Xexa – Pengkhianatan

“Putra terkutuk itu menuntut haknya, pangeran kedua. Xexa akan ditemukan. Sang pengikut akan dibangunkan. Dan Sang Tuan menunggu. Masa kedua kegelapan Tierraz.. menuntut haknya atas bintang dan lentera yang melindungi Tierraz.”
Dave terbangun dengan cepat dan gelisah disertai bayang-bayang tatapan Mohave yang mengintimidasi pikirannya. Tersengal-sengal, dia melihat ke sekitar. Ribi dan Fred bergelung tidak nyaman namun tetap lelap tertidur tak jauh darinya. Dia mengalihkan pandangannya, merasakan seseorang mengamatinya. Dan benar—tak jauh darinya—Ares, yang mendapat tugas berjaga, memandang ke arahnya dengan tatapan ingin tahu yang jelas.

Dave menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan sebelum dia bangkit dan berjalan ke arah Ares, kegelapan menyelubungi mereka karena tak ada api atau apapun yang dibuat. Dave pikir itu yang terbaik, api mungkin menghangatkan tapi cahayanya jelas akan mengundang makhluk lain mendekat ke arah mereka. Hanya remang-remang cahaya bulan yang membuat mereka bisa melihat kondisi satu sama lain.

Ares mengulurkan kantong minumnya ke arah Dave yang mengumamkan terima kasih sebelum meneguknya.

“Ada apa?” Ares mengamati Dave.

Dave menggeleng, “Hanya mimpi buruk.” Ucapnya pelan sambil meletakkan kantong minum Ares, “Kau tidurlah, biar aku yang berjaga sekarang.” Lanjutnya kemudian.

Ares hanya menatapnya namun tidak beranjak dari tempatnya berdiri, “Aku tidak  mengantuk.” Katanya akhirnya.

“Kau yakin?”

Ares mengangguk. Ada diam yang lama sebelum akhirnya Ares kembali bersuara, “Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kita bertemu dengan Danesh?”

“Aku tidak tahu.” Dave mendesah, “Aku juga pernah memikirkan hal itu. Namun aku tidak mendapatkan jawabannya sampai sekarang. Meskipun dia kakakku, dia akan nampak seperti orang asing bagiku. Kami sekalipun tidak pernah bertemu, tidak ada interaksi apapun. Lalu tiba-tiba semua ini terjadi dan memaksa kami berdua berdiri saling bersebrangan. Tapi di sisi lain, aku bahagia mengetahui bahwa dia memang benar-benar masih hidup.”

“Apakah kau sanggup menghadapinya nanti?”

Dave diam cukup lama. Ares tahu itu sangat sulit bagi Dave. Dia tahu dan ingat dengan benar semua usaha yang dilakukan Dave untuk mencari keberadaan Danesh karena dia entah mengapa merasakan bahwa dia tidak benar-benar sendirian. Lalu sekarang, ketika ternyata dia memang benar, bahwa satu-satunya saudaranya memang hidup, dia harus melawannya. Membunuhnya. Itu adalah satu-satunya pilihan yang diberikan perseketuan kepadanya jika Dave gagal berdialog dengan Danesh.

“Aku tidak punya pilihan, Ares.” Dia mendesah lelah, “Jika Danesh mau mengalah dan menyerah, kami tidak perlu melakukan pertarungan atau mungkin duel. Namun jika ramalan itu berubah menjadi kenyataan, mau tak mau aku harus mengalahkannya dan menjauhkan kegelapan dari Tierraz. Bagaimanapun, ini tanggung jawabku.”

Ares mengangguk, “Aku percaya padamu Dave. Aku yakin akan selalu ada jalan bagi mer—“

Dave mengangkat tangannya dan mencabut pedangnya dengan cepat. Ares yang tidak tahu alasannya langsung melakukan hal yang sama. Dan tak perlu waktu lama baginya untuk tahu kenapa. Namun semuanya sudah terlambat.

Mereka dikepung.

Belasan orang-orang tinggi besar mengelilingi mereka dengan segala macam kapak, tombak dan jenis senjata lain yang tidak diketahui Dave namanya, dalam tangan mereka.

“Kaum liar.”

***

“Jadi apa yang dilakukan para penyihir di hutan ini?”

Sorglos, sang ketua—yang bertubuh paling besar dengan wajah dihiasi bekas luka memanjang mengerikan di pipi kirinya—menatap Dave, Ares, Fred dan Ribi yang terikat mengenaskan dalam satu tiang kayu besar di tengah-tengah tenda utama pemukiman kaum liar, dengan mata menyipit.

“Kami bukan penyihir. Sudah kukatakan itu beberapa kali padamu. Bukankah kau tidak menemukan tongkat sihir atau alat-alat yang menunjukkan bahwa kami adalah penyihir ketika anggota kelompokmu menggeledah tubuh kami?” ucap Dave tegas, menatap langsung ke mata Sorglos yang memerah dan berair itu.

Sorglos meludah di depan mereka, beberapa senti dari kaki Dave, “Kau pikir aku akan percaya omong kosongmu, anak muda?Jika kau bukan penyihir, kau tidak akan punya keberanian untuk memasuki hutan ini. Aku tidak bodoh.”

“Kami tidak tahu apa yang salah dengan mengambil jalan di hutan ini.”

Kali ini mata Sorglos memandang ke arah Ares. Ada kilatan penuh nafsu di matanya dan Ares menelan ludahnya gugup. Bagaimanapun dia perempuan dan dia tahu benar bagaimana kaum liar memperlakukan wanita-wanita mereka. Tapi dia memberanikan dirinya, dia tahu semua resiko yang akan dihadapinya ketika dia memutuskan bahwa dia akan ikut dalam pencarian ini.

“Jika aku jadi kau, aku akan berhati-hati dengan mulut kecil yang kumiliki, nona cantik. Siapa yang tahu kau akan berakhir dengan siapa malam ini.”

“Tutup mulutmu.” Teriak Fred keras dengan berusaha keras memberontak dan melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya, “Jangan berani-berani kau menghina, Nona Ares.”

Seorang kaum liar yang berjaga paling dekat dengan Fred langsung memukul dan meninju wajah dan perut Fred, “Tutup mulutmu penyihir busuk.”

Ribi menjerit melihat apa yang terjadi di depan matanya, “Hen—hentikan.” Dia berteriak panik.

Sorglos mengangkat tangannya, “Hentikan, Margus. Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan perempuan Thussthra itu?” Ucapnya keras dan langsung bangkit dari duduknya. Dia berjalan pelan ke arah Ribi.

“Aku tidak salah bukan?” katanya begitu dia tepat berada di depan Ribi, “Kau adalah perempuan dari Thussthra?” Sorglos menunduk agar bisa melihat langsung ke wajah Ribi yang sudah ketakutan setengah mati. Ditambah dengan bau busuk yang mengguar dari mulut Sorglos, Ribi berusaha menunduk dalam-dalam dan tidak balas memandang ke Sorglos

“Jadi seorang Thussthra dan seorang lain dipanggil dengan sebutan Nona. Nah, anak muda—“ Sorglos beralih ke Dave dan mencengkeram leher Dave, “Masih bisakah kau berkelit bahwa kalian semua bukan penyihir?”

Dave menatap langsung ke mata Sorglos dan tersenyum, “Kupikir sudah tidak ada gunanya lagi berbohong padamu.Sebelumnya ya, kami memang penyihir. Tapi sekarang, kami cuma pelarian dari Thussthra.” Ucapnya dengan demikian tenangnya sampai Sorglos merasa aneh dengan keberanian pemuda yang bahkan tingginya hanya satu pertiga darinya itu.

“Pelarian?” dia mengangkat alisnya. Melepaskan cengkramannya pada leher Dave.

Dave mengangguk, “Kau tahu masalah yang terjadi di dalam kerajaan Thussthra bukan? Intrik kerajaan. Dua perempuan ini terseret di dalamnya, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka masuk dalam cara kotor kedudukan Thusstra didapatkan.”

Sorglos tertawa, “Lalu?”

“Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kedudukan bukan didapat dengan kau menikahi mereka yang memiliki darah bangsawan, tapi melalui apa yang kau beri dan kau lakukan untuk kelompok atau kerajaanmu. Dan untuk nona Ares—“ Dave menghela nafas, “Aku tidak akan membiarkan dia masuk ke dalam permainan para bangsawan Thusstra hanya ka—“

“Oh lovebirds, betapa manis dunia terlihat dia mata kalian.” Sorglos terbahak lebih keras. “Jadi dua perempuan ini memang bangsawan Thussthra?”

Dave mengangguk, “Ya.”

“Dimana tongkat sihir kalian?”

Dave memejamkan matanya sebentar. Nampak mulai tidak sabar. Ares melihat jelas bahwa Dave berusaha sekuat yang dia bisa untuk benar-benar tidak mengunakan kekuatannya. Ares dan Fred memang tidak bisa melakukan apa-apa tanpa tongkat sihir mereka, tapi Dave, dia bisa.

“Master kami mengambilnya dari kami dan merusaknya. Akan lebih baik bagi mereka memiliki pesuruh yang tidak memiliki tongkat sihir. Tidak akan banyak masalah muncul.”

“Tetap saja tamak.” Sorglos berdecak, “Apa memang yang bisa dilakukan para penyihir tanpa tongkat sihir dan anilamarry mereka? Sekarang bahakan jumlah para penyihir yang memiliki anilamarry semakin sedikit. Kau tahu kenapa? Karena jumlah yang berkualitas sudah nyaris habis. Tinggal mereka para sampah yang hidup.”

Ribi bisa melihat bagaimana mata Sorglos melirik sebentar ke arahFred, dan keningnya berkerut. Pelan dia berjalan ke arah Fred, “Sejak pertama melihatmu, aku merasa tidak asing denganmu.”

Dave melirik ke arah Fred yang memucat. Apakah mereka masih mengenali Fred? Sorglos berdiri cukup lama di depan Fred. Sebelum akhirnya dia menggeleng, “Kurasa aku salah. Tidak ada penyihir yang datang ke sini dan keluar dalam keadaan hidup.” Ucapnya sambil lalu.

“Margus, bawa mereka semua keluar dari sini. Si tamak Gllarigh akan datang segera lagi. Aku punya banyak urusan lain selain kotoran-kotoran kecil ini.”

Margus mengangguk, dia memberikan tanda ke anak buahnya yang lain. Tanpa menunggu lama, beberapa kaum liar segera menyeret Dave, Ribi, Ares dan Fred dari tempat ini dengan sangat kasar.

***

“Bagaimana mereka bisa mengurung kita di tempat seperti ini?” Ribi menendang  tumpukan jerami kotor di dekat kakinya dengan kesal. Sebentar kemudian dia kembali mengamati tempat mereka duduk dengan kaki dan tangan terikat rotan kuat-kuat. Ini kurungan di tempat terbuka dengan kayu-kayu tua kuat yang dijalin rapat sehingga tidak memungkinkan bagi mereka yang ada di dalam untuk keluar.

“Bagaimana ini? Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang buruk pada kita?” dia memandang ke arah Fred dan Dave bergantian, “Tidak bisakah kalian melakukan sesuatu. Kaliankan p—“ mulutnya langsung tertutup rapat menyadari tatapan Ares. Dia langsung menunduk dalam-dalam dan mengumamkan maaf.

Ares mendesah keras, menoleh ke arah Dave, “Dave tidak bisakah kau melak—“

“Gllarigh? Berapa banyak orang yang hidup di Tierraz dengan membawa nama keluarga Gllarigh?”

Tiga kepala yang lain langsung menoleh ke arah Dave. Mereka melihat bagaimana kening Dave mengerut dalam. Wajahnya terlihat begitu serius.

“Apa maksudmu Dave?”

Dave menoleh ke arah Ares, “Apakah kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh pemimpin kaum liar tadi? Dia akan bertemu dengan seseorang bernama Gllarigh. Kaum liar tidak beraliansi dengan kelompok manapun. Tidak menerima kunjungan selain dari dalam kelompok mereka sendiri. Mereka sepenuhnya terasing. Tapi seseorang akan datang. Tidakkah menurutmu itu aneh?”

Ares menghela nafas dalam, “Mungkin itu bukan nama sebenarnya. Kaum liar tidak menyandang nama keluarga, Dave. Bisa saja it—“

Tapi Dave tak mendengarkan mereka. Dia bangkit, ikatan di kaki dan tangannya entah bagaimana terlepas. Dia menyentuh telapak tangan kirinya dan sebuah cahaya melingkupi mereka. Dengan mudah, dia membuka pintu kurungan mereka dengan dorongan ringan.

“Dave, ap—apa yang kau lakukan?”

“Mereka tidak akan melihat apapun. Sihir ini hanya bekerja untukku. Tetaplah di sini sampai aku selesai dengan ini semua. Aku mencium sesuatu yang tidak beres terjadi di sini. Sementara itu—“ dia menoleh ke udara kosong di sampingnya, “Gantikan tempatku di kurungan ini, Memnus.”

Dan tanpa mengatakan apapun lagi dia berjalan cepat meninggalkan mereka. Ares berdiri dengan cepat namun segera terjatuh lagi karena kakinya yang masih terikat dengan rotan.

“Dave. Bodoh. Apa gunanya kami tidak menggunakan sihir jika dia sendiri malah menggunakannya. Danesh justru akan merasakan sihir yang digunakannya!” makinya marah.

“Kau tahu dia memang bodoh. Abaikan saja.”

Ares menoleh. Melihat sosok duplikat Dave yang bersandar santai dengan berbantal tangan yang terikat.

“Dia susah diberitahu. Sedikit tidak konsisten. Ah ya sudahlah, biarkan saja. Kau sudah mengenalnya lama.”

“Memnus?”

Memnus menoleh, nyengirke arah Ribi, “Oh hai, mau kubantu melepaskan ikatan itu. Terasa tidak nyaman, bukan?” dia mengaruk hidungnya dengan jari telunjuk kanannya, lupa jika tangannya seharusnya terikat.

“Ups.” Ucapnya cepat. Memasukkan kembali tangannya ke dalam ikatan.

***

Dave berdiri di dalam selubung sihirnya di salah satu sudut tenda Sorglos. Memperhatikan bagaimana wajah Sorglos terlihat berpikir dengan keras. Tak satupun dari kaum liar di sekitarnya menganggunya. Sepertinya mereka paham benar jika seseuatu yang penting sedang ada dalam pikiran ketua mereka.

Seorang penjaga masuk tergopoh, “Sorglos, dia sudah datang.”

Sorglos mengangkat wajahnya, bicara dengan suaranya yang besar serak, “Suruh dia masuk.”

Si penjaga mengangguk cepat dan segera keluar dari tenda utama. Tak lama kemudian seseorang masuk. Dia berdiri di depan Sorglos masih dengan jubah dan tudung jubah tersampir rapat. Dave menunggu dalam diam, dia bahkan menahan nafas dengan enggan ketika sosok itu menurunkan tudung jubahnya perlahan.

Actur Gllarigh?

Apa yang dilakukan seorang bangsawan penyihir dengan pemimpin kaum liar?

“Sekarang apa lagi?”

Actur menaikkan dagunya mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh Sorglos. Dia menepuk jubah suteranya di beberapa bagian sebelum kembali memandang ke arahSorglos.

“Kau tahu benar alasanku berada di sini.”

Sorglos mendengus keras, “Aku hanya memintamu sekali untuk melingkupi wilayah ini dengan perlindungan kubah sihir. Dan kau..” dia meludah ke lantai dengan muak, “Ini sudah empat kali kau datang padaku.”

Dave mengerutkan keningnya dalam. Jadi perlindungan sihir yang dirasakan oleh Memnus adalah hasil dari pekerjaan Actur. Mengapa penyihir menyebalkan ini melakukannya? Dave sudah tidak menyukai Actur Gllarigh sejak awal. Namun dengan hanya berdasar perasaan pribadi, dia tidak bisa mengusir Actur Gllarigh dari dalam sistem pemerintahan di Zerozhia. Tapi sekarang? Sepertinya dia akan punya alasan melakukan itu.

Actur Gllarigh jelas melanggar banyak aturan di lima kerajaan. Pertama, dia jelas dilarang melakukan tindakan sihir ilegal di dalam wilayah kerajaan lain. Hutan ini berada dalam wilayah kerajaan Mozaro. Dan membantu kaum liar? Meskipun tidak ada aturan tertulis tentang hal ini. Semua penyihir dalam pemerintahan tahu benar bahwa itu tidak diizinkan.

Seberapapun besarnya ambisi yang dimiliki oleh Actur Gllarigh, dia jelas punya alasan kuat untuk melakukan ini. Dia bukan jenis orang yang melakukan sesuatu tanpa pertimbangan serius. Apa yang diinginkan oleh Actur Gllarigh dengan melakukan kerja sama dengan kaum liar?

“Apa yang kuberikan padamu jauh lebih berharga dari apa yang kuminta padamu. Kau harus menunjukkan rasa terima kasihmu padaku. Dan jangan bersikap kasar seperti itu padaku.”

“Beraninya kau bicara seperti itu pada Sorglos.”

Tapi Sorglos mengangkat tangannya dan Margus diam. Meskipun begitu Dave bisa melihat dengan jelas bahwa jika bukan menghormati Sorglos. Dia sudah akan memenggal kepala Actur dengan kapak besar di tangannya.

“Aku harusnya tahu jika ini akan berakhir seperti ini. Seharusnya aku tidak pernah membuat janji dengan seorang penyihir. Apalagi penyihir pengkhianat sepertimu.”

Actur Gllarigh terlihat begitu tenang, dia bahkan tersenyum tipis ketika Sorglos mengatakan itu semua. Dagunya terangkat dengan mantap dan dia nampak sepenuhnya percaya diri, “Kau membutuhkan bantuanku, Sorglos. Dan aku meminta sesuatu darimu sebagai bentuk terima kasihmu untukku.”

“Kalian memang sampah. Lebih hina dari telur Schubert busuk.”

Actur mengangkat tongkat sihirnya ke arah Margus bersamaan dengan teriakan marah Sorglos.

“Cukup, Gllarigh! Tidak ada yang boleh mengacungkan tongkat sihirnya kepada kaumku. Aku sudah kehabisan kesabaranku atasmu. Sekarang katakan apa yang kau inginkan dan pergi segera. Ini adalah hal terakhir yang akan kulakukan untukmu. Jika aku melihatmu lagi. Aku bersumpah aku sendiri yang akan membunuhmu dan menggantung kepalamu di depan tendaku.”

Actur Gllarigh tersenyum tipis, “Aku tidak khawatir. Kau tidak akan bisa melukaiku, Sorglos. Kau hanya salah satu dari kaum liar.” dia memasang wajah paling memuakkan yang bisa dilihat Dave.

Jika Dave adalah Sorglos, dia sudah tidak akan peduli pada perjanjian apapun yang dibuatnya dengan Actur dan akan langsung menyerangnya detik ini juga. Namun nampaknya, Sorglos sedikit berbeda. Meskipun dia, dengan kentara terlihat jelas ingin sekali memakan Actur hidup-hidup, dia menahannya dan hanya diam. Tetap mencoba tenang dan duduk di tempatnya.

“Jadi..” suara Actur kembali terdengar, “..yang harus kau lakukan untukku kali ini sederhana saja. Aku membutuhkan kerjasamamu. Kau tentunya sudah tahu tentang pencarian Xexa—”

Mata Dave membulat sempurna. Ba-bagaimana Actur bisa tahu tentang pencarian Xexa? Hanya ketua dari setiap persekutuan dan sedikit penasehat tinggi yang mengetahui tentang hal ini. Dan mereka tidak mungkin bisa mengkhianati sumpah persekutuan karena ada sihir kuno yang mengikat mereka. Jika mereka mengkhianati persekutuan, mereka tahu bahwa akibat paling buruk yang akan menyambut mereka di detik pertama nafas mereka setelah mereka melakukan pengkhianatan itu. Mahha Michail sendiri adalah buktinya. Meskipun dia mendapatkan banyak waktu sisa karena kekuatan sihirnya, dia tetap menghadapi kematiannya sendiri dengan mengenaskan. Dave tahu benar ini. Setiap orang di persekutuan tahu benar tentang hal ini.

“—yang dilakukan oleh pangeran tercinta kita Dave Michail Miranda dan tiga orang lainnya bukan?” Actur mengamati Sorglos sebentar sebelum dia melanjutkan.

“Dave sendiri berusia tak lebih dari dua puluh tahun. Kau tahu jelas seperti apa dia. Lalu ada Areschia, putri tunggal Azhena. Kau akan tahu seperti apa dia, sebab dia mendapatkan wajah ibunya dan sifat ayahnya. Usiapun masih muda, tak lebih dari dua puluh satu tahun. Kemudian seorang lagi perempuan yang tak kutahu namanya dan wajahnya—berusia sekitar tujuh belas tahun. Aku tak tahu apa kehebatannya sehingga dia terlibat dalam pencarian itu. Tapi aku tak terlalu memusingkannya. Sebab yang paling mengkhawatirkanku adalah si Fredderick Colfer. Diaanggota senior Interoir Zerozhia yang usianya bahkan masih dua puluh lima tahun. Mereka berempat, kudengar akan melewati daerah yang kau kuasai. Entah di sini, entah dimanapun dimana kaummu tinggal. Yang ingin aku untuk kau lakukan adalah membunuh mereka. Bunuh mereka.”

Dave membeku. Lebih terkejut daripada ketika dulu dia tahu bahwa kakaknya sendiri adalah musuh yang akan dia hadapi. Bagaimana bisa Actur meminta hal seperti itu pada Sorglos? Selain itu Dave tahu bahwa Sorglos tahu. Ekspresi pertama yang ditunjukkan Sorglos ketika Actur menyebut tentang mereka jelas menunjukkan bahwa dia tahu bahwa orang-orang yang sekarang berada dalam tahanannya adalah orang-orang yang dimaksud oleh Actur. Dan Sorglospun sudah tahu sejak awal bahwa dia adalah Dave Michail Miranda.

Tapi mengapa dia berpura-pura tidak mengenalinya?

“Baiklah.” suara Sorglos begitu tenang. Terlalu tenang bahkan, “Sekarang aku ingin kau segera pergi. Dan jangan pernah menginjakkan kaki kotormu di tempat ini lagi. Margus, kawal dia sampai di tempat dimana dia bisa melakukan teleportasinya. Pastikan penyihir ini benar-benar meninggalkan tempat ini.”

Actur tersenyum, “Aku juga tidak pernah ingin tinggal lebih lama di kantong sampah ini.” Sahutnya sebelum berbalik, menggunakan tudung jubahnya lagi dan melangkah pergi. Margus menganggukkan kepalanya kepada Sorglos sebelum dia mengikuti Actur dan menghilang di balik tenda.

Dave baru saja bergegas melangkahkan kakinya ketika dia mendengar suara berat Sorglos.

“Apakah kau sudah mau pergi pangeran Dave?”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.