Xexa – Sorglos

“Apakah kau sudah mau pergi, pangeran Dave?”

Tubuh Dave membeku, dia sangat yakin dengan apa yang dia dengar. Suara Sorglos begitu jelas. Tidak ada kesalahan. Tapi bagaimana bisa? Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah Sorglos yang tengah memandang ke arahnya. Dengan satu gerakan pelan, dia melepaskan selubung sihirnya.

“Terkejut, pangeran?”

“Bagaimana kau bi—”

“Itu nanti, pangeran. Kita punya masalah lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada membahas kenapa aku bisa tahu kau menyusup ke dalam tendaku dan mencuri dengar semua pembicaraan pentingku dengan—Well, kau sudah tahu sendiri. Aku tidak akan mengulang apa yang telah dikatakan Actur padamu.”

Mendadak dia takut sesuatu terjadi dengan Ares, Fred dan Ribi, “Jangan berani-berani kau melukai mereka.”

“Mereka?” satu alis tebal Sorglos terangkat, “Ah..” katanya kemudian, “Kawan-kawanmu aman selama pembicaraan menyenangkan kita ini, pangeran. Tentu saja ada pengecualian jika pembicaraan kita ini berakhir tidak seperti yang kuharapkan, mungkin sesuatu yang buruk bisa terjadi pada penyihir—atau harus kusebut mereka kaum liar, pangeran? Sebab apa yang bisa dilakukan penyihir tanpa tongkat sihirnya? Tidak ada. Mereka akan menjadi sama seperti kami, bahkan lebih rendah. Adil bukan?”

Dave berjalan maju dengan geraman tertahan, “Jika kau melukai mereka, Sorglos. Jik—”

“Aku tidak akan membuang waktuku dengan mendengarkan ancaman lain dari seorang penyihir. Sudah cukup hal busuk yang kudengar dari Actur. Kuharap kau mengerti itu, pangeran” suara Sorglos sepenuhnya menandakan  bahwa dia tidak menginginkan bantahan atau sesuatu yang buruk akan menimpa teman-temannya.

Dave mengalah, teringat nasib Ares, Fred dan Ribi. Sorglos benar. Mereka bukan apa-apa tanpa tongkat sihir mereka. Dia bahkan lupa jika dia masih memiliki Memnus di sana. Kepalanya sudah dipenuhi hal-hal lain. Pengkhianatan Actur, permintaan Actur pada Sorglos dan tentang bagaimana Sorglos tahu bahwa dia ada di sini. Mendengarkan semuanya sementara dia menggunakan selubung sihir dengan sangat baik. Bahkan dia berani bertaruh jika Actur saja tidak tahu dia ada di sini. Tapi Sorglos, ketua kaum liar ini…

“Nah, mengacu dalam beberapa hal yang sudah kusepakati dengan Actur. Harusnya aku sudah membunuh teman-temanmu yang ada di luar sana dan juga kau, tentu saja. Tapi aku bisa melenturkan beberapa hal dan membuat persetujuan denganmu. Bagaimana pangeran?”

“Kau tahu kau tidak berada dalam posisi untuk mengontrolku, Sorglos. Apakah kau lupa jika aku bisa menggunakan sihir tanpa tongkat sihir?”

Sorglos menggeleng, “Sama sekali tidak ada keraguan. Hanya saja—” dia tersenyum penuh makna, “Jika kau memang menginginkan sang pewaris tahta menemukan keberadaan adik tercintanya. Kau bisa melakukannya.”

Kerutan dalam muncul di kening Dave. Terlalu banyak. Sorglos terlalu banyak mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak dia tahu. Dan kepalanya sama sekali tidak menawarkan pemecahan masalah tentang bagaimana bisa. Dave menggeram marah, “Aku sudah melakukan sihir dengan selubung pelindung yang kugunakan ketika aku masuk ke sini. Tidak masalah bagiku jika aku harus melakukan lebih. Dan kupikir, aku akan senang jika Danesh tahu dimana aku sekarang berada sehingga kami bisa melakukan reuni kecil di sini.”

Anehnya, bukannya terlihat terancam dan takut, Sorglos justru terbahak semakin keras, “Jadi kau sama sekali tidak tahu, pangeranku? Ah, ternyata aku sedang bicara dengan penyihir muda yang tak tahu apa-apa.” suaranya mencela.

Dave kehilangan kesabarannya dan mengangkat tangan kirinya, “Kuperingatkan padamu, Sorglos!”

Dengan santai, Sorglos menempelkan punggungnya ke punggung kursinya, “Lakukanlah, dan kau akan sepenuhnya menyesali tindakan cerobohmu, pangeran.”

“Katakan apapun yang sesungguhnya ingin kau katakan, Sorglos. Jangan berbelit-belit. Lagipula aku sudah muak dengan semua yang kuketahui. Kau, Actur, dan semua kaummu akan menerima pembalasanku.” suara Dave meninggi dan dia nyaris kehilangan kendali emosinya.

“Pembalasan? Tapi untuk apa, pangeran?” satu alisnya terangkat, “Bukan kami yang membunuh. Bukan kami yang berkhianat. Penyihirmulah yang melakukannya. Kau terlalu muda untuk menyadari permainan kotor apa yang sesungguhnya sedang berlangsung di belakangmu.”

Dave menunggu. Dadanya naik turun dengan cepat. Dia berusaha mengontrol semua emosinya agar kembali normal. Dia membutuhkan Sorglos. Itu faktanya. Semarah apapun, dia tahu dia tidak boleh membahayakan teman-teman dan pencariannya.

“Katakan..” suaranya pelan dan mulai terkontrol.

“Kau perlu belajar banyak, pangeran. Kau belum siap. Itu masalahnya.”

“Belum siap? Apa maksudmu?”

“Aku tidak menjadi pemimpin di sini karena aku kuat, pangeran. Tapi karena aku tahu. Itu faktanya. Aku mengetahui lebih banyak daripada yang lain. Dan aku menggunakan apa yang kuketahui sebagai senjataku. Aku punya pengetahuan. Pengetahuan yang lebih berguna daripada sihir-sihir lemah yang digunakan para penyihir masa ini. Aku hidup lebih lama daripada siapapun di pemerintahanmu. Jiwaku tidak terkotori dengan hal busuk dan lemah yang terjadi di Zerozhia. Itu—”

“Cukup!” potong Dave, “Katakan saja apa intinya.”

Sorglos tersenyum, mengangguk, “Jika itu yang kau mau, pangeran.” lalu dia dengan gerakan pelan yang disengaja, dia menepuk tangannya.
“Ramuthra..”

***

“Dave, keparat busuk. Aku akan menyincang mulutnya jika dia kembali nanti. Berani-beraninya dia mengabaikan semua yang sudah kita sepakati bersama dan menuruti egonya. Dia memang tidak pernah punya otak yang berguna.”

Baik Ribi maupun Fred masih ternganga dengan semua sumpah serapah yang keluar lancar dari mulut Ares. Hanya duplikat Dave—Memnus—yang nampak santai dengan wajah setengah mengantuk.

“Aku tahu sekarang apa yang dipelajari seorang putri pemimpin pengganti Zerozhia di kelas sihirnya dulu. Tidak terlalu terkesan. Aku mendengar lebih banyak dari Barielle.” Memnus mengoceh dengan mata tertutup.

Ares melemparkan tatapan membunuh ke arahnya, yang membuat Ribi jelas tidak akan pernah mau berurusan dengan Ares jika dia juga akan menerima tatapan sejenis itu. Dia tidak mengerti kenapa anilamary Dave sama sekali tidak terganggu dengan tatapan mengerikan seperti itu

“Lepaskan ikatanku, Memnus dan aku akan memukul kepala penyihir pemilikmu yang kosong itu!” suara Ares keras dan penuh nada memerintah yang jelas.

Dalam wujud Dave, Memnus menegakkan tubuhnya, memicingkan mata, “Kau siapaku berani menyuruh-suruhku? Dimana memang si Barielle? Suruh saja dia. Aku malas.”

“Jika aku punya tongkat sihirku. Aku akan memotong lidahmu.”

“Coba saja.”

Fred mendehem, “Eh, kurasa kita harus mengakhiri ini Ares. Kau tidak bisa terus berdebat kosong dengan anilamarry Dave. Itu buang-buang waktu.”

Memnus mengangguk-angguk setuju dan Ribi menyodok siku Fred dengan terburu-buru dan memberikan kode lirikan yang ganjil, “Mereka mendengar, sepertinya.”

Tiga pasang mata langsung melihat ke arah yang dilirik Ribi dan melihat empat penjaga dengan tubuh seperti penjagal makhluk sihir berjalan ke arah mereka dengan persenjataan lengkap. Ribi menelan air ludahnya dengan gusar, dan memandang ke arah Memnus.

“Jika sesuatu yang buruk terjadi, kau bisa melindungi kami Memnus?”

Bahu Memnus terangkat bosan, “Dave hanya memberiku perintah untuk menggantikannya di sini. Aku tidak bisa—”

“Memnus..”

Mata Memnus memutar bosan, “Jangan pasang wajah seperti itu, Gabrietta. Kau jelas tahu aku akan melakukannya atau pangeran tercinta kita akan menyincang intisariku hingga tak bersisa jika kalian—terutamanya nona Areschia kita—terluka.”

Ares baru saja akan membuka mulutnya ketika mereka mendengar bentakan kasar dari para penjaga. Salah satu dari mereka bahkan menendang salah satu kayu kurungan dengan sangat keras, membuat Ribi-yang jarang melihat kekerasan dalam bentuk apapun, kecuali beberapa hari terakhir ini-langsung mengerut mundur. Bersembunyi di balik lengan Fred. Merapat ke arah Fred.

“Tutup mulut kalian semua. Sorglos sedang mengadakan pertemuan penting di dalam dengan—” mulut salah satu penjaga yang paling besar itu terbuka, wajahnya maju mendekat. Matanya memicing fokus, “Bagaimana kau bisa sudah ada di sini, bocah?”

Baik Ares, Fred maupun Ribi saling memandang satu sama lain. Tidak benar-benar paham apa yang dikatakan si besar yang buruk rupa ini.

“Kau!” telunjuknya yang gemuk menunjuk ke arah Memnus.

“Gebo, apa maksudmu?” penjaga kedua yang berada di samping Gebo mengerutkan keningnya dalam, menyikut satu penjaga lain di dekatnya. Yang disikut mengangkat bahu, sama tak mengerti.

“Bocah pangeran ini, bagaimana kau sudah ada di sini padahal beberapa menit tadi aku masih melihatmu saling melotot dengan Sorglos di tenda utama.”

Memnus membulatkan matanya, dia bangkit dengan cepat menyadari sesuatu dari kalimat pertama yang diucapkan Gebo. Bahkan Ares, Fred dan Ribi belum sempat memproses semuanya dengan otak mereka ketika Memnus, yang semula mengambil bentuk Dave, tiba-tiba menghilang dan digantikan sesosok gargoyle besar yang berdiri di belakang tiga penjaga yang tidak sempat menyadari segalanya sampai mereka merasa kepala mereka dipukul bersamaan dengan pentungan besar dari tiga lengan milik gargoyle aneh.

Gargoyle itu melompat, menerjang kurungan di depannya dan lubang besar dari kayu-kayu kurungan yang ambruk di depannya terbentuk dalam detik yang sama. Di detik berikutnya gargoyle itu lenyap dan digantikan bocah seumur Dave dengan kulit kecoklatan. Saat mulut si bocah terbuka, semua tali yang mengikat Ares, Fred dan Ribi terbuka.

“Mereka tahu. Kita pergi. Cepat.”

Ribi masih tidak mengerti sampai akhirnya Fred menarik lengannya dan berlari di belakang Ares dan si bocah kecoklatan. Di belakang mereka, segerombolan besar kaum liar yang mendengar suara rubuhnya kayu-kayu kurungan langsung mengejar mereka dengan semua sumpah serapah yang ada. Bahkan Ribi bisa mendengar suara anak-anak panah berdesing di samping dan belakangnya namun segera lenyap ketika nyaris menyentuh kulitnya. Memnus telah menyelubungi mereka semua dengan sihir pelindung tak kasat mata.

“Jangan menoleh ke belakang atau kalian tidak akan bisa berlari karena terlalu shock dengan apa yang kalian lihat. Terus berlari sampai aku memerintahkan kalian berhenti.” kata si bocah yang berada paling depan.

Mereka bertiga mengangguk dan terus berlari secepat yang mereka bisa. Tak ada yang menoleh. Tapi baik Ares dan Fred yakin mereka mencium bau amis darah yang kuat. Tak perlu spekulasi yang panjang, anilamarry Dave melakukannya. Entah dengan jenis sihir apa, namun jelas akibatnya sama sekali tidak akan pernah enak dilihat mata.

***

Suara keributan di luar sama sekali tidak menganggu keterbelalakan Dave menyaksikan apa yang ada di depannya. Seekor Harpy—hewan bersayap yang memiliki tubuh seperti burung elang dan memiliki kepala wanita—berdiri dengan gagah di samping depan Sorglos.

Anilamarry? Tapi bagaimana bisa dia..?

“Ramuthra.. berikan salam hormat kepada pangeran kita.”

Kepala perempuannya mengangguk, lalu dua sayapnya terentang lebar, dan dengan gerakan anggun mengatup ke dada. Tubuhnya maju ke depan dan kepala perempuan berambut panjang itu membungkuk dalam ke arah Dave.

“Hormat saya, pangeran.”

Suara itu begitu dalam, bergetar, namun jelas penuh ketegasan dalam saat yang bersamaan. Mengingatkan Dave pada suara anilamarry Fred. Lalu ketika kepala perempuan tersebut terangkat. Dave masih tidak bisa percaya pada apa yang ada di depannya.

“Terkejut, pangeran?”

“Kau penyihir?”

“Ah, aku tidak suka menyeritakan masa-masa penuh kehinaan itu. Tapi sayangnya ya.”

Itulah satu-satunya penjelasan yang masuk akal untuk semua yang terjadi di depan Dave. Sorglos adalah penyihir. Jelas satu yang kuat karena dia bisa memiliki anilamarry sekuat ini. Dave bisa melihatnya, aura kekuatan si anilamarry juga kepatuhannya pada si penyihir pemilik. Jika si penyihir pemilik tidak cukup cakap, anilamarry ini jelas akan memberontak. Tapi Ramuthra, anilamarry Sorglos ini nampak tenang dan Sorglos mengontrol penuh atasnya. Cukup mengejutkan jika melihat dari sikap penuh kebencian Sorglos terhadap penyihir sementara dia sendiri adalah bagian dari mereka.

Ramuthra menoleh ke arah Sorglos, mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti Dave. Sebagai keturunan Mahha, Dave memang bisa mendengar percakapan semua anilamarry dengan penyihir pemiliknya. Tapi bahasa yang digunakan Ramuthra bukan bahasa yang dimengerti Dave sehingga itu percuma baginya.

Wajah Sorglos menunjukkan ekspresi marah, lalu dia mengangkat tangannya, “Pergilah dan tangkap kembali mereka. Bunuh anilamarry yang berani menebas bagian-bagian tubuh kaumku itu dengan kekejaman sempurna.”

Ramuthra mengangguk, lalu sayapnya melingkupi tubuhnya dan si Harpy lenyap dari pandangan.

“Teman-temanmu membuat masalah, pangeran. Dan aku—”

Sebuah kilatan sihir menyambar tepat satu senti dari leher Sorglos, “Jika anilamarrymu itu melukai anilamarryku, aku bersumpah akan menghancurkanmu dan kaum liar dengan sihir terkejam yang pernah kupelajari, Sorglos.” Tangan kiri Dave masih terarah ke Sorglos yang menyentuh bekas memerah dan panah di lehernya dengan mata menyipit.

“Penyihir di masa ini memang tidak pernah punya sopan santun yang anggun. Selain itu, aku tidak yakin mereka mengajarimu sihir hitam di privat istimewamu, pangeran” cemoohnya dan dia bangkit. Tangan Dave terarah tegas tepat padanya tapi sama sekali tidak membuatnya gentar.

Nafas Dave memburu, ada keraguan di kepalanya. Namun dia tidak akan menukar apapun itu jika anilamarrynya dalam bahaya. Keriuhan yang di dengarnya sebelumnya jelas berasal dari Memnus, Ares, Fred dan Ribi yang melarikan diri. Dia memaki dirinya sendiri karena lupa pada keberadaan Memnus yang menjaga kelompok kecilnya. Jika sedari awal dia mengingat itu dengan baik, basa basi dengan ketua kaum liar di depannya ini tidak akan selama ini. Mulutnya merapal mantra tepat ketika Sorglos mengucapkan sesuatu yang membuat rapalan di mulutnya terhenti.

“Kau tak akan membunuhku karena aku tahu lebih banyak daripada siapapun tentang Xexa, pangeran.”

Tubuh Dave menegang dan suara tawa Sorglos menggema, “Xexa tersembunyi di dalam lembah tergelap. Dimana ada dua sumber mata air, yang hanya mengalirkan air ketika kesedihan dan kebahagiaan datang. Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan. Bukankah itu yang dikatakan oleh Mahha Miranda padamu dalam sihir kristal memorinya, pangeran?”

Sekarang Dave bahkan bisa melihat tangannya gemetar. Pikirannya kosong dan Sorglos berjalan sangat pelan. Langkah demi langkah ke arahnya dan berhenti tiga langkah tepat di depan Dave.

“Siapa kau sebenarnya?” suara Dave lirih.

“Satu-satunya saudara dari laki-laki yang dipenjara di dalam kegelapan dan kebiadapan Rezzermere.” kali ini jawaban Sorglos cepat dan dia mengucapkannya dengan tegas, terlalu tegas malah.

Bibir Dave terbuka, “Mohave?”

Mata besar berair Sorglos menatap Dave tajam, lalu dia berjalan ke arah lain, mengitari Dave, “Aku adalah salah satu dari tiga tangan kanan Mahha Michail. Aku, Mohave dan Argulus. Kami membantunya dalam pencarian Xexa. Kami menemui sihir tergelap yang tidak akan pernah kau percaya ada di dunia ini hanya karena kami menjelajah terlalu dalam. Tapi itu tidak mengendurkan kami. Kami memuja Mahha Michail, kami mengabdi sangat patuh padanya sampai akhirnya dia mengkhianati kami semua. Dia melawan persekutuan dan mempertaruhkan Tierraz hanya demi putra laki-lakinya yang terkutuk, kakakmu.”

Telinga Dave menangkap semua yang dikatakan Sorglos. Tubuhnya semakin gemetar. Setiap langkah kaki Sorglos yang didengarnya seperti dentuman suara palu di dadanya. Dia tidak siap. Apapun selanjutnya yang dikatakan Sorglos, dia tidak sanggup menerimanya.

“Aku dan Mohave tidak pernah lagi memandang Mahha Michail sebagai sosok yang agung setelahnya, pangeran. Kau bisa memaklumi itu bukan? Seorang pemimpin yang membahayakan segala hal demi hal sepele. Kehilangan putra? Itu hanya masalah kecil dan Mahha Michail ternyata terlalu lemah. Kematiannya adalah harga yang tidak lunas untuk disandingkan dengan kesalahan yang dilakukannya.”

Sorglos berhenti di belakang Dave, bisa merasakan semua emosi Dave, “Dan istrinya, Lady Miranda kita tercinta, justru memasukkan adikku ke dalam Rezermerre hanya karena dia ingin melakukan kebenaran. Beruntung Mohave masih sempat membunuh perempuan itu. Zerozhia sudah dikuasai terlalu banyak penyihir lemah dan bodoh.”

Dave berbalik dan kekuatan sihir besar meledak di sekitarnya membuat Sorglos terlempar ke belakang beberapa meter, menabrak tepiantenda utama. Barang-barang lain di tenda utama berhamburan dan beberapa pecah dan hancur. Penjaga-penjaga di luar sama sekali tidak bisa memasuki tenda utama ini meski mereka berusaha melakukannya. Sorglos mengunci area ini. Tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi, tidak ada yang bisa menyeruak masuk. Mereka hanya melihat apa yang terjadi dan semakin gusar ketika melihat pemimpin mereka terjerembab jatuh di depan seorang penyihir muda yang bahkan tidak memegang tongkat sihir. Mereka tidak tahu siapa Dave.

“Jika kau mengatakan hal kotor lain tentang ibu atau ayahku, aku.. aku bersumpah akan—”

“Sudah kukatakan kau tidak akan membunuhku, pangeran.” suara Sorglos terdengar tenang dan dia bangun, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya karena sihir kuat yang dilemparkan Dave ke arahnya. Ada bagian dalam tubuhnya yang terluka, dia yakin itu. Anak muda dengan emosi tak terkontrol di depannya ini tidak boleh dianggap enteng. Walau bagaimanapun, ada darah agung Mahha Mevonia mengalir di tubuhnya, pikirnya.

“Asal kau tahu, ibumu mendapat informasi tentang Xexa itu dariku. Dari pencarian berbahaya yang aku dan Mohave lakukan. Kau lihat wujudku sekarang? Bahkan si bodoh Actur tidak mengenaliku lagi. Kupertaruhkan nyawa dan semua yang kumiliki demi Mahha Michail. Tapi apa? Apa yang Mahha Michail lakukan ketika aku dan adikku dalam bahaya? Mahha Michail dan Argulus justru sibuk mencari cara untuk mengkhianati persekutuan. Mereka tahu, putra pertama itu akan lahir di bawah pancaran terang bulan biru jauh sebelum yang lain. Dan mereka tetap membiarkan ibumu mengandung putra terkutuk itu.”

“Berhenti menyebut saudaraku dengan panggilan hina seperti itu.” Dave maju dan menyarangkan kepalan tangannya ke arah wajah Sorglos. Dia tahu dia tidak boleh lagi menggunakan sihirnya atau dia akan benar-benar membunuh Sorglos. Dan meninju wajah penuh cemooh Sorglos adalah satu-satunya yang terlintas di kepalanya ketika itu.

Sorglos yang tidak menyangka dengan tindakan langsung Dave terhuyung ke belakang, bukan karena kekuatan tinju Dave tapi lebih karena terkejut. Pukulan Dave bukan apa-apa untuknya.

“Kau akan menyesali ini, pangeran. Semua yang kukatakan adalah kebenaran. Mari kita lihat siapa yang akan menangis di bawah belas kasihan pangeran Danesh nantinya. Tak ada yang tahu pangeran pertama itu tumbuh di lingkungan dan dalam perlindungan siapa selama ini. Tak ada yang tahu telah menjelma menjadi iblis seperti apa dia.”

Ucapan Sorglos mengaung di kepalanya tapi Dave menolak memikirkan itu sekarang. Tangan kirinya terarah ke Sorglos, “Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang saudaraku dengan mulutmu. Lihat siapa yang mempermalukan siapa. Kau memandang rendah para penyihir, tapi kau sendiri adalah penyihir.”

“Aku tidak bisa memungkiri itu, pangeran. Tapi aku bukan penyihir yang cuma bergantung pada tongkat sihir. Lihatlah sekelilingmu dan kau akan mengerti. Kekecewaanku pada Mahha Michail, pada Lady Miranda menghancurkan segalanya. Mereka merusak semuanya. Dan sekarang, mereka berharap putra kecilnya ini memperbaikinya.” dia menggeleng, “Mereka terlalu naif. Kau bahkan sama sekali tidak mengerti atas apa yang sebenarnya kau cari.”

Dave sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengucapkan mantra pembunuh dan hanya tinggal mengerakkan tangannya maka Sorglos sudah tidak akan bernafas lagi. Namun gerakan Dave terhenti karena kemunculan si Harpy di samping Sorglos. Anilamarry itu penuh luka dan pelipis wajah perempuannya berdarah.

“Tugas diselesaikan, tapi para tahanan tak bisa diselamatkan. Mereka terjatuh di jurang di dalam wilayah para Elf liar. Kita memiliki perjanjian dengan mereka untuk tidak masuk ke dalam wilayah mereka tanpa pemberitahuan lebih dahulu.”

Butuh beberapa detik bagi Dave untuk mencerna apa yang dikatakan Ramuthra kepada Sorglos. Dia beruntung karena Ramuthra mengucapkan itu semua dalam bahasa mereka. Hal pertama yang ada di dalam kepalanya adalam Memnus lalu Ares, Ribi dan si Interior senior itu.

Tidak mungkin.

Dave memanggil Memnus berulangkali di dalam kepalanya. Dia bahkan merapalkan mantra pemanggil resmi dan anilmarry itu tidak muncul. Tidak mungkin. Matanya membesar penuh amarah. Dia memandang Sorglos seolah dia sanggup membunuh laki-laki tinggi besar di depannya itu dengan tatapannya.

Mulutnya merapalkan mantra kuno, dan kabut hitam gelap langsung muncul merambat dari kakinya dant terus naik ke atas menyelimutinya dengan cepat. Dia harus memastikan semua itu. Memnus, Ares, Ribi dan Fred. Dia masih sempat memandang Sorglos dan berkata penuh dendam, “Ini semua belum selesai, Sorglos.”

Ketika kabut itu lenyap sejak empat detik kemunculannya, tubuh Dave juga ikut menghilang. Sorglos memandang sisa-sisa keberadaan Dave dan dia menyengkeram erat sesuatu yang terselip rapi di balik selampir pakaian kulitnya. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia gunakan—tongkat sihirnya. Dan dia tahu, waktunya sudah dekat. Dia tidak bisa berdiam diri lagi di tempat ini. Semuanya sudah benar-benar dimulai sekarang.

Mau Baca Lainnya?

5 Comments

  1. Sakitt udah nulis komentar panjang panjang malah browsernya error ><
    Tapi seneng banget liat item item baru bermunculan di blogmu lagi kak. Setelah penantian puaanjjjaaannggg ceilah bahasa gue wkwkwkk
    Btw, sampe sekarang. Kemampuan sotoyku yang biasanya suka nebak nebak kelanjutan cerita kok gak berfungsi ya di Xexa. Aku sama sekali 'buta' sama cerita ini bikin penasaraaannnnnn.. apa si ribi bakal sama pangerannya, ato sama daneshnya, ato ribi itu xexa ato di dalem badannya ada xexa, ato ribi itu danesh aakkkkk *lebaymodeon
    Makanya sebagai reader insyaf, aku cuma bisa nunggu apdetanmu dengan penuh kesabaran wakakakkakaaa
    Jangan ilfeel ya, apalagi tersentuh hahaa

  2. Hahaha itu upload borongan soalnya saya bakal menghilang selama dua minggu dari peradaban yang menggunakan internet. Soalnya akunya bakal terdampar ke tempat yang tidak memiliki jaringan internet. Sadis banget 🙁 🙁

    Seriusan sebanyak itu pertanyaan tentang Xexa di kepala kamu waktu kamu baca ini certa? Well, aku malah seneng. Hahahha

    Ngga bakal ilfil kok, tersentuh mungkin iya. Btw, makasiii komennya. 😀 😀

    Anyway, aku jawab satu pertanyaan kamu ya, Ribi jelas ngga mungkin Danesh. Daneshkan pengeran yang man tentu cowok, sedangkan Ribikan perempuan. 😛 😛

  3. yang aku pertanyakan ini fungsinya ribi dicerita ini apa yaa kak?? masihhh dalam bentuk pertanyaan besar. dia itu siapa, kenapa bisa dpt keturunan sihir

Leave a Reply

Your email address will not be published.