Xexa – Tentang Areschia

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan tempat ini?”

Ribi memandang ke sekitarnya dengan tidak percaya. Bukit tempat mereka terjatuh setelah teleportasi yang dilakukan oleh Dave bahkan terlihat lebih indah daripada tempat ini. Ribi menyipitkan matanya tak percaya, mereka sudah berjalan lama sejak Dave memutuskan bahwa mereka harus segera bergerak.

Namun lihat apa yang mereka temukan setelah berjalan berjam-jam, sebuah desa porak poranda dengan semua tanaman dan pepohonan yang melayu siap mati. Tanah berbau anyir meski tak satupun mayat, entah manusia atau binatang ada di sekitar mereka. Udara membawa hawa kematian dan kengerian yang nyata. Bangunan-bangunan rumah nampak siap roboh jika kau mendekat satu langkah saja. Sisa-sisa peralatan yang menunjukkan adanya kehidupan di tempat ini sebelumnya, nampak berserakan begitu saja di halaman-halaman atau bahkan di jalanan.

Fred melangkah maju, dan terdengar bunyi kelontang dari sesuatu yang tidak sengaja di tendangnya. Ares langsung menyentuh tongkat sihirya dan Dave menatap ke sekeliling mereka dengan waspada. Entah kenapa, perasaan Dave mengatakan ada yang tidak benar di tempat ini. Ada sesuatu yang mengotori aura tempat ini. Dia tidak tahu dan tidak yakin apa itu, dan itu semakin membuatnya khawatir.

“Sebaiknya kita berpencar dan memeriksa di sekitar sini.” ucap Ares sambil mengambil tongkat sihir dari selipan di punggungnya.

“Tidak,” jawab Dave cepat, “Lebih baik kita tetap bersama-sama. Aku merasa ada yang tidak beres di sini.”

“Itulah alasan kenapa kita harus berpencar.” Ares menatap Dave tajam, “Agar kita bisa mencari tahu apa yang membuat tempat ini menjadi seperti ini dan kerajaan Thussthra tidak melakukan apa-apa.”

“Thussthra memiliki wilayah paling luas kedua setelah Zerozhia, Ares.” sahut Fred. Dia berbalik dan kali ini menatap ke arah Ares dan Dave yang sedang beradu pandang dengan tajam. Sejak pertengkaran di bukit tandus itu, Fred berpendapat mereka belum terlalu akur lagi.

“Sulit bagi Ratu Myrella untuk mengatur dan mengawasi semuanya. Kemungkinan besar bahkan kerajaan mungkin belum tahu tentang apa yang terjadi pada desa ini. Apalagi setelah tragedi kutukan berdarah itu, wilayah kerajaan ini belum pulih sepenuhnya.” terang Fred lagi.

Kali ini baik Ares maupun Dave nampak mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Fred. Sementara Ribi yang semula nampak fokus meneliti sekelilingnya, langsung menoleh.

“Kutukan berdarah?” ulangnya tak mengerti.

Fred menoleh ke arah Ribi dan mengangguk, “Kau juga tidak tahu kisah itu?”

Ribi menggeleng, “Aku membaca banyak buku dari Argulus, namun kurasa itu tidak akan cukup untuk tahu semua yang terjadi Tierraz, bukan begitu?”

Bibir Fred tersenyum lebar dan mengangguk lagi, “Tentu saja,” katanya geli. Jelas sekali Ribi terlihat tidak ingin terlihat bodoh di depan mereka, “Bahkan jika kau membaca semua buku yang ada di Tierraz. Itu tidak akan cukup.”

“Jadi,” sahut Ribi lagi, “Apa itu kutukan berdarah?”

“Kutukan kuno yang diberikan Mohave untuk tanah Thussthra.” suara Ares terdengar berat dan ada helaan nafas panjang setelah dia memberikan penjelasan itu. Bahkan Dave yang semula nampak jengkel dengan Ares, terlihat menatap perempuan itu dengan raut wajah aneh.

Ribi mengerutkan keningnya semakin tak mengerti. Fred menyentuh pundaknya, dan dia menoleh meminta penjelasan. Namun Fred yang sepertinya tak paham jenis tatapan Ribi malah menjelaskan lebih lanjut tentang kutukan yang dipaparkan Ares sebelumnya.

“Dua puluh tahun lalu, ketika pemberontakan Mohave terjadi, Thussthra mendapat satu kutuk yang mengerikan. Ketika itu, Alkrez dan Sparzvia sudah jatuh di bawah kekuasaan Mohave, namun Mozaro dan Thussthra, juga Zerozhia, masih bisa mempertahankan wilayah mereka. Pasukan Mohave menggempur Thussthra habis-habisan. Lebih parah daripada yang mereka lakukan pada Mozaro. Bahkan menurut Argulus, Mohave sendiri mengambil peran dalam penyerangan tersebut.”

“Ada rumor mengatakan bahwa Mohave bahkan bertemu dan berduel langsung dengan ratu Myrella, dan dalam duel tersebut, Mohave yang sepenuhnya menang malah tidak membunuh ratu Myrella. Dia justru menjatuhkan kutukan pada ratu Myrella dan tanah yang dikuasainya. Para penyihir menyebutnya kutukan berdarah karena para interoir Thussthra menemukan ratu Myrella yang tergeletak pingsan di salah satu sudut kebun di kastil kerajaan, di atas genangan darah yang bukan darahnya sendiri.”

Kepala Ribi menggeleng, tak mampu membayangkan apa yang baru saja diceritakan oleh Fred, “Lalu apa yang terjadi?”

“Sebenarnya tak ada yang bisa memastikan apakah kutukan itu benar atau tidak.” potong Dave, “Tak ada saksi mata yang menyaksikan duel ratu Myrella dengan Mohave. Ratu Myrella menolak mengatakan apapun.”

Fred mengangguk-anggukkan kepalanya, sejurus kemudian langsung menatap ke arah Dave, “Tapi bagaimana bisa cerita tentang kutukan berdarah ini bermula jika tidak ada sesuatu yang memancingnya?”

“Seorang penyihir cenayang dari kerajaan yang mengaku mendapat penglihatan tentang hal ini. Sebab seperti yang kau juga ketahui, Fred, setelah peristiwa ditemukannya ratu Myrella yang pingsan di genangan darah, banyak hal aneh terjadi di Thussthra. Bahkan sampai sekarang, rakyat memerlukan jawaban tentang kenapa semua itu terjadi di Thussthra dan si cenayang memberikannya.” jelas Dave sambil melangkah maju.

“Kita harus segera keluar dari tempat ini sebelum gelap. Kurasa kita tidak perlu mencari tahu apa yang terjadi di sini sebelumnya.” tambah Dave sambil melangkah pelan melewati Ribi dan Fred.

“Aku masih punya banyak pertanyaan.” gumam Ribi pelan.

“Kau bisa melakukan itu sambil kita berjalan,” Ares yang juga berjalan melewatinya, menepuk pundak Ribi pelan, “Ayo, Gabrietta.”

Ribi mengangguk dan dia berjalan menyusul Ares. Fred memandang punggung tiga orang di depannya. Dia menunduk dan membiarkan tangan kanannya menyentuh punggung telapak tangan kirinya yang dibebat kain, merasakan denyut samar di sana. Dia menghela nafas panjang sebelum berjalan cepat menyusul yang lainnya.

***

“Apa isi kutukan itu?” Ribi kembali teringat perbincangan mereka siang tadi ketika dia sedang mengamati Fred membuat api unggun.

Fred menoleh sambil menyelipkan tongkat sihirnya, api nampak berkobar dari tumpukan ranting kayu yang ada di belakangnya.

“Kutukan apa?” tanya Fred dengan wajah lelah. Dia mengambil tempat, dan duduk di samping Ribi. Mereka baru beristirahat sejak siang tadi hingga malam akhirnya sudah datang seperti ini.

“Kutukan berdarah Thussthra.” jawab Ribi.

Ares yang duduk tak tak jauh dari mereka menoleh begitu Ribi mendengar jawaban Ribi. Dave yang duduk tepat di samping Ares ikut memandang ke arah yang sama seperti Ares.

“Menurut kabar, kutukan dari Mohave itu berisi bahwa tanah Thussthra akan kehilangan ruhnya sampai sang ratu membawa kembali apa yang sudah dibuangnya. Tidak ada yang tahu benar kenapa Mohave melakukan itu dan apa tepatnya yang harus sang ratu bawa pulang. Ratu Myrella bahkan tak pernah bicara sepatah katapun tentang kutukan ini meskipun seluruh rakyatnya menuntut dia untuk membawa kembali apapun itu yang disebut oleh Mohave.”

Ribi nampak berpikir dan dia menelengkan kepalanya, memandang Fred dan matanya menyipit.

“Jadi karena itu wilayah kerajaan ini demikian gersang dan seolah kehilangan jiwanya?”

Fred mengangguk, “Tepat sekali. Melihat kenyataan yang ada di Thussthra, kupikir kutukan itu benar terjadi.”

Ribi nampak setuju, “Kupikir Mohave tu benar-benar sangat jahat. Apakah dia tidak sedikit saja merasa kasihan atau bersalah pada rakyat yang hidup di sini?”

“Dia sama sekali tak punya rasa kasihan.” sahut Ares pendek. Pelan dia mengalihkan pandangannya ke arah api unggun di depannya, “Dia tak akan berpikir dua kali untuk membunuh atau melenyapkan seseorang yang menghalangi tujuannya. Jangankan mengutuk seluruh tanah Thussthra, membunuh anak kandungnya saja akan dia lakukan dengan sekejap mata.”

Dave mengamati dalam diam. Dia hanya fokus menatap Ares, melihat setiap perubahan ekspresi yang ada di wajah cantik perempuan keras kepala itu,

“Mengerikan.” Ribi berteriak karena kesalnya, “Bagaimana seseorang bisa membunuh anak kandungnya sendiri? Itu tidak mungkin.”

Ares memejamkan matanya, lalu membukanya kembali dan lidah-lidah api yang menjilat menjadi satu-satunya fokus yang dia dapat. Tangannya tergenggam erat, kebencian yang bertahun-tahun dipendamnya terasa mendorong-dorong ingin dimuntahkan.

Dia menoleh cepat ketika merasakan sentuhan lembut di tangan kanannya. Dave mengenggam pergelangan tangannya. Tak mengatakan apapun dan hanya menatapnya lembut. Ares menarik nafas panjang. Mengalihkan pandangannya dari Dave dan menoleh ke arah Ribi.

“Percayalah, Gabrietta. Dia sanggup melakukan itu. Bahkan yang lebih buruk dari itupun, Mohave sanggup melakukannya.”

“Kau terdengar seperti seseorang yang mengenalnya saj—“

Ribi menoleh cepat ke arah Fred ketika merasakan rusuknya disikut keras oleh Fred.

“Apa yang kau lakukan?” tegurnya sambil mengusap pinggangnya. Ribi memberengut marah pada Fred yang terlihat jelas ingin mengucapkan sesuatu namun ditahannya.

“Apa?” Ribi berbisik tanpa suara.

Tak lama Ribi mendengar suara tawa Ares yang terdengar kering. Baik Ribi maupun Fred langsung menoleh bersamaan ke arah Ares. Namun perempuan yang tengah mereka tatap bersama, justru masih tertawa lepas. Samar, Ribi bisa melihat tangan Dave yang menyentuh lembut pundak Ares dan mengusapnya pelan.

“Jadi kau juga tidak tahu tentang itu juga, ya?” Ares menoleh dan sepasang iris gelap miliknya memandang Ribi lekat-lekat. Selintas dia tersenyum, “Rasanya menyenangkan bahwa masih ada yang tidak tahu tentang hal ini. Tapi kurasa akan tidak adil bagimu jika aku tak menyeritakannya padamu. Kita dalam satu misi yang sama, bukan?”

Meski tak mengerti arah pembicaraan Ares, Ribi mengangguk juga.

“Mohave adalah ayahku.”

“APA?”

“Jangan berteriak begitu,” ucap Ares nampak tenang dan Ribi menyadari bahwa baik Fred maupun Dave nampak memasang wajah kaku. Mereka berdua sudah tahu, pikirnya.

“Tapi aku sama sekali tak pernah bertemu dengannya. Aku masih di dalam perut ibuku ketika dia mencoba membunuhku berulang kali. Mohave tak pernah ingin aku lahir. Ibuku yang ketakutan memohon perlindungan pada Lady Miranda. Ketika itu, Mohave masih merupakan tangan kanan Mahha Michail. Meskipun Lady Miranda mengatakan berulang kali pada Mahha Michail bahwa dia harus menghukum Mohave, Mahha Michail tak pernah melakukannya. Dia mempercayai Mohave. Tapi, kau bisa lihat apa yang terjadi akhirnya? Mohave mengkhanati semua kepercayaan Mahha Michail, hanya beberapa saat sejak Mahha Michail mati.”

Satu tangan Ribi bahkan masih menutupi mulutnya ketika Ares selesai mengatakan semua itu. Dia terlalu terkejut dan bingung untuk meresponnya. Namun Ares justru terlihat tenang. Terlalu tenang dan sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Ak—aku..”

Ares mengibaskan tangannya, “Sudahlah. Tidak perlu diteruskan. Ini bukan topik menyenangkan untuk dibahas. Aku tahu itu. Nah, bagaimana kalau kita makan saja? Aku akan memanggil Barielle dan menyuruhnya mencari makanan untuk kita.”

Dan tanpa menunggu respon yang mungkin diberikan, Ares sudah meraih tongkat sihirnya dan mengucapkan mantra pemanggilan. Tak lama kemudian sebuah asap berwarna jingga terbentuk di depan Ares dan begitu Ares mengucapkan perintahnya, asap itu langsung lenyap.

Ribi terdiam cukup lama hingga akhirnya Fred buka suara dan mereka berbincang lagi tentang kutukan berdarah Thussthra dalam suasana aneh yang terasa canggung. Dave sendiri masih menatap ke arah Ares yang tengah melempar ranting-ranting kecil di sekitarnya ke arah api unggun. Suara senandung kecil terdengar dari mulut Ares dan Dave akhirnya tidak bisa menahan lagi semuanya. Dia berdiri, meraih satu lengan Ares dengan cepat.

“Ayo,” katanya dan tanpa menunggu, dia setengah menyeret Ares yang berdiri dan mengikutinya. Ribi dan Fred hanya bisa menatap mereka berdua tanpa sanggup menebak apa yang akan terjadi.

Ares tidak mengucapkan apapun dan hanya menatap Dave dengan pandangan tak mengerti ketika akhirnya mereka berhenti. Bayang-bayang cahaya bulan yang ada adalah satu-satunya cahaya yang menyinari mereka. Meskipun begitu, dia masih bisa melihat dengan jelas wajah Dave yang tengah menatapnya.

“Kau baik-baik saja?” satu kalimat itu akhirnya hanya menjadi satu-satunya pertanyaan yang bisa dilontarkan Dave pada Ares. Dave tahu benar, Ares tidak baik-baik saja. Topik tentang ayahnya selalu menjadi sesuatu yang dihindari Ares sebisa mungkin. Semua pengalaman hidup Ares mengajarkannya hal itu. Dave ingat dengan jelas bagaimana dulu Ares selalu diasingkan dalam pergaulan diantara teman-temannya semenjak kecil. Itulah kenapa dia tak pernah tenang ketika Ares menjalani pelatihan sihirnya.

Dave memohon pada Mora agar Ares juga mendapatkan privat istimewa sepertinya. Namun hal tersebut ditolak oleh Mora karena privat istimewa hanya diperuntukkan bagi keturunan Mahha dan keturunan keluarga kerajaan. Dan meskipun Azhena adalah pemimpin pengganti setelah kematian Mahha Miranda, dia tetap bukan seorang keluarga kerajaan.

Dengan mata kepalanya sendiri, dulu dia melihat bagaimana anak-anak lain meneriaki Ares dan mengasingkannya karena mereka tahu dia adalah anak dari Mohave, sang penyihir hitam yang telah membunuh Mahha Miranda dan nyaris menghancurkan kedamaian Tierraz bertahun-tahun lalu. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya ketika itu, Ares sudah memintanya berjanji agar dia tak ikut campur pada masalah ini karena dia bilang kehadiran Dave hanya akan menambah masalahnya. Dan karena dia menyayangi dan menghormati Ares, dia menurutinya.

“Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” Ares justru melontarkan pertanyaan untuk menjawabnya.

Dave mendesah, dia tahu hubungannya dengan Ares tidak terlalu baik akhir-akhir ini. Ditatapnya sepasang iris gelap Ares yang justru tengah memandang ke arah lain. Pelan-pelan Dave menyadari bahwa segalanya tak pernah baik-baik saja bagi Ares. Dave tak tahu harus melakukan apa lagi, kepalanya sudah penuh dengan masalah lain dan dia tidak ingin menambahnya dengan mengkhawatirkan Ares. Tapi menyingkirkan Ares dari kepalanya justru masalah baginya karena dia tak akan bisa.

Pelan, Dave mendekat dan sebuah pelukan lembut bersarang melingkupi tubuh Ares yang langsung menegang, terkejut dengan tindakan Dave. Namun perlahan ketegangan itu mengendur dan dalam pelukan tanpa kata-kata Dave, semuanya memuai. Ares menyerah dan setetes airmatanya jatuh. Airmata untuk luka lama yang tak akan pernah sembuh.

***

“Kau tahu sejak awal tentang Ares adalah anak dari penyihir hitam itu?” Ribi akhirnya bicara setelah dia yakin Dave dan Ares sudah pergi jauh dan tak akan mendengar ucapannya.

Fred mengangguk, “Itu rahasia umum, Ribi. Semua orang di Tierraz tahu hal itu.”

“Ta—tapi bukankah ibunya, maksudku…”

“Azhena adalah pemimpin pengganti di Zerozhia?” Fred membantu Ribi menyelesaikan kalimatnya. Ribi mengangguk dan Fred menghela nafas panjang.

“Itu agak rumit sebenarnya,” Fred memulai, “Seperti yang dikatakan Ares sebelumnya. Azhena berada di bawah perlindungan langsung dari Mahha Miranda setelah apa yang dilakukan Mohave. Sejak saat itu, Azhena adalah orang kepercayaan Mahha Miranda. Ketika pemberontakan Mohave terjadi, tak hanya satu orang namun nyaris semua orang di pemerintahan Zerozhia, bahkan mungkin seluruh Tierraz, berpendapat jika Azhena turut andil di dalamnya karena Mohave bagaimanapun juga adalah suaminya. Tapi Mahha Miranda mempercayai Azhena. Menampik semua omongan orang lain. Dia percaya pada Azhena sampai akhir. Dia memilih Azhena sebagai pengantinya dan melingkupi sumpahnya dengan sihir kuno paling kuat sehingga tak satupun orang bisa mematahkan pilihannya. Bahkan ada desas-desus yang mengatakan jika ketika perang itu Mahha Miranda tidak menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk janji itu, Mahha Miranda tidak akan mati.”

Ribi mendengarkan dengan seksama dan terkejut dengan semua itu. Tak menyangka jika segalanya ternyata serumit itu. Dan melihat apa yang terjadi pada Dave dan Ares, dia percaya jika Dave mewarisi apa yang ibunya percayai.

“Dan Azhena juga yang merawat Dave? Kudengar dari Argulus jika kematian Mahha Miranda hanya berselang beberapa hari setelah kelahiran Dave? Jadi Ares dan Dave tumbuh bersama?”

“Secara teknis, mungkin yang mengasuh Dave adalah Mora. Kau tentu sudah melihat peri kerajaan Zeyzga itu bukan? Ada aturan ketat tentang bagaimana harus membesarkan dan mengasuh seorang keturunan Mahha dan Azhena jelas tidak memiliki segala kewenangan itu. Tapi tentang Ares dan Dave, kupikir begitu. Meskipun Ares lahir setahun lebih awal daripada Dave, kupikir bisa dikatakan mereka tumbuh bersama. Satu-satunya penyihir yang dikatakan dekat dengan sang pangeran.”

Mendadak Ribi tersenyum, “Jadi, bahkan penyihir pun membicarakan tentang kehidupan pribadi pangeran mereka?” ungkapnya geli.

Fred tertawa, “Apa kau tidak tahu betapa terkenalnya Dave di kalangan penyihir perempuan di seluruh Tierraz?” ucapnya menggoda dan tawa Ribi pun pecah.

Tangan Fred menepuk bah Ribi dan menatapnya serius setelah dia selesai dengan tawanya, “Tapi sungguh, kau harus tahu jika Dave memang sangat terkenal. Dia sang pangeran yang misterius. Tak banyak terlihat di depan umum. Selain itu, siapa yang bisa menolak pesona seorang keturunan Mahha?”

Ribi menyipitkan matanya, “Jangan bilang kau juga tertarik pada Dave?”

“Hey!” teriak Fred dan Ribi terpingkal. Mereka berdua tertawa bersama dan Ribi sedikit mencuri pandang ke arah Fred yang tengah lepas tertawa dengan bahagia. Dan Ribi tahu, saat-saat seperti inilah dia sangat menyukuri pilihannya, masuk ke Tierraz dan meninggalkan dunianya dulu. Bahkan jika dia tidak akan pernah bisa kembalipun, dia tidak menyesalinya. Baginya, Tierraz terasa lebih nyata sebagai tempatnya untuk tinggal dan berkata aku berada di rumah. Segala kehangatan yang diterimanya, dari Argulus, dari Fred, bahkan segala dingin dan perkataan sebal Dave dan Ares juga. Dia masih melirik pada Fred, lalu tertawa dalam senyuman terlebarnya. Dia mencintai apa yang dia miliki sekarang.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

13 Comments

  1. jadi ribi sama fred?? hehehe luca gimana?
    lah ini yg dicari dave, si fred, ternyata ada dlm kelompok mereka. itu fred bakal ngaku atau gimana?

  2. Kan kalo dilihat di awal, Ribi uda naksir Fred. Dan Frednya.. Belum jelas sih. Hhahahaa

    Luca gimana? Duh kasian si Dave.. Dia masih bingung mikirin Ribi yg ternyata ada bumbu2 Edna. Trs persoalan Danesh.

    Nah kalo gimana nanti ttg Danesh a.k.a Fred.. Sepertinya Fred sendiri juga blm percaya pada apa yg terjadi padanya. Hehehe

  3. Astaga . . Kalau ribi suka sma Fred ,luca ap kbr ? Astaga . .
    D sini akan mkin rumit. Blom lagi si fred yg ternyata Danesh .
    Ksian dave, blom jga selesei msalah Edna muncul lgi msalah bru .
    Ap sbnar ny yg d buang oleh Ratu Myrella ? Apakah itu seorang Anak ? Astaga . . Makin penasaran ?

  4. Ribi mah dari dulu naksir si Fred.. Dari awal ketemu malah. Hhahaha

    Luca? Ah dia mah pasangannya Edna. Eh tapi.. Si Ribikan kelahiran kembali dari putri api a.k.a Edna.. Duh ribet juga..

    Astagaa astaga..

  5. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.