Xexa – Pesta

“Jadi apa yang akhirnya membuatmu mau melakukan itu?” Ares meletakkan buku sihir tebal yang sedari tadi sedang dibacanya ke pangkuannya. Dave memejamkan mata di sampingnya, duduk bersandar di pohon yang sama yang sekarang juga sedang disandarinya. Angin berhembus lembut menerpa wajah mereka.

“Entahlah, kupikir aku sudah terlalu banyak membuat Azhena kerepotan karena masalah ini.” Jawab Dave tanpa membuka matanya.

“Kau memikirkan ibuku? Tidak masuk akal.”

Dave membuka matanya dan menoleh beberapa detik ke arah Ares, “Bahkan kau juga mengatakan hal yang persis sama seperti yang Memnus katakan kepadaku.”

Ares tersenyum, “Setidaknya kami mengatakan sesuatu yang benar. Anilamarrymu itu pasti juga mengerti dirimu dengan sangat baik.”

“Ya, mungkin kau benar. Tapi selain itu, aku juga tidak bisa menghindar terlalu lama. Menjadi Mahha adalah tanggung jawabku dan aku, mau tidak mau harus tetap melakukannya.”

Ares mengangguk, namun tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap ke arah danau Merivor yang berada tak jauh dari tempat dia dan Dave duduk, mereka selalu datang kesini ketika Dave berkunjung ke kastil Azhena. Dengan catatan, mereka sedang akur. Karena keduanya begitu mudah saling bertengkar dan marah satu sama lain.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” suara Dave mengagetkan Ares dan dia hanya menggeleng, “Tidak apa-apa.” Jawabnya.

“Oh ayolah, Ares. Aku kenal dengan baik nada jawaban tidak apa-apa yang seperti itu. Apa ada yang menganggu pikiranmu? Jangan-jangan kau mengkhawatirkanku?” Dave tertawa, “Tenang saja. Penobatan menjadi Mahha itu bukan sesuatu yang akan menyulitkanku. Kau tahu aku bisa dengan sangat mudah melakukan hal itu.”

“Aku sama sekali tidak mengkhawatirkanmu. Kau percaya diri sekali.” Sahut Ares yang membuat Dave terdiam, “Jadi aku salah?” tanyanya tak yakin. Ares mengangguk dengan pasti, “Sangat salah.”

Dave mendesah panjang, “Sayang sekali. Lalu apa yang kau khawatirkan?”

“Banyak hal.” Jawab Ares, pandangannya menerawang. “Ibuku, aku.. kau. Entahlah Dave, aku bahkan tidak tahu dimana fokus pikiranku. Akhir-akhir ini kau merasa ada sesuatu yang sangat menganggu pikiranku tapi aku tidak tahu itu apa. Aku mengalami mimpi buruk dan terbangun dengan menangis atau penuh keringat dan nafasku memburu. Namun begitu aku mencoba mengingat apa yang kumimpikan, aku tidak tahu apa-apa.”

“Ares..”

“Tidak. Aku yakin aku tidak apa-apa. Hanya saja itu semua terlalu mengangguku.”

“Kau yakin kau tidak apa-apa? Apakah mungkin kau sakit?”

Ares menggeleng, “Tidak, sudah kubilang aku tidak apa-apa, Dave.”

Dave diam dan mengamati Ares. Benar saja, dia mungkin terlihat sehat tapi Dave bisa melihat bayangan hitam di bawah matanya. “Mungkin kau cuma lelah, apa kegiatan di kastil pemerintahan menyusahkanmu?”

Ares tertawa, “Tidak. Ini sama sekali bukan tentang itu. Meskipun kuakui kebanyakan orang-orang disana sama sekali tidak menghargai kemampuanku dan melihatku berada disana hanya karena kau atau ibuku, tapi aku baik-baik saja. Aku terbiasa mendapat perlakuan seperti itu.”

Mata Dave memindai Ares dan dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Ares. Dave mengenal Ares sejak kecil, biosa dikatakan mereka tumbuh bersama. Namun lebih dari itu, Ares terlalu tertutup dan begitu pandai menyembunyikan perasaan dan pikirannya. Dia membentengi dirinya dengan dinding tinggi tak terlihat yang membuatnya sulit disentuh orang lain. Dave paham, dia mengerti kenapa Ares bertindak seperti itu.

Bukan salahnya jika Ares menjadi perempuan yang seperti itu karena semua yang terjadi selama dia terus tumbuh mendewasakannya lebih cepat dari umurnya yang seharusnya. Cara pikirnya. Semuanya. Selainnya dengannya, Dave tak pernah tahu Ares berbincang dengan penyihir lain seusianya. Dia mungkin saja tidak punya teman. Di sekolah sihirnya dulupun, Dave tahu bagaiamana kebanyakan anak-anak memperlakukan Ares.

Dave bisa mengingat dengan jelas bagaimana dulu dia sangat ingin memukul seorang anak laki-laki yang terus menerus mengejek Ares dan menghubungkannya dengan masa lalu ibunya. Tapi Memnus membuatnya sanggup menahannya, dia tahu ketika itu dia bahkan sedang menyusup ke sekolah itu. Dan memukul anak laki-laki itu berarti akan ada masalah besar yang menyeret dia, dan juga Ares. Dia tidak ingin melibatkan Ares dalam masalah lain saja, jadi dia cuma diam, melihat semuanya dengan sembunyi-sembunyi dari sudut gelap.

Seandainya dia bisa, dia benar-benar ingin masuk ke sekolah itu seperti murid lainnya agar dia bisa melindungi Ares. Tapi karena dia adalah seorang keturunan Mahha dan calon Mahha, dia memperoleh privat istimewanya sendiri. Mempelajari sihir lebih awal dari anak-anak lain. Lebih banyak, lebih rumit. Dibawah pengawasan seorang peri kerajaan paling hebat dan paling disiplin. Sehingga dia sama sekali tidak bisa berbuat banyak untuk Ares.

“Pernahkah kau sekali saja membenci Azhena?”

Ares menoleh dengan cepat, memandang Dave lekat-lekat. Kemudian dia tersenyum, “Tidak hanya sekali, tapi sering, Dave. Tapi aku jauh lebih membenci ayahku daripada ibuku. Aku membencinya sampai ke darah dan tulangku. Aku sangat membencinya dan menyesal dilahirkan sebagai putri seorang pemberontak sepertinya.”

Dave tercekat, dia diam seribu bahasa. Sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa. Sebab inilah kali pertama dia mendengar hal semacam itu dari mulut Ares. Tadinya dia hanya bertanya untuk sesuatu yang tidak dia tahu, namun jawaban Ares benar-benar membuatnya terkejut. Satu kalipun Ares sama sekali tidak pernah menyebut tentang ayahnya. Dan sekali dia mengatakannya, Dave harus melihat bola mata hitam Ares berpendar penuh kemarahan dan kebencian yang begitu dalam.

“A-“

“Ah sudah hampir petang rupanya, tidakkah kau lapar Dave? Aku lapar sekali. Ayo kembali ke kastil.” Katanya tiba-tiba, dan tanpa menunggu Dave, dia bangkit dan berjalan menuju kastil.

Dave memandang punggung Ares yang semakin menjauh.

“Perempuan memang sangat mengerikan.” Memnus berdiri di sampingnya dalam sosok laki-laki tua. Dave tidak menoleh, dia hanya memandang Ares. Mendadak dia merasa bahwa selama ini, dia sama sekali tidak mengenal Ares dengan baik. Mungkinkah yang selama ini dia lihat hanyalah sosok Ares yang ada di permukaan saja? Dave menghela nafas. Dia tidak peduli. Seperti apapun Ares, dia tetaplah Ares yang sama. Detik itu dia berjanji bahwa dia akan belajar membaca perempuan itu lebih dalam. Dia janji.

***

“Apakah Fred akan datang lagi?” tanya Ribi ketika dia dan Argulus sudah akan menyelesaikan pelajaran sihir untuk hari ini. Dua hari sudah berlalu sejak pagi dimana Fred mendadak datang berkunjung ke rumah Argulus. Kali ini Ribi bahkan harus mengumpulkan semua keberaniannya untuk menanyakan hal ini kepada Argulus. Dia sudah tidak bisa tahan lagi dan sangat ingin tahu tentang banyak hal tentang laki-laki tampan yang sudah membuatnya sangat terpesona.

Argulus menaikkan alisnya dan memperhatikan Ribi yang langsung salah tingkah, “J-jangan salah paham. Aku hanya bertanya karena-karena..”

“Karena kau menyukainya.” Potong Argulus dan dia langsung terkekeh. Kontan saja wajah Ribi langsung memerah dan Argulus makin keras tertawa. Dia berhenti tertawa karena terbatuk-batuk. Ditepuknya dadanya beberapa kali dan dia kembali mentap Ribi, “Aku juga pernah muda, nak. Jadi sedikit banyak aku bisa mengerti perasaanmu.” Argulus berkedip dan Ribi menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

“Bukan seperti itu, Argulus.” Bantahnya setengah hati.

Tapi Argulus sama sekali tidak terlihat mendengarkan bantahan Ribi. Dia meneguk tehnya dan kembali memandang Ribi, “Fred pemuda yang baik dan tampan. Tentunya bukan hanya kau yang sangat menyukainya, nak. Tapi tidak perlu cemas, aku tidak pernah mendengar dia dekat dengan perempuan manapun. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sebagai Interoir.”

“Bagaimana dia bisa menjadi seorang Interoir senior padahal kupikir usianya tidak lebih dari dua puluh lima tahun? Di duniaku, senior berarti seseorang yang lebih tua dari kita. Atau berada di tingkat yang lebih atas dari kita.”

Argulus mengangguk-angguk sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang, “Ya-ya. aku mengerti. Tapi disini, senior bisa saja semua penyihir yang lebih hebat dan lebih kuat daripada kita, Ribi. Dalam pemerintahan di Zerozhia, penyihir yang terkuat dan terpandai akan menduduki jabatan yang lebih tinggi dari penyihir lainnya. Itu sesuatu yang biasa dan bagiku, itu sistem yang cukup adil.”

“Dan Fred adalah penyihir yang sangat jenius. Aku sendiri menjadi saksi bagaimana pesatnya kemajuannya dalam sihir. Dia membuat kagum banyak orang karena kemampuannya. Berawal dari seorang anak kecil tanpa orang tua di Mozaro, dia menjelma menjadi salah satu penyihir paling berbakat di Zerozhia. Lalu seperti yang bisa kau lihat sekarang, menjadi salah satu anggota senior di Interoir kerajaan ini. Dia satu-satunya penyihir muda di kelompoknya sementara yang lain mungkin sudah berumur empat puluhan.”

Ribi mendengarkan dan di dalam kepalanya dia langsung membayangkan betapa hebatnya seorang Fredderick Colfer. Matanya menerawang dan bibirnya tersenyum lebar. Seorang penyihir hebat dengan wajah sangat tampan. Auranya yang kuat dan tatapan matanya yang tajam. Ribi tersenyum makin lebar.

Suara tawa Argulus yang keras langsung membuyarkan semua lamunannya tentang Fred. Dia baru sadar jika dia melamunkan Fred di depan gurunya dan ekspresinya ketika itu, Ribi mengigit bibir bawahnya, tentu bukan ekspresi yang cantik.

“Kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya rupanya. Tsk tsk tsk, perempuan kecilku, Gabrietta. Sepertinya aku merasa baru kemarin Dave membawamu ke rumahku dan sekarang aku sudah melihat kau tergila-gila dengan seorang laki-laki.” 

Ribi langsung menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku-buku sihirnya. Dia benar-benar tidak sanggup menunjukkan wajahnya di depan Argulus yang terlihat seperti kakeknya.

“Apakah kau ingin bertemu dengan Freddie, nak?”

Kepala Ribi langsung muncul dengan cepat dari balik tumpukan buku-buku itu. Tidak menjawab tapi wajahnya sudah cukup menunjukkan bahwa dia sangat menginginkan hal itu. Argulus mengangguk-angguk, “Kalau begitu kupikir aku bisa mengajakmu ke pesta penobatan Mahha beberapa hari lagi. Kau pasti bisa menemukan Freddie disana.”

“Pesta penobatan Mahha?”

Argulus mengangguk lagi, “Ya. Akhirnya Dave memutuskan untuk segera mengambil tanggung jawabnya dan tidak melarikan diri lagi.”

Ribi bisa melihat bagaimana kebahagiaan terpancar jelas di wajah Argulus yang keriput. Sudut bibirnya membentuk senyum kelegaan yang jarang dilihat Ribi. Entah kenapa, Ribi merasa bahwa gurunya ini begitu memperhatikan bocah pemarah itu, Dave. Jadi akhirnya si pangeran menjadi raja ya, ah bukan hanya raja-tapi Mahha. Ribi tidak bisa membayangkan akan seperti apa Zerozhia di bawah kepimpinan Dave. Meskipun Dave jenis yang temperamen, tapi aura pemimpinnya begitu kuat, Argulus jelas tahu itu dan tidak akan mengkhawatirkan tentang hal ini.

“Em.. Argulus.” Panggil Ribi ketika mendadak dia teringat sesuatu.

“Ya, Gabrietta.”

“Tentang pesta. Em, maksudku.. jika itu semacam pesta. Mungkin saja sama-aku- aku..”

Argulus memperhatikan Ribi yang kelihatan ragu menyusun kata-kata yang akan diucapkannya, “Ada apa, nak?”

“Jika mungkin-pesta- ..” Ribi menimbang-nimbang. Dia memanadang Argulus dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan omongannya, “Tentang pesta, maksudku, jika ini sama dengan pesta yang seperti di duniaku dulu, aku.. Aku tidak punya gaun pesta.” Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu mengucapkan hal tersebut. Bagaimanapun dia tahu bahwa dengan mengatakan hal ini sama artinya dia menginginkan gaun dimana mungkin Argulus harus membelinya atau mendapatkannya dari seseorang.

Ribi mengangkat kepalanya ketika dia mendengar Argulus terkekeh. Penyihir tua itu bangkit dan berjalan mendekat ke arah Ribi, “Ya. Ya.. baiklah. Aku mengerti. Kita akan pergi ke kota dan kau bisa membeli gaun pestamu disana. Lagipula itu juga akan menjadi hari istimewamu dengan Freddie. Bukan begitu, Ribi?”

Ribi mengangguk cepat dan Argulus kembali tertawa, “Yah, baiklah-baiklah. Sekarang beristirahatlah. Aku harus mengaduk ramuanku.” Usai menepuk pundak Ribi beberapa kali, Argulus melangkahkan kakinya dengan pelan ke arah ruang bawah tanah. Meninggalkan Ribi yang masih menatap Argulus dengan tidak percaya. Wajahnya mengisyaratkan kegembiraan yang tak terkira.

Dia akan bertemu dengan Fredderick Colfer disana.

***

Ribi sudah bersabar untuk menunggu hari ini tiba. Dia terus bersikap sangat baik dan penurut agar Argulus mau membelikannya gaun pesta yang indah untuknya. Dia tidak banyak membantah dan mengurangi puluhan persen dari rasa ingin tahunya yang kadang membuat Argulus lelah untuk menjawab pertanyaan Ribi yang sepertinya tidak ada habisnya.

Dia mondar mandir dengan gelisah, dia sudah menghitung hari dan penanggalan di dunia ini-yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan di dunianya- dan nanti malam adalah pesta penobatan Dave menjadi Mahha. Sedangkan sekarang-siang ini-Ribi sama sekali tidak melihat Argulus di rumah. Atau lebih tepatnya sudah sejak pagi dia tidak melihat Argulus, sejak dia bangun dan mulai gelisah.

Kemarin dan kemarinnya, Ribi sudah menahan mulutnya dengan susah payah agar dia tidak bertanya macam-macam pada Argulus tentang pesta dan gaunnya. Dia hanya tidak ingin terlihat terlalu mendesak Argulus, namun jika situasinya sudah semengerikan ini. Dia harus bertindak.

Pergi, tidak, pergi, tidak, per-

Matanya menatap ke ruang bawah tanah Argulus, hanya ruang itu yang belum diperiksanya ketika dia mencari Argulus sesiangan ini. Dan sepertinya, dia melihat begitu banyak kesempatan jika dia mau turun dan pergi ke sana. Tapi Argulus sudah sering memperingatkannya bahwa dia tidak boleh masuk ke sana.

Bagaimana ini??

Ribi melempar tubuhnya, duduk di kursi dengan frustasi. Mengacak rambutnya dengan kesal. Sebesar apapun keinginannya untuk ikut ke pesta, dia tidak akan melakukan hal gila dengan melanggar peringatan dan perintah Argulus tentang ruang bawah tanah miliknya. Jika melanggar dan ketahuan, bisa saja Argulus menjadi sangat marah dan tidak akan mau lagi mengajarinya sihir. Dia mungkin saja akan mengembalikannya pada Dave dan Dave yang kecewa akan melemparnya ke portal sialan waktu itu dan dia.. dia kembali ke panti asuhannya dan hidup dengan membosankan lagi.

Tidak. Tidak. Tidak.

Dia menggeleng. Dia tidak akan mempertaruhkan kehidupannya di dunia yang menakjubkan ini hanya untuk perasaannya kepada Fredderick Colfer. Dia menghela nafas panjang. Ya, memang seharusnya seperti itu. Ribi menegakkan tubuhnya. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Lagipula, mungkin saja Argulus malah sudah pergi sejak pagi, itulah mungkin kenapa Ribi tidak berjumpa dengan Argulus. Bukankah memang upacara penobatan Dave diadakan siang hari. Baiklah. Tidak apa-apa. Mungkin saja Argulus lupa.

Tidak apa-apa? Ta-tapi-

Ribi menjatuhkan wajahnya ke meja dengan putus asa. Pesta. Fredderick Colfer.

Dia menegakkan tubuhnya lagi, menggeleng. Lupakan-lupakan itu, Gabrietta. Mungkin akan ada kesempatan lain untuk bisa bertemu dengan Fred. Mungkin saja ini bukan saat yang tepat. Dia mengangguk pasti, menenangkan dirinya sendiri dan menarik satu buku sihir paling tebal di dekatnya dan membaca. Mencoba melupakan tentang pesta, Fredderick Colfer dan apapun itu.

***

Rasanya sudah berjam-jam berlalu dan Ribi tenggelam pada buku yang dibacanya. Sesuatu tentang buku ini menarik perhatiannya dan dia sudah melupakan tentang pesta dan keinginannya bertemu dengan Fred. Sihir, lima kerajaan, Mahha dan semua hal yang ditulis lebih spesifik di dalam buku ini menyita seluruh perhatiannya. Dia terus membaca, dan ketika menemukan sesuatu yang tidak dia mengerti, dia mencatatnya dan akan menanyakan itu pada Argulus ketika Argulus sudah kembali dari acara penobatan Dave dan pestanya.

Pestanya?

Ribi meletakkan bukunya dan menatap ke luar melalui jendela di dekatnya. Senja mulai datang dan kegelapan mengintip dengan malu-malu untuk menyergap dunia. Pesta? Ribi menghela nafas dalam-dalam. Mungkin sudah dimulai tanpa dirinya dan tak akan ada satu orang pun yang keberatan. Fred mungkin saja sudah melupakan tentang pertemuan mereka dan Argulus mungkin sedang sibuk berbicara dengan penyihir-penyihir hebat yang datang di sana dan membicarakan tentang ramuan. Topik favoritnya.

Argulus? Apakah gurunya itu benar-benar sudah melupakan ucapannya tentang mengajaknya ke sana?

“RIBI??”

Ribi menoleh dengan cepat ke arah pintu ketika dia mengenali suara siapa itu. Fred berdiri dengan terkejut di sana. Memandangi Ribi dengan tidak percaya, pandangan yang sama yang digunakan Ribi untuk memandangnya.

Fred? Fredderick Colfer??

Dengan cepat Ribi melompat bangun dari duduknya, menyadari bahwa apa yang dilihatnya benar-benar nyata. Fred membuka pintu rumah Argulus lebih lebar dan melangkah masuk dengan cepat, seolah ini sudah seperti rumahnya sendiri. Di belakangnya-yang baru disadari Ribi- berjalan seorang penyihir wanita dengan jubah berwarna merah maroon.

“Astaga, Ribi! Apa yang sedang kau lakukan?? Kau sama sekali belum bersiap? Kau bahkan terlihat belum mandi.” Fred bicara dengan cepat dan Ribi hanya memandangnya dengan tidak mengerti.

“Ber-bersiap? Untuk apa?”

Fred memandang Ribi dengan tatapan aneh, “Oh Gabrietta..” lirihnya. Dia melepaskan jubahnya dan Ribi bisa melihat pakaian yang dikenakan Fred di balik jubahnya. Tuxedo hitam- atau apalah itu namanya kalau di dunia ini- yang melekat sempurna di tubuh Fred. Ribi menganga. Terpesona.

“Pesta, Ribi. Pesta penobatan Mahha Zerozhia.”

Ribi seolah baru tersadar dari masa transisinya. Dia mengatupkan mulutnya yang tanpa dia sadari separuh terbuka ketika dia menatap Fred, “Ta-tapi sepertinya Argulus sudah berangkat. Mungkin sejak pagi.”

“Sekarang pergi mandi saja dulu. Dan jangan terlalu lama. Aku akan jelaskan nanti.” Ucap Fred akhirnya, sambil mendorong lembut tubuh Ribi masuk ke ruangannya, “Aku menunggu.” Katanya lagi sebelum dia menutup pintu kamar Ribi dan membiarkan Ribi yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya, berjalan masuk ke kamar mandinya.

Ketika Ribi selesai mandi dia sudah melihat wanita yang tadi datang bersama Fred sudah ada di dalam kamarnya dan duduk menunggunya. Wanita itu langsung berdiri ketika menyadari bahwa Ribi sudah keluar dari kamar mandi, “Nama saya Feronicca dan saya adalah orang yang ditugaskan oleh Tuan Colfer untuk membantu anda bersiap, nona Gabrietta.” Ucapnya memperkenalkan diri.

Ribi melongo mendengar ucapan sopan dan formal dari wanita yang dilihat dari fisiknya lebih pantas jadi bibinya. Tanpa menunggu ucapan dari Ribi, Feronicca segera menghampiri Ribi dan membimbingnya duduk di kursi. Selama beberapa saat dia sibuk dengan urusannya pada wajah dan rambut Ribi.

“Em, maaf, sebenarnya ini untuk apa?” tanya Ribi sambil memejamkan matanya ketika Feronicca sedang merias bagian kelopak matanya.

“Tuan Colfer meminta saya untuk membuat anda terlihat cantik di pesta nanti. Selain itu, jika boleh saya katakan, anda berdua benar-benar pasangan yang sempurna. Ketampanan Tuan Colfer dan kecantikan Nona Gabrietta benar-benar paduan yang sempurna. Bahkan ketika anda tanpa riasanpun, saya bisa melihat kecantikan alami milik anda yang memancarkan aura-aura menakjubkan milik perempuan-perempuan Thussthra.”

Ribi mencerna apa yang dikatakan oleh Feronicca dengan pelan dan lambat. Pesta? Pasangan? Pasangan sempurna? Apakah itu artinya ini semua berarti bahwa dia akan datang ke pesta dan menjadi pasangan bagi Fred di pesta tersebut? Dan.. dan.. Fred sendiri yang menjemputnya? Nafas Ribi tertahan, astaga..

“Tapi aku tidak punya gaun pesta.” Kata Ribi ketika Feronicca sudah selesai dengan riasan dan tatanan rambut Ribi.

“Astaga, nona. Anda begitu cantik. Saya yakin akan banyak laki-laki yang iri terhadap Tuan Colfer ketika dia membawa anda ke pesta nanti.” Ucap Feronicca mengabaikan pertanyaan Ribi. Dia sedang memandang Ribi dengan takjub dan bangga. Lalu dengan gerakan cepat dia melangkah ke dekat tempat tidur Ribi dan mengambil dengan hati-hati gaun yang sedari tadi diletakkannya dengan rapi di atas sana, “Dan tentang gaun, anda tidak perlu khawatir nona. Tuan Colfer sudah meyiapkannya.”

Ribi ternganga melihat betapa cantiknya gaun yang ditunjukkan oleh Feronicca. Dia bangkit dengan perlahan dari duduknya. Terpesona pada kemilau beberapa permata yang bertabur di sana. Gaun itu berwarna biru lembut dengan desain paling cantik yang pernah dia lihat. Dulu dia pernah membaca majalah fashion yang tidak sengaja tertinggal di sekolahnya-milik genk cantik dan centil- dan dia melihat begitu banyak gaun-gaun dengan desain dan harga menakjubkan. Tapi semuanya kalah jika dibandingkan dengan gaun yang sekarang sedang dipegang oleh Feronicca. Ribi membiarkan Feronicca membantunya memakai gaun itu dengan hati-hati. Ribi bisa merasakan bahannya yang lembut bergesekan dengan kulitnya dan dia merasa nyaman.

“Satu lagi.” Feronicca menunduk dan meletakkan satu sepatu berhak tinggi berwarna putih dengan hiasan berwarna biru senada dengan gaunnya di dekat kakinya. Dia kembali membantu Ribi memakainya.

 “A-apakah aku terlihat ca- cantik?” tanya Ribi dengan ragu-ragu ketika mereka sudah selesai.

“Anda terlihat sempurna, nona Gabrietta.” Feronicca mengatupkan kedua tangannya dan menatap Ribi dengan takjub. Lalu dengan buru-buru dia menarik tongkat sihir dari balik pakaiannya. Dia merapalkan mantra yang Ribi tidak tahu dan mendadak, sebuah kaca vertikal setinggi dirinya bersandar di ujung ruangan di kamarnya.

Ribi maju dengan hati-hati dan dia tidak percaya pada bayangan di kaca yang tengah menatapnya, “Apakah itu benar-benar aku?” tanyanya dengan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Feronicca tertawa lembut, “Tentu saja itu anda, nona.”

“Apakah kalian sudah selesai? Kuharap kau segera menyelesaikannya Feronicca. Aku tidak punya banyak waktu. Tidak boleh datang terlambat di pesta sepenting ini.”

Teriakan Fred terdengar dan membuyarkan tatapan tidak percaya Ribi pada refleksi dirinya sendiri di kaca. Feronicca tersenyum, “Saatnya keluar dan membuat tuan Colfer jatuh cinta pada anda, nona Gabrietta.”

“Eh-“ pipi Ribi bersemu merah jambu, “Dia ti-“

“Anda menyukainya. Sangat terlihat di mata anda ketika anda menatap tuan Colfer tadi. Saya berharap tuan Colfer juga merasakan hal yang sama.”

Ribi tersenyum malu, “Aku hanya mengaguminya.” Katanya pelan sambil berjalan menuju pintu. Feronicca hanya tersenyum, tidak bicara apapun lagi dan mengikuti Ribi keluar dari ruang pribadi Ribi.

Ketika Ribi keluar, dia melihat punggung Fred sedang menatap ke luar dari jendela. Sama seperti yang sebelumnya juga Ribi lakukan sebelum dia dan Feronicca datang. Sepertinya Fred mendengar langkah kaki Ribi dan dia berbalik, menatap Ribi.

Hening.

Beberapa detik berlalu dan Fred hanya diam dan menatap Ribi. Wajahnya datar dan Ribi tidak bisa menemukan ekspresi apapun disana. Ribi melirik Feronicca, yang hanya menggeleng pelan. Sama tidak tahunya dengan Ribi.

“Kau sangat cantik, Ribi.”

Ribi mengedipkan matanya dengan tidak percaya pada satu kalimat singkat yang meluncur dari bibir Fred. Feronicca tersenyum lega dan merasa senang. Fred berjalan mendekat, “Kita berangkat sekarang.” Ribi mengangguk.

Fred mengambil jubahnya sendiri dan memakainya ketika dia berjalan menuju pintu. Ketika mereka berdua sudah berada di luar, malam sudah menjelang dan kegelapan hutan di kejauhan terlihat menyeramkan dari sini. Fred berpaling ke arah Feronicca, “Kau bisa kembali ke kastil, Feronicca. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini.”

Feronicca mengangguk dan tersenyum, “Sangat senang bisa membantu anda dan nona Gabrietta, tuan. Saya benar-benar merasa tersanjung melakukannya untuk anda.”

Fred mengangguk dan Feronicca tersenyum lagi, dia beralih memandang Ribi, “Semoga malam ini menyenangkan untuk anda.” Ribi mengangguk dengan kikuk. Setelah mengatakan itu, Feronicca menyampirkan jubahnya dan segera berjalan cepat keluar dari area perlindungan rumah Argulus sehingga dia segera bisa menggunakan sihir teleportasinya dan kembali ke kastil tempatnya bertugas.

Ribi memandang ke arah Feronicca yang semakin menghilang ditelan kegelapan dan dia menoleh dengan terkejut ketika dia merasakan sesuatu menyentuh bahunya yang terbuka. Fred telah memakaikan jubah lembut yang dibawanya untuk Ribi sedari tadi. “Akan dingin di luar sana.” Katanya dan pipi Ribi langsung memerah. Untungnya suasana temaram di depan pintu rumah Argulus menyamarkan warna itu, atau jika tidak dia akan sangat malu.

“T-terima kasih.”

Fred hanya mengangguk, “Sebaiknya kita berangkat segera. Pestanya akan segera dimulai kurasa.” Ribi megangguk dan mengikuti Fred yang membimbingnya dnegan hati-hati.

Keduanya berjalan dengan pelan menyebrangi halaman rumah Argulus dalam diam. Ribi merasa benar-benar kikuk, dia harus mengatakan sesuatu atau dia akan bisa melihat jantungnya melompat keluar saking cepatnya debaran jantungnya jika hanya diam dan berjalan di samping Fred seperti ini.

“Bagaimana bisa kau kemari? Apakah Argulus yang memintanya?”

“Ya.” jawab Fred, “Argulus sudah sibuk membantu menyiapkan upacara penobatan Mahha. Kau tahukan upacara penobatan berlangsung siang tadi, dan dia benar-benar membantu pang-maaf maksudku Mahha Dave untuk menyiapkan segalanya. Mereka punya hubungan yang dekat dan Argulus sepertinya sudah menganggap Mahha seperti putranya sendiri dan dia paham tentang masalah itu.”

“Dan tentang dirimu, Argulus benar-benar minta maaf, Ribi. Mungkin sebelumnya kau berpikir bahwa Argulus melupakanmu tentang pesta ini. Tapi tidak, dia mendatangiku ketika upacara sudah selesai dan memintaku untuk menjemputmu dan membuatmu siap datang ke pesta ini.”

“Aku hanya tidak menyangka kau yang akan datang.” Sahut Ribi.

“Lalu siapa yang kau harapkan akan datang?” Fred berhenti dan menatap langsung ke mata Ribi. Ribi langsung menjauh dengan gugup, “A-aku berpikir b-bahwa Argulus- maksudku ku t-tidak akan datang ke pesta ini.”

Fred menjauhkan wajahnya dan tertawa, “Kau membuatku takut. Kupikir kau mengenal seseorang yang lain selain aku.”

“Apa?”

 “Tidak apa-apa.” Fred kembali tertawa, “Kau tahu betapa terkejutnya aku ketika Argulus mengatakan bahwa dia memintaku datang menjemputmu. Dia bahkan mengatakan bahwa selain menjemputmu aku juga harus menyiapkan segala urusan tentang membuat seorang perempuan siap datang  pesta kerajaan pertamanya. Dia benar-benar membuatku kerepotan. Untung aku mengenal Feronicca, dan mengingat tentangnya di saat yang tepat atau aku sekarang tidak akan berjalan berdampingan dengan perempuan paling cantik di Zerozhia.”

Ribi menundukkan wajahnya dalam-dalam. Fred kembali tertawa, “Maaf-maafkan aku, Ribi. Aku tidak akan menggodamu lagi. Bersikaplah santai.” Katanya sambil mengandeng tangan Ribi, “Kita berhenti di sini. Kurasa ini sudah di luar sihir perlindungan Argulus.”

Mengabaikan semua detak jantung dan debaran di dalam dirinya, Ribi mengangguk, “Apa kita akan menghilang?”

“Menghilang?” Fred tertawa kecil, “Bukan menghilang. Mungkin usaha untuk mempersingkat waktu  jauh lebih tepat.” Ribi mengangguk dan ingat bahwa Dave pernah mengucapkan hal yang persis sama kepadanya ketika pertama kali dia akan membawanya ke rumah Argulus. Ribi ingat sensasinya dan dia tahu dia akan menyukai ini. Sebelum Fred mengatakannya, Ribi sudah memejamkan matanya. Fred tersenyum melihatnya, dia mengenggam tangan Ribi dengan erat ketika dia merapalkan mantra. Keduanya diselimuti kabut tipis yang mendadak muncul. Lalu beberapa detik kemudian ketika kabut lenyap, keduanya juga lenyap

***

Ketika Ribi membuka matanya, dia sudah berada di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu yang diukir dengan lambang kerajaan Zerozhia di beberapa bagiannya dengan hiasan-hiasan lain yang sama indah dan rumit. Ribi menoleh ke arah Fred, “Apakah ini tempat pestanya?”

Fred mengangguk. Namun Ribi masih memandangnya dengan tidak mengerti, “Tapi kenapa kita bisa langsung masuk? Maksudku sihir menghilang itu, perlindungan. Harusnya kita muncul beberapa meter dari gerbang atau halaman tempat ini. Bukannya langsung di dalamnya.”

“Astaga itu.” Fred tersenyum, “Aku interoir, Ribi. Aku punya sihir khusus dan punya jalur masuk berbeda dari semua tamu yang datang kemari. Apalagi aku bagian dari satuan khusus. Interoir senior.”

“Ah maaf. Aku hampir melupakan bagian itu.”

Fred tertawa kecil, “Tidak apa-apa, itu artinya kau sudah belajar cukup banyak tentang sihir dan pola kerjanya.” Ribi tersenyum mendengar pujian dari Fred, mendadak dia merasakan sesuatu dan tersadar kalau Fred masih mengenggam tangannya. Ribi menatap tangan mereka dan tersenyum diam-diam.

“Maaf.” Fred melepaskan tangannya dengan buru-buru ketika dia mengikuti pandangan Ribi. Ribi menggeleng dengan gugup, sementara Fred terlihat terlihat merasa bersalah karena mungkin saja Ribi berpikir bahwa dia bersikap lamcang.

“Apakah kita di kastil pemerintahan?” tanya Ribi mengalihkan perhatian.

Fred menggeleng, “Tidak. Upacara penobatan memang dilakukan di sana. Tapi untuk pesta, tidak. Kita ada di kastil milik Azhena. Aku tidak tahu kenapa mereka memilih kastil ini tapi kurasa tidak terlalu buruk. Kastil ini cukup besar dan sama indahnya dengan kastil pemerintahan, meskipun sebenarnya semua orang berharap bisa melakukan pesta ini di Zeyzga. Tapi yah, kau tentu tahu bagaimana aturannya.”

“Zeyzga terlarang bagi semua makhluk kecuali keturunan Mahha dan para peri kerajaan.”

Fred mengangguk, “Tepat seperti itu.” Sahutnya, “Nah, kita harus memutar sedikit untuk mencapai pintu depan atau jika kau tidak mau berjalan memutar, kita bisa langsung masuk ke aula utama pesta lewat pintu samping aula yang berada tepat di depan kita ini.”

“Aku tidak keberatan dengan masuk lewat pintu samping.”

“Baiklah, nona Gabrietta. Sesuai dengan apa yang anda katakan.” Fred tersenyum. Dia menepuk lengan kirinya dan Ribi tersenyum geli sebelum melingkarkan tangannya ke lengan Fred. Fred mengayunkan tongkat sihirnya dengan tangan kanannya dan pintu di depan mereka mengayun pelan, terbuka. Fred membimbing Ribi berjalan masuk dan Ribi pelan-pelan mengatur debar jantungnya. Dia gugup. Segala tentang pesta ini dan Fred. Ribi menghela nafas panjang dan melangkah.

***

Dave memandang dengan tatapan kosong ke luar sana. Jendela tinggi di kastil ini dibiarkannya terbuka lebar dan membuat udara malam menerpa wajahnya. Terlalu banyak pikiran yang bersarang di otaknya dan dia tidak tahu harus mulai memilih yang mana untuk dipikirkan.

“Dave.”

Dia menoleh pelan dan menemukan Ares membuka pintu ruangan tempat dia berada. Ares bergerak anggun dan masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Dave sementara Dave hanya memandanginya dan mengagumi kecantikannya. Malam ini Ares terlihat begitu cantik dengan tatanan rambut yang digelung ke atas. Riasannya tidak berlebihan dan gaun hitam berpotongan dada rendah yang dipakainya benar-benar begitu membuatnya semakin terlihat mempesona.

“Sudah siap untuk pesta?” Dave bersuara ketika akhirnya Ares sudah berdiri di depannya.

Ares mengangguk, “Harusnya aku yang menanyaimu dengan pertanyaan itu.”

“Tidak siap. Itu jawabanku.”

“Aku tahu.” Sahut Ares, “Kau tidak pernah menyukai pesta.”

“Begitu juga kau.”

Lagi-lagi Ares mengangguk, “Kita banyak persamaan.”

Dave kembali memandang ke luar, “Bagaimana kalau kita tidak datang saja. Aku cukup lelah malam ini. Kurasa tidur dan beristirahat akan jauh menyenangkan daripada aku harus datang ke pesta.”

“Ide yang bagus jika pesta ini dibuat bukan untuk kau. Sayangnya ini pestamu, Dave dan mereka semua butuh keberadaanmu di sana nanti. Dan aku, entah bagaimana juga berada dalam daftra tuan rumah jadi, kurasa kita berdua tidak punya pilihan lain selain datang saja ke pesta. Lagipula kita hanya menuruni beberapa anak tangga dan yah, selamat datang di pesta penobatan Mahha Zerozhia.”

“Kedengarannya membosankan.”

Ares diam dan tidak menanggapi, dia mengikuti arah pandang Dave dan keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Beberapa menit berlalu dan Ares beralih menatap Dave, “Apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, Dave?”

“Seandainya Danesh ada disini. Menurutmu apa yang akan terjadi.”

“Pesta ini menjadi miliknya dan kau bisa pergi. Tapi sepertinya bagiku tidak, aku tetap harus datang ke pesta karena pestanya ada di kastil kediamanku.”

Dave tertawa, “Kurasa lebih baik ini menjadi pestaku.”

“Dave, berhentilah memikirkan sesuatu yang mungkin saja tidak benar-benar terjadi.” Mendadak Ares berkata dengan bijak, dia memandang langsung ke kedua bola mata Dave dan membiarkan Dave menangkap maksud dari perkataannya, “Kau sudah menjadi seorang Mahha sekarang. Tanggung jawab yang berada di pundakmu jauh lebih berat dari apa yang orang lain miliki. Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Danesh, tapi seperti yang kau tahu. Tidak ada yang bisa kita lakukan terkait dengannya.”

“Aku tahu. Aku tahu.” Dave menyela ucapan Ares dan berjalan menjauh dari Ares. “Kurasa pestanya tidak akan dimulai tanpa aku. Jadi kurasa aku harus sudah turun sekarang.”

“Dave..”

“Aku menunggumu di sana.” Kata Dave singkat sebelum dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan ini. Membiarkan Ares memandangnya dengan tatapan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya.

Begitu Dave menutup pintu ruangan itu, segumpal kabut biru gelap melayang disampingnya dan bersamaan dengan bunyi letupan kecil, seorang pemuda tampan seumuran Dave dengan setelan baju pesta sudah berjalan di samping Dave.

“Tidakkah kau terlalu kasar padanya.”

“Kurasa tidak.”

Memnus berdecak, “Kurasa ya.”

“Jika ya, lalu kenapa kau tanyakan itu kepadaku.”

“Hanya agar kau tidak menyesal.”

Dave menoleh singkat dan kembali berjalan. Sementara itu Memnus terus menjajari langkahnya, “Ares hanya berusaha membuatmu merasa lebih baik. Dia tahu segala sesuatu yang berurusan dengan penobatan Mahha ini menyulitkanmu. Dia hanya mencoba membantumu.”

Memnus menunggu. Dave tidak bereaksi. Pemuda itu menatap jengkel ke arah Dave, “Aku yakin kalian akan saling mendiamkan setelah ini dan beberapa saat kemudian kau akan merepotkanku dengan segala urusan tentang berbaikan dengan Ares dan aku.. tak lama kemudian akan berbincang dengan Barielle untuk mengorek segala informasi tentang Ares yang kau butuhkan. Aku yakin siklusnya seperti itu.”

“Kami tidak bertengkar tadi.”

“Akan. Hampir. Sudah.” Koreksi Memnus.

“Kau suka pesta?”

“Eh apa?”

“Jika ya, kau bisa mempertahankan wujudmu itu dan menikmati pesta yang ada di bawah sana. Jika tidak, kusarankan kau pergi sekarang atau aku yang akan membuatmu pergi.”

Memnus memberengutkan wajahnya, “Kau menyebalkan, Dave.” Katanya sebelum dia melenyapkan wujud pemudanya. Dave menatap sisa-sisa keberadaan Anilamarry-nya dan dia menghela nafas panjang sebelum meneruskan langkahnya menuruni undakan tangga menuju pesta yang berada di aula utama kastil ini.

***

Ribi tahu dia ternganga ketika akhirnya dia masuk ke dalam aula utama tempat diadakannya pesta, seperti yang dikatakan Fred. Tapi tetap saja jika dia tidak bisa membayangkan jika pestanya akan semenakjubkan ini. Ketika keduanya masuk, aula sudah penuh oleh para penyihir dengan pakaian paling bagus yang mereka miliki. Kecantikan, ketampanan, tingkat kedudukan di pemerintahan, status sosial. Ribi bisa melihat semuanya disini. Seorang pelayan di pesta ini menghampiri mereka dan Fred memberikan jubah mereka kepadanya dan pelayan itu segera mundur dengan sopan membawa jubah mereka. Ribi masih menatapnya. Sistemnya tak jauh berbeda dengan yang ada di dunianya. Tetap ada yang di atas dan ada yang di bawah.

Ribi mengalihkan pandangannya dan kembali melihat kerumunan orang. Dia menelan ludahnya dengan sulit, bagaimana jika nanti dia terlibat dengan obrolan yang menyangkut latar belakang dan lain sebagainya? Dia pasti akan dalam masalah jika lidahnya salah mengucapkan satu kata saja.

Mendadak Ribi merasa bahwa datang ke pesta ini adalah kesalahan. Di dunia ini maupun di dunianya, pesta ini adalah pesta resmi pertama baginya. Ribi tak pernah datang ke pesta seperti ini sebelumnya. Ketika dulu sekolahnya mengadakan pesta dansa untuk merayakan kelulusan angkatannya, dia tidak datang karena dia tidak punya alasan untuk datang. Maksudnya, dia tidak punya teman, tidak punya laki-laki yang kusukai dan tidak ada. Tidak ada alasan dan dia..

Fred menyentuh tangan Ribi yang menggandengnya. Ribi menoleh dan dia tersenyum padanya, “Tenang saja. Ada aku bersamamu.” Katanya dan sudut bibirnya melengkungkan senyuman yang membuat otak Ribi berpikir jernih. Sepertinya Fred tahu dia gugup dan dia mencoba membuat Ribi merasa lebih baik. Ribi mengangguk dan berjalan mantab di samping Fred.

Ribi sadar beberapa orang melihat ke arah mereka ketika mereka berjalan diantara kerumunan orang. Beberapa lagi secara langsung menegur Fred dan menyapanya dengan ramah. Fred hanya membalas sekenanya dan berjalan terus tanpa Ribi tahu dia mau kemana. Sementara itu, Ribi tetap memperhatikan ruangan ini dan entah kenapa tetap saja terpesona dengan interoirnya. Kubah tinggi di atasnya berhiaskan lukisan menakjubkan yang tidak bisa dia gambarkan tapi dia tahu itu karya yang mengagumkan. Lampu-lampu hias melayang menerangi ruangan, dan entahlah. Dia bahkan kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan tempat ini. Yang jelas dia tahu banyak sihir bekerja disini dan dia kagum. Dia suka sihir. Ribisuka sihir.

“Ribi!” Ribi menoleh ke asal suara serak dan berat yang sangat akrab dengan telingnya. Argulus dengan setelan resmi dan rambut serta jenggot yang tersisir rapi, dia tertawa. Argulus benar-benar terlihat berbeda. Ribi dan Fred berjalan ke arahnya. Begitu  berada di depannya, Ribi melepaskan gandengan tangannya pada Fred dan menerima pelukan singkat dari Argulus.

“Astaga. Astaga. Lihat apa yang Freddie perbuat padamu, nak.” Dia berdecak kagum begitu melepaskan pelukannya, “Sihir apa yang kau lakukan padanya sehingga dia seolah-olah menjelma menjadi putri dari Thussthra.”

Fred tertawa, “Jangan menghinanya, guru. Dia memang sudah cantik. Dia melakukannya tanpa sihir. Hanya bantuan dari Feronicca dan muridmu ini sudah bisa menjelma menjadi para peri.”

“Berhentilah membicarakanku sementara aku ada disini.” Kata Ribi malu.

Argulus terkekeh, “Maaf-maaf-maaf Gabrietta. Ah iya, satu lagi, maaf harus meminta Fred untuk menjemputmu karena aku  tidak bisa meninggalkan upacara penobatan tadi siang.”

Ribi menyentuh lengan Argulus, “Tidak, Argulus. Ini, bahkan lebih dari apa yang kuharapkan.”

Argulus terkekeh makin keras, “Itu karena kau sangat menyukai Fred, nak.”

Ribi langsung memberengut, “Berhentilah mengatakan itu, guru. Kau membuatku malu.”

“Ah tanpa guru-tanpa guru. Jangan panggil aku dengan guru.”

Fred dan Ribi tertawa, mengenali kebiasaan Argulus jika dipanggil dengan sebutan itu. Ribi tertawa dengan ringan dan dia mulai belajar menyesuaikan dirinya. Pesta ini tidak mungkin menjadi burukkan?

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

18 Comments

  1. Wuuaaahhhhhhh,,,lagii,lagii,lagii,lagii!!!!! XD,,harus bisa seminggu sekali yahh,xexa ma hv nya,,,,

  2. Aduh aduh makin suka nih ama Ribi
    Nggak sabar nungguin lanjutannya haha, keep fighting thor
    SEMANGAT.. Jgn lma2 update ye ^^

  3. Tokoh utama yg mana ya?di awal semua peran berbagi rata…kirain ares cow t'nyata cew tangguh…keren!!!lanjutkan…lbh cpt lbh baekkkk……..thank u…

  4. Tokoh utamanya? Semua peran berbagi sih. Ketika aku menyebut Ribi, ternyata Dave di beberapa chapter ke depan memegang peran penting. Begitu aku bilang Dave dan Ribi, eh ada satu masa dimana justru muncul satu tokoh yang jadi kunci utama cerita ini. JAdi entahlah.. semua berbagi peran disini.

    Yup, Ares ini cewek loh. Awalnya di draft kasar HV namanya Michelle, namun entah kenapa.. aku ngga dapet feel sama nama ini dan mendadak jadi kuganti Ares.

    Makasii makasii komennya. Semangat. Semoga bisa segera update new chapternya. Semoga..

  5. wah kk danis itu sapa kk ??
    oh yah aku mu tanya ko dave kaya'nya gak inget sama ribi sih ???
    trus kk aku penasaran deh sama ekpresi dave ketemu sama ribi yang udah berubah cantik kaya putri???
    semoga mereka ketemu hee..
    kk thusstra itu negri apa kk ??
    apa mungkin ribi berasal dari thusstra yah kk???
    aduh kk aku makin penasaran ,,,, sama ribi . sebenarnya ribi itu penyihir ? peri atau apa ???? aduh kk lanjut yah kk crtanya seru ,,,,

    oh yah kk aku juga suka sama crta HV di tunggu kelanjutanyya 🙂

    semangat kece buat author 🙂 heeee

  6. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.