Xexa – Putri Airella

“Apa rakyat di negeri ini tidak penasaran dengan wajah putri kerajaan mereka?”

Airella mengomel tidak jelas sambil melempar belati yang ada di tangannya ke arah batang pohon yang ada jauh di depannya. Belati itu menancap sempurna, sama lurus dengan arah lemparan Airella yang terlihat tidak bertenaga.

 

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada mereka mumpung kita sedang ada di hutan bebas begini?”

Mulut Airella berdecak jengkel sambil melirik ke arah perempuan berbaju pelayan kerajaan yang tengah mengorek telinganya dengan tampang malas.

 

“Tidak bisakah kau berganti pakaian lain, Ritta? Dan seperti katamu tadi, kita sedang berada di hutan bebas dan bukannya di menara sialan itu.”

 

Si perempuan pelayan terkikik, dan dalam sekejap pakaian pelayannya berubah menjadi baju rakyat jelata seperti yang dikenakan oleh Airella, “Sudah puas, tuan putri?”

Airella tidak menangapi dan hanya memutar bola matanya.

“Jika Mirzha mendengarmu mengucapkan kata-kata seperti tadi, dia mungkin akan langsung menggantung dirinya di lapangan hukuman karena merasa gagal mendidikmu sebagai seorang putri mahkota.”

Mau tak mau Airella ikut tertawa kecil, membayangkan Mirzha, ibu pelatih tata krama dan pendamping pelindungnya yang gendut itu, mendengarkannya memaki seperti tadi. Ucapan Ritta tentang gantung diri, terdengar normal mengingat bagaimana Mirzha selalu membuat Airella belajar dengan sangat giat dan tiada henti tentang segala aturan ketat kerajaan dan etika menjadi seorang putri.

“Kenapa tidak kabur saja, sih?”

Mendadak pertanyaan itu membuat Airella terdiam. Lalu segera menggeleng pelan setelahnya.

“Aku tidak bisa, Ritta. Kau tau jelas itu.” Dia menghela nafas, “Bagaimanapun juga, aku adalah putri kerajaan ini. Aku adalah pewaris tunggal Thussthra. Dan ketika nanti tiba saatnya bagi ibuku untuk menyerahkan tahtanya, aku akan menjadi ratu negeri ini.”

“Apa kau yakin Ratu Myrella akan membiarkanmu mengambil alih tahta di saat genting seperti ini? Apalagi setelah rumor yang menyebar tentang hasil dari pertemuan besar di Zerozhia. Mungkin benar adanya bahwa perang besar kedua akan segera terjadi di Tierraz.”

Airella menghela nafas panjang. Dia tahu itu. Ritta mungkin benar. Jika perang benar-benar sedang berjalan menghantui Tierraz, maka ibunya tidak akan pernah membiarkannya terlibat di dalamnya. Ratu Myrella sudah mengurungnya di menara tertinggi yang ada di Thussthra sejak usianya tujuh belas tahun dengan alasan keamanannya. Ratu Myrella bersumpah dia akan melindungi Airella dari bahaya apapun, meskipun itu dengan cara paling gila sekalipun.

Dia hanya ingat  pernah sekali muncul di hadapan rakyatnya ketika usianya lima belas tahun. Ketika itu Thussthra merayakan panen terbesar yang pernah diperoleh kerajaan sejak kutukan yang dilemparkan Mohave pada tanah ini. Istana membuka dirinya, menyambut seluruh rakyat dan mengendorkan keamanan gila-gilaan yang semula mengelilinginya. Rakyat bersuka cita dan tumpah ruah di ibukota. Mereka berusaha sedekat mungkin untuk bisa masuk ke area istana karena adanya berita bahwa ratu mereka akan mengizinkan sang putri untuk bergabung. Rakyat merindu putri mereka yang hanya diperlihatkan istana ketika kelahirannya saja.

Dan hari perayaan itu menjadi momentum terbesar dalam hidup Airella. Dia berani menukar apa saja miliknya demi merasakan itu sepanjang hidupnya. Seluruh kerajaan Thussthra seolah menyerukan namanya ketika dia berdiri di tepian balkon utama istana dan melambaikan tangannya pada rakyatnya yang berdesakan di bawah sana hanya untuk membalas lambaian tangannya dan menyeru-serukan namanya dengan sukacita.

Rakyatnya mencintainya, dan Airella kecil terisak bahagia sambil terus melambaikan tangannya dengan sangat bersemangat meskipun sendi-sendi lengannya terasa lelah. Tidak apa-apa. Dia bisa bertahan demi rakyatnya yang sudah berjalan berhari-hari dari desa mereka untuk bisa sampai ke sini, dan itu semua demi dirinya. Apalagi kenyataan tentang aturan ketat sihir perpindahan yang diterapkan di Thussthra. Usaha untuk sampai ke istana utama jelas patut dihargainya.

Airella kecil membayangkan jika hari itu akan menjadi awalan bagi Ratu Myrella untuk bisa melepaskannya secara bebas. Tidak penuh kekangan dan aturan ketat seperti yang selama ini diberlakukan Ratu Myrella untuknya. Ibunya sendiri itu membatasi jenis sihir yang boleh diajarkan kepadanya. Tongkat sihir hanya akan diberikan pada Airella pada waktu latihan sihirnya dan itu sangat jarang. Tongkat itu pun akan diambil kembali oleh sang Master ketika pelajarannya selesai. Selain itu, gerak Airella di dalam istana pun sangat terbatas. Bahkan untuk urusan berjalan-jalan di taman istana sekalipun, ibunya akan menyuruh belasan interoir senior Thussthra untuk mengawalnya.

Lalu sayangnya, harapannya hari itu pupus ketika sikap paranoid ibunya justru semakin menjadi. Di usianya yang ketujuh belas, sang ratu justru mengurungnya di dalam menara paling tinggi yang ada di Thussthra dengan pengawalan melebihi ketatnya penjara Thussthra. Airella tidak tahu benar apa yang sebenarnya membuat ibunya menjadi seperti itu padanya.

PUTRI AIRELLA
Source : Pinterest

Hari-hari pertamanya di dalam menara itu adalah saat-saat terburuk yang pernah dialaminya. Airella nyaris putus asa sampai tak sengaja dia menemukan pintu rahasia yang mengarah pada satu ruangan di atas ruangannya yang rupanya adalah perpustakaan sihir tua. Rak-rak penuh oleh buku-buku sihir tua dan di sebuah peti di ujung ruangan yang ditutupi debu, Airella menemukan tongkat sihir pertama yang benar-benar menjadi miliknya. Airella yakin bahkan ibunya sendiri tak tahu tentang perpustakaan itu karena ruangan Airella dianggap sebagai puncak menara. Dan di dalam perpustakaan itu, dia akhirnya bisa belajar semua ilmu sihir yang tak pernah diajarkan padanya. Serta untuk pertama kalinya, Airella tahu bahwa tingkatan sihir yang bertahun-tahun diajarkan kepadanya hanyalah sihir dasar yang bahkan sudah biasa dikuasai oleh penyihir di kerajaan di usia ketigabelas mereka.

Maka Airella mulai bertekad berlatih sendiri sihir melalui buku-buku yang ada di perpustakaan ini. Dia sangat berhati-hati melakukannya. Berusaha tak meninggalkan jejak apapun agar keberadaan perpustakaan itu tak terungkap. Pelajaran sihir seorang dirinya juga tidak bisa dikatakan semudah yang dibayangkannya selama ini. Tangannya tak sengaja terbakar karena mantera yang keliru dan dia harus menahan luka lebih besar dengan membakar tangannya kembali ke api di perapian ruangannya untuk melenyapkan jejak sihir dari tangannya. Bekas luka bakar serius itu masih menyelimuti tangan kirinya sampai sekarang. Merah menghitam sampai ke pergelangannya.

Dia masih ingat bagaimana wajah panik dan marah Ratu Myrella mendengar berita terlukanya dirinya. Dia menghukum semua pelayan yang bertugas menjaga Airella dan melempar mereka ke penjara Thussthra meskipun Airella menangis berlutut pada sang ratu agar tidak melakukan itu. Airella mengatakan itu salahnya karena tak hati-hati sehingga dia tersandung ujung karpet dan membuatnya terjungkal hingga tangan kirinya jatuh tepat ke perapian yang menyala. Tapi Ratu Myrella tak peduli. Dan Airella merasa bersalah pada pelayan-pelayan itu, meskipun dia tetap membisu pada alasan asli terbakarnya tangan kirinya. Sihir sudah membuatnya jatuh cinta dan dia tidak bisa mengambil resiko apapun untuk kehilangan kebebasannya akan perpustakaan sihirnya. Tidak. Airella tidak akan bisa.

Bahkan dengan insiden itupun, dia terpaksa tidak melatih kemampuan sihirnya melalui buku-buku di perpustakaan rahasianya karena sang ratu memutuskan tidur bersama Airella selama beberapa hari karena kekhawatirannya yang berlebihan, belum lagi pelayan dan interoir yang berjaga sehari semalam di ruangannya. Airella harus bersabar selama berminggu-minggu hingga akhirnya dia berhasil membujuk sang Ratu untuk mengurangi penjagaan di ruangannya. Meski berat hati, Ratu Myrella mengizinkannya dan Airella tersenyum penuh rahasia, membayangkan latihan sihirnya di malam hari. Dia sudah merindukan perpustakaan rahasianya itu setengah mati.

Lalu tepat setahun lalu, ketika usianya sembilan belas tahun, Airella mendengar kikik tertahan aneh di belakangnya ketika dia salah merapal mantra yang berakibat dengan terlemparnya buku sihir di tangannya hingga membuat dia terjungkal karena terkejut.

Kikikan itu semakin keras dan Airella memutar kepalanya dengan khawatir, bagaimana jika itu adalah salah satu pelayan ibunya menemukannya ada di tempat ini. Namun alih-alih menemukan pelayan istana Thussthra, Airella justru menemukan seorang perempuan dengan gaun panjang khas zaman lampau seperti yang dikenakan oleh perempuan-perempuan di lukisan yang banyak tergantung di dinding kerajaannya.

“Sihir yang mengerikan untuk ukuran penyihir seusiamu,” komentar si perempuan masih  dengan kikikan tertahan dan wajah geli yang kentara.

“S…siapa kau?”

“Oh,” si perempuan berjenggit dengan pura-pura, “Aku harusnya memperkenalkan diriku terlebih dahulu.”

Dan dia berjalan dengan sangat riang dan berhenti tepat di samping Airella yang masih berada dalam posisi terjungkalnya. Dia berjongkok, menatap lurus ke sepasang manik abu-abu mata Airella dan berucap dengan sakral, “Aku, Ritta, memberi salam padamu, wahai Airella putri dari Ratu Myrella. Mulai dari hari ini dan selanjutnya sampai tiba di hari kematianmu, aku tunduk di bawah sumpah lama kaum kami. Aku akan menjadi Anilamarry-mu dan kau adalah penyihir pemilikku.”

Kedua mata Airella terbuka lebar dan mulutnya menganga tak percaya. Dia sudah sering mendengar tentang Anilamarry. Bahkan ketika dia tak sengaja melihat Anilamarry milik ibunya, dan menyadari betapa hebat dan bergunanya mereka, Airella berharap sepenuh hati agar suatu saat entah kapanpun itu, dia akan bisa memiliki Anilamarry-nya sendiri. Lalu disinilah makhluk sihir itu sekarang berada, duduk berjongkok di depannya dalam wujud perempuan. Dia, itu… Anilamarry-nya. Miliknya.

“Bisa kau tutup mulutmu? Aku khawatir kau akan kemasukan banyak debu. Ruangan ini menyedihkan, kau tahu?” Ucap Ritta sambil berdiri dan mengamati sekitar, “Kau ini putri kerajaan atau pelayan hina sih sebenarnya? Malang benar ruangan penampakan pertamaku. Ini benar-benar tidak bisa dibanggakan. Memnus akan mencelaku habis-habisan jika dia tahu kesialanku ini. Apalagi aku baru muncul setelah penyihir pemilikku sudah sebesar itu. Tsk tsk tsk.”

Lalu dia menoleh secara mendadak ke arah Airella yang masih terpatung, “Kau mau berdiri dari situ tidak?”

Dan kejadian itu sudah setahun berlalu. Awalnya memiliki Ritta yang sangat cerewet dan menyebalkan merupakan tekanan tersendiri baginya. Namun setelah bulan demi bulan dia berlatih sihir tanpa berpikir menyerah sedikitpun, kemampuannya meningkat cukup pesat. Bahkan Ritta pun mengakuinya. Airella juga mulai bisa mengontrol Ritta sedikit demi sedikit. Selain itu, Ritta juga sepenuhnya tahu situasi seperti apa yang dia hadapi, jadi ketika ada penyihir senior atau bahkan ibunya di sekitarnya, dia akan sepenuhnya menghilang, sehingga jejak keberadaannya sepenuhnya tak terdeteksi.

“Jika perang benar-benar terjadi, aku berani bertaruh jika Ratu Myrella akan membawamu ke tempat paling aman di Tierraz. Entah dimana pun tempat itu berada. Kuberitahu kau satu hal, tuan putri, meskipun terlihat sedikit sinting, Ratu Myrella itu tetap ratu Thussthra dan dia punya kekuatan yang tidak bisa kau anggap enteng. Belum lagi tentang Nyrlj, jujur saja aku tidak mau berurusan dengannya. Dia kuat dan tidak bisa digoda. Tipe membosankan yang bisa sangat merepotkan dalam pertarungan.”

Airella menatap Anilamarry-nya itu dengan lelah. Dia mengangguk nyaris terlihat pasrah, “Lalu apa saranmu, Ritta? Jangan bilang tentang kabur itu lagi. Aku tidak akan berubah pikiran.”

Ritta mengerjap, “Kau minta saran dariku? Wow!”

“Katakan saja!”

“Baiklah. Baiklah.” Dia melompat mendekat dan berjalan ke arah Airella, mencondongkan badannya dan berbisik, “Kau terima saja perjodohanmu dengan pangeran Diaz.”

Airella melotot, “Perjodohan dengan siapa?” Teriaknya.

“Sssst.. kita di hutan bebas, tuan putri. Kau mau tau ada prajurit kurang kerjaan yang keluyuran di hutan mendengar jeritan tuan putri mereka dan melapor pada Ratu Myrella, hah? Kau lihat itu, ujung menara penjaramu bahkan bisa terlihat dari sini.”

Airella menarik nafasnya, berusaha menemukan kesabarannya, “Apa yang kau katakan sebelumnya?”

“Yang mana? Yang kau jangan berisik atau yang menara penjaramu yang kelihatan dari sini?”

“Ritta!!” Bentak Airella.

Ritta terkikik, mengangkat kedua tangannya, “Baiklah..baiklah, tuan putri. Begini, berhubung kau itu menyedihkan sekali jika berhubungan dengan kabar burung yang berkicau di istanamu sendiri, aku akan memberitahumu informasi ini dengan cuma-cuma asalka–”

“Ritta!”

“Baiklah,” Ritta kembali mengangkat kedua tangannya meskipun wajahnya jelas tak mau repot-repot menyembunyikan wajah puasnya, “Jadi begini, seluruh pelayan di istana ini, siang dan malam sibuk membicarakan tentang kabar pernikahanmu dengan pangeran bungsu dari kerajaan Alkrez. Kau hanya dapat pangeran bungsu karena pangeran sulung sudah menikah dengan anak penyihir bangsawan dari Alkrez sendiri. Dan anak kedua si raja adalah perempuan, maka kau dapat si pangeran bungsu. Namanya pangeran Diaz, yang sayangnya sangat terkenal liar dan yah.. sangat tidak bisa diandalkan jika kau mau mencapai tahta tertinggi.”

Airella memicingkan matanya tak percaya, “Kau yakin?”

Ritta mengangguk cepat sekali, “Sangat yakin. Itulah sebabnya kenapa Ratu Myrella sudah hampir lima hari tak datang ke menaramu. Kurasa dia sedang sibuk dengan urusan ini.”

“Dan kenapa kau ingin aku menerima pernikahan ini?”

“Agar kau bisa keluar dari menara itu. Ketika kau bisa keluar lebih jauh dari tempat itu, kau bisa mengunakan sihir perpindahan lebih jauh. Kau tahu, aku tidak bisa membantumu dalam sihir, Airella. Dan jika kau mau kuingatkan, sihir perpindahan hanya berlaku untuk tempat yang sudah pernah kau kunjungi sebelumnya. Hutan ini adalah tempat terjauh yang bisa kau capai, itu pun setelah aku membantumu menyusup keluar dengan sangat susah payah. Tapi kau lihat itu, dari sini kau bahkan bisa lihat menaramu, istanamu. Tempat ini tak cukup jauh untukmu belajar. Sihir butuh ruang lebih luas. Kau harus mempraktekkannya, bukan hanya memahami teorinya saja. Terima pernikahanmu, dan minta calon suamimu itu membawamu ke hutan-hutan yang jauh. Kau tahu, pangeran Diaz punya julukan pangeran belantara bukan tanpa sebab, dia adalah satu-satunya penyihir keturunan kerajaan yang sudah menjelajahi hampir sebagian besar hutan di Tierraz. Artinya dia bisa membawamu ke tempat-tempat jauh lewat sihir, dan kalau kau sudah menginjak sendiri tanah jauh itu dengan kakimu, kau bisa kesana lagi tanpa perlu bantuan darinya.”

Airella menatap kedua mata Ritta dalam keheningan yang sanggup dimengertinya sendiri. Semua yang dikatakan Ritta masuk akal. Dan tak satupun dari ucapan Ritta yang keluar dari tujuan hidupnya. Dia tersenyum, tipis sekali. Tak lama kemudian, dia mengangguk.

***

“Ribi!”

Ribi terbangun dengan kepala pusing dan terkejut mendengar suara keras Ares yang disertai guncangan keras di badannya. Dia merasa baru saja memejamkan matanya untuk tertidur dan Ares sudah membangunkannya dengan kasar seperti itu.

“A..ada apa?”

Mengerjap berkali-kali, Ribi menyadari jika Ares sudah berpakaian lengkap, bahkan busur dan tabung anak panah yang penuh terisi sudah terikat rapi di punggungnya.

“Kita pergi sekarang!”

“Tapi ad–?”

“Sekarang, Gabrietta!”

Ribi langsung mengangguk begitu menyadari wajah panik Ares. Jelas ada hal buruk yang sedang terjadi. Tak peduli dengan gaun tidur hijau lembut selutut milik para Elf yang diberikan padanya, Ribi langsung menyambar tongkat sihir di bawah bantal daunnya serta menyampirkan busur dan mengikat tabung anak panah yang sudah disiapkan Ares untuknya denga tergesa.

Suara ribut terdengar mendekat dan Ares menggeleng, “Tidak ada waktu, Ribi.”

Dia langsung menyambar lengan Ribi dan menarik Ribi yang masih bertelanjang kaki untuk berlari ke arah pintu keluar rahasia yang ditunjukkan oleh Elf perempuan yang dulu ditugasi Foster untuk menjelaskan segala seluk beluk tempat ini kepada mereka berdua sejak awal mereka di sini. Bahkan, entah Ares memang sudah merasakan firasat buruk atau apa, beberapa hari lalu dia memohon pada Rakhae, Elf tangan kanan Foster untuk memberi mereka ruangan tidur terdekat dengan pintu rahasia itu. Dan sekarang, di pintu itu, seorang Elf perempuan sudah menunggu mereka.

“Cepatlah, Areschia, Gabrietta..” wajah si Elf terlihat khawatir. Dia berulangkali melihat ke arah belakang  Ribi dengan gugup.

Dan begitu Ares dan Ribi berada dalam jangkauan tangannya, dia menarik tangan Ares dan mengenggamkan sesuatu yang tak bisa dilihat Ribi.

“Cepatlah, agar aku bisa segera menghancurkan pintu ini. Kau sudah tahu arah mana yang kau ambil bukan, Areschia?”

Area mengangguk.

“Semoga langit dan bintang memberimu petunjuk. Berhati-hatilah.”

Dan begitu saja dia mendorong Ares dan Ribi dengan cepat sebelum membanting pintu yang menyatu bersama batang pohon besar di bawah tanah. Ares tak tahu bagaimana para Elf bisa membangunnya dan dia juga tidak punya waktu untuk berpikir karena suara gemuruh mengejarnya di sepanjang lorong tempat dia dan Ribi berlari, seolah lorong ini akan runtuh menimpa mereka.

Ribi juga tak berani bertanya atau bahkan membuka mulutnya, dia hanya terus berlari sekuat yang dia mampu sampai mereka bisa keluar dari area sihir perlindungan bangsa Elf sehingga mereka bisa menggunakan sihir perpindahan mereka. Tapi sejauh mereka berlari, sihir perlindungan bangsa Elf masih bisa dirasakannya dengan kuat.

Nafas keduanya memburu bersama kegelapan yang mengitari mereka, satu-satunya alasan mereka bisa menemukan jalan yang benar adalah bola api pijar kecil berwarna hijau yang melayang cepat di depan mereka. Bola api itu keluar ketika Ares membuka genggaman tangannya begitu pintu rahasia di belakang mereka terbanting menutup, dan Ribi tak perlu lagi bertanya tentang benda apa yang terbaru diberikan si Elf perempuan pada Ares karena bola penunjuk itu adalah jawabannya.

Ribi khawatir pekatnya gelap di sekitarnya bisa membuatnya buta. Namun genggaman tangan Ares yang kuat menghilangkan semua ketakutan yang melingkupinya. Dia bahkan terus berlari meskipun dia bisa merasakan sakit luar biasa di telapak kakinya yang telanjang.

“Kau bisa berenang, Ribi?” Tanya Ares cepat ketika dia melihat ujung cahaya yang telah dekat.

“Apa?”

Tapi belum sampai Ribi sanggup mencerna apa yang dikatakan Ares, dia sudah mendengar teriakan Ares di depannya, “Lompat!”

Ribi merasa otaknya membeku beberapa detik kemudian ketika tekanan air menyambutnya. Telinganya berdenging keras dan kepalanya dihantam rasa sakit yang luar biasa. Dia merasakan seolah seluruh tubuhnya remuk dan lumpuh.

Dia berusaha membuka matanya namun dengan panik langsung berusaha untuk berteriak ketika air menguasai sekitarnya. Dia bisa merasakan air memenuhi dadanya dan arus kuat membolak-balik seluruh tubuhnya tanpa belas kasihan. Lalu tiba-tiba perasaan itu menghantamnya, rasa takut yang luar biasa mengerikan, ada perasaan buruk tentang air. Seolah Ribi merasa bahwa air di sekitarnya akan membunuhnya. Ribi berusaha berteriak dan melepaskan dirinya sebelum akhirnya kegelapan total menyergapnya dan menelan lenyap kesadarannya.

***

“Ribi.. Ribi..”

Ares menggoyangkan-goyangkan tubuh Ribi sebelum akhirnya dia mundur dengan cepat ketika Ribi memiringkan kepalanya dan terbatuk-batuk dengan mengeluarkan banyak air dari mulutnya.

“Kau tidak apa-apa?” Ares kembali maju dan membantu Ribi yang tengah beringsut bangun.

“Kau bodoh sekali, Gabrietta! Jangan pernah lagi melakukan itu. Jika kau tidak bisa berenang, kau harusnya katakan padaku sebelum aku menarikmu melompat ke aliran sungai itu.”

Ribi yang baru saja mencerna apa yang terjadi padanya hanya bisa menatap Ares yang berteriak marah padanya. Bagaimana bisa perempuan ini justru meneriakinya seperti itu ketika dia baru saja selamat dari kematian?

Tapi sebelum Ribi sanggup menjawab ucapan Ares, perempuan itu sudah mengayunkan tongkat sihirnya dan seluruh tubuh Ribi yang basah kuyup langsung kering seolah dia baru saja keluar dari mesin pengering otomatis. Hanya ada sedikit rasa lembab yang dirasakannya di kulit kepalanya, tapi selebihnya, dia merasa hangat. Apalagi sudah ada api unggun kecil tak jauh dari mereka.

“Jangan berdiri, aku baru saja mengolesi telapak kakimu dengan ramuan obat daun liar. Biarkan mengering atau lukamu tak akan sembuh.”

“Terima kasih.” Ribi mengangguk cepat ketika Ares mengulurkan padanya tabung air. Dia meneguk air di dalamnya dan entah kenapa dia merasa sangat segar.

“Aku mencampurnya dengan antropilla, jika kau mau tahu.”

Ribi langsung mengerti. Antropilla, minuman obat yang dulu juga diterimanya ketika berada di kerajaan milik Lord Landis.

“Kau seharusnya berkata lebih lembut padanya, Ares.”

Ribi mendongak dan baru menyadari keberadaan Barielle yang tengah duduk tak jauh darinya. Tangannya menggenggam beberapa ranting kering yang akan ditambahkannya ke api unggun.

“Tutup mulut, Barielle.”

Si wanita tua terkekeh, “Kau harusnya lihat bagaimana panik dan takutnya dia melihatmu tak bergerak tadi. Oh aku telah mengabadikan wajah itu dalam kepalaku. Jika kau mau, aku bisa memperlihatkannya padamu, Gabrietta dan bi–aw aw. Baiklah. Aku berhenti. Cukup!”

Ribi beralih memandang Ares dan dia langsung tahu bahwa Ares baru saja merapalkan entah mantera apa pada Barielle yang langsung melompat ke arah Ares dalam bentuk kucing–perwujudan kesukaannya–dan bergelung diantara kaki Ares.

“Sebenarnya apa yang terjadi di tempat Foster tadi?”

Ares menoleh, menarik nafas panjang dan menjawab pelan, “Elf liar. Pasukan milik Lord Landis menyerang, mereka memburu kita. Tapi kurasa tadi hanya Aelden yang memimpin, sebab jika memang di bawah kendali langsung dari Lord Landis, kita sudah pasti sedang ada di penjara kerajaan mereka sekarang.”

“Tapi kenapa? Rumah kelompok Foster juga adalah rumah para Elf. Mereka tidak seharusnya–”

“Kau benar-benar tidak membaca sejarah Tierraz dengan baik, ya?” Sindir Ares yang langsung membuat Ribi terdiam. “Perang di masa lalu memecah belah para Elf, Ribi. Kau harusnya tahu kenapa kelompok Lord Landis disebut kelompok Elf liar.”

Ribi langsung mengangguk, “Maafkan aku.”

Ares mengabaikan dan kembali menatap ke arah api unggun. Ribi tidak bisa membaca apa yang tengah berkecamuk di kepala Ares namun dia tahu bahwa Ares mengkhawatirkan banyak hal.

“Kita dimana sekarang?” Tanya Ribi berusaha memecah kesunyian. Dia mengamati sekelilingnya dan hanya pepohonan tinggi yang bisa dilihatnya. Bahkan langit malam hanya terlihat sedikit dari sela-sela rerimbunan daun.

“Hutan perbatasan timur wilayah kerajaan Alkrez dan Sparzvia. Kita berada cukup jauh dari Mozaro dan Thussthra.”

“Apakah tidak sebaiknya kita kembali ke Zerozhia?”

Ares menggeleng, “Dave tahu sedang ada hal yang salah yang berlangsung di sana. Itulah kenapa dia dengan bodoh melepaskan sihirnya ketika Sorglos menangkap kita. Kita tak bisa kembali sampai kita tahu apa yang benar-benar telah diketahui Dave tapi belum diberitahukannya pada kita.”

Ares menghela nafas lagi, “Aku tidak bisa mengambil resiko membuat semua yang sudah kita lalui sia-sia, Ribi.”

“Tapi, jika kita terlalu jauh berada di sini. Bagaimana Dave dan Fred bisa menemukan kita? Kau jelas sudah menghabiskan semua energi sihirnya untuk membawa kita ke sini. Hutan rumah Foster dan tempat ini jaraknya bahkan bisa dalam hitungan bulan berjalan kaki.”

Ares tertawa kecil, “Kau mulai pandai, Ribi.”

“Apa?”

“Sayangnya kau benar. Aku tidak sanggup membawa kita ke hutan perbatasan Mozaro lagi dalam waktu dekat. Kita tidak punya pilihan lain kecuali menunggu aku pulih atau kau bisa membawaku dengan sihir perpindahanmu. Aku yakin pilihan nomer dua itu sulit, bukan?”

Ribi mengernyit, tahu jika Ares benar. Sihir perpindahan adalah sihir level tinggi. Membawa dirinya sendiri saja dia mungkin akan gagal. Apalagi dengan membawa Ares bersamanya. Tapi Ribi tahu dia tidak boleh menyerah begitu saja.

“Kau bisa mengajariku kalau begitu?”

Ares memicingkan matanya, lalu menggeleng, “Aku tidak bisa. Butuh beberapa hari sebelum aku sanggup melakukan sihir lagi. Tidakkah kau bisa merasakan kubah perlindungan di sekitar kita? Aku tidak punya energi tersisa lagi, Ribi.”

“Tap–”

“Berbaringlah, kau butuh istirahat. Dan aku juga membutuhkannya.” Tandas Ares sebelum dia menggeser gulungan bulu Barielle dan membuat tempat untuknya tidur.

“Selamat malam, Gabrietta.” Si kucing mengeong setelahnya sebelum kembali melompat lebih dekat ke dalam dekapan Ares yang sudah memejamkan matanya.

Ribi mendesah. Lalu beringsut mendekat ke api unggun yang menyala kecil. Entah kenapa, seluruh kalut di kepala dan pikirannya berangsur luruh ketika dia memandang lidah-lidah api yang menjilat-jilat.

Seandainya dia bisa lebih kuat, gumamnya nyaris tanpa suara.

***

Dave mengerjakan matanya. Merasakan hangat di pipinya, dan begitu matanya terbuka, lidah-lidah api di dekat perapian menyambutnya. Dia beringsut mundur dengan cepat begitu menyadari tempatnya berbaring berada begitu dekat dengan perapian menyala.

“Sudah bangun, keturunan Mevonia? Kupikir kau akan bangun setelah satu malam, tapi ternyata aku harus menunggu beberapa hari untuk melihatmu terbangun.”

Dave membalikkan badannya dan langsung berdiri. Sosok tegap dan tinggi milik Reven berdiri tak jauh darinya, kedua tangannya terlipat di depan dada dan matanya menatap lurus pada Dave.

Hal pertama yang kemudian diingat Dave adalah bagaimana dia setuju untuk melakukan apapun yang diminta oleh Reven agar dia bisa memberikannya batu segel Xexa, atau setidaknya memberitahunya di mana sang putri penjaga yang adalah belahan jiwanya menyimpan batu itu. Lalu Reven menyuruhnya menegak habis cairan dalam piala perak yang disodorkan olehnya. Awalnya Dave ragu, namun dia tahu dia tak punya pilihan lain.

Dave mempertaruhkan segalanya dalam segelas piala itu, jika Reven meracuninya, maka habis sudah ceritanya. Dia tak akan punya kisah yang bisa diturunkannya pada penerusnya. Lalu benar saja, begitu teguk terakhir ditenggaknya, Dave merasa tubuhnya begitu ringan, dan dia tak bisa mengingat apapun setelahnya.

“Minuman apa yang kau berikan padaku?”

Sudut bibir Reven tertarik ke atas, “Aku hanya memberimu sebuah harga yang harus kau bayar untuk mendapatkan Xexa.”

Dave mengamati Reven dengan kening berkerut, dia tak mengerti. Dan wajah misterius Reven yang berdiri di remang cahaya jauh perapian tak membantunya menebak. Bahkan jika Dave berpikir lebih dalam lagi, dia bahkan belum pernah benar-benar mengamati wajah Reven. Maka, ketika Reven akhirnya melangkah maju, dan membiarkan dirinya masuk dalam terang cahaya api, Dave bisa melihat garis tegas wajah Reven. Dan sepasang mata biru yang mengamatinya lekat.

Dave mengakui bahwa itu bukan jenis penampakan yang mengerikan untuk ukuran makhluk yang telah hidup sejak masa leluhurnya. Yang mengherankan justru bagaimana bisa? Argulus saja terlihat seperti kakek tua yang bisa dengan mudah dirampok di jalanan kota yang ramai. Tapi lihatlah sosok yang tegap di depannya itu, mungkin ada guratan usia di wajahnya tapi selebihnya nihil. Jelas ada sihir kuat yang tertanam di tubuhnya yang membuatnya bisa hidup lama sampai saat ini, pikir Dave dalam diamnya.

“Aku meminta kau membayarnya di awal, dan minuman itu adalah gerbang awalnya.”

“Membayar untuk Xexa?”

Reven menggeleng dan gerakan itu membuat kesabaran Dave menghilang. Jika Reven menipunya, dia bersumpah akan membunuh makhluk di depannya itu dengan sihir yang paling menyakitkan.

“Kau membayar cara untuk menemukannya.”

Mata Dave melebar, “Kau tidak tahu di mana Xexa berada?”

“Aku tahu, tapi aku juga tidak tahu.”

“Berhenti bermain-main denganku!” Dave membentak dengan keras namun suaranya langsung terhenti ketika tangan Reven sudah di lehernya, mencekiknya dan nyaris meremukkannya jika dia melakukannya lebih lama lagi. Gerakan itu terlalu cepat dan dengan rasa tercekik yang sakitnya luar biasa, ditambah tidak adanya pasokan udara yang masuk ke kepalanya, seluruh rapalan mantra di kepalanya lenyap.

Reven mengangkat tubuh Dave dengan satu tangannya hingga kaki Dave melayang dan menendang-nendang dengan panik. Jika saja Reven terlambat melepaskan cengkramannya di leher Dave, bisa saja Dave sudah mati.

“Berhenti membuatku kehilangan sikap baikku terhadapmu, penyihir. Kau tidak tahu seberapa besar aku berusaha menahan diriku untuk tidak membunuhmu, keturunan Mevonia.” Ucap Reven penuh aura membunuh sebelum dia melempar tubuh Dave hingga tertarik beberapa meter darinya.

Berusaha terbangun dengan susah payah sementara dia juga segera meraup suara di sekitarnya dengan rakus, Dave memandang  Reven dengan mata berair.

“Mevonia menipunya. Membunuhnya. Dan mengambil hal terpenting dalam hidupku dan hidupnya. Percayalah, jika aku tidak membutuhkanmu, aku sudah pasti telah membunuhmu dengan cara paling keji yang kau pun bahkan tak sanggup membayangkannya.”

Dave berdiri dengan sedikit gemetar karena rasa sakit di mata kakinya yang sepertinya terantuk lantai dengan keras. Dadanya naik turun dengan cepat, mencoba mengontrol emosinya. Mulutnya merapal mantra, dan tangan kirinya tergenggam rapat, mengepal.

Tapi Reven justru memandanginya dengan tenang, “Simpan rapalan mantramu, anak muda. Kalau aku mati, kau juga akan mati.

“Apa–?” Dave memaki. Kini sadar apa yang sudah dilakukan Reven dengan minuman yang diberikannya pada Dave sebelumnya.

“Jadi apa yang kau inginkan?” Tegas Dave tanpa menurunkan sedikitpun pandangan kesalnya pada Reven.

“Temukan apa yang sudah dicuri Mevonia dari kami. Penuhi sumpahku dan kujamin tak akan ada kematian menyakitkan untukmu dariku.”

“Apa kau pik–”

“Dan kau akan dapatkan Xexa bersamaan dengan terpenuhinya sumpah itu.”

Dave berhenti, menatap Reven. Mencoba mencari kebohongan di sana, namun dia tahu benar bahwa ekspresi Reven menunjukkan betapa seriusnya dia.

“Sumpah apa?”

“Putriku. Temukan putriku.”

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. Gak ketebak jeee… Punya anak?? Gimana cerita??? Astaga.. Rasanya pengen bisa ngintip otak mu deh.. Biar bisa tau ini cerita lanjutannya gmn.. Hahahha

  2. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.