Xexa – Rahasia Masa Lalu

Dave menghela nafas dengan berat. Nyaris satu jam berlalu dan dia mulai bosan berada di dalam pesta ini. Dia malas bersandiwara dengan semua tutur kata dan ekspresi senang yang sesungguhnya membuatnya muak. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, Dave mundur dari pusat kerumunan dan menjauh. Dia berusaha tampak terburu-buru untuk menghindari percakapan baru dengan orang lain.

Begitu mencapai pintu samping, dia mengumamkan sebuah mantra sehingga tak seorang pun akan menyadari bahwa dia membuka pintu tersebut dan menghilang di baliknya. Dave berjalan melewati koridor menuju pintu lain yang akan membawanya keluar dari kastil ini. Dia terus berjalan dan begitu sampai di luar kastil setelah dia melewati satu pintu lainnya, dia menarik nafas panjang. Udara malam selalu membuatnya merasa nyaman.

Cahaya bulan di atas langit memendarkan cahaya terang di seluruh halaman kastil yang luas. Dave memejamkan matanya, mencoba melenyapkan semua pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya sepanjang pesta. Dengan kesal dia membuka matanya. Merasakan ada langkah kaki lain yang tengah menuju ke arahnya. Dia menunggu pintu di belakangnya terbuka.

“Kenapa kau mengikutiku?” suara dalamnya mengagetkan sosok lain yang mengendap membuka pintu dengan perlahan.

“A-aku..”

Dave memicingkan matanya, tidak bisa mengenali siapapun itu yang nampak samar bersembunyi di belakang pintu. Dengan pelan sosok itu membuka pintu tersebut, dan sosok utuhnya berdiri tak jauh di depan Dave yang memandanginya dengan kerutan dalam di keningnya.

“Ribi?”

Ribi mengigit bibir bawahnya, “A-aku tidak bermaksud mengikutimu. Aku hanya ingin ke kamar mandi. Aku melihatmu menuju pintu di samping ruangan pesta sebelum kau tiba-tiba menghilang.”

Mata tajam Dave masih mengamati Ribi dengan semakin fokus. Ribi menelan air ludahnya, mengutuk keputusannya mengikuti Dave. Laki-laki ini jelas masih laki-laki pemarah yang dulu membawanya masuk ke dunia ini.

“Baiklah aku berbohong.” Akunya akhirnya.

Dave melipat kedua tangannya ke depan dada, menunggu.

“Beberapa menit yang lalu aku tanpa sengaja memperhatikanmu. Aku melihat kau menerobos kerumunann di pesta dengan wajah malas dan sebal. Kupikir kau tidak menyukai pesta ini dan ingin pergi dari sini. Sejujurnya aku juga ingin pergi dari sini. Namun sepertinya Argulus belum akan pulang sampai pesta ini berakhir jadi kurasa..”

“Kau mengikutiku untuk memintaku mengantarmu pulang?” potong Dave.

Ribi menggeleng cepat, “Bukan!” sahutnya keras. “Tidak, aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu. Aku hanya ingin ikut denganmu keluar dari pesta itu. Setelahnya aku hanya akan menunggu di luar sampai pesta ini selesai. Aku hanya tidak ingin berada di dalam sana.” Katanya sambil menundukkan wajahnya.

Dave diam dan mengamati Ribi. Perempuan ini tidak terlihat berbohong dan ketika Ribi menundukkan wajahnya perlahan, Dave menyadari bahwa malam ini Ribi sangat berbeda dengan perempuan yang dibawanya dari dunia lain beberapa waktu lain. Dave mau tidak mau mengakui kalau Ribi terlihat jauh lebih baik dengan baju dan dandanan seperti itu.

“Argulus yang membawamu ke sini?”

“Ya.” jawabnya singkat. Dia tahu dia berbohong. Namun Ribi benar-benar tidak ingin Dave tahu bahwa dia juga mengenal Fred. Dia tidak yakin apakah Dave akan setuju atau tidak jika ada penyihir lain selain Dave yang tahu bahwa dia adakah murid dari Argulus.

Dave kembali diam cukup lama dan itu benar-benar menganggu Ribi. Dia mulai khawatir jika Dave pun tidak suka jika dia datang ke pesta ini. namun ketika Dave membalikkan badannya dan berkata, “Baiklah. Ikut denganku kalau begitu.”, Ribi bisa bernafas lega dan bergegas mengikut Dave di depannya.

Dia memilih berjalan di belakang Dave dan tidak menjajari langkahnya. Dia memandang punggung Dave yang tegap, sedetik dua detik dan semua kejadian beberapa saat lalu yang dilihatnya langsung memenuhi benaknya.

Fred dan dirinya berbicara begitu banyak hal. Sudah banyak penyihir pula yang datang ke arah mereka dan berbincang ala kadarnya dengannya dan bicara banyak hal lain dengan Fred yang tidak dimengertinya. Sesekali beberapa penyihir laki-laki seusia Fred terlihat mengobrol dengan Fred namun sesungguhnya hanya bermaksud mengenal dan menggoda Ribi. Namun sikap protektif yang ditunjukkan Fred pada Ribi membuat mereka menyadari bahwa entah bagaimana Fred sudah menandai Ribi sebagai perempuannya.

Pipi Ribi merona dan dia sudah merasa seperti terbang ke atas awan. Berada di pesta seperti ini bersama dengan laki-laki yang dia sukai dan menerima semua perhatian seperti ini. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur bisa berada di sini. Ribi bahkan mulai merasa nyaman dengan pesta ini meskipun Argulus sudah lama pergi meninggalkannya berdua dengan Fred untuk berbincang dan bertemu dengan penyihir kenalannya lainnya. Pesta ini seolah-olah menjadi ajang temu bagi banyak penyihir besar dan berpengaruh dari lima kerajaan. Tapi Ribi tidak lagi merasa khawatir, Fred yang tidak pernah meninggalkannya seorang diri membuatnya menghapuskan semua kekhawatiran jika ada yang bertanya tentangnya secara personal.

Namun rupanya perasaan nyaman itu bertahan kurang lebih satu jam lamanya. Ketika seorang perempuan menghampirinya. Sejak perempuan itu berjalan ke arah mereka, Ribi sudah bisa menyadari ada perubahan dalam ekspresi Fred. Laki-laki itu menatap ke arah perempuan itu begitu lama. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Ribi memandanginya dan memanggil namanya beberapa kali.

Fredderick Colfer?” suara perempuan itu terdengar dingin bahkan ketika dia menyapa Fred.

“Nona Ares.” Fred mengangguk ringan sementara Ribi mengamati mereka berdua. Lalu kedua bola matanya beralih memerangkap sosok yang kini berdiri di depan dia dan Fred. Perempuan ini sangat cantik. Dandanan dan penampilannya sama sekali tidak terlihat berlebihan. Riasan sederhananya justru memperjelas kecantikkan alaminya. Rambutnya yang digelung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang akan membuat laki-laki menahan nafas ketika memandangnya.

Ribi yang sibuk mengamati perempuan itu tidak menyadari kalau perempuan itu ternyata juga tengah mengamatinya. Kemudian ketika mata mereka berdua saling bertemu, Ribi buru-buru mengalihkan pandangannya. “Siapa dia?” suara perempuan itu kembali terdengar, “Kekasihmu?” kali ini dia memandang ke arah Fred.

“Bukan.” Fred menjawab cepat. Ribi menatap Fred sama cepat. Entah kenapa Ribi merasa ada sesuatu yang meremas jantungnya dan membuatnya merasa kesakitan di dalam sana. Dia seharusnya tidak merasakan hal seperti ini karena toh Fred juga tidak berbohong. Mereka berdua memang bukan kekasih. Atau mungkin, malah Ribi yang berharap kalau mereka memang kekasih.

“Sayang sekali. Padahal kupikir kalian terlihat serasi.”

“Terima kasih atas pujian anda, Nona Ares. Tapi saya dan Gabrietta hanya berteman.” Jawab Fred dengan sopan santun yang kentara. Melalui cara bicara dan penggunaan kata-katanya, Ribi bisa menebak bahwa status perempuan yang dipanggil nona Ares oleh Fred ini pasti lebih tinggi dari Fred.

Ares hanya tersenyum singkat, “Panggil saja aku Ares. Jujur saja aku sesungguhnya sedikit terganggu dengan tambahan embel-embel lain pada namaku. Kau juga bisa bicara santai denganku Fred. Kita satu sekolah dulu. Kau bahkan adalah beberapa tingkat di atasku bukan?”

Fred menatap Ares dengan ragu, namun sedetik kemudian wajahnya menyiratkan kelegaan, “Ares..” panggilnya singkat sebelum dia tersenyum.

Ribi mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah melihat Fred tersenyum dengan cara seperti itu. Tatapan mata Fred ketika dia memandang Ares pun terasa berbeda. Mungkinkah?? Dia menggeleng pelan, tidak. Mungkin dia hanya terlalu berpikir berlebihan. Imajinasinya konyol sekali. Ribi mencoba tersenyum.

“Terdengar menyenangkan.” Sahut Ares. Kali ini terdengar bersahabat. Tapi entah kenapa Ribi merasa nada bersahabat itu terkesan dibuat-buat. Dia menatap sebal ke arah Ares. Perempuan ini telah menganggu waktunya dengan Fred. Kapan dia akan pergi? Dia tidak akan berbincang lama dengan mereka di sini bukan?

“Lalu kau siapa?”

Ribi mengerjap terkejut. Dia tengah sibuk dengan pikirannya ketika mendadak Ares berbicara dengannya, “Gabrietta.” Sahutnya cepat meski dia masih sedikit terkejut, “Tapi kau bisa memanggilku Ribi jika kau mau.”

Entah kenapa Ares justru memandangnya dengan aneh, “Kau bukan dari Zerozhia?” Katanya lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

“Dia berasal dari Thussthra.” Kali ini Fred yang menjawab, dia menoleh ke arah Ribi dan tersenyum. Padahal sesungguhnya dia justru mempersulit Ribi. Ribi mengutuk dirinya sendiri. Kebohongan kecilnya kepada Fred kini membuahkan kebohongan-kebohongan lain yang Ribi percaya pasti akan menyulitkannya kelak. Dan perempuan ini, jika dia memang perempuan dengan kedudukan tinggi, ini mungkin benar-benar akan menjadi masalah.

Ribi membalas senyum Fred dengan kecut, menyadari bahwa Ares semakin mengamatinya dengan wajah serius, “Tapi aku tidak merasa mengirim undangan ke Thussthra kepada seseorang bernama Gabrietta.”

DEG

Mati! Ribi menyadari jantungnya berdetak sangat kencang. Bagaimana perempuan ini bisa bicara seperti itu? Apakah dia seseorang yang bertugas dengan segala urusan surat menyurat dan undangan resmi kerajaan Zerozhia? Kalau iya, maka selesailah. Dave benar-benar akan mengusirnya dari dunia ini jika dia tahu Ribi telah melibatkan diri dengan banyak penyihir penting di Zerozhia.

“Aku..” Ribi benar-benar kehilangan kata-katanya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sialnya lagi, perempuan itu terus saja mengamati Ribi.

“Tenang saja. Aku tidak akan mengusirmu.” Sahut Ares tiba-tiba, “Aku hanya bertanya karena aku butuh alasan bercakap-cakap dengan Fred.” Dia tertawa kecil. “Banyak penyihir-penyihir yang datang tanpa undangan karena mereka datang bersama mereka yang diundang. Tidak masalah. Tempat ini cukup besar dan kami sama sekali tidak keberatan.”

Ribi menganga. Membiarkan dirinya bernafas lega. Apa yang dikatakan Ares benar-benar membuatnya serasa dihidupkan dari kematian.

“Tapi tebakanku tepat bukan? Kau memang bukan berasal dari Zerozhia. Aku tahu dari caramu menjawab pertanyaanku. Jika seseorang dari Zerozhia yang menjawabnya, mereka pasti menjawabnya dengan menggunakan bahasa formal yang kaku.”

“Ma-maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Ak-“

“Tidak apa-apa, Ribi. Sudah kukatakan aku justru menyukai hal itu. Aku tidak nyaman dengan semua sebutan dan bahasa formal yang selalu dilontarkan orang-orang di Zerozhia kepadaku.”

Fred menyentuh lenganku, “Dia adalah nona Areschia Azhena. Putri dari nyonya Azhena, pemimpin pengganti di Zerozhia setelah Mahha Miranda meninggal. Dan bersama nyonya Azhena, non- Ares adalah tuan rumah di pesta kali ini karena kastil ini adalah kastil kediaman mereka”

“Terima kasih, Fred, tapi kau tidak perlu mengatakan semua detailnya.” Ares tersenyum, memandang Ribi sekilas sebelum dia kembali memandang ke arah Fred, “Aku perlu bicara sesuatu yang penting denganmu, Fred. Berdua saja.” Ucapnya mendadak tersengar begitu serius.

“Ta-“

“Ribi, kau tidak apa-apakan berada di sini sendirian?” potong Ares menghentikan jawaban Fred. Ribi yang termangu, segera mengangguk dengan terburu, “Ya.” Jawabnya. Fred menatapnya ragu, dia mengangguk, “Pergilah. Aku tidak apa-apa.” Ucap Ribi meyakinkannya.

“Ayo, Fred. Ikuti aku.” Kata Ares sambil berbalik dan tanpa memandang ke arah Ribi. Fred masih belum bergerak, dia memandang Ribi beberapa saat. Terlihat jelas bahwa dia khawatir untuk meninggalkan Ribi sendirian di sini. Tapi pada akhirnya dia mengangguk, menyentih lengan Ribi sekilas, “Aku akan segera kembali ke sini begitu nona Ares selesai berbicara denganku.” Ucapnya

Ribi mengangguk. Fred tersenyum dan langsung berjalan cepat mengejar Ares yang sudah jauh di depan. Lama, Ribi memandang punggung Fred hingga dia menghilang di balik kerumunan.

Apa yang tengah mereka bicarakan? Ribi menghela nafas panjang. Hampir menabrak Dave ketika dia sadar bahwa Dave mendadak berhenti. Di depan mereka berdiri perempuan yang begitu cantik dan anggun. Ribi mengenali siapa perempuan berrambut putih panjang itu, dia adalah perempuan yang pertama kali ditemui Ribi ketika Dave membawanya ke dunia ini. Dia mencoba mengingat siapa nama perempuan itu. Ah iya, Mora, ucapnya tanpa suara.

“Apa yang kau lakukan di sini, Mora? Apa kau ingin mencegahku pergi dari pesta itu?”

Mora menunduk hormat sebelum bicara dengan suaranya yang merdu, “Saya justru berniat menjemput anda untuk pergi dari sana. Ada pertemuan yang lebih penting untuk dihadari dari pada pesta itu.”

“Pertemuan?”

Mora mengangguk. Kemudian dia menjulurkan kepalanya, memandang lebih fokus ke arah Ribi yang sedari tadi diam mendengarkan. Sepertinya dia baru menyadari keberadaan Ribi sekarang, “Anda membawa perempuan ini ke pesta?”

“Ya.” Jawab Dave yang membuat Ribi kebingungan. Untuk apa Dave harus berbohong untuk hal itu. Sebelum dia sempat mengatakan apapun, Dave sudah berkata lagi, “Dimana pertemuannya?”

“Danau Merivor. Ikuti saya, pangeran.”

“Pangeran?” Ribi tanpa sengaja berbicara dengan cukup keras. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menunduk dalam-dalam. Mora harusnya sudah memanggil Dave dengan sebutan Mahha, bukan lagi pangeran. Dave menoleh sekilas pada Ribi sebelum dia juga melemparkan tatapan bertanya pada Mora.

“Ikuti saya, pangeran. Dan anda akan tahu jawabannya.” Jelasnya singkat. Mora langsung berjalan cepat menyeberangi halaman kastil yang luas. Dave dan Ribi mengikutinya dengan langkah lebar tak jauh di belakangnya. Mereka berhenti di depan gerbang kecil kastil yang langsung terbuka ketika Mora mengayunkan tangannya. Gerbang itu juga langsung mengayun tertutup ketika mereka bertiga melewatinya.

Setelah berjalan beberapa saat, Ribi bisa melihat kilauan air dan berkas cahaya bulan yang dipantulkan air. Mereka menuruni bukit kecil dan menekat ke Merivor. Satu pohon besar dan tua dengan dedahanannya yang rimbun menyambut kedatangan mereka. Di bawahnya, Ribi bisa melihat jelas gerombolan siluet yang diam menunggu. Begitu mereka hanya beberapa langkah dari pohon danau Merivor. Sosok-sosok di bawah pohon berjalan keluar dari naungan kegelapan pohon. Bersinar dalam wujud asli mereka melalui pendaran cahaya bulan. Dan begitu Ribi melihat mereka semua, dia terpaku selama beberapa menit. Berhenti dan menatap dengan mata melebar serta mulut terbuka.

“Kalian semua..” Dave tidak melanjutkan ucapannya, dia mendekat dengan cepat. Langkah kaki Dave kembali menyadarkan Ribi yang termangu. Dengan cepat dia mengikuti Dave dan Mora. Mereka berhenti tepat beberapa langkah dari kelompok itu.

Ribi mengedipkan matanya dengan cepat. Sosok-sosok di depannya menundukkan kepala mereka singkat dan mengangkat satu tangannya lalu menempelkannya ke atas dada mereka, “Kami memberi hormat kepada sang penerus Miranda.” Gaung suara-suara itu membahana di sekitar mereka.

Dave menunduk, melakukan hal yang sama, “Terima kasih atas kedatangan kalian semua ke sini. Aku merasa sangat terhormat.” Sahutnya yang terdengar begitu berwibawa. Sosok-sosok itu tidak mengucapkan apapun, satu yang dapat ditebak Ribi dari pancaran wajah-wajah yang berbeda itu, mereka semua diliputi kecemasan yang kuat.

Yang paling sempurna, dengan telinga runcing dan rambut mereka yang berwarna seperti emas, maju ke depan, “Kami datang untuk menanyakan kebenaran petanda alam Tierraz. Sesuatu yang tidak bisa kami pastikan bersama bangsa kami sendiri.” Ungkapnya terus terang, namun dengan suara yang lembut dan semerdu angin.

Ribi berkedip. Itu sosok paling tampan dan paling sempurna yang pernah dia lihat. Selama ini dia hanya tahu itu semua sebagai dongeng atau mitos di dunianya, “Elf.” Ucap bibirnya  tanpa suara. Namun entah kenapa sosok itu seolah bisa mendengar apa yang tak disuarakan oleh Ribi. Dia menoleh dan menatap dalam pendaran mata paling dalam yang bisa dirasakan Ribi. Ribi langsung menunduk, mendapatkan pemandangan lain ketika dia menurunkan pandangannya.

“Dwarf?” Sekali lagi dia mengucapkannya tanpa bersuara. Meski begitu dia buru-buru menutup mulutnya. Semua makhluk-makhluk dongeng itu nyata, teriaknya dalam hati. Di depannya berdiri tiga sosok laki-laki Elf, dua orang perempuan Elf, empat orang Dwarf dan entah beberapa makhluk yang dia lupa apa namanya.

“Petanda apa?”

Satu Dwarf maju, “Jauh di kedalaman perut Tierraz yang kami gali terdengar suara peringatan. Dinding-dinding tambang bergetar. Ketakutan menyebar tanpa ada yang tahu sumbernya. Jauh..jauh di dasar Tierraz, ada yang menunggu. Menunggu untuk bangkit dan melahap sumber kekuatan Tierraz.”

Ketika si Dwarf berhenti, satu Elf  perempuan, maju, “Angin mengabarkan petaka. Suara nyanyian pepohon terdengar suram. Berita duka diturunkan bintang-bintang. Kuncup-kuncup bunga tak lagi bermekaran. Teror dalam mimpi telah di mulai.” Suaranya yang dalam, menyuarakan kesedihan dalam tiap katanya. Mora menunduk. Dave terpaku. Mereka berdua sepertinya menyadari apa yang dibicarakan oleh semua makhluk ini.

“Sumber kekuatan Tierraz, Lord Daviras.” Elf laki-laki pertama kembali bersuara.

“Lord Lagash.” Panggil Dave pada Elf laki-laki pertama itu, “Apa maksudnya ini?”

Dengan matanya yang tajam dan berwarna coklat gelap, dia menatap penuh rahasia ke arah Dave, “Ramalan kuno itu menunjukkan petandanya. Waktu pembalasan semakin dekat. Lalu kau, membawa tanda pertamanya. Perjanjian suci Zerozhia telah dilanggar.”

“Perjanjian suci? Zerozhia tidak melakukan apapun. Perjanjian suci masih dipegang dengan kuat oleh kami.” Bantah Dave keras. Dia tidak terima pada apa yang dikatakan oleh Lagash. Entah kenapa, dalam nada suara yang diucapkan Lagash, dia menyalahkan Zerozhia atas semua petanda mengerikan itu. Petanda dari tanah dan udara. Demi Mevonia, apa yang sedang terjadi sekarang? Pikirnya getir.

Lagash berjalan pelan, jubahnya yang terbuat dari benang-benang sutra paling indah yang dilihat Ribi berkibar pelan. “Zerozhia..” ucapnya pelan, kedua bola matanya menutup. “Harus diperintah oleh putra pertama keturunan Mahha sebelumnya. Untuk menjaga kemurnian darah. Putra pertama adalah berkat Tierraz untuk Zerozhia. Tapi kau-.” Dia membuka matanya, memandang Dave, “Bukan putra pertama kerajaan ini, Lord Daviras. Penobatan ini tak pernah sah di mata kami.”

Mata Dave membulat. Sedetik kemudian dia menguasai ekspresinya, “Aku memang bukan putra pertama Mahha Miranda. Tapi seperti yang seluruh Tierraz tahu. Pangeran Danesh sudah lama meninggal ketika dia masih bayi.”

“Itu tidak benar. Kau tahu benar itu Dave, putra Michail.” Salah satu Dwarf terlihat berang. “Lord Michail tak pernah sanggup membunuh putranya sendiri. Dengan mempertaruhkan nyawanya dia membuang sang pangeran ke dunia lain.”

“Arkav!” Mora berteriak keras dan si Dwarf langsung diam. Dengan terburu, diusapnya jengot panjang kemerahannya.

Dave membeku, “Jadi Danesh benar-benar masih hidup?” bisiknya parau.

Lagash mengangguk, “Darias masih hidup. Tapi di dunia lain. Namun sebuah kekuatan gelap telah menariknya kembali ke Tierraz.” Dia mengusap tangannya yang putih bersih dengan cemas, “Dia kembali. Diselimuti kegelapan dan dendam karena pembuangannya. Menunggu di suatu tempat untuk menunjukkan dirinya.”

Dave menggeleng. Dia mondar mandir dengan gelisah, “Tidak. Aku tidak tahu. Seharusnya Danesh kembali.”

“Dia tidak boleh kembali.” Kata Elf perempuan yang sebelumnya bicara tentang petanda kepada Dave. “ Lord Darias tidak boleh kembali ke Zerozhia. Dia tidak boleh.” Ulangnya dengan wajah ketakutan.

“Tenangkan dirimu, Yuyva.” Bisik Lagash dalam bahasa peri. Yuyva segera mundur dan menundukkan kepalanya. Keanggunannya yang mempesona kembali. Ribi terus diam. Semua hawa ketakutan dan kekhawatiran ini ikut menjalarinya. Dia tidak paham hampir sebagian besar yang mereka bicarakan. Tapi dia mengerti, sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Lagash berpaling pada Dave, “Ramalan tentang keturunan pertama kegelapan. Ramalan kuno tentang berakhirnya perjanjian suci. Iblis akan kembali. Tanah-tanah Tierraz bergemuruh. Penyihir-penyihir hitam berkumpul dan makhluk-makhluk mengerikan dari dalam tanah akan menyongsong matahari.”

“Aku tidak mengerti.”

Mata Lagash menatap tajam Dave, “Apa maksudmu dengan tidak mengerti, Lord Daviras?”

Mora maju, menundukkan kepalanya penuh penyesalan, “Dia tidak tahu. Pangeran Dave tidak tahu apa-apa tentang ramalan keturunan pertama kegelapan. Dia bahkan juga tidak tahu tentang Xexa. Bukan kesalahannya. Aku menyembunyikan semuanya darinya. Aku dan Azhena menyembunyikannya darinya. Kami berjanji pada Mahha Miranda.”

“Sang pangeran tidak tahu apa-apa!” Gaung Arkav, si Dwarf, dengan putus asa. Bisik-bisik keras memenuhi tempat ini. Dave memucat, dia tidak tahu apa-apa? Tapi tahu tentang apa?

Lagash terlihat murka, lalu dengan cepat dia berbalik dalam kebutan sutranya, “Kita kembali ke Merendef. Tyresse, Nevirell, siapkan kuda kita. Urusan kita di sini sudah selesai.” Katanya keras.

Dua Elf laki-laki yang ada di situ mengangguk dan mereka segera berlari dengan cepat ke arah lain. Lagash, diikuti oleh dua Elf perempuan yang tersisa, melangkah cepat meninggalkan bayangan pohon danau Merivor. Dave terpaku beberapa detik, sebelum akhirnya dia mengejar para Elf dan berhenti di depan jalan mereka, “Lord Lagash.” Ucapnya, “Aku memang tidak tahu apa yang tengah terjadi sekarang. Namun setelah aku tahu apa itu, aku akan menyelesaikan semua ini. Aku, putra Mahha Michail, bersumpah padamu, aku tidak akan pernah menjadi tidak tahu untuk masalah sebesar ini lagi.”

Dalam tatapannya yang sarat makna, Lagash mengamati sang pangeran. Dia sudah hidup begitu lama di dunia ini, menyaksikan kejatuhan dan kebangkitan segala bangsa di Tierraz. Seharusnya satu kejatuhan besar tidak akan menganggunya. Bangsa Elf akan melewati semua masa itu meski dengan sedikit gangguan. Tapi setelahnya tidak akan ada masalah berarti.

Tapi Elf dari hutan Merendef tidak pernah diberkati keegoisan kehidupan. Mereka bijak dan berhati murni. Lagash termenung, ramalan putra pertama kegelapan dan Xexa bukan hal yang bisa diabaikan. Bahkan oleh semua jenis Elf di Tierraz. Mereka tidak bisa mengatasinya sendiri jika ramalan itu menunjukkan kebenarannya. Dia mengingat beberapa kalimat terakhir dari ramalan paling gelap yang pernah dibunyikan di Tierraz itu.

Sang pangeran dan  sang putri yang bersatu akan menjadi dua matahari di atas tanah Tierraz yang muram. Dua matahari untuk jadi satu. Di sisa terakhir air mata, kegelapan hanya bisa diakhiri dengan darah.

 “Aku mohon, Lord Lagash. Setelah aku menerima semua penjelasan paling detail dari Azhena dan Mora, aku akan segera bertindak. Akan ada pertemua besar untuk memastikan tindakan kita. Aku memang tidak tahu apa yang akan kuhadapi, tapi jika itu membahayakan rakyatku. Aku akan ada berada di barisan terdepan jika perang harus berlangsung.”

Lagash tersenyum, “Perang masih jauh, Lord Daviras. Bahkan jika kita punya kesempatan, perang tidak akan pernah terjadi. Ramalan tidak perlu menjadi sepenuhnya benar.” Dia diam sejenak sebelum melanjutkan, “Merendef akan menunggu panggilan pertemuan besar. Kami akan menantikannya” Lalu tanpa menunggu kata-kata dari Dave, Lagash berjalan melewatinya. Pergi menuju dua Elf laki-laki dengan kuda-kuda besar mereka di kejauhan.

Dave memandang kepergian para Elf dengan gusar. Jika memang terjadi sesuatu yang buruk, bangsa Elf-lah yang paling bisa diandalkan. Mereka bijaksana dan telah hidup lebih lama dari makhluk mana pun di Tierraz. Kekuatan dan sihir alami mereka jelas tambahan tersendiri untuk kebesaran bangsa Elf yang terhormat.

“Elves memang tidak akan pernah bisa diandalkan. Mereka pemarah, dan tidak sabaran.” Gerutu salah satu Dwarf sambil menatap punggung-punggung tegak para Elf. Dave menoleh meskipun dia mengabaikan ocehan si Dwarf. Kali ini matanya terpaku pada Mora, tapi dengan kuat dia menahan amarahnya. Masih ada para Dwarf dan jelmaan para Mermaid di hadapannya. Dia tidak boleh terlihat kehilangan kontrol atas dirinya. Sudah cukup dia terlihat bodoh di depan para Elf.

“Seperti yang kalian dengar. Akan ada pertemuan besar setelah ini. Kabar akan disebar ke semua persekutuan. Jadi sampai saat itu tiba, kalian bisa tetap di kelompok kalian masing-masing.”

Beberapa mengangguk, beberapa berbisik-bisik. Arkav maju, dia meraih kedua tangan Dave yang segera menurunkan sedikit tubuhnya. “Kami akan sangat menunggu adanya pertemuan besar. Ini sudah lama sekali sejak Lord Michail melakukannya.” Dia meremas tangan Dave.

Dave tersenyum, “Terima kasih untuk kedatangan kalian ke sini.”

Arkav mengangguk. Melepaskan tangan Dave dan segera berbalik. Mengomando teman-temannya untuk mengikutinya. Bayangan-bayangan pendek mereka yang melebar menghilang begitu mereka masuk ke hutan.

“Arnikca..” Dave beralih pada perempuan pemimpin bangsa Mermaid dari timur.

Si perempuan yang sejak tadi hanya diam itu membalas panggilan Dave dengan senyum, “Air masih sesuci sebelumnya. Tidak ada kejahatan api dan tanah di dalam air. Tapi angin dan cahaya bulan selalu mengabarkan keburukan. Karena itulah aku datang bersama beberapa putri-putri terbaik Landruff.”

“Aku minta maaf jika pertemuan ini harus berakhir seperti ini. Zerozhia selalu merasa berterima kasih pada kebaikan hati para penghuni Landruff.”

Arnikca mengedip, dia tersenyum lagi. Ribi ikut berkedip dan merasakan pesona perempuan yang tidak dia tidak tahu siapa ini. Rupanya dunia ini benar-benar dipenuhi makhluk-makhluk paling sempurna secara fisik yang pernah dilihatnya. Para Elf, peri kerajaan, lalu makhluk di depannya ini, yang Ribi yakin bukan manusia.

“Kami akan datang kembali ketika pertemuan besar.”

Dave mengangguk dan sang ratu melayangkan gerakan hormatnya sekali lagi pada Dave. Dave membalasnya. Arnikca tersenyum lagi dan berbalik. Bukan ke arah hutan namun menuju danau. Dia dan semua pengikutnya terus berjalan ke depan meski air Merivor hampir menenggelamkannya betis mereka.

“Ap-apa yang mereka lakukan?” kata Ribi panik, “Mer-mermaid!” ucapnya tak percaya begitu kelompok kecil itu melompat dan kaki mereka lenyap. Digantikan ekor yang sisiknya berkilau indah diterpa cahaya bulan. Mereka bergerak cepat hingga akhirnya hanya meninggalkan sisa gelombang-gelombang di permukaan Merivor yang semula tenang.

Setelah semuanya pergi, Dave berbalik dengan begitu pelan. Menatap Mora dengan kemarahan besar yang sebelumnya disembunyikannya dengan baik, “Aku butuh penjelasan.” Desisnya.

“Kita bicarakan itu di Zeyzga, pangeran.” Mora tidak berani menatap mata Dave. Dia menunduk sedalam mungkin. Namun Dave sudah kehilangan semua kesabarannya. “Tidak!” bantahnya.

“Sekarang dan di sini, Mora.”

“Ta-“

“Aku tidak butuh bantahan!!” Bentak Dave keras. Mora bahkan mundur selangkah karena keterkejutannya pada bentakan keras Dave. Mata Dave yang berapi-api menandakan dia benar-benar tidak ingin di lawan. Mora menghela nafas panjang. Menatap Dave dengan ragu. Sementara itu Ribi bernafas dengan cepat dan memegangi dadanya. Jantungnya berdetak begitu kencang. Temperamen bocah ini sama sekali tidak membaik, bahkan semakin buruk. Omelnya dalam hati.

Mora memeriksa sihir pelindung yang sebelumnya telah dibuat Lagash di sekitar mereka agar tak siapapun bisa mendengar percakapan mereka. Sihir itu masih terasa kuat sehingga Mora akhirnya membuka mulutnya, dan bercerita.

“Dahulu, ada masa ketika Tierraz dipenuhi oleh kegelapan. Iblis dari api keluar dari dasar tanah dan menyerbu Tierraz. Satu demi satu kota jatuh di bawah mereka. Kerajaan-kerajaan besar tumbang satu per satu. Mereka membiaskan api, bayangan hitam dan bau kematian. Pedang, tombak dan panah sanggup membunuh mereka. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Senjata semakin menipis, dan para penyihir semakin sedikit.”

“Para Elf, ksatria dari bangsa manusia dan para penyihir penentang kegelapan bergabung di bawah satu panji besar kerajaan yang tersisa, Zerozhia. Bersama sang Mahha Agung Mevonia, sang iblis Alzarox berhasil dikalahkan dan dikirim kembali ke dasar tanah Tierraz yang sangat dalam. “

“Lebih jauh dan lebih dalam dari lubang tanpa ujung sekalipun. Mahha Mevonia menggunakan seluruh kekuatannya dan kekuatan magis di Tierraz untuk menyegel Alzarox di dalam sana. Sebagian penyihir kehilangan kekuatannya karena itu. Keturunan-keturunan mereka tidak lagi bisa menggunakan sihir. Begitu banyak penyihir kehilangan garis kekuatan mereka dan hanya melahirkan manusia biasa.”

“Mahha Mevonia yang melihat kegelisahan dari kaumnya akhirnya membuat perjanjian dengan Nerethir. Satu iblis bawahan Alzarox yang tersisa. Dia tidak dibunuh karena belas kasihan Mahha Mevonia, atau setidaknya itulah yang ada di pikirannya. Namun sebenarnya, dia digunakan untuk mengembalikan lagi kekuatan para penyihir yang lenyap.”

“Sebuah perjanjian telah dibuat. Sumpah telah diucapkan. Nerethir dan semua keturunannya akan mengabdi kepada semua penyihir. Mereka akan menjadi bayangan kedua yang memberi kekuatan sihir bagi para penyihir. Mereka akan setia dan akan seperti itu sampai akhir.”

Mora terdiam, dia bisa melihat bagaimana Dave akhirnya memahami segala akar dari semua kehidupan di Tierraz sekarang. “Namun, pada suatu masa yang sangat damai. Cahaya terakhir di curi dari salah satu bangunan agung Zerozhia. Sebuah batu segel yang sangat berharga telah hilang. Batu segel yang bisa mematahkan sumpah Nerethir. Batu segel yang jika ditemukan orang yang salah akan menjadi awal dari pengulangan masa kelam Tierraz. Kebebasan Nerethir dapat berarti kebebasan bagi Alzarox. Dan jika itu terjadi, semua cahaya di Tierraz akan padam. Hanya api-api dari para iblis yang tersisa. Sebab para penyihir akan kembali kehilangan kekuatannya. Hanya sedikit yang tersisa.”

“Batu itu.” Dave tak sanggup melanjutkan, dia menatap tajam pada Mora. Mora mengangguk, “Batu segel itu adalah Xexa. Kebanyakan menganggap keberadaan Xexa dan sumpah Nerethir adalah mitos. Ribuan tahun sudah berlalu sejak masa itu. Para penyihir berada dalam masa jaya mereka dan kegelapan masa lalu terlupakan. Bahkan hilangnya batu segel Xexa tak pernah lagi dipermasalahkan karena mereka yang ingat pada masa gelap itu menganggap mustahil menggunakan Xexa. Tidak ada yang sanggup. Tidak ada yang punya takdir menggunakan Xexa untuk mematahkan sumpah Nerethir.”

“Tapi mereka tidak tahu.” Mora terdiam, pandangannya menerawang jauh ke langit. Cahaya bulan memenuhi wajahnya yang putih, mengubahnya seolah menjadi permata yang berkilauan.

“Mora.” Dave tidak sabar.

“Ada sebuah ramalan kuno yang diturunkan. Ramalan mengerikan yang akhirnya tidak pernah diceritakan oleh Mahha Mevonia kecuali kepada pemimpin tertinggi di setiap bangsa persekutuan. Manusia, Penyihir, Elf, Dwarf dan Mermaid.”

“Seperti apa bunyinya?”

Mora menatap Dave dengan tatapan sendu, “Haruskan kuucapkan kata-kata mengerikan itu, pangeran? Haruskah kuucapkan setiap kata dari ramalan yang sudah tak pernah disuarakan selama ribuan tahun ini?

Dave mengangguk pasti.

“Cahaya terang menyelimuti waktu. Waktu yang luas untuk membuat para penghuninya menyusut dalam kebesaran mereka. Apa yang pernah terucap tak akan lagi mengikat. Sang putra pertama bermandikan cahaya bulan biru. Tangisan pertama di matinya kehidupan membangkitkan kekuatan jauh. Batu keras itu retak dan bangkitlah sang pelahap cahaya di bawah tangan sang putra pertama kegelapan. Kegelapan abadi akan melingkupi tanah Tierraz.”

“Tidak.” Dave memotong cerita Mora, dia menggeleng cepat, “Tidak mungkin jika kakakku adalah takdir gelap itu.”

“Pangeran..”

“Kalian salah.”

Mora menggeleng, “Bulan biru di Tierraz hanya akan muncul setiap tujuh ratus tahun sekali. Dan setiap masa itu, Mahha yang memerintah selalu mengawasi dan menunggu. Berharap keturunan mereka tidak pernah dilahirkan ketika sang bulan biru sedang menyinari Tierraz. Semua terjaga sampai pada masa kepemimpinan Mahha Michail. Semua pemimpin persekutuan mengkhawatirkan keadaan Lady Miranda yang ketika itu sedang mengandung. Itu adalah tahun dimana bulan biru akan muncul. Tapi Lady Miranda berkeras bahwa putranya tidak akan lahir di bawah pancaran sinar bulan biru. Putranya akan lahir di bawah cahaya matahari Tierraz.”

“Namun ternyata dia salah. Lady Miranda melahirkan tepat di bawah pancaran cahaya bulan biru paling terang yang pernah menyinari Tierraz. Lebih buruk lagi, sang putra pertama terlahir tepat di akhir pergantian tahun di Tierraz. ..sang putra pertama bermandikan cahaya bulan biru. Tangisan pertama di matinya kehidupan..

Dave menggeleng keras, jatuh bersimpuh di depan Mora. “Danesh. Tidak.”

Ribi yang sejak tadi hanya mendengarkan menatap apa yang terjadi di depannya dengan penuh simpati. Dia bisa merasakan bagaimana kesedihan Dave. Dia berusaha maju, untuk menenangkan Dave. Namun sesuatu menghalanginya. Dave harus menguatkan dirinya sendiri jika memang inilah yang sedang terjadi.

“Lalu apa yang terjadi, ayahku.. kakakku. Katakan padaku apa yang terjadi pada mereka Mora?”

“Semua pemimpin persekutuan meminta Mahha Michail membunuh putranya sendiri. Tap-“

Semua suara Mora menghilang dari pikirannya. Suara si Dwarf menggantikan suara Mora dan bergaung dalam pikirannya.

“Lord Michail tak pernah sanggup membunuh putranya sendiri. Dengan mempertaruhkan nyawanya dia membuang sang pangeran ke dunia lain.”

Dan suara si Dwarf pun memudar, tergantikan ingatan pertengkarannya dengan Azhena di kastil pemerintahan.

“Aku tidak akan menyerah, bibi. Kau tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tahu kenapa kakakku dikorbankan hanya untuk hal ini.”

“Hanya untuk hal ini?” ulang Azhena tidak percaya, dia menegakkan tubuhnya dan menatap lurus-lurus pada Dave, “Orangtuamu mengorbankan banyak hal hanya untuk hal ini, kau harus tahu itu Dave.”

Ingatannya menghilang dan suara Mora kembali ke benaknya.

“.. Apa yang pernah terucap tak akan lagi mengikat. Sang putra pertama bermandikan cahaya bulan biru. Tangisan pertama di matinya kehidupan membangkitkan kekuatan jauh. Batu keras itu retak dan bangkitlah sang pelahap cahaya di bawah tangan sang putra pertama kegelapan. Kegelapan abadi akan melingkupi tanah Tierraz.”

“Kegelapan abadi akan melingkupi Tierraz jika Danesh kembali dan mematahkan sumpah Nerethir melalui Xexa.” Gumam Dave dalam keheningan Merivor. Mora menatap sang pangeran yang masih meratap pada tanah di bawahnya. Pandangan Dave berubah, kesedihan itu digantikan kekhawatiran yang mengantung nyata.

Sang pangeran mengkhawatirkan kerajaannya, sang pangeran mengkhawatirkan rakyatnya. Mora memandang Dave dengan bangga. Pangeran Dave, sesuatu yang sangat besar sedang dimulai sekarang. Anda harus tumbuh lebih kuat dari siapapun di Tierraz untuk bisa mengatasinya.

“Apa yang harus aku lakukan, Mora?” ucap Dave setelah dia bangkit dan kembali berdiri tegak.

“Pertemuan besar harus segera dilaksanakan.”

Mata Dave bersorot tajam. Dia menatap kilauan cahaya danau Merivor yang tenang, “Ketika matahari tenggelam di dua hari mendatang, ketika itulah semua pemimpin persekutuan dan keturunannya akan berkumpul di kastil terluar arena Zeyzga. Kabarkan kepada mereka semua tentang itu, Mora.”

Wajah Mora berbinar, dia mengangguk dengan patuh dan langsung menghilang dalam kabut singkat setelah dia mengucapkan salam hormatnya kepada Dave. Ribi melangkah maju, mendekatkan dirinya pada Dave yang masih memandang ke arah danau.

“Da-“

“Kau telah mendengar semuanya.” Potong Dave tanpa memandang ke arah Ribi, “Kau telah mendengar terlalu banyak dari yang seharusnya kau dengar.” Dia berbalik pelan. Memandang Ribi dengan tatapan paling menakutkan yang belum pernah dilihat Ribi dari sepasang mata milik Dave. Dia mundur dengan pelan.

“A-apa yang akan kau lakukan?”

“Memnus.” Panggil Dave mengabaikan Ribi, “Aku tahu kau bisa mendengar panggilanku. Kemarilah dan bawa perempuan itu bersamamu. Bawa dia dan kurung dia di salah satu ruangan di kastil terluar Zeyzga.” Perintahnya.

“A-apa yang kau katakan?” Ribi menggeleng keras, “J-jangan. Aku. Aku tidak akan-. Tidak, aku akan diam. Aku-aku akan kembali ke rumah Argulus dan menganggap bahwa aku tak tahu apapun. Y-ya. Aku akan melakukan itu.” Ribi bergerak maju dan memohon pada Dave.

Dave menggeleng, “Kau tidak akan pernah kembali ke rumah Argulus.”

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

14 Comments

  1. apa xexa nya manusia? blm ngerti nihh thor, dan kenapa dave jahat banget mau penjarakan ribi, padahal salah dia minta dikasih tau kebenarannya di pnggir jalan begitu padahal dia tau kalo ribi ada disitu, dasar dave nyebelinnnnn

  2. Author, kapan nih Another Story nya di update? Itu ceriat kutunggu banget selain HV.

  3. Baru awal aja dah kerennya pake banget kakak……
    Karena masih awal kali yah, masih banyak yg belum dimengerti padahal pikiran dah kemana2….hahahahha

    Gak sabar nunggu kelanjutannya.. 😀

  4. Huhuhuhuhhuraaayyy…. Makasii makasii.
    Masih banyak cacat juga di sana sini. Tetep baca aja ya, lama kelamaan pasti akan jelas dan bisa dimengerti. Hehehhe 😛 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published.