Xexa – Pengkhianatan Lain

Dave bahkan sadar bahwa dia menahan nafasnya ketika dia melihat bangunan besar di depannya itu. Dia baru saja keluar dari kepungan semak-semak liar ketika menyadari tanah luas di depannya dan sebuah bangunan tua kokoh itu. Dia tak yakin apakah itu kastil karena arsitekturnya yang terasa berbeda dengan kastil-kastil yang pernah dibangun di Tierraz. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang ditata apik dengan bentuk sederhana. Satu menara tinggi dan sebuah balkon utama yang menghadap ke arahnya nampak dihiasi sulur-sulur cantik dan bunga rambat lainnya.

“Tempat ini benar-benar ada.”

Kepala Dave menoleh ke arah Foster di sampingnya yang ekspresi wajahnya tak jauh berbeda darinya. Bahkan menurut Dave, ada bagian dari diri Foster yang seolahmengenal kastil di depan mereka ini.

“Apa maksudmu dengan tempat ini benar-benar ada? Kau pernah mendengar tentang kastil ini sebelumnya?”

Foster mengangguk pelan, “Sang putri penjaga menyeritakannya padaku. Semua kehidupannya sebelum pulang ke Tierraz. Semua kehidupannya sebagai Sherena Audreista. Nama lama yang akhirnya harus ditinggalkannya.” gumamnya lirih tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya dari kastil. Ada nada pahit pada suaranya dan Dave bertanya-tanya apakah ada hubungan lain antara Foster dan si putri penjaga yang terus disebutnya dengan khidmat ini. Dia penasaran tentang berapa umur elf di depannya ini mengingat sang putri penjaga hidup pada masa Mahha Mevonia. Tapi Dave menahannya karena dia tahu dia punya hal lain yang lebih penting untuk dipikirkannya.

“Tapi bagaimana bisa seorang makhluk kegelapan pada akhirnya berada dalam kelompok para makhluk cahaya. Apakah si putri penjaga ini berkhianat pada para makhluk kegelapan?”

Dengan lirikan singkat, Foster menaikkan bibirnya, mencibir, “Vampir bukanlah ras yang akan melakukan pengkhianatan, pangeran kedua. Setelah apa yang terjadi pada kaum Vlad, tak akan kau temukan satu vampir pun yang akan mengkhianatimu. Tapi sang putri penjaga kita ini tak sepenuhnya berdarah vampir, itulah yang menjadi masalahnya. Apa kalian, para penyihir, juga menghilangkan bagian itu dari sejarah lama? Tak mengherankan. Para penyihir tak pernah menyukai fakta yang bisa menurunkan derajat mereka.”

Dave mengangkat kedua tangannya dengan kesal, “Dan bukan aku yang menyusun buku-buku tebal sejarah sihir lama jika kau mau kuberitahu,” sahutnya ketus.

“Dulunya kupikir perpustakaan kuno di Zeyzga masih menyimpan buku-buku dan manuskrip asli, tapi melihat pengetahuanmu yang dangkal, aku meragukannya.” timpal Foster enteng, tak mengindahkan wajah Dave yang memerah menahan marah.

“Mengherankan jika mengingat kata-kata awalmu di perjumpaan pertama kita seperti madu jika pada akhirnya lidah yang sama itu berucap setajam pedang. Kurasa tak semua kaum dari Lord Lagash benar-benar jujur.”

Foster mendengus, “Basa-basi penghormatan, pangeran. Meskipun aku tidak menyukai para penyihir, kita tetap berada dalam perahu yang sama, terlebih kau adalah keturunan dari Mahha Mevonia dan aku menghormati beliau sebesar aku menghormati Lord Lagash, jadi kurasa kau bisa menyimpulkan semua ini, pangeran kedua”

“Aku tahu. Aku tahu.” tandas Dave, dia tak akan mengajak elf di depannya ini untuk berdebat lenih jauh lagi. Dia menyerah dan tak mau membuat kepalanya semakin pusing. Maka ketika Foster melangkah mendekat ke arah kastil, dia memilih diam saja dan hanya mengikutinya.

Mereka berjalan pelan dan Dave bisa merasakan hawa dingin asing yang mendadak terasa menyelubungi tubuhnya. Dia mengeratkan jubahnya dan menajamkan penglihatannya. Semua mantra pertahanan maupun mantra pertarungan sudah tersusun di dalam kepalanya. Dave bisa merasakannya, bagaimana pun, aura gelap tempat ini terasa pekat, bahkan menjadi lebih dan lebih pekat lagi ketika dia semakin mendekat pada bangunan kastil ini. Bersamaan dengan itu, Dave bisa merasakan kepalanya terasa semakin berat. Tempat ini menolakku, pikirnya.

Foster mendorong pintu ganda besar di depannya dengan kedua tangannya dengan hati-hati begitu mereka sudah tiba tepat di depan pintu utama kastil. Tidak ada bunyi besi berkarat ketika engsel pintu besar itu terayun terbuka, yang menandakan bahwa kastil tua ini bukanlah bangunan yang ditinggalkan. Dave menguatkan fokusnya meskipun kepalanya terasa sakit. Sebentar saja dan dia yakin dia akan segera bertemu dengan belahan jiwa sang putri penjaga, satu-satunya makhluk yang mungkin bisa membantunya untuk melacak keberadaan Xexa.

Pintu ganda itu pada akhirnya terbuka seluruhnya, menghadirkan sebuah aula luas yang terasa asing dengan pusat anak tangga utama yang berputar megah ke lantai dua yang sepenuhnya tak terlihat karena tak ada penerangan apa pun. Jendela-jendela tingginya berhias kristal kaca gelap yang sama sekali tak membantu penerangan di dalam kastil. Dave tak bisa menyimpulkan apa pun, sebab tak ada yang bisa dilihatnya, bukan hanya karena gelap tapi juga karena tak ada bayangan apa pun di sana. Tak ada patung, tak ada lukisan, seluruh dindingnya bersih tanpa hiasan apa pun. Kosong. Itulah satu-satunya yang sanggup didiskripsikan oleh mata Dave

Ketika Dave akan melangkahkan kakinya untuk maju, satu tangan Foster terangkat dan menghalanginya, “Dia datang.” ucapnya pelan.

Dave mengangkat kepalanya dan memusatkan pandangannya pada apa yang dilihat Foster. Awalnya dia tidak yakin pada apa itu sampai bayangan sosok manusia itu menapak turun dengan pasti. Langkahnya tegas dan tubuhnya terlihat tegap meski pun jubah berwarna gelap menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sosok itu berhenti tepat di anak tangga terakhir, menatap ke arah Dave dan Foster dengan sepasang mata miliknya yang seandainya sanggup menyuarakan isi kepala pemiliknya pasti sudah meraung mengerikan. Dave menelan ludahnya, meski tak sanggup melihat dengan jelas wajah itu, dia bisa merasakan bahwa sosok itu tidak akan menyambut mereka dengan ramah.

“Elegyar Foster,” suara itu tajam dan lantang, “Beraninya kau menginjakkan kakimu di kastilku, dan kau—“ suara itu berhenti tapi langkah kaki pemiliknya masih terdengar, “Membawa seorang penyihir bersamamu?”

Lalu sebuah tawa panjang yang dingin terdengar menggema di seluruh aula utama. Dengan mendengarnya saja, Dave bisa merasakan seluruh bulu tubuhnya meremang. Ada kebencian yang pekat dalam tawa palsu itu.

“Reven,” panggilFoster setelah dia menarik nafas panjang. Semuanya terasa berat dan seluruh rasa bersalahnya seolah terkumpul menjadi satu ketika dia menyebutkan nama itu setelah ratusan tahun berlalu, “Aku datang untuk meminta bantuanmu.”

Langkah kaki itu terhenti di anak tangga terakhir, “Bantuan?” suara itu masih lantang dan tajam, seolah-olah sedang menunggu sesuatu, “Kau meminta bantuan dariku? Setelah semua yang kau dan kaummu lakukan padaku?”

“Ak—“ Foster tersedak cepat ketika satu tangan asing meraih lehernya dan mencekiknya kuat. Dave yang ada di sampingnya bahkan tak sempat bereaksi karena tak menyangka akan kecepatan yang dimiliki oleh sosok yang dipanggil Foster dengan nama Reven itu. Dia baru akan mengangkat tangannya untuk merapal mantra ketika Reven sudah melepaskan leher Foster dan membuat peri hutan itu mundur beberapa langkah dan terbatuk-batuk, meraup semua udara yang semula tertahan masuk.

Reven tersenyum tipis, menatap ke arah Dave dan senyumannya menghilang dalam sekejap, “Keturunan Mevonia?” dia mendengus, “Kau harus menyimpan energimu karena aku tahu jelas bahwa kau tak akan melakukan apa pun padaku. Kaulah yang membutuhkan bantuanku, dan bukannya peri hutan terkutuk itu.”

“Kau—bagaimana kau bisa tahu?”

“Ramalan kuno. Kutukan bulan biru. Aku bertahan hidup selama ini, menderita sendirian hanya untuk menunggu saat ini tiba dan memenuhi janjiku pada Sherena. Aku tahu dengan benar apa yang kau butuhkan dariku, keturunan Mevonia.”

“Kau.. adalah belahan jiwa sang putri penjaga?”

Dave bisa melihat betapa jelasnya perubahan ekspresi Reven ketika dia mengatakan hal itu. Seolah ada beban berat yang langsung dihunjamkan dengan tiba-tiba di pundaknya. Dave mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa dia langsung melontarkan pertanyaan itu?

“Bisakah kau bisa katakan padaku diman—“

“Sebelum kujawab semua pertanyaan dalam kepala kecilmu itu, kau harus melakukan sesuatu untukku, penyihir. Mevonia melakukan sesuatu padaku dan hanya keturunannya yang bisa membantuku. Sebuah harga yang pantas, bukan?”

Tubuh Foster menegang dan dia langsung tahu apa yang akan terjadi, “Pangeran kau tidak—“

Tapi pintu ganda di depannya sudah menutup tepat ketika Reven mendadak mendorongDave yang terkejut masuk ke dalam kastilnya. Foster yang tertinggal di luar tak akan pernah sanggup membuka pintu itu seberapa besar pun dia berusaha. Dia mengeram dengan marah dan memukul pintu kayu ganda itu dengan sia-sia. Dia seharusnya sudah tahu ini akan terjadi. Seorang Reven tidak akan seramah ini menyambut kedatangannya setelah apa yang terjadi diantara mereka.

Tangan Foster terkepal, jika sesuatu terjadi pada pangeran tolol itu, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Bagaimana pun juga, pangeran itulah yang mungkin bisa menyelamatkan satu-satunya harapannya agar bisa termaafkan dari kesalahan besarnya di masa lalu. Dan sekarang anak tolol itu terkurung bersama musuhnya. Foster mengepalkan tangannya marah dan penuh penyesalan pada saat yang bersamaan. Dia tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh Reven pada Dave.

***

Ratu Myrella berjalan hilir mudik di ruang pribadinya dengan wajah pucat. Berulang kali dia meremas-remas tangannya dengan gelisah. Apa yang harus kulakukan? adalah satu-satunya kalimat yang terus menerus berputar-putar ulang di kepalanya.

“Apa yang harus kulakukan?” akhirnya dia menyuarakan kalimat itu dengan keras dan frustasi. Menatap dengan cemas pada seorang wanita tua yang sibuk dengan benang-benang wol dan rajutan syal musim dingin berwarna kecoklatan di tangannya.

“Kau yang paling tahu apa yang harus kau lakukan, Myrella.” Jawab wanita tua itu tanpa memandang pada Ratu Myrella.

“Nyrlj,” pangkas Ratu Myrella cepat, dia memandang anilamarrynya dengan lelah, “Kau tahu aku dalam posisi sulit sekarang. Setidaknya bantu aku berpikir lebih baik dengan memberiku sedikit saran.”

Si wanita tua mengangkat wajahnya untuk pertama kalinya, “Aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini dua puluh lima tahun yang lalu dan kau sama sekali tidak mengindahkan ucapanku. Kupikir kau sudah punya cadangan rencana menghadapi hari ini dan hari-hari selanjutnya.”

Ratu Myrella mengenggam tongkat sihirnya kuat-kuat. Bersabar agar tidak memantrai anilamarrynya sendiri. Seberapapun tajamnya lidah Nyrlj, dia tetap membutuhkannya.

“Kau kehilangan banyak sekali hal-hal yang sakral sejak saat itu, Myrella. Kemakmuran kerajaanmu, perasaan aman di dirimu, dan bahkan berat badan serta penampilan apikmu. Kau seharusnya lebih banyak mengaca sekarang. Kau bahkan tak jauh berbeda dengan wujud fisikku sekarang. Lebih tua, penuh kekhawatiran, kesedihan dan pipi yang semakin tirus dari waktu ke waktu. Kau membayar mahal kesepakatan yang kau buat dengan Azhena.”

Tak ada yang bisa dikatakan Ratu Myrella, sebab dia tahu ucapannya anilamarrynya itu benar. Apakah pilihan bergabung dengan Azhena ketika itu adalah kesalahan besar? Ratu Myrella menelan pelan air ludahnya dengan susah payah. Apapun kebenarannya, dia tak tahu bahwa itulah yang harus dia hadapi sekarang.

“Aku sudah berada di pihak Azhena jauh sebelum dia memutuskan melakukan ini semua, Nyrlj. Apapun hasilnya, maka aku akan menerimanya.”

Satu alis si wanita tua terangkat dengan dramatis, “Lalu untuk apa semua kecemasan yang tidak perlu ini jika kau sudah sepenuhnya percaya pada Azhena?”

“Niffenegger,” kata sang ratu kemudian, “Dia tahu bahwa bayi itu bukan putriku. Bahwa aku tidak akan mungkin membunuh darah dagingku sendiri seperti Azhena. Dia tahu aku menukarnya.”

“Kau memberi tahu pemimpin bodoh Alkrez itu? Kukira hanya kau dan aku yang tahu bahwa bayi yang kau berikan pada Azhena itu bukanlah putri kandungmu.”

“Aku memberitahunya beberapa minggu yang lalu ketika dia ingin menikahkan Airellaku dengan putra bungsunya. Airella putri kandungku, Nyrlj. Aku tidak akan membiarkannya mendapatkan pasangan seperti pangeran Diaz. Kau tahu sendiri bagaimana sifat pangeran liar itu. Dan aku tidak bisa menolak apa yang diinginkan Niffenegger tanpa memberitahunya ini semua. Kita dalam sisi yang sama dengannya dan dengan buruknya perasaannya sejak keluar dari persekutuan, aku semakin tidak punya pilihan.”

Nyrlj menggeleng, “Tolol sekali,” gumamnya, “Setidaknya putra bungsu Niffenegger itu bisa menjaga Airella lebih baik daripada pangeran Zerozhia yang bodoh itu. Dave Michail Miranda? Kau masih menginginkan bocah itu menjadi pasangan Airella sementara mereka bahkan sama sekali tidak pernah bertemu?”

“Kau tidak tahu apa yan—“

“Gelar, kehormatan dan memiliki cucu berdarah Mahha. Aku mengenalmu dengan baik, Myrella. Para penyihir tak pernah kehilangan ketamakan mereka dari zaman demi zaman yang sudah berlalu. Aku tidak terkejut.”

Mengabaikan ucapan anilamarrynya, Ratu Myrella kembali berjalan mondar mandir dengan gugup, “Airellaku tidak boleh merasakan penderitaan apa pun. Tidak boleh. Jika semua yang dikatakan Azhena benar, maka aku harus menjaganya agar dia tetap aman.”

Nyrlj memandang Ratu Myrella dengan kernyitan dalam di dahinya. Dia menggeleng. Lalu dengan tidak acuh, kembali pada rajutan di tangannya. Jika sudah membahas tentang putri Airella, maka ini akan menjadi percakapan yang panjang dan tidak berbobot. Dia sudah tahu bagaimana terlalu berlebihannya Ratu Myrella pada putri Airella. Bahkan bukan hanya dia saja, tapi seluruh penduduk kerajaan Thussthra mengetahui hal itu dengan benar. Jika ada yang benar-benar akan dikhawatirkan sampai mati oleh ratu mereka, maka itu adalah sang putri. Sang putri yang karena demikian berharganya bagi sang ratu, harus terkurung di menara paling tinggi kerajaan mereka sejak usianya tujuh belas tahun. Tak ada yang boleh mendekati dan membuat sang putri terluka. Bahkan ketika muncul kutukan kelam bagi tanah Thussthram, sang ratu menjadi lebih gila pada pengamanan terhadap putri tunggalnya itu.

Dasar bodoh, pikir Nyrlj sambil terus melanjutkan rajutan syalnya.

***

“Tidakkah kau pikir mereka sudah pergi terlalu lama?”

Ribi menoleh ke arah Ares yang nampak sedang menelan makan paginya dengan wajah suram. Ribi menunduk menatap isi piringnya dan dia tahu bahkan tanpa masalah mereka sekarang, tumpukan sayuran segar dan potongan buah di atas piringnya juga akan menyebabkan wajahnya sesuram itu.

Ares meletakkan pisau peraknya dan memandang ke arah Ribi yang tengah mengamati menu makan paginya, “Aku punya firasat buruk,” katanya mengambang, membuat Ribi menoleh cepat dengan wajah tidak mengerti.

“Kau sudah selesai dengan sarapanmu?”

Ribi buru-buru mengangguk, dan ketika Ares bangkit dengan cepat dari duduknya, dia mengikuti Ares dengan sama cepat.

“Apa kita akan menyusul mereka?” tanyanya ketika mereka berjalan beriringan dengan cepat menuruni tangga dengan air terjun kecil menderu di samping mereka. Ribi sebenarnya sangat menyukai bagaimana para elf membangun rumah mereka dengan banyak ruang terbuka dan seolah menyatu dengan alam seperti ini, namun sekarang, dia bahkan tidak punya waktu untuk menikmati udara pagi yang segar di lembah ini karena wajah serius Ares menularkan perasaan tidak enak pada mereka.

“Apa kita akan menyusul Dave dan Foster? Bagaimana dengan Fred?”

“Kita tidak akan menyusul mereka karena kita bahkan tidak tahu arah mana yang mereka tuju, dan tentang Fredderick Colfer, aku tidak tahu, Ribi. Kita berharap saja tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Wajah Ribi memucat mendengar apa yang dikatakan Ares, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Mempersiapkan diri.”

***

“Lepaskan aku dari sini, Azhena.”

Mata Azhena menyipit, sudut bibirnya tertarik ke atas dan dia hanya mengamati bagaimana lingkaran sihir dengan banyak ukiran rumit itu terbentuk sempurna. Tidak ada kesalahan apa pun. Dia yakin itu.

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Azhena?”

Kali ini wajahnya terangkat dan ditatapnya bocah berkulit cokelat itu dengan senyum tipis yang belum meninggalkan wajahnya.

“Terlalu banyak yang kurencanakan, Memnus. Dan kau bisa menjadi segumpal kesulitan yang bisa mencelakakan semua rencana yang kususun bertahun-tahun lamanya. Aku tidak suka bagian itu.”

“Azhena, kau..”

“Aku tidak akan menjawab apa pun, Memnus. Ingat perintah penyihir pemilikmu? Tangkap, penjarakan, dan interogasi Actur Gllarigh di penjara utaraa Zerozhia. Ketahui rencananya dan siapa saja yang terlibat bersamanya. Bukankah itu yang diinginkan Dave?” Azhena menyeringai puas, “Dan kuberitahu padamu, tak akan ada yang menangkap, dan memenjarakan bahkan meninterogasi Actur Gllarigh. Tidak akan pernah ada. Perintah formal penyihir pemilikmu akan membuatmu membusuk di pentacle itu sampai jiwamu terbebas ketika Dave mati. Berharaplah waktu itu datang lebih cepat, Memnus.”

Tangan kecil si bocah terkepal penuh kemarahan. Dia sudah menyadari ada yang salah ketika Azhena membawanya ke ruangan ini untuk bertemu dengan Gillar, si ketua interoir. Dia menurut, mengabaikan instingnya dan berjalan masuk ke ruangan berkarpet domba ini tanpa ada persiapan apapun. Lalu semuanya terlambat ketika dia sadar bahwa perlahan karpet tebal itu menghilang, meninggalkan dirinya yang berdiri di tengah-tengah pentacle, lingkaran sihir yang dipenuhi mantra-mantra kuno yang bahkan sanggup mengikat dan menggurung makhluk angin sepertinya. Mantra penggurung sudah terucapkan tanpa Memnus pernah mendengarnya dan semuanya bekerja dengan terlalu baik, tidak ada kesalahan. Semua huruf rune kuno dan setiap detail lingkaran adalah yang paling sempurna yang pernah ditemukan Memnus sepanjang kehidupannya. Selesai, dia selesai di sini.

“Berharaplah Dave segera bisa menemukan Xexa dan aku bisa segera mengakhiri penderitaanmu di Tierraz. Ah, satu lagi, kuucapkan terima kasih padamu dan pangeran tercinta kita karena dia menemukan si pengkhianat. Bertahun-tahun berlalu dan aku tak tahu jika Actur masih menaruh kesetiaannya pada suamiku. Mohave akan tersanjung jika dia tahu hal ini. Beristirahatlah, kau akan punya banyak waktu yang perlu kau habiskan di lingkaran itu. Sekarang, izinkan aku pergi karena aku harus mengurus Actur terlebih dahulu.”

Dan begitu saja, Azhena langsung berbalik cepat tanpa menghiraukan segala sumpah serapah yang terlempar dari bibir Memnus. Begitu suara pintu terbanting menutup, Memnus meninju ke arah luar lingkaran dengan frustasi dan dia benar-benar harus menyumpahi dirinya sendiri setelah itu karena api semerah darah langsung membakar bagian tangannya yang keluar dari lingkaran. Dia terlempar ke pusat lingkaran dengan tangan kanan separuh gosong.

“Perempuan  busuk.” Makinya keras sambil mengibas-ibaskan tangan kanannya yang berasap. Sekarang dia bahkan tahu bahwa sesuatu yang besar dan salah sedang berlangsung, bukan hanya kelahiran kembali dari Edna, ancaman dari kutukan bulan biru tapi juga Azhena. Bagaimana bisa dia tidak menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan perempuan itu? Apa wajah baik dan kasihnya sudah membutakan dia dan Dave bahwa ada rencana-rencana lain hidup di kedua mata si penyihir yang sering terlihat tulus pada Dave itu?

Memnus menggeleng tak percaya, para penyihir memang selalu mengerikan.

***

Sorglos mengamati kehancuran total yang menimpa perkemahan utamanya. Sisa-sisa api yang nyaris mati masih nampak di beberapa tempat. Seluruh tenda utama sudah lenyap, meninggalkan abu hitam bekas seluruh tenda dan isinya yang terbakar. Seluruh peralatan dan cadang makanan mereka berhamburan di tanah dan tercecer tak beraturan. Belum lagi banyak mayat kaumnya yang tergeletak dengan panah-panah menancap di tubuh mereka.

Tangan Sorglos mencengkeram tongkat sihirnya dengan keras dan Margus yang menyadari sosok tinggi pemimpinnya dari kejauhan segera berlari dengan kaki terseok-seok sementara tangan kirinya mencengkeram lengan kananya, satu anak panah nampak terbenam di lengannya dan darah masih mengalir dari luka anak panahnya.

“Apa yang terjadi?”

“Lord Lan-n-d-ddis,” suaranya terputus-putus, menahan sakit pada luka-lukanya.

Sorglos mengangkat tangannya, dia mendekat pada Margus, menyentuh lengan berdarah Margus dan dengan satu kali tarikan pasti—yang membuat Margus berjengit dan mengigit bibirnya kuat—dia menarik anak panah di lengan Margus. Darah mengalir semakin banyak dan dengan cepat, dirogohnya serbuk ramuan di salah satu kantongnya, ditaburkannya dengan cepat dan sebuah tarikan lain dia meyobek kain pada pakaiannya, mengikatkan kain itu pada lengan Margus dengan cepat

“Itu akan membantu,” katanya pelan, “Apa yang terjadi?” ulangnya kemudian.

“Para elf liar mengamuk,” jelas Margus dengan lebih jelas, “Lord Landis sendiri bahkan datang ke tempat ini. Mereka mencari bocah-bocah penyihir yang waktu itu kabur ke wilayah para elf liar. Kupikir mereka melakukan sesuatu yang membuat Lord Landis begitu marah. Dan kau bisa lihat apa yang dilakukan para elf liar itu ketika kami yang tidak terima pada kedatangan mendadak mereka, melawan. Mereka menghancurkan tempat ini.”

“Seberapa banyak yang tersisa?”

“Cukup banyak,” jawab Margus cepat, “Mereka segera pergi ketika Lord Landis membalikkan tubuhnya dari tempat ini begitu dia yakin bahwa bocah-bocah penyihir itu tidak ada di sini.”

“Kumpulkan mereka yang tersisa dan masih kuat. Buat persiapan besar, kita akan melakukan perjalanan segera setelah ini.”

Margus membelalakkan matanya, “Tap—“

Sorglos memandang Margus dengan tatapan penuh kemarahan dan mulut Margus langsung terbungkam, dia mengangguk. Mundur dan berbalik. Namun baru beberapa langkah, dia berbalik lagi, menatap pada Sorglos yang diam dengan mata menatap ke seluruh sisa-sisa perkemahan utamanya, lalu pandangannya beralih pada tongkat sihir di tangan kiri Sorglos.

“Apakah kau akan kembali menjadi Driend Toufet?”

Sorglos kembali memandang ke arah Margus yang menunggu dan dengan suara berat, dia membuka mulutnya, “Driend Toufet sudah mati sejak perang dua puluh tahun lalu, Margus. Aku adalah Sorglos, pemimpin para kaum liar Tierraz.” Jawabnya dengan suara mantap.

Margus mengangguk puas dan segera berbalik. Sorglos memandang punggung Margus dengan mata tajam, pelan disentuhnya bekal luka memanjang di pipi kirinya.

“Ya, Driend Toufet sudah mati.”

 << Sebelumnya
Selanjutnya >>

Source : Instagram

A/N

Hai, aku datang hari ini dengan chapter baru dari Xexa, semoga kalian bisa menikmati membaca chapter ini. Anyway, jangan nanya-nanya kapan aku update yang lainnya ya. Kalau aku sempat, aku pasti langsung update. Tapi aku sedang fokus dengan skripsiku sekarang, kuharap kalian tidak bosan dengan alasanku ini. Aku sedang ngejar biar bisa sidang skripsi bulan Juni. Jadi tolong doakan agar semuanya lancar ya. Kalau aku sudah selesai dengan segala urusan skripsi, yudisium dan semua tetek bengeknya, serius, ngga perlu kalian nanya, aku pasti bakal rutin update chapter baru.

Jadi.. doakan ya. Semoga skripsiku lancar, yudisumku lancar, wisudaku lancar, dan rencana balik ke negeri antah berantah juga lancar.

Aku menyayangi kalian semua.

Ah ya, pic di samping itu adalah cast-nya Ratu Myrella, sang penguasa Thussthra.

Xoxo,

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. Alhamdulillah, akhirnya update juga 😀
    Itu rena beneran meninggal kak??? Yaa ampunnn jangan sad ending kak di remember us 🙁 sedih amat..
    Setelah ini tamat aku mau baca lagi dari awal kak, soalnya ada yg miss. Gara2 kosa katanya gak familiar, jadi gak hafal. Kaya nama tokoh dan dia sbg siapa atau apa

  2. Akhirnya Kakak update Xexa '-'
    Baca Xexa sama dengan spoiler buat RU, dan aku dapet banyak di sini :v
    Omong-omong tentang batu Xexa, Reven bakal berkorban nyawa buat munculin batu Xexa? Apa itu janji dia ke Rena? Dan kenapa nama Rena harus diganti :'v plus, Ares itu bukan anak Azhena? '-'

    Semangat buat skripsinya, ya, Kak! Semoga abis sidang kelar, Kakak bisa rajin update. :v

  3. Ok Mba semangat ya..semoga skripsinya lancar dan hasilnya memuaskan..aamiin..
    Penasaran bagaimana ceritanya serena bisa jadi putri penjaga..dan kenapa azhena malah mengurung memnus..sebenarnya apa yang di rencanakannya…?
    Terimasih mba sudah update^^

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.