XEXA – Prolog

Hello semuanya. XEXA adalah kisah fantasi pertama yang aku tulis. Naskah ini mengendap sekitar lebih dari empat tahun tanpa terselesaikan di buku-buku tulisku. Dan sekarang, aku memutuskan untuk memulai menulis XEXA kembali. Tapi tenang saja, bukan berarti dengan menulis XEXA, HALF VAMPIRE akan terabaikan. Aku akan tetap menyelesaikan kisahku yang satu itu sebab aku juga sangat menyukainya. Well, aku tunggu komentar kalian tentang prolog Xexa ini ya. Memang masih sangat singkat tapi akan segera ada new chapter-nya.

Selamat membaca. 🙂

***

Ketika cahaya terakhir beranjak pergi, menyentuh horison yang terbentang memudar di barat, air sungai Ga justru berkilat-kilat memendarkan cahaya keperakkan. Sungai Ga beriak tenang, mengalir membelah hutan Zhitam dan berakhir di sebuah danau besar di samping siluet besar, kokoh, kastil Zeyzga. Kastil Zeyzga, dengan aura sihir yang memancar kuat sampai bermeter-meter jauhnya dari tempat itu, penuh dengan rahasia-rahasia sihir kuno yang sampai sekarang masih menjadi misteri.

Zeyzga, berdiri jauh dari pusat kota kerajaan Zerozhia, kerajaan sihir terbesar dan terkuat dari lima kerajaan yang ada. Dikelilingi bukit Rizir, Sungai Ga, Hutan Zhitam dan Dataran batu-batu runcing. Ditambah dengan sihir-sihir kuno yang melindunginya seperti kubah besar tak kasatmata, menjadikannya sulit dijangkau oleh penyihir cakap sekalipun. Dan dengan energi yang terpancar kuat dari Zeyzga, orang-orang yang bahkan tidak berniat jahat pun akan bergidik dan mengerut merasakannya.

Sejauh ini, Zeyzga memilih sendiri orang-orang yang boleh menyentuh dan memasukinya. Tapi tak banyak. Hanya Mahha beserta keturunannya dan para peri kerajaan yang bisa masuk dan tinggal disana. Mahha, yang diangkat berdasarkan garis keturunan merupakan pemimpin Zerozhia yang juga merupakan pimpinan tertinggi dari kelima kerajaan yang ada. Penjaga keseimbangan tatanan dunia sihir. Pelindung, dan juga pemilik kebijaksanaan Mahha Mevonia, sang Mahha pertama dunia sihir yang ada ribuan tahun silam.

Tapi masa-masa damai di dunia ini sudah lama berakhir sejak sihir hitam mulai banyak dipergunakan. Muncul begitu banyak pemberontakan yang didalangi oleh penyihir-penyihir hitam yang tamak dan ambisius. Masa suram pun memulai prosesnya. Teror menyebar ke seantero negeri. Perang, pemberontakan, duel, berhembus seperti udara yang menyesakkan penghirupnya.

Hawa ketakutan merebak, meniupkan kematian-kematian yang terasa sangat dekat. Kecurigaan menang, kepercayaan musnah. Dimana-mana orang berjalan dengan cepat. Tak saling sapa. Tongkat sihir tergenggam erat di balik jubah mereka dan rapalan mantra pelindung digumamkan sepanjang jalan. Bahkan di Zerozhia, yang sejauh ini merupakan negeri paling aman pun hawa ketakutan dan kepanikan seperti itu masih terasa pekat.

Kegiatan-kegiatan sihir hitam yang semula terlarang mulai terang-terangan diperlihatkan. Dan beberapa pemakainya malah bangga dan memamerkan semua itu. Mereka berjaya, menganggap bahwa sihir hitam akan segera mengalahkan menguasai dunia sihir. Mereka, di bawah kepemimpinan Mohave, penyihir hitam terkuat sepanjang abad ini, merasa sangat yakin bahwa masa-masa sihir putih akan segera berakhir. Sebab sekarang, hanya tinggal menunggu waktu untuk benar-benar mengambil alih dunia sihir. Karena Alkrez dan Sparzvia dua kerajaan sihir lainnya telah mereka kuasai. Mozaro dan Thussthra, dua kerajaan sihir yang paling dekat dengan Zerozhia, sedang dalam proses kudeta. Namun sedikit sulit, karena penyihir-penyihir putih disana, dengan sepenuh tekat dan kekuatan mereka, terus melawan habis-habisan. Sementara itu Zerozhia, sejengkal pun belum tersentuh karena kekuatan mereka yang masyur.

Namun, ketika akhirnya Mohave memilih memusatkan serangannya pada Zerozhia. Keadaan menjadi lebih dari sekedar buruk. Mohave tahu benar, jika Zerozhia ditaklukkan, akan sangat mudah baginya menguasai empat kerajaan lainnya. Sehingga, ketika detik dia memulai itu, keadaan Zerozhia menjadi mencekam. Bahkan pusat kota pun dipenuhi lontaran-lontaran kutukan di tiap harinya, disesaki jampi-jampi di setiap sudutnya,. Langit Zerozhia, nyaris selalu mirip pesta kembang api tiap malamnya karena mantra-mantra yang terlontar ke udara ketika ada pertempuran. Yang paling baik sejauh ini, meskipun sangat sulit, Interoir Zerozhia masih sanggup bertahan dan melawan. Melindungi penduduk negeri mereka dari segala teror yang ada. Interoir Zerozhia, seperti isu yang selama ini menyebar, memang benar merupakan yang terhebat dari lima kerajaan lainnya. Mereka semua, yang terpilih menjadi Interoir Zerozhia adalah penyihir-penyihir cakap terbaik yang ada di seluruh negeri. Kekuatan dan siasat yang baik menaungi mereka.

Dan disinilah, semua siasat dan rencana menghadapi pemberontakan besar-besaran ini dirancang. Di tempat paling aman dan paling tenang yang pernah ada, bahkan dalam masa-masa perang seperti ini, Zeyzga. Di salah satu ruangannya. Dimana di dalamnya, seorang wanita tengah bicara dengan sangat serius tentang banyak hal, seperti tentang informasi-informasi rahasia yang berhasil dikumpulkannya.

Dia terus bicara sampai akhirnya dia menyadari, wanita yang tengah diajaknya berbicara nampak tidak terlalu serius mendengarkannya. Dia menatap wanita itu, yang kini tengah menggendong bayi laki-laki di tangannya. Mengayunkan bayi itu dengan lembut. Bersenandung sangat lirih seperti ingin menidurkan bayi mungil tersebut. Azhena masih menatap wanita itu, yang sepertinya bahkan tak menyadari bahwa dia sudah berhenti bicara.

“Mahha Miranda..” katanya akhirnya.

Wanita itu menoleh, hanya sebentar sebelum akhirnya dia kembali memandangi bayi dalam gendongannya itu dengan penuh sayang.

“Mahha Miranda, apakah anda mendengar semua yang telah saya katakan?” tanya Azhena dengan sedikit kesal. Dia sudah berusaha sebaik mungkin menyusun semua hal serius yang akan dilaporkannya pada Mahha Miranda. Namun wanita itu malah tidak mengacuhkannya.

Mahha Miranda tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya dia menjawab, “Aku tahu, Azhena. Pada akhirnya Mohave akan melakukan ini dan memilih Zerozhia sebagai target utamanya. Dia tahu benar darimana awalnya jika dia mau memulai.”

Mahha Miranda mengangkat wajahnya, menatap Azhena dan melanjutkan, “Dan akupun tahu, kau juga sudah melakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan. Memimpin para Interoir, menahan para pengikut Mohave dan melindungi Zerozhia dengan sepenuh hatimu. Selain itu Azhena, aku merasakan bahwa akan terjadi sesuatu yang sangat buruk pada Zerozhia atau mungkin..”

Dia berhenti, beralih memandang keluar melalui jendela tinggi yang ada di sampingnya. Bayangan gelap hutan Zhitam memenuhi matanya yang berkilau.

Azhena menunggu. Namun ketika sepertinya Mahha Miranda akan terus membiarkan kalimatnya mengantung seperti itu, dia mulai bertanya, “Mungkinkah apa Mahha?”

“Azhena, tahukah kau? Aku merasakan itu semakin dekat sekarang.”

“Mahha..”

“Kau masih ingat semua yang kukatakan padamu di labirin Xemoz? Segalanya terasa sangat dekat sekarang. Ke-“

“Mahha. Saya tidak ak-” potong Azhena mendadak terlihat frustasi dan tak mampu melanjutkan ucpannya. Namun wajah Mahha Miranda justru melembut. Dia kembali memandang wajah bayi dalam gendongannya, namun kali ini nampak sedih. “Aku sangat menyayangi putraku. Dia satu-satunya yang ditinggalkan Nathaniel untukku. Aku sudah kehilangan Danesh. Dan sekarang..” Dia menarik nafas dengan lelah. “Aku sangat ingin membesarkannya sendiri. Melihat dia tumbuh dan menjadi cukup kuat untuk memimpin Zerozhia.”

“Anda pasti bisa melihat pangeran tumbuh besar!” Potong Azhena keras.

Mahha Miranda tersenyum, “Seandainya memang seperti itu.” Ada keheningan yang lama sebelum akhirnya Mahha Miranda berbicara lagi.

“Mora!” Panggilnya kini pada udara kosong, dan dua detik kemudian, dengan kilatan cahaya biru redup, muncul seorang peri kerajaan dalam wujud perempuan muda cantik dengan rambut putih yang panjang. “Tolong.” Kata Mahha Miranda sambil menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Mora yang menerimanya dan berganti mengendong bayi yang sudah pulas tertidur itu, dengan hati-hati. Mora mengangguk, mundur dua langkah ketika Mahha Miranda tidak berkata apa-apa padanya.

“Azhena.” Ucap Mahha Miranda setelah menyerahkan bayinya pada Mora. “..seperti yang telah kukatakan padamu di labirin Xemoz. Tolong lakukan semua itu dengan benar dan jaga putraku sampai dia benar-benar siap menerima takdirnya untuk Zerozhia. Tolong, Azhena. Lakukan seperti yang telah kau janjikan padaku ketika itu.”

Kedua tangan Azhena terkepal erat. Dadanya naik turun dengan cepat. “Tapi kenapa? Kenapa Mahha?” Suaranya gemetar. Menahan luapan emosi yang ada dalam kepalanya. “Kenapa anda mempercayakan semua ini pada saya, hal-hal penting ini, mak-maksud saya. Ketika hampir semua Dewan Kehormatan dan Perdana Menteri mencurigai saya. Anda tetap percaya pada saya. Anda..bahkan mengunakan nyaris separuh kemampuan sihir anda untuk membuat saya bisa memasuki Zeyzga. Anda..”

“Azhena..” Potong Mahha Miranda masih dengan suaranya yang lembut, “..Zeyzga memilih sendiri orang-orang yang diizinkannya masuk kesini. Dan untuk masalah dengan Dewan Kehormatan dan Perdana Menteri..” dia berhenti, memandang lurus ke sepasang mata hitam milik Azhena, “Apakah kenyataan bahwa aku percaya padamu saja tidak cukup membuatmu puas?”

Azhena menggeleng cepat, “Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Hanya saja.. Saya. Merasa tidak pantas.” Sahutnya cepat. Menundukkan wajahnya.

“Azhena..kau adalah orang yang paling pantas untuk menerima semua kehormatan itu.”

Azhena mendongak. Menemukan wajah Mahha Miranda yang tersenyum padanya. Tidak ada kebohongan sama sekali disana. Tubuh Azhena bergetar hebat. Perasaannya membuncah, ketika itu, detik itu dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia, dengan nyawanya sebagai taruhan, akan menepati janji yang sudah diucapkannya kepada Mahha Miranda di labirin Xemos.

Mahha Miranda mengayunkan tongkat sihirnya dan membuat jendela tinggi di sampingnya terbuka. Dia mengucapkan mantra pemanggil Anilamarry-nya dan beberapa detik kemudian, seekor burung Rajawali yang sangat besar nampak terbang mendekat ke jendela. Burung itu memekik keras sebelum bertengger di jendela dan mengangguk-anggukkan paruhnya ke Mahha Miranda.

“Algora.” Katanya sambil mengelus bulu lembut di kepala rajawali itu. “Pergilah ke pusat kota setelah ini.” Seperti mengerti, si rajawali mengangguk dan memekik pelan. “Kita akan bertempur, Algora.” Bisik Mahha Miranda. Tersenyum kecil sebelum mundur beberapa langkah, “Nah, pergilah sekarang.”

Rajawali itu mengepakkan sayapnya dan terbang menghilang di langit gelap Zerozhia dengan pekikan keras. Mahha Miranda berbalik, menatap Mora yang sedari tadi hanya diam dan tidak melakukan apapun. “Mora.” Panggilnya. “..tetap disini bersama para peri kerajaan lainnya. Jangan pernah meninggalkan Zeyzga apapun keadaannya nanti. Seburuk apapun, Mohave dan pengikutnya tidak akan mampu menyentuh gerbang Zeyzga. Tetap disini. Dan jaga putaku..” Perintah Mahha Miranda tegas, “..sampai Azhena kembali.”

Dia menatap Azhena, akan kupastikan kau kembali, Azhena.

Mora mengangguk patuh, “Baiklah Mahha Miranda.”

“Kita pergi sekarang, Azhena.” Perintah Mahha Miranda. Berjalan keluar dari ruangan ini diikuti Azhena di belakangnya. Dia sempat menoleh sebentar memandang ke arah bayi dalam gendongan Mora.

Selamat tinggal, putraku.

Dia berpaling. Pergi dengan cepat keluar dari Zeyzga. Melewati gerbangnya. Semeter dari situ, dia dan Azhena menghilang dalam kebutan jubah mereka.

Mora, dengan tatapan sendu memandang kepergian mereka dari jendela yang masih terbuka. Pandangan Mora beralih ke arah timur, pusat kota Zerozhia. Dia bergumam lirih. Terus bergumam ketika tanpa disadarinya, tangan kiri bayi dalam gendongannya bergerak pelan. Sinar ungu berpijar redup sebentar dari tanda kristal segienam di punggung telapak tangan bayi itu.

XEXA – Ribi >>

Mau Baca Lainnya?

13 Comments

  1. Ah iya.. maaf ya. Jadi sedikit repot ketika membacanya.
    Ini naskah lama dan entah kenap aku tidak ingin merevisi nama-nama yang bertahun-tahun lalu aku karang untuk Xexa. 🙂

  2. I’d come to recognize with you one this subject. Which is not something I typically do! I love reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published.