Xexa – Perintah Pertama

Dave memijit keningnya dengan keras dan cepat. Kepalanya terasa berdenyut-denyut menyakitkan jika dia mengingat kembali apa yang dikatakan Foster padanya beberapa saat yang lalu.

Sang putri penjaga sudah lama mati dan rahasia keberadaan Xexa terkubur bersama kematiannya.”

Sang putri penjaga yang merupakan satu-satunya jalan baginya untuk menemukan Xexa, sudah mati? Lalu apa gunanya pencarian panjang orangtuanya jika titik kunci mereka sudah tidak ada. Sang putri penjaga sudah mati. Dave mengulang lagi fakta itu dan pusing di kepalanya semakin bertambah.

Dia mendongak, menyadari Foster yang masih mengamatinya. Dia tahu dia tak mengatakan apapun sejak tadi. Dave terlalu terkejut dan putus asa untuk merespon sesuatu. Untungnya Foster nampak mengerti dan sama sekali tak mengusik Dave yang jelas kebingungan dengan situasinya sekarang.

“Apa kau yakin jika sang putri penjaga itu sudah mati?” dia bertanya, berharap mendengar jawaban lain.

Foster mengangguk, “Aku berada di sampingnya ketika dia menghembuskan nafas terakhirnya.”

Dave memejamkan matanya selama beberapa detik. Apalagi.. apalagi.. galilah sesuatu, Dave. Temukan apa saja yang mungkin, apa saja. Dia rasanya ingin memaki sisi lain dirinya yang kelewat optimis. Tapi dia tahu mungkin itu ada benarnya. Mendadak dia teringat sesuatu dan dengan bersemangat, dia membuka mulutnya.

“Apakah kau tahu sesuatu tentang lembah tergelap, dimana ada dua sumber mata air yang hanya mengalirkan air ketika kesedihan dan kebahagiaan datang? Dan tahukah kau matahari yang mungkin dimiliki oleh sang putri penjaga?”

Foster mengerutkan keningnya dalam. Pertanyaan Dave terdengar aneh di telinganya. Dia menggeleng dan wajah kecewa Dave langsung terbentuk jelas.

“Aku tidak mengerti maksudmu, pangeran. Tidak ada lembah yang memiliki mata air kebahagiaan dan kesedihan di tempat ini. Dan matahari yang dimiliki oleh sang putri penjaga.. aku tak tahu apa-apa tentang itu.”

Tangan Dave dengan lelah, mengusap wajahnya, “Bagaimana bisa Mahha Mevonia memberikan petunjuk yang tidak masuk akal seperti itu?” gumamnya tak jelas, lebih seperti mengerutu kepada dirinya sendiri. Kepada nasibnya sendiri.

“Jika kau mau, aku bisa membawamu kepada seseorang yang sangat mengenal sang putri penjaga. Mungkin saja kau akan bisa mendapatkan informasi lain darinya.” Foster tersenyum dan Dave mengangkat wajahnya dengan cepat,

Mata Dave menyipit, “Seseorang yang sangat mengenal sang putri penjaga?” Dave menggeleng, “Tunggu dulu, siapa sebenarnya sang putri penjaga ini? Apakah dia juga seorang elf sepertimu atau dia adalah seorang penyihir?”

Anehnya, Dave dapat melihat perubahan wajah Foster yang nampak enggan mengatakan apapun itu yang ada di kepalanya. Dave masih mengamati dengan sabar, sampai akhirnya dia melihat Foster menghela nafas panjang sebelum memandangnya.

“Bukan, sang putri penjaga bukanlah elf sepertiku. Dia justru salah satu dari makhluk kegelapan.”

“Makhluk kegelapan?”

Foster mengangguk, “Ceritanya akan sangat panjang jika kukisahkan semuanya padamu, pangeran. Dan kurasa sebagian besar kisahnya tak akan punya makna untukmu. Dia hanya seorang makhluk kegelapan yang mencoba melarikan diri dari kekejian Luca.”

“Luca? Putra Alzarox?”

Sekali lagi Foster mengangguk dan Dave langsung merasa semua ini benar-benar akan membuatnya diserang sakit kepala yang sangat parah. Kenpa sepertinya semua selalu mempunya akar dengan pangeran kegelapan yang kekejamannya luar biasa itu. Putra sang pemimpin yang bahkan tidak ragu membantai seluruh klan yang merupakan sekutunya sendiri hanya karena sang pemimpin berkhianat pada mereka. Mora pernah mengisahkan cerita itu padanya dulu sekali. Meskipun Dave tidak ingat beberapa detailnya, tetap saja baginya itu keterlaluan. Kesalahan seseorang yang harus ditebus dengan nyawa seluruh kaumnya. Sepertinya Luca memang sebenar-benarnya seorang makhluk kegelapan sejati.

“Dan siapa yang nantinya akan kita temui ini?”

Foster menarik nafas panjang, separuh wajahnya berkedut aneh, “Belahan jiwa sang putri penjaga.”

***

Ribi memandang Fred yang nampak melamun menatap aliran air sungai di depannya. Mereka memilih duduk ke tepi sungai ini ketika Dave pergi bersama Foster, Ares sendiri ada tak jauh dari mereka. Sedang mondar mandir tidak jelas dan mengomel panjang lebar tentang Dave. Ribi jelas memilih menyingkir dan mendekati Fred karena jika dia tetap bertahan di samping Ares, mau tak mau dia harus mendengar semua sumpah serapah Ares. Belum lagi jika Ares mendadak melemparkan tatapan sebal pada Ribi meskipun mulutnya sedang memaki Dave.

Tidak, terima kasih, pikir Ribi. Lebih baik dia melihat Fred yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Mendadak kening Ribi berkerut. Entah kenapa dia merasa bahwa Fred menjadi terlalu banyak diam akhir-akhir ini. Biasanya jarang sekali dia akan membiarkan Ribi duduk sendirian tanpa mengatakan apapun.

Fred adalah yang paling periang dan menyenangkan diantara semua kelompok kecil mereka ini. Jika tak ada Fred dalam kelompok pencarian mereka, Ribi tak sanggup membayangkan akan seperti apa dirinya diantara Dave yang selalu berubah-ubah pemikiran dan perkataannya, dan juga Ares yang tidak ramah dan keras kepala.

Ribi tersenyum kecil, sebelum akhirnya dia kembali mengamati Fredderick Colfer dengan lebih serius. Menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan laki-laki itu. Namun dari ekspresi Fred, Ribi bahkan tak yakin jika anggota Interoir senior itu menyadari keberadaannya.

“Fred..”

Tak ada sahutan, bahkan sedikit gerakan saja tidak ada. Fred sama sekali tidak meresponnya. Kening Ribi berkerut dalam ketika melihat ekspresi Fred yang berubah. Wajahnya mengeras dan terlihat marah, tangan kanannya mencengkeram erat pergelangan tangan kirinya yang terbalut kain.

“Fred!” panggil Ribi dengan lebih keras dan khawatir.

Kali ini, untungnya Fred menoleh. Wajahnya bingung, tapi begitu melihat Ribi, dia tersenyum lebar dan cengkeraman tangannya mengendur.

“Oh.” ucapnya, “Sejak kapan kau ada di sini? Apa Dave sudah kembali?”

Ribi menggeleng, lalu beranjak dari duduknya dan mengambil tempat di samping Fred, “Kurasa Dave dan Foster akan pergi cukup lama. Dan aku tidak tahan mendengar omelan Ares. Jadi aku ke sini sejak tadi tapi kau tidak menyadarinya dan malah sedang sibuk dengan pikiranmu sendiri. Ada apa, Fred? Apa kau punya masalah? Kau bisa menceritakannya padaku,” Ribi tersenyum lebar, “Itupun jika kau mau. Aku tidak memaksa.” tambahnya buru-buru melihat Fred yang nampak enggan.

“Aku baik-baik saja, Ribi. Tapi terima kasih sudah bertanya.”

Tapi Ribi jelas tahu Fred sedang berbohong. Wajah kalut Fred jelas bukan sesuatu yang menandakan bahwa dia baik-baik saja. Satu tarikan nafas panjang, dan Ribi mengangguk. Lalu pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Fred yang dibebat sampai menutupi bagian telapak tangannya. Keningnya berkerut lagi.

“Bukankah seharusnya luka itu sudah sembuh? Kenapa masih dibebat kain? Apa masih sakit?” dia berusaha menyentuh pergelangan tangan kiri Fred, tapi Fred dengan sangat cepat menarik tangannya dan menjauhkannya dari Ribi. Ribi yang terkejut menatap Fred dengan tidak mengerti.

“Ak—“ Fred menggeleng, “Maaf,” lalu dia berdiri begitu saja dan berjalan meninggalkan Ribi yang masih sangat terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh Fred. Dia berdiri, berbalik menatap Fred berjalan sangat cepat ke arah gua yang akan membawanya ke luar dari wilayah Foster.

***

“Tanda itu sudah dibangkitkan, Yang Mulia. Jiwa Edna telah terlahir kembali dan sang pangeran sedang menuju takdirnya. Waktu kita akan segera datang, Yang Mulia. Bersabarlah. Kita hanya perlu menemukan dimana jiwa Yang Mulia Luca dan segalanya akan bisa kembali dalam kendali kita, Yang Mulia.”

Makhluk bertudung gelap itu masih bersimpuh di dalam gua yang sepenuhnya dikelilingi kegelapan pekat. Dahinya bertumpu pada tanah dan suara dari mulutnya sudah tidak terdengar lagi. Dia menunggu. Tapi tak sedikitpun tubuhnya bergerak. Penantiannya terjawab ketika dia merasa hawa asing yang pekat mengelilingi tubuhnya. Dengan pelan, dia bangkit dan matanya menatap dengan takut-takut pada kegelapan yang memeluknya rapat.

“Yang Mulia..” suaranya gemetar.

Dan tak jauh darinya, dua titik api menjelma perlahan. Membesar dan membentuk pijar api melayang yang cahayanya menelan kegelapan pekat di dalam gua ini. Makhluk itu menelan udara kosong yang terasa perih di tenggorokkannya, dan tanpa sadar dia mundur selangkah ketika sewujud wajah penuh amarah muncul di antara dua titik api. Wajah yang terbentuk dari kabut hitam yang muncul entah darimana. Sang makhluk menyadari getar di tangannya namun dia berusaha berdiri dengan tegak, bahkan ketika dua lubang putik selaksa mata kosong memandangnya tajam.

“Ya.. yang Mulia..” suaranya sudah lebih dari sekedar gemetar. Ada suara mencicit takut di ujung kata yang diucapkannya. Dia harus benar-benar berhati-hati atau kematian menyakitkan akan menghampirinya. Dia tidak berusaha sekeras ini selama berpuluh-puluh tahun hanya untuk menghadapi kematian. Dia sudah mempertaruhkan jiwanya demi pemanggilan ini, dan ini tidak boleh berakhir buruk untuknya.

“Tiga kali,” desis suara asing yang berat dan serak yang seolah datang dekat sekali dari arahnya berdiri, sampai membuat si makhluk semakin menciut takut, “Kau memanggilku tiga kali dan semua demi informasi tak berguna ini!” suara itu meninggi dan si makhluk mencicit tak tahu harus menjawab apa.

“Apa kau tak tahu kesakitan apa yang kuderita? Inti rohku seolah tercabik oleh mantera sihir Mevonia! Dan kau membuatku mengalami itu semua hanya untuk memberitahuku ini??”

Terdengar geraman marah terdengar dan si makhluk merasa bahwa dinding-dinding gua bahkan bergetar bersamaan dengan munculnya geraman tersebut. Si makhluk bertudung menurunkan wajahnya, menunduk dalam-dalam dan gemetaran.

“Ya..yang Mulia, bukan beg..begitu maksud saya.”

“Temukan Luca!” suara itu memotong cepat dan si makhluk menunduk lebih dalam lagi. Melihat bayangan gelap diantara kaki dan jubahnya. Dia tahu bahwa perintah itu akan datang, namun membayangkan akan disergap rasa takut yang seperti ini membuatnya benar-benar tidak sanggup lagi menahan tungkainya yang gemetar hebat.

“Temukan Luca dan berikan Edna padanya, agar kebingungannya hilang. Sadarkan putraku dan bantu dia membebaskan Nerethir agar jalan kebebasanku semakin dekat. Kau dengar itu??”

Si makhluk mengangguk dengan nyaris seluruh tubuh gemetar, “Ba-baik, Yang Mulia.”

***

Memnus menyandarkan tubuhnya pada kursi tinggi di dalam ruang pertemuan di kastil Azhena, iris matanya yang coklat gelap menatap wajah gusar Azhena yang duduk bersebrangan dengannya.

“Kau yakin?”

Dia mengangguk, dalam wujud laki-laki seusia Azhena dengan wajah tegas, “Dave mengatakan itu semua dan kurasa dia sangat serius dengan ini semua. Jika tidak, dia tidak akan mengikatku dengan mantera sialan ini.”

Azhena mengernyit, tapi tak menanggapi apapun.

“Sekarang lebih baik kau tangkap saja langsung Actur Gllarigh dan penjarakan dia di penjara utama Zerozhia. Interogasi dia dan selesaikan sampai akarnya. Lalu bum, aku bisa kembali pada bocah bebal kurang ajar itu.”

Tapi tak ada satu suarapun yang terdengar. Wajah Azhena nampak semakin gusar dan serius dari detik ke detik. Memnus memperhatikan dengan fokus dan berusaha menebak apa yang ada di pikiran sang pemimpin pengganti. Tapi ketika sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Azhena, dia hanya berusaha menunggu.

“Ehem,” Memnus berdehem keras sekali ketika dia akhirnya kehilangan kesabarannya dalam usaha menunggu reaksi dari Azhena

Azhena menoleh dengan wajah tidak senang

“Kurasa kau harus segera menangkap Actur Gllarigh, nyonya penyihir,” kata Memnus seraya memainkan jari-jari tangannya, “Tindakan cepat lebih efektif.”

“Baiklah,” Azhena berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.

Tapi Memnus lebih cepat dan sudah ada sejajar dengannya, “Sendirian saja? Bagaimana dengan para interoir? Kau seharusnya melibatkan mereka. Kita tidak tahu siapa saja yang ada di belakang si pengkhianat. Aku tidak mau masa tugasku di sini menjadi semakin panjang hanya karena kau salah mengambil langkahmu.” ucapnya serius dengan tangan terlipat di atas dadanya.

Sepasang wajah khawatir Azhena tertangkap oleh Memnus dan ketika Memnus mengernyitkan keningnya melihat ekspresi itu, Azhena dengan buru-buru mengenyahkan ekspresi itu dan hanya bertanya dengan wajah datar, “Apa bunyi perintah Dave yang mengikatmu?”

Memnus tersenyum tipis, lalu dalam sekejap kabut membuyar di sekitarnya dan hal selanjutnya yang dilihat Azhena adalah perwujudan Dave dengan segala ekspresi yang ditunjukkan ketika dia mengikat Memnus dengan perintahnya. Setiap kata yang diucapkannya adalah benar semua kata yang diperintahkannya pada Memnus, dan begitu semua kata perintah terucap, sekali lagi kabut melingkupi sekitarnya dan Dave lenyap. Digantikan wujud laki-laki Memnus dengan senyum tipisnya.

“Kau dengar sendiri?” katanya dengan kedua alis terangkat, “Tangkap, penjarakan, dan interogasi Actur Gllarigh di penjara utaa Zerozhia. Ketahui rencananya dan siapa saja yang terlibat bersamanya. Kecuai semua itu sudah kulakukan, aku tidak akan bisa pergi dari sini dan kembali pada penyihir pemilikku yang bebalnya minta ampun itu.”

Azhena menarik nafas panjang, “Aku akan memanggil Gillar. Dan kita akan segera melakukan satu persatu semua perintah Dave itu.” ucap Azhena sebelu berbalik pergi dengan cepat.

“Gillar? Ah, aku benci ketua interoir itu.” desahnya sebelum menghilang dalam sekejap mata.

***

“Kemana kita akan pergi, Foster?” tanya Dave sambil tetap memegang tali kekang kudanya dengan erat. Dia jarang berkuda, dan kali ini dia harus berkuda dengan kuda milik bangsa elf yang terkenal gagah, cepat dan kuat. Dia dan Foster sudah berkuda cukup lama dengan Foster sampai dia bisa melihat matahari yang mulai terbenam dan langit sedikit memerah sendu.

“Ke ujung dari padang tandus ini, menuju hutan Merrz.” jawab Foster tanpa menoleh pada Dave.

Dave menoleh dengan kening berkerut, “Hutan Merrz? Tapi bukankah itu adalah daerah terlarang dalam perjanjian lama?”

Foster mengangguk, helaian rambutnya berkibar ketika dia memacu kudanya untuk berlari lebih cepat.

“Tapi kita tidak bi—“

“Kita bisa, pangeran. Jika kau benar-benar membaca dan mengerti isi teks perjanjian lama bangsa Tierraz. Kau seharusnya mengerti.”

Dave terdiam, mencoba mengingat dan mulai melafalkan isi perjanjian lama yang diingatnya, “… dan demi semua kehidupan baru. Kami, para makhluk kegelapan dan makhluk cahaya bersumpah dalam kekal bahwa tanah satu sama lain adalah semesta terpisah yang terlarang diperebutkan. Hak yang diabsahkan tidak akan terambil dan kutuk bagimu yang menginjak sumpah.”

Foster menghentikan laju kudanya dan Dave pun menghentikan kudanya tepat di samping sang peri hutan yang kini tersenyum padanya, “Senang mendengar ada fakta yang tidak dibelokkan oleh kaummu, pangeran.”

“Apa maksudmu?”

Tapi Foster tidak menjawab dan hanya mengalihkan pandangannya ke depan, menunjuk ke arah hutan yang masih jauh dari mereka. Hutan dengan pepohonan yang dari jauhpun terasa asing bagi Dave. Seolah semua kegelapan dan kemurungan di seluruh Tierraz dikumpulkan di rimba itu. Dia tahu benar bahwa tak ada satupun penyihir yang pernah menginjakkan kakinya di sana sejak perjanjian lama disepakati, yang berarti sudah ribuan tahun lalu.

Hutan Merrz, satu-satunya hutan yang merupakan wilayah terlarang yang ada dalam wilayah para makhluk cahaya. Sebab keseluruhan wilayah terlarang berada sangat jauh dari wilayah kerajaan sihir. Yang terdekat dengan wilayah kerajaan Alkrez pun masih harus ditempuh dengan perjalanan berminggu-minggu dengan berjalan kaki.

“Tierraz sudah membagi adil tubuhnya untuk masing-masing putra sulung,” suara Foster terdengar sedih dan lelah, “Tapi Alzarox terlalu tamak dan menginginkan semua. Perjanjian lama sudah dikhianati dan kutuk jatuh pada hutan Merrz yang kala itu adalah wilayah kerajaan Alzarox. Tapi bahkan kutuk Tierraz yang mengerikan mampu ditanggung sang penguasa kegelapan.”

Dave memandang Foster dan tidak mengerti kenapa Foster mengisahkan cerita lama itu padanya. Dia sudah pernah membacanya dalam buku-buku kuno di Zeyzga. Tapi dia memilih tetap diam dan mendengarkan.

“Tetapi kutuk itu hanya bekerja pada mereka yang menginginkan penaklukan. Kunjungan bukan salah satunya, pangeran. Seharusnya kau bisa menyimpulkan hal itu. Para penyihir hanya kadang terlalu bodoh untuk menyadari hal-hal kecil seperti itu.”

Kening Dave berkerut, dia mulai tidak suka dengan cara Foster bicara padanya. Foster berkata dengan hormat padanya, namun juga dengan lancang pada waktu lainnya dan Dave masih tidak suka mendengarnya dari orang lain.

“Jadi apa belahan jiwa dari putri penjaga ada di hutan Merrz?” tanyanya mengabaikan keinginannya untuk memantrai Foster.

“Semoga saja masih.”

“Kau tidak tahu secara pasti?” Dave tak bisa menyembunyikan kekesalan dalam suaranya dan Foster hanya menoleh sekilas padanya.

“Sejujurnya aku sudah tidak mendengar kabarnya sejak putri penjaga mati. Dan aku jika bukan karena urusan Xexa yang begitu mendesak. Aku tidak akan menyarankanmu mencarinya. Dia membenci para penyihir lebih dari makhluk manapun di dunia ini.”

“Bawa saja aku padanya. Aku yang akan menyelesaikan masalah setelahlah.”

Foster mengangguk, “Jika itu yang kau mau, pangeran.” sahutnya.

Dan tak lama kemudia, dua kuda putih besar berlari cepat menuju ke arah hutan Merrz.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

22 Comments

  1. Kak Riaa… Ngaret banget, saking ngaret.nya sampek lupa xexa ceritanya udh nyampek mana .. 😀 next capter kak.. Fighting..
    Ru.nya jan lupa 😉

  2. kak keren abis sumpah ini aku alifah cmn baca di hp temen …
    kak lanjut ru dong kangen. astaga aku tau siapa putri penjaga dan belahan j iwanya ahhhhh putri penjaga'a mati . ttp mnjga rahasia. apah masih sibuk kak.

    alifah m

  3. Kak sumpah seru banget

    Tapi…. Belahan jiwa putri penjaga ? Jangan-jangn REVEN ? dia kah ? KAKAK CEPET APDATE YA GAK SABAR

    Tapi kalo bener berarti rena meninggal dong # gak mau…
    Kak jangan pisahin dong rena- reven
    Kasih pelajaran aja sama si reven tapi jangan bikin rena mati ya kak
    Apdatenya sering " kak 😀

  4. kenapa tiap baca cerita kakak tubuh aku selalu merinding.. seperti kisah nyata yang di dongeng.in
    Kakak hebat dan aku bangga.. makasih kak udah buat cerita se hebat ini.

  5. Duh.. Iyaa.. Uda dari beberapa part kemaren ketahuan kalo Fred itu kakaknya Dave.

    Iyaa juga sih, semakin banyak pertanyaan. Hehehehe sorry yaaaa jadi makin bingung.

  6. Iyaaa say.. Huhuhu.
    Aku kira abis pulang ke Indonesia punya waktu luang banyak. Ternyata malah sama sekali ga bisa nyentuh tulisan.

    Maafkanlah..?

  7. Aaaaaakkkk makasiiii makasiii..

    Reven?? Gimana yaa.. Hahaha baca saja next chapter ya. Ditunggu aja yaa…

    Aku apa tega menyakiti mereka. Hehehehe *kaboooorr*

  8. Astaga.. Astaga.. Aku malah jadi besar kepala ini jadinyaa..

    Hahahahhaha

    Anyway, makasiiiihhh yaaa. Baca terus cerita – cerita di blogku yaa.. ?

  9. Ya ampun kak, aku merinding banget baca cerita kakak… Keren banget… Putri Penjaga itu Rena? Terus ko Rena-nya mati? Ih jangan dibikin mati Renanya… Kasian Reven 🙁 kasih Reven pelajaran, tp jangan pisahin mereka, plsss:(((

Leave a Reply

Your email address will not be published.