Xexa – Para Pencari

“Ikutlah denganku.” Suara Dave mengagetkan Ribi yang tengah melamun di dalam ruangannya. Dia bangkit-nyaris protes-tapi akhirnya diam dan mengikuti langkah Dave keluar dari ruangannya. Ada sesuatu di wajah Dave yang membuat Ribi menahan diri untuk mengatakan apapun yang mungkin saja bisa membuat wajah itu semakin terlihat penuh masalah.

Dia mengikuti Dave dalam diam ketika mereka berjalan di lorong-loron kastil yang megah. Dipenuhi lukisan-lukisan Mahha dari generasi ke generasi. Terkadang ada beberapa baju zirah lengkap diberdirikan seolah mereka adalah prajurit penjaga tempat ini. Obor-obor yang terpasang rapi di sebelah kanan dengan jarak lima langkah di masing-masingnya memberikan penerangan memukau. Memberikan bentuk nyata pada aneka detail pada setiap tonjolan dinding.

Mereka berhenti di ujung koridor. Di depan pintu besar yang lebih mirip seperti gerbang melengkung dengan detail sulur-sulur rumit disekelilingnya. Ribi bisa melihat lambang kerajaan Zerozhia berada di tengah-tengah pintu. Nampak perkasa dan gagah.

“Jangan mengatakan apapun di dalam sana jika aku tidak memintamu bicara.” Kata Dave pada Ribi tanpa menoleh. Ribi hanya menganggukkan kepalanya. Tapi Dave sepertinya mengerti. Dia menarik nafas dalam sebelum akhirnya melambaikan tangan kirinya dan pintu besar ini mengayun terbuka dengan perlahan.

Ribi sadar dia tercekat sampai membeku menyadari ruangan apa itu. Ini adalah tempat diadakannya pertemuan besar persekutuan. Ribi pernah membaca tentang ini di salah satu bukunya. Pertemuan besar, dilakukan hanya jika terjadi sesuatu hal yang biasanya melibatkan semua anggota persekutuan yang ada di Tierraz. Penyihir, manusia, Elf, Dwarf, Mermaid. Tapi dengan semakin lemahnya manusia dan merajanya kekuatan para penyihir. Kaum manusia tersingkirkan dari persekutuan.

Ribi melangkahkan kakinya dnegan hati-hati. Mengikuti langkah Dave yang tegap dan percaya diri. Dia bisa melihat jika semua pasang mata yang telah duduk menunggu di dalam ruangan ini mengamati mereka. Ada kaum Elf, Dwarf, Mermaid dan tentu saja petinggi dari empat kerajaan sihir lainnya. Nyaris semua yang Ribi lihat di dekat danau Merivor berada di sana sekarang.

Dia bisa melihat si Elf laki-laki yang sama memandangnya dengan wajah datar. Ketika Ribi akhirnya memberanikan diri untuk balas menatap, ada seulas senyum di bibir si Elf yang membuat Ribi gugup.

“Hei, Rib-Ribi.. Apa yang kau lakukan di sini?” Argulus berbisik padanya ketika dia melewati tempat duduknya. Ribi menggeleng pelan, “Aku tidak tahu. Dia membawaku ke sini.” Katanya tanpa suara sebelum dia kembali mempercepat langkahnya mengikuti Dave yang sudah berjalan agak jauh di depannya.

Ketika akhirnya Dave sudah duduk. Suasana di dalam ruangan ini menjadi lebih senyap. Ribi mengambil tempat di sebuah kursi di sisi Dave ketika Dave memberikannya tanda untuk duduk di sana. Ribi diam dan mendengarkan ketika Dave dengan semua sopan santun dan tata cara khas kerajaan membuka pertemuan besar ini. Dia mengamati bagaimana semua yang hadir di ruangan ini benar-benar memperhatikan Dave dan menaruh seluruh fokus mereka kepada apa yang dikatakan Dave. Bahkan Argulus sama sekali tidak mengeser duduknya barang seinchi pun dan mendengarkan dengan baik.

“…apapun yang sebenarnya tengah terjadi di seluruh Tierraz. Aku berjanji akan menggunakan semua kemampuanku untuk mengembalikan kedamaian di tanah Tierraz. Aku akan menyelesaikan apa yang dimulai oleh Mahha Michail. Kesalahannya di masa lalu, menjadi tanggung jawabku sebagai putranya. Bahkan jika Danesh memang benar kembali dan menjadi pembawa petaka bagi Tierraz-“

Suara Dave terhenti. Rahangnya mengeras, “Aku sendiri yang akan menangkapnya dan memenjarakannya di Rezzermere.”

“Menangkap Lord Darias bukanlah pekara mudah. Pohon-pohon dan nyanyian angin mengabarkan tentang betapa besar kekuatannya sekarang. Ada sesuatu yang begitu gelap dan dalam, menemukannya dan memberinya kemampuan melebihi kekuatan keturunan Mahha yang sebenarnya.” Suara Lagas mengintrupsi. Semua pasang mata mengamati Dave sekarang, menunggu apa yang akan dikatakan olehnya.

“Aku akan berusaha mela-“

“Tidak ada yang bisa kau lakukan, Dave.” Potong seseorang di ujung meja dengan suara keras. Ribi tak bisa mengenali siapa itu. Namun dari jubah kerajaan yang dikenakannya-Dua buah pedang menyilang mengapit sebuah tongkat sihir tua yang bentuknya tidak lurus-Ribi bisa menebak jika dia adalah orang penting dari Alkrez. Satu kerajaan sihir yang berada paling jauh dari Zerozhia.

“Kau dan semua kaummu bahkan melanggar peraturan suci Zerozhia. Menobatkan pangeran kedua sebagai Mahha ketika pangeran sulung masih hidup. Petaka akan menaungi kerajaan ini. Harusnya segala musibah ini tidak pernah terjadi jika sejak awal, Mahha Michail dengan besar hati merelakan pangeran sulung dibunuh ketika itu.”

“Niffenegger-“

“Tidak Dave. Aku tidak akan mendengarkan lagi semua omong kosong yang akan kau katakan di pertemuan ini. Aku dan semua rakyatku menarik pengakuan kami atas kedaulatan Zerozhia. Kami sudah muak, pangeran.” Dada Niffenegger naik turun berusaha mengontrol emosinya. Suara-suara lain berdengung memenuhi ruangan.

Ribi beralih memandang Dave yang berusaha mengeraskan ekspresinya.

“Seorang raja tidak seharusnya bertindak gegabah seperti itu.” Cemooh Arkav-si Dwarf-dengan keras.

“Kau tahu apa, dwarf?” Niffenegger semakin berang. Dia berdiri. Menatap semua pasang mata di ruangan ini dengan mata berapi-api, “Kau dan semua kaum yang tidak pernah peduli dunia luar selain diri kalian sendiri. Lihat sekarang, bagaimana kalian berduyun-duyun datang ke sini ketika sebuah masalah yang juga akan berakibat pada kalian mulai terasa. Tapi bagaimana jika masalah ini sama sekali tidak punya resiko bagi kalian?”

Matanya memerah. Memandnag bergantian ke kaum Elf, Dwarf lalu pada para Mermaid, “Kalian tidak mungkin berada di sini. Kemana kalian dua puluh tahu lalu ketika Mohave menyerang kerajaan-kerajaan sihir? Kemana kalian ketika Alkrez dan Sparzvia jatuh di bawah kegelapan?”

Dia tertawa dengan suara dingin, “Kalian hanya diam dan melihat dari sarang kalian yang nyaman. Masalah Mohave dan apapun yang terjadi ketika itu tidak akan berakibat besar pada kalian. Jadi buat apa kalian ikut campur. Bukankah seperti itu yang ada di dalam pikiran kalian?” bibirnya mencibir.

“Beraninya kau!” Arkav menggebrak meja dan beberapa Dwarf yang bersamanya juga maju berusaha untuk menyerang Niffenegger. Prajurit dan pembesar Alkrez berdiri bersamaan, tongkat sihir teracung pada kaum Dwarf.

“CUKUP!” teriak Dave keras sambil menyentakkan tangan kirinya. Gelombang angin menerpa para penyihir Alkrez dan para Dwarf ke dua sisi yang berbeda. Tangannya mengepal dengan erat, “Cukup semua kebodohan yang kalian tunjukkan di depanku. Aku yang memimpin di sini dan kalian harus mendengarkanku.” Desisnya dengan penekanan di setiap suku katanya.

Tapi Niffenegger sama sekali sudah kehabisan kesabarannya. Dia tidak duduk dan hanya menatap Dave dengan murka, “Tidak lagi, Dave.” Dia berkata dengan tegas, “Alkrez keluar dari persekutuan.”

***

Ribi terdiam cukup lama di tempatnya duduk, bahkan ketika pertemuan besar sudah lama berakhir. Dia masih di sana meskipun Dave sudah pergi. Meninggalkannya begitu saja tanpa menoleh. Ribi bahkan menebak bahwa Dave mungkin malah lupa jika dia ada di sini. Semua kekacauan yang terjadi di pertemuan besar pastinya telah mengambil seluruh masalahnya. Dan baginya, itu tidak masalah. Jika dia dalam posisi Dave, dia juga akan seperti itu.

Ketika kesunyian mulai melingkupinya, Ribi akhirnya bangkit dari duduknya. Mengamati semua kursi-kursi kosong yang sudah ditinggalkan orang-orang yang sebelumnya mendudukinya. Banyak hal terjadi di sini tadi. Keputusan raja dari Alkrez untuk keluar dari persekutuan tentu yang paling mengejutkan banyak pihak. Raja Sparzvia yang merupakan sekutu paling dekat Alkrez, terlihat yang paling muram. Ribi bahkan berpikir, mungkin saja tak lama lagi Sparzvia akan mengikuti jejak Alkrez untuk keluar dari persekutuan.

Tapi di luar itu, pertemuan besar masih menghasilkan keputusan-keputusan penting-yang sayangnya melibatkannya. Argulus menatapnya dengan khawatir ketika yang itu dikatakan oleh Lord Lagash. Ada keinginannya untuk menolak, tapi Argulus tahu dia tidak punya kewenangan untuk itu. Diantara semua pemimpin, dia hanya anggota dan pendengar. Keputusan berada di tangan para pembesar.

“Pencarian Xexa harus segera dilakukan Lord Daviraz. Kau dan orang-orang terbaik yang dimiliki oleh Zerozhia.  Kami akan membantu sebaik yang kami bisa lakukan, tapi pencairan harus dilakukan oleh penerus Mahha. Xexa merespon panggilan dari pembuatnya.”

Lalu mata Lord Lagash yang biru beralih pada Ribi, “Dan nona ini-“katanya dengan lembut, “..adalah salah satu yang kaumku sarankan untuk menemanimu dalam pencarian Xexa.”

Seluruh mata di ruangan ini langsung menatap Ribi. Begitu pula Dave yang sama sekali tidak repot-repot untuk menyembunyikan keterkejutannya. Awalnya Ribi mengira Dave akan menolak, namun ternyata dia hanya mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Lord Lagash. Ribi sudah akan protes ketika tanpa sengaja dia menatap pada Azhena dan wanita itu menggeleng pelan padanya. Memintanya diam.

“Apa yang bisa kulakukan?” Ribi mengusap kepalanya dengan frustasi. Dia tak tahu kenapa Dave mengikutsertakannya dalam pertemuan besar. Lalu sekarang dia malah terjebak dalam misi besar pencarian Xexa, yang jelas sangat berbahaya.

“Kau bisa melakukan apapun, Gabrietta.”

Ribi nyaris melompat karena terkejut mendengar suara itu. Lord Lagash-dengan jubahnya yang berwarna perak-berdiri tak jauh darinya. Ribi mengawasi ruangan ini dengan terburu, dia yakin benar bahwa sebelumnya dia hanya sendirian di sini. Lalu bagaimana Lord Lagash bisa muncul begitu di sana tanpa Ribi pernah menyadarinya.

“An-“Ribi bahkan juga baru sadar jika Lord Lagash tadi menyebut namanya.

“Kau menyimpan kekuatan yang besar di dalam dirimu, Gabrietta.” Potong Lord Lagash sambil berjalan mendekat ke arah Ribi, “Aku bisa melihatnya. Tapi juga ada kegelapan dan mimpi buruk di sana.”

“Ap-apa maksud anda?” tanya Ribi hati-hati.

Lord Lagash berhenti beberapa langkah di depan Ribi, “Aku tahu kau bukan berasal dari Tierraz.” Bisiknya rendah.

Ribi mundur, menyadari perubahan ekspresi Lord Lagash. Ada sesuatu yang mengerikan di sana. Tersembunyi dari pancaran matanya yang penuh pengetahuan. Dan bukankah hanya Dave dan Argulus yang tahu bahwa Ribi berasal dari dunia lain? Lalu bagai-bagaimana Lord Lagash bisa tahu segalanya. Namanya, asalnya.

“Kau seharusnya tidak berada di Tierraz, Gabrietta. Sejatinya, tempatmu bukan di sini. Di dunia asalmu, masa depan yang bagus bisa kau raih dengan sangat mudah. Tapi di Tierraz, tidak ada yang bisa menjanjikan masa depan seseorang. Aku bisa melihat kekuatan di dalam dirimu. Tapi aku juga bisa melihat ketidakberuntungan besar menaungimu selama kau berada di sini. Kau-tidakkah ingin kembali ke dunia asalmu dan menjauh dari semua masalah yang ada di Tierraz?”

“Ak-aku tidak ingin pergi.” Jawab Ribi dengan terbata.

“Aku bahagia berada di sini.”

Anehnya Lord Lagash tersenyum, “Kehidupanmu berada dalam pilihanmu sendiri, nona muda. Kau yang menentukannya.” Dan dengan berkata seperti itu, Lord Lagash berbalik. Keluar dari ruangan ini. Meninggalkan Ribi mematung dengan ekspresi bingung.

***

“Bagaimana bisa?” Ares berteriak marah. Meninggalkan Dave yang hanya diam di tempat duduknya. Bersandar dengan pikiran penuh dan rasa pusing yang berdenyut di kepalanya. Ares sudah mendengar semua yang terjadi di pertemuan besar dari Dave. Dan hal terakhir yang diungkapkan Dave kepadanya tentang Gabrietta membuatnya begitu kesal.

“Lord Lagash menyarankan kau memilih orang-orang terbaik di Zerozhia untuk menemanimu. Tapi dia malah mengajukan Gabrietta. Tidak, Dave. Ini konyol.” Ares berjalan hilir mudik dengan emosi tak terkendali.

“Gadis itu tidak tahu apa-apa. Bahkan-” dia diam, Dave mengangkat wajahnya memandang Ares, “Dia bukan berasal dari Tierraz.”

Dave memejamkan matanya sebentar, menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan, “Aku tahu, Ares.” Desahnya lelah, “Tapi aku tidak bisa menolah apa yang disarankan oleh Lord Lagash. Aku tahu dia pasti punya alasan memilih Ribi.”

Ares menggeleng, “Perempuan itu mengaku berasal dari Thussthra ketika aku bertemu dengannya di pesta penobatanmu bersama Fredderick Colfer. Aku tidak menyangka jika dia adalah perempuan yang sama dengan yang kau ceritakan dulu. Dia tidak terlihat spesial. Dan kau.. apa yang kau lakukan dengan membawanya ke dalam pertemuan besar?”

“Aku merasa Ribi bisa membantu sesuatu di sana. Aku punya firasat, Ares. Dan kurasa Lord Lagash juga demikian.” Mendadak Dave berhenti, “Apa tadi yang kau katakan? Ribi bersama Fredderick Colfer. Bukankah dia anggota senior Interoir yang sering dibicarakan orang-orang itu?”

“Ya. Dia yang terbaik. Menjadi anggota senior Interoir di usianya yang semuda itu. Dia dulu juga merupakan salah satu murid kesayangan Argulus. Tapi ini bukan tentang dia Dave, in-“

“Aku tahu.” Dave berdiri dari duduknya, “Aku harus pergi sekarang, Ares.” Katanya cepat sambil bergegas keluar dari ruangan santai yang sering digunakannya untuk berbincang bersama Ares ketika Ares berkunjung ke kastil terluar Zeyzga.

“Kurasa dia akan mengajaknya pergi.”

Ares menoleh dan melihat Barielle duduk di tepian jendela besar-mengambil wujud anak perempuan seusianya. “Apa maksudmu?”

“Sudah jelas bukan. Dia akan melibatkan si Fredderick Colfer dalam misi ini.”

Kening Ares berkerut dalam, “Dave, Gabrietta dan Fred?” dia menggeleng cepat, “Kau pikir ini acara jalan-jalan anak muda, Barielle. Zerozhia harusnya memilih yang terbaik. Penyihir-penyihir yang sudah berpengalaman, kuat dan-“

“Tidak Ares sayang.” Potong Barielle santai, “Pencarian Xexa tidak membutuhkan orang-orang tua ini. Kau tahu, Dave sudah mengatakan dengan jelas tadi.”

“Apa?”

Barielle berdecak, “Fokuslah jika orang lain sedang bicara padamu.” Desahnya. Kaki jenjangnya bergerak mendekati Ribi, “Tidak akan banyak sihir bekerja dalam pencarian ini. Bahkan Dave dilarang menggunakan sihirnya. Itu akan membuat Danesh bisa mengetahui arah tujuan para pencari. Simbol di tangan kiri para keturunan Mahha saling terkoneksi.”

Ares terdiam cukup lama. Menyadari bahwa ini akan segera jadi sesuatu yang buruk.

“Jika tanpa sihir. Apa yang menurutmu bisa dilakukan oleh orang-orang tua itu?” Barielle menggeleng, “Tidak ada. Mereka hanya akan jadi penghambat.”

***

Azhena menatap bayangan gelap malam dari jendela di ruang pribadinya. Wajahnya sama sekali tidak bisa menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Hal besar sudah terjadi tadi. Pencarian akan Xexa sudah ditetapkan oleh persekutuan. Akan dilakukan dengan segera setelah semua persiapan selesai. Zeyzga punya petunjuk rahasia keberadaan Xexa yang tertinggal dari masa-masa lampau yang terlupakan. Mora menunjukkannya di pertemuan besar tadi.

Dan mengingat itu membuat Azhena semakin tidak tenang. Itu bukan petanda bagus. Dengan Danesh dan entah rencana apa yang sedang disusunnya, pencarian ini tidak akan mudah. Jika yang dikatakan para Elf benar. Danesh benar-benar sudah tumbuh dalam kenangan yang salah akan haknya di Zerozhia.

Semua benar-benar di luar perhitungan. Danesh, Xexa, kutukan kegelapan. Azhena menghembuskan nafas panjang. Ini akan menjadi masa paling panjang bagi Tierraz.

“Mahha Miranda..” Azhena menyentuh kaca buram di depannya, “Apa yang harus saya lakukan untuk melindungi mereka berdua?”

***

“Ribi dan Fred. Apakah kau yakin dengan pilihanmu itu, Dave?” Memnus menatap Dave dalam wujud manusia bijak. Dave mengangguk pasti sambil berbaring di atas tempat tidurnya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari yang begitu berat ini, Dave merasa tenang dan benar.

“Aku mungkin tidak bisa mengatakan jika aku yakin seratus persen. Tapi setidaknya aku akan mencoba. Mencari dan bekerja sama dengan mereka. Lord Lagash memilih Gabrietta. Dan aku memilih Fredderick Colfer. Masing-masing kami punya alasan. Aku punya firasat ini akan menjadi sesuatu yang bagus, Memnus.”

“Dan nona muda kita?”

Dave memiringkan badannya, menatap Memnus, “Ares?”

Memnus mengangguk, “Aku bisa bertaruh kau akan mengajaknya juga. Akan menyenangkan bisa berpergian dengan Barielle. Kau bisa semakin dekat dengan Ares. Sepulang dari perjalanan ini, kau mungkin akan langsung menikahinya.”

Bukannya tertawa atau merasa kikuk, Dave malah menghembuskan nafas panjang, “Ini akan berbahaya. Aku ragu mau melibatkan Ares dalam hal ini. Aku tidak ingin melibatkannya terlalu jauh. Tidak jika itu mungkin akan membuatnya terluka.”

“Tsk tsk tsk.” Memnus menggelengkan kepalanya, “Dan apakah kau yakin dia akan menerimanya?” Memnus memutar bola matanya, “Oh ayolah, Dave. Kau tahu benar bagaimana keras kepalanya Areschia Azhena. Lebih baik membawanya langsung daripada menemukannya di tengah jalan tengah membuntutimu. Itu lebih beresiko.”

***

Jadi beginilah akhirnya, Ribi duduk sambil memandangi lima orang-jika Mora bisa termasuk orang-duduk mengelilingi sebuah meja besar melengkung. Di ujung meja-tepatnya di sampingnya-Dave duduk dengan tenang sambil berbicara sesuatu dengan Azhena dan Mora. Di samping sang pemimpin pengganti, ada Ares yang entah mengapa terlihat mengamatinya dengan wajah tidak senang. Lalu ada Fred-ini sangat mengejutkan Ribi-duduk dengan wajah tidak mengerti di sisi lain dari tempatnya.

Dave berdehem, mengalihkan semua fokus mata menjadi ke arahnya.

“Kita akan memulai pembicaraan kecil ini. Kalian tentunya sudah tahu kenapa kalian berada di sini. Ares, Gabrietta dan Fredderick, kalian akan menemaniku melakukan tugas penting yang akan menjadi kunci kedamaian di Tierraz, pencarian Xexa.”

“Tapi-” Fred terlihat ragu, “Bukankah Xexa hanya sekedar legenda, Mahha Dave.”

Dave menggeleng, “Pertama-tama Fredderick, aku bukan Mahha. Bukan sekarang. Kau bisa berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Dan yang kedua, Xexa benar-benar ada. Di suatu zaman dahulu, Xexa terjaga aman di salah satu ruang rahasia di kastil ini. Ada sesuatu hal yang membuat Xexa tidak bisa masuk dan disimpan di Zeyzga. Namun intinya, Xexa dicuri. Dan selama beberapa zaman, dilupakan keberadaannya oleh hampir semua orang. Keberadaannya menjadi legenda dalam masyarakat luas. Tapi bagi persekutuan dan raja-raja di bawah naungan arif Zerozhia, Xexa tetap diingat.”

Fred terlihat sangat terkejut, namun dia segera menguasai ekspresinya, “Suatu kehormatan jika saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi anda melakukan pencarian ini, Ma-Pangeran.”

Dengan sedikit gerakan Dave mengangguk, “Terima kasih, Fredderick. Dan sebelum kita menentukan langkah. Aku ingin kalian tahu apakah Xexa itu sebenarnya. Mora.” Dia mengangguk pada peri kerajaan yang berdiri di belakangnya, “Ceritakan pada mereka.” Ucapnya dengan nada memerintah yang jelas. Sedari tadi, Dave mencoba bicara dengan praktis. Meskipun terlihat dingin dan aneh-bagi Ares.

Sementara itu, dengan langkah anggun, Mora melangkah menjajari kursi Dave. Tubuhnya tegak dan rambut putihnya tergerai lurus dan indah membingkai wajah serta melembutkan garis tubuhnya yang memukau. Ketika dia berbicara, semua mendengarkan dengan sangat teliti. Tak ada satupun di ruangan ini yang melakukan gerakan menganggu. Ribi mendengar sekali lagi penjelasan tentang apa itu Xexa dari Mora. Sebelumnya-di dekat danau Merivor-dia sudah pernah mendengarnya. Bahkan Mora, dengan anggukan kecil Dave, juga menjelaskan alasan kenapa Xexa harus ditemukan sebelum jatuh ke tangan yang salah.

Ketika ramalan tentang keturunan pertama kegelapan. Ramalan kuno tentang berakhirnya perjanjian suci. Tentang pangeran Danesh diperdengarkan kembali, Ares dan Fred membelalakkan matanya. Tak menyangka jika segalanya ternyata begitu buruk. Berkali-kali Ares melirik ke arah Dave yang tidak menampilkan ekspresi apapun kecuali ketenangan dan penguasaan diri yang begitu sempurna.

Ares mengerjap pelan. Dia tahu Dave menyembunyikannya dari semua orang. Dia tahu dengan benar bagaimana perasaan Dave tentang kakaknya, Danesh. Topik yang selalu membuat Dave berapi-api dan bicara tanpa henti padanya. Dia yakin, mempertaruhkan segalanya, bahwa Dave juga baru mengetahui segala hal tentang Danesh dan apa yang sesungguhnya terjadi padanya, tak lama ini.

Begitu Mora selesai dengan penjelasannya. Ruangan menjadi lebih sunyi. Azhena menghela nafas dalam. Ada beban berat dalam setiap gerakannya.

“Di sinilah peran kalian berempat dibutuhkan. Temukan Xexa dan bawa Xexa ke Merendef. Jika kastil terluar tidak aman bagi Xexa, maka hanya pada Merendeflah kita bisa menggantungkan segalanya.”

“Tapi bagaimana kita bisa menemukan Xexa jika batu segel itu bahkan sudah hilang hampir ribuan tahun?” Untuk pertama kalinya Ares mengeluarkan suaranya, Fred mengangguk dan Ribi bahkan juga baru terpikirkan tentang hal itu sekarang.

“Kami sudah memikirkan segalanya, putriku.” Jawab Azhena lembut, “Malam dimana persekutuan memperingatkan adanya petanda kemunculan Danesh di Tierraz, aku dan Mora mengambil apa yang sebelumnya Mahha Miranda berikan kepadaku di labirin Xemos.”

Dengan gerakan lembut, Azhena mengeluarkan sesuatu dari balik jubah suteranya. Sebuah botol kecil dengan bayangan asap berwarna-warni di dalamnya. Ribi yang menyadari gerakan terkejut Dave, menebak jika itu adalah sesuatu yang penting atau mungkin seperti itulah.

“Ap-apakah itu?” Dave bahkan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Suaranya terbata.

Azhena mengangguk pelan, “Ingatan milik Mahha Miranda.” Dia mengulurkan botol itu pada Dave yang menerimanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah benda itu bisa pecah jika dia menyentuhnya terlalu keras. Mora menatap Dave dengan menahan semua keharuan yang ada dalam ingatannya. Pangerannya begitu memuja ibunya meskipun dia tak pernah melihat Mahha Miranda secara langsung.

“Setelah kau melihatnya, kau akan tahu kemana kau harus pergi, Dave. Gunakan untuk dirimu sendiri dan biarkan mereka mengikutimu. Tak boleh ada yang tahu selain kau. Itu akan memudahkan kalian jika sesuatu yang buruk terjadi dengan mereka yang bersamamu. Kita tak tahu seperti apa Danesh sekarang.”

Dave tak menjawab dan hanya menatap dalam pada botol kecil di dalam genggamannya. Namun dia mengangguk pelan, “Aku mengerti.” Katanya sebelum dia memasukkan botol itu ke dalam saku jubahnya dan kembali memandang semua orang di dalam ruangan.

“Kita akan berangkat besok, ketika matahari terbenam. Senja adalah waktu terbaik untuk memulai segalanya. Kuharap kalian mempersiapkan diri dengan baik. Fredderick, ini tugas rahasia. Tidak boleh ada satupun yang tahu kau pergi bersamaku. Azhena telah mengatur tentang berita pemindahanm tugas lokasimu ke Thussthra.”

Fred mengangguk tegas, “Saya mengerti, pangeran.”

“Kalau begitu, kalian semua boleh pergi sekarang. Mora, siapkan segala sesuatu di dalam Zeyzga, semua yang kukatakan padamu tadi harus siap besok pagi.”

Mora mengangguk dan sosoknya menghilang segera setelah semua orang mulai meninggalkan ruangan. Ares bahkan tak banyak bicara dan langsung pergi bersama Azhena. Dia tahu bahwa akan ada banyak hal yang dia siapkan. Besok ketika senja tiba, dia sudah harus berangkat. Ribi melangkah dengan hati-hati di belakang Azhena ketika dia mendengar suara Dave menahan langkahnya.

“Gabrietta.”

Ribi berbalik, Dave masih duduk dengan tenang di tempatnya. Memandangnya lurus-lurus, “Kembalilah ke ruanganmu dan Memnus akan membantumu menyiapkan apa yang perlu kau bawa.”

Suara tarikan nafas Ribi terdengar berat. Dia mengerahkan semua keberaniannya ketika berkata dengan pelan, “A-apakah aku tidak bisa kembali ke rumah Argulus?” mata biru Dave menatapnya lebih tajam, “Hanya sebentar. Untuk berpamitan.” Tambah Ribi buru-buru.

“Memnus.” Dave bicara dengan udara kosong tanpa mengalihkan pandangannya pada Ribi, “Antarkan dia pada Argulus. Begitu dia selesai, bawa dia kembali ke ruangannya di sini dengan segera.”

Ribi tidak memahami apa yang dikatakan Dave. Namun ketika seorang laki-laki seusia Fred mendadak muncul dari udara kosong dan tersenyum padanya, dia tahu bahwa tadi Dave berkomunikasi dengan anilamarrynya, Memnus. Dan di sanalah dia sekarang, “Hallo Gabrietta.” Sapanya dengan suara yang sama seperti ketika mereka berbincang malam itu, “Jadi kita akan berkunjung ke rumah si tua Argulus? Baiklah ini harus cepat. Kurasa Dave tidak akan menunggu lama. Bisa kau jalan dulu sampai ke wilayah terluar sihir kastil ini, aku malas menggunakan kekuatan yang besar di dalam sini. Sangat menguras tenaga.”

“Ka-kau mengizinkanku-” kali ini Ribi kehilangan kata-katanya ketika dia bicara pada Dave. Dave tak bereaksi, tapi si laki-laki-Memnus-mengibaskan tangannya, “Sudah Gabrietta, pergi sana. Aku menunggu di sana. Jangan menganggu pangeran kita yang sibuk ini.”

Ribi mengangguk cepat dan berbalik tanpa menoleh lagi. Berlari menuju tempat yang sebelumnya dikatakan Memnus. Dan begitu bayangan Ribi menghilang, Memnus memutar tubuhnya, mengangkat alisnya, “Jadi kau akhirnya bersifat lunak padanya?”

“Aku tidak punya alasan untuk bertindak bertentangan dari ini.”

“Ah ya-ya. Lupakan saja betapa kejamnya kau beberapa waktu lalu padanya.”

Dave menyipitkan matanya, “Jangan banyak bicara Memnus. Pergi dan segera kembali kemari begitu urusan dengan Gabrietta selesai.”

“Sesuai perintahmu, Yang Mulia.” Ucap Memnus dengan nada menyindir sebelum dia lenyap.

***

Ribi melangkah dengan hati-hati memasuki halaman rumah yang telah dikenalnya dengan baik. Tak ada yang berubah di sini. Kecuali semuanya kembali begitu berantakan dan kotor seperti ketika pertama kali Ribi datang ke tempat ini. Memnus berjalan di belakangnya, ketika dia membuka pintu rumah Argulus. Bau debu menyambut Ribi ketika dia masuk. Dia bahkan belum lama pergi dan Argulus sudah hidup kembali dalam sarang laba-laba dan timbunan debu yang tebal.

Ada suara-suara dari arah tangga bawah tanah dan tak sampai lima detik, dia melihat tubuh tua Argulus berjalan tergesa dari arah sana, “Oh dear, Gabrietta.” Dia tersenyum lebar. Mendekat ke arah Ribi dan menepuk-nepuk kedua lengannya dengan lembut.

“Aku tahu kau pasti akan datang, tapi tidak menyangka akan secepat ini. Dave pasti sudah menemukan jalan mencari Xexa bukan? Oh Gabrietta, aku tidak percaya ini. Ah aku hampir lupa- duduk. Duduklah dulu.” Dia mengayunkan tongkat sihirnya dan tiga buah kursi serta satu meja kecil mendekat ke arah mereka. Dengan satu ayunan lagi dia membuat debu dan sarang laba-laba yang ada pada benda-benda itu menghilang.

“Duduklah.” Katanya lagi sambil meletakkan tubuh tuanya ke satu kursi paling dekat.

Ribi hanya bisa mengangguk dan duduk di kursi di seberang Argulus, sementara orang tua itu mengamati Memnus dengan mata jenaka. “Kau juga, Memnus. Duduklah. Ini tak akan lama.” Ucapnya riang.

Memnus-yang berwujud pemuda jangkung dengan kulit kecoklatan yang sama seperti yang dilihat Ribi ketika mereka berbincang-hanya mengangkat bahunya dengan tidak peduli dan berjalan memutar, menuju satu kursi kosong di antara Ribi dan Argulus.

“Jadi kapan kalian akan pergi? Siapa saja yang berangkat? Kau, Dave, Ares?? Siapa lagi, aku mendengar jika Fred juga ikut. Apa itu benar??” matanya yang kecil berair berkedut-kedut ketika dia bertanya begitu banyak kepada Ribi.

“Wow-wow. Sabarlah, penyihir tua. Berapa banyak pertanyaan dalam satu hembusan nafas tadi?”

Argulus hanya mengoyangkan satu tangannya, meminta Memnus tak ikut campur. Ribi tersenyum kecil. Argulus tak berubah, tak sabar dan selalu begitu. “Ya, Fred juga ikut. Yang pergi hanya kami berempat, aku, Dave, Fred dan Ares.”

Argulus tertawa, “Aku bisa menebaknya.” Dia mengelus janggutnya, “Kau pasti senang. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, Gabrietta. Dan kau punya si Fredderick Colfer di sampingmu.” Lalu tawanya semakin keras, “Aku benar-benar akan memberikan restuku untuk kalian berdua.”

Ribi bahkan baru menyadari arah pembicaraan Argulus ketika Memnus memandangnya dengan tatapan terkejut dan mata melotot seperti mau melompat ke luar, “Ribi dan bocah Interoir Senior??” Memnus menggeleng dan berdecak, “Ini berita yang mengagumkan.”

Panas menjalari pipi Ribi yang langsung memerah, “Bu-bukan seperti itu. Aku-“

“Jadi sudah berapa lama-eh?”

“Oh anilamarry. Gabrietta hanya tergila-gila padanya. Fredderickku tersayang belum meminta dia jadi istrinya. Tapi kurasa dia juga menyukai, Gabriettaku.” Argulus terkekeh dan Memnus tertawa, “Dave akan suka mendengar hal ini.”

“Tidak.” Ribi menjerit, “Jangan berani-berani mengatakan apapun tentang hal ini kepada Dave.”

“Kau bukan siapa-siapa Gabrietta. Bagiku, Cuma satu orang yang bisa memberiku perintah. Dan itu bukan kau.” Dia tersenyum menggoda.

Argulus masih saja tertawa, “Dave bukan orang jahat. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Nah, nak.” Mendadak suara Argulus berubah menjadi serius, “Aku tahu kau kemari untuk berpamitan denganku, bukan?”

Mendadak Ribi teringat pada tujuannya kemari. Dia mengangguk pelan, “Aku harus pergi besok.” Katanya muram. Dia akan merindukan obrolan seperti ini dengan Argulus. Guru, pembimbing, dan segalanya bagi Ribi. Dia baru merasakan itu sekarang. Dia mungkin saja tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Dan seandainya kembalipun, dia tidak tahu apakah Dave akan membiarkannya kembali ke rumah Argulus.

Air matanya tergenang. Argulus dan rumah ini, memberikan kehangatan yang berbeda baginya. Kehangatan keluarga yang tidak didapatnya ketika berada di panti asuhan. Meskipun Argulus seringkali cerewt dan tidak sabar, dia tahu Argulus menyayanginya. Ribi sudah hafal betul dengan semua yang ada di sini. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.

“Aku akan baik-baik saja, nak.” Bisik Argulus, seolah bisa membaca apa yang ada di kepala Ribi, “Aku lebih khawatir pada apa yang akan terjadi padamu di luar sana. Kau belum mengerti terlalu banyak tentang sihir. Kau dan dunia luar, rasanya begitu berat. Tapi kau harus bertahan, Ribiku.”

“Guru-“

“Oh dear, kau tahu aku tidak suka dipanggil seperti itu.” Argulus tertawa, membuat Ribi tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Lord Lagash mengatakan sesuatu kepadaku tentangmu yang membuatku merasa kau akan sanggup menghadapi apapun itu yang ada di luar sana. Tapi tetap saja, ah Gabrietta, membayangkan bagaimana kejamnya dunia di luar rumah kecilku ini membuatku muram. Tierraz sudah banyak berubah sejak aku memilih hidup di sini.”

Lalu dengan perlahan, Argulus bangkit dan mengulurkan sesuatu kepada Ribi. Ribi berdiri, menerima botol kristal berwarna gelap pekat dari Argulus. Dia memandang Argulus dengan tidak mengerti.

“Ini yang paling bagus di seluruh Tierraz. Penyembuh. Pemanggil kesehatan dan penghapus luka. Satu-satunya ramuan terbaik yang bisa kubuat. Hanya ada beberapa sendok di dalamnya. Gunakan setetes saja saat kondisi darurat, muridku. Ini akan sangat berguna. Percayalah padaku.”

Ribi mendongak, memandang Argulus, dan air matanya jatuh. Dia terisak. Dia tahu benar bagaimana kerasnya Argulus berusaha dengan semua kerja kerasnya dalam membuat ramuan. Tak banyak yang berhasil. Tapi untuk setiap yang berhasil, meskipun setetes diantara sekuali, Argulus akan berbinar-binar penuh bahagia. Menyimpan yang berhsil dan tak membiarkan seorang pun menyentuhnya. Tidak. Segala yang ada di ruang bawah tanah dan semua ramuannya adalah hartanya yang paling berharga. Dan sekarang, dalam genggamannya. Satu ramuan terbaik yang pernah dihasilkan Argulus menjadi miliknya.

Argulus menepuk bahunya dengan lembut, “Sekarang pergilah. Aku tahu kau masih punya banyak hal yang harus kau kerjakan.”

“Terima kasih.” Bisik Ribi diantara isaknya, dan Argulus mengangguk pelan.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

19 Comments

  1. yeaay!
    Dipost juga hahhaahaa
    aduuh makasssssih ya kk uda mau ngepost
    serun bingits ceritanyaaaaaa omg!!
    Penasaran banget nih sama ribinyaa nantinya bakal gimanaaa
    lanjutt ya kakk!

  2. Yuhuuu.. terima kasih kembali.
    Hohoho makasiii pujiannya ya.
    Penasaran gimana Ribi nantinya..???

    Tetap ikuti cerita dia dan tunggu postingan selanjutnya 😀

  3. Hei kak aku nggak mikir kaya gitu kok hohoho
    Aku pikir malah bisa jadi Ribi itu keponakannya Dave hahahhaha
    Terharu deh pas dibagian Ribi pamitan sama Argulus . .
    Menurutku di cerita ini yg nama2nya paling susah di lafalkan wkwkwkwk tapi seru menarik tapi aku belum terbiasa masih bingung juga orangnya banyak soalnya hehhehe
    Kadang aku juga masih ngira xexa itu nama orang pokoknya waw banget deh ini …hahahha
    Nnggak sabar nunggu kelanjutannya lagi…

  4. Hahaha, kok bisa mikir kalo Ribi keponakannya Dave?? Mereka ini cuma beda beberapa tahun loh. Ribi tujuh belas sementara Dave dua puluh, yah meski wajah Dave masih kayak tujuh belasan gitu. 😛

    Ah masalah nama ya. Sejujurnya inikan emang novel fantasi pertama yang kutulis sejak masa masih esemaa, Jadi..jadi. namanya masih… ya gitu deh 😛 😛

    Eitsss, Xexa bukan nama orang loh. Ini perlu diingat. Hohoho

Leave a Reply

Your email address will not be published.