengedarkan pandangannya, “Apa kalian berpikir bahwa aku tidak punya kemampuan untuk menangani masalah ini? Kalian tidak percaya padaku??” dia tertawa sinis, “Karena aku masih muda?”

“Dave, kumohon-“

Dave mengangkat tangannya, Ares terdiam. Azhena memberikan petanda agar Ares tidak ikut campur. Dengan wajah setengah protes, Ares mundur kembali ke sudut ruangan.

“Aku tahu kami salah, Dave.” Suara Azhena menghentikan kesunyian asing yang memerangkap mereka. Dave hanya mengamati, tak berniat memotong ucapan Azhena. Dia mengamati, menunggu apapun yang akan dikatakan Azhena sebagai pembelaan mereka.

“Tapi bagaimanapun, kami terikat sumpah kami pada Mahha Miranda. Aku pribadi, bersumpah di bawah nama agung Mahha Mevonia dan kebesaran Zerozhia, akan menjaga rahasia ini darimu sampai saat ini tiba.”

“Ibuku sudah tahu jika petanda ramalan kuno itu akan muncul?”

“Mahha Miranda tahu. Sebab-“ Azhena terdiam. Memandang pada Argulus. Argulus mengangguk pelan ke arahnya dan maju mendekat pada Dave.

“Sebab kami tahu Danesh akan kembali. Sejak Mahha Michail dan Lady Miranda memutuskan untuk menyelamatkan nyawa sang pangeran dari keputusan akhir persekutuan, mereka tahu akan tiba saatnya bagi Danesh untuk menuntut haknya atas negeri ini dan empat negeri lainnya.” Suara dalam Argulus terdengar serius, “Kami menghormati keputusan Mahha Michail meskipun itu menimbulkan kemarahan besar dalam persekutuan. Sebuah kutukan mendatangi Mahha Michail ketika dia membawa pergi pangeran Danesh ke dunia lain. Kutukan kuno yang akhirnya membawa Mahha Michail pada kematiannya ketika Lady Miranda sedang mengandung dirimu.”

Dave menggeleng tak percaya, “Aku tak mengerti apa salahnya. Kakakku, ayahku. Harusnya mereka masih hidup sampai sekarang jika ramalan kuno itu tidak pernah ada.”

Azhena menyentuh lembut bahu Dave, “Takdir tidak pernah bisa dirubah, Dave. Sekarang kau telah tahu segala hal tentang ramalan kuno, Xexa, dan segala hal yang menjadi kewajibanmu kelak. Kau harus menyiapkan dirimu-”

Mata tajam Dave menatap Azhena.

“-untuk pertemuan besar dan kemungkinan pencarian Xexa yang akan terjadi.”

***

Ribi mondar mandir dengan gelisah. Sesekali dia melirik ke arah pemuda jangkung dengan kulit kecoklatan yang duduk di sudut ruangan, memperhatikannya. Ribi langsung membuang muka ketika pandangan mereka bertabrakan. Dia masih mondar mandir tidak jelas setelahnya.

“Oh diamlah. Duduk atau tidur sana. Apa kau tidak lelah terus bergerak sedari tadi?” Memnus kehilangan kesabaran.

Dengan kesal Ribi menghentikan gerakannya, “Bebaskan aku. Katakan pada Dave bahwa aku tidak akan mengatakan apapun yang telah kudengar tadi kepada orang lain.”

Memnus mengangkat kedua tangannya, “Itu di luar kewenanganku, Nak. Kuberitahu kau, sejak aku bersama Dave. Aku tidak pernah melihat anak itu semarah tadi. Kurasa akan sulit bagimu mengelit dari keputusannya. Ah, si Dave itu keras kepala.”

Ribi melemparkan tubuhnya dengan putus asa ke atas tempat tidur nyaman di dekatnya. Dia duduk dan mengusap wajahnya kesal, “Bukan salahku jika aku mendengar percakapan mereka. Dave juga tidak melarang sejak awal.”

Si pemuda jangkung menyilangkan satu kakinya dan mengawasi Ribi. Ada sedikit rasa kasiannya pada gadis cantik itu. Apalagi dia tahu bagaimana dulu Ribi bisa sampai di sini. Dia menyandarkan punggungnya, “Berada di tempat dan waktu yang salah ya? Sering terjadi. Tidak bisa dihindari. Hadapi saja.”

Dengan jengkel Ribi menatap si pemuda yang masih mengoceh.

“Lihat saja sisi positifnya. Kau mungkin akan tinggal di sini. Ini tempat yang nyaman daripada rumah kecil dan jelek milik Argulus. Dave munngkin juga akan berbaik hati membiarkan satu peri kerajaan menemanimu di sini. Mungkin kau juga akan diajari sihir.”

“Aku tidak mau.” Teriak Ribi, “Aku lebih suka rumah Argulus. Dan kenapa kau masih di sini? Pergi saja sana.”

“Sebenarnya aku mau. Tapi aku malas. Kurasa bercakap-cakap denganmu akan sedikit menyenangkan. Suasana hati Dave sedang sangat buruk. Dia akan menjadi sangat sensitif  dan tidak menyenangkan.” Mata hitam bulat si pemuda menatap Ribi, “Kau tahu? Dave bisa menjadi sangat menyebalkan di saat-saat seperti ini. Lagipula aku tidak ingin menganggunya. Dia bisa saja memantraiku hanya untuk menghilangkan kekesalannya.

Mimik muka si pemuda menjadi sendu. Ribi mengerutkan keningnya, “Dave menyiksa anilamarrynya?”

Si pemuda tidak menjawab. Dia hanya menampilkan wajah sedih yang dramatis. Wajah gelisah Ribi berubah menjadi kemarahan. Dia memaki Dave dan tanpa sepengetahuannya, si pemuda nyengir dengan geli.

Selanjutnya nyaris sampai dini hari, Ribi mendengarkan cerita Memnus tentang kelakuan-kelakuan Dave yang tentunya merupakan kebohongan. Memnus menahan tawanya melihat bagaimana Ribi menelan mentah-mentah omongannya. Ini merupakan kesenangan sendiri baginya.

Tubuh si pemuda mengerut dan dalam satu gerakan kecil berubah  menjadi tikus kecil yang keluar melalui celah di bawah pintu saat Ribi mulai terlelap sejak wujud pemudanya memaksa Ribi tidur karena matahari bahkan sudah nyaris terbit. Tubuh si tikus bergerak lebih cepat dari kecepatan normal tikus biasa. Menghilang di pintu utama kastil terluar Zeyzga dan menghilang setelahnya.

***

“Kau sudah bangun atau malah belum tidur?” tanya si tikus yang baru saja bergerak masuk ke ruangan penuh buku yang diacak-acak.

Dave menoleh dan menjawab apapun melainkan kembali lagi menekuni kegiatannya. Si tikus yang kini sudah berubah menjadi pria gendut, menggaruk hidungnya dan duduk di atas tumpukan buku besar.

“Sepertinya belum tidur jika melihat cekungan jelek di matamu.” Komentarnya. Namun selanjutnya yang terdengar hanya suara kertas-kertas yang dibalik dengan gelisah karena Dave sama sekali tidak menggubris kehadiran anilamarrynya yang mulai bersungut kesal.

“Kau sedang apa sih?” gerutu Memnus sambil menendang satu tumpukan buku rendah sehingga buku-buku itu terjatuh dan menimbulkan suara yang membuat Dave akhirnya menoleh kepadanya dengan wajah marah. Si pria gendut nyengir.

“Bisakah kau diam dan tidak melakukan apapun?” teriak Dave berang. Matanya yang memerah nampak berair, penampilannya berantakan dan alih-alih menuruti apa kata Dave. Si pria gendut malah berdecak dan melompat turun, mendekat.

“Hari yang sangat berat, eh?” sindirnya.

Dave mengerutkan alisnya, “Diam saja. Jangan berkomentar apapun. Aku sedang tidak membutuhkanmu. Kau pergi saja, melakukan apapun. Terserah padamu.”

Si pria gendut terkekeh, “Tidak. Aku lebih suka menemani Masterku di sini.” Dia mengerling. Dave membuang muka dengan kesal, “Pergilah Memnus. Aku sedang tidak dalam kondisi yang cukup bagus untuk berbaik hati padamu jika kau terus merecoki pekerjaanku.”

“Aku tahu. Aku tahu.” Pria gendut itu mengelus-elus dagunya yang licin, “Hanya ingin membantu. Dua lebih baik daripada satu. Jadi, apa yang kau lakukan?” mata kecilnya mengitari ruangan yang berantakan ini, “Memporak-porandakan perpustakaan Zeyzga?”

Dave mendesah. Membuang tubuhnya ke kursi berlengan di dekatnya. “Bukan.” Katanya tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah dan putus asanya.

“Sesuatu berjalan tidak sesuai rencanamu?” Memnus menunjukkan wajah simpati. Bagaimanapun Dave adalah penyihir pemiliknya. Dia telah berada di samping bocah setengah dewasa ini bahkan ketika Dave masih bayi. Dan saat Dave berusia tujuh tahun, ketika untuk pertama kalinya Memnus mengambil wujud dan menunjukkan bentuk fisik ke depan Dave, dia masih ingat bagaimana pangeran kecil itu terkejut sejenak sebelum memelototinya dengan tatapan penasaran.

Kepala Dave menggeleng, “Aku bahkan tidak punya rencana. Aku hanya berusaha menghapus ketidaktahuanku tentang semua ini. Ini benar-benar membuatku frustasi.” Dia menyandarkan kepalanya ke belakang, “Pertemuan kecil di Merivor, ucapan Lord Lagash, dan disusul dengan fakta-fakta mengejutkan lainnya. Ibuku salah.” Dia diam sebentar, “Harusnya dia membiarkan aku tahu semua ini agar aku siap, dan bukannya membungkam Azhena maupun Argulus juga Mora. Membuatku terlihat seperti orang bodoh di depan anggota persekutuan.”

“Jadi kau sedang membaca banyak buku-buku kuno untuk menambah pengetahuanmu?” si pria gendut memasang wajah konyol yang segera dihapusnya ketika Dave menatapnya dengan tanpa ekspresi. Menyadari bahwa penyihir pemiliknya benar-benar dalam kondisi yang tidak baik, Memnus menghentikan semua godaannya dan berubah wujud menjadi pemuda tampan berkulit coklat bersih seusia Dave, “Jadi..” katanya, “Apa yang telah kau dapatkan dari membaca dan membuat berantakan di sini?”

“Beberapa hal remeh.” Sahut Dave, “Tak terlalu berarti. Ini akan sulit jika aku menghadapi pertemuan besar tanpa pengetahuan lebih.”

“Itu besok bukan?”

Dave mengangguk.

“Kenapa tidak tanya Mora atau Azhena?” saran si pemuda tampan yang kini duduk di kursi lain di depan Dave.

“Sudah kulakukan. Tapi kurasa itu tidak cukup membantu.”

“Azhena belum hidup cukup lama untuk tahu terlalu banyak hal. Dia hanya berpegang dari apa yang dikatakan ibumu. Sedangkan Mora, dia harusnya bisa membantu. Kecuali-ah salah. Jangan berharap pada peri kerajaan. Mereka akan membisu sampai roh mereka habis jika memang itu yang diminta oleh Mahha sebelumnya, tak akan diingkari meski Mahha yang sekarang memintanya. Terlalu patuh dan bodoh.” Omel si pemuda panjang lebar, “Tidak ada yang lain?” dia menatap Dave.

Dave menggeleng, “Tidak. Argulus sudah mengatakan semua yang dia tahu. Aku bisa merasakannya. Selain itu, tidak ada orang lain di Zerozhia yang tahu masalah ini. Bahkan menteri-menteri tertinggi Zerozhia menganggap bahwa Xexa dan kisah lainnya adalah legenda kosong.”

“Kurasa ada satu yang tidak beranggapan demikian.”

Punggung Dave langsung tegak mendengar apa yang dikatakan Memnus.

Mata hitam si pemuda bersinar penuh kemenangan, “Ada satu yang terlupakan. Yang sesungguhnya menjadikan – mungkin – masalah ini sebagai alasan tindakan buruknya. Seseorang yang sampai sekarang menjadi satu-satunya manusia hidup yang bertahan di dalam kegelapan Rezzermere.”

Dave terdiam, menyadari kemana arah dan tujuan ucapan Memnus.

“Mohave.” Si pemuda mengucapkan nama itu dengan pelan. Dave tak berkedip. Ada sesuatu dalam dirinya yang meraung marah ketika nama itu kembali disebutkan.

***

“Dave.” Ares memanggil nama Dave berulang-ulang di depan gerbang utama Zeyzga. Tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Dave di sana. Jika saja ini bukan Zeyzga, Ares pasti sudah menerjang masuk begitu saja ke dalam kastil dan masuk ke ruangan pribadi Dave.

“Kurasa dia malah sudah tidak ada di sana.” Kata Barielle dalam wujud kucing putih yang bergelung di dekat gerbang tinggi Zeyzga yang penuh aura magis yang demikian kuat. Aura itu tidak menyakitkan untuknya dan terasa menghangatkan intisari tubuhnya.

Ares mengerutkan keningnya, membuat hurus V terbentuk di antara kedua alisnya yang tipis berbentuk, “Bagaimana dengan anilamarry Dave?”

Kepala besar si kucing mendongak malas, “Memnus?” dia mengeong pelan, “Jika dia di dalam sana dan merasakan kehadiranku di sini. Dia sudah akan terbang ke sini sejak tadi.”

Ares mengusap wajahnya dengan lelah, “Aku mengkhawatirkan Dave.” Desah Ares dan si kucing bangkit tiba-tiba, melihat ke arah belakang Ares. Dengan sigap, menyadari perubahan gerak anilamarrynya, Ares menoleh ke belakang dan melihat Dave

“Kau darimana?” Ares bertanya dengan penasaran begitu mencium bau asing di tubuh Dave yang sudah di depannya, “Aku menunggumu di sini sejak tadi.” Katanya lagi.

Namun wajah Dave tidak menyiratkan apapun yang bisa dibaca sebagai jawaban. Dave nampak berantakan. Ada lingkar gelap di bawah matanya yang nampak kosong. Tidak ada senyum maupun sapaan dari bibirnya yang terkatup rapat. Ares mencoba mendekat, namun Dave justru menghindarinya dan berjalan melewatinya, “Pulanglah.” Katanya. “Aku sedang tidak ingin diganggu siapapun.”
Dan setelah mengucapkan itu, dia mengangkat tangan kirinya dengan lemah. Gerbang utama Zeyzga brgerak terbuka dan Dave berjalan masuk tanpa menoleh lagi ke belakang. Meninggalkan Ares dengan wajah kebingungan yang jelas.

“Kenapa dia?” si kucing bertanya pada udara lembut yang berhembus di depannya.

“Rumit. Sulit dijelaskan. Ah, sayang aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus menyusulnya atau dia bisa menghancurkan isi Zeyzga dengan kalap.” Suara yang sama lembut berdesing pelan di dekat telinga si kucing sebelum akhirnya lenyap.

“Apa jawab anilamarry Dave?”

Kucing itu berjalan ke dekat kaki Ares, “Tidak ada. Sepertinya dia baru menghadapi sesuatu yang lebih buruk dari yang terjadi kemarin. Memnus bahkan terdengar khawatir dan itu patut dicurigai.”

Ares tidak berkomentar lagi dan hanya menatap penuh pertanyaan ke arah kastil besar Zeyzga dengan menara-menara kokohnya yang menjulang.

***

Dave membaringkan tubuhnya dengan lelah dan frustasi ke atas tempat tidurnya. Dia berbaring tanpa melepaskan jubah bepergiannya dan langsung memejamkan mata.

“Dave-“

Tangan Daveterangkat, “Tidak sekarang, Memnus.” Katanya tanpa membuka matanya, “Aku sangat lelah. Aku butuh tidur. Kau urusi Gabrietta. Pergilah.” Perintahnya.

Tak ada bantahan dan Dave tahu anilamarrynya itu memilih pilihan tepat dengan menurutinya dan pergi, atau jika tidak, akan ada sedikit sihir kuno rumit dan Memnus akan menyesali ucapannya.

Setelah keheningan yang cukup lama, Dave membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong dan dia mendesah panjang,”Bagaimana mungkin..” ucapnya pelan sekali. Dia masih ingat, tak kurang satu katapun. Dan tatapan penuh dendam dan kebencian itu juga masih sangat jelas. Perjalanan panjangnya ke Rezzermere pagi tadi benar-benar membuatnya semakin gelisah. Dia memejamkan matanya kembali dan semua itu seolah terjadi lagi dua kali di depannya.

Dia melangkah dengan cepat memasuki Razzermere. Bau apak dan amis yang menguar kuat di sekitarnya seolah teredam oleh aura kuat tempat ini. Bahkan hanya dengan menghirup udaranya saja membuat perasaan Dave semakin buruk.

Razzermere tidak seperti penjara-penjara lainnya. Di sini tidak ada penjaga. Tidak ada makhluk lain selain yang bersalah besar yang akan berada di tempat mengerikan ini. Hanya mereka yang benar-benar melakukan kejahatan sihir paling kelamlah yang akan berakhir di tempat ini. Mereka yang masuk kesini dan tak akan pernah keluar dari sini. Tidak akan pernah ada pelarian. Tidak akan pernah ada perlawanan di dalamnya.

Dave mengerti cara kerjanya. Jadi dia akan berusaha secepat mungkin menyelesaikan pembicaraan yang akan dilakukannya dan segera keluar dari sini. Kutukan dan sihir kuno yang menyelubungi Rezzermere mungkin memang tidak akan berimbas terlalu buruk padanya, namun tetap saja. Berada di dalam sini hanya akan membuat tubuh, otak dan jiwanya semakin memburuk.

Dia berbelok dan menuruni tangga berlumut, berhati-hati agar tidak terjatuh, dia terus masuk dan mencari tempat orang yang sedang dicarinya meringkuk. Dia melewati ruang-ruang gelap tanpa pintu yang tanpa menoleh pun bisa dirasakannya sesuatu yang mungkin menghuni tempat itu.

Ketika kegelapan semakin pekat dan dia mulai merasa susah bernafas, dia melihat bayangan api kecil yang tidak konstan di kejauhan sana. Dave mempercepat langkahnya dan di ujung tangga, dia bisa melihat satu ruang kosong di sana. Dengan satu obor kecil menempel di dinding batunya yang hitam licin, Dave bisa melihat sesuatu meringkuk di sudut yang tergelap.

“Mohave..” suaranya yang lantang terdengar samar tertelan gaung aneh yang timbul setelah dia bersuara.

Sesuatu mengangkat kepalanya dengan sangat perlahan sampai detik-detik yang terlewatkan terasa membebani bagi Dave yang menunggu. Dan di sana, sesuatu seperti wajah memandang ke arahnya. Dave melihat, sepasang mata yang berair dan menonjol, menatap dengan hampa tanpa sinar sedikit pun seolah tidak ada kehidupan di irisnya yang berwarna hitam. Wajah yang membingkai sepasang mata itu berwarna pucat melebihi pucat mayat. Bibir tipisnya yang mengering, pecah-pecah di beberapa bagian.

“Mohave..” Dave kembali memanggil.

Wajah itu tak bergerak lagi setelahnya. Hanya memandang ke arah Dave. Masih dengan posisi meringkuk yang sama. Memeluk lantai yang dingin tanpa gemetar seolah hawa dingin itu telah menyatu dalam tubuhnya.

Dave maju mendekat, berjongkok beberapa meter dari tubuh itu.

“Katakan padaku apa yang kau tahu tentang ramalan kuno, Xexa atau pun tentang Danesh. Katakan padaku semuanya, Mohave.”

Mata itu berkedip. Tapi tidak melakukan hal lain selain berkedip. Dave mulai tidak sabar, “Mohave..” dia mendesak, “Aku tahu kau tahu. Katakanlah. Aku membutuhkan semua hal yang kau tahu. Segalanya sedang memburuk sekarang. Aku tahu kau mencintai Zerozhia sepenuh hatimu jika hati itu masih ada sampai saat ini. Dan aku membutuhkan itu untuk memperbaiki keadaan ini.”

Bibir itu bergerak-gerak, “Kau-“ suaranya selemah daun yang menguning siap gugur oleh sentuhan angin seringan apapun.

“Aku Dave. Putra Mahha Michail dan Lady Miranda.”

Tiba-tiba Dave bisa mendengar suara tawa yang dipaksa keluar dai tenggorokkan yang sangat kering, “Putra Michail Sang Pengkhianat.” Dia tertawa lagi. Kali ini Dave bisa merasakan ada kekuatan di dalam suaranya.

Mohave bergerak dalam kecepatan yang aneh, seolah-olah ada yang menarik tubuhnya ke atas hingga dia mampu berdiri tegak menjulang. Dave mundur dengan cepat, melambaikan tangannya dan menyelubungi tubuhnya dengan sihir pelindung. Suara kekeh Mohave semakin kerasa ketika Dave melakukan itu.

“Kau tahu, pangeran kedua..” bisiknya, “Razzermere mengikat semua kemampuanku. Kau tak perlu melakukan apapun. Bahkan melangkah meraihmu saja aku mungki tidak bisa.” Dia menoleh ke arah kiri dan kanan dengan gelisah, “Diam.” Teriaknya keras, “Mereka mendengar.” Kali ini suaranya demikian lirih.

Alis Dave mengerut. Menyadari bahwa kejiwaan dari penyihir yang pernah sangat berjaya di masanya ini mungkin sudah terganggu karena berada terlalu lama di sini.

“Mereka mendengar.” Bisiknya lagi, “Kau harus hati-hati.” Jemari tangan Mohave yang kurus dan panjang memeluk tubuhnya dengan erat, “Kau tahu..” dia memandang Dave dengan mata melebar, “Aku bisa mendengarnya. Mereka berbisik. Batu-batu itu juga berbisik. Saatnya telah tiba.”

“Aku tidak peduli.” Dave kehilangan kesabarannya. Ketidaknyamanannya di dalam sini membuat suasana hatinya memburuk dengan sangat cepat. Ditambah dengan melihat kondisi Mohave yang demikian parah baginya, “Katakan padaku apa yang kau tahu tentang ramalan kuno, Xexa dan Danesh.” Nada memerintah yang kental itu menyentak Mohave yang langsung mundur hingga menyentuh dinding batu di belakangnya.

“Tidak..” jeritnya, “Tidak. Tidak. Tidak.” Dia meracau.

Dave meremas tangannya. Menyumpahi Memnus yang menyarankannya datang ke sini. Harusnya dia tahu. Jika dia bertanya pada Mohave dua puluh tahun lalu, dia mungkin mendapatkan jawaban yang dicarinya. Namun sekarang? Mustahil. Kegelapan dan duka kutukan Razzermere pasti sudah mengerogoti kewarasan dan kekuatannya.

Dia sudah berbalik pergi ketika dia mendengar suara itu. Suara yang dingin dan dalam. Suara yang lemah namun kuat. Seolah begitu dekat namun di saat yang bersamaan terasa tidak berasal dari mana-mana.

“Pangeran yang dilindungi cahaya bulan biru itu akhirnya kembali bukan? Aku sudah melihatnya. Dia membawa darah dan dendam dalam satu tangan dan satu kutukan mengerikan di tangan lainnya. Kegelapan akan kembali melingkupi Tierraz. Masa yang harusnya bisa dihindari jika saja Mahha Michail tidak mengkhianati keputusan persekutuan.”

Dave menoleh, dia bisa melihat tubuh tinggi itu kini membungkuk ringkih. Wajah Mohave tertutup oleh rambut hitamnya yang menjuntai. Dave bisa melihat bagaimana tubuh itu gemetar. Dia menunggu.

“Zerozhia yang malang. Zerozhia yang malang.” Dia meracau lagi. Kemudian dia diam lagi, cukup lama, “Zerozhia yang malang berada di tangan yang salah. Mahha?” dia terkekeh, “Pemimpin bodoh. Michail Si Pengkhianat dan keturunan darah pengkhianatnya tidak patut memimpin Zerozhiaku yang agung. Tidak berkualitas. Satu nyawa untuk ribuan nyawa.” Suara itu terdengar seolah menangis. Perlahan kepalanya menatap Dave.

Doa bola mata segelap jelaga mengekang penglihatan Dave, “Putra terkutuk itu menuntut haknya, pangeran kedua. Xexa akan ditemukan. Sang pengikut akan dibangunkan. Dan Sang Tuan menunggu.” Bibir tipisnya melengkung, “Masa kedua kegelapan Tierraz.. menuntut haknya atas bintang dan lentera yang menyinari Tierraz.”

Dia mengerjapkan matanya. Mengusir bayangan tidak menyenangkan roman muka Mohave ketika itu. Pelan, dia menarik nafas panjang. Segala sesuatunya akan benar-benar sulit sekarang. Dia tidak menemukan apapun di Razzermere. Dia hanya mendapati kepalanya semakin penuh.

Mohave memberontak karena ketidakpuasannya pada kepemimpinan ayahnya. Semua karena keputusan ayahnya menyelamatkan nyawa kakaknya ketika persekutuan meminta kakaknya dibunuh.

Satu nyawa untuk ribuan nyawa.

Dia tahu itu adalah kesalahan. Sebagai seorang Mahha, ayahnya seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Tapi Danesh bahkan masih bayi saat itu? Dia membayangkan bagaimana kedua orangtuanya menentang persekutuan dan membawa pergi si bayi. Dia memejamkan matanya.

“Kau beruntung..” bisiknya lelah. Danesh bahkan mendapatkan semua kasih sayang yang luar biasa besar dari kedua orang tua mereka ketika dia masih seumur itu. Sedangkan dia. Dave mendesah lagi. Ini lebih sekedar dari masalah remeh seperti itu. Dia memaki dirinya sendiri.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

19 Comments

  1. Kok aku ngerasa kasihan yah sama Dave……
    Rasanya gak tau apa2, disaat semua orang yg dekat sama kita tau itu……rasanya….. hah.
    Apalagi kata2 yg terakhir tuh… nyes banget buat aku….

  2. Dave di part ini galak bnget .
    Kasian Ribi d kurung Dave . Apa Argulus gak nyariin Ribi ?
    Aku penasaran sama siapa Ribi sebenar nya .
    Lanjutan nya d tnggu yah Kakak . Semangat .

  3. Sumpah!!! Daveee kangeeenn, cepet lanjut ya kak kalo HVnya abis… keren, penasaran sama xexa -.- oh iya, di HV katanya mau dikasih tau si Rena sakit apa tapi belum dikasih tau 😐 nanti part terakhir kasih tau ya kak… hehehe

  4. Iya, awalnya mereka pikir, mereka yang menyembunyikan fakta ini dari Dave melakukannya karena mereka ingin melindunginya. Tapi, membuat Dave tidak tahu apa-apa sampai selama itu justru menyakitkan buat Dave.

    Dave sangat menyayangi keluarganya, apalagi kakaknya. Meskipun notabene dia sama sekali tidak mengetahui mereka secara langsung. Ayahnya meninggal jauh sebelum dia lahir. Ibunya meninggal saat dia masih bayi. dan kakaknya, ah.. sudah dibahas. Aku sejujurnya juga kasihan sama Dave. 🙁

  5. Iya, Dave jadi galak. Soalnya dia merasa dibikin bodoh, dibikin ngga tahu apa-apa tentang masalah yg penting bgt oleh orang-orang yang dia percaya.

    Argulus nyariin, tapi dia gak bisa berbuat apa-apa. Davenya lagi emosi dan labil. Hehehe

    Semangat. Ditunggu aja ya lanjutan. 😀

  6. Siappp akan segera dilanjut. Ta–tapi… entah. Ga jadi ah. ga jadi janji. Aku sedang sangat sibuk. Hahahah. Tapi akan kuusahakan segera nulis next chapternya ya.

  7. Aduh…baru tau d blog ne, keren saya suka dengan karakter si raven , biasanya yang dingin itu yang setia, buktinya dia masih mencintainya wanita yang sudah tiada, saking semangat bacanya embat terus semua hahahhhahaha yang penting puas, lebih bagus lagi jika adegan romantisnya ditambahin hehehe

  8. Thank you for an additional terrific write-up. Exactly where else could anyone get that kind of details in this kind of a ideal way of writing? Ive a presentation subsequent week, and Im to the appear for this kind of information and facts.

Leave a Reply

Your email address will not be published.