Xexa – Titik Awal


Dengan perasaan tak karuan, Dave memandang botol kristal kecil dalam genggamannya. Ingatan milik ibunya, atau sesuatu tentang itu, tergantung bagaimana dan sihir apa yang digunakan ibunya ketika membuatnya. Bisa jadi itu hanya sebuah suara-suara, atau mungkin penggalan ingatan-ingatan kabur. Dave tahu dia berharap lebih daripada semua yang muncul di dalam kepalanya, tapi dia tidak berani untuk melihat lebih jauh kemungkinan itu.

Dia terlalu lelah untuk kecewa sekarang. Pelan dan pasti, Dave menarik nafas panjang, membuka botol kristal itu pelan dan membiarkan kabut gelap yang terperangkap di dalam sana berenang ke luar dan menyelubungi nyaris seluruh ruang pribadinya.

Sesuatu yang dingin menyentuh tengkuk Dave dan dia melompat dengan terkejut, berbalik dan harus kecewa karena tidak melihat apapun selain kumparan kabut yang mulai terurai.

“Dave..”

Pelan tapi sangat jelas di telinganya. Nafas Dave seolah berhenti, dia memutar tubuhnya sangat pelan. Lalu di sana, beberapa meter dari tempatnya berdiri—dia bisa melihat meski samar—satu sosok yang memandangnya lurus dan lembut.

“Dave..” suara itu memanggilnya lagi.

Kedua kelopak matanya tak mengedip, jantungnya berdetak lebih kencang dan dia membeku di tempatnya. Terlalu takut untuk membuat langkah apapun. Bagaimana jika dia melangkah dan wujud itu lenyap karena gerakannya. Ini hanya ingatan ibunya. Ini hanya sihir modifikasi buatan ibunya. Itu.. bukan ibunya.

“Dave.. putraku..”

Dua tangan terentang menunggu sambutan dari tubuh Dave yang mengejang. Tanpa sibuk berkutat dengan logikanya lagi, dia berlari dan memeluk sosok itu. Sudut matanya basah tapi dia tidak mau repot-repot menyusut air matanya. Tubuh yang dipeluknya ini hangat. Menguarkan kehangatan yang sama seperti tubuhnya.

Ketika dua tangan yang lembut dan kuat mengusap punggungnya penuh kasih sayang, Dave tahu bahwa sihir yang digunakan ibunya untuk ini pasti sangat kuat dan rumit. Jenis sihir yang akan menguras semua tenagamu. Jenis sihir yang jika kau gagal maka yang kau dapatkan hanya sebuah istirahat panjang untuk memulihkan tubuh dan indera-inderamu yang kesakitan.

“Ibu..”

Dalam pelukan yang selalu dimimpikannya selama hidupnya ini, Dave menyadari ibunya mengangguk dan merasakan keharuan yang sama seperti yang dirasakannya. Apakah saat membuat sihir ini, ibunya telah tahu bahwa hidupnya tak akan lama lagi? Apakah dia telah tahu benar bahwa dia tidak akan pernah bisa melihat putra-putranya tumbuh dan berkembang?

Ibunya tahu.

“Dave..” Dengan gerakan sama lembut, dia menarik tubuh Dave yang melekat seolah tak ingin berpisah dari tubuhnya, “Kau sudah besar, nak.”

Seutas senyum terukir di bibir merah Mahha Miranda. Kemudian, dia melangkah menuju tempat tidur Dave dengan tangannya yang masih merangkul bahu Dave. Membimbing keduanya duduk dengan nyaman di pinggiran tempat duduk Dave, “Kita harus membicarakan sesuatu yang penting. Tak ada banyak waktu, Dave. Dan kau harus dengarkan apapun yang ibu katakan dengan baik-baik.”

Meski enggan, tapi Dave mengangguk. Dia sadar sepenuhnya bahwa apa yang dialaminya ini hanya hasil sebuah sihir tingkat tinggi yang memiliki batas waktu penggunaan. Dia tahu bahwa yang dia harus mendengarkan dengan fokus dan sangat baik. Tanggung jawabnya akan apa yang mungkin terjadi di Tierraz.

“Xexa, kau sudah mendengar itu dari Mora dan Azhena bukan?”

Dave mengangguk, “Ya, tapi kena—“

Mahha Miranda menyentuh punggung tangan Dave, “Kali ini dengarkan saja apa yang akan ibu katakan. Tidak ada sesi tanya jawab, Dave. Ibu terlalu lelah untuk membuat itu berguna. Masalah Mohave menunggu setelah ini, jadi ini akan cepat.”

Dave menangkap sorot mata penuh permintaan maaf ibunya dan dia mengangguk tanpa bantahan apapun. Dia mengerti.

“Selama masa pemerintahan ayahmu. Kami berdua melakukan pencarian akan Xexa secara rahasia. Entah mungkin karena kami merasakannya sejak awal atau mungkin karena ini memang takdir keluarga kita, kami tahu bahwa Xexa akan berkaitan sangat erat dengan keluarga kita.”

“Kutukan tentang keturunan pertama kegelapan. Ayahmu tahu bahwa itu akan menimpa putra pertama kami. Sebuah takdir yang tidak bisa kami hindari. Putra yang begitu lama kami nantikan, putra yang kami impi-impikan kehadirannya.. adalah kunci kehancuran Tierraz.. Bukan kesalahan Danesh jika dia terlahir di bawah naungan kutukan itu. Percayalah, Dave, kakakmu bukan seseorang seperti itu. Kau harus percaya padanya. Dia sebaik dirimu.”

Dave mengangguk. Dia merasakan hal yang sama, bahwa entah bagaimanapun, Danesh adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa di dunia ini. Dan dengan demikian, maka dia akan berusaha sebaik mungkin untuk Danesh, meskipun dia tahu bahwa kemungkinan terburuk juga ada jika Danesh menentang untuk mematuhi peraturan Tierraz.

“Sekarang, Dave.. kita bicarakan soal Xexa lagi. Kemarilah lebih dekat, nak.”

Dave merapatkan duduknya, dan tangan Mahha Miranda meletakkan sesuatu yang begitu dingin di atas telapak tangannya. Sesuatu seperti kristal berwarna hitam transparan dengan kemilau paling indah namun juga memancarkan aura misterius. Meskipun kecil—di dalam kristal itu—Dave bisa melihat sesuatu di dalam sana.

Sihir pengerut.

“Ini..”

Mahha Miranda mengangguk, “Inilah yang akan kau cari, putraku.”

Ada jeda beberapa detik yang dibiarkan menggantung oleh Mahha Miranda sebelum akhirnya dia melanjutkan, “Tapi ini hanyalah tiruan yang dibuat oleh Mahha Mevonia, diwariskan turun temurun kepada setiap Mahha yang memerintah. Ini adalah sebuah petunjuk untuk sebuah perintah yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan oleh setiap Mahha yang ada, menemukan Xexa dan melindunginya agar gulungan sumpah yang ada di dalamnya tidak jatuh di tangan yang salah.”

“Gulungan?”

Mahha Miranda menunjuk pada titik pusat batu kristal Xexa, sesuatu yang dimasukkan ke dalam kristal ini, “Itu adalah gulungan sumpah Nerethir. Dan Xexa adalah batu segel sumpah tersebut. Jika segel dipatahkan, sihir pengikat sumpah akan pudar dan Nerethir akan bebas dari segala sumpah dan janjinya pada kita. Jika hal itu terjadi, Dave, maka kemungkinan terburuknya adalah masa kegelapan kedua untuk Tierraz akan segera dimulai kembali.”

“Melepaskan Nerethir dari sumpahnya berarti memberinya kesempatan untuk membebaskan Alzarox. Kau tentu tahu benar artinya ini bukan, Dave?”

Dave mengangguk dengan pelan. Dia tahu. Sangat tahu. Segala yang dipelajarinya dalam privat istimewa khusus keturunan Mahha telah memberinya pengetahuan dan kemampuan sihir melebihi penyihir lain yang ada di Tierraz.

“Tapi bukankah Xexa dan segelnya hanya bisa dibuka oleh keturunan Mahha?”

“Danesh adalah keturunan langsung dariku dan Michail.”

Detak jantung Dave seakan berhenti. Dia nyaris saja melupakan bagian ini. Danesh. Hal yang sekarang tengah dicemaskan oleh semua anggota persekutuan. Keberadaan Danesh di Tierraz, ramalan yang menaungi kehidupannya, kenyataan bahwa dia tidak diinginkan oleh semua kehidupan yang ada di Tierraz dan bahwa dia terpaksa dibuang oleh orangtuanya karena ramalan itu.

“Tidak ada penyesalan bagiku dan Michail, Dave. Melahirkan Danesh. Melahirkan kau. Memiliki kalian berdua sebagai putra-putra kebanggaan kami. Bahkan sampai kematiannya, Michail, tidak pernah menyesali tindakannya yang telah melanggar keputusan persekutuan dan membawa Danesh keluar dari Tierraz.”

“Tapi kami tahu itu tidak akan menghapus segalanya. Dia akan kembali ke Tierraz. Pasti. Tapi setidaknya kami memberinya sebuah kesempatan untuk hidup dan berada di bawah pengasuhan yang tepat di dunia lain. Namun, ketika Mohave akhirnya menyerang Zerozhia, aku akhirnya tahu bahwa Danesh tidak lagi berada di bawah perlindungan orang yang kami pilih itu. Danesh menghilang dan aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi dengannya, entah bersama siapa dan tumbuh dengan pengertian seperti apa tentang takdirnya dan Tierraz.”

Dave sudah akan membuka mulutnya untuk melontarkan pertanyaan, ketika Mahha Miranda mencekal tangannya, “Waktuku tidak lama, Dave. Jadi ingat dan dengarkan ini baik-baik. Xexa tersembunyi di dalam lembah tergelap. Dimana ada dua sumber mata air, yang hanya mengalirkan air ketika kesedihan dan kebahagiaan datang. Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan. Itulah petunjuk yang ditinggalkan oleh Mahha Mevonia. Namun aku dan Michail tidak bisa memecahkan seluruh maksud Mahha Mevonia. Tapi ini hal terbaik yang aku dan Michail temukan. Lewatilah hutan di perbatasan Thussthra dan Mozaro. Temui peri hutan bernama Foster dan dia akan membimbingmu menuju jalan ke tempat tinggal sang putri penjaga.”

“Aku dan Michail mengumpulkan semua ini dengan mempertaruhkan segalanya. Tapi kami tidak bisa menyelesaikannya untuk kalian berdua. Jadi, hanya kau harapan kami satu-satunya. Kaulah yang akan menyelamatkan Tierraz, dan Danesh. Sebuah dunia dan keluargamu, putraku.”

Dengan pelan, tangan Mahha Miranda menutup genggaman tangan Dave dan menyembunyikan tiruan Xexa di dalam tangkupan tangan Dave. Kemudian Dave bida merasakan, sentuhan hangat tangan Mahha Miranda berubah menjadi sentuhan sedingin angin musim dingin.

“Ingatlah, Dave.. aku dan ayahmu, selalu menyayangimu. Kita adalah keluarga. Kau, Danesh, aku dan Michail. Jangan pernah menyerah meskipun tanggung jawab dan tugas yang dilimpahkan kepadamu begitu berat. Perlindungan kami akan menyertai perjalananmu.”

Lalu sebuah kecupan lembut menyentuh puncak kepala Dave sebelum semua kabut itu lenyap, membawa pergi sisa kekuatan terakhir Mahha Miranda, dan meninggalkan Dave membeku sendirian di dalam ruang pribadinya. Meresapi sisa-sisa terakhir keberadaan ibunya. Buku-buku tangannya mengejang. Ada perasaan aneh yang menyelusup di dalam dadanya. Membuatnya kebingungan, marah, kecewa namun juga kuat dalam waktu yang bersamaan.

Ini hanya awal mula, tekadnya sebelum dia berdiri dan keluar menuju ruangan dimana Mora sudah menunggunya untuk berbicara. Langkah Dave tegap dan penuh keyakinan, masih ada satu hal lagi yang harus diurusnya sebelum dia bersiap untuk keberangkatannya nanti.

***

Ruangan ini masih terlihat sama sepetti ketika terakhir kali Ribi meninggalkannya. Dia seolah bisa melihat dirinya, Dave, Fred, Ares, Azhena dan si peri kerajaan, Mora, di dalamnya. Membahas tentang apa yang akan mereka lakukan untuk pencarian Xexa. Namun sekarang, dia berada di sini lagi, bukan untuk sekedar mempersiapkan diri namun siap untuk berangkat. Dia membawa semua hal yang diperlukannya dalam sebuah kantong sihir yang bisa menampung segala benda meski ukurannya hanya sebesar dua telapak tangan manusia dewasa. Memnus yang memberikannya ketika dia sedang mengepak beberapa baju yang diberikan Dave kepadanya. Sesungguhnya Ribi juga tahu bahwa kantong sihir itu pun juga merupakan pemberian dari Dave.

Ini bukan seperti keberangkatan yang biasa dilihat Ribi di dunianya. Tak ada orang-orang dengan ransel penuh dan koper overload yang biasanya ada di bandara-bandara atau di tempat-tempat keberangkatan umum lainnya. Semua orang di sini, yang berada dalam tugas pencarian Xexa, nyaris nampak tak membawa apa-apa kecuali apa yang menempel pada tubuh mereka. Sihir jelas-jelas sangat membantu dalam hal ini. Dan Ribi merasa sangat bersyukur bisa hidup di dunia semenakjubkan ini.

Dia menoleh, ketika merasa seseorang memandanginya, dan di sudut di dekat Dave yang tengah berbicara kepada Azhena, Ares mengamatinya. Ketika mata keduanya saling bertemu, Ares tersenyum singkat. Ribi membalasnya dengan gugup dan mengangguk kecil.

Fred menyentuh bahunya, “Ayo.” Katanya ketika semua rombongan bergegas keluar dari ruangan ini. Mereka berjalan tanpa berbicara apapun lagi. Ribi mengikuti langkah semua orang, berjalan di belakang, di samping Fred yang nampak sangat bersemangat. Mereka melewati jembatan besar di atas sungai Ga yang mengalir tenang. Mereka akan menuju Mozaro, memasuki wilayah negara itu sampai ke perbatasan Mozaro dan Thussthra.

Hanya sebatas itu yang dikatakan Dave sebelumnya, dan memang tak ada banyak pertanyaan terkait tujuan kami. Dave yang memimpin dan semua mengikutinya dengan patuh, Ribi bisa merasakan itu. Ares dan Fred terlihat mendengarkan dengan baik semua perkataan dan penjelasan Dave, nyaris tak ada bantahan. Bahkan mungkin, memang tidak ada yang membantah.

Ribi mengingat-ingat hal lain yang dikatakan oleh Dave selain tujuan awal mereka. Beberapa diantaranya membuat dia tidak mengerti. Seperti kenapa Dave mengatakan dia tidak akan mengunakan sihir apapun yang merupakan anugerahnya sebagai keturunan seorang Mahha saat pencarian Xexa. Ditambah bahwa, Dave juga memperingatkan Fred dan Ares untuk menekan jumlah penggunaan sihir mereka. Namun karena sepertinya yang lain paham dengan benar, dia diam dan memilih menanyakan hal itu secara pribadi dengan Fred nanti. Dengan begitu dia akan punya alasan lebih untuk berbicara empat mata dengan Fred. Ribi tersenyum kecil hanya dengan membayangkan hal itu terjadi.

“Kita berhenti di sini.” Suara Dave menghentikan langkah semua orang. Dia berbalik dan memandang Azhena dan Mora yang menyertai mereka, “Sampai di sini saja, kalian bisa kembali.”

Azhena mengangguk, “Berhati-hatilah.”

Fred menepuk bahu Ribi, mengulurkan tangannya dan Ribi segera menggenggam tangan Fred. Mereka berempat akan melakukan sesuatu yang disebut Dave sebagai usaha untuk mempersingkat waktu, namun kali ini Fred yang mengumamkan manteranya. Dan ketika kabut tipis mulai menyelimuti mereka, Ribi memejamkan matanya. Mengingat sensasinya ketika dia melakukan ini pertama kali bersama Dave ketika mereka akan menuju rumah Argulus.

Hanya beberapa detik menikmati sensasi nyaman dan menyenangkan itu sebelum segalanya mendadak menghilang. Ribi membuka matanya dan mereka sudah berada di tepian hutan lain yang terlihat jauh berbeda dengan hutan-hutan yang pernah dilihatnya di Zerozhia. Semua batang pohon berwarna sama, abu-abu nyaris putih dengan dedaunan berwarna merah gelap nyaris seperti darah. Tidak ada rerumputan liar atau lumut di bawahnya, hanya tanah dan guguran daun kering yang berwarna hitam. Ribi mengusap lengannya, merasa merinding. Aura hutan ini membuatnya tidak nyaman, apalagi senja mulai habis dan hanya menyisakan sisa-sisa cahaya yang menghidupkan siluet-siluet menakutkan dari pepohonan di depannya.

“Ini hutan buatan. Penyihir-penyihir dari Mozaro yang membuatnya. Sebuah tanda yang ingin mereka tunjukkan agar semua orang di Tierraz tahu bahwa inilah batas awal kerajaan mereka. Seperti semacam, selamat tinggal Zerozhia dan selamat datang di Mozaro, para pendatang.” Fred memandang Ribi, tersenyum.

“Penyihir-penyihir sombong.”

Ribi beralih pada Ares. Namun perempuan itu tidak melanjutkan lagi kata-katanya, melainkan berjalan ke arah Dave yang mengabaikan mereka dan berdiri agak jauh. Menyentuh satu pohon hutan milik kerajaan Mozaro dan terlihat muram.

Seingat Ribi, Dave memang memasang wajah agak aneh sejak mereka berangkat tadi. Seperti ada sesuatu yang sangat menganggu pikirannya. Namun tentu saja Ribi memahaminya, jika dia berada dalam posisi Dave sekarang. Mungkin dia bahkan akan berwajah lebih muram dari itu sekarang.

“Mereka mungkin akan berbicara agak lama. Sepertinya ada yang sesuatu yang membuat pangeran terlihat muram.”

Ribi menoleh dan Fred tengah memandang ke arah Dave dan Ares yang entah membicarakan apa. Tongkat sihir Fred teracung ke depan yang mengeluarkan cahaya yang cukup untuk menerangi sekitar mereka.

“Mantera cahaya.”

Fred mengangguk, “Mantera sederhana, tingkat dasar. Argulus tentunya sudah mengajarkan itu padamu bukan?”

Ribi tersenyum antusias, mengeluarkan tongkat sihir usangnya, mengumamkan mantera dan yang keluar hanya cahaya berkedip-kedip lalu mati. Fred tertawa dan Ribi langsung memberengut dan memasukkan kembali tongkat sihirnya, “Tongkat ini tidak pernah mau mendengarkanku dengan baik.” Omelnya menahan malu dan kesal.

Fred menghentikan tawanya, menepuk bahunya, “Itu bukan tongkat sihir baru ya?”

Setengah enggan, Ribi mengangguk dan berjalan mencari akar pohon besar yang tak jauh di belakangnya, duduk di sana dengan Fred yang menyusul hanya beberapa detik setelah Ribi.

“Kenapa tidak membeli yang baru?”

“Tidak sempat.” Ribi mencoba tersenyum.

Fred menghela nafas panjang, “Tongkat sihir adalah hal yang sangat penting bagi seorang penyihir, Ribi. Hanya dengan tongkat sihirlah, penyihir bisa mengeluarkan kemampuannya. Tanpanya, kita bukan apa-apa.”

Ribi menunduk dalam, “Aku mengerti itu.”

“Kurasa jika kita melewati kota besar di Mozaro, kita harus mampir untuk membeli satu yang terbaik untukmu. Aku akan mencoba membicarkan hal ini dengan pangeran. Aku yakin dia tidak akan keberatan.”

Dengan cepat Ribi mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar, “Kau mau?”

“Tentu saja.” Jawab Fred dengan cepat.

***

“Mereka sepertinya cukup akrab.”  Ucap Ares setelah dia menoleh ke arah Fred dan Ribi yang mengobrol dengan riangnya tak jauh dari mereka. Dave hanya melirik tak sampai dua detik sebelum dia kembali memusatkan pandangannya ke arah hutan.

“Apa yang sebenarnya kau khawatirkan Dave?” tanya Ares akhirnya setelah dia menyerah untuk membuat Dave mengatakannya tanpa dia perlu bertanya.

Dave mengambil nafas panjang, “Hanya menilai, apakah kita harus masuk ke Mozaro sebagai diri kita sendiri atau sebagai orang lain.”

Kening Ares berkerut, “Menyamar? Memangnya kenapa kita harus melakukan itu? Kita tidak memiliki masalah dengan kerajaan Mozaro.”

“Memang tidak. Tapi bukankah itu akan mengundang hal lain. Kita tidak tahu Danesh dimana atau siapa saja yang mendukungnya. Percayalah, aku yakin Danesh punya mata-mata untuk membuatnya tahu kemana tujuan kita.”

Ares terdiam cukup lama, memikirkan ucapan Dave dan diam-diam membenarkannya. Dia menatap ke arah Dave dan berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau begitu kita harus menutupi identitas kita. Penyihir Mozaro bukan penyihir yang cukup cakap kurasa. Perbatasan mereka tidak dijaga seketat Zerozhia dan untuk aturan keluar masuk wilayah kerajaan, kurasa mereka memberikan kebebasan mutlak. Mozaro sedang membenahi sistem kerajaan mereka, kabarnya penyihir-penyihir sombong itu berusaha menyamai Zerozhia. Tidak masuk akal.”

Dave mengangguk, “Tapi mereka hidup dengan obsesi mereka. Meskipun mereka tidak sebagus Thussthra dalam hal kualitas penyihir, Mozaro masih merupakan salah satu kerajaan yang terkuat. Mereka bahkan bertahan dari serangan Mohave ketika Alkrez dan Sparzvia menyerah jatuh di bawah kekuasaan Mohave.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus melewati Mozaro jika kita ingin sampai di perbatasan Mozaro dan Thussthra. Karena jalan lain terlalu jauh dan Mora bilang itu lebih beresiko untuk diketahui. Entahlah, kurasa kita tidak punya pilihan selain masuk ke Mozaro. Hanya saja hindari semua kota besar atau tempat-tempat dimana orang yang mungkin mengenali kita berada. Hanya raja Mozaro dan penasehat tertingginya yang mengetahui tentang pencarian Xexa. Dan sumpah persekutuan jelas membuat mereka tidak akan mungkin mengatakan tentang hal ini kepada siapapun.”

“Apakah kita memang benar-benar tidak boleh melakukan sihir? Akan lebih gampang jika kita langsung berpindah dari sini ke perbatasan Thussthra. Kenapa kita harus repot-repot berjalan, Dave? Kita penyihir. Bukan kaum liar rendah tanpa kekuatan.”

Dave memutar kepalanya perlahan ke arah Ares, “Tidak. Sudah kukatakan kita tidak akan mengunakan sihir jika tidak dalam keadaan mendesak. Bahkan aku sama sekali tidak boleh mengunakannya. Untuk kalian, itu pengecualian, namun tetap dalam batas yang akan kutentukan. Tidak ada sihir yang akan digunakan hanya untuk sekedar main-main.”

Dengan kedua matanya, dia memandang Ares dengan lembut sebelum melanjutkan, “Sejak awal aku tidak ingin mengajakmu ikut dalam pencarian ini. Ini bukan permainan dan akan sangat melelahkan. Percayalah padaku bahwa hal-hal buruk sedang menanti kita di depan sana. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang di luar kontrolku yang akan membuat kita semua tidak akan menyelesaikan misi ini dengan mudah. Tidak ada sihir. Tidak ada kekuatan magis bahkan ramuan sekalipun.”

Ares nampak terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dave. Sedetik kemudian wajahnya mengeras, “Aku bukan anak manja yang hanya bertahan hidup dengan sihirku. Kuyakinkan padamu, Dave. Kau tidak akan pernah menyesal mengizinkanku ikut dalam pencarian ini. Bahkan jika aku harus menyamar menjadi bagian dari kaum liar yang hina. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hatiku.” Tegasnya dengan tangan bergetar sebelum dia berbalik, meninggalkan Dave dan berjalan ke arah Fred dan Ribi.

“Ini bahkan belum seperempat perjalanan dan kalian sudah bertengkar seperti ini. Aku akan sangat heran jika mendapati kalian menikah dan menjadi pasangan rukun.”

Dave menoleh dan melihat Memnus di dekatnya, dalam wujud setengah transparan dan abstrak. Dave mendesah, “Aku hanya memperingatkannya.”

“Kurasa bukan itu. Kau hanya takut pada apa yang akan kau hadapi di depan sana, Dave.”

“Mungkin.” Jawabnya singkat.

“Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang kau bicarakan dengan Mora beberapa waktu lalu?”

Dave terdiam. Pandangannya menerawang, mengingat perbincangannya dengan Mora setelah dia bertemu dengan ibunya.

“Pangeran Danesh, bagaimanapun juga tetap merupakan keturunan Mahha. Itu memberinya hak yang sama atas Zeyzga. Saya tidak bisa melarang atau melakukan sesuatu unuk membuat pangeran Danesh kehilangan haknya tersebut. Zeyzga dan perlindungannya merupakan hasil sihir kuno yang luar biasa kuat dan itu di luar kemampuan saya. Selain itu, bukan tugas seorang peri kerajaan untuk menentukan boleh atau tidaknya seorang keturunan Mahha memasuki Zeyzga.”

“Jadi..” suara Dave mengambang, terdengar marah namun ditahannya dengan kuat-kuat. Dia tahu dia tidak bisa menyalahkan Mora atas apa yang telah dikatakannya. Hanya saja, Dave tidak menyangka jika segalanya akan menjadi serumit ini, “..Danesh dan anilamarrynya akan bebas keluar masuk Zeyzga?”

Mora mengangguk, “Dan dia berhak mengetahui apapun itu yang menjadi haknya. Rahasia-rahasia Zeyzga dan semua yang dimiliki kastil ini. Menjadi keturunan kegelapan tidak lantas menghilangkan haknya atas hal itu.”

Dave mendesah panjang. Merasa ini benar-benar akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Memnus memandanginya, tahu benar tentang banyak hal yang berkecamuk di kepala penyihir pemiliknya.

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

9 Comments

  1. Mah penasaran kira2 ribi nanti sma dave ga yah,,, seneng bget deh ps bka blog ini eh udah ada lnjutanya xexa,, ampe seneng bgt aku,, d tggu lnjutanya yah min,, klu bsa jgn lma2…hehe

  2. Aku baca marathon cerita ini sampe part yg ini ga nyesel deh, seruuuu, penasaran ribi itu sebenernya siapa, lanjuuut

Leave a Reply

Your email address will not be published.