Xexa – Tanah Thussthra

Dave melihat apa yang terjadi dengan kengerian. Namun di saat yang bersamaan dia tahu bahwa dia harus segera mengambil tindakan, membawa Ribi keluar dari sini atau segalanya akan semakin memburuk. Dia mencoba berkonsentrasi pada sihir teleportasinya dan entah karena pengaruh dari ledakan api biru Ribi atau apa, Dave merasakan bahwa sihir perlindungan di tempat ini merenggang.

Dengan sangat cepat, dia melompat dan berlari ke arah Fred yang penuh luka dan menyeretnya ke arah Ribi dan Ares yang masih terbengong tak berdaya. Tepat ketika Landis menyadari apa yang akan dilakukan Dave, Dave sudah melingkarkan tangannya sejauh mungkin, menyentuh bagian tubuh dari Ribi, Ares dan Fred. Lalu mantra terucap dengan cepat dan kabut putih membawa mereka lenyap dari lorong itu, meninggalkan kemurkaan luar biasa dari seorang raja para elf liar.

Mereka berempat berjatuhan dengan posisi tak beraturan ketika akhirnya sihir teleportasi itu berakhir. Dave bisa mendengar Ares terbatuk-batuk di sampingnya dalam posisi jatuh telungkup. Dave sendiri terduduk dengan nafas tak beraturan selama beberapa detik yang singkat sebelum dia berdiri cepat. Melihat dan memeriksa.

Satu hembusan nafas lega ketika dia melihat Ribi yang merangkak mendekat ke arah Fred dengan rambut berantakan. Sementara Fred, meskipun tidak terlihat baik-baik saja, terbaring kelelahan di dekat kaki Ares.

“Kalian baik-baik saja?”

Tiga pasang mata langsung menatap ke arah Dave dan mereka mengangguk.

“Masih hidup.” jawab Ares sambil beringsut bangun, duduk dan membantu Ribi memeriksa kondisi Fred.

“Kau terluka parah, Fred.” Dave mengamati bagaimana laki-laki itu bernafas dengan kesulitan dan wajah yang penuh baret luka. Beberapa malah masih mengeluarkan darah, dan ada banyak lebam di lengannya. Sebagian besar mungkin justru diakibatkan oleh sihir Ribi yang mengenai pedang Aeldren. Dia beruntung karena tidak ada serpihan pedang yang menancap di bagian vital tubuhnya, atau tidak ada sisa api yang membakar tubuhnya. Meskipun begitu, bau hangus dan api kentara tercium dari tubuhnya.

Fred mengangkat satu tangannya, “Tidak separah yang kau kira, Dave.” katanya, “Aku tidak akan mati hanya karena melawan putra Lord Landis.”

“Tapi kau akan mati karena sihir yang dimiliki oleh Gabrietta,” sahut Ares cepat dan dia memandang kesal ke arah Ribi yang terlihat kebingungan setengah mati.

“Ak—aku tidak tahu bagaimana itu bi—“

“Aku tahu.” potong Dave cepat dan Ares mengerutkan keningnya dalam-dalam melihat reaksi Dave. Sekilas dia melihat ekspresi kegelisahan di wajah Dave yang dengan segera langsung dihilangkan Dave.

“Dia bahkan tidak punya tongkat sihir, Dave.” suara Ares mememecah keheningan janggal yang menyelimuti mereka.

Dave memejamkan matanya. Tidak tahu harus mengatakan apa karena dia tahu jika dia mengatakan apa yang sebenarnya, dia tak yakin itu cukup bijak. Ribi mungkin tak mengerti apa-apa tentang Edna. Dia tidak tumbuh besar di Tierraz. Namun Ares yang adalah putri seorang pemimpin pengganti di Zerozhia dan Fredderick Colfer yang merupakan interoir senior Zerozhia jelas akan tahu siapa Edna dan betapa berbahayanya seorang Edna bagi kedamaian Tierraz.

Ketika Dave sudah hampir putus asa untuk menjawab apapun. Dia diselamatkan oleh kemunculan mendadak seorang anak lak-laki berkulit cokelat gelap di sampingnya Dia tidak pernah sesenang ini melihat anilamarrynya itu. Memnus menyipitkan matanya kesal dan menatap Dave dengan sebal sementara Dave tersenyum lega.

“Kau membuatku mencari kalian kemana-mana. Kupikir kau akan membawa mereka ke gerbang Zeyzga. Intisari tubuhku masih sangat sakit dan kau sudah memaksaku bekerja keras seperti ini.” omelnya, “Dan jika kau berniat melarikan diri dengan cepat, jangan lupa untuk langsung mengucapkan mantra pemanggilan untukku begitu kau tiba. Dan bukannya malah ngobrol seperti ini. Kau nyaris membuatku terbunuh lagi tadi.”

Dave hanya bisa tersenyum, dan sama sekali tidak kesal dengan omelan Memnus. Tapi ekspresinya yang justru terlihat bahagia dan sama sekali tidak menyesal atau apa, membuat Memnus memberengut makin marah.

“Lihat saja apa kau masih bisa tersenyum seperti itu jika kau melihat bagaimana kemarahan Landis. Kita benar-benar mencari musuh yang salah.” ucap Memnus keras, lalu segera membanting tubuhnya duduk bersila di depan Ares.

Helaan nafas panjang dan Dave ikut duduk di samping Memnus. Tanpa sengaja, mereka bahkan sudah duduk melingkar di bawah satu-satunya pohon yang ada di puncak bukit itu. Tak ada tenaga berlebih untuk mencari tempat lain.

Ares berbaring memandang ke atas langit sementara Dave menyandarkan kepalanya pada batang pohon di belakangnya. Ribi membantu Fred mengolesi lengan dan bagian tubuh lainnya yang terluka dengan tumbukan daun obat yang dicari Memnus. Sementara Memnus sendiri sudah menghilang pergi sejak bermenit-menit lalu setelah mereka memutuskan untuk tidak membahas apapun dulu dan beristirahat.

“Kira-kira dimana kita sekarang?” gumam Ares.

Dave menoleh, mendapati Ares yang masih memandangi langit dengan kedua tangannya di belakang kepala.

“Aku tidak tahu. Aku hanya—entahlah… Harusnya aku pernah ke sini karena teleportasi hanya berfungsi untuk pergi menuju ke tempat yang sudah kita tahu. Tapi aku bahkan tak ingat tempat ini sama sekali.”

Fred mendesah keras, mengucapkan terima kasih pada Ribi dan mengalihkan tatapannya pada Dave, “Kurasa kita ada di wilayah Thussthra.” sahutnya.

Dave dan Ares menoleh bersamaan ke arah Fred, “Bagaimana kau tahu?” tanya Dave penasaran.

“Melihat bukit gersang ini dan alam yang sekarat di sini. Tempat mana lagi yang memungkinkan jika bukan di Thussthra.”

Ribi mengamati sekitarnya dan baru menyadari apa yang dikatakan oleh Fred. Tempat di sekitar mereka memang terlihat sekarat. Padang rumput di sekitar mereka gersang dan tandus. Satu-satunya pohon yang nampak hanya pohon yang sekarang menaungi mereka. Sejauh mata memandang tak ada apapun. Hanya rumput-rumput kering yang ditiup angin yang membawa hawa panas.

Dia teringat jika setiap orang di Tierraz yang melihatnya selalu mengatakan bahwa dia seperti perempuan yang berasal dari Thussthra. Jadi daratan milik kerajaan seperti inilah yang dikatakan memiliki perempuan-perempuan dengan wajah tercantik di seluruh Tierraz. Ribi tak bisa percaya. Tanah ini bahkan akan terlihat lebih cocok menghasilkan gelandangan kelaparan daripada perempuan dengan wujud rupawan.

“Apa masalah yang terjadi di Thussthra belum berakhir juga?” suara Ares membuyarkan lamunan Ribi.

Fred menggeleng, “Setahuku bahkan Ratu Myrella malah sudah melayangkan surat permohonan bantuan kepada Zerozhia sejak tiga bulan lalu. Apa Azhena tidak memberitahumu tentang masalah ini?”

Dave gelagapan dan Ares mendengus. Sementara Ribi keheranan dengan reaksi dua orang ini. Dia menoleh ke arah Fred yang langsung mengangkat bahunya, sama tidak mengerti. Namun seringkali Ribi berpikir jika ada hubungan khusus diantara Dave dan Ares. Meskipun mereka selalu terlihat bertengkar sepanjang waktu, interaksi seperti itu justru yang membuatnya yakin jika mereka punya hubungan lebih dari sekedar pertemanan. Mereka berdua mengenal satu sama lain dengan terlalu baik

“Dia bahkan tak tahu apa-apa tentang masalah internal yang terjadi di Zerozhia. Jadi bagaimana dia bisa tahu tentang masalah yang terjadi pada kerajaan lain.” Ares beringsut bangun, menatap Dave dengan pandangan meremehkan dan mendengus.

Fred memandang Dave tidak percaya, sudah nyaris mengatakan sesuatu jika saja Dave tidak lebih dulu berbicara.

“Aku sibuk dengan urusanku, Ares. Lagipula kurasa Azhena juga tidak terlalu butuh bantuanku.”

Ares menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, “Tak heran jika ibuku banyak mengeluh tentang ini. Harusnya kau tahu dia cuma pemimpin pengganti. Mahha Miranda memberikan posisi itu pada ibuku sampai kau cukup umur untuk bisa memerintah Zerozhia dengan tanganmu sendiri. Tapi bahkan sampai umur sekarang, kau terus menerus mengundur-undur waktu untuk mengambil kembali posisimu. Orang yang tak tahu akan berpikir jika ibuku yang menginginkan untuk berada lebih lama di posisi itu.”

“Oh Ares, aku tahu, tentu saja,” Dave memutar bola matanya, “Tapi kau lihat sendiri bagaimana akhirnya ketika aku memutuskan mengambil kembali posisiku. Itu bahkan baru malam pertama aku mengambil kedudukanku sebagai Mahha dan bangsa dwarf, elf, serta mermaid sudah berduyun-duyun menemuiku di danau Merivor. Bahkan Arkav mengatakan ini semua terjadi karena aku melangkahi tradisi lama. Peraturan lama tentang putra pertama yang mengambil alih kedudukan. Aku hanya putra kedua jika kau perlu kuingatkan. Masih ada Danesh di luar sana.”

“Kurasa kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.” sela Ribi yang langsung disambut lirikan tajam, baik dari Dave dan Ares. Ribi langsung salah tingkah dan beringsut mendekat ke arah Fred yang hanya bisa menghela nafas panjang.

“Ribi benar,” bela Fred, “Tak ada gunanya memperdebatkan masalah ini. Kita masih dalam pencarian Xexa bukan? Atau kalian sudah berubah pikiran?”

“Tentu saja,” sahut Dave sedikit lebih tenang. Sedikit menyesal karena terbawa emosi. Dia biasanya tidak pernah terlalu menanggapi Ares. Karena dia tahu memang seperti itulah Ares. Namun entah karena lelah, atau pikiran lain yang terus menerus berputar di kepalanya, dia tidak bisa menguasai emosinya dan malah beradu mulut seperti itu dengan Ares.

Dave bisa melihat dari sudut matanya jika Ares menatapnya dengan tajam. Dia tersinggung dan marah padanya. Tentu saja, apalagi memang yang diharapkannya. Tapi dia tahu ini tak akan lama. Satu hari atau malah beberapa menit lagi, Ares sudah akan bersikap seperti biasa padanya. Hal ini kerap terjadi jika dia lupa memenuhi janjinya pada Ares dulu.

“Pertama, aku butuh tongkat sihirku kembali,” ucap Ares keras, “Aku tidak mau jadi tidak berguna dan hanya bertarung menggunakan pedang bodoh ini.” dia menyentuh pedang prajurit elf liar yang tersarung rapi dan tergeletak di sampingnya, “Kau sudah menggunakan banyak sihir dan kekuatanmu sendiri, Dave. Jadi kurasa tidak ada gunanya tetap melarang kami menggunakan tongkat sihir. Danesh sudah pasti bisa merasakan keberadaan kita melalui lambang keturunan Mahha kalian.”

“Ya,” Dave sepakat. Sedikit malu pada dirinya sendiri. Dia merusak kerja keras mereka yang berjalan berhari-hari di hutan Mozaro yang tidak menyenangkan hanya dengan satu langkah arogan. Namun jauh di dalam hatinya, dia tidak menyesali tindakan gegabahnya yang pada akhirnya membuatnya tahu bahwa ada pengkhianat dalam pemerintahannya yang berniat membunuhnya. Fakta lain yang dia dapat dari Sorglos juga tak dapat dikatakan remeh. Meski pada akhirnya dia harus mendapatkan kenyataan-kenyataan lain yang tidak diinginkannya, seperti kehadiran jiwa Edna dalam tubuh Ribi, Dave tahu dia tidak menyesal melanggar peraturannya sendiri tentang pengunaan sihir. Padahal sebelumnya dia berdebat cukup sengit dengan Ares tentang hal ini.

Dave mendengar suara Fred yang tengah menjelaskan tentang kondis Thussthra pada Ribi dan Dave mendesah lelah begitu sampai pada wajah Ribi. Dia masih tidak percaya. Perempuan yang lebih sering membuat repot dan tidak punya keahlian yang mumpuni itu adalah kelahiran kembali dari seorang putri api.

“Lalu bagaimana?”

Suara Ares mengintrupsi lamunannya, dia menoleh pada Ares yang sudah dengan tangan terlipat di depan dadanya, menatapnya. Tak sabar.

“Apanya yang bagaimana?”

“Tongkat sihir kami, Dave.” Ribi menyela setelah menghela nafas. Tidak menyangka jika penyihir nomer satu di Tierraz ini keterlaluan sekali bodohnya.

“Kau bisa menyuruh anilamarrymu untuk mencarikannya untuk kami,” usul Fred, “Jika tebakanku benar, dan kita memang berada di wilayah Thustthra. Itu tidak akan sulit.”

“Mencari?” Ribi terkikik, “Kupikir kau akan mengatakan bahwa kau ingin meminta Memnus mencuri tongkat sihir demi kita.”

Fred gelagapan, “Bukan begitu. Ada kabar Dave bisa mengeluarkan emas dengan sihirnya. Jadi dia bisa memberi beberapa keping emas pada anilamarrynya itu dan kita bisa memperoleh tongkat sihir baru.”

Ares mendengus keras, “Jangan bilang kau percaya tentang Dave bisa menyihir emas keluar dari tangannya itu, Fredderick Colfer Kupikir kau ini anggota Interoir senior. Jangan lupa tentang mekanisme sihir dasar.”

Wajah Fred merona malu dan dia tidak bisa mengatakan apapun. Ribi yang untuk pertama kalinya menyadari hal itu, memandangi mereka berdua bergantian. Wajah Fred yang kikuk ketika dulu berbincang dengan Ares di pesta penobatan Mahha, membayang di depannya. Mendadak dia merasa khawatir, apakah Fred menyukai Ares?

“Berhenti membuat orang lain selalu terlihat lemah, Ares.” sergah Dave, lalu sebentar kemudian dia memandang pada Fred, “Aku tidak bisa menyihir emas keluar dari tangannku, Fred. Aku hanya mengambil emas yang ada di Zeyzga. Selain itu, kurasa ide kalian cukup bagus. Aku akan memanggil Memnus untuk melakukan itu. Tapi kupikir kalian harus tahan mendengar semua ocehan dan omelannya yang tidak penting.”

Ares menggerutu dan Fred menarik nafas panjang. Hanya Ribi satu-satunya yang nampak senang. Ribi sangat menyukai anilamarry Dave yang sangat bersemangat itu. Maka ketika Memnus muncul lagi di samping mereka, hanya Ribi yang tersenyum lebar dan melambai riang pada Memnus yang menekuk wajahnya. Memnus masih berwujud laki-laki seusai Dave dengan kulit kecokelatannya. Mungkin itu bentuk fisik yang paling disukai oleh Memnus, pikir Ribi.

“Apalagi sekarang?” suara Memnus jelas terdengar dongkol, “Apa aku tidak bisa beristirahat sebentar saja. Intisariku bisa rusak jika terus menerus berada dalam wujud fisik.”

“Kami tidak akan merepotkanmu jika aku punya Barielle dan Fred punya anilamarrynya di sini.” sahut Ares tidak tahan.

Memnus memutar kepalanya ke arah Ares, “Dan bukan urusanku jika kau terlalu payah untuk bisa memanggil mereka.”

Ares sudah akan mengucapkan sesuatu ketika Dave menahannya. Tangan Dave berada di bahu Ares dan dia bersuara, “Pergi dan carikan tiga tongkat sihir…” dia melemparkan beberapa keping emas ke arah Memnus. Fred tidak pernah melihat emas-emas itu sebelum mendadak sudah berada di tangan Dave dan kini telah ada di genggaman si anilamarry.

“… Setelah itu aku berjanji tidak akan memanggimlu lagi jika bukan memang untuk urusan yang penting.”

Dagu Memnus terangkat, menimbang. Kemudian dia tersenyum, “Tiga? Untuk siapa yang satu? Apa menurutmu Gabrietta masih memerlukan tongkat sihir?”

Dave mendelik marah dan Memnus langsung sadar jika penyihir pemiliknya ini belum mengatakan apapun kepada teman-temannya tentang Ribi. Dia langsung tersenyum jahil, “Ups,” ucapnya tak terdengar menyesal, “Aku pergi.”

Dan dengan begitu saja si laki-laki berkulit cokelat menghilang. Ares yang mengerti benar setiap keanehan yang ada langsung menoleh pada Dave, “Jelaskan.” tuntutnya.

“Apa yang—“

“Dia,” Ares menunjuk Ribi, “Apakah Gabrietta memang sejak awal tidak punya kekuatan sihir? Apa kau membohongiku ketika kau mengatakan padaku bahwa kau membawanya dari dunia lain?”

Fred membelalak, “Apa maksudnya ini?”

Ribi memucat dan memandang Dave dengan takut-takut. Tidak yakin atas apa yang akan dikatakan oleh Dave. Selain itu dia sendiri juga diliputi kebimbangan yang besar. Sekarang dia sering memandangi tangannya dan bertanya-tanya bagaimana bisa dia melakukan itu. Api biru. Bahkan sekarang dia juga yakin benar jika api biru yang menyelamatkan mereka dari anilamarry gila dari perkemahan para kaum liar juga berasal dari tangannya. Tapi bagaimana bisa? Selalu kalimat itu yang berputar-putar dan tak menemukan jawaban apapun di dalam kepalanya.

“Aku akan jelaskan nanti, Fred.” Dave menghela nafas lalu beralih pada Ares, “Aku jujur padamu tentang darimana Ribi berasal, Ares. Dan tentang apa yang terjadi di lorong kastil kerajaan elf liar sepenuhnya di luar kehendak Ribi. Itu terjadi semata-mata karena Ribi baru saja belajar sihir. Ingat semua tanda-tanda yang muncul ketika pertama kali aura sihir kalian muncul? Kalian juga akan bisa melakukan semua hal magis tanpa bantuan sihir.”

“Tapi itu ketika kita masih di bawah umur, Dave.” sanggah Ares, “Dan kupikir Gabrietta bahkan sudah berusia..” dia melirik Ribi.

“Tujuh belas.” jawab Ribi, mengerti makna tatapan Ares.

Ares kembali memandang Dave, “Tujuh belas. Kau dengar?”

“Dan selama tujuh belas tahun sebelumnya dia hidup di dunia lain, Ares. Jangan lupakan itu.” Dave berkeras, “Dia berada jauh dari Tierraz. Tumbuh di dunia kemodernan yang berlawanan arus dengan hakikat sihir. Itu bisa saja menghambat kekuatan sihir di dalam tubuh Ribi. Dan ketika dia kembali, menyentuh sihir dan kekuatan sihirnya yang tertumpuk di dalam tubuhnya merespon. Api biru itu bisa jadi jawabannya.”

Kali ini Ares diam. Memikirkan apa yang dikatakan Dave dan berpendapat bahwa itu masuk akal. Searah dengan Ares, Ribi pun berpendapat demikian.

“Jadi api biru itu timbunan kekuatan sihirku yang terkekang selama ini?” bisiknya pelan.

Fred menoleh, meski tak mendengar jelas gumaman Ribi, “Apa maksud Dave kau berasal dari dunia lain, Ribi?”

Dave berdehem, “Berjanjilah kau tidak akan mengatakan ini pada siapapun Fred,”

“Tentang apa?” kening Fred berkerut, tidak mengerti.

“Tentang Ribi.”

“Aku akan mengorbankan bahkan nyawaku jika itu memang diperlukan.”

“Jangan mudah mengatakan hal semacam itu.” Ares menyela, “Kau cuma punya satu nyawa dan jangan mempertaruhkannya untuk sesuatu yang tidak benar kau tahu.”

“Aku pegang kata-katamu, Fredderick Colfer.” ucap Dave pelan, dan sebuah jaring sihir berpendar lembut memerangkap tubuh Fred. Sedetik kemudian jaring itu menghilang. Seolah melebur ke dalam tubuh Fred.

Ribi ternganga dan sempat memundurkan dirinya menjauh dari Fred secara tidak sengaja. Dia tahu jelas apa yang dilakukan oleh Dave. Dia pernah membaca tentang hal ini di dalam salah salu buku yang diberikan oleh Argulus. Sekarang Fred tidak akan pernah bisa melanggar janjinya atau apa yang telah dia persembahkan akan diambil. Dan Fred memberikan nyawanya. Jelas harga yang tinggi hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya akan asal usul dirinya. Sedikit banyak, Ribi merasa bersalah.

“Kau tidak perlu melakukan itu, Dave!” Ares berteriak marah dan menatap Dave murka. Sementara Fred yang masih dikuasai keterkejutan tak bisa menghindar atas apa yang sudah dilakukan oleh Dave padanya.

“Jaring sihir itu tak akan muncul jika Fred memang bermain-main dengan ucapannya. Ini bukan persetujuan satu pihak.” ucap Dave ringan. Dia melakukan hal itu untuk melindungi Ribi. Sebab jika orang lain tahu dia berasal dari dunia lain, segalanya akan memburuk bagi kehidupan Ribi di Tierraz. Belum lagi menghitung tentang jiwa Edna di tubuh perempuan itu.

“Tapi kau—“

“Tidak apa-apa, Ares.” potong Fred, “Aku tidak keberatan. Dave benar. Sekarang kalian harus ceritakan padaku semuanya. Darimana sesungguhnya Ribi berasal?”

“Dunia lain. Dimana manusianya tidak ada yang bisa menggunakan sihir. Tempat yang selama ini hanya dianggap mitos oleh semua penghuni Tierraz, kecuali mereka yang tahu kebenarannya, para anggota persekutuan dan keturunan Mahha. Di dunia itu, bukan sihir yang bekerja melainkan teknologi. Kau jelas tahu dunia apa yang kumaksud, bukan?”

Mulut Fred ternganga, “Dengan semua mesin-mesin menakutkan yang selalu diceritakan oleh orang-orang sebagai dongeng gelap sebelum tidur?”

Dave mengangguk sementara Ribi memutar bola matanya, “Mesin-mesin menakutkan apa?” Ribi memandang ke arah Fred.

“Mesin-mesin yang menghancurkan alam. Dari baja, dari logam. Mesin-mesin yang mengantikan otak dan otot manusianya.”

“Tapi apa? Mesin cuci? Komputer? Tapi itu—“

“Apakah kau tidak tahu ruh utama dari perjanjian pertama di Tierraz?” Ares terlihat jengkel, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ribi.

“Tierraz menolak teknologi mesin, Ribi.” papar Fred, “Ketika manusia pertama di Tierraz mendapatkan berkah sihir dari para putra sulung Tierraz, hal itu adalah segala utama yang disyaratkan Alzarox. Kau memilih teknologi dan sihir Tierraz lenyap. Lalu para putra sulung akan menghabisimu sampai tak ada satupun turunanmu yang hidup. Tapi penyihir pertama, Rhegaer, memilih berkah sihir dan itulah awal lahirnya keturunan para penyihir.”

Ribi menggeleng, “Tak pernah baca tentang itu.”

“Maka banyak yang kau tidak tahu tentang Tierraz, Gabrietta.” sahut Ares.

“Lagipula apa pentingnya mesin-mesin itu jika kau punya sihir di tanganmu. Percayalah, Rhae—atau siapalah tadi namanya, penyihir pertama itu—dia tidak salah memilih.” ucap Ribi sungguh-sungguh.

“Tak diragukan,” Dave menyetujui. Sebab dia sudah melihat sendiri bagaimana dunia asal Ribi. Dan dia menyukai Tierraz ribuan kali lebih banyak.

“Dan kau benar-benar tumbuh dan besar di dunia itu? Dimana mesin-mesin berkuasa?” Fred memandangi Ribi dengan penuh rasa ingin tahu.

Ribi hanya bisa mengangguk. Meskipun dia rasa, tinggal di dunianya dulu juga tidak seburuk apa yang mungkin dibayangkan Fred. Tapi dia tidak bisa menemukan kalimat-kalimat yang tepat untuk menggambarkan semua itu. Bagaimana mungkin menjelaskan betapa bergunanya komputer, telepon, mobil, pesawat terbang.. pada seseorang yang bahkan tak pernah tahu bahwa benda-benda itu memang ada.

“Bagaimana kau bisa membawanya?” kali ini Fred menatap Dave, “Kau tidak menculiknya, bukan?”

Tepat setelah Fred bertanya, mendadak tiga tongkat sihir jatuh masing-masing di atas pangkuan Ares, Fred dan Ribi. Si laki-laki berkulit cokelat sudah bersedekap duduk di dekat Dave, tersenyum.

“Oh, sesungguhnya aku yang berjasa dalam hal itu, Fredderick Colfer.” ucapnya, “Jika aku tidak meyakinkan si pangeran congkak keras kepala, mungkin kau tidak akan pernah bertemu Ed—perempuan secantik Gabrietta.” koreksinya cepat sampai bahkan mereka semua, kecuali Dave tentu saja, tak menyadari jika dia nyaris menyebut nama lain.

Ribi mengangkat wajahnya dan tersenyum malu pada Memnus yang tertawa lebar padanya. Dave menghela nafas panjang seraya melirik Memnus yang berusaha tak peduli padanya. Fred dan Ares langsung sibuk dengan tongkat sihir mereka. Sepertinya telah mengabaikan entah apa yang sebelumnya bercokol di kepala mereka.

Bunyi dua pop beruntutan dan seekor kucing berbulu putih lembut melompat bergerung ke pangkuan Ares, disusul dengan seekor elang besar yang mematuk-matuk lebut lutut Fred. Ribi hanya bisa menyaksikan Ares dan Fred memanggil anilamarry mereka dan menelan rasa irinya. Dia selalu ingin punya anilamarry.

“Barielle, lebih baik cari wujud fisik yang berguna dan kau bisa mencarikan majikanmu makanan. Aku bisa mendengar perut mereka berbunyi.” sela Memnus lagi sambil menguap lebar.

Ribi tak bisa mengerti apa yang dikatakan oleh anilamarry Ares karena yang didengarnya hanya suara kucing yang mengeong marah. Tapi Ribi mendengar Ares mendengus, lalu mengucapkan mantra dan menyebut nama Fred dan Ribi di dalamnya.

“… tutup mulut baumu, Memnus. Aku sudah bahagia sekali tidak melihatmu dan kau mendadak muncul lagi..”

Ribi dan Fred langsung saling pandang. Sepertinya mereka memilih untuk tidak mengerti percakapan antara dua anilamarry ini. Bagi keduanya, mendengar silang pendapat antara Dave dan Ares sudah cukup buruk, dan mendengar yang sejenis itu dari dua anilamarry mereka, memperburuk apa yang sudah buruk.

***

Fred berjalan pelan di pinggiran sungai yang hampir mengering. Ilalang tinggi bergoyang-goyang di belakangnya. Dia berjongkok, melepas bebatan kain pada pergelangan tangan kirinya. Ketika kain itu jatuh ke tanah, dia menatap punggung telapak tangan kirinya. Ada denyur menyakitkan berasal dari sana dan perlahan sebuah tanda timbul di atas sana. Membentuk simbol kristal segienam yang selama ini diketahuinya dengan pasti tak pernah ada di sana.

Dia menangkupkan tangannya yang lain pada simbol itu dan membenamkan kedua tangannya ke dalam aliran sungai yang sekarat.

“Air,” bisiknya disusul rangkaian panjang mantra lain dan dari dasar sungai dangkal yang disentuhnya muncul mata air besar yang langsung menambah kubik air di sungai ini. Fred terjungkal ke belakang karena terkejut. Matanya menatap nyalang pada mata air itu.

Dengan cepat, diayunkannya tangan kirinya dengan mantra terucap di dalam kepalanya dan dengan segera mata air itu lenyap.

“Tidak mungkin,” suaranya putus asa.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

 

Mau Baca Lainnya?

17 Comments

  1. Thor kapan luca muncul ?????????? kok lama bangeet !!!!!!!!!!!!!!! udah g sabar pingin liat ribi ma luca bersatu

    (valterynez)

  2. Fred itu Danesh kah? Kakak pertama Dave?? *terkejut* soalnya kan Dave juga punya simbol segienam dan yang punya simbol itu cuma keturunan Mahha.. #cuma nebak sichh, hehe

    (thimy)

  3. Luca?? Belum tentu dia terlahir pada masa ini juga. Atau entah yah, kita tunggu saja. Dave udah kebanyakan masalah. Kalau ditambah lagi, khawatir dia makin stress dan ga konsisten. Muahahahha *poor Dave*

  4. Yuhuuu.. bau-baunya sih begitu. *timpukin Ria*

    Iya, aku juga kaget kenap mendadak jadi begini. Efek ngga pernah bikin draft cerita ya gini. Out of control. Selaras sama hati dan jari-jari aja jadinya laju ceritanya 😛

  5. Thor please bt luca terlahir kembali pada masa ini !!!!!!!!! kl g terlahir y,paling g bt ribi ketemu jiwax luca. Habisx pingin liat mereka bersatu, kisah cinta yg hiks…………..hiks………..menyedihkan

    (valterynez)

Leave a Reply

Your email address will not be published.