Xexa – Teman

Fred tak pernah merasa sebingung ini sepanjang hidupnya. Tapi semua yang menimpanya saat ini benar-benar membuatnya tak sanggup menentukan langkah. Dan denyut menyakitkan di punggung telapak tangannya justru memperburuk segalanya. Belum lagi apa yang sudah dilakukannya pada Gabrietta. Gadis itu tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya dia memperlakukannya seperti itu.

“Pangeran..”

Dia memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan cepat sebelum menoleh pada anilamarrynya. Seorang laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam menatapnya dengan sepasang mata kecil tajam yang tak asing lagi.

“Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.” ucapnya kesal meski tahu itu tak berguna. Ahriman selalu memanggilnya dengan sebutan itu sejak dia memberitahunya secara langsung bahwa dia adalah Danesh, sang pangeran terkutuk. Pangeran terkutuk? Fred mendengus lelah.

“Anda harus segera memutuskannya,”

Fred menyandarkan tubuhnya pada pohon besar di belakangnya, merasa lelah dengan semua yang menekannya. Dia tidak pernah berharap akan seperti ini, dia hanya ingin menjadi seorang Fredderick Colfer, bukannya Danesh Michail Miranda. Dia hanya ingin melalui hidupnya sebagai seorang Interoir senior. Apa yang sudah dicapainya sejauh ini sudah cukup untuknya, dan dia tidak butuh hal lainnya. Apalagi menjadi seorang pangeran yang kelahirannya saja dikutuk oleh semua makhluk cahaya. Tidak, Fred sama sekali tidak membutuhkan hal itu.

“Aku tidak bisa,” Fred berbisik, “Bagaimana aku bisa melakukan semua yang kau sarankan? Ini gila, Ahriman.”

Si laki-laki menarik nafas panjang, menurunkan tudung jubahnya, “Anda tidak memberi saya pilihan pangeran. Saya terpaksa harus menunjukkan ini pada anda.” dan tangannya terayun mengarah pada udara terbuka di depan Fred. Sekumpulan kabut abu-abu pekat mendadak muncul dan sebuah citra menampakkan diri di sana.

Citra sebuah kejadian di masa lalu.

***

Suara ombak yang menghantam tebing dengan keras di sampingnya sama sekali tidak menganggunya. Bahkan percikan air laut yang membasahi jubah belakangnya juga tak membuatnya bergerak. Sorglos masih diam. Menatap kaku pada pintu kayu melengkung di depannya. Pintu menara utama penjara Rezzermere.

Bangunan ini sama sekali tidak berubah,pikiran itu yang pertama muncul di kepalanya. Bangunan yang sama yang juga didatanginya dua puluh tahun lalu. Sorglos masih ingat bagaimana dulu dia bersembunyi di balik gelap hutan tak jauh dari menara ini, menatap ke arah pintu utama di depannya ini ketika puluhan Interoir senior menyeret Mohave masuk ke dalam penjara. Dan di dalam bangunan inilah, mereka membiarkan Mohave membusuk nyaris selama dua puluh tahun ini.

Satu tarikan panjang mengubur penyesalan besarnya dan dia melangkah maju. Tangannya mendorong pintu melengkung itu, dan segera saja aura kelam itu menyeruak mendorongnya agar mundur kembali dan tidak masuk ke dalam. Tapi dia mengabaikannya dan terus melangkah masuk. Bau laut dan hutan yang diciumnya sebelum dia melangkah masuk ke dalam langsung hilang dan digantikan bau apak dan amis yang menguar kuat. Tapi lebih dari itu semua, aura kuat di sekitarnyalah yang terasa lebih membuatnya tidak nyaman. Perasaannya memburuk dan dia tahu inilah nyawa Rezzermere, penjara tanpa penjaga, yang keramat dan dihindari semua makhluk penghuni Tierraz. Sebab hanya dengan terjebak di sini saja sudah cukup untuk menggantikan siksaan terkeji di penjara sihir manapun.

Rezzermere menyiksa penghuninya dengan menghancurkan mental dan pikiran mereka perlahan-lahan, sampai pada akhirnya tidak ada yang tersisa selain seonggok tubuh yang meminta kematian untuk datang padanya. Sebuah menara besar tua dan ruangan-ruangan bawah tanah, penjara kecil ini sudah sanggup menjadi momok besar para penyihir yang ingin melawan kerajaan.

Sorglos mendengus, melawan kerajaan? Mereka gila. Jika itu alasan mereka memasukkan Mohave ke Rezzermere, maka mereka salah besar. Mohave justru berusaha menyelamatkan seluruh kerajaan sihir. Dan mereka semua akan menyadarinya sekarang, setelah semuanya sudah terlambat. Saat sang pangeran terkutuk akan menuntut haknya dan menyelesaikan ramalannya.

Dan satu-satunya yang diharapkannya sekarang adalah sebuah jawaban. Sebuah jawaban dari Mohave dan dia akan bisa menyelesaikan semua hal yang belum sempat diselesaikan olehnya. Sorglos akan menyelesaikan semuanya untuk Mohave. Dia akan—tidak—dia menggeleng. Dia harus. Dan kali ini tidak boleh ada kesalahan.

Langkahnya mantap ketika dia menuruni tangga berlumut licin menuju ruang bawah tanah menara. Dia tidak perlu mencari ke seluruh sudut Rezzermere, sebab dengan hanya mengikuti pusat aura menyakitkan ini, dia yakin dia akan menemukan Mohave. Dan dia memang tidak salah. Sebab satu-satunya penghuni Rezzermere saat ini hanyalah Mohave.

Kakinya membeku mendadak, punggung membungkuk dan menekuk ke dalam itu mengagetkannya. Tubuh itu begitu kurus sampai Sorglos tak yakin apakah itu memang tubuh manusia atau hanya tulang belulang terbungkus jubah kotor berlubang. Posisinya yang tengah bersujud dengan kepala menekuk ke dalam, nyaris saja membuatnya menabraknya jika saja dia tidak berhenti tepat waktu, Punggung tubuh itu bergetar pelan dan statis. Seolah wajah yang disembunyikan pemiliknya tengah berusaha keras menahan tangis kerasnya.

Tangan Sorglos terkepal, berusaha membungkus amarahnya. Dia menekuk lututnya dan duduk di samping tubuh itu. Dengan keraguan, disentuhnya punggung itu.

“Mohave..” suaranya bergetar bahkan tanpa disadarinya.

Reaksi yang diterimanya malah lebih mengejutkannya daripada mendengar suaranya yang gemetar ragu. Tubuh ringkih itu melonjak bangun, membuat Sorglos terlonjak dan jatuh terduduk.

“Kau—“ bibir pucat dan pecah-pecah itu bergetar hebat. Dengan menyeret tubuhnya, Mohave meraup kedua tangan Sorglos, “Kau.. ak..hirnya.. datang.”

Sepasang iris hitam itu menatap kosong pada Sorglos, “Kau datang..” ulangnya dengan cengkeraman yang semakin dieratkannya pada lengan Sorglos.

“Kau sudah menungguku?” Sorglos pada akhirnya bisa menguasai keterkejutannya. Mengabaikan kuku tajam dan kotor Mohave yang menusuk tajam di daging lengannya, dia hanya memperhatikan sosok di depannya.

Pernah pada suatu masa dulu, dia sangat menghormati dan tunduk pada laki-laki di depannya ini. Laki-laki ini pun pernah berdiri dengan sangat gagah dan tangguh dengan jubah sutra dan pakaian bangsawan penyihir menyelimuti tubuhnya. Laki-laki ini pernah menguasai sihir gelap terkuat dan bersumpah tidak akan jatuh sampai janjinya pada kerajaannya terpenuhi. Tapi sekarang, di sinilah laki-laki ini berada, di penjara sihir Razzermere. Bungkuk, tua, dan sekarat.

Rambut abu-abu yang panjang berminyak itu jatuh di samping masing-masing tulang pipinya yang menonjol ketika wajah itu bergerak perlahan dan maju sampai hanya bersisa sejengkal tangan dari wajah Sorglos.

“Pangeran itu.. datang.” bisiknya. Bau nafasnya yang luar biasa tidak enak menghantam wajah Sorglos, yang dengan sabar hanya mengangguk.

“Aku tahu,” jawabnya dengan menjauhkan sosok Mohave darinya. Cengkeram tangan itu berhasil dilepaskannya, dan dia berdiri. Kali ini harus menunduk karena Mohave tak bergerak dari tempatnya.

“Dan kau harus membantuku untuk membunuhnya.”

“Pangeran itu datang. Pangeran itu… datang” gumaman itu terus berlanjut dan Mohave menarik dirinya menjauh hingga punggungnya menghantam dinding penjara yang berlumut dan dingin.

Matanya tanpa fokus, hanya ketakutan dan hal lain yang bahkan tak bisa ditebak oleh Sorglos. Dia memejamkan matanya beberapa detik, menguatkan dirinya. Dan begitu dia membuka matanya, tubuh Mohave sudah merosot ke lantai batu yang lembab. Kedua kakinya tertekut merapat pada dadanya dan tubuh itu gemetar.

“Yang hilang sudah kembali pulang. Yang terkurung mencoba dibangkitkan. Sang abdi mendamba puji tuannya. Pencarian. Pencarian.. pencarian.. Sang pangeran terkutuk datang. Dia datang.. datang. Datang..” mulut itu terus bergumam dan semakin tidak jelas.

Sorglos mendekat, menekuk lututnya hingga tingginya sejajar dengan Mohave. Diraihnya sesuatu dari dalam jubahnya. Dengan pelan, diulurkannya benda itu di depan Mohave.

“Waktunya sudah tiba. Aku akan menyelesaikannya untukmu. Seperti sumpahku padamu.” suara Sorglos tegas meskipun dia pun tak yakin sanggup melakukan seperti apa yang sudah dipikirkannya.

Gemetar di tubuh Mohave lenyap, dan mendadak, seutas senyum tipis muncul di bibirnya. Tangannya terulur dan dengan pelan disentuhnya benda itu—sebuah belati perak tua yang ujungnya nampak tumpul.

“Katakan padaku apapun yang kau tahu. Rahasia terbesarmu yang tak pernah kau katakan pada orang lain. Rahasia yang sanggup membuatmu bertahan di tempat ini. Rahasia yang menguatkan pikiranmu dan tak melenyapkanmu dalam kegilaan total Rezzermere. Rahasia yang… akan menjadi penutup perjalananmu. Katakan padaku, dan aku akan menyelesaikan tugasmu, saudaraku.”

Pelan sekali, tangan itu menyentuh pangkal belati dan mengenggamnya. Membawanya mendekat pada dadanya. Kepalanya terangkat dan sepasang mata itu menatap Sorglos. “Dia datang dan sang pangeran kedua tak sadar pada apa yang ada pada genggemannya. Dia datang,” ucapnya lagi serupa bisikan.

“Kembali.. dia kembali.” kata-kata itu terulang dalam sisipan tawa asing yang keluar dari bibir Mohave. Sorglos mendengarkan dalam diam, bahkan ketika dia menyadari ada warna merah di sela-sela genggaman tangan di depan dada Mohave. Laki-laki itu mengenggam belatinya dengan dua tangannya tanpa peduli pada bagian tajamnya.

“Dua sumber mata air, yang hanya mengalirkan air ketika kesedihan dan kebahagiaan datang. Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan.”

Sorglos menarik nafas panjang. Baris-baris itu sudah dihafalnya dengan benar. Sang putri penjaga. Jejak terakhir Xexa. Lalu apa lagi? Seharusnya masih ada lagi? Dia mengerutkan keningnya dan meneliti. Apakah Mohave telah kehilangan semua ingatannya? Apakah sihir di Rezzermere sudah melenyapkan semua pengetahuannya?

Mendadak dia mendengar tawa kecil Mohave, dan mata kecilnya memandangi Sorglos dengan tatapan asing, mulutnya komat kamit tanpa satu suara pun tercipta. Lalu dia bungkam. Kemudian tersenyum pada Sorglos di depannya dan mulutnya terbuka pelan.

“Takdir lain dari keturunan sang putri penjaga. Keturunan yang dilenyapkan oleh sang ratu. Temukan dia dan kau akan kuasai sang kegelapan. Batu Xexa bersama sang putri.”

Rahang Sorglos mengeras dan buku-buku jarinya tergenggam erat, “Myrella..” kutuknya penuh amarah. Dia memahami apa yang dikatakan Mohave. Keturunan yang dilenyapkan oleh sang ratu. Dia akhirnya tahu kenapa Mohave dulu begitu marah dan sampai membiarkan dirinya mengucap kutuk kuno yang menyedot nyaris sebagian besar kekuatannya hanya untuk seorang ratu lemah padahal dia punya pertarungan lain yang lebih besar dengan Mahha Miranda dan kesatuan interoir Zerozhia. Jika bukan karena kutuk itu, Mohave tak akan kalah. Mohave tak akan berakhir di Rezzermere. Dan dirinya tak akan—tidak—dia sudah melupakannya. Dia tak perlu mengingat semua peristiwa di balik bekas luka memanjang mengerikan di pipi kirinya. Bekas luka yang tak akan pernah hilang oleh sihir sekali pun.

“Lakukan.. lakukan sekarang.” mendadak Mohave mendorongnya dengan keras dan mencengkeram jubahnya bersamaan dengan suara belati yang terjatuh ke lantai batu. “Selesaikan.. selesaikan.” gumaman Mohave berlanjut dan mata kecil berair miliknya semakin kehilangan fokus.

Anggukan pendek, dan Sorglos meraih belati perak yang tergeletak tak jauh darinya. Digenggamnya erat belati yang sudah berlumur darah dari tangan Mohave itu. Dalam gerakan pelan, dipeluknya Mohave rapat, “Beristirahatlah, saudaraku.” bisiknya tepat di telinga Mohave.

Mata Mohave melebar—sebentar—sebelum akhirnya menutup perlahan. Dan belati yang sudah berdarah tenggelam semakin dalam di dadanya bersama setiap tekanan pelukan dari Sorglos.

***

Ribi memegang gelas kayu itu dengan kedua tangannya. Hangat minuman para peri hutan itu menjalari tenggorokan dan perutnya ketika dia meneguknya sedikit. Ribi tidak yakin apa dia lebih menyukai minuman ini atau coklat panas buatan ibu kepala panti. Dia belum ingin memikirkan itu, karena wajah Fred yang gusar dan bentakannya pada dirinya siang tadi masih memenuhi pikirannya. Belum lagi Fred yang belum kembali sejak meninggalkannya saat itu membuatnya semakin resah. Helaan nafas panjang dan Ribi memandang bulan sabit di langit malam yang gelap. Dimanakah Fred?

“Jadi akhirnya hanya kita berdua yang tertinggal di sini?”

Ares menempatkan dirinya duduk di samping Ribi di atas batuan tepi sungai kecil. Tanpa memandang Ribi yang masih terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, dia mengambil batu-batu kecil di dekatnya dan melemparkannya satu-satu ke sungai yang beriak lemah di depannya.

“Mereka memang benar-benar bodoh dan egois, bukan?”

Ribi mengerjap, tidak tahu harus mengomentari apa. Dia tahu bagaimana perasaan Ares sudah buruk seharian ini. Satu kata salah dan dia mungkin akan berakhir mendengarkan omelan Ares lagi. Lagipula menurutnya, Ares hanya sedang membicarakan Dave dan bukannya Fred.

Dia akhirnya hanya mengangguk dan Ares menghela nafas panjang, melempar satu batu lagi dan setelahnya hening menyelimuti mereka berdua. Terus terang saja Ares juga tidak tahu harus mengatakan apa, dia masih terlalu kesal pada Dave dan melihat wajah Ribi yang terlihat bingung dan khawatir, dia memutuskan tidak memaki Dave lagi. Cukup untuk hari ini dan dia akan menyimpan semuanya sampai Dave sendiri yang menunjukkan wajahnya di depannya.

“Menurutmu kemana mereka pergi?”

“Dave?”

Ares mengangguk, “Ya, dia dan Foster. Dan juga si Fredderick Colfer. Para laki-laki benar-benar menyebalkan. Aku tak tahu sebenarnya apa yang membuat mereka mengambil keputusan tanpa melibatkan kita berdua. Kurasa mereka menganggap kita lemah dan menganggu.” dia mendengus, menyadari bahwa ternyata dia bahkan tidak bisa menunggu sampai Dave datang untuk mulai bicara tentangnya lagi.

“Kalo aku, mungkin iya, tapi kau—lemah dan menganggu?” Ribi tersenyum kecil, “Kurasa Dave hanya ingin fokus saja pada apa yang mungkin sedang dicarinya bersama Foster.”

“Apakah menurutmu kehadiranku bisa membuat Dave kehilangan fokusnya?”

“Eh,?” Ribi mulai merasa dia mengatakan sesuatu yang salah ketika dia menemukan Ares memandangnya dengan mata menyipit.

“Kau sama menyebalkannya dengan Dave.” ucap Ares sebal dan dengan serentak dilemparnya semua batuan kecil di genggamannya ke dalam air.

“Ak—aku tidak bermaksud—“

“Aku tahu,” potong Ares cepat, “Kau semakin terlihat menyebalkan jika gugup seperti itu. Kau tahu, Gabrietta? Jika kau masih bersikap seperti itu, kau tidak akan bertahan lama di Tierraz. Percayalah, Tierraz lebih kejam dari dunia manapun di kehidupan ini,” dia memandang Ribi dengan hati-hati, “Bahkan jika dibanding dengan duniamu sekalipun.”

Ribi terdiam, lalu mengangguk. Dia tahu Ares benar. Mereka bahkan mengizinkan orang saling membunuh dengan bebas di sini. Ribi tersenyum kecut, lalu mengamati Ares yang sekarang sudah kembali memandang ke air yang memantulkan bulan sabit bergoyang di antara riaknya.

“Kau pernah datang ke duniaku, Ares?”

“Kau bercanda?” Ares mendengus, “Kau bilang kau membaca banyak buku tentang sihir dari Argulus. Tapi hal sederhana seperti itu saja kau tak tahu.”

Mengabaikan nada sinis Ares—dia mulai terbiasa dengan hal ini—Ribi mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

Ares menoleh, menatap Ribi bulat-bulat, “Tidak sembarang orang bisa keluar masuk melalui gerbang antar dunia, Gabrietta. Hanya Mahha dan keturunannya, para putra sulung dan mereka ketua dari persekutuan besar. Tierraz tidak semudah itu mengizinkan orang lain—tunggu,” dia berhenti cepat dan kedua alisnya saling tertaut rapat.

“Kau yakin kau tidak berasal dari Tierraz, Ribi? Kau tidak kehilangan ingatan masa kecilmu? Kau yakin kau benar-benar manusia dari dunia itu?”

Ribi mengangguk yakin, “Tak satupun yang tak kuingat.” jawabnya pelan, bahkan aku mengingat dengan baik tentang masa kanakku ketika teman-temanku menjauhiku dan memanggilku orang aneh.

Ares nampak berpikir keras, “Menurut buku-buku lama, gerbang Tierraz hanya membuka untuk putra-putri mereka. Tanah ini hanya menerima mereka yang pulang. Bukan yang datang.”

Hening menyelimuti mereka berdua sampai akhirnya Ares yang menghentikan kecanggungan itu, “Tidak,” ucapnya, dia menggeleng, “Mungkin sudah ada yang berubah. Dave adalah keturunan Mahha dan kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa para keturunan Mahha lakukan. Mungkin saja dia melakukan mantra kuno dan membuat Tierraz melakukan pengecualian padamu.”

“Tapi bagaimana dengan sihir yang kulakukan di kerajaan bawah tanah milik Lord Landis?” diam-diam dia berharap dia memang manusia yang berasal dari Tierraz.

“Sihir api biru itu?”

Ribi mengangguk.

“Dave sudah menjawab pertanyaan itu, bukan? Tierraz adalah tanah sihir, Gabrietta. Bahkan jika kau tak punya keahlian sihir dari lahir. Pada akhirnya kau tetap akan memiliki sihir dalam dirimu, sebab udara yang kau hirup, air yang kau minum, dedaunan yang kau makan, semuanya mengandung sihir. Semua elemen di Tierraz bermandikan sihir alami yang tidak akan pernah habis. Hanya bagaimana caramu membuat sihir dalam dirimu bangun dan berguna untukmulah yang membedakan masing-masing makhluk di Tierraz. Bahkan sebenarnya kaum liar pun juga punya sihir dalam diri mereka. Mereka hanya tidak tahu bagaimana membangunkannya dan menggunakannya.”

Ribi menatap Ares dengan terpesona, dia benar-benar memuji pengetahuan perempuan di depannya itu meskipun untuk kepribadian, Ribi tidak yakin. Areschia Azhena terlalu meledak-ledak dan mudah bersikap kasar pada siapa saja sesuai dengan suanana hatinya. Jika ditanya tentang bagaimana mereka berdua pada akhirnya bisa berbincang seolah memang sudah mengenal sejak lama seperti ini, Ribi tidak akan tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mengatakan, jika itu semua adalah keputusan Ares

“Kemana sebenarnya pangeran sialan itu? Jika aku punya tanda seperti miliknya di punggung tanganku. Aku sudah akan memanggilnya dan menyeretkan ke depanku sekarang.” ucsp Ares mendadak setelah dia menghembuskan nafas panjang, kembali nampak kesal.

“Dia benar-benar berniat untuk membuatku mencemburkan kepalanya di sungai ini, biar dia bisa berpikir lebih jernih lagi.”

Tertawa kecil, pada akhirnya Ribi tak bisa menahan diri lagi.

“Apa?” potong Ares tak suka mendengar suara tawa Ribi.

“Kalian berdua benar-benar dekat, ya? Aku tidak pernah melihat seorang memaki dan memarahi Dave seperti yang kau lakukan. Bahkan Lady Azhena dan Mora pun tak sanggup melakukannya.”

Ares tertawa sinis, “Dekat? Lebih tepatnya kami dibesarkan bersama. Meskipun aku punya Lady Azhena sebagai ibuku, dan Mohave sebagai ayahku, aku merasa aku seperti Dave, tidak punya keduanya. Aku mengurus semua yang kubutuhkan sendiri. Aku besar dari tangan para pesuruh ibuku. Dan Dave besar bersama semua aturan dan hal rumit yang diajarkan Mora dan para peri kerajaan lainnya. Kami tumbuh bersama karena persamaan itu. Saling melindungi dan berada di sisi satu sama lain karena kami tahu kami tak punya siapa-siapa lagi.”

“Kalian saling menyukai?” Ribi buru-buru menutup mulutnya, “Ma—maaf aku tidak—“

“Tak masalah,” potong Ares yang membuat Ribi terkejut karena nada suara Ares yang nampak biasa saja. Ekspresinya juga tidak nampak tersinggung.

“Kami terbiasa memiliki satu sama lain. Aku merindukan Dave lebih daripada siapapun di dunia ini. Ketika dia dulu sibuk mencari kakaknya dengan keyakinan bahwa kakaknya mungkin masih hidup. Aku sering merasa takut dan kehilangan. Ketika itu kami berdua sama-sama tidak tahu tentang ramalan pangeran terkutuk. Aku hanya tahu bahwa aku takut jika dia menemukan kakaknya yang dianggap hilang atau mati oleh seluruh Tierraz, Dave bisa melupakanku dan meninggalkanku. Maka jika kau bertanya apa kami saling menyukai, kurasa untuk saat ini jawabannya adalah ya. Kami saling menyukai.”

Ribi diam, hanya sanggup mengamati setiap ekspresi di wajah Ares. Dia tidak tahu jika hubungan antara Ares dan Dave bisa sedalam itu. Dia juga tak menyangka jika Ares akan menjawab pertanyaannya dengan segamblang itu.

Namun entah bagaimana, Ribi bisa memahami bagaimana perasaan Ares. Sebab dia merasakan hal yang sama. Seperti halnya Ares, Ribi juga tak punya siapa pun di sisinya. Jika dulu, ada satu orang saja yang dimilikinya. Dia yakin dia akan bersikap seperti Ares. Dia juga tidak mungkin berada di Tierraz sekarang. Mungkin dia masih tinggal di dunianya, bersama orang itu.

Mendadak Ares diam, lalu menghela nafas, “Aku tidak tahu kenapa aku membicarakan hal-hal seperti ini padamu, Gabrietta. Ak—“

“Tidak apa-apa. Aku menyukainya.” potong Ribi cepat. “Rasanya menyenangkan mendengarkan orang lain berbicara tentang perasaan mereka kepadaku. Dan, Ares, bisakah kau memanggilku Ribi? Kurasa, ketika pertama kita bertemu, kau juga sudah sepakat untuk memanggilku dengan nama itu. Tidak tahu kenapa, Gabrietta terasa asing untuk diucapkan oleh seorang teman.

Ares tertawa, “Teman?” kemudian dia tersenyum dan mengangguk-angguk, “Baiklah. Karena kupikir pencarian Xexa ini akan berlangsung panjang, aku setuju dengan kata satu itu…Ribi.”

Ribi tersenyum lebar, merasa sangat senang lebih daripada sebelumnya.

“Ah aku ingat, kau ini menyukai Fredderick Colfer, bukan?”

“EH?” Ribi nyaris berteriak dan Ares tertawa tanpa suara.

“Aku tahu. Sejak di pesta penobatan Dave ketika itu. Aku tahu kau menyukainya. Kurasa Fred bukan pilihan yang buruk. Meski dia sedikit tua untuk ukuran perempuan tujuh belas tahun. Dia sudah dua puluh lima, kalau kau mau kuberitahu.”

“Dua puluh lima?”

Ares mengangguk, “Aku tahu karena kami dulu berada di pelatihan sihir yang sama dan dia cukup terkenal di sana. Selain itu beberapa rumor mengatakan kalau Fred menyukaiku dan di—“

“Apa?” Ribi nyaris berteriak terkejut. Pantas saja sikap Fred pada Ares ketika berada di pesta penobatan Dave dulu terasa aneh. Apakah Fred masih menyukai Ares sampai sekarang?

“Tidak perlu khawatir. Itu sudah lama. Kurasa Fred juga sudah lupa dan jangan kesal padaku. Tenang saja, dia bukan tipeku.”

“Jadi tipemu itu seperti Dave atau Foster?” Ribi bersungut, “Aku melihat kau hampir meneteskan liurmu ketika melihat Foster.”

Wajah Ares memanas dan dia mengumpat keras, “Oh Gabrietta, kuperingatkan kau—“

Ribi terkekeh, “Kau harus mulai belajar memanggilku Ribi, nona Ares.”

Ares menggeleng kesal dan Ribi tertawa di sampingnya. Ribi benar-benar tak pernah membayangkan jika hal seperti ini akan terjadi antara dia dan Ares. Dulu dia pernah membayangkan seperti apa rasanya bergosip bersama seorang Areschia Azhena, membicarakan tren pakaian terbaru dan pria-pria di majalah keren. Nyatanya sekarang, mereka berdua memang melakukannya, meskipun tanpa majalah dan obrolan trend fashion. Tapi ini benar-benar terasa menyenangkan. Ternyata memiliki teman perempuan benar-benar luar biasa. Ribi tahu, dia tidak akan pernah melupakan malam ini. Seorang teman—dan sejenis dengannya—untuk pertama kalinya dimilikinya.

***

Dave dan Foster melompat turun dari kuda mereka. Dave berputar meneliti sekitarnya. Malam sudah mulai menjelang dan kegelapan pekat mulai bergerak menguasai sekeliling mereka. Dengan sembarangan, diambilnya batang kayu terbesar di dekatnya dan dengan rapalan sederhana, api berkobar di ujung kayu itu. Dave mengulurkan kayu itu pada Foster dan segera membuat satu lagi untuk dirinya sendiri.

“Kurasa kita harus meninggalkan kuda-kuda kita di sini.”

Foster mengangguk, mengambil tali kekang milik Dave dan mengikatnya bersamaan dengan miliknya ke salah satu batang pohon kuat. Dia berbalik, dan menemukan Dave yang menunggunya.

Sebuah hembusan nafas panjang, “Ke arah sini,” katanya sambil membelah kabut yang entah darimana datangnya mulai setinggi lutut mereka.

Dave mengangguk dan dia berjalan di belakang Foster, berhati-hati pada apa yang dipijaknya karena bahkan dengan obor kayu di tangannya, dia tak bisa melihat kakinya dengan benar. Kanan dan kiri mereka dipenuhi pepohonan rapat dan semak-semak yang seolah mengepung mereka. Jika nanti mereka tersesat dan tak bisa menemukan kuda mereka, Dave tak akan terkejut. Namun dia sudah menghafal tepat kudanya dengan benar sehingga dia bisa menggunakannya dalam sihir perpindahan nanti.

Mereka bergerak dalam diam dan Dave juga tidak keberatan dengan itu. Pada dasarnya pun, kepalanya sudah berdenyut menyakitkan. Sesuatu dalam tubuhnya seolah menolak berada di sini. Dia bertanya-tanya dalam dirinya sendiri, apakah sihir pelindung hutan Merrz menolak keberadaan mereka di sini? Apakah Foster juga merasakan pening seperti yang dirasakannya? Jika iya, maka laki-laki itu memang pandai menyembunyikan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.

“Kau tahu tujuan kita, bukan? Kau yakin kita mengarah pada tempat yang benar?” Dave akhirnya membuka suara ketika dirasakannya mereka sudah berjalan terlalu lama menembus kegelapan hutan Merrz yang serasa tidak berujung.

Nafas Dave sudah terasa habis dan bulir-bulir keringat mengalir di dahinya. Bahkan udara dingin di sekitarnya tak sanggup menahan dirinya untuk merasa kepanasan dan sesak. Foster berhenti, menoleh ke arah Dave yang separuh membungkuk dengan satu tangan menekan dadanya.

“Hutan ini menolak darah penyihir. Aku lupa memberitahumu itu. Jadi kurasa kau harus sedikit berusaha. Kita hampir sampai.” suara Foster terdengar dingin.

Dave mengangkat wajahnya dengan cepat dan memandang Foster dengan tatapan tak percaya. Foster seolah bukan elf yang sama yang menyambutnya ramah ketika dia pertama menemukannya. Bahkan sekarang, Dave yakin jika Foster membenci entah untuk alasan apa. Laki-laki di depannya benar-benar bermuka dua. Dave memaki pelan dan menegakkan punggungnya.

“Jika kita tak menemukan apapun setelah ini—“

“Sejak awal aku tidak menjanjikan apapun padamu, pangeran. Aku hanya membawamu pada apa yang menjadi ingatan terakhirku tentang putri penjaga. Apa yang terjadi setelah masa ingatan itu, di luar kemampuanku. Aku sudah memperingatkan itu padamu. Aku tidak menyarankanmu menemuinya. Bahkan sejujurnya aku tidak berharap kita bisa menemukannya. Bila mendengar bahwa seorang keturunan dari Mahha Mevonia membutuhkan bantuannya, kau akan mendengar umpatan pertama keluar dari mulutnya.”

“Lalu kenapa kau tetap membawaku kesini?”

Foster tersenyum tipis, “Karena kau yang memintanya. Karena kau ingin menyelamatkan kemungkinan apapun yang berhubungan dengan putri penjaga. Dan bagiku, dia adalah satu-satunya. Tidakkah kau berpikir mungkin dia memiliki Xexa di tangannya?”

Dave menyipitkan matanya, tidak mengerti dengan arah pembicaraan Foster.

“Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan.” Foster mengucapkan kalimat itu dengan nada seolah tidak percaya bahwa dia harus mengatakan itu secara gamblang agar Dave bisa mengerti, “Bagi sang putri penjaga, laki-laki itu adalah segalanya. Dia adalah belahan jiwanya. Mereka melewatkan waktu tersulit yang bahkan tak sanggup dibayangkan pasangan manapun. Tidakkah kau bisa mengambil kesimpulannya, pangeran? Bahwa laki-laki ini bisa saja seperti matahari bagi sang putri penjaga. Sumber segala kekuatannya.”

Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan.

Mulut Dave ternganga menyadari satu hal itu dan Foster hanya bisa menggeleng tidak percaya, “Mengharapkan sesuatu yang berlebih dari seorang penyihir memang bisa mengecewakan. Tapi kurasa ini keterlaluan.” katanya sambil lalu, berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi.

“Kuharap kau juga segera melangkahkan kakimu, pangeran. Aku tidak akan menunggumu dan tersesat di hutan Merrz bukan pilihan yang bagus bagi seorang penyihir.” sambungnya dengan nada datar.

Dave mengumpat pelan dan tak mengatakan apapun lagi selain mengikuti langkah Foster. Kepalanya kembali berdenyut menyakitkan dan dia tidak ingin menambahnya lagi dengan membalas ucapan Foster. Dia hanya harus bertahan demi ini. Demi Xexa. Demi kerajaannya. Demi semua orang yang berharap padanya.

***

Rahangnya menggeras dan genggaman buku-buku jarinya merapat erat. Matanya fokus dan kelam. Fredderick Colfer bersumpah bahwa dia tidak akan pernah memaafkan mereka semua. Bagaimana bisa mereka melakukan itu semua kepadanya?

“Mereka.. tidak pantas menyebut diri mereka sebagai orangtua.” geramnya dengan amarah yang serasa sanggup meledakkan dadanya.

Ahriman mengangguk dengan khidmat, “Maka anda harus membalas apa yang terjadi pada anda, pangeran. Tidakkah anda pikir bahwa itu semua terlalu tidak adil untuk anda terima?”

Fred tidak mengatakan apapun. Nafasnya masih tidak teratur. Dan rasa sesak di dadanya seolah membuatnya ingin menjerit sekuatnya. Ada getar yang mengikat jantungnya dan membuatnya kesulitan bernafas. Matanya memejam rapat berusaha menghilangkan semua citra yang ditunjukkan Ahriman padanya.

Tidak.

Sebuah gelengan kuat dan jari-jari tanggannya tergenggam makin erat.

Ini tidak bisa terus seperti ini, geramnya tanpa suara.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. Aish…
    Pengen coment kemaren gak bisa. Baru bisanya sekarang. Ouh iya buat kakak samangat yah sama tugasnya. Hahaha iya kak aku masih nunggu Ru abis kangen banget.

    Salam peluk 🙂

  2. Astaga!!
    Apa Ribi itu putri penjaga sekaligus Jdi Edna. Mkin penasaran,…
    Apa fred bkalan balas dendam,siapa yg akn d pilih Ribi ?? Fred atau Dave ??

  3. jadi menebak nebak deh si putri perjaga itu adalah ribi. nah dia itu kan sering disangka keturunan thussthra karena mungkin memang dia putri dari kerajaan ini. dilihat dari kalimat yang ini "Takdir lain dari keturunan sang putri penjaga. Keturunan yang dilenyapkan oleh sang ratu" nah jangan jangan dia sengaja di buang/disembunyiin di dunia manusia buat melindungi ribi itu sendiri sama kayak hal nya mahha michail ngelindungin danesh.

    dan jadi curiga lagi jangan jangan jiwanya luca itu ada di fred karena dilihat dari kutukannya itu
    pokoknya intinya ribi itu edna, fred itu luca, iya gak sih kak?????

Leave a Reply

Your email address will not be published.