Xexa – Ribi

Gabrietta atau Ribi tak pernah menganggap dirinya berbeda dari anak-anak lain di panti asuhan ini. Dia normal. Atau setidaknya begitulah anggapannya. Tapi sepertinya teman-temannya tidak sepakat dengannya, mereka menganggap Ribi aneh. Mereka menjauhinya dan Ribi sendirian. Diantara keramaian taman bermain yang ada di belakang bangunan utama panti asuhan, Ribi duduk sendirian di kursi kayu panjang. Dia sudah mencoba bergabung, bermain bersama yang lainnya. Namun ketika dia mendekat, tersenyum kepada mereka semua, anak-anak itu berlari menjauh. Bubar. Meninggalkan permainan mereka yang belum usai. Dan Ribi mundur, dia tahu dirinya tidak diterima. Jadi setiap siang, ketika yang lain bermain, berlarian, sembunyi tangkap, prosotan, dia hanya diam, mengamati dan tidak melakukan hal lainnya.

 

Begitu terus sampai umurnya hampir tujuh belas tahun, dia sama sekalitak punya teman disini. Dan ketika satu demi satu teman-temannya mendapatkan orangtua angkat, tidak satupun dari pasangan yang datang ke panti asuhan ini melirik kepadanya. Padahal Ribi bukan anak nakal. Dia manis dan cenderung pendiam karena selama ini teman-temannya tidak ada yang mau bicara padanya. Dia cantik dengan rambut bergelombang berwarna kecoklatan dan wajahnya yang oval. Mata lebar dan bulu mata yang lentik menghiasi wajahnya. Bibirnya tipis tapi penuh dan ketika dia semakin beranjak remaja, Ribi semakin menunjukkan sisi cantik dalam dirinya.

Namun tetap saja, dia sendirian. Tidak punya teman dan tidak ada pasangan yang mau mengambilnya sebagai anak. Ibu kepala panti sering memanggilnya ke ruangannya yang kecil, menanyakan ini itu kepada Ribi. Dan Ribi hanya menggeleng, menjelaskan sebanyak yang dia mengerti kepada kepala panti yang bertubuh gemuk itu. Sampai ibu kepala panti menyerah dan tidak tahu mengapa hal itu terjadi kepada Ribi. Dia membesarkan hati Ribi dan mengatakan Ribi boleh datang kapan saja ke ruangannya jika Ribi butuh teman.

Tapi Ribi tak pernah datang kecuali ibu kepala panti memang memanggilnya. Menurut Ribi, meskipun ibu kepala panti adalah wanita yang baik, dia bukan teman yang Ribi inginkan. Ibu kepala panti tidak akan bisa diajaknya bermain dan berbicara panjang lebar tentang banyak hal yang dibicarakan anak seusianya.

Maka kemudian Ribi terbiasa menyendiri. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ketujuhbelas dan Ribi tahu, tak akan ada yang ingat, bahkan ibu kepala panti sekalipun karena ibu kepala panti sudah tua dan punya puluhan anak lainnya untuk diingat tanggal lahirnya. Ribi, seperti biasanya sejak beberapa tahun yang lalu, hanya duduk di atas kursi kayu di tepian taman bermain. Dia menatap anak-anak lain yang lebih muda darinya bermain dengan riang. Dia menghela nafas panjang dan mengedarkan pandangannya ke seluruh taman bermain yang juga berbatasan langsung dengan kebun kecil milik panti asuhan yang dipenuhi pohon-pohon apel yang sayangnya jarang berbuah. Taman bermain dan kebun kecil itu hanya dibatasi oleh pagar kayu setinggi kira-kira pinggang Ribi sekarang.

Ribi melihat seorang anak laki-laki seusianya berjalan cepat memasuki kebun apel itu, melompati pagar kayu dan terus berjalan masuk ke dalam. Ribi mengerutkan keningnya, bangkit dari duduknya, “Hey, kau tidak boleh masuk ke kebun itu. Ibu kepala panti melarang kita bermain disana. Tempat itu berbatasan langsung dengan hutan. Disana berbahaya. Kau bisa hilang.” Teriaknya. Tapi anak itu tidak mengacuhkannya dan terus berjalan.

Merasa marah karena peringatannya tidak diabaikan, Ribi mengejar anak laki-laki itu, melompati pagar kayu itu dan berlari menyusul anak laki-laki itu. “Hey kau, berhenti!!” teriaknya lagi.

Anak laki-laki itu menoleh, “Aku?” katanya bingung sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“Ya, kau. Siapa lagi yang ada di tempat ini selain kau.” Sahut Ribi jengkel.

Namun entah kenapa anak laki-laki itu justru kebingungan, sedetik kemudian dia menatap Ribi dengan takjub, “Kau bisa melihatku?

Kedua tangan Ribi tersilang di depan dadanya, “Kau gila ya? Tentu saja aku bisa melihatmu. Dengar, kau tidak boleh pergi ke kebun apel ini dengan sembarangan seperti ini. Kau bisa..” Ribi berhenti bicara setelah mengamati wajah anak laki-laki itu. Keningnya berkerut. “Kau bukan anak panti asuhan ini. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau? Bagaimana bisa kau ada disini?” Ribi diam sejenak, berpikir. “Kau pasti anak yang tinggal di sekitar sini. Kau.. mau mencuri apel-apel kami? Iyakan? Kau tidak boleh melakukan hal itu disini.”

Anehnya, anak laki-laki itu justru terkekeh, “Mencuri apel? Yang benar saja? Apa yang bisa kucuri dari kebun disini. Pohon apelnya bahkan tidak sedang berbuah sekarang.”

Mau tak mau Ribi membenarkan perkataan anak itu. “Kalau begitu, kau.. apa yang kau lakukan di kebun milik panti asuhan kami?” Tanya Ribi sambil menunjuk anak laki-laki itu.

Dave.” Jawabnya dengan tidak senang. “Dan tidak sopan menujuk-nunjuk seperti itu. Apakah tempat ini tidak mengajarimu sopan santun kepada orang asing.”

Mata Ribi menyipit, meskipun ini adalah percakapan terpanjang yang pernah dia lakukan dengan anak sebayanya, Dave, anak laki-laki yang ada di depannya ini sama sekali tidak terlalu disukainya. Garis-garis tegas di wajah Dave dan mata birunya yang bersorot tajam, jika terus diperhatikan sedikit mengintimidasinya. “Aku tidak bermaksud seperti itu, dan apa tadi? Sopan santun katamu? Kau yang tidak punya sopan santun dengan menyusup kesini.”

“Dengar kau..”

“Gabrietta.”

“Ah baiklah, dengar Gabrietta..”

“Ribi, kau bisa panggil aku Ribi.”

“Astaga, kau, Gabrietta, Ribi, atau apalah, dengarkan aku.. bukan salahku aku keluyuran di tempat ini. Salahmulah kenapa bisa melihatku.” Setengah kesal Dave berteriak. Dave membuang nafas, masih kesal. Tapi melihat wajah Ribi di depannya yang jelas nampak tidak mengerti, dia menyerah. “Memnus.” Katanya pada udara kosong. “Apakah sihir tidak nampak yang kugunakan sangat lemah sehingga manusia ini bisa melihatku?” matanya menyipit dan dia melotot marah kepada sesuatu di sampingnya selama beberapa detik kemudian, yang bagi Ribi hanya terlihat seperti tidak memelototi apa-apa.

“Apa maksudmu dengan dia adalah orang sepertiku, yang benar saja. Dia ini.. manusia.” Kata Dave kesal sambil melirik Ribi. “Oke-oke baiklah.” Dave beralih memandang Ribi yang masih mengerutkan keningnya, bagi Ribi yang seharusnya disebut teman-temannya aneh adalah anak laki-laki di depannya ini dan bukan dia. Anak laki-laki ini bicara dan marah-marah sendiri. Dia gila, pikir Ribi.

“Dengar, kau seharusnya tidak dapat melihatku, aku sudah memakai sihir pelindung agar manusia tidak melihatku. Dan kau, entah bagaimana malah bisa melihatku, bicara dengan tidak sopan, menunjuk-nunjuk, menuduhku hendak mencuri apel. Ini sangat tidak masuk akal. Kau bukan penyihir sepertiku. Kau seharusnya..”

“Kau apa?” potong Ribi tidak percaya pada yang didengarnya.

Penyihir.

“Penyihir?”

Dave mengangguk dan tawa Ribi meledak keras. Dia memegangi perutnya dan terus terpingkal-pingkal sementara alis Dave berkedut-kedut tidak senang. “Tidak pernah ada yang bertindak tidak sopan seperti ini kepadaku sebelumnya.” Geramnya marah.

Ribi menggeleng, “Tidak. Maaf. Aku hanya- aku..kau.. Penyihir?” Ribi tergelak. “Kupikir hanya anak berusia sepuluhtahunan yang akan percaya tentang sihir. Mengeluarkan kelinci dari topi. Merubah serbet makan jadi bunga.” Dia semakin terpingkal. “Kau sudah tujuh belas tahunan kupikir. Dan kau bilang kau apa? Penyihir??” Mata Ribi berkaca-kaca. Masih tertawa.

Mata Dave bersorot tajam, “Memnus, tunjukkan wujudmu yang sekarang pada dia. Tunjukkan pada gadis ini tentang apa yang sebenarnya sedang dia tertawakan.” Katanya dingin.

Sedetik kemudian Ribi terjatuh, menyeret tubuhnya mundur beberapa jengkal bersamaan dengan bunyi keras dimana darisana muncul sesuatu di samping Dave yang semula tidak ada apa-apa, dan mendadak ada. Auman mengerikan. Singa jantan sebesar sepuluh kali tubuh Ribi, dengan sepasang sayap besar di belakang punggungnya itu mengaum lagi dan Ribi bisa melihat gigi-gigi runcing yang seharusnya bukan merupakan jenis gigi singa. Dan sayap itu. Singa? Bersayap?

“Ka-kau.. ap-ap..?” tubuh Ribi gemetar dan dia kehilangan suaranya.

Dave maju mendekat, berjongkok di depan Ribi, “Hanya anak berusia sepuluhtahun yang akan percaya tentang sihir? Mengeluarkan kelinci dari topi? Merubah serbet makan jadi bunga? Pikiranmu dangkal sekali. Biar kutunjukkan kepadamu seperti apa sihir yang sebenarnya.” Dia mengayunkan tangan kirinya dengan gerakan sederhana dan dua pohon apel paling dekat dengannya langsung terbakar. Api besar menjalar-jalar membakar batang dan dedaunan pohon apel tersebut. Beberapa detik kemudian, bersama dengan angin yang bertiup, api menjalar ke pohon lainnya.

Ribi menggeleng cepat, “Hen-hentikan! Kau bisa membakar seluruh kebun ini. Kau.. Hentikan!!” teriaknya dan dia sadar suaranya gemetar, keringat dingin mengalir turun dari dahinya. “Ma-ma-af. Ak-ku tidak..”

Dave kembali mengayunkan tangan kirinya dengan malas dan mendadak api-api besar itu lenyap dan pohon yang tadinya hangus terbakar kembali seperti sedia kali. Daunnya hijau. Batangnya tegak. Seakan-akan tidak pernah ada api yang sedetik sebelumnya menghanguskannya. Ribi menatap Dave dari atas ke bawah, melihat sebuah tato berbentuk kristal segienam di punggung telapak tangan kiri Dave, “Kau..ini apa?”

“Aku ini apa?” ulang Dave. “Penyihir.” Jawabnya singkat tanpa basa basi. Dia berbalik, duduk di samping singa yang tengah menjilat-jilat tangannya sendiri itu tanpa merasa ngeri seperti yang tengah dirasakan Ribi. Dave duduk bersilang mengamati Ribi. Menunggu reaksi gadis di depannya yang sepertinya masih shock berat ini.

“Penyihir?”

Dave mengangguk.

“Apakah yang seperti itu memang benar-benar ada?”

“Banyak. Jika kau berada di tempat yang tepat.”

Ribi beringsut. Dia mencoba mendekat ke arah Dave, namun ketika singa di samping Dave mengangkat wajahnya dan menatap Ribi, dia langsung mundur beberapa meter.

“Tidak apa-apa. Memnus tidak akan menyakitimu.”

“Mem-memnus?”

Mengabaikan Ribi, Dave menyipit memandangnya, “Kau seharusnya tidak bisa melihatku. Menurutku aku sudah benar-benar melakukan sihir tidak tampak itu dengan sempurna. Memnus bahkan mengatakan jika kau, adalah orang sepertiku. Jadi duduklah lebih mendekat dan jawab pertanyaanku.” Ribi tidak suka diperintah seperti itu oleh anak yang sepertinya seumuran dengannya, namun entah kenapa dia menurut dan maju, duduk sedikit mendekat ke arah Dave yang masih mengamatinya seakan tanpa kedip.

“Apakah kau sudah lama hidup di tempat ini? Kau sebelumnya tidak hilang ingatan atau apakan? Kalau kulihat-lihat kau sepertinya tidak berasal dari Zerozhia. Apakah mungkin Mozaro? Atau Alkrez?” Dave menggeleng. “Tidak tidak. Kau sepertinya kau malah dari Sparzvia.”

Sejujurnya, Ribi sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dave. Zerozhia? Mozaro? Alkrez? Dan Sparz-apapun itu, dia sama sekali tidak mengerti. Dia menggeleng, “Aku lahir dan besar disini.”

Sekarang justru Dave yang kelihatan bingung, “Apa kau dibuang?”

Mata Ribi melebar, tidak akan menyangka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak laki-laki di depannya. Dibuang adalah kata yang sangat tidak sopan untuk mengambarkan apapun itu yang ada di kepala Dave. Ribi tahu dia ada di panti asuhan ini karena mungkin saja orangtuanya tidak menginginkan kehadirannya. Tapi dibuang? Apakah otak anak laki-laki di depannya ini tidak bisa menemukan padanan kata lain yang lebih pantas untuk diucapkannya.

“Orangtuaku mungkin terlalu miskin untuk membesarkanku sendiri sehingga mereka menitipkanku disini.” Datar, dingin. Ribi menjawab dengan setengah kesal pertanyaan Dave. Namun Dave diam, cukup lama tanpa bicara apapun lagi dan hanya mengamati Ribi. Pandangan mata Dave yang terlalu fokus, mau tak mau membuat Ribi risih. Dahinya berkerut dan dia menelan ludahnya sendiri ketika beralih mengamati singa di damping Dave. Sayap singa itu benar-benar nyata. Dia berusaha mengedip berulang kali, mencoba menghilangkan halusinasi yang ada di kepalanya, jika itu mungkin memang halusinasi. Tapi beberapa kalipun Ribi menegrjap, singa itu masih ada. Duduk nyaman di samping Dave.

“Apakah kau memiliki kelebihan-kelebihan yang mungkin tidak bisa dilakukan manusia?”

Ribi kembali menoleh ke arah Dave, “Entahlah. Aku hanya..”

Ribi ingat, hanya saja baginya tidak akan menyenangkan membagi ingatannya dengan orang lain. Dia ingat dengan jelas bagaimana teman-temannya mulai mengatakan dia aneh. Waktu itu umurnya masih sekitar sembilan tahun dan dia masih punya banyak teman. Mereka bermain bersama. Sembunyi tangkap. Dan Ribi bersama beberapa yang lain berusaha bersembunyi di tempat-tempat strategis yang ada di sekitar taman bermain. Ribi bersembunyi di balik perosotan ketika dia melihat ada laki-laki tua yang melintas di belakangnya. Dia menyapa laki-laki itu, yang rupanya sangat ramah dan mengajaknya berbincang. Ribi lupa kalau dia sedang bersembunyi ketika laki-laki tua itu membuatnya asyik dengan banyak cerita-cerita lucu, Ribi tergelak riang. Berceloteh banyak hal dengan laki-laki tua itu dan tersenyum lebar ketika laki-laki itu memberinya segenggam permen gula yang berwarna-warni. Ribi menoleh ke arah lain, dia merasa diperhatikan, dan tak jauh darinya, semua teman-temannya mengamatinya dengan wajah bingung.

“Ribi bicara sendiri?” , “Iya, dia tertawa-tawa sendiri.” , “Menakutkan. Dia bicara sendirian dari tadi. Kau lihat dia tertawa-tawa.” Ribi mendengar semua bisik-bisik itu dengan jelas. Dan dia heran, tidak tahu kenapa teman-temannya berkata seperti itu. Dia menoleh, laki-laki tua itu masih di sampingnya. Mengusap kepala Ribi dan mengatakan dia harus pergi karena mendadak ingat bahwa dia memiliki sesuatu yang harus diurusnya. Ribi mengangguk. Melambai riang dan berteriak hati-hati kepada laki-laki tua tersebut.

Sepasang mata kecil Ribi beralih ke teman-temannya, lalu dia berlari mendekat. “Kakek itu memberiku banyak permen. Kalian mau.” Tawarnya sambil menyorongkan segenggam permen gula berwarna-warni yang ada di atas tangannya. Namun teman-temannya justru mundur dan menatapnya dengan tatapan yang tidak dimengerti Ribi. Mereka bubar, hanya beberapa yang mendekat, mengambil satu permen dari tangan Ribi dan berkata, “Tadi Ribi ngobrol sama siap? Hmmm, permennya enak.”

Sejak saat itu beberapa temannya memang menjauhinya, tapi dia masih punya beberapa lagi yang tetap bersamanya. Kemudian hingga pada suatu malam, ketika dia dan beberapa temannya mendadak tersesat di dalam bangunan panti asuhan yang besar dan gelap disaat mereka berniat menyelinap keluar untuk mengambil camilan di dapur, mereka sampai di koridor panjang yang sangat gelap dan semuanya nyaris menangis karena ketakutan..

“Kita kembali saja. Aku sudah tidak mau cemilan lagi. Kita kembali saja.” Ajak salah satu teman Ribi yang paling ketakutan. Ribi menggeleng, “Tapi aku lapar.”

“Kita bisa makan besok pagi ketika sarapan, Ribi. Disana gelap, aku tidak suka gelap.”

Ribi kecil tersenyum, “Tidak apa-apa. Ayo kesana. Aku punya cahaya.”

Teman-temannya memandangnya kebingungan, “Kita tidak punya senter, Ribi.”

“Tidak. Tidak. Lihat ini.” Ribi memutar-mutar telunjuknya. Mengibas-ibaskannya dan mendadak, cahaya seperti api kecil yang memancarkan sinar terang keluar dari ujung tangan Ribi. Ribi terkekeh, “Lihat, lihat. Kita punya cahaya sekarang. Ayo.. ayo kita pergi ke dapur. Aku lapar sekali.” Dia menoleh ke arah teman-temannya. “Teman-teman..”

Namun yang dilihatnya hanyalah mata-mata ketakutan milik teman-temannya. Mereka berdempetan menjauhinya. Gemetaran.

“Teman-teman..” panggil Ribi.

“Be-benar. Innova benar. Rib-Ribii.. aneh.”

“Aku tidak aneh.” Ribi berteriak dan teman-temannya malah menjerit-jerit ketakutan ketika dia mendekat kepada mereka. Cahaya kecil di telunjuk Ribi menghilang dan teman-temannya berlarian ketakutan menjauhinya. Mereka menangis. Mereka semua sangat ketakutan. Dan Ribi mengingat jelas bagaimana wajah ketakutan semua teman-temannya itu ketika menatapnya.

“Aku tahu sekarang.” Suara Dave membangunkannya dari kenangannya itu. Ribi menatap Dave dengan pandangan kosong. Dia masih merasa sedih. Entah kenapa, mengingat kejadian itu selalu membuatnya tidak nyaman. Sebab sejak itu, dia benar-benar sendirian. Tidak punya teman sama sekali sampai sekarang. Semua menjauhinya dan menganggapnya aneh. Ribi bahkan sudah tidak bisa mengeluarkan cahaya kecil itu dari telunjuknya lagi, namun tetap saja tidak ada yang mau berteman dengannya. Tidak ada satupun.

“Kau mungkin berasal dari Thussthra. Aku dengar perempuan-perempuan disana sangat terkenal karena kecantikannya dan kupikir kau bisa disebut.. cantik.

“Apa?”

Dave bangkit, “Ah, aku harus pergi sekarang, aku punya janji bertemu dengan Ares dan tidak ingin membuatnya menungguku. Nah selamat tinggal.” Katanya sambil berbalik, berjalan meninggalkan Ribi yang masih berusaha mencerna semua kata-kata yang sedari tadi dikatakan Dave.

“Tunggu.” Teriaknya.

Dave menoleh dan Ribi memandangnya penuh harap, “Apakah menurutmu aku orang aneh?” Dave menelengkan kepalanya, sedetik kemudian dia tertawa, “Kau itu normal tau.”

“Kau itu normal tau.”

Semua orang menganggap Ribi aneh. Tapi anak laki-laki yang belum dikenalnya selama satu jam ini menyebutnya normal. Dia, entah bagaimana merasa ada yang membuatnya merasa sangat bahagia. Ketika dia menatap Dave dan melihat anak laki-laki itu berjalan semakin jauh, Ribi kembali berteriak, “Hey, kau! Kau mau kemana?”

“Pulang. Ke duniaku.” Suara Dave terdengar semakin pelan karena dia terus berjalan menjauhi Ribi.

Duniaku? Dunia yang mungkin saja menganggap Ribi normal. Dia mengejar Dave. Namun yang pertama menyadari bahwa Ribi mengejarnya justru singa yang juga berjalan di samping Dave. Singa itu mengaum dan membuat Ribi berhenti mendadak dan terjatuh.

“Apa yang sedang kau lalukan?” Dave mendadak sudah ada di depan Ribi, mengulurkan tangannya. Membantu Ribi berdiri. Ribi meraihnya. Dan entah dengan dorongan kekuatan darimana, dia berkata dengan sangat percaya diri. “Aku ingin ikut denganmu. Aku ingin ikut.”

Dave memandangnya. Diam. Keheningan mengantung yang membuat jantung Ribi berdetak kencang. Menanti. “Rumahmu disana.” Dave memandang bangunan panti asuhan yang dari sini hanya kelihatan atapnya yang tua.

“Itu hanya tempat selama ini aku tinggal. Itu bukan rumah. Aku..”

“Aku tidak bisa membawamu begitu saja. Orang-orang disana bisa mencarimu dan kehilangan keberadaanmu.”

Ribi menggeleng cepat. “Tidak ada yang menyukaiku disana. Hanya ibu kepala panti. Tapi aku yakin dia tidak akan terlalu kehilangan aku. Dia punya begitu banyak anak lain yang harus dia urus. Aku..”

“Aku tetap tidak bisa mengajakmu pergi. Lagipula kau tidak bisa tinggal di Zeyzga.”

Dengan cepat Ribi menyahut dengan suaranya yang kencang, “Aku bisa tinggal dimana saja. Aku.hanya ingin ikut pergi ke duniamu. Aku..”

“Tidak bisa.” Tegas Dave.

“Aku mohon. Hanya bawa aku ke tempatmu. Dunia apapun itu. Hanya bawa aku. Aku..disini tidak punya teman. Tidak ada yang berbicara denganku seperti yang kau lakukan tadi. Mereka semua menjauhiku. Mereka bilang aku aneh, mereka..”

Dave menatap Ribi, “Maaf, tapi aku tetap..”

“Hanya kau yang menyebut aku normal.” Potong Ribi. Dia sudah nyaris menangis sekarang. Dia benar-benar berharap Dave membawanya. Dia sudah tidak tahan. Dia selalu merasa sangat kesepian dan terasing, dia terus mencoba bersabar ketika tak ada satupun yang menganggap keberadaannya di tempat ini.

Dave menghela nafas panjang. “Aku akan mendapat kesulitan jika membawamu. Mereka bisa berpikir aku menculik manusia dan membawanya ke duniaku. Itu bisa berakibat sangat buruk bagi reputasiku sebagai..ah lupakan. Intinya meskipun aku ingin, aku tidak bisa, Ribi.” Papar Dave dan untuk pertama kalinya menyebut nama Ribi dengan benar.

Ribi benar-benar menangis sekarang dan ketika singa itu mendekat, menjilat kepalanya. Dia justru tidak merasa takut. Dia masih menangis ketika singa itu masih menjilat kepalanya. Seperti membelainya agar dia tidak menangis.

Memnus..” Dave menatap dengan tidak senang.

Ketika Ribi sekali lagi menatap Dave dengan matanya yang basah, singa itu berhenti menjilati Ribi, “Aku mohon..” suara yang putus asa dan Dave sekali lagi menghela nafas panjang. “Aku akan dapat kesulitan. Kau..manusia dan..”

“Bukankah tadi kau bilang bahwa aku sepertimu. Aku seperti kau.”

Dave menyilangkan kedua tangannya menatap gadis keras kepala di depannya.

“Aku janji aku tidak akan merepotkanmu. Aku akan membantu apapun yang kau lakukan. Aku akan menuruti semua permintaanmu. Aku-aku akan membersihkan rumahmu. Mengepel. Semuanya, aku akan..”

“Astaga hentikan itu. Apa kau pikir aku terlihat seperti mau memperbudakmu jika aku membawamu pergi.”

Ribi menggeleng, “Bukan begitu maksudku..aku..”

“Sudahlah. Astaga. Terserah kau saja. Sebaiknya jalannya cepat. Aku ada janji dengan Ares. Dan ini sudah sangat terlambat” Dave berbalik, berjalan lagi. Diikuti si singa di sampingnya. Beberapa menit berlalu dan Ribi masih berdiri di tempatnya semula. Mencerna kata-kata Dave.

Dave berbalik ketika tidak didengarnya langkah kaki di belakangnya, “Kau ini sebenarnya mau ikut tidak sih?” teriaknya kesal. Di sudah sangat terlambat dan gadis itu malah terbengong seperti disihir jadi patung.

Ribi mengangguk cepat. “I-iya. Tunggu.” Dia berlari mengejar Dave yang kini sudah berjalan lagi ke arah hutan dan mulai meninggalkan kebun apel milik panti asuhan. Ribi berjalan dengan langkah-langkah lebar di belakangnya, mengikuti. Ribi tersenyum lebar dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia kembali memiliki teman, Dave, anak laki-laki yang sepertinya sedikit pemarah dan tidak ramah ini. Entah bagaimana Ribi merasa keputusannya pergi begitu saja dari panti asuhan dan mengikuti Dave yang belum ada satu jam dikenalnya adalah pilihan yang tepat. Ribi tahu, dia tidak salah. Sama sekali tidak melakukan kesalahan dan dia merasa, bahwa apapun, di depan sana. Akan sangat menyenangkan.Setidaknya pasti jauh lebih baik daripada berada di panti asuhan.

<< XEXA – Prolog
XEXA – Dunia Baru

Mau Baca Lainnya?

12 Comments

  1. Aaaakk makasii.
    Yup yup semoga bisa cepat. Tapi sepertinya akan sulit.
    Dua minggu ini kampusku ada UAS, jasi sepertinya aku harus fokus pada kuliahku dulu.
    Heheheh, maaf kalo next chapter agak lama 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.